Tension [8]: Angel’s Anger #1

tension

Sejak dulu, Myungsoo tidak pernah mempersoalkan faktor perselingkuhan. Ia yakin, Jiyeon tidak mendapat banyak peluang untuk berselingkuh atau dirinya yang diselingkuhi. Setelah menjejak masa pertama berpacaran dengan Jiyeon, Myungsoo telah lebih dulu mengetahui bahwa tidak akan banyak pria yang tertarik pada Jiyeon. Bukan berarti ia merasa Jiyeon adalah gadis yang buruk, namun ia sebagai seorang pria, cukup mengetahui selera pria pada umumnya yang lebih menginginkan gadis cantik dan dewasa—secara fisik mau pun mental.

Ia mengulas kembali bahwa Jiyeon justru dapat dikatakan lebih manis dan kekanakan. Ia yakin, sejauh ini, Jiyeon menjaga hatinya, begitupun dengan dirinya. Selama ini, Myungsoo yakin, tidak ada pria yang tertarik pada Jiyeon—di luar memuji paras manisnya. Dan, Myungsoo cukup yakin bahwa satu-satunya pria yang tertarik pada pesona gadis itu hanyalah dirinya dan Oh Sehun—mantan kekasih Jiyeon.

Myungsoo telah mendengar kabar mengenai kelulusan Jiyeon, dan ia cukup bangga ketika mengetahui bahwa istrinya lulus dengan nilai yang nyaris sempurna. Setelah meniliknya dengan teliti, Myungsoo cukup percaya bahwa nilai itu dapat menunjang pekerjaan yang baik untuk Jiyeon ke depannya.

Ia merasa harus dan wajib meminta izin pada Junmyeon untuk memberikan waktu luang sekitar tiga jam demi dirinya beristirahat dan mengunjungi acara wisuda Jiyeon. Ia ingin melihatnya meski hanya sesi pidato, itu cukup untuknya melihat Jiyeon yang memasang medali di leher dan berkali-kali membenahi topi wisudanya.

Myungsoo merasa seluruh usahanya untuk mendorong Jiyeon lebih maju tidaklah sia-sia, terlebih ketika gadis itu bersosialisasi dengan teman-teman kampusnya, saling memeluk dan menangis serta menuai kalimat selamat berulang kali.

Sebelum benar-benar mendatangi Jiyeon di acara wisudanya, Myungsoo bahkan telah merangkai bunga baby’s breath sederhana untuk ia berikan pada Jiyeon, sebagai bentuk kejutan yang merangkap uraian kalimat selamat.

Ketika ia baru saja akan menghampiri Jiyeon yang tengah memandangi medalinya dengan senyum, Myungsoo merasa rencananya untuk memberikan bunga agaknya sedikit berlebihan dan menjijikkan, ia nyaris membuang sekumpul bunga itu jika matanya tidak melihat seorang pria lain yang menghampiri Jiyeon-nya.

Dari kejauhan, ia dapat melihat bahwa pria bersurai cokelat itu tengah mengulurkan tangannya, memberikan segerombol tangkai bunga yang jika Myungsoo tidak salah memperkirakan berjumlah dua puluh lima lebih ke arah Jiyeon.

Melalui kejadian itu, Myungsoo tahu bahwa istrinya—meski kekanakan dan tidak secantik gadis lain—dia tetaplah seorang gadis manis yang dapat memikat hati pria mana pun. Untuk pertama kalinya, Myungsoo si malaikat tanpa sayap, merasa dadanya bergemuruh menahan kesal.

.

.

Tension [8]: Angel’s Anger #1
by: Shaza (@shazapark)

starring: Park Jiyeon & Kim Myungsoo

Romance, Drama
Series

READ PREVIOUS — [3 Hours] [Future #1] [Future #2] [Unmarried Feeling] [A Relic #1] [A Relic #2] [Crying #1] [Crying #2/END]

hyunfayoungie‘s design @ Art Fantasy

.

.

“Apa aku baru saja menggebrak pintu sehingga kau tampak terkejut seperti itu?” Myungsoo yang baru saja memasuki rumah dan mendapati Jiyeon yang tengah memandangnya dari ruang tengah bertanya sinis. Pria itu melepas sepatunya, kemudian menyimpannya ke dalam rak.

Meski tidak melihat lama, Myungsoo dapat menebak bahwa istrinya itu masih mengenakan seragam wisudanya. Myungsoo mengetahui bahwa sekarang pukul telah menunjuk angka sembilan, dan Jiyeon belum juga mengganti pakaiannya. Myungsoo cukup memahami Jiyeon, tipe gadis yang senang pamer kegembiraannya pada Myungsoo, itulah dia.

“Myung, kau harus lihat ini! Aku nyaris mendapatkan nilai sempurna di mata ajarku!” Jiyeon menghampiri Myungsoo yang kini melepas jas kantornya, menyisakan kemeja putih di dalamnya. Myungsoo hanya mendengung sebelum membuka pintu kulkas untuk mencari minuman dingin.

Jiyeon merengut, tidak puas dengan respons suaminya. “Kau tak ingin memberiku ucapan selamat? Ini berkatmu, loh. Oh, dan lagi… kenapa kau tidak mengunjungi acara wisudaku tadi? Apa kau sibuk?” tanya Jiyeon bertubi-tubi, Myungsoo seperti mendapat semburan petir di malam hari. Pria itu menutup pintu kulkas, kemudian melangkah mendahului Jiyeon yang mengekor.

Setelah Myungsoo melihat insiden seorang pria yang memberi istrinya buket bunga, Myungsoo memang memutuskan untuk pergi dari lokasi wisuda Jiyeon. Jiyeon yang memang pada mulanya ingin diberi kejutan oleh Myungsoo, lantas tidak tahu-menahu bahwa sebenarnya Myungsoo telah rela membuang waktu bekerjanya untuk gadis itu.

“Selamat atas kelulusanmu.” Kata Myungsoo, menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar mereka untuk berbalik menghadap Jiyeon. Ia menusuk mata istrinya dengan tatapan dingin. “Dan carilah pekerjaan yang baik.” Hanya itu, sebelum Myungsoo akhirnya memutuskan untuk melangkah ke dalam kamar, membiarkan Jiyeon mematung di tempatnya dengan kening berkerut karena bingung.

“Ada apa dengannya?” monolognya menelengkan kepala. Jiyeon memutuskan untuk melangkah mundur dari pintu kamar. Ia yakin, Myungsoo hanya sedang lelah dan membutuhkan istirahat tanpa gangguan, maka dengan pemikiran sederhana itu, Jiyeon bertemu dengan pintu kamar di sebelah, ia juga akan beristirahat.

.

.

Pagi telah hadir lebih cepat, Jiyeon tersadar bahwa ia semalam memang baru tertidur pukul dua belas karena teman barunya mengajaknya mengobrol lewat LINE hingga larut malam. Jiyeon menggeliat di atas ranjang ketika tersadar bahwa gorden kamarnya telah terbuka, menyuruk selongsong cahaya mentari pagi di pukul tujuh. Gadis itu menyibak selimut, kemudian mengusap dahi untuk mengacak poninya.

Gadis itu menggosok matanya, kemudian terduduk dan bersandar di kepala ranjang untuk sakadar mengumpulkan nyawanya yang masih terpisah dari raga. Jiyeon meraih ponselnya, ia mendapati banyak notifikasi baru dari chat-nya bersama teman baru prianya, Sungyeol.

Jiyeon berkedip sekali ketika nama Sungyeol mendepak seluruh notifikasi ponselnya, gadis itu mengernyit risih membuka setiap notifikasi yang masuk secara berlebihan di ponselnya. Sungyeol adalah pria yang mendekatinya ketika wisuda kemarin, memberikannya bunga yang akhirnya ia berikan satu per satu pada anak TK di dekat perumahannya.

Aku mencintaimu, Jiyeon. Sejak pertama aku melihatmu masuk di universitas ini.” ungkap Sungyeol kala itu, ia sadar bahwa kalimat pengakuan itu seperti telah dipersiapkan oleh Sungyeol sejak bertahun-tahun lalu, dan baru dapat meluncur dari bibirnya ketika keduanya telah lulus dari SNU. Jiyeon membuang napasnya, memejamkan mata.

Dan, ketika Jiyeon mengingat sosok Myungsoo, Jiyeon menegaskan dengan yakin bahwa ia menolak cinta dari Sungyeol.

Sebagai seorang gadis, Jiyeon harus berterus terang bahwa ia merasakan pipinya memanas ketika mendengar pengakuan itu, jantungnya bertalu karena itu adalah pengakuan seorang pria yang ketiga di kehidupannya. Jiyeon merasa sedikit dicintai, setelah kehidupan romansanya berlangsung datar tanpa orang yang mencintainya… eh

Ah, tidak! Tidak! Tidak! Myungsoo mencintaiku,” Jiyeon menggelengkan kepalanya sembari batinnya memberontak. Gadis itu membuka mata lagi, demi menilik ponselnya yang bergetar-getar di genggamannya. Menampilkan nama Sungyeol di sana. Jiyeon tanpa sadar menegakkan punggungnya.

Gadis itu menimbang-nimbang untuk menerima panggilan pria itu. Ia berakhir memandangi nama ID yang tertera di sana, Sungyeol. Ia nyaris-nyaris menyadari bahwa nama belakang pria itu sama seperti suaminya. Mengingat bagaimana Sungyeol mengajaknya mengobrol lewat chat kemarin juga membuatnya yakin, bahwa pria itu adalah sosok yang easygoing dan humoris. Bahkan pria itu rela meluangkan waktunya untuk menemani Jiyeon di tengah malam hanya untuk mengobrol, lagi-lagi Jiyeon menemukan kelebihan dari pria itu.

Sayangnya, Jiyeon tidak cukup pandai mengetahui bahwa perlakuan Sungyeol adalah cara untuk memikat hati gadis itu agar menoleh ke arahnya.

Jiyeon menekan pendar hijau untuk menerima panggilan, ia tersenyum kecil. “Hai, Sungyeol!” sapanya sebelum seseorang di seberang sana memberi salam. Terdengar tawa ringan Sungyeol yang lembut, Jiyeon kembali menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.

Hai, Jiyeon­-ah! Apa kabarmu?” tanya suara berat itu. Jiyeon mengulum bibir bawahnya, ia jadi teringat akan suara Myungsoo. Kenapa banyak sekali persamaan mereka? Jiyeon mengerjap sembari memandangi tangannya yang menggenggam sisi selimut tebalnya, senyumnya luntur dalam hitungan kejap ketika mengingat semalam Myungsoo tidak memberinya senyum.

“Lumayan, aku baik.” Balas Jiyeon lesu. Ia memejamkan mata lagi. Seberapa sering Sungyeol mendekatinya, mencoba membuatnya senang, Jiyeon tetap berada di pendiriannya bahwa kesenangannya ada di tangan Myungsoo.

Bolehkah aku berkunjung ke rumahmu?” Jiyeon mengernyit, tiba-tiba melupakan kesedihan yang ditumpuk bersama nama Myungsoo dalam benaknya ketika pertanyaan Sungyeol bergema di telinganya. Jiyeon hendak bertanya lagi ketika sosok di seberang sana menjelaskan.

Kemarin kau memberiku alamat rumahmu, ingat?” pria itu memastikan. Jiyeon mengangguk ragu disertai gumaman rancu. Ia memang memberi tahu Sungyeol mengenai alamat rumahnya, tetapi ia lupa memberi tahu pria itu bahwa ia sudah menikah dan tinggal serumah dengan Myungsoo.

“Hm, yeah. Ta-tapi aku sekarang baru saja—” Jiyeon hendak mencari alasan halus untuk menolak permintaan Sungyeol ketika pria itu justru menyelanya. “—ayolah jangan menolak, aku sudah berada di depan rumahmu. Aku tekan belnya, ya!” dan tak terhitung sedetik setelah Sungyeol menyelesaikan ucapannya, mata Jiyeon melebar parah bersamaan dengan denting bel yang memenuhi udara sunyi pagi hari, dan menerbangkan burung-burung gereja.

Masih dengan mulut yang menganga, Jiyeon memejamkan matanya. Memaki Sungyeol dalam diam. Dasar biadap!

.

.

Myungsoo bangun lebih pagi di hari Minggu. Ia cukup yakin bahwa Jiyeon yang baru saja lulus dari SNU tidak akan memiliki kegiatan lain kecuali berdiam di rumah. Pagi itu, ia tak mendapati Jiyeon tertidur di sebelahnya, namun ia dapat menebak bahwa istrinya pasti beristirahat di kamar sebelah.

Myungsoo memeriksa keadaan gadis itu, mendekatinya untuk sekadar memperhatikan wajahnya. Ia ingat, semalam ia marah pada gadis itu karena hatinya dibakar habis-habisan setelah insiden seorang pria yang memberinya bunga. Kemudian Myungsoo melebarkan gorden kamar gadisnya agar sinar matahari pagi dapat menghangatkan pipi istrinya.

Dan persis seperti rutintas Minggu paginya, Myungsoo akan membuat kopinya tanpa meminta bantuan Jiyeon, dan memanggang roti mentega. Ia baru saja mendudukkan bokongnya di atas bangku meja makan, denting bel telah mengeping keheningan di antara derum pemanggang roti.

Myungsoo mengerjapkan matanya, kemudian mematikan mesin pemanggan roti untuk menghampiri pintu utama. Meski benaknya masih dikeruhkan oleh perasaan bingung, Myungsoo tetap memutar kenop pintu utama rumah untuk menilik sosok yang berdiri di depan gerbang rumahnya.

Sebelum benar-benar memakai sandal untuk melewati pekarangan rumah dan membukakan gerbang, Myungsoo mengamati sosok pria yang dilihatnya melalui celah gerbang, pria tinggi dengan rambut cokelat yang terlihat familier di matanya.

Myungsoo melangkah menuruni tangga di depan pintu rumahnya, kemudian masih dengan keadaan bingung, ia membuka gerbang separuh. Derit panjang dari gesekan roda gerbang mengiring segala pertanyaan besar di kepala Myungsoo.

“Siapa?” tanya Myungsoo dengan kepala yang meneleng beberapa derajat. Senyum seorang pria yang akan menjadi tamu di hadapannya itu segera luntur ketika melihat Myungsoo. Selagi itu, Myungsoo merasa bahwa wajah sosok di hadapannya ini terasa tak asing lagi di penglihatannya.

“Ah, saya Sungyeol, teman Jiyeon. Apakah ini rumah milik Park Jiyeon?” dan seiring dengan pertanyaan yang dilempar oleh pria itu, Myungsoo melepas kekangan bingung di benaknya, alisnya beralih turun ketika menyadari bahwa pria itu adalah pria yang ia temui kemarin di acara wisuda Jiyeon.

Dengan suara yang lebih tajam, Myungsoo membalas. “Benar, ini rumah Park Jiyeon.” Myungsoo menekan marga Jiyeon dengan desisan, kemudian sosok yang memiliki tinggi hampir sama sepertinya itu mendelik.

“Be-benarkah?” tanyanya tergagap, sangsi dengan nada tajam yang baru saja dilontar Myungsoo. “Kalau begitu, kau siapa? Salah satu pembantu di rumah Jiyeon?” sayangnya, Myungsoo tidak begitu pandai berbohong, mimiknya lebih menghantar kejujuran. Begitu pula ketika ia tak suka dengan pertanyaan pria bernama Sungyeol yang mengenakan jaket kulit itu. Ia mengetatkan rahang dengan alis bertaut.

Sungyeol tergagap melihatnya, “Ah, kalau begitu… kau adalah pamannya? Benar?” terkanya lagi, tidak sadar bahwa hati Myungsoo sudah memanas hendak terbakar dan tangannya mengepal. Sebelum Myungsoo sempat memaki pria di depannya, suara kekanakan dari arah belakang sudah menyela.

“Sungyeol-ah!” Jiyeon. Masih dengan menggunakan piyama polkadotnya dan rambut terikat rapi berlari melewati pekarangan rumah untuk menghampiri dua manusia di depan gerbang. Tampak sekali jika Jiyeon hanya sempat mencuci wajahnya dengan air ketika gadis itu telah benar-benar berdiri di samping Myungsoo dan menghadap Sungyeol.

Ia mengatur napasnya, kemudian berkata lambat. “Apa… yang kau lakukan di sini?” Jiyeon bertanya dengan mata terarah pada Sungyeol, namun Myungsoo merasa bahwa pertanyaan itu juga pantas dituju padanya. Myungsoo mendecih, melempar pandangannya ke arah kanan, enggan melihat Jiyeon yang bercakap dengan Sungyeol.

“Aku? Tentu saja mengajakmu jalan-jalan. Mau jalan-jalan bersama? Hm, kencan, maksudku.” Jiyeon mengerjap. Ia tidak menyangka bahwa ajakan itu akan terlepas dari mulut Sungyeol, diikuti senyuman konyol yang terlihat sama seperti Myungsoo. Jiyeon tidak mengelak bahwa jantungnya berdentum keras di balik tubuhnya, pipinya memanas. Tidak, ini adalah ajakan kencan dari seorang pria asing yang bahkan belum dikenalnya selama lebih dari empat puluh delapan jam.

Myungsoo bergeming, ia tidak membutuhkan luapan emosi yang berlebihan lagi ketika Jiyeon tak kunjung membalas ucapan Sungyeol dan Myungsoo sempat melihat wajah merona Jiyeon yang manis sebelum akhirnya ia memaling karena muak.

“Omong-omong, kau masih mengenakan piyama? Aw, cute.” Komentar Sungyeol ketika Jiyeon tak kunjung menjawab ajakannya. Myungsoo menoleh cepat dengan mata melebar ketika mendengar komentar Sungyeol. Benar, Jiyeon memang senang menggunakan piyama ketika akan tidur, tidak seperti dirinya yang lebih memilih memakai kaus dan celana pendek. Ia menggertak melihat Jiyeon yang hanya menunduk sembari memilin piyamanya, menumpuk kesan imut.

Myungsoo tidak peduli. Jiyeon berubah menjadi anak anjing yang menggemaskan ketika berada di depan Sungyeol, sementara di depannya, Jiyeon terlihat seperti kucing manja yang senang merajuk. Myungsoo melangkah mundur dengan mata menyorot ke arah Sungyeol, ia marah. Tetapi tidak pandai mengekspresikannya dengan emosi berkelebihan, dengan bermodal wajah dingin, Myungsoo berkata.

“Nikmati kencan kalian.” Membuat Jiyeon mendongak dan tersadar bahwa sedari tadi Myungsoo berada di sebelahnya. Dan, kini pria itu telah melengos pergi menyisakan keduanya yang masih berdiri di ambang rumah Jiyeon dan Myungsoo.

Gadis itu mengedip ketika melihat Myungsoo yang membanting pintu rumah mereka sementara Sungyeol terkejut. Jiyeon membuang napasnya, meski ini adalah kejadian pertama untuk diajak kencan bagi Jiyeon, tetap saja Jiyeon patut merasa senang dengan hal itu, seolah statusnya yang sudah menikah sedang dibentengi kebahagiaan.

Beberapa detik diselingi keheningan, dan ia merasa bahwa sikapnya keterlaluan. Jiyeon menunduk, memandang sandal jepit milik Myungsoo yang tengah ia kenakan karena terburu-buru. Kemudian ia mengangkat kepalanya untuk berhadapan dengan Sungyeol.

“Sungyeol-ah, lebih baik kita masuk dulu.” Dan Sungyeol cukup tanggap untuk mengetahui adanya sirat ragu di mata Jiyeon. Maka dengan itu, ia mengangguk patuh.

.

.

Myungsoo tidak memiliki selera makannya lagi setelah melihat wajah manis Jiyeon di depan Sungyeol. Ia lebih memilih untuk merapikan majalah dan koran yang kemarin pagi ia baca dan berakhir terserak di atas meja ruang tamu, ia cukup yakin bahwa Jiyeon adalah tipe gadis yang akan menerima tamu ke rumah. Untuk tidak mempermalukan nama baiknya, Myungsoo memutuskan untuk merapikan ruang tamu.

Namun, belum benar-benar masuk ke ruangan itu saja Myungsoo sudah disuguhi pemadangan ruang yang rapi dan bersih. Ia sadar bahwa Jiyeon telah merapikannya, mengingat gadis itu lebih memiliki waktu luang jika dibandingkan dengan dirinya. Myungsoo melangkah mundur, dan beralih ke dapur untuk menyimpan roti yang ia panggang ketika pendengarannya menangkap derit halus dari pintu.

“Wah, rumahmu besar. Ke mana orangtuamu, Jiyeon?” disusul suara seorang pria yang membuat Myungsoo mendesah berat. Pria bersurai arang itu terburu-buru memasukkan roti tawar ke dalam kulkas, kemudian menutup pintu kulkas dengan gusar.

Jiyeon melangkah bersama Sungyeol ke ruang tamu yang nyaris terhubung dengan dapur. Di sana, Myungsoo dapat melihat Jiyeon sedang tersenyum canggung dan mempersilahkan Sungyeol untuk duduk di sofa ruang tamu, kemudian Jiyeon menagih diri untuk mandi terlebih dahulu.

Jiyeon setengah berlari menghampiri pintu dapur yang menyimpan satu-satunya tangga untuk ke kamar mereka. Dan dengan itu, terpaksa Myungsoo harus bertemu dengan Jiyeon. Jiyeon memang sengaja, dari itu, ia menutup pintu dapur agar Sungyeol tidak melihatnya dengan Myungsoo di dalam dapur.

Myungsoo tengah bersandar di konter dapur dengan kedua lengan terlipat di depan dadanya, setelah menutup pintu dapur, Jiyeon memandang Myungsoo sedih. Gadis itu melangkah cepat ke arah Myungsoo, kemudian menarik tangan pria itu.

“Myungsoo, kau kenapa?” tanyanya setelah kedua telapak tangan Myungsoo ia pautkan bersama ruas jemarinya. Ia berdiri terlampau dekat dengan Myungsoo, sehingga kepalanya mendongak tinggi. Myungsoo bergeming, memandang wajah mengantuk Jiyeon dari dekat.

“Sejak semalam kau ketus sekali denganku. Ada apa denganmu, Myungsoo? Kau lelah? Ingin kupijat?” tanya Jiyeon beruntun diikuti tawarannya. Gadis itu mengangkat alisnya meminta jawaban dari Myungsoo, tidak menyadari bahwa perilakunya begitu menggemaskan di mata Myungsoo.

“Kau belum memelukku sejak kemarin. Bahkan tidak datang ke acara wisudaku. Kau tega?” Jiyeon merengut, memajukan bibir bawahnya. Myungsoo menjadi gagal fokus dan segala luapan amarahnya seperti surut setelah melihat rajukan Jiyeon.

Jiyeon beralih melepas tautan tangannya dengan Myungsoo, kemudian menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Myungsoo. Myungsoo yang bersandar di konter dapur kemudian tidak perlu terhuyung lagi.

“Aku ingin pergi dengan Sungyeol.” Gumamnya ketika Myungsoo telah membalas pelukannya, gadis itu mendongak. “Dan akan pulang malam, ya?” Myungsoo mengerutkan keningnya, ia yakin bahwa Jiyeon sedang meminta persetujuannya. Myungsoo melepas pelukan Jiyeon, kemudian memandang gadis itu lama.

Seriously, Jiyeon-ah. Who is he?” tanya Myungsoo tajam, ia membuang rasa gemasnya dalam hitungan detik. Jiyeon yang ditanya selugas itu hanya dapat mengerjap, gestur gugupnya. Gadis itu tanpa melangkah mundur kemudian menjawab ragu.

“Temanku, Myungie.” Kata Jiyeon menjawab seadanya. Myungsoo menggeleng dengan mata terpejam, kemudian ia menyingkirkan tubuh Jiyeon dari hadapannya agar ia bisa berjalan menjauh melewati gadis itu. Dan ketika Jiyeon baru saja ditampar keterkejutan akan kepergian Myungsoo, gadis itu dapat mendengar satu kata tajam dari suaminya.

“Terserah.”

.

.

Hari Minggu. Myungsoo merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan meraih ponsel untuk dijadikannya teman menghibur. Myungsoo menatap layar pengunci yang menampilkan foto Jiyeon. Sebelumnya, ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan seberlebihan ini untuk memasang foto Jiyeon di ponselnya, namun ketika Jiyeon memaksanya untuk melakukan itu, mau tidak mau ia lakukan.

Myungsoo mengulum bibir bawahnya, memandang lekat mata Jiyeon yang melengkung membentuk pola sabit di foto, hidung yang tidak selancip miliknya, dagu kecil yang separuh membingkai wajah putihnya, serta bibir tebalnya yang jarang dimiliki oleh gadis lain.

Myungsoo berguling di atas ranjang untuk menenangkan jantungnya yang selalu terpompa keras ketika mengingat bahwa Jiyeon, seorang gadis unik yang telah menjadi miliknya. Pria itu memejamkan matanya, ia menyebutkan satu per satu faktor penghambat aktivitasnya hari ini.

Rata-rata karena Jiyeon dan Sungyeol, bahkan sejak kemarin.

Myungsoo kehilangan selera untuk bermain ponsel, dan ia berakhir menenggelamkan wajahnya di bantal. Ia tidak mengerti kenapa emosinya mudah meluap, Myungsoo berpikir mungkin karena ia terlalu lelah dan butuh istirahat lebih untuk menenangkan pikirannya. Namun, setelah melewati malam yang panjang untuk tertidur, Myungsoo mendapati dirinya masih mengira lekukan sesak di dadanya ketika mengingat momentum di acara wisuda Jiyeon.

Pendapatnya mengenai Jiyeon yang tidak akan mudah memikat hati seorang pria rupanya adalah kesalahan besar. Segala ketenangan yang dulu ia bangun sendiri sekarang runtuh semenjak Sungyeol menjejak masuk ke dalam kehidupan keduanya. Seharusnya ia sadar bahwa Jiyeon tetaplah gadis manis yang bisa kapan saja direbut pria lain.

Myungsoo mendesah berat. Asisten manajer mall sedang frustasi dan tidak tahu jalan mana yang harus dipilihnya. Memalukan.

.

.

Kaki Jiyeon memang panjang, tidak banyak gadis yang memiliki kaki sepanjang Jiyeon. Tubuhnya tidak selangsing Yoona, mantan dosennya, dan tidak seseksi Soojung, teman sekolah menengahnya dulu.

Jiyeon lebih banyak mengeluh mempersoalkan kaki panjangnya, dan berakhir kesulitan mencari rok atau celana yang pas di kakinya—yang pada akhirnya, Myungsoo memberi saran pada Jiyeon untuk lebih sering mengenakan rok pendek saja—ia juga pernah mengeluh bahwa tubuhnya yang tinggi itu seperti menyamai tinggi seorang pria, bahkan ada yang lebih pendek darinya, sehingga ia juga kesulitan mencari pria yang memiliki tinggi ideal dengannya.

Namun ketika garis takdir mempertemukannya dengan Myungsoo, ia merasa tidak membutuhkan pencariannya. Tidak, bahkan ia tidak mencari, Myungsoo-lah yang mendatanginya. Ia sadar bahwa fakto perbedaan tinggi mereka terasa sempurna—ketika ia memeluk Myungsoo, dagunya akan langsung bertemu dengan bahu pria itu, tempat di mana ia bersandar. Sementara ketika ia berdiri di hadapan pria itu, keningnya langsung berhadapan dengan bibir Myungsoo, sehingga ketika ia melangkah lebih dekat Myungsoo tak perlu menunduk untuk mengecup dahinya, begitu juga dengan dirinya yang tak perlu berjinjit untuk mempertemukan keningnya dengan bibir Myungsoo.

Perbedaan tinggi badan yang sempurna, dan Jiyeon merasa tidak butuh mencari pria yang memiliki tinggi ideal lagi. Ia sudah menemukan Myungsoo-nya.

Awalnya, ia pikir ia tidak akan pernah menemukan sosok pria yang memiliki tinggi sepadan dengan Myungsoo, namun setelah ia mengulasnya kembali, sosok Sungyeol hampir memiliki tinggi badan yang sama seperti Myungsoo. Ia baru menyadarinya ketika mereka telah berjalan luar rumah saat ini.

Sungyeol berjalan di sebelahnya untuk menemui mobilnya dan mengajak Jiyeon berjalan-jalan—hm, kencan—dengan menggunakan mobil tersebut. Tubuh Sungyeol cukup tinggi, meski tidak setinggi Myungsoo, namun tetap saja sukses membuat Jiyeon terpesona.

“Kita pergi ke mana?” tanya Sungyeol setelah memasuki mobilnya. Jiyeon dengan gerakan ragu-ragu, memasang sabuk pengamannya. Ini adalah kali pertamanya berada di dalam mobil dan hanya berdua dengan pria asing. Mobil adalah kendaraan yang memiliki dinding kedap suara, sehingga ia dapat mendengar setiap embusan napas Sungyeol di sampingnya.

Jiyeon terdiam sesaat ketika ditanya oleh Sungyeol. Tiba-tiba gadis itu teringat masa-masa berkencannya dengan Myungsoo dulu, biasanya ialah yang akan bertanya pada Myungsoo.

Kita mau ke mana?

Dan, Myungsoo selalu sudah menentukan objek tempat kencan mereka tanpa meminta persetujuan dari Jiyeon. Selalu Myungsoo yang menentukan tempat, tidak peduli Jiyeon menyukainya atau tidak.

“Jiyeon?” pertanyaan itu membuat Jiyeon tersentak. Gadis itu menoleh ke arah Sungyeol dengan alis terangkat karena bingung. Sungyeol tersenyum tipis, membentuk lengkungan di bibirnya.

Ah, Jiyeon jadi teringat lesung pipi Myungsoo ketika pria itu sedang tersenyum.

Darahnya segera mengumpul di pipi ketika mengingat hal itu. Sungyeol yang menyadari perubahan wajah Jiyeon lantas mengerutkan keningnya, ia tak seberlebihan itu untuk menyimpulkan bahwa rona di pipi Jiyeon disebabkan olehnya.

“Eh, ya? Apa aku harus memilih tempatnya?” Jiyeon bertanya ragu. Sebelumnya, ia tidak pernah ditawarkan untuk memilih oleh Myungsoo. Dan, biasanya—Myungsoo hanya memilih tempat kencan yang klasik dan jadul seperti berjalan-jalan, berbelanja—itu pun belanja kebutuhan sehari-harinya, dan Jiyeon harus memakai uangnya sendiri, artinya, ia tidak ditraktir sama sekali—kadang kala Myungsoo mengajak Jiyeon untuk berkencan di perpustakaan dengan alasan cuaca sedang buruk. Diakhiri oleh rengekan Jiyeon yang kebosanan karena berada di lingkup sepi perpustakaan, Myungsoo akan mengajaknya membeli es krim.

Meski sesederhana pemikiran Myungsoo, Jiyeon tidak menyangkal bahwa setiap detik yang ia lompati bersama Myungsoo selalu terasa menyenangkan.

“Tentu saja kau bisa memilihnya.” Sungyeol memastikan sebelum akhirnya menyalakan mesin mobil. Jiyeon berpikir sejenak, ia merenung memandangi dasbor hitam di depannya dengan kepala meneleng beberapa derajat. Jiyeon memiliki ribuan tempat kencan yang selama ini ingin ia singgahi, detik berlalu diiringi senyum Jiyeon.

“Aku ingin ke ice skating.”

.

.

Fakta mengatakan bahwa bulan ini mendepak musim panas, namun tidak menutup kemungkinan bahwa pusat wisata untuk ice skating akan ditutup, tentu saja tidak. Kota mereka diliput ribuan tempat wisata yang bisa mereka singgahi selama lebih dari waktu sebulan.

Jiyeon sadar bahwa ia merasa sangat senang dengan kakinya yang terbalut sepatu khusus ice skating yang baru ia dapatkan dari seorang pegawai di tempat kencan-nya. Oh, katakan Jiyeon gila, karena ia merasa bahwa hari ini adalah kencan mengasyikkan yang pernah ia lalui, dan sayangnya—ia melalui kencan ini bersama orang asing yang belum genap ia kenal dua hari.

Sungyeol telah lama berdiri di hadapannya dengan sepatu berbesi datar di telapaknya, Jiyeon merekahkan senyumnya. Ini akan menjadi petualangan yang seru, mengingat ia belum pernah melakukan ice skating, dan Myungsoo sering melarangnya—entah karena apa, Myungsoo tidak pernah memperbolehkannya bermain di ice skating—mengingat itu, Jiyeon mengerucutkan bibirnya.

“Jiyeon, ayo kita masuk ke area es.” Suara Sungyeol yang beberapa jam terakhir memenuhi pendengarannya kembali hadir, membuat Jiyeon mengerjap. Ia mengikuti pria itu dari belakang dengan kepala tertunduk memandangi langkahnya yang terasa sukar akibat sepatu ice skating yang berat.

Jiyeon memasuki area dengan lantai berlapus es datar. Matanya berbinar dalam hitungan detik, ia melupakan kesedihannya karena Myungsoo tidak ada di dekatnya saat ini. Ia tidak membutuhkan kesedihannya lagi tentu saja setelah melihat lautan es yang tersebar di depan matanya. Gadis itu melangkah perlahan ketika melihat Sungyeol telah meluncur lancar meninggalkannya dan tertawa ketika sepatunya bergesekkan dengan batu es.

Jiyeon melangkah ragu, kakinya terasa kaku karena ia tidak pernah meluncur di atas es sebelumnya. Gadis itu kini telah benar-benar berdiri di atas es, namun ia tidak sanggup menggerakkannya, terlalu takut apabila ia jatuh atau dan bokongnya menyentuh es.

Baru beberapa meter ia meluncur, Jiyeon lebih mudah kehilangan keseimbangan. Ia terjerembap di atas es datar yang dingin, diselingi ringisan, gadis itu berusaha bangkit sendiri dengan telapak tangan yang mendingin karena sejak tadi udara di sekitarnya terasa dingin.

Jiyeon merutuk, ternyata bermain di sini memang tidak semudah yang ia pikir. Jiyeon menyesal secepat itu.

Sementara Sungyeol kini tengah bermain dengan anak-anak di area ice skating bersama senyum konyolnya yang tampak seperti Myungsoo. Jiyeon menopang tubuhnya di pegangan besi sembari memandangi Sungyeol dari kejauhan. Jelas, sangat jelas di mata Jiyeon bahwa Sungyeol adalah tipe pria yang hangat dan akan mendengarkan semua keinginan kekasihnya.

Sungyeol begitu mudah akrab dengan anak-anak, tidak seperti Myungsoo yang kaku ketika harus dihadapkan dengan balita. Tidak seperti Myungsoo yang justru akan membuat bayi menangis. Jiyeon tertawa kecil, selagi kakinya bermain-main dengan serutan es, benaknya berbisik rindu akan Myungsoo-nya.

Namun, ketika ia mendongak, mata Jiyeon telah lebih dulu mendapati Sungyeol di depannya. Jiyeon mengernyit, hanya perasaannya saja—atau Sungyeol kini tampak menyeramkan dengan gelagatnya yang sering muncul tiba-tiba.

“Kenapa tidak bermain?” tanyanya ringan, kemudian berdiri di samping Jiyeon untuk ikut bersandar di tepi dinding area es. Jiyeon mengedikkan bahunya, kemudian merapikan poni.

“Entahlah. Aku—sedang merindukan seseorang. Hm, dan anehnya, aku melihat dia setiap hari.” Sungyeol merasa bahwa Jiyeon sedang bercerita padanya, dan terang, membuat Sungyeol antusias. Dalam kategori keuntungannya, ia menangkap bahwa Jiyeon mulai terbiasa dengannya dan ada tahap bahwa Jiyeon sudah terbuka padanya.

“Oh ya? Siapa itu?” pertanyaan itu membuat kepala Jiyeon memutar wajah Myungsoo yang sedang tertawa di kepalanya, wajah kesalnya, hingga sampai di wajah Myungsoo yang sedang marah. Gadis itu tersenyum kecil. “Seseorang… yang—” Jiyeon terhenti sejenak. Ia tersadar bahwa sosok Myungsoo terlalu sulit untuk ia deskripsikan melalui definisi, lidahnya tidak ingin berkompromi karena otaknya lebih dulu memutar wajah-wajah Myungsoo.

Ia tersenyum kecil. “Entahlah, aku hanya sedang merindukannya.” Gumam Jiyeon, kemudian ia meluncur beberapa meter dari tempatnya untuk berlatih. Sungyeol memandang punggung Jiyeon yang menjauhinya dengan mata menerawang seolah menembus manusia-manusia yang juga tengah bermain di sana. Jiyeon seperti sosok yang selalu dijauhi oleh orang-orang, dan itu membuat Sungyeol iba.

.

.

Karena ini hari Minggu—tanpa Jiyeon di sampingnya—maka Myungsoo terpaksa mengakui bahwa ia memiliki banyak waktu luang. Setidaknya ia terbiasa mengisi waktu luangnya bersama Jiyeon, namun ketika gadis itu pergi dirampas orang lain, maka ia memilih untuk beraktivitas sendirian.

Diam-diam ia merasa miris. Myungsoo menunggu Jiyeon tepat di depan pintu rumah, duduk di anak tangga dan membawa ponselnya untuk menemaninya. Asisten manajer mall yang konyol dan tampak bodoh, mengingat ia masih mengenakan celana selutut dan kaus hitam, bahkan ia tidak merapikan rambutnya.

Myungsoo merenung, ponsel di genggamannya sedikit-banyak terabaikan ketika lintasan pemikiran di kepalanya hadir. Ia mengingat-ingat, kenapa Jiyeon bisa memikat hati pria bernama Sungyeol itu? Namun, secepat itu pula wajah tenangnya tidak menggambarkan bahwa ia telah menemukan alasan ilmiah yang masuk akal.

Setelah Myungsoo banyak bergulat dengan pemikiran konyolnya, Myungsoo mengetahui bahwa perasaan resah yang sejak tadi mengendap di dadanya adalah perasaan cemburu. Dan, ia sadar bahwa ia seperti sedang melarang Jiyeon untuk berdekatan dengan pria lain, selain dirinya.

Myungsoo mendesah berat, “Tapi memang benar aku harus melarangnya, bukan?” jeritnya, membuat anjing puddle tetangganya menggonggong protes karena waktu tidurnya diganggu oleh jeritan Myungsoo. Myungsoo membekap mulutnya, matanya melebar seperti orang bodoh. Ia tidak sadar, kapan terakhir kali ia terlihat bodoh seperti saat ini.

Gurat tenang dan teduh yang biasa Myungsoo hadirkan ke dalam ekspresinya kini terhapus, ia sedang dalam masa-masa kritis menunggu istrinya pulang berkencan dengan pria lain. Myungsoo menarik ujung rambutnya, kemudian meringis kecil.

Bukankah dulu, Jiyeon yang gencar melarangku berdekatan dengan gadis lain?” batinnya, dihias sepasang alis yang bertaut. “Kenapa sekarang malah aku yang seperti tidak suka dia dekat dengan pria lain?

Dari sudut manapun, Myungsoo mengetahui bahwa selama ini Jiyeon-lah yang lebih agresif dan mudah cemburu. Dulu, ia tidak pernah peduli—lebih tepatnya, tidak yakin bahwa akan ada pria yang menyukai Jiyeon selain dirinya, makanya ia tidak pernah cemburu atau bahkan ia tidak pernah takut apabila Jiyeon berselingkuh.

Namun, kehadiran Sungyeol di kehidupan mereka seperti mengguncang hati Myungsoo untuk tetap berhati-hati, untuk tetap mengawasi gadisnya yang bisa kapan aja direbut oleh pria lain. Dengan pemikiran payah itu, Myungsoo menepuk keningnya di atas lutut, merutuk kecil.

.

.

Jiyeon dan Sungyeol mengakhiri kencan dadakan mereka dengan tidak mengesankan. Jiyeon mendapati tangannya digores belasan lecet akibat tergelincir di es datar, sementara Sungyeol sungguh tidak pernah memerhatikan keadaannya, dan justru bermain dengan anak-anak.

Jiyeon sadar bahwa ia seharusnya berkencan dengan Myungsoo, bukan dengan Sungyeol—pria asing yang mengizinkannya memilih tempat kencan. Sambil bersungut, Jiyeon memasang sabuk pengamannya. Sungyeol mengamati wajah Jiyeon dari samping, ekspresi bersalah menyirat wajahnya.

“Hm, maaf, Jiyeon-ah. Seharusnya kencan kita bisa berjalan lancar tanpa hambatan seperti—”

“—seperti aku yang berkali-kali tergelincir dan berusaha berdiri dengan kau yang bermain-main bersama bocah TK di sana, huh?” tanya Jiyeon tajam, ia mengacak surainya kemudian mengusap telapak tangannya karena perih.

“Antarkan aku pulang, please.” Jiyeon memohon kepada Sungyeol dengan mata berair karena terasa perih berlama-lama di area es dingin tadi. Sungyeol mendesah kecewa, namun akhirnya ia menuruti kemauan Jiyeon.

Sungyeol sebenarnya sudah merasa bahwa rencananya untuk mengajak Jiyeon berkencan akan gagal dalam hitungan jam, dan sesuai dengan prediksinya, Jiyeon sukar untuk dipikat—meski pada dasarnya, Sungyeol-lah yang terpikat oleh Jiyeon, belum tentu gadis itu juga tertarik dengannya.

Sungyeol melajukan mobilnya perlahan, tak ingin menghabiskan momen menyenangkannya bersama Jiyeon di sebelahnya. Hampir dua tahun Sungyeol memendam perasaannya, dan hanya hari ini ia dapat duduk berdampingan dengan gadis itu.

“Sungyeol-ah,” gumam Jiyeon dengan tangan yang terpaut. Sungyeol melirik sebentar, kemudian kembali terfokus pada jalan di depannya. “terima kasih telah mengajakku berkencan.” Lanjutnya, kini ia mendongak dan menoleh ke arah Sungyeol.

Ia mendapati Sungyeol tengah tersenyum gugup, Jiyeon memutar otak. Ia membandingkan reaksi Myungsoo jika sedang menerima kalimat itu darinya. Alih-alih tersenyum gugup, Myungsoo pasti akan tergelak, dan memeluknya erat diikuti kalimat sama-sama dan terima kasih kembali yang biasa ia utarakan sejak dulu.

“Iya, Jiyeon. Sama-sama.” Kemudian hening menderai udara.

“Tapi,” Jiyeon kembali mengangkat kepalanya. “aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku tidak pernah tertarik denganmu.” Kelanjutan kalimat Jiyeon membuat Sungyeol tertegun. Ia hampir kehilangan keseimbangannya dalam menyetir, namun ketika lampu merah menghadang lalu lintas, ia dapat beberapa jenak menghentikan laju mobilnya. Pria itu menoleh ke arah Jiyeon dengan alis berkerut.

“Kenapa?” tanyanya, nyaris pupus dengan harapannya ketika melihat gadis itu tersenyum ala kadarnya. “Aku seorang istri.”

Sungyeol merasakan rahangnya akan jatuh dalam hitungan detik.

.

.

“TO BE CONTINUED—”

.

.

 

50 responses to “Tension [8]: Angel’s Anger #1

  1. Jiyi uda mulai nakal -_-
    gg bisa dibiarin ini mah , jiyi tega yeh jelas” kencan am cwo lain di depan suami sendiri ,nyebelin seh -_-
    hah gg suka part ini jiyi nya nakal -,-

  2. yahahaha sungyeol pasti langsung kicep itu. hehehe. kasian uri sungyeol. huhu. myungsoo lagian ngebiarin jiyeon pergi sama sungyeol. jadi kaya orang oon kan. hahhah

  3. Pingback: Tension [9]: Angel’s Anger #2/END | High School Fanfiction·

  4. Pingback: Tension [10]: Shame | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s