Tension [7]: Crying #2/END

tension

Tension [7]: Crying #2/END
by: Shaza (@shazapark)

starring: Park Jiyeon & Kim Myungsoo

Romance, Drama
Series

READ PREVIOUS — [3 Hours] [Future #1] [Future #2] [Unmarried Feeling] [A Relic #1] [A Relic #2] [Crying #1]

hyunfayoungie‘s design @ Art Fantasy

.

.

Beruntunglah Jiyeon hanya mengalami sedikit pening di kepalanya akibat terguyur hujan nyaris setengah jam di dekat kawasan rumah sakit Hangil. Myungsoo membawa istrinya pulang setelah mengontak taksi yang akan membawanya pulang. Jiyeon lebih banyak menggigil ketimbang menikmati perjalanan pulangnya, apalagi udara kota sore itu masih dipenuhi kabut dingin, membuat gadis itu jatuh tertidur di bahu Myungsoo.

Myungsoo terpaksa membopong gadis itu ke dalam rumah dan membiarkan titik hujan kembali menerjangnya ketika membuka pintu mobil taksi. Jiyeon di dalam gendongan punggungnya bahkan tidak merasa terusik meski hujan membasahinya lagi sesaat sebelum Myungsoo benar-benar berlari menuju pintu rumahnya yang dinaungi kanopi kecil.

Sore itu, Myungsoo berakhir memaksa Jiyeon untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum benar-benar membiarkan gadis itu beristirahat karena lelah. Myungsoo menyeret selimut tebalnya hingga leher Jiyeon ketika istrinya telah berbaring dengan pakaian kering.

Myungsoo baru saja akan menjauh dari kamar untuk menyiapkan makan malam jika bukan karena Jiyeon memanggilnya, dan itu membuatnya menoleh. Myungsoo berkedip, kemudian menyahut.

“Kenapa?”

Jiyeon terduduk dengan jendela mata yang perlahan membuka. Myungsoo terpaksa kembalu menutup pintu kamar yang sebelumnya telah ia buka untuk akses keluarnya dari dalam ruangan tersebut. Ia mengjampiri Jiyeon yang mengusap matanya yang membengkak karena lelah menangis sebelum pulang ke rumah.

“Di mana cincinku?” tanyanya dengan suara serak. Myungsoo menaikkan kedua alisnya, tidak menyangka bahwa Jiyeon masih peduli pada benda berdiameter mungil yang biasa memeluk jari manisnya. Benar saja, cincin itu belum ditemukan oleh Myungsoo dan Jiyeon setelah insiden pertengkaran kecil mereka di susur jalan pasar tadi sore.

Myungsoo terkesiap sesaat, memandang lurus dinding kamarnya untuk menyatukan cabang otaknya yang terbiasa mengalir cepat ketika hendak menemukan solusi permasalahan. Myungsoo berkedip sesaat sebelum akhirnya menoleh ke arah istrinya yang masih merengut dengan wajah memerah karena demam.

Myungsoo mengulum kedua belah bibirnya, mengulas pikirannya untuk mengeluarkan kalimat yang sedikitnya dapat membuat Jiyeon tenang untuk sementara waktu. Myungsoo mengacak surainya, kemudian terduduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Jiyeon.

“Jiyi, sebenarnya cincin itu belum ditemukan.” Myungsoo meraih tangan Jiyeon yang dingin kemudian menyembunyikannya ke dalam dua telapak tangannya. Selagi Jiyeon mengerutkan dahinya karena merasa tidak senang dengan jawaban Myungsoo, suaminya melanjutkan penjelasan.

“Tapi aku ingin agar kau tetap bersabar.” Sambungnya, Jiyeon tak menanggapi karena kepalanya masih pening untuk sekadar menangkap kalimat-kalimat Myungsoo. “Dan, aku ingin kau belajar memahami bahwa cinta tidak pernah terukur melalui lingkar cincin.” Myungsoo kemudian bangkit dari duduknya untuk mengusap kepala istrinya.

“Aku akan mencarinya lagi, sekarang beristirahatlah dulu.” Pinta Myungsoo. Jiyeon mengerjap, menebas perih yang menggerogot matanya. Demam yang dialaminya terasa persis seperti ketika ia kelelahan membantu Myungsoo bekerja di OSIS dulu. Kemudian pria itu melengos menuju dapur, meninggalkan Jiyeon yang menunduk memandangi jari manisnya yang kosong.

Ia masih tidak menyangka cincinnya akan hilang dalam waktu sebulan.

.

.

Myungsoo kembali memasuki kamar dengan tangan kiri yang membawa mangkuk bubur. Pria itu memutar kenop pintu lambat-lambat, kemudian melongok ke dalam pintu dengan menyembulkan kepalanya lebih dalam. Ia mengerling ke arah Jiyeon yang masih bergelung di bawah selimut, matanya terpejam. Setelah meyakinkan bahwa istrinya tengah tertidur, Myungsoo melangkah lebih dalam dan menutup pintu.

Pria itu meletakkan mangkuknya di atas nakas, kemudian mendekati Jiyeon yang demamnya tak kunjung turun. Myungsoo mengguncang bahu Jiyeon, memaksa gadis itu untuk terjaga. Namun, yang ia dapati adalah Jiyeon melenguh karena tubuhnya menggigil sementara pelipisnya meluncurkan keringat. Ia bergerak gelisah dengan mata tertutup dan alis bertaut.

Myungsoo dibuat cemas dengan keadaan Jiyeon, dengan langkah yang lebih cepat, Myungsoo mengambil kembali mangkuk buburnya. Ia terduduk di sisi ranjang lagi untuk kembali membangunkan Jiyeon. “Jiyeon-ah~ bangun sebentar, Jiyi. Kau harus makan.” Dan meski matanya terasa perih, gadis itu akhirnya membuka kelopak mata. Ia menoleh ke arah samping—tempat di mana Myungsoo memegang mangkuknya.

Melihat mangkuk di tangan Myungsoo, Jiyeon hendak mengeluh dan kembali bertingkah kekanakan untuk menolak makan malamnya. Namun, mata Myungsoo telah mengirim ribuan cahaya yang mengisyaratkannya untuk jangan berulah ketika sedang sakit. Patah-patah Jiyeon terduduk, ia meraih mangkuk dari genggaman Myungsoo.

“Biar aku makan sendiri.” Tuturnya dengan suara serak. Myungsoo menyerahkan mangkuk itu pada Jiyeon, kemudian jemari panjangnya yang telah bebas segera menyibak rambut istrinya agar tidak jatuh ke makanan dalam mangkuknya. Jiyeon terdiam, ia tidak berselera untuk menelan apapun, bahkan ludahnya terasa pahit. Jiyeon mendongak, memandang Myungsoo yang kini juga tengah menatapnya. Suaminya pasti belum mandi, hanya berganti pakaian—sama sepertinya—ia dapat melihat bahwa rambut Myungsoo jauh lebih berantakan dibandingkan dengannya, pria itu pasti menyisir rambutnya ketika ia tertidur.

Jiyeon mengusap pipinya yang merona karena demam, kemudian membuang napasnya. “Ada apa, Jiyeon-ah?” tanya Myungsoo tidak begitu memahami maksud Jiyeon menatapnya terlalu lama tanpa berkata-kata. “Aku…” Jiyeon meragu untuk melanjutkan kalimatnya, tetapi jika bukan karena kedua alis terangkat Myungsoo yang seolah tengah memapar penasaran, ia tidak akan melanjutkannya.

“Aku minta maaf karena telah menghilangkan cincin pernikahan kita.” Kemudian Jiyeon tidak ingin mendengar nasihat-nasihat Myungsoo lagi, dengan itu ia memulai suapan buburnya tanpa peduli pada wajah Myungsoo yang kini tersenyum. Pria itu diam-diam memperhatikan Jiyeon yang menunduk, mengais bubur dengan sendok.

Myungsoo merogoh saku celananya, kemudian mengeluarkan selingkar emas perak yang berkilau ketika tertimpa sinar. Myungsoo dalam diam meraih jemari Jiyeon, membuat gadis itu tersentak karena mangkuk dalam genggamannya kehilangan keseimbangan. Baru saja ia akan mengomel, Myungsoo telah lebih dulu membuatnya tertegun ketika jari manisnya terasa diberi tekanan pada permukaan dalam lingkar cincin. Ia menoleh cepat, menyentakkan kepalanya begitu keras hingga membuat kepalanya kembali diserang pening.

Ia melihatnya kembali dengan jelas. Cincin perak sederhana miliknya, yang baru saja Myungsoo pasangkan pada jari manisnya, dan itu membuatnya terbelalak. Ia menjatuhkan mangkuk ke pangkuannya, kemudian memandang cincin di tangannya dengan kelopak melebar.

“Myung… da-dari mana kau—”

“—kau meletakkannya di sebelah mesin pencuci. Kau melupakannya, hm?” jemari Myungsoo terulur untuk mengusap wajah hangat Jiyeon. Gadis itu mengerjap ketika mengingat bahwa ia selalu melepas cincinnya ketika tengah mencuci piring, dan tadi siang ia memang melakukan itu. Jiyeon ingin memaki dirinya yang telah rela berkorban di bawah guyuran air hujan seperti orang bodoh hanya untuk mencari cincinnya, namun perasaan senang karena satu masalahnya terkikis jauh lebih mendominasi. Ia meluapkannya dengan tawa bahagia.

“Ya ampun, Myungsoo-ya. Aku tidak menyangka aku seceroboh itu, sungguh. Aku melupakannya! Terima kasih, Myung.” tukas Jiyeon dengan senyum lebar, diselingi tawa kecil yang manis. Myungsoo senang melihat Jiyeon-nya tak lagi terlarut dalam serangkai masalahnya, dan hal itu membuat Myungsoo ingin maju lebih jauh.

“Barusan Ibu juga sudah menghubungiku,” katanya, mengalihkan perhatian Jiyeon yang kini tengah memandangi cincinnya. “Ibu bilang, besok sudah boleh pulang dari rumah sakit. Ibu tidak selemah yang kau bayangkan, Jiyi. Kita hanya membutuhkan doa.” Dan kali ini Jiyeon tersenyum tulus, bukan senyuman jenaka yang barusan ia tampilkan di depan Myungsoo.

Ia sadar bahwa perlahan, setiap masalahnya akan menemui pucuk dan klarifikasi simpulan akan ditemukannya, Myungsoo adalah satu di antara puluhan hal yang harus dibutuhkan Jiyeon ketika ia dikepung masalah. Myungsoo adalah suaminya, yang dapat menuntunnya menyelesaikan masalah.

“Sudah jangan tersenyum-senyum sendiri. Sekarang habiskan dulu makan malammu, lalu minum obat. Aku akan mencoba mencari bahan materi untuk skripsi barumu.” Dan Jiyeon sepenuhnya tersadar bahwa tubuh Myungsoo baru saja pergi menjauhinya untuk berjalan mendekati meja pendek tempat di mana kertas datanya tersimpan. Jiyeon memandang punggung Myungsoo yang menjauh, kemudian ia memaparkan senyum samar di antara deru napasnya yang panas akibat demam.

Jiyeon berterima kasih kepada segala pelajaran yang didapatnya hari ini. Masalahnya telah beres, segalanya hanya berada di tangan Myungsoo, dan pria itu akan menyelesaikannya dengan kepala dingin.

.

.

Nyaris dini hari, pukul sepuluh malam. Dan, Jiyeon masih bergelung di bawah selimutnya efek obat peringan pening yang ia minum sekitar empat jam lalu. Ia merasakan tubuhnya berkeringat, dan tak lagi menggigil. Ia cukup mengetahui bahwa ia telah separuh pulih dari demamnya, keringat itu membuktikan.

Jiyeon menggeliat resah di gulungan selimutnya, kemudian melandai tubuhnya ke arah kanan, merubah posisi tertidurnya. Namun yang ia dapati adalah wajahnya membentur paha seseorang. Jiyeon meringis, memaksa membuka kelopaknya. Ketika ia mendongak, ia tersadar bahwa Myungsoo sedang terduduk di atas ranjang—di sampingnya—sembari meluruskan kaki, dan bersandar pada kepala ranjang. Pria itu tengah berkutat dengan laptopnya.

Jiyeon mengedipkan matanya, kemudian refleks memeluk perut Myungsoo yang masih terduduk. “Kenapa terbangun, Jiyeon-ah?” tanya Myungsoo tak mengalihkan fokusnya pada laptop. Jiyeon mendengung tak jelas. “Aku jadi tidak bisa tidur lagi.” Katanya dengan suara yang teredam bantal.

Myungsoo tertawa kecil melihat tingkah Jiyeon, kemudian pria itu kembali melanjutkan kegiatannya mengetik proposal yang harus ia selesaikan hari ini. Myungsoo terdiam ketika mendengar napas Jiyeon yang teratur, membuat kepalanya terpaksa menoleh ke arah sosok yang berbaring memeluk perutnya tersebut.

Jiyeon tidak tertidur, matanya terbuka sepenuhnya meski sirat lelah masih menggores wajahnya. Mata sayu gadis itu mengarah pada jari manisnya yang telah dilingkari cincin, kemudian ia terkikik kecil, membuat Myungsoo tersadar akan senyum gadis itu yang mengindikasikan bahwa masalah gadis itu telah benar-benar kandas.

Ia hampir saja mengusap surai Jiyeon jika bukan karena ia tersadar akan satu hal. Ia merenung sesaat, sementara Jiyeon masih tenang memeluk pinggangnya dalam posisi berbaring. “Jiyeon-ah. Kau sudah benar-benar pulih dari sakitmu?” tanya Myungsoo, kemudian menunggu respons istrinya.

Gadis itu mendongak, memandang Myungsoo yang memangku laptopnya. Gadis itu berpikir lebih lama untuk membalas pertanyaan Myungsoo. Ia mencebikkan bibir, memutar matanya untuk menemukan jawaban. “Kurasa,” katanya, namun Myungsoo tahu bahwa kalimat itu masih memiliki kelanjutan.

“Aku hanya merindukan masa berkencan kita.” Ia menyambung kalimatnya dengan dengungan karena ia menyembunyikan wajahnya di bantal. Myungsoo tidak tuli untuk mendengar dengungan itu meski teredam di atas bantal.

Myungsoo kemudian menekan bibir bawahnya, memandangi layar datar laptopnya yang perlahan menggelap karena baterai yang lemah. Myungsoo mendengar denging laptopnya yang mengisi keheningan kamar, kemudian matanya lebih cepat mengerling ke arah Jiyeon. Ia tersenyum tipis, kembali mendapatkan pencerahan untuk menyelesaikan masalah Jiyeon.

Ia mengambil ponsel di nakasnya, memeriksa jam—karena Myungsoo terlalu malas untuk melongok memandang jam dinding, dan ia menemukan isyarat pukul nyaris menuju dua belas malam. Myungsoo kembali meletakkan ponselnya.

“Jiyi, ayo kita berkencan.”

.

.

Jiyeon bahkan terlalu malas untuk sekadar mencuci wajah demi menyegarkan matanya saat ini. Ia hanya mengais mantelnya untuk dikenakan pada tubuhnya, karena ia merasa matanya telah segar seratus persen ketika mendengar penuturan Myungsoo yang berisi ajakan kencan. Ia bukan tidak lupa bahwa masa telah merujuk dini hari, dan ia yakin jalanan kota pastilah masih sibuk.

Setelah mengancing resleting mantelnya, Jiyeon menggelengkan kepala agar poninya jatuh sempurna di kening. Tanpa mengikat rambut di bawah bahunya, Jiyeon berjalan perlahan menuruni anak tangga, Myungsoo telah menunggunya di depan pintu rumah.

Jiyeon meneguk sisa cokelat dalam cangkir yang terletak di meja ruang tengah, ia tahu itu pasti sisa cokelat yang diminum Myungsoo ketika sedang menunggu Jiyeon bersiap-siap sekitar lima menit yang lalu, pria itu memang kerap menyisakan makanan atau minuman, ia lebih senang membuatnya daripada menyantapnya.

Seiring dengan tegukan terakhir, Jiyeon mengusap bibirnya yang terbasuh cokelat, kemudian memandang pantulan wajahnya dari cermin ruang tengah. Gadis itu mengulum senyumnya sesaat sebelum akhirnya melangkah mengeluari ruang tengah menuju pintu utama rumahnya.

Angin malam menyapa kulitnya, bahkan hingga menyerap masuk melalui pori-pori mantelnya lantas menyentuh kulit. Jiyeon bergidik, memilih terburu-buru mengunci pintu utama rumahnya dan menyibak helaian rambut yang menutup sebagian pipinya.

Ia berbalik ke arah pekarangan rumahnya dan mendapati Myungsoo sedang terduduk di bangku kemudi dan menunduk menekuri ponsel. Sinar radiasi memendar ke arah wajah Myungsoo, dan seketika Jiyeon tersadar bahwa pria itu sedang menunggunya. Jiyeon baru saja akan memanggil Myungsoo jika bukan karena dirinya tersadar akan hal janggal.

Myungsoo terduduk di bangku kemudi—sepeda? Meski dengan kening berkerut, Jiyeon tetap melangkah sesekali meringis karena dingin ke arah Myungsoo. Gadis itu menggumam ketika kakinya telah menapak tepat di samping Myungsoo yang masih berkutat dengan ponsel.

“Myungie?” Jiyeon nyaris berbisik di tengah malam yang sunyi dan dingin. Myungsoo menoleh tenang, kemudian menyimpan ponselnya di dalam saku. “Kau sudah siap?” tanyanya, meski pertanyaan itu telah terjawab melalui matanya.

“Kenapa kau mengeluarkan sepeda?” Jiyeon balik bertanya, enggan menjawab pertanyaan Myungsoo. Suaminya tertawa kecil, kemudian membekap mulutnya ketika tersadar bahwa tetangganya memiliki anjing puddle yang berisik.

“Tentu saja untuk berkencan, Jiyeon.” Balasnya ringan, ia mengedikkan kepalanya ke arah belakang. “Naiklah.” Sontak membuat Jiyeon melebarkan kelopak matanya. Ia memandang bagian belakang sepeda tanpa jok namun memiliki penopang kaki di samping roda belakang.

Yak! Maksudmu aku harus berdiri di belakang untuk menumpang di sepeda ini?” Jiyeon tahu bahwa tidak semua sepeda memiliki dua jok untuk pengemudi dan penumpang, sepeda Myungsoo adalah salah satunya. Jiyeon pernah melihat Myungsoo yang mengendarai sepeda ini dulu, dengan temannya yang menumpang di belakang sembari berdiri menjejakkan kaki pada kayu dekat pedal.

Myungsoo tersenyum, “Sekali-sekali kau harus mencobanya, Jiyi.” Tutur Myungsoo berusaha membujuk istrinya yang sudah merengut. Gadis itu hendak mengeluarkan protes lain ketika tersadar bahwa malam ini adalah malam kencan mereka yang spesial.

“Baiklah,” katanya kemudian, lebih terdengar seperti gerutuan. Jiyeon melangkah ke belakang Myungsoo, kemudian menjejakkan kakinya pada kayu dekat pedal, ia berpegangan pada bahu Myungsoo kemudian kini benar-benar berdiri tegak di belakang suaminya.

“Sudah siap?” tanya Myungsoo mempersiapkan kakinya untuk mengayuh pedal. Jiyeon mengerutkan dahinya. “Jangan bilang, kau hendak mengebut di tengah mal—WAAA!” belum sempat Jiyeon menyelesaikan terkaannya, tubuhnya sudah menebas angin malam lebih dulu. Ia menemukan keseimbangan tubuhnya lebih mudah diatur karena posisinya berdiri, ia mencengkeram pundak Myungsoo, sementara si pengemudi justru tertawa keras menghalau angin malam.

“Ada turunan di sana, Jiyeon-ah. Lihat, aku akan melepas kakiku dari pedal.” Dan seiring dengan jalur tukik di perumahan mereka terlewati, Jiyeon dapat merasakan sensasi menyenangkan dari derai tawa mereka, diikuti cahaya rembulan yang seolah mengikuti mereka hingga pagi. Jiyeon berseru, lupa bahwa beberapa menit yang lalu kepalanya dilanda pening dan tubuhnya demam.

“Whooo~” Myungsoo ikut berseru layaknya bocah SD yang baru mencoba menunggang sepeda. Jiyeon tertawa kecil melihat suaminya yang status asisten manajer-nya seperti terhapus karena senyum konyolnya. Ia refleks melingkarkan lengannya di leher Myungsoo ketika keduanya telah berhasil mengeluari perumahan dan mulai memasuki jalan raya yang masih sibuk. Keduanya dapat melihat jelas lampu-lampu kota yang menerangi malam, serta kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan.

“Myungsoo-ya, kurasa ini sedikit menyenangkan,” gumam Jiyeon menyatukan pipinya dengan pipi Myungsoo. “dan berbahaya.” Sambungnya, yang segera dibalas kekehan oleh Myungsoo. Pria itu menoleh beberapa derajat tanpa menghapus fokus matanya pada jalanan, ia mengecup pipi Jiyeon.

“Jadi, ke mana tujuan pertama kita?” tanya Myungsoo setelahnya. “Hm…” Jiyeon menggumam. Ia tersadar bahwa angin malam kini terasa familier di kulitnya, sehingga ia tak perlu menggigil lagi. “Aku ingin tteokbokki.” Gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Myungsoo tersenyum lebar, kemudian mengayuh pedalnya untuk menemui tenda jajanan di pinggir jalan.

“Berpegangan, Jiyi. Aku akan mengebut lagi, haha.”

Whoa~”

.

.

Kepul hangat menembus kaca almari bening yang memperlihatkan sebentuk jajanan kesukaan Jiyeon, kue beras. Ia dapat melihat paman penjual jajanan itu tengah mengaduk bumbu merah yang pedas. Myungsoo menekan bibirnya dengan telunjuk, gestur lazimnya ketika sedang berpikir. Cahaya kuning yang memendar dari tenda pedagang kaki lima itu menerangi wajah bingung Myungsoo.

Paman berkeriput di depannya telah lebih dulu bersuara di antara pergulatan pikiran Myungsoo. “Hei, anak muda. Kau ingin memesan?” tanyanya setelah menambahkan odeng ke dalam piring. Myungsoo menoleh ke arah paman tersebut, kemudian mengerjap.

“I-iya, Paman.” Katanya tergagap. “Biar kutebak, kau ingin membeli tteokbokki untuk kekasihmu di sana.” Paman itu menunjuk Jiyeon yang tengah terduduk di bangku pembeli dengan ponsel di genggamannya. Myungsoo menoleh ke arah Jiyeon, kemudian menggaruk tengkuknya.

“Bagaimana? Tebakanku benar?” Paman itu menerka dengan senyum jahil, dibalas senyuman kikuk oleh Myungsoo. “Separuh benar, dan separuh salah.” Balas Myungsoo, membuat paman itu menghentikan kegiatannya menuang bumbu. Harum pedas dari saus kue beras menggugah selera Myungsoo, pria itu sejak sore belum menyantap apapun, terlebih ketika Jiyeon jatuh demam.

“Separuh salah? Di mana letak kesalahanku? Dan kebenaranku?” paman itu bertanya santai tanpa canggung.

“Aku memang ingin membeli tteokbokki untuk gadis itu, tetapi ia bukan kekasihku. Ehm, omong-omong, aku beli tiga ribu won untuk tteokbokki, dan dua ribu won untuk twigim.” Kata Myungsoo menuntaskan pesanannya. Meski, Myungsoo merasa ragu untuk membelikan Jiyeon jajanan—terutama di malam hari seperti saat ini, itu tidak sehat baginya.

Selagi paman itu tersenyum mempersiapkan pesanan Myungsoo, pria berkeriput itu kembali menuturkan pertanyaan. “Jadi, dia bukan kekasihmu? Tetapi—tunanganmu?” paman itu mendelik ke arah Myungsoo, tidak peduli dengan ekspresi jengah Myungsoo.

“Dia istriku.” Sahut Myungsoo, kemudian enggan melihat ekspresi paman itu untuk berikutnya. Ia mengedarkan pandangan pada sekitar tenda pedagang kaki lima di pinggir jalan itu, kemudian ia tersadar bahwa di sekitarnya masih ramai oleh orang-orang.

“Kalian sudah menikah? Haha, menikah muda?” paman itu melemparkan gurauan ringan, Myungsoo mengapresiasinya dengan senyum tipis. Ia menerima nampan berisi pesanannya yang diletakkan di atas almari, kemudian ia memberikan uang pada paman tersebut.

“Ini sudah malam. Jaga istrimu baik-baik.” Pesan paman itu sebelum menerima uang dari Myungsoo. Myungsoo tertawa kecil, kemudian memutuskan untuk membungkukkan badannya ke arah sang paman. “Aku permisi, paman.” Pamitnya sebelum akhirnya melangkah ke bangku di mana Jiyeon berada. Ia memandang sepiring kue beras yang mengepul di nampannya, kemudian menghela napas.

“Myungsoo?” Jiyeon telah berdiri di depannya, sejak melihat pria itu berdiri mematung memandangi kue beras dan sedikit menghadang jalur lewat untuk orang-orang di belakangnya. Myungsoo mengangkat wajah, kemudian mengangkat alisnya.

“Kenapa bengong di sini? Ayo ke meja kita.” Jiyeon mengambil alih nampan di tangan Myungsoo, dan membawanya sendiri ke meja mereka. Myungsoo mengikuti gadis itu di belakang, dan sesaat setelah keduanya telah terduduk di meja nomor dua puluh empat, Myungsoo melihat binar senang di mata Jiyeon.

“Selamat makaaaan.” Katanya riang, memasukkan sepotong kue beras berlumur saus ke dalam mulutnya. Myungsoo mengedikkan bahu, ia merasa tidak begitu nyaman dengan jajanan pinggir jalan, terlebih di malam hari dan dalam keadaan Jiyeon yang baru pulih dari sakitnya.

“Jiyi,” panggil Myungsoo, menumpukan sikunya pada meja, kemudian memandangi istrinya yang masih asyik menyantap kue beras, ia mendengung untuk membalas panggilan Myungsoo.

“Jangan makan terlalu banyak. Apa kau tidak akan sakit perut?” mendengar nada cemas itu, Jiyeon menghentikan suapannya, ia mendongak. Mendapati wajah Myungsoo yang keningnya berkerut, Jiyeon tersenyum kecil, kemudian meneguk air mineral.

“Tidak apa, Myung. Ini bukan junk food yang kau larang untukku. Ini hanya tteokbokki, oke?” Jiyeon kemudian menusuk sepotong kue beras dan menyerahkannya tepat di depan mulut Myungsoo. “Buka mulutmu! Aaaa~” pinta Jiyeon dengan wajah merajuk. Myungsoo membuang napasnya, namun pada akhirnya membuka mulutnya untuk menerima suapan kue beras dari Jiyeon.

“Enak ‘kan?” tanya Jiyeon, dibalas dengan Myungsoo yang tersenyum dan mengusak kepala gadis itu. Di balik tenda jajanan pinggir jalan, langit mengalih gambaran baru. Detik menggantikan hari, masih diikuti dengan sorot lampu jalan dan gedung-gedung. Jiyeon menghirup udara, mengisi paru-parunya, menggambarkan kebebasan yang ia dapatkan malam ini.

.

.

Jiyeon sebelumnya tidak menyangka jika malam kota mereka terlihat seribu kali lebih indah jika dibandingkan dengan siang hari atau pagi yang ditemani sembulan sinar dari kaki langit. Terutama aspal yang menjadi jembatan di atas sungai kota mereka saat ini jauh lebih menakjubkan dengan ribuan sinar lampu yang menyorot jalan dan memantul melalui air bening sungai.

Jiyeon merenggangkan tulang-tulangnya yang terasa menumpuk menjadi satu, ia kemudian menumpukan jemarinya di atas pegangan jembatan. Ia memandangi air sungai yang hitam, namun berkilau. Angin malam tidak lagi terasa dingin untuk Jiyeon.

Gadis itu menoleh ke samping, menemukan Myungsoo yang tengah menuntun sepedanya dengan kepala tertunduk meneyejajarkan gerak roda dengan langkah kakinya. Jiyeon menunggu suaminya sampai berhenti melangkah dan menyandarkan badan sepeda di sisi jembatan. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat kepalanya, kemudian mengukir senyum ke arah Jiyeon.

Myungsoo mendekati Jiyeon, merangkul bahunya untuk memandangi air yang membentang di depan mata mereka. Hening menemani waktu bersama mereka, hingga Myungsoo mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Jiyeon.

“Lihat ke sini.” Dan Jiyeon terlalu tidak siap ketika menemukan kamera depan dari ponsel Myungsoo. Lampu jalanan kota yang begitu terang dan menyorot ke arah mereka seperti cukup membuat hasil foto yang ditangkap Myungsoo terlihat sempurna.

Jiyeon dengan mata melebar karena terkejut dan Myungsoo yang tersenyum lebar dengan jari telunjuk dan tengah yang mengacung. Jiyeon mengerjap ketika Myungsoo mengambil dua foto itu dengan cepat, kemudian ia menoleh ke arah Myungsoo yang terkekeh sembari memandangi foto mereka.

“Hapus foto itu, Myungie!” titah Jiyeon setengah merengek karena ia baru sadar bahwa rambutnya berantakan terbawa angin, dengan gerakan terburu-buru, Jiyeon merapikan rambutnya dan merebut ponsel Myungsoo. Sebelum ia dapat menemukan fotonya, Jiyeon telah lebih dulu menemukan sederet kalimat yang tertera di layar ponsel Myungsoo, rupanya Myungsoo sudah menutup aplikasi kamera.

Jiyeon sedang bersedih.

Tulisan itu membuat Jiyeon tertegun, ia mendorong halaman dalam nota untuk ke bawah, dan ia menemukan kalimat lain.

Ia memiliki banyak masalah selama aku tidak berada di sampingnya.

Dan, di detik itu, Jiyeon merasa suara Myungsoo seperti menggema di telinganya membacakan kalimat itu. Sementara, Jiyeon tidak sadar bahwa Myungsoo tengah menumpukan sikunya pada pagar pembatas jembatan seraya memandangi air bening sungai kota.

Selama ini, aku tidak tahu bahwa ia tertekan. Aku tidak menginginkan banyak kebahagiaan jika Jiyeon berada dalam keadaan bersedih seperti sekarang.

Jiyeon menekan bibirnya, ia merasa Myungsoo seperti tengah mengungkapkan perasaannya. Seluruh perasaan bersalah dan penyesalan. Myungsoo menoleh ke arah Jiyeon, memandangi paras gadisnya yang ketika itu tengah membaca nota di dalam ponselnya.

Karena aku mencintaimu, lebih dari kebahagiaanku.” Dan tulisan di dalam nota yang baru ia baca itu terdengar nyata seiring dengan perkataan Myungsoo barusan. Perkataan dengan kata yang sama persis seperti nota ponsel dalam genggamannya.

Gadis itu mengerjap, sementara Myungsoo tersenyum tipis. Bersamaan dengan angin yang menerbangkan surai Myungsoo, Jiyeon dapat melihat seluruh usaha Myungsoo ketika pria itu membantunya. Ia berterima kasih dalam diam, mengukir senyum lebarnya ke arah Myungsoo.

Gadis itu melangkah lebih maju, dan seperti memahami indikasi Jiyeon, Myungsoo mendorong kepalanya untuk terlebih dahulu mengecup ubun-ubun Jiyeon dan memerangkap tubuh gadis itu di dalam pelukannya. Jiyeon melingkarkan tangannya di punggung Myungsoo, dan memejamkan matanya. Itu adalah pelukan sayang, bukan pelukan manja seperti biasanya, dan Jiyeon merasakan ketenangan yang dua kali lebih besar dibanding biasanya.

“Kim Myungsoo, suamikuuuu~” gumam Jiyeon teredam oleh bahu Myungsoo. Myungsoo terkekeh tepat di samping telinga Jiyeon, kemudian mengayunkan tubuh gadis itu. “Kita berkencan sampai pagi, bagaimana?”

“Boleh.”

.

.

Myungsoo akhirnya mengaku bahwa membawa sepeda di hari kencan memang buruk. Tadinya ia sempat berpikir akan membuat hari kencan pertama mereka yang terhitung sejak awal pernikahan itu menjadi lebih menyenangkan dengan adanya kendaraan sepeda, berhubung ia tidak memiliki kendaraan lain kecuali sepeda.

Namun, pada akhirnya Myungsoo merasa mengayuh sepeda dengan membawa beban Jiyeon terasa seperti mematahkan betisnya, dan ketika ia menuntun sepeda itu di sepanjang susur jalan hanya dapat membuatnya kerepotan.

Jiyeon mengusulkan untuk menitipkan sepeda itu di kantor Myungsoo yang kebetulan mereka lewati, dan Myungsoo menurutinya, membuat keduanya kini tak lagi memegang kendaraan sama sekali. Ketika terlintas pemikiran bahwa Myungsoo ingin segera pulang, kedua-duanya tak menemukan pengoperasian bus ataupun taksi lagi, hari sudah pagi, pukul tiga memang. Dan cahaya matahari masih bersembunyi di balik gemerlap bintang dan pergedungan.

Hingga keduanya terhenti di depan stasiun, Myungsoo menyadari bahwa transportasi keretalah yang dapat membawa mereka pulang satu-satunya. Jiyeon tidak lagi banyak bicara atau berulah ketika telah memesan tiket dan mendudukkan tulang duduknya di bangku penumpang, ia mengantuk.

Bahkan, Myungsoo tidak sadar bahwa mereka berkencan hingga mencapai puluhan kilometer dari rumah, hingga kereta yang membawa mereka merangkap perjalanan hingga sekitar pukul lima pagi. Gesekan roda besi yang menyentuh lajur rel kereta mendesis di pendengaran Myungsoo sementara samar-samar sinar matahari menyerobot masuk melewati celah gorden di kereta ekskutif yang masih berderum maju mengikuti jalur rel.

Sinar matahari itu adalah tanda pergantian hari, dan Myungsoo yang selama perjalanan merasa cukup untuk tertidur dalam posisi duduk di bangku kereta kemudian menghela napasnya. Hari telah berganti pagi, dan ia menyadari bahwa kencan mereka hari ini adalah kencan terhebat yang pernah mereka lakukan.

Kencan dari tengah malam hingga pagi, dan Myungsoo baru sadar bahwa ia tidak tertidur sama sekali untuk hari ini. Myungsoo melirik ke arah kepala yang tengah bersandar di bahunya, kemudian ketika sinar matahari menghangatkan pipi gadis itu melalui celah gorden, barulah ia menggeliat.

Myungsoo hanya bergeming, memandang istrinya yang begitu manis ketika berusaha mengerjap dan menutup mulutnya karena menguap. Jiyeon telah sepenuhnya membuka mata setelah mengumpulkan nyawanya yang masih terpisah dengan raga.

“Selamat pagi,” sapanya ketika Jiyeon menoleh ke arahnya dengan mata yang masih mengerjap. Jiyeon hanya mengusap matanya, kemudian berusaha memandang secercah cahaya mentari yang mengantarkan mereka menuju pagi yang baru.

Halusnya bunyi mesin kereta membuat Jiyeon ingin memejamkan matanya lagi, namun ia mengurungkan niat untuk itu ketika menyadari bahwa bahu Myungsoo adalah bantalnya. Gadis itu melirik Myungsoo yang rupanya tengah memandangnya.

“Kau tertidur nyenyak?” tanya Myungsoo mengusap surai Jiyeon yang menutup pipi gadis itu. Jiyeon mengangguk, kemudian melingkarkan kedua lengannya pada lengan Myungsoo, menjadikan lengan panjang itu sebagai gulingnya.

Gadis itu hendak kembali tertidur, namun pita suaranya telah terlebih dahulu menyeret seulir kalimat. “Aku merasa tenang hari ini, Myung.” Gumamnya, memulai ritual kilas balik mengenai seluruh hal yang telah terjadi padanya kemarin. Gadis itu mendongak lebih tinggi, memandang Myungsoo-nya yang bergeming dengan alis terangkat menggemaskan.

“Kau menyelesaikan masalahku mulai dari yang besar, hingga yang terkecil.” Lanjutnya, kini diikuti sinar ketenangan dari matanya. Myungsoo mengulum kedua bibirnya, dan berganti mencubit pipi Jiyeon, mengeluarkan ringisan dari sela bibir gadis itu.

“Masalahmu adalah masalahku sekarang, mengerti?” tutur Myungsoo dengan mata yang menyorot tajam, namun Jiyeon tak dapat mengelak bahwa mata itu tengah mengerling jahil penuh gurat gembira. Jiyeon mengangguk kecil sebelum akhirnya menggeliat manja di samping Myungsoo.

“Terima kasih untuk satu bulannya, Sayang.” Myungsoo mengecup dahi Jiyeon, melontar sebuncah rasa sayangnya pada istrinya, Myungsoo mengatakan hal itu dengan senyum pertamanya di pagi itu.

Jiyeon tanpa sadar ikut tersenyum, karena ia juga mengetahui makna dari satu bulan yang baru saja diucapkan Myungsoo. Ia mengangkat kepalanya yang bersandar di bahu Myungsoo, kemudian menoleh ke arah pria itu, sehingga kening mereka saling membentur.

Selongsong cahaya mentari yang mengantar mereka seperti tengah tersenyum lebar ketika dua insan Tuhan dalam kereta itu saling mengucap dengan nada melengkapi.

Happy monthsary.” Suara berat dan kekanakan yang beradu itu seolah menepis udara tenang pagi ini, terutama kikikan keduanya setelah berbarengan mengucap selamat. Baik Jiyeon maupun Myungsoo merasa tidak memerlukan hadiah spesial lagi selain tautan tangan mereka di sana.

Lagi-lagi, senyum mereka melebar. Kesederhanaan yang sempurna di pagi itu setelah melewati kencan yang ditemani cahaya kota malam hari.

.

.

//finite.//

.

.

Sedikit informasi singkat, adegan kencan tengah malem itu aku ambil inspirasinya dari MV Greyson Chance yang judulnya Sunshine and City Lights.

50 responses to “Tension [7]: Crying #2/END

  1. Pingback: Tension [8]: Angel’s Anger #1 | High School Fanfiction·

  2. Pingback: Tension [9]: Angel’s Anger #2/END | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s