Tension [5]: A Relic #2/END

tension

Tension [5]: A Relic #2/END
by: Shaza (@shazapark)

starring: Park Jiyeon & Kim Myungsoo

Romance, Drama
Series

READ PREVIOUS — [3 Hours] [Future #1] [Future #2] [Unmarried Feeling] [A Relic #1]

hyunfayoungie‘s design @ Art Fantasy

.

Jiyeon tahu bahwa ia melakukan sebuah kesalahan besar, sangat besar hingga ia berakhir di ruang tamu yang sepi, Myungsoo memintanya untuk keluar—apakah itu bisa disebut mengusir?

Memikirkan hal itu membuat Jiyeon membuang napasnya panjang, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sementara lengannya memeluk bantal sofa. Ia mengingat bagaimana ia menyentuh kalung berharga milik suaminya di kamar beberapa menit yang lalu, kemudian ia merasa menyesal karena tangannya yang ceroboh telah menghancurkan peninggalan itu.

Dengan mata terpejam, Jiyeon dapat mengilas kembali wajah dingin Myungsoo, cara pria itu berujar padanya, hingga di mana ia tersadar bahwa kalung Myungsoo bukanlah kalung mainan, melainkan peninggalan seorang Ibu yang telah pergi dari sisinya.

Suara gonggongan anjing mengejutkan Jiyeon, gadis itu mengerutkan dahinya tanpa membuka mata. Ia mengetahui bahwa tetangganya memiliki anjing puddle yang berisik, dan itu seperti sukses merobek keheningan malam. Jiyeon bergerak gusar di atas sofa, matanya terasa perih meski terkatup rapat.

Ia hanya ingin menangis. Meluapkan segala penyesalan bodoh yang selalu bersemayam di dadanya ketika melihat Myungsoo yang marah. Terlebih, ia merindukan suaminya setelah terlalu banyak pekerjaan yang merampas waktu bersama mereka.

Gadis itu baru saja akan meluncurkan air di matanya ketika menyadari bahwa suara deritan pintu kamar atas baru saja memasuki pendengarannya. Ia membuka mata, yakin bahwa pintu itu adalah pintu kamarnya dengan Myungsoo. Dengan itu, tubuhnya yang tengah bersandar di sofa segera melandai ke samping untuk melihat ujung tangga teratas di mana pintu kamarnya berada.

Myungsoo ada di sana, masih dengan pakaian yang sama seperti terakhir kali suaminya itu mengusirnya dari kamar. Pria itu melangkah santai menuruni anak tangga, tidak memandang ke arah Jiyeon seolah menutup akses kontak mata pada istrinya. Hati Jiyeon mencelos, ia tidak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya.

Jika Myungsoo marah padanya, biasanya Myungsoo akan menegaskannya melalui lisan, berbicara baik-baik dan memberinya nasihat. Dari segala bentuk kemarahan Myungsoo, Jiyeon selalu dapat mengambil sisi positifnya dan ia tak akan merasa penuh salah berkelanjutan. Kali ini Myungsoo berbeda, ia—tidak peduli pada Jiyeon yang terduduk di sofa.

“Myung…soo” Panggil Jiyeon lambat. Matanya mengikuti langkah Myungsoo yang membawa pria itu ke dapur, Jiyeon hendak mengikutinya, namun ketika melihat pria itu ternyata tengah mempersiapkan makan malam, maka ia urung. Mengakui bahwa dirinya tidak dapat membantu banyak di bidang memasak.

Jiyeon menyeret kakinya menjauh dari Myungsoo, perasaannya yang bercampur aduk membuatnya semakin bodoh. Ia tidak bisa membuat Myungsoo senang, terlebih ia memandangi punggung tegap tersebut.

Hingga di mana Myungsoo bercakap dengan seseorang melalui ponsel sembari menyantap miyeok guk, pria itu tak kunjung mengajaknya berbicara, melihatnya pun tidak. Jiyeon mencatat seluruh sakit yang nantinya akan ia hapus dengan air mata jika Myungsoo telah mengizinkannya untuk menangis. Sayangnya setiap tangis itu tertahan bersamaan dengan penyesalan.

Jiyeon kembali terduduk di sofa, kembali memeluk bantal. “Ah. Aku lapar.” Jiyeon tidak sebodoh itu untuk menyuarakan keluhannya, ia hanya berbisik dalam batin. Harum makanan yang dibuat oleh Myungsoo seperti merangsang perutnya, namun gadis itu cukup sadar bahwa makanan itu bukan untuknya.

Jiyeon menggaruk pelipis, merasa jenuh. Ia melirik jam dinding yang mengatakan bahwa hari telah berada di pukul tujuh, biasanya pada jam seperti ini—jika Myungsoo belum pulang, ia akan mengontak suaminya itu melalui ponsel, mengirim chat—dan jika Myungsoo sudah pulang pada pukul tujuh, biasanya ia akan menonton film baru yang setiap Minggu Jiyeon beli di toko kaset.

Hari ini berbeda. Membandingkannya melalui faktor Myungsoo yang sudah pulang atau belum pulang, segalanya teraa berbeda. Jiyeon memandangi cincin sederhana yang memeluk jari manisnya, ia jadi bertanya-tanya, apakah Myungsoo masih mengenakan cincinnya juga? Namun ia merasa bodoh dengan pertanyaan itu di saat keduanya tengah berseteru dalam diam.

Suara denting keramik yang mengenai alumunium mesin pencuci piring terdengar di telinga Jiyeon. Gadis itu menoleh ke belakang, tempat di mana dapur berada. Dan ia menemukan Myungsoo tengah mencuci piringnya sendiri, dari jarak yang begitu jauh, Jiyeon dapat mendengar gemericik air yang diikuti senandung samar dari Myungsoo.

Oh, Jiyeon merindukan nyanyian Myungsoo.

Ia mengerjap ketika melihat punggung itu berbalik setelah tangannya bersentuhan dengan lap pengering tangan basah. Dan di detik itu pula, mata mereka beradu. Satu yang lebih muda mengerjap, namun tidak menyangkal bahwa jantung di balik sternumnya bertalu begitu keras kendati Myungsoo memandangnya dengan sorot lurus dan datar.

“Makanlah. Aku menyisihkan sebagian untukmu.” Tuturnya, meski dari jarak yang jauh, Jiyeon masih dapat mendengarnya. Mendengar setiap kata yang barusan dilempar oleh Myungsoo tanpa ekspresi. Jiyeon menegakkan tubuhnya, membuat poninya jatuh ke kening karena terasa begitu licin.

Ia memandang Myungsoo dengan kelopak melebar, baru saja ia akan tersenyum dan berlari untuk memeluk suaminya, ketika justru pria itu malah melengos pergi dari dapur menuju anak tangga. Jiyeon menelan liurnya, kembali merutuki harapannya.

Myungsoo masih marah, tentu saja. Siapa yang tidak marah ketika barang terpentingmu, dari seorang Ibu yang telah pergi dirusak? Tidak ada.

.

.

Ini sudah pukul sepuluh malam, Jiyeon seharusnya tertidur pada pukul sekian. Namun, saat ini ia masih sungkan untuk memasuki kamarnya dengan Myungsoo. Ia menghabiskan waktu bersama ponsel dan televisi di ruang tengah untuk mengikis bosan, namun sepertinya relung hatinya masih kosong karena Myungsoo tidak ada di dekatnya. Ya, meski pria itu kini berada di ruang beratap sama sepertinya.

Kini matanya telah terasa berat dan ingin sekali mengatup untuk tidur. Namun, ia tidak tahu bagaimana caranya menyelinap masuk ke kamarnya dengan Myungsoo, sementara pria itu sedang dalam keadaan tidak baik.

Jiyeon ingin tidur di sofa, namun ia tidak membawa selimut, udara malam musim panas sama saja dengan musim gugur. Pada akhirnya, dengan seluruh keberanian yang semestinya tidak harus ia bangun, kini ia berdiri di depan pintu kamarnya dengan Myungsoo.

Ia membuang rasa gentarnya seiring dengan ketukan pelan yang ia ciptakan di permukaan datar pintu kayu kamarnya. “Myungie.” Panggilnya dengan suara sedang, ia yakin Myungsoo-nya belum tidur, pria itu pasti masih berkutat dengan ponsel—jika sedang luang dengan pekerjaannya—tetapi jika sedang sibuk, ia pasti masih bergelut dengan laptop.

Tak ada sahutan berarti, Jiyeon meniup poninya. Tubuh sisi kirinya menempel di pintu, kepalanya ikut bersandar di sana. Ia kembali mengetuk pintu kamar. “Myungsooooo~” panggilnya panjang dan bernada, ia mulai mengantuk.

“Aku ingin tidur. Bagaimana aku bisa tidur di sini jika kau mengunci pintunya?” Jiyeon kembali mengecek keadaan pintunya dengan memutar gagang pintu, masih sama—terkunci. Dan, Jiyeon mengeluh, efek mengantuk membuatnya tidak sadar bahwa kini keduanya tengah berseteru dalam keterdiaman.

“Myungsoo. Buka pintunya atau aku akan tidur di sini, dan besok aku akan sakit karena kedingin—”

“Jangan bodoh!” terdengar suara tegas dari dalam kamar, membuat Jiyeon yang tengah bersandar di permukaan datar pintu kayu itu segera melonjak. Ia mengerjap ketika menyadari bahwa suara Myungsoo seperti mengintimidasinya, kantuknya seperti terusir dalam hitungan kilas.

Sementara Myungsoo di dalam kamarnya tengah berusaha tertidur, menggulung tubuhnya dengan selimut, menyisakan kepala dan lengannya yang berada di luar selimut. Ia berbaring menyamping, di atas ranjangnya yang terasa luas karena tak ada tubuh Jiyeon di sebelahnya.

Ia berusaha memejamkan mata di antara suara rengekan Jiyeon dari luar kamarnya. Namun, yang ia lakukan justru memandangi kalungnya yang telah hancur dengan mata penuh penyesalan.

“La-lalu aku harus bagaimana?” suara Jiyeon kembali terdengar, kali ini Myungsoo merasa Jiyeon-nya akan menangis. Namun, ia tidak mendengar isakan apapun dari sana. Jiyeon bernar-benar mematuhi janjinya untuk tidak menangis lagi.

“Myungsoo tega membiarkanku tertidur di luar? Dingin sekali, lho. Myungsoo jahaaat~” benar, Jiyeon melampiaskan rasa sedihnya dengan merajuk. Tanpa sadar, Myungsoo mengangkat sudut bibirnya, ia selalu ingin melihat wajah Jiyeon yang merajuk, salah satu sarana hibur penglihatannya.

“Ada tiga kamar di rumah ini, oke? Jangan bertingkah!” namun Myungsoo menepis senyumnya sesaat kemudian. Ia tersadar akan kalung yang masih berada di genggamannya.

“Ba-baiklah.” Katanya sebagai penutup percakapan mereka hari itu. Myungsoo kemudian mendengar derap langkah kaki yang menjauh, namun ia masih dapat mendengar bahwa pintu kamar di sebelahnya terbuka.

Pintu kamar di sebelahnya?

Myungsoo membulatkan matanya. “Oh, tidak. Jangan di sana!” rutuk Myungsoo menjambak rambutnya. Mungkin Jiyeon akan tidur di sana untuk malam ini, malam ini saja. Siapa yang tahu, Myungsoo akan mengubah presepsinya besok?

.

.

Kamar itu lebih sempit jika dibandingkan bersama kamar Myungsoo dengannya yang biasa mereka tempati. Namun, kamar itu tetap bersih. Myungsoo menyimpan alat musiknya di sana. Gitar dan piano terperangkap di ruangan berpendingin itu.

Jiyeon tersadar bahwa selama lebih dari satu minggu ia tinggal di rumah itu, ia belum pernah menjamah ruangan tersebut. Jiyeon melangkah lebih jauh ke dalam kamar tersebut. Ia mengedarkan pandangan, dan berhenti pada dinding-dinding yang direkati bingkai foto.

Jiyeon terhenyak beberapa saat, namun matanya segera berkedip. Fotonya ada di sana, di dinding sisi terkiri. Fotonya ketika masih berambut panjang tanpa poni yang memagari kening, serta seragam sekolah menengah atas. Ia ingat, itu adalah masa-masa awalnya berada di sekolah itu, dan Myungsoo memotretnya di kantin.

Gadis itu tertawa kecil, tidak menyangka bahwa Myungsoo-nya bisa begitu rajin membingkai foto lamanya. Maniknya bergulir ke kiri, dan ia mendapati foto Myungsoo di sana dengan blazer OSIS sedang tersenyum lebar memperlihatkan giginya.

“Ah~ Myungsoo.” Jiyeon menangkup kedua tangannya dengan mata berbinar ketika menyadari senyum Myungsoo di foto tersebut terlihat menggemaskan. Ia melirik bingkai lainnya, dan menemukan foto mereka yang dibagi menjadi empat foto dalam satu bingkai.

Selca yang dimuat oleh foto Myungsoo yang sedang merangkul bahu Jiyeon, hingga wajah Myungsoo yang menghadap ke arah pipi Jiyeon dengan mulut terbuka seolah ingin memakan gadis itu, sementara di foto itu, Jiyeon membuat ekspresi takut.

Itu adalah masa-masa pacaran keduanya. Jiyeon jadi merindukan itu semua. Ketika itu, matanya terasa panas karena lupa berkedip. Ia berkedip sebentar, kemudian membalikkan tubuhnya untuk menuju ranjang yang sejak tadi ingin ia tempati.

Namun, matanya lebih dulu menangkap bingkai lain. Bingkai yang lebih besar dengan foto halus di dalamnya. Jantungnya berdentum begitu keras, ia dapat merasakan aliran darahnya berkumpul dan pecah di pipinya ketika melihatnya.

Foto dirinya dengan balutan gaun pernikahan mereka tanggal sebelas November lalu. Dengan rambut berponi yang tersanggul, dan menyisakan sedikit jambang di pelipis, di sana ia tidak sadar bahwa kamera tengah meyorot dirinya, ia sedang menanda tangani surat pernikahan yang baru saja diserahkan oleh orangtuanya.

Kapan Myungsoo mengambil foto ini?

Jiyeon mendekati bingkai tersebut, kemudian menemukan sedikit goresan yang tercatat di bawah foto besar tersebut.

Park Jiyeon is belong to me, from now on—she’s Jiyeon-Kim, my very own wife.
[11-11-13] –Myungsoo.

Ia menelan air liurnya ketika membaca kata-kata sederhana itu. Matanya terasa panas lagi, kali ini bukan karena lupa berkedip, namun ia ingin menangis. Di detik itu pula, ia melangkah menjauhi bingkai besar tersebut. Dan lebih memilih untuk keluar dari kamar tersebut, ia hanya ingin bertemu Myungsoo saat ini, hanya itu.

Kakinya berderap cepat menuju kamar sebelah, dengan menahan air di matanya, ia mencoba untuk memutar kenop pintu. “Myung…” belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, ia merasa air matanya seperti hendak menetes. Ia menghentikan kalimatnya, mengatur napas, kemudian kembali berkata.

“Myungsoo. Aku mohon buka pintunya. Myung, please~”
“Myungsoooo~ tolonglah, aku ingin—” namun sebelum Jiyeon genap memohon dengan suara bergetar menahan tangis—

“Ada apa?!”

—pintu terbuka lebih dulu. Menunjukkan wajah Myungsoo yang cemas ketika mendengar suara tertahan Jiyeon. Myungsoo melihat wajah Jiyeon yang memerah, serta matanya yang digenangi air. Jiyeon terdiam untuk beberapa saat, memandangi wajah Myungsoo yang berkerut khawatir.

“Hei, ada apa?” Myungsoo tak kuasa untuk mengusap wajah Jiyeon yang sedih. Ia selalu—dan akan selalu—luluh dengan wajah sedih Jiyeon, ia akan sesaat melupakan daratan dan lautan ketika melihat Jiyeon menangis. Ia tidak pernah ingin membuat gadis itu bersedih.

Belum sempat Myungsoo mendapatkan jawabannya, Jiyeon telah lebih dulu masuk ke dalam pelukannya. Mendekatkan matanya pada bahu Myungsoo untuk menyokong air mata yang sejak tadi ingin sekali keluar.

“Maafkan aku, Myungsoo. Maaf. Aku bodoh! Jiyeon bodoh! Maafkan Jiyiiii~” Myungsoo hampir terhuyung ke belakang, namun ia lebih cepat menarik pinggang Jiyeon. Jiyeon di dalam pelukannya seperti meminta untuk digendong, Myungsoo masih dilanda kebingungan.

“Aku… aku tahu, aku tidak bisa menggantikan barang yang sudah hancur seperti kalung itu. Tapi, aku berjanji tidak akan mengulanginya.” Jiyeon mengangkat wajahnya ke arah Myungsoo. Di saat itulah, Myungsoo baru sadar bahwa Jiyeon meminta maaf akan kalung yang baru saja dihancurkan gadis itu.

Myungsoo perlahan-lahan mendorong kepala Jiyeon untuk kembali bersandar di bahunya. Ia mengangkat tubuh gadis itu, menggendongnya hingga ke ranjang. Jiyeon menahan tangisannya kuat-kuat, tidak ingin melanggar janji mengenai tidak menangis lagi.

“Kau tahu, tadinya aku merasa seperti… benar-benar kehilangan Ibu setelah melihat benda itu pecah di tanganmu, Sayang.” Myungsoo mendudukkan Jiyeon di ranjang, disusul olehnya yang terduduk berhadapan dengan gadis itu.

“Tapi,” Myungsoo menjeda, merapikan rambut Jiyeon. “biar bagaimana pun itu hanya peninggalan.” Sambungnya mengukir senyum. Jiyeon berkedip, ia tidak menyangka Myungsoo begitu dewasa. Myungsoo sangat dewasa, dan itu suatu kelengkapan untuk dirinya yang kekanakan.

“Barusan Ayah meneleponku dan mengatakan bahwa peninggalan milik Ibu masih banyak di apartemennya, aku merasa bodoh karena telah bertingkah dingin padamu seolah-olah benda itu lebih cantik darimu.” Myungsoo mengeluh, menggosok matanya yang memerah karena mengantuk. Jiyeon tersenyum lebar, meninggalkan rasa sedih yang bersemayam di dadanya.

“Myung. Maafkan aku.” Gumamnya lagi, beringsut ke pelukan Myungsoo. Myungsoo ikut mendekap punggung Jiyeon, mengusap surainya. “Tidak, aku yang meminta maaf. Aku bersikap dingin pada istriku sendiri. Ugh, pasti sakit sekali tadi, ya ‘kan?” tanya Myungsoo main-main.

Tanpa diduga, Jiyeon malah mengangguk menyetujui terkaan suaminya. Myungsoo melepas pelukannya, kemudian mengajak gadis itu untuk berbaring. “Kau sudah melihat bingkai-bingkai di kamar sebelah?” tanya Myungsoo, sementara kepala Jiyeon bersandar di bahunya.

“Sudah,” tak ada komentar berlebih lainnya dari Jiyeon. “Terima kasih atas momen indah yang kau berikan sejak dulu, Myungsoo.” Dan itulah yang ingin Myungsoo dengar dari Jiyeon. Keduanya menoleh serempak, tidak sengaja hidung keduanya bertemu, begitu pun dengan napasnya.

“Terima kasih telah bersamaku hingga kini.” Myungsoo tersenyum mengusap surai Jiyeon. “Lupakan soal peninggalan Ibu, oke? Karena sekarang tugasku adalah untuk menjagamu.”

Seiring dengan kalimat itu meluncur dari bibir Myungsoo, Jiyeon dapat merasakan tubuhnya direngkuh oleh lengan-lengan Myungsoo yang melingkari punggungnya. Jiyeon memejamkan matanya. “Aku sayang padamu.” Gumam keduanya berbarengan. Jiyeon mendongak memandang Myungsoo dengan kerlingan jahil.

“Kau mengikuti kata-kataku!” tuding Jiyeon. Myungsoo mendesah berat. “Jadi, kau tidak ingin aku menyayangimu?” tanyanya iseng. Namun, Jiyeon mengerucutkan bibirnya.

“Tentu saja aku mau kau menyayangiku.”

.

.

おまけ

Sepanjang umur hidupku, aku mengetahui bahwa menikah adalah suatu hal yang begitu rapat dan serius. Aku tidak pernah menyesal untuk menikah dengannya, seberapa sering ia membuatku lelah.

Lelah untuk cinta bukanlah rajutan sia-sia, melainkan bentuk kasih sayangku padanya. Aku menyayanginya. Peninggalan yang dititipkan Tuhan kepadaku, Jiyeon.

.

.

//finite.//

.

.

TEASER FOR NEXT SERIES

“Tidak, Jiyeon. Kau masih gagal. Tidak ada mahasiswi yang akan lulus dengan skripsi acak seperti itu.” Dosen Kim menggeleng, melepaskan tangan mahasiswinya yang masih menarik lengannya. Pria paruh baya itu memandang satu-satunya mahasiswinya yang belum menyelesaikan skripsi sejak dua bulan yang lalu.

.

“Kau gila?! Aku memasuki universitas itu susah payah, kau tahu? Mana mungkin aku keluar.” Jiyeon menentang dengan wajah merengut. Jiyoung terkadang memang memiliki pemikiran yang tidak masuk akal.

.

“Bagaimana, Junmyeon-ssi? Keberatan dengan pendapatku?”

Namun, Junmyeon merasa sadar bahwa semestinya Myungsoo-lah yang menjadi manajer di sini, maka ia menggeleng dan memberi apresiasi pada Myungsoo yang telah membantunya.

.

Ibu sakit, Myung.

.

Jika ia adalah gadis normal yang berpikiran lurus, maka semestinya ia tak melakukan ini. Menghalau angin kota yang mulai disentuh oleh mendung adalah tindakan bodoh—terkhusus pada sosok Jiyeon yang sejak kecil memiliki kondisi fisik yang lemah.

.

Berjanji untuk jangan menangis. Ayo, berjanji padaku!”

Perintah Myungsoo pada saat itu membuat napasnya tercekat. Air matanya nyaris jatuh. Gadis itu menghentikan langkahnya untuk bernapas, ia merasakan titik air membasahi sepatu ketsnya. Ia merasa konyol karena statusnya, seorang istri yang mudah menangis, ia seperti mendapat ribuan kasadarn bahwa ia masih belum pantas untuk menjadi seorang istri.

.

Next series — Tension [6]: //coming soon//

 

Yang mau kenalan lebih jauh sama aku, boleh liat kontak aku di bawah ini ya;

Twitter: @shazapark
LINE: Shaza Hanifah
Email: shazapark@yahoo.com
Phone number: 0821-1269-6421

Yang mau nanya-nanya seputar myungyeon dan fakta-faktanya, boleh tanya aku di ask.fm.
ASK.FM: @shazapark.

Makasih.

51 responses to “Tension [5]: A Relic #2/END

  1. waww myungsoo sumpah sabar bgt pengertian bgt lg . apa sih yg dilakuin jiyeon buat dapetin myungsoo dlu thor? gk ada critanya kan?
    jiyeon beruntung bgt sumpahh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s