Tension [6]: Crying #1

tension

“Tunggu, Mr. Kim! Aku sudah mengulangnya dua kali. Mr. Kim tidak bisa langsung menolaknya begitu saja!” seluncur kalimat itu berderai protesan, diturut oleh helaan tangan seorang gadis pada lengan pria paruh baya berkepala botak, dosennya.

“Tidak, Jiyeon. Kau masih gagal. Tidak ada mahasiswi yang akan lulus dengan skripsi acak seperti itu.” Dosen Kim menggeleng, melepaskan tangan mahasiswinya yang masih menarik lengannya. Pria paruh baya itu memandang satu-satunya mahasiswinya yang belum menyelesaikan skripsi sejak dua bulan yang lalu.

“Paparkan karya tulis ilmiah yang lebih baik, nak.” Dan itu adalah kalimat penolakan. Penolakan dari dosennya untuk yang ketiga kalinya, sejauh ia melewati masa-masa sulit di perkampusan. Selangkah lagi ia akan lolos dari status sarjana, jika ia dapat membuat karya tulis ilmiah yang membahas fenomena dalam bidang ilmunya, psikologi.

Gadis itu tersadar bahwa angin dari luar jendela kelas menerpa surai kecokelatannya. Ia berdiri mematung memandang kepergian dosennya yang seolah baru saja menginjaknya dengan tapak sepatu yang penuh dengan kotoran.

Jiyeon gagal, lagi.

.

.

Tension [6]: Crying #1
by: Shaza (@shazapark)

starring: Park Jiyeon & Kim Myungsoo

Romance, Drama
Series

READ PREVIOUS — [3 Hours] [Future #1] [Future #2] [Unmarried Feeling] [A Relic #1] [A Relic #2]

hyunfayoungie‘s design @ Art Fantasy

.

.

Ponselnya masih menyuarakan lengkingan seorang gadis sementara permukaannya merekat nyaris di pipi, dan pengeras suaranya terarah pada telinganya. Kepala gadis itu tertunduk, meniti kakinya yang terbalut sepatu kets, melangkah ringan menyusuri trotoar. Tangan kanannya yang bebas tengah menggenggam stik es krim yang sejak tadi ia santap selama berjalan.

Aku masih tidak percaya pada si dosen kepala botak itu, Jiyi! Lebih baik kau pindah universitas.” Jiyeon nyaris menggingit es krimnya ketika mendengar usul Jiyoung dari seberang telepon. Ia mengedarkan pandangan, kemudian mendapati orang-orang di sekitarnya tengah memandangnya aneh karena kakinya tersandung kecil tadi. Jiyeon membungkuk pada sebagian orang-orang itu, kemudian melanjutkan langkahnya.

“Kau gila?! Aku memasuki universitas itu susah payah, kau tahu? Mana mungkin aku keluar.” Jiyeon menentang dengan wajah merengut. Jiyoung terkadang memang memiliki pemikiran yang tidak masuk akal.

Ah, ya sudah maaf. Habis aku kesal. Kau ditolak tiga kali, Yeon-ah? Apa kau tidak lelah mengulang skripsinya?” Jiyoung sahabatnya itu berubah prihatin ketika mengatakan hal tersebut. Jiyeon terdiam sesaat, merasakan bahwa es krim di genggamannya telah habis, ia membuang stik es krim sembarangan.

“Entahlah. Kemarin aku sudah meminta bantuan Myungsoo, tapi aku menolaknya karena Myungsoo memintaku untuk menulis skripsi penelitian bunga. Tidak mungkin aku meminta bantuannya lagi.” Jiyeon mengeluh, ia menjejalkan jemarinya ke dalam saku jaket tanpa menghentikan langkahnya yang sudah sangat mendekati perumahannya.

Untungnya aku tidak berkuliah di sana,” gumam Jiyoung, membuat Jiyeon mendengus. “Tidak ada hubungannya denganku, oke?” balasnya ketus karena emosinya sedang meletup semenjak dosennya menolak mentah-mentah skripsinya.

“Sudah dulu lah. Aku ingin istirahat, dah.” Tanpa menunggu persetujuan, Jiyeon memutus sambungan telepon. Gadis itu membuang napasnya lambat-lambat ketika telah dihadapkan oleh gerbang rumahnya. Jiyeon mengambil kunci yang ia simpan di tas, kemudian membuka borgol yang mengancing rapat gerbang besi tersebut.

Jiyeon memasuki pekarangan rumahnya ketika telah yakin bahwa gerbangnya kembali tertutup rapat. Jiyeon melangkah malas memasuki rumahnya setelah meletakkan sepatu di rak sepatu. Ia merasakan kegagalan dari skripsi yang akan membuatnya lulus itu seperti membakar emosinya, ia tidak tahan. Ia hanya ingin menyelesaikan skripsi itu, dan mencari pekerjaan.

Bahkan Jiyeon merasa bodoh karena akhir-akhir ini lebih sering menelepon teman-temannya jika dibandingkan dengan menelepon Myungsoo. Myungsoo tidak ada di rumah lagi, ia diam-diam penasaran dengan pekerjaan suaminya. Apa sebanyak itu?

Jiyeon mengempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah yang berhadapan dengan televisi, kemudian melirik jam yang menggantung di dinding. Ia menemukan jarum yang lebih rendah telah menuding angka tiga, dan itu adalah waktunya untuk mandi.

Ia sendirian lagi di rumah, sama seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada perubahan.

.

.

“Ini proposal baru untuk me-revisi acara lelang di mall ini, besok.” Junmyeon mengarahkan sejilid kertas yang menumpuk persis seperti saat Myungsoo menyentuhnya di masa sekolah menengah atas. Myungsoo menerima kertas itu, dan membaca susunan acara yang akan memenuhi mall tempat di mana ia bekerja.

“Aku menjadwalkan promosi emas milik perusahaan Hyun di hari pertama lelang kita.” Lanjut Junmyeon menjelaskan solusi yang nyaris seminggu ini membuat Myungsoo banyak bergerak. Myungsoo mendengarkan sembari membuka halaman-halaman berikutnya.

“Sponsor kita kali ini sedikit menjatuhkan mall kita dengan harga yang relatif lebih besar. Tetapi aku tidak mau berbuat curang dengan mengambil pemasukan uang ke dalam rekening mall kita.” Myungsoo mengangguk, namun ia merasa sedikit janggal dengan solusi berat yang sedang diterangi oleh manajernya.

Denging pendingin udara berembus di ruangan Junmyeon, menerbangkan seulir pemikiran di kepala Myungsoo. Hari sudah mulai gelap, dan ia mulai lelah bergulat dengan pekerjaannya.

“Tuan, tapi kupikir jika kita menjadwalkan promosi emas di awal event kita, pengunjung hanya akan tertarik di hari pertama.” Myungsoo menyuarakan opininya seraya meletakkan kertas di atas meja. Manajernya, Junmyeon menurunkan kacamata, kemudian memandang Myungsoo lelah.

“Lalu apa yang bisa kau lakukan, Myungsoo?” Myungsoo terdiam, meluruskan kakinya sembari mendongak memandang langit-langit kantornya. Junmyeon menunggu asistennya bersuara.

“Kita bisa menyatukan dua event dalam satu tempat, sehingga tidak memakan waktu yang banyak.” Junmyeon membelalak ketika mendengar usul Myungsoo. Ia tidak pernah merasa keberatan dengan usul itu, namun lazimnya, seorang asistenlah yang akan merasa dirugikan dengan pendapat ini. Pemasangan dekor, itulah yang dirisaukan oleh Junmyeon.

“Karena acara lelang itu menyita waktu hingga enam hari, kita bisa memasukkan banyak acara lain yang memikat pengunjung.” Kini Myungsoo memandang lurus ke arah tembok, berhitung tanpa meleset dan tanpa bantuan kertas. Ia mengukir gambaran lain di kepalanya, kemudian mengambil kertas kosong di jilid proposal yang baru saja diberikan oleh Junmyeon. Mendadak, pria itu tersenyum tipis.

“Aku akan memasang pembatas di seluruh area lobi lantai satu, memasukkan panggung bazar yang akan—” baru saja Myungsoo mencatat rencananya, Junmyeon sudah terlebih dahulu menyela dengan mata melebar. Ia menarik lengan Myungsoo, kemudian menyembur pria itu dengan protesan.

“Kita tidak bisa melakukan bazar! Keuangan kita telah terenggut banyak karena sponsor yang menjatuhkan kita, Myungsoo!” Junmyeon menolak, namun Myungsoo dengan wajah tenangnya melepaskan tangan manajernya yang mencengkeram lengannya.

“Dengarkan penjelasanku dulu,” tuturnya lambat, menunggu manajernya kembali duduk di bangkunya. Setelah yakin bahwa Junmyeon mau mendengarkannya, Myungsoo kembali mengambil napasnya. “panggung itu akan menghadang sedikit ke lalu lintas, jadi arus pengunjung akan lebih terfokus pada bazar dari mall kita.” Sambung Myungsoo.

Junmyeon mengerutkan dahinya, namun tersadar bahwa usulan Myungsoo cukup masuk akal. Myungsoo tersenyum lebar, inilah yang membuatnya dipercaya untuk menjadi ketua OSIS dulu. “Aku mendengar bahwa tiga perusahaan yang bekerja sama dengan kita ini mudah memikat pengunjung—emas dari perusahaan Hyun, butik perusahaan Huang, dan game center milik Mark—kita akan memasukkan tiga event itu ke dalam bazar.” Myungsoo mengurai kembali pendapatnya, tidak sadar bahwa detik jam bergulir lebih cepat.

“Di sisi terdalam, aku akan menyiapkan satu counter khusus untuk promosi sponsor ponsel yang telah menjatuhan mall kita.” Myungsoo hendak mengakhiri usulan yang sejak tadi mengalir membentuk cabang di kepalanya jika bukan karena Junmyeon, manajernya, yang bertanya.

“Lalu, bagaimana jika ada perusahaan lain yang ingin melelang tiga counter tersisa di sini?” Myungsoo telah memikirkan solusi itu sejak tadi, maka ia menjawab dengan lancar tanpa ragu.

“Benar! Dan kita tidak perlu melihat patokan harga yang mereka tawarkan. Biarkan mereka memperebutkan counter itu dengan harga tertinggi. Kita akan melihat hasilnya nanti.” Tuturnya, kini menyimpan proposal yang baru saja diberikan oleh Junmyeon.

“Untuk sponsor ponsel, kita tidak perlu menaikkan harganya. Dengan harga yang sesuai pasar, target kita untuk memikat pengunjung akan lebih besar.” Kata Myungsoo lagi, kali ini Junmyeon menelengkan kepalanya.

“Tapi, jika kita tidak menaikkan harganya, maka waktu untuk mendapatkan uangnya semakin lambat, Myungsoo!” dalih Junmyeon, ikut berpikir dengan tanggapan keuntungannya.

Myungsoo tersenyum tipis, ia telah benar-benar matang memikirkan hari besar yang akan menggandrung mall mereka. “Dengarkan aku, Junmyeon-ssi,” tukas Myungsoo, membuat manajernya menoleh.

“Aku juga seorang pengunjung mall ini dulu, ketika masih kuliah. Dan, aku mendengar desas-desus teman-temanku bahwa mall ini jatuh karena harga barang-barang yang terlalu mahal. Ini pengalaman, sekaligus pelajaran untukku saat ini.” Myungsoo bersandar di sandaran sofa setelah banyak berpikir dan melelahkan fisiknya. Junmyeon memandang heran ke arah Myungsoo, namun kerutan di dahinya beralih turun ketika mendengar penuturan Myungsoo berikutnya.

“Dengan adanya harga yang lebih murah, pengunjung akan lebih banyak datang ke sini. Dan—” Myungsoo menjeda untuk tertawa kecil, senang dengan pemikirannya sendiri. “—aku akan menaikkan tarif parkir.” Lanjutnya. Kini, Junmyeon paham. Seratus persen paham dengan ide brilian Myungsoo. Pria yang bahkan lebih muda darinya, dan hanya menjabat sebagai asistennya itu memiliki pemikiran yang lebih luas.

“Pengunjung biasanya tidak sadar dengan tarif parkir, seberapa mahal atau murahnya tarif tersebut, mereka akan lebih gencar untuk masuk ke dalam mall.” Myungsoo menjelaskan lagi. Rahang Junmyeon terasa ingin turun di saat itu juga.

Myungsoo mencatat event yang baru saja ia paparkan di depan Junmyeon. Emas, butik, game center, free counter, dan ponsel. Junmyeon mengerjap kecil melihat tulisan tangan Myungsoo, kemudian ia tersadar akan suatu hal.

“Myungsoo-ah. Kau berniat manarget semua usia untuk datang ke mall kita?” Junmyeon merasa bodoh dengan pertanyaannya, dan Myungsoo hanya membalasnya dengan senyuman tipis. “Tentu saja. Emas, untuk pria-pria tajir di luar sana. Butik, untuk wanita-wanita yang senang menghamburkan uang. Game center, untuk anak-anak yang hanya mengenal permainan tanpa peduli uang. Free counter, untuk pebisnis yang membutuhkan lahan untuk tempat bekerja. Dan—” Myungsoo manrik napasnya terlebih dahulu.

“Ponsel, tentu saja untuk remaja-remaja trendy yang tidak tahu betapa sulitnya mencari uang.” Myungsoo menepuk proposal berukir tulisan tangannya yang acak di atas meja, kemudian memandang Junmyeon meminta pendapat. “Bagaimana, Junmyeon-ssi? Keberatan dengan pendapatku?”

Namun, Junmyeon merasa sadar bahwa semestinya Myungsoo-lah yang menjadi manajer di sini, maka ia menggeleng dan memberi apresiasi pada Myungsoo yang telah membantunya. Baru saja Myungsoo akan mengucap terima kasih, ponselnya lebih dulu bergetar menunjukkan satu pesan.

Ibu sakit, Myung.

Dan, itu adalah pesan dari istrinya.

.

.

Jiyeon melepaskan pena dari genggamannya. Ia baru saja mengurai data baru untuk skripsi keempatnya. Hari masih sore saat itu, pukul empat. Myungsoo masih berada di kantornya, membicarakan hal yang hingga kini tidak ingin diketahui oleh Jiyeon.

Ponselnya berada dalam kondisi mati karena baterainya kandas. Jiyeon baru saja mengisi ulang baterai ponselnya, dan menyalakan benda pipih tersebut. Jiyeon adalah tipe gadis yang butuh hiburan ketika sedang runyam memikirkan sekelumit pekerjaan, tidak seperti suaminya yang lebih senang menuntaskan lebih dulu pekerjaannya tanpa bermain-main.

Baru saja layar datar ponselnya memendar cahaya, dua pesan baru memasuki notifikasi ponselnya. Ia mendapatkan pesan dari Ibunya, dan itu adalah pesan yang membuat matanya terbelalak. Ia menegakkan punggung, kemudian mengerjap.

Gadis itu berusaha yakin dengan seluruh tulisan yang tercatat di ponselnya dibarengi dengan menjauhnya kaki Jiyeon dari area kamar untuk mengambil tas yang ia letakkan di ruang tengah. Jantungnya berdentum keras, ia panik. Ia tidak pernah merasa menyesal telah membiarkan Ibunya hidup sendirian, dan kini ia sedikit-banyak menyesal.

Setelah memakai sepatunya asal, Jiyeon mengunci pintu utama rumahnya. Ia terhenyak sesaat, merasa konyol dengan dirinya yang begitu sembrono dan bertindak cepat. Ia melirik lagi ponsel dalam genggamannya, dan mendapati pesan dari Ibunya masih tertera di sana. Di detik itu juga, ia yakin akan keputusannya.

Apakah Anda Parl Jiyeon? Saya dokter Cho. Sejak tadi berusaha menghubungi Anda, tetapi Anda tidak kunjung menerima panggilan saya. Saya hanya ingin mengabarkan bahwa Ibu anda kini sedang berada di Rumah Sakit Hangil.

.

.

Jiyeon tidak menyangka bahwa tekanan yang ia dapatkan bukan berasal dari Myungsoo saja yang akhir-akhir ini jarang berada di dekatnya. Tetapi juga dari skripsi yang ditolak oleh dosennya. Ia pikir, ia cukup tegar selama beberapa hari tanpa Myungsoo, dan hanya melihat pria itu saat telah tertidur dan bangun di pagi hari—terkadang bahkan meninggalkannya.

Tetapi, kelulusannya yang diundur akibat skripsi gagal itu perlahan-lahan merambat menekan sarafnya, ia ingin menangis. Satu luapan terakhir untuk seluruh masalahnya adalah sekarang. Ibunya yang memang sejak dulu memiliki penyakit diabetes, ternyata kini tekanan darahnya meninggi, jantungnya sedikit terganggu akibatnya.

Risiko stroke menjadi dua kali lipat lebih besar sejak seseorang mengalami diabetes.” Dokter pribadi Ibunya dulu pernah mengatakan itu, dan Jiyeon tidak begitu percaya. Yang ia lihat selama ini hanyalah Ibunya yang bijaksana dan tegas. Ibunya memang sudah dua tahun mengidap penyakit tersebut, namun senyum tegar Ibunya membuat Jiyeon yakin bahwa Ibunya sehat.

Gadis itu merasakan kakinya lemas setelah beberapa kali menabuh keramik lorong depan UGD dengan gusar, ia memejamkan matanya selagi jantungnya berdetak tak menentu. Ia telah mengabarkan Myungsoo untuk menemuinya. Ia ingat, sesaat setelah mengirim pesan singkat pada Myungsoo, pria itu segera menghubunginya dan meminta alamat rumah sakit Hangil.

Jiyeon terduduk di bangku panjang yang menempel dengan dinding UGD, mematut kakinya dengan mata mengerjap. Ia mengambil tarikan napas yang dalam ketika detik terus berjalan diiringi resah yang membuat hatinya berdegup tak nyaman.

Jiyeon baru akan menyandarkan punggungnya pada dinding jika bukan karena suara derap langkah tergesa memenuhi lorong sempit UGD. Jiyeon menoleh lambat ke arah kanan, pusat suara hadir di telinganya. Gadis itu sesegera mungkin mengukir senyum tipis ketika melihat Myungsoo di sana.

Setengah berlari menghampirinya. Jiyeon dapat melihat bahwa pria itu sudah tak membawa tas kerjanya, membuat Jiyeon menyimpul solusi bahwa Myungsoo menyimpan tasnya terlebih dahulu di rumah, sebelum kemari.

“Jiyi,” panggil Myungsoo setelah berdiri di hadapan Jiyeon dengan napas terengah. Myungsoo mengais udara sebisanya di antara gurat panik yang mengukir kerutan di wajahnya. Jiyeon mendongak, memandangi suaminya yang berantakan.

“Aku kesulitan mencari taksi.” Sambung Myungsoo, mengurai penjelasan dari keterlambatannya. Jiyeon mengangguk paham disertai senyuman kecil, ia cukup memahami kehidupan mereka yang lebih mengandalkan transportasi umum disanding kendaraan pribadi.

Myungsoo menemukan Jiyeon kembali menunduk dengan embusan napas panjang. Pria itu memandang istrinya prihatin, ia mengangkat wajah gadis itu. “Jiyeon-ya. Bagaimana keadaan Ibu?” ia memerangkap pipi Jiyeon, dengan napasnya yang mulai teratur, Myungsoo dapat melihat ribuan kecemasan beserta resah yang tertindih menjadi satu di dalam sorot pandang Jiyeon.

“Ibu sudah diperiksa sejak tadi, Myungie. Aku tidak ingin melihatnya tanpamu.” Setelah mendengar penuturan Jiyeon, Myungsoo dapat menegtahui bahwa Jiyeon tidak hanya sedang dikelabui oleh satu masalah, namun lebih dari itu. Wajah gadis itu memerah padam ketika memaksakan seulir senyum pada Myungsoo, seolah sedang menunjukkan bahwa ia tak akan menangis.

“Sekarang kita bisa melihatnya.” Terlantas, Jiyeon menelusupkan ruang kosong jemarinya pada milik Myungsoo, bangkit diikuti senyuman kecil. Myungsoo merasakan guncangan kecil dari tubuh istrinya ketika ia sedang berusaha berdiri. Dengan gerakan refleks, Myungsoo merangkul bahu Jiyeon, memberi perjagaan.

“Kau pusing?” dan seiring dengan pertanyaan lazim yang baru saja dilemparkan oleh Myungsoo tersebut, Jiyeon menampilkan senyum tipisnya lagi. “Tidak apa, aku hanya merindukan Ibu.” Dan Myungsoo cukup tahu bahwa gadisnya sedang berdusta.

.

.

“Ibu baik-baik saja, Jiyeon.” Tutur Ibunya ketika Jiyeon telah terduduk di bangku samping tempat tidur rumah sakit, sementara Myungsoo berdiri di sebelahnya sembari tetap merangkul gadis yang sedang terduduk itu.

Ibu Jiyeon berbaring di ranjang putih rumah sakit, dengan selang infus yang menusuk nadi di punggung tangan kirinya, wajahnya yang bijaksana kini sedikit tertutup pucat dan lelah. Jiyeon mengerjapkan matanya, ia sejak tadi sedang berusaha menahan air matanya karena melewati hari-hari yang menyulitkan.

“Pembuluh darah di kaki Ibu hanya sedikit menyempit, Sayang. Itu saja.” Ibu Jiyeon menjelaskan dengan jemarinya yang mengusap kepala Jiyeon seperti sedang menenangkan putri tunggalnya yang terlalu panik. Myungsoo tersenyum kecut, ia cukup mengetahui banyak hal di bidang kedokteran, dan ia mengerti apa akibat dari pembuluh darah—terutama di kaki—yang menyempit, itu berbahaya.

“Benarkah?” Jiyeon yang pada dasarnya tidak memahami sebab-akibat dari suatu penyakit hanya dapat mengerjap, menampilkan secercah harapan dari matanya. Myungsoo mau tidak mau tersenyum lembut ke arah dua wanita yang ia cintai itu. “Tidak apa, Jiyeon. Ibu akan baik-baik saja.” Myungsoo mengatakannya lambat, perlahan, nyaris terdengar seperti bisikan.

Pembuluh darah yang memberi ruang kecil sebenarnya mengakibatkan penderita harus mengamputasi kakinya, itu yang Myungsoo ketahui. Namun, ia terlalu tidak ingin Jiyeon-nya bersedih, maka ia menyembunyikannya baik-baik melalui batinnya.

Ibu Jiyeon menggenggam tangan putrinya, kemudian memandang gadis itu bangga. “Terima kasih telah menyempatkan datang ke sini, Sayang.” Dan itu hanyalah sedikit kalimat dari Ibu Jiyeon yang Myungsoo dengar sebelum pria itu memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut, membiarkan sepasang Ibu dan anak itu mengobrol lebih lama. Myungsoo sedikit-banyak mengetahui bahwa istrinya juga telah lama merindukan sang Ibu.

“Ke mana, Myungsoo?” Jiyeon menarik pergelangan Myungsoo ketika melihat pria itu hendak pergi menjauh, Myungsoo menoleh ke arah Jiyeon yang wajahnya dipenuhi kerutan bingung. Myungsoo tersenyum kecil, kemudian mengerling ke arah wajah Ibu mertuanya seperti sedang memberikan indikasi pada gadis itu. “Ke kamar mandi, kok.” Katanya lurus.

Jiyeon menggembungkan pipinya dengan alis berkerut. “Jangan tinggalkan~ kamar ini juga ada kamar mandinya, kok. Tidak usah keluar ya, ya, yaaaa~” rayunya dengan mata memelas. Ibu Jiyeon bahkan sampai tertawa dan berakhir dengan terbatuk kecil melihat tingkah putrinya yang manja maksimal. Myungsoo mengerjap ke arah Ibu mertuanya, kemudian kembali melihat Jiyeon yang berubah panik ketika menyadari Ibunya terbatuk kecil.

“Ibu tak apa?” tanyanya, dibalas anggukan pertanda bahwa Ibunya baik-baik saja. Myungsoo tersenyum kecil, “Kau lihat, Ibu membutuhkanmu. Aku akan kembali setelah dari kamar mandi.” Bujuk Myungsoo, Jiyeon mencibir sesaat, namun setelahnya menyetujui keinginan Myungsoo.

“Baiklah. Jangan lama-lama!” titah Jiyeon menuding wajah Myungsoo dengan jarinya. Myungsoo terkekeh, kemudian menyeret kakinya untuk segera mengeluari ruangan tersebut. Sejenak pintu berdebam yang mengisyaratkan bahwa Myungsoo telah sepenuhnya meninggalkan ruangan itu membuat Jiyeon terdiam, ia kemudian menoleh ke arah Ibunya lagi untuk melanjutkan obrolan, ia tersenyum.

Senyumnya cerah, berbeda jauh dengan keadaan langit di luar rumah sakit tersebut. Gelap yang sesekali dilintasi kilat samar itu menancap tanda bahwa kota akan digandrungi hujan, sebentar lagi.

Baru saja Jiyeon akan mengajak Ibunya untuk mengobrol lebih banyak, ia lebih dulu disela. “Jiyi,” panggil Ibunya memandang jemari lembut putrinya. Gemuruh petir yang sejak tadi melingkup langit kembali terdengar.

“Ya?” sahut Jiyeon dengan kedua alis yang terangak penasaran. Ibu Jiyeon meraih jemari putrinya, kemudian mengamati jemari itu lagi. “Kau tidak mengenakan cincin pernikahanmu?” dan di detik itu pun, Jiyeon mengerjap berusaha memahami pertanyaan yang meluncur lancar dari bibir pucat Ibunya.

Jantungnya berdetak tanpa irama yang tepat, ia sadar. Cincin yang selama ini ingin ia jaga telah lolos dari jemarinya.

.

.

Jika ia adalah gadis normal yang berpikiran lurus, maka semestinya ia tak melakukan ini. Menghalau angin kota yang mulai disentuh oleh mendung adalah tindakan bodoh—terkhusus pada sosok Jiyeon yang sejak kecil memiliki kondisi fisik yang lemah.

Cincin. Benda pengikat hubungannya dengan Myungsoo hilang, dan Jiyeon bukan tidak merasa harus panik lagi. Ia hanya ingin menemukannya, meniti jalanan yang ia lewati mulai dari rumah sakit dan sedikitnya menggubris gemuruh petir yang seperti hendak memuntahkan hujan.

Jiyeon meringis. Ia mendapat masalah baru, satu masalah lagi dalam satu hari. Ia merasa fisik dan mentalnya telah remuk termakan jeruji tahanan janji, serta segala batu permasalahan hidupnya. Jiyeon mulanya mengira bahwa masalah sepele seperti skripsi gagal dapat ia tanggulangi lebih cepat, namun ia kembali menemukan jalan buntu dalam skripsi gagal itu. Ia tak dapat menyelesaikannya, dan hanya dapat menangis untuk meringankan itu semua.

Ia merindukan Myungsoo setelah banyaknya waktu yang menyita pria itu untuk bekerja, dan ia juga baru saja mendapati Ibunya terbaring lemah di ranjang rumah sakit, lalu apalagi sekarang—cincinnya? Haruskah ia bilang bahwa cincin adalah pengikat cinta mereka? Ukuran cintanya pada Myungsoo tersimpan di sana.

Jiyeon merunduk di tepi jalanan pasar, ia ingat—ia melewati jalanan itu tadi, dan ia berusaha menemukannya di antara sesak manusia. Sekelebat memori mengenai Myungsoo yang dulu bahkan sampai mengais tabungannya untuk membelikan Jiyeon sebuah cincin kembali melintas di benaknya, ia diliputi perasaan yang kacau. Bagaimana jika Myungsoo mengetahui perihal ini, dan kembali mengingatkannya akan kaling peninggalan dari Ibunya?

Jiyeon menggerutu kecil, itu sedikit kebiasaannya ketika hendak menahan rasa sedih bercampur marah. Ia biasanya akan menangis di saat-saat seperti ini.

Berjanji untuk jangan menangis. Ayo, berjanji padaku!”

Perintah Myungsoo pada saat itu membuat napasnya tercekat. Air matanya nyaris jatuh. Gadis itu menghentikan langkahnya untuk bernapas, ia merasakan titik air membasahi sepatu ketsnya. Ia merasa konyol karena statusnya, seorang istri yang mudah menangis, ia seperti mendapat ribuan kasadarn bahwa ia masih belum pantas untuk menjadi seorang istri.

Bersamaan dengan puluhan manusia di jalanan pasar yang mulai menepi untuk sekadar berteduh, Jiyeon menunduk. Ia tahu, semestinya ia tidak berdiam di sana. Namun, ia sibuk mendorong seluruh air di matanya untuk tidak keluar. Meski Myungsoo tidak ada di sana, ia tetap tak akan melanggar janjinya.

Ketika ia merasakan manusia di sekitarnya mulai menepi, detik berikutnya telah digantikan oleh puluhan payung berwarna-warni yang mengembang di kisarnya, diikuti langkah kaki tergesa yang seolah mendebam seruan bahwa pemiliki kaki memang ingin segera menemui rumah, tempat berlindung.

Jiyeon menyeka wajahnya yang basah dan dingin, kemudian kembali melangkah menjauhi tempat berdiamnya di tengah jalan, ia mencari cincin peraknya yang hilang. Gadis itu pernah berpikir, mengapa ia bisa begitu ceroboh sehingga membuat pihak di sekitarnya ikut rugi.

Ia yakin sekali jika Myungsoo melihatnya saat ini, pasti pria itu akan menghabisinya hingga kapok—

“Jiyeon!” tetes air hujan yang menusuk permukaan tanah terdengar seperti tabuhan gendang di telinga Jiyeon, angin dingin yang terbawa di udara sore itu jauh dari sebuah sentuhan—melainkan tamparan untuk kulitnya. Pendengarannya samar mendapatkan suara Myungsoo dari belakang. Gadis itu menegakkan tubuhnya, cepat tersadar bahwa sekarang ia tengah diperhatikan oleh nyaris seluruh manusia yang sedang berlalu-lalang di jalan pasar moderen tersebut.

“Jiyeon! Yak! Jiyeon-ya!” kini ia yakin sepenuhnya bahwa suara dalam itu tengah memanggilnya, berusaha mengalihkan perhatiannya di antara ribut air hujan. Jiyeon menoleh perlahan, mengalahkan pening dan sakit di dadanya ketika melihat Myungsoo yang setengah berlari ke arahnya dengan payung transparan yang ia genggam.

Rambut Myungsoo yang semula terangkat membentuk jambul kini telah terurai berantakan, jatuh mengenai keningnya hingga Jiyeon dapat mengetahui bahwa ujung poni suaminya telah beradu dengan bulu mata. Myungsoo terengah menghampiri Jiyeon, dan gadis itu belum sepenuhnya sadar bahwa wajah Myungsoo memerah karena memendam marah.

“Myung, apa yang kau laku—” Jiyeon menyambut kehadiran Myungsoo yang kini telah berdiri di depannya dengan satu payung yang menaungi tubuh keduanya, namun Myungsoo lebih dulu menyelanya.

“—aku yang seharusnya bertanya seperti itu!” tegasnya dengan mata yang menyorot tajam. Di bawah tatapan itu, Jiyeon menunduk, memandangi sepatunya yang telah basah sepenuhnya serta tetes air yang masih menitik dari rambut basahnya.

“Semestinya kau sadar bahwa kau tidak bisa terkena hujan, Jiyeon! Kau mudah sakit!” Myungsoo kembali menerangkan, membuat Jiyeon mendongak kembali. Kemudian gadis itu tersadar bahwa suaminya sudah melepas jas kantornya dengan kemeja dalam berwarna putih. Jas tebalnya berada di genggaman tangan satunya.

“Jangan senang bertingkah bodoh, Jiyeon! Kau bukan anak-anak, kau putri tunggal yang semestinya mandiri! Kau mahasiswi yang sebentar lagi akan lulus! Kau seorang istri!” suara Myungsoo meninggi di akhir kalimatnya, Jiyeon tersentak oleh tusukan kalimat Myungsoo. Ia memandang suaminya dengan hidung memerah dan mata yang digenangi air.

Myungsoo yang melihatnya kemudian perlahan menurunkan bahunya yang tegang, terlebih ketika mendengar lirihan istrinya di tengah derum mobil, tapak kaki manusia, tetes hujan, dan gemuruh petir. “Benar, aku bukan anak-anak, aku adalah mahasiswi,” katanya lambat-lambat. Ia mengangguk dengan senyum kecut yang meremas jantung Myungsoo.

“Mahasiswi yang kelulusannya ditunda akibat gagal skripsi sebanyak tiga kali.” Sambungnya, menjeda kembali. Hendak melihat wajah Myungsoo, namun pria itu hanya bergeming dengan mata berkedip sekali.

“Benar, aku bukan anak-anak, aku adalah putri tunggal yang seharusnya mandiri.” Tetes hujan semakin lebat. “Putri tunggal yang mendapat cobaan karena Ibu satu-satunya kini telah terbaring di ranjang rumah sakit.” Myungsoo masih diam, sementara suara Jiyeon telah bergetar tak sanggup menopang kesedihannya. Tubuhnya menggigil karena air hujan.

“Benar, aku bukan anak-anak, aku adalah seorang istri.” Jiyeon menggosokkan kedua telapak tangannya sembari melempar pandangan ke arah samping, enggan melihat ekspresi Myungsoo. “Istri yang lebih banyak menghabiskan waktunya tanpa suami, dan baru saja kehilangan cincinnya.” Tutur Jiyeon sebagai pengakuannya yang terakhir. Ia mengatakannya dengan luruhan penyesalan yang tiada berakhir. Digores wajah memerah gadis itu, Myungsoo dapat menyimpulkan bahwa masalah gadis itu memang sedang menumpuk.

Jiyeon menunduk lagi, mengusap poninya yang basah. “Kau memintaku untuk tidak bertingkah bodoh. Nyatanya, aku memang bodoh. Selalu membuatmu repot. Jiyeon memang—bodoh.” Ia menggumam, nyaris tak terdengar ketika bus melintas di sisi kanan mereka dan memercik genangan air yang membasuh sebagian kaki Jiyeon.

Myungsoo dapat melihat bahu gadis itu bergetar. “Bisakah kau mengerti, Myung? Aku…” Jiyeon mendongak memandang Myungsoo yang kini telah mengerutkan dahinya karena cemas, ekspresi lazimnya. Jiyeon kini sangat kacau, wajahnya tertekan. “Aku hanya ingin kau paham bahwa aku…,” Jiyeon menarik napasnya lagi.

“aku membutuhkanmu.” Suaranya teredam. Benar-benar teredam bersamaan dengan kilat petir yang hadir di dua detik berikutnya. Myungsoo selalu ingat bahwa kekasihnya memiliki ketakutan besar terhadap bunyi tersebut, sehingga gadis itu refleks menutup telinganya. Myungsoo merasa dirinyalah yang bodoh setelah melihat Jiyeon nyaris meringkuk ketika mendengar petir itu.

Ia mendekati Jiyeon perlahan. Menyampirkan jas hitamnya di punggung Jiyeon, membuat gadis itu mendongak lagi untuk yang kesekian kalinya. “It’s okay.” Kemudian disusul oleh pelukan Myungsoo yang terasa renggang karena pria itu tengah memegang payung pelindung kepala mereka. Jiyeon menyandarkan kepalanya di bahu Myungsoo.

“Menangislah,” tuturnya menyambung kalimat sebelumnya. Jiyeon mengangkat sepasang aslisnya heran. “jika itu yang dapat membuatmu lega, maka menangislah.” Dan seiring dengan selesainya Myungsoo mengatakan hal itu, wajah Jiyeon kembali basah. Meski beradu dengan air hujan, air mata yang sejak dulu ia tahan akhirnya kembali meruah.

Ia terisak. Itu adalah tangis terhebatnya selama masa-masa pernikahan mereka, dan Myungsoo sadar bahwa ia telah banyak berlaku lengah pada istrinya sejak awal pernikahan mereka. Ia membuat istrinya tertekan, dan semestinya ia dapat menyadari hal itu lebih cepat.

Jiyeon tidak merengek, tidak merajuk, tidak merayu meminta digendong, ia menangis seperti tengah benar-benar menyesali perbuatannya. Bukan tangisan bahagia karena baru menikah, bukan tangisan sedih karena tidak bisa memasak, bukan pula tangisan panik karena datang bulan. Ia menangis seolah tangisan itu adalah tangis terakhirnya yang akan merenggut titik penghabisan darahnya.

Myungsoo merasakan hatinya sesak, terlalu banyak teori hidup dalam pernikahan yang harus ia pelajari mulai hari ini. Bukan sekadar permainan, namun inilah sisa hidupnya bersama sang pendamping, Jiyeon.

“Maafkan aku.” lirih Myungsoo di telinga Jiyeon yang masih menangis, meneguhkan pelukan mereka.

.

.

“TO BE CONTINUED—”

.

.

ji-yeon-cry-2

Mau share sedikit fakta Jiyeon di sini. Yang mau tahu, dibaca ya.

  1. Jiyeon anak tunggal. Ayahnya meninggal saat dia masih SMP. Dan Ibunya kena penyakit diabetes sejak dia masih SMA.
  2. Jiyeon pertama kali pacaran sama Sehun. Dan emang pada saat itu cuman Sehun yang mau pacaran ama dia. Rata-rata cowok pada gak suka sama sikap dia. Dan ujung-ujungnya, Sehun juga gak sanggup lagi menanggulangi sikap Jiyeon yang kelewat manja.
  3. Dulu Jiyeon gak punya temen. Dia dijauhin mulu sama temen-temennya karena dulu dia cukup ceria dan suka sok deket gitu. Istilah kerennya, SKSD gitu.
  4. Kadang, Jiyeon meskipun udah coba jadi baik, orang-orang di sekitar dia itu tetep menganggap dia pengganggu sama parasit.
  5. Orang-orang gak suka sama dia karena dia banyak kekurangannya. Entah itu karena dia gak bisa masak, nangis mulu, manja, kerasa kepala, labil. Dan, sebenarnya Jiyeon sendiri sadar kalo dia ini cewek yang buruk, sampe datanglah Myungsoo yang nerima dia bener-bener apa adanya.
  6. Jiyeon itu penyayang. Oke, ini bocoran, ini adalah satu-satunya sikap positif dari Jiyeon. And, maybe you can’t determine how much she love her husband. Karena dia selalu menjaga apa yang udah dia punya.

 …

 

53 responses to “Tension [6]: Crying #1

  1. Gg tau harus coment apa beneran deh , kasian seh jiyi tapi ampun kekanakan bangett , untung aja dapet suami nya macem myung jd slalu ngalah , beruntung lah kamu jiyiiii !!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s