Tension [4]: A Relic #1

tension

Tension [4]: A Relic #1
by: Shaza (@shazapark)

starring: Park Jiyeon & Kim Myungsoo

Romance, Drama
Series

READ PREVIOUS — [3 Hours] [Future #1] [Future #2] [Unmarried Feeling]

hyunfayoungie‘s design @ Art Fantasy

.

Jiyeon mengetahui bahwa hari-harinya tak akan lebih dipenuhi oleh kebersamaannya dengan Myungsoo lagi setelah menginjak jenjang pernikahan, dan keduanya telah memiliki kesibukan lain. Myungsoo dengan pekerjaannya yang seperti haus dan mengisap suaminya ke jeruji tugas yang jauh lebih berat dibandingkan dengan OSIS.

Jiyeon hanya tinggal memasuki satu semester dalam meloloskan diri di pergulatan kampus, lalu ia bisa mencari pekerjaan. Gadis itu memperkirakan berapa pekerjaan yang akan ia tampung ketika dirinya lulus nanti, namun ketika itu, Myungsoo menolaknya dan meminta Jiyeon untuk melakukan pekerjaan ringan saja.

Setelah ia mengulas kembali, ia menyetujui pendapat Myungsoo bahwa ia tidak akan sanggup mengangkat pekerjaan berlebih. Tidak seperti Myungsoo yang hingga saat ini belum pulang, kendati dirinya telah bubar dari kampusnya.

Saat itu adalah masa di mana Jiyeon mengingat janji Myungsoo yang mengucap akan pulang siang, karena kemarin ia telah menuntaskan sponsor mall-nya. Gadis itu baru saja menuang air mineral dan mengangkat sepasang kakinya ke atas bangku yang tengah ia duduki, udara hangat musim panas malah terasa membakar kulit Jiyeon, membuat gadis itu mengenakan kaus putih ke sekolahnya.

Jiyeon meneguk airnya, meniti keheningan rumah besarnya bersama dengan getaran pada ponselnya. Jiyeon menggerutu ketika menemukan nama Soojung—teman lama, yang dulu pernah dijadikan pelarian oleh Myungsoo untuk membuatnya cemburu—tertera di sana, jauh di dalam lubuknya, Jiyeon berharap Myungsoo yang menghubunginya.

“Halo?” sapanya sesaat setelah menekan layar datar dengan pendar hijau pertanda terima sambungan telepon. Jiyeon mendengar sambutan berupa teriakan satu nada dari seberang sambungannya.

“Haiiiii~” membuat Jiyeon menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia mendelik ke arah ponselnya yang masih tersambung dengan panggilan Soojung, kemudian ia mengernyit. “Apa-apaan?” Jiyeon hendak mengeluarkan gerutuan lain ketika justru Soojung memenggalnya dengan kalimat lain.

“Jiyeon-ah. Kau tentu masih ingat denganku, bukan?” tanyanya dengan nada ceria. Mendadak Jiyeon gagal berimajinasi mengenai wajah Soojung yang dingin dipadu dengan suara ceria yang barusan ia dengar. Jiyeon menelengkan kepala, meletakkan gelas kristal yang barusan ia gunakan untuk minum ke atas meja.

“Kau Jung Soojung?” tanyanya bodoh, menyandarkan punggungnya di lengan sofa, sehingga ia dalam posisi berbaring. Jiyeon memandang langit-langit rumahnya ketika mendengar tawa manis dari telepon genggamnya, kemudian ia mendengus.

“Baiklah-baiklah. Kau Jung Soojung—mungkin Jung Soojung yang agak gila—dan apa maumu meneleponku?” Jiyeon bertanya ketus, membuat tawa Soojung terhenti, digantikan oleh tarikan napas penuh kejut. Jiyeon menggelengkan kepalanya, kemudian memainkan kakinya yang menyentuh lengan sofa di ujung.

Hey, take it easy, sista. I just want to tell you that I will getting married with fuckin’ sexy Kim Jongin for two months later.” Suaranya berubah lebih tenang, namun dihias sedikit candaan dan tawa yang membuat Jiyeon sesegera mungkin menghentikan pergerakan kakinya yang bermain-main di ujung sofa. “Kim… Jongin?” tanyanya lambat-lambat, merasa tidak asing dengan nama tersebut.

My bf.” Sahut Soojung. Jiyeon semakin bingung, ia memajukan bibirnya. “Bf? You mean, best friend?” tanya Jiyeon, tanpa sadar udara musim panas yang membakar kulitnya tadi mulai tak terhirau. Terdengar decakan malas dari seberang telepon Jiyeon, kemudian disusul dengan logat Amerika khas seorang Soojung.

Well, he’s a best friend in my pastbut, he’s still mine, okay?” Jiyeon merenung cukup lama.

“Ah! Kim Jongin! Aku ingat sekarang.” Seru Jiyeon berteriak, mengisi udara senyap di rumahnya dengan tawa bahagia. Soojung kemudian ikut tertawa, sedikit-banyak membuat Jiyeon bingung. Karena Soojung yang ia kenal dulu adalah sosok dingin yang jarang berbicara. Apakah pengaruh Jongin yang bandel itu telah menular pada Soojung?

“Nah, sekarang ceritakan bagaimana hari-harimu selama menikah dengan Myungsoo—hm, maybe I still can say himas my crush.” Suara Soojung bernada jahil, membuat Jiyeon membulatkan matanya. Ia sontak berteriak, dan menunjuk-nunjuk langit ruang tamu dengan mata melebar—seolah sedang menuding Soojung.

Yak! Tidak bisa begitu! Apa-apaan kau, Soojung-ah?! Dia suamiku.” Jiyeon menyergah tak mau kalah, suaranya melengking. Soojung menggosok telinganya selagi Jiyeon menghentakkan kakinya di atas sofa.

“Aa~ kau jahat! Aku tahu, kau pernah menyukainya, tapi jangan merebutnya lagi. Ah~ please.” Jiyeon merengek, tidak sadar bahwa kebiasaan itu juga ia gantungkan kepada orang lain—selain Myungsoo. Soojung memutar bola matanya jengah.

“Tentu saja aku tidak akan merebutnya, bodoh! I meanwell, siapa pula yang ingin merebut suami orang?!” Soojung di ujung sana mendengus, kemudian terdengar helaan napas. Jiyeon berkedip, mengulas uraian kata yang diberikan oleh Soojung, kemudian tersenyum membentuk pola sabit di matanya.

“Baiklah. Terima kasih, Soojungie~” ujarnya terlewat manis. Soojung mendelik, ia terburu-buru menarik topik pembicaraan. “Sudahlah. Jawab pertanyaanku yang tadi—bagaimana hari-harimu bersama Myungsoo setelah menikah? I’m so curious, okay?” sesaat setelah mendengar pertanyaan Soojung, bahu Jiyeon melepas tegangan otot.

Maniknya beralih sendu ketika mengingat hari-harinya yang lebih banyak diisi oleh senyapnya rumah, serta kesibukan tugas kampusnya. “Ehm, biasa saja. Myungsoo jarang mengajakku kencan, tidak seperti dulu.” Gumamnya, nyaris seperti bisikan lirih yang ia utarakan untuk dirinya sendiri. Soojung berkedip.

“Benarkah?” kejarnya, penasaran akan kisah Jiyeon. Jiyeon membalikkan tubuhnya menghadap sandaran sofa, sehingga matanya hanya memandang pada sandaran polos tersebut. Ia meringkuk, kemudian memainkan jemarinya di atas permukaan sofa kulit tersebut.

“Ya. Myungsoo memiliki pekerjaan, dan aku harus menunggunya pulang setiap hari seperti orang bodoh.” Jiyeon mendecih di akhir kalimatnya, membuat Soojung di seberang segera menopang dagunya. Ia memutar bola mata ketika menemukan karakter kekanakan Jiyeon masih belum sirna termakan waktu.

Okay, well. Intinya, kisah-kisah yang seharusnya romantis di awal pernikahan kalian itu justru beralih menjadi hal menyedihkan seperti kau yang diabaikan oleh suamimu sendiri. Begitu?” Soojung menukas cepat dengan susunan kalimat yang rapi dan tepat sasaran di ulu hati Jiyeon. Mendadak, gadis jangkung itu merasa kesepian.

“Sebenarnya, bisa dibilang seperti it—”

“Jiyeon?” suara seseorang di belakangnya membuat gadis itu menghentikan kalimatnya. Ia mengerjap sesaat, masih dengan ponsel yang merekat di telinga serta sambungan yang belum ia potong. Jiyeon mengerutkan dahi, kemudian perlahan-lahan membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah sumber suara.

Ia menemukan Myungsoo berdiri di sana dengan mata yang menyorot lelah. Rambut hitam legamnya terusak berantakan, kelopak matanya seperti hendak menutup, dan lengan kemejanya telah tergulung hingga siku. Myungsoo mengusap wajahnya, kemudian berjongkok agar tubuhnya sejajar dengan Jiyeon yang berbaring di sofa.

“Kau menelepon siapa?” tanyanya nyaris berbisik tajam, tidak ingin suaranya terdengar oleh seseorang di seberang sambungan telepon Jiyeon. Istrinya sontak terduduk, kemudian memutus sambungan secara sepihak, tidak peduli akan Soojung yang mengomel setelahnya.

“Myungsoo?! Sejak kapan kau pulang?” tanya Jiyeon dengan suara yang lebih riang. Melihat wajah Myungsoo selalu berhasil membuat energinya terisi, meski wajah tampan suaminya telah ternoda oleh gurat lelah. Myungsoo tersenyum tipis, kemudian bangkit dan mengulurkan tangannya ke arah Jiyeon.

“Sejak kau berkata pada seseorang di seberang teleponmu bahwa aku sudah jarang mengajakmu kencan.” Sahut suaminya tenang, ia menarik jemari Jiyeon, menelusupkan ruas kosong itu dengan miliknya. Jiyeon mematung sesaat, kemudian tersadar bahwa Myungsoo telah membawanya ke kamar mereka.

“Kau mendengarnya, Myung? Sungguh?” Jiyeon memastikan, dengan wajah cemas karena merasa yakin bahwa Myungsoo bisa saja tersinggung dengan opininya tersebut. Myungsoo melepas jasnya, dan melemparnya ke sofa di dalam kamar mereka.

Pria itu tersenyum tipis ke arah Jiyeon, kemudian mengangguk. Jiyeon merasa seluruh harapannya runtuh bersamaan dengan anggukan singkat yang diciptakan oleh Myungsoo.

“Myung, maaf. Aku bukannya sedang menjelekkanmu. Tadi aku hanya sedang—lelah.” Cicit Jiyeon menjelaskan, meski hingga sekarang ia memang masih menginginkan kencan seperti masa-masa berpacaran mereka dulu. Myungsoo tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.

“Tak apa, kau tak salah. Sekarang, boleh temani aku istirahat?” Myungsoo bertanya, merangkul bahu Jiyeon, dan membawa gadis itu menuju ranjang mereka. Jiyeon mengangguk, karena ia dapat melihat bahwa Myungsoo-nya tidak banyak berbicara detik ini, itu adalah salah satu tanda bahwa Myungsoo kelelahan.

Setelah Myungsoo bergulung di bawah selimut, Jiyeon menyusulnya. Ia memeluk guling sembari memandang punggung kokoh yang sekarang terekam penuh di maniknya, punggung Myungsoo. Myungsoo selalu tidur memunggungi Jiyeon, sementara Jiyeon memandang punggung itu sebelum tidur.

“Selamat tidur.” Kata Myungsoo, sebelum matanya benar-benar terpaksa menutup karena lelah terus membebaninya. Jiyeon mengangguk, meski ia tahu, Myungsoo tidak akan melihatnya. Jiyeon merasa Myungsoo seperti sosok lain, ia tidak melihat Myungsoo yang banyak bicara, dan itu membuatnya resah.

Jiyeon mengusap wajah, tak sengaja jemarinya menyentuh bintik timbul di dahinya. Jiyeon mengerutkan dahi, kemudian merabanya lebih lama untuk mengetahui bintik apa yang timbul di dahinya.

“Myungie.” Panggil Jiyeon pelan, membuat Myungsoo yang kala itu hampir menemui mimpinya kembali tersadar, namun tak membuka kelopak matanya. Ia mendengung, tanpa merubah posisi.

“Lihat aku!” pinta Jiyeon memaksa. Myungsoo membuka jendela matanya, membuang napas panjang, dan membalikkan tubuh agar segera berhadapan dengan istrinya yang berbaring di sebelahnya.

“Ada apa, Sayang?” tanyanya dengan bola mata yang merah karena menahan kantuk yang ditindih lelah. Sayangnya, Jiyeon tidak cukup pandai untuk mengetahui bahwa bola mata Myungsoo tengah mengirim ribuan maksud bahwa ia hanya ingin istirahat.

“Apakah ini jerawat?” Jiyeon menunjuk dahinya yang tadi ia raba, dan masih mendapati bintik timbul di sana. Myungsoo mengerutkan dahi dengan mata memicing, kemudian jemarinya terangkat untuk mengusap dahi Jiyeon.

Ia hampir bertanya pada Jiyeon, apakah ia tidak tahu bentuk jerawat. Namun, pertanyaan itu tertahan di ujung lidahnya ketika ia menyadari bahwa Jiyeon memang belum pernah berjerawat sebelumnya. Gadis itu tidak pernah menggunakan riasan wajah, bahkan ketika mereka menikah dulu, Jiyeon sama sekali tidak merias wajahnya dengan makeup.

“Iya, sepertinya kau mulai berjerawat.” Ujar Myungsoo perlahan, ia mengantuk, sangat. Dan hanya membutuhkan tidur setidaknya satu jam. Myungsoo mengusap kembali dahi Jiyeon, kemudian ia mengingatkan gadis itu. “Jerawat akan muncul secara berlebih ketika seseorang sedang memiliki banyak masalah.” Lanjutnya, mengerjap agar matanya tak menutup tidur.

“Kau juga seorang gadis yang akan mendapatkan masa-masa puber—well, meski ini bukan masa pubermu—tetapi, kau pasti akan berjerawat.” Jiyeon justru memejamkan matanya karena merasa nyaman dengan usapan jemari Myungsoo di dahinya.

“Dan, kau juga harus sering membersihkan wajahmu dengan sabun agar tidak cepat kotor.” Myungsoo tiba-tiba menarik tangan Jiyeon untuk terduduk. “Aku punya sabun pencuci wajah untuk wanita. Sini aku ajarkan menggunakannya.” Myungsoo meski dengan mata mengantuk, tetap menyeret istrinya ke kamar mandi untuk menunjukkan sabun pencuci wajahnya.

.

.

“Jangan langsung kau usap di wajah, Jiyeon. Kau harus memberinya sedikit air.” Myungsoo memberi komando pada Jiyeon yang akan mengusap wajahnya dengan segumpal sabun pencuci muka di telapaknya.

Keduanya kini tengah berada di kamar mandi. Myungsoo berdiri di belakang Jiyeon yang menghadap cermin kamar mandi. Ia memperhatikan Jiyeon yang tengah menggerutu, menambahkan air dari kran wastafel ke telapak tangannya.

“Gosok kedua tanganmu!” Myungsoo memberi instruksi lagi, yang segera dipatuhi oleh Jiyeon. Telapak tangannya dengan cepat dipenuhi busa tebal, dan itu membuat mata Jiyeon berbinar jenaka. “Wah, busa.” Gumamnya kekanakan. Myungsoo di belakang Jiyeon hanya menggeleng, kemudian meminta gadis itu untuk mengusap busa itu ke wajah.

Jiyeon mengambil langkah yang salah. Gadis itu malah mengusapnya asal, sehingga matanya terkena iritasi akibat busa tersebut. Jiyeon memekik, sementara Myungsoo spontan meraih jemari Jiyeon dari belakang.

“Ah! Perih, perih, perih, perih.. aduuuh.” Keluhnya selagi Myungsoo membersihkan tangan Jiyeon dari sabun berbusa itu. Myungsoo kemudian mengusap mata Jiyeon dengan telapaknya yang bersih, perlahan-lahan membuat Jiyeon menghentikan jeritan paniknya.

“Buka matamu!” Jiyeon membuka matanya sesuai perintah Myungsoo. Ketika kelopak matanya memberikan ruang penglihatan, Jiyeon dapat melihat dirinya tengah dipeluk dari belakang oleh Myungsoo, ia melihatnya melalui cermin di hadapannya.

Gadis itu mengerjap dalam beberapa saat, kemudian tersadar bahwa Myungsoo bukan sedang memeluknya, hanya membersihkan tangannya dari belakang. “Kau tidak bisa mengusapnya asal-asalan, Jiyeon. Oh, ayolah. Bahkan iklan mencuci wajah itu sudah sering sekali kita lihat di televisi, okay?” Myungsoo menggerutu sembari tangannya sibuk menuang kembali krim pencuci wajah ke telapak tangannya.

Jiyeon merasakan dada Myungsoo bersentuhan lekat dengan punggungnya, Jiyeon merasakan detak jantung Myungsoo yang tenang. “Jiyeon! Hei, perhatikan caraku!” sergap Myungsoo ketika ia melihat Jiyeon-nya melamun memandang cermin—lebih tepatnya, memandang Myungsoo dari cermin.

Suara Myungsoo yang menggema tepat di samping telinganya membuat gadis itu terlonjak. Ia terburu-buru menoleh ke kanan, tempat di mana wajah Myungsoo berada. Namun, yang ia dapati adalah busa di pipinya menyentuh hidung Myungsoo karena ia bergerak banyak.

Yak!” Myungsoo menjauhkan wajahnya barang beberpa sentimeter, kemudian tertawa ketika melihat pantulan wajahnya yang konyol. Jiyeon mengejrap, tidak sadar bahwa wajahnya masih dipenuhi busa sabun.

“Baiklah. Ini menjijikan, Jiyeon. Kau tahu, ini untuk wanita. Dan, kau baru saja mengenai wajahku dengan busa itu.” Tawa Myungsoo, kembali memeluk Jiyeon-nya dari belakang untuk membimbing gadis itu mengusap wajahnya. “Here. Pelan-pelan, dan jangan sampai mengenai matamu.” Myungsoo mengoles wajah Jiyeon dengan telapak tangannya yang terpenuhi busa sabun.

“Wangi vanila.” Gumam Jiyeon, selagi ia menikmati usapan tangan Myungsoo di wajahnya. Myungsoo menipiskan bibirnya, hendak menahan tawa. “Tentu saja, ini untuk wanita.” Sahutnya.

“Kenapa kau membeli ini? Bukankah ada sabun pencuci wajah untuk pria?” tanya Jiyeon penasaran. Tangannya yang masih dipenuhi sabun ia mainkan, selagi wajahnya masih dipoles oleh Myungsoo di belakangnya. Myungsoo menerawang sebelum menjawab.

“Entahlah. Aku mendengar bahwa wanita itu menyukai wangi manis seperti vanila dan cokelat, jadi aku membelinya.” Kata Myungsoo, membalas seadanya. Jiyeon merengut. “Apa maksudmu dengan wanita yang menyukai wangi manis? Apa hubungannya dengan pertanyaanku? Kau ingin memikat wanita yang menyukai wangi manis itu dengan membeli pencuci wajah beraroma vanila, begitu maksudmu?” mata Jiyeon memandang manik cokelat Myungsoo nyalang. Sementara, Myungsoo menghentikan pergerakan telapak tangannya di wajah Jiyeon, ia menatap Jiyeon melalui pantulan cermin.

Istrinya tengah mengerucutkan bibir, namun matanya memandangnya marah.

“Jiyi, bukan begitu.” Myungsoo hendak menjelaskan, namun Jiyeon terlebih dahulu membilas wajah penuh busanya dengan air. Myungsoo dibuat panik dalam beberapa detik.

“Jiyi! Jiyeon-ah, dengarkan aku—”

“Aw!” ringisan itu menyela ucapan Myungsoo. Sebelum Myungsoo melihat pun, ia sudah tahu bahwa Jiyeon akan ceroboh kembali. Ia menemukan Jiyeon yang baru saja membilas wajahnya dengan air, namun air kran yang berbaur dengan busa itu mengenai matanya—lagi.

Myungsoo membuang napasnya, ia mendadak melupakan kantuknya untuk sesaat. “Kubilang, hati-hati.” Katanya perlahan, menuntun tangan Jiyeon untuk membersihkan wajah istrinya dari belakang. “Dengarkan aku,” mulai Myungsoo tanpa menutup saluran kran air yang mengalir.

“Kau yang menyukai wangi manis itu, bukan? Maka, pikirlah apa gunanya aku membeli pencuci wajah itu.” Tutur Myungsoo tepat di telinga Jiyeon, membuat gadis itu merasakan suara Myungsoo yang seolah menusuk setiap sarafnya. “Wanita di luar sana justru lebih menyukai wangi maskulin seorang pria. Tapi, aku yakin—kau jauh berbeda dengan mereka.” Sekilas, Myungsoo mengecup ubun-ubun Jiyeon. Tentu saja Jiyeon tidak menyadari itu, karena ia tengah merutuki temperamennya yang menanjak ketika mengurai prasangka buruk tadi.

Jiyeon merasakan Myungsoo menutup saluran kran, kemudian berderap menjauhinya untuk mengambil handuk di dalam lemari kamar mandi. Jiyeon memandang wajahnya yang basah karena tersiram air barusan, belum sempat ia memuji wajahnya yang tampak manis, Myungsoo telah kembali menyerahkan handuk padanya.

“Ah, terima kasih, Myung.” Jiyeon menepuk serat handuk kering itu pada wajahnya, kemudian ia tersenyum lebar ke arah Myungsoo yang memandanginya begitu lama. “Apapun itu.” Balasnya mengacak surai lembut istrinya.

Keduanya beranjak dari kamar mandi menuju ranjang mereka, namun sebelum Jiyeon sempat melangkah, matanya telah tertumbuk pada sebuah kalung yang melingkar di leher Myungsoo. Jiyeon belum pernah melihatnya sebelumnya, maka ketika keduanya telah berbaring di atas ranjang, barulah Jiyeon bertanya.

“Itu apa?” tanya Jiyeon menuding kalung berbandul cincin ganda di leher Myungsoo. Myungsoo yang pada saat itu tengah berusaha melindungi kakinya dengan selimut lantas menoleh ke arah Jiyeon. Ia mengikuti arah tunjuk Jiyeon, dan berhenti tepat pada kalungnya. Pria itu tersenyum lembut, kemudian menggenggam bandul kalung tersebut.

“Oh, ini… peninggalan dari Ibu.” Myungsoo menutur dengan mata yang menyorotkan kehangatan, seolah ia tengah bersua dengan Ibunya, kemudian melepas rindu yang bersatu dalam kelembutan. Jiyeon mengangguk paham, mengerti bahwa Ibu Myungsoo memang sangat berarti bagi suaminya meski wanita itu telah menemui surga.

“Baiklah. Ayo tidur.” Jiyeon lebih dulu berbaring ketika melihat Myungsoo yang memandangi peninggalan Ibunya seolah ia dapat bertemu dengan beliau ketika menatap benda itu terlalu lama. Myungsoo menyudahi kegiatan konyolnya, kemudian ikut berbaring di sebelah Jiyeon, berhadapan dengan gadis yang tengah mendekap guling. Myungsoo melipat kedua tangannya, sembari berusaha memejamkan mata.

Ketika itulah Jiyeon memandangi wajah Myungsoo, jemarinya bertaut canggung. “Myung.” Panggilnya pelan-pelan. Sayangnya, ia memanggil Myungsoo ketika pria itu nyaris terlena untuk tidur, maka suaminya hanya membalas dengan dengungan.

Jiyeon memutar lidahnya. “Belikan aku pencuci wajah tadi.” Sambungnya, disambut anggukan oleh Myungsoo. Pria itu tak membuka matanya, seolah kantuk dan mimpi telah mengurungnya. Jiyeon menggerutu, ia tidak ingin tidur, ia masih ingin bermain-main dengan Myungsoo-nya.

“Myungsoo.” Panggilnya—lagi—kali ini dengan bisikan kecil. Ia mendekatkan tubuhnya pada Myungsoo yang masih menyilangkan tangan di depan dada, Jiyeon merasakan embusan napas suaminya yang hangat. “Myungsoo-ya~” rengeknya mengguncang lengan pria itu.

“Apaaaa~?” balas Myungsoo main-main, dengan suara seraknya. Jiyeon menepuk-nepuk pipi gembul suaminya. “Buka matamuuu~” pinta Jiyeon merayu dengan mata memelas. Myungsoo membuang napasnya keras melalui hidung, dan segera menerpa mata Jiyeon.

Myungsoo membuka kelopaknya yang sudah begitu tergoda untuk tidur, dan ia mendapati wajah Jiyeon terekam penuh di maniknya saat ini. Istrinya malah terkekeh dengan mata melengkung manis.

“Peluk.” Myungsoo mengerjap ketika mendengar satu kata yang keluar dari sebentuk celah di mulut Jiyeon. Ia tidak yakin bahwa kata itu adalah sebuah perintah, maka ia hanya bertanya bingung.

“Apa?”

“Peluuuuk~” Jiyeon merayu lagi, kali ini Myungsoo melihat mata Jiyeon yang memelas. “Kenapa kau ingin di—” namun Myungsoo terlalu membuang waktunya untuk sekadar bertanya, karena Jiyeon telah lebih dulu memenggalnya.

“Tak mau?” sontak saja kelopak mata Myungsoo melebar. Ia mendesah berat, karena kantuknya lebih mendominasi, sementara ia tak ingin mengurusi Jiyeon yang sedang mengambek. “Baiklah, baiklah. Sini.” Tukas Myungsoo merentangkan tangannya. Jiyeon dengan senyum lebar segera masuk ke dalam dekapan Myungsoo.

“Hihihi.” Ia terkikik, mengeratkan pelukannya karena ia begitu merindukan Myungsoo setelah hari-hari berat yang dilalui Myungsoo selama bekerja. Ia menggosokkan hidungnya di tulang belikat Myungsoo, ia tahu bahwa tempat itu adalah satu titik yang dapat membuat Myungsoo tertawa geli.

“Yak! Jiyeon, aku ingin tidur, kumohon.” Setelah mendengar seruan Myungsoo yang beradu dengan permohonan itu, Jiyeon menyudahi permainan isengnya. Ia mendongak ke arah Myungsoo yang beberapa menit kemudian jatuh terlelap. Gadis itu memandangi kelopaknya yang tertutup, lantas tersadar bahwa di bawah kelopaknya terlukis warna hitam yang membentuk kantung.

Jiyeon tersenyum tipis. Ia mengingat bagaimana Myungsoo masih mau menemaninya mencuci wajah bahkan juga bersabar ketika ia mengganggu tidurnya terus menerus. Perlahan-lahan, tanpa didengar dan diketahui suaminya, gadis itu mendongak lebih tinggi. Menciumi pipi Myungsoo seperti ia tengah bertemu dengan anjing kesayangannya.

“Terima kasih, Myungsoo. For all the things that you’ve given to me.” Dan ia mengakhiri kecupannya di rahang Myungsoo sebelum ia kembali jatuh dalam pelukan suaminya, kemudian bergerak manja untuk mengeratkan dekapannya.

.

.

.

.

Jiyeon terbangun dari istirahat panjangnya ketika indra pendengarannya lebih dulu bekerja dan memantulkan gemericik air yang berpusat dari kamar mandi. Ia menggeliat di atas ranjangnya, hendak menggulung tubuhnya dengan selimut tebal itu ketika menyadari sesuatu, bahwa Myungsoo tidak ada di sampingnya.

Matanya terbuka dalam hitungan detik, seperti tanpa aba-aba. Ia memandang ke arah pintu kamar mandi yang tertutup, kemudian mengucap syukur karena rupanya Myungsoo tidak meninggalkannya—lagi—seperti tadi pagi ketika pria itu hendak berangkat ke kantornya.

Jiyeon kemudian menguap lebar, dan berusaha terduduk untuk mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya berkumpul. Ia duduk di sisi ranjang, dan menjatuhkan kakinya di atas lantai. Matanya yang masih mengerjap itu telah lebih dulu menemukan kalung Myungsoo yang tergeletak di lantai. Jiyeon mengerutkan dahinya, kemudian membungkuk untuk meraih benda itu.

Ia memandangi bandul cincin ganda dalam kalung tersebut, ketika keheningan itu terpecahkan oleh suara pintu berderit, kamar mandi terbuka. Membuat Jiyeon yang pada saat itu masih mengantuk segera membebaskan kalung Myungsoo dari genggaman tangannya, terkejut.

Dalam detik ke depannya, terdengar suara denting dari perak bandul Myungsoo yang mengenai ubin kamar. Disusul oleh langkah Myungsoo yang baru mengeluari pintu kamar mandi. Pria itu mendengar—sangat jelas mendengar—denting pecah yang bersumber dari tangan Jiyeon. Sesaat setelahnya, ia dapat melihat bandul kalungnya menggelinding di bawah ubin.

“Jiyi?” Myungsoo mengucap nama Jiyeon. Sementara gadis itu mematung, memandang pecahan kristal dari bandul kalung Myungsoo yang menyebar di permukaan ubin. Jiyeon baru saja akan menoleh ke arah Myungsoo ketika ia tersadar sepenuhnya dari rasa kantuk.

Mata Myungsoo yang membesar kini bergulir ke arah bandul kalungnya, ia mengerling ke arah Jiyeon yang mematung karena tidak menyangka bahwa kalung Myungsoo akan terlepas dari genggamannya dan berakhir di atas ubin dengan keadaan pecah.

“Apa yang… kau lakukan?” Myungsoo bertanya lambat-lambat seiring dengan langkah kaki yang membawa tubuhnya menuju Jiyeon. Ia berjongkok, melihat lebih dekat ke arah ubin yang tertabur pecahan kristal.

Jiyeon merasakan tubuhnya menegang ketika melihat bola mata Myungsoo berubah redup, seperti terhalang kabut amarah. Jiyeon menyadari segalanya, semua kecerobohan yang pasti akan membawanya menuju curamnya sedepak jurang. Air muka Myungsoo yang dingin membuat nyali Jiyeon menciut.

“M-Myungsoo. Mungkin kita bisa membeli—”

“Keluar.” Potong Myungsoo singkat. Ia memunguti pecahan kristal di lantai tanpa menoleh ke arah istrinya. Jiyeon membelalak, ia menarik lengan Myungsoo. “Tapi, Myungsoo—”

“Keluar!” jeritnya, menepis tangan Jiyeon yang menarik tangannya. Ia memandang Jiyeon dengan dada yang naik-turun karena menetralkan napasnya. Matanya memandang Jiyeon dingin seolah sedang menusuk gadis itu. Jiyeon bergetar di bawah tatapan itu, sebelumnya ia tidak pernah mendapatkan tatapan itu, tidak meski sebesar apapun kesalahannya pada Myungsoo.

.

.

TO BE CONTINUED—

.

.

YANG PENGEN DAPET FACTS MYUNGSOO SAMA JAWABAN DARI BEBERAPA PERTANYAAN KALIAN, TOLONG BACA AUTHOR’ S NOTE DI BAWAH INI YA!

Aku ingin memperjelas sesuatu di sini. Mungkin ada yang merasa heran kenapa Myungsoo bisa marah banget hanya karena perihal kalung, iya kan? Oke, bagi yang penasaran, sini baca penjelasan aku di bawah ya.

Jadi, seperti yang udah pernah aku bilang sebelumnya, Myungsoo itu anak yatim—Ibunya udah meninggal bahkan sejak dia masih SD. Ibunya Myungsoo ini meninggal karena penyakit jantung. Myungsoo udah punya sikap dewasa sejak dia masih SD, lebih tepatnya dia berusaha menghargai hidup dia yang susah—karena Ibunya dulu sakit-sakitan.

Dulu dia gak pernah bener-bener ngerasain yang namanya berlibur. Kalo temen-temen SD-nya pada liburan ke taman bermain, pantai, bahkan ke luar negeri—Myungsoo justru liburannya dipake buat nemenin Ibu sama Ayahnya di rumah. Dan, dia gak pernah ngeluh soal itu. Dia justru seneng karena selalu ada buat orang tuanya.

Ibu Myungsoo selalu senyum. Sama kayak Myungsoo yang gak pernah mengeluh soal hidup. Beliau selalu senyum walaupun sakit-sakitan, dan inilah yang bikin Myungsoo sayang banget sama Ibunya. Jadi, ketika Ibu Myungsoo meninggal, Myungsoo janji gak bakal pernah ngerusakin kalung peninggalan dari Ibu kesayangannya.

Dan sekarang, kalung itu baru aja rusak. It’s already broken, dan Jiyeon-lah penyebabnya, istrinya sendiri.

 

54 responses to “Tension [4]: A Relic #1

  1. Myung kayak nikah am adek nya sendiri yeh-_-
    lama” kesel juga seh kl terlalu kekanakan , uhh susah kl uda berhubungan sama yang nama nya barang berharga apalgy dr orang yang ud gg ada:/:/

  2. Pingback: Tension [6]: Crying #1 | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s