[ CHAPTER – PART 19 PRE FINAL ] RAINBOW AFTER THE RAIN

ra2r

Tittle : Rainbow After The Rain
Author : gazasinta
Main Cast : Park Jiyeon, Bae Suzy, Choi Minho, Kim Myungsoo
Genre : Family, Friendship, Romance
Rating : PG-17

Poster cretaed by @chomichin

Part 19
“ Sulli eonni mengalami kecelakaan, dan oppaku harus menemaninya, Jiyeon….dia sedang menunggu oppaku untuk memenuhi janjinya, jika aku tidak melakukan sesuatu, Jiyeon akan tetap disana menunggu oppaku yang mungkin benar-benar tidak akan datang “
“ Jika itu aku, aku merasa bahagia meski seseorang yang kucintai tidak memilihku, melihat dia yang aku cintai bahagia, bukankah itu bentuk lain dari cinta ? “
“ Seharusnya kau bersyukur, kau lebih beruntung daripada sahabatmu Kim Myungsoo, cinta yang bertepuk sebelah tangan lebih baik dibandingkan ketika saling mencintai namun tidak bisa bersama “
“ Aku tahu meminta bantuan ini padamu sangat tidak tepat, aku tidak memaksamu untuk ikut denganku melakukan sesuatu untuk mereka, tapi aku tahu kau Choi Minho, seseorang yang sangat baik dan tidak egois “

Minho menutup kembali laptop yang baru saja ia buka, kedua tangannya ia gunakan untuk mengusap wajahnya. Kedatangan Suzy beberapa menit yang lalu begitu mengganggu pikirannya, yeoja yang sudah ia putuskan untuk tetap menjadi sahabatnya itu benar-benar berusaha ingin menyadarkan dirinya bahwa ia harus membuka matanya lebar-lebar dan menerima kenyataan bahwa Jiyeon mencintai Myungsoo.

Sebenarnya Minho sadar akan hal itu, hanya saja ia memilih untuk menutup mata dan tetap berjuang hingga akhirnya penolakan itu terucap langsung dari bibir Jiyeon “ Aisshhh….” Minho menggusak rambutnya kasar, ia benar-benar bimbang apakah harus mempertahankan perasaan sakitnya atau menyelamatkan sahabatnya Myungsoo yang masih memiliki peluang untuk meraih cintanya. Minho mengangkat pelan sebelah tangannya dan meletakkan tepat didadanya, meski tidak seperti beberapa hari yang lalu ketika Jiyeon menolaknya, namun rasa sakit itu masih tertinggal

“ Apa aku harus melakukannya ? “ Minho bertanya ragu pada dirinya sendiri.

Jieun dengan segera meraih ponselnya ketika nama Jiyeon tertera disana “ Ehem…” ia memegang lehernya dan berdeham sejenak sebelum ia menggoda Jiyeon yang kini pasti sedang merasa bahagia dengan oppanya, namun raut wajah Jieun berubah ketika ia mendengar suara Jiyeon yang sepertinya bergetar.

“ Eoh Jiyeon-ah, apa…..kau sudah sampai di Cheongpungho ? “ Jieun bertanya ragu, merasa bahwa ada yang tidak beres dengan sahabatnya.

Jiyeon mengusap pelan air mata yang hendak menetes, bunyi kereta dan banyaknya pengunjung distasiun seolah menyamarkan suara Jiyeon yang sedikit bergetar “ Anhi, oppa….” ucapan Jiyeon terhenti, tidak ingin membuat Jieun menjadi khawatir “ Eoh itu dia…..oppaku baru saja datang, dan tch…..kau tahu? dia masih bisa menunjukkan senyumannya padaku, apa dia tidak tahu aku sudah sangat bosan menunggunya ? “ ucap Jiyeon dengan nada kesal yang terdengar dibuat-buat, Jieun masih hanya mendengar apa yang akan Jiyeon katakan padanya.

“ Meski begitu……aku benar-benar menyukai senyumannya “ ucap Jiyeon dengan nada pelan serta mengusap berkali-kali airmata yang akan jatuh.

Jieun terdiam, ia tahu jika Jiyeon berbohong demi menyembunyikan kesedihannya “ Kau pasti sangat senang, jangan pikirkan apapun selain apa yang ingin kau lakukan “ ucap Jieun mengikuti kebohongan Jiyeon.

Kalimat Jieun membuat dada Jiyeon semakin nyeri, tangan yang memegang ponselpun luruh.

Flip

Jieun menatap dalam diam layar ponselnya yang diputus oleh Jiyeon tiba-tiba “ Aku harus melakukan sesuatu “ ucapnya yakin.

Tangan yang terkepal begitu kuat menarik selimut yang menutupi tubuhnya, sorot mata tajam dan hembusan nafas yang terputus-putus menyiratkan jika dirinya begitu geram. Sulli, nampak gigi yeoja yang kini terduduk diranjang rumah sakit itu bergemelutuk menahan kemarahan, kalimat seseorang yang kini dibencinya itu tidak bisa dengan mudah hilang dari ingatannya, bahkan semakin bergaung karena dirinya kini disulut rasa cemburu.

“ Maafkan aku, kau memang seorang yeoja yang memiliki banyak pendukung untuk kalian bersama, tapi kau tidak memiliki hatinya, dia…dia adalah seorang namja dengan satu yeoja dalam hatinya, dan itu aku “

Tap…tap…tap

Derap langkah sepasang kaki tertangkap oleh telinganya, langkah itu semakin jelas terdengar ketika jarak dengan ruangan tempat ia kini berada semakin dekat, tepat ketika gagang pintu bergerak, Sulli segera membaringkan tubuh dan mulai mengatur nafasnya untuk kembali normal.

“ Apa yang terjadi padamu ? “ Myungsoo muncul dari balik pintu dan menghampiri ranjang Sulli cepat, rasa khawatir tercetak jelas dari wajahnya.

“ Kau sudah datang ? “ Sulli menolehkan pandangannya dan menatap lemah wajah Myungsoo.

Myungsoo mengamati sekujur tubuh Sulli yang tertutup dengan selimut, tidak ada yang berbeda dengan kondisi Sulli kecuali selang infus yang terhubung dengan pergelangan tangan kirinya yang juga dibalut perban, bahkan polesan make-up masih bisa ia lihat dari wajah Sulli, meski tipis namun seolah menenangkan dirinya bahwa tidak ada yang begitu serius menimpa Sulli.

Jiyeon bangkit dari duduknya, menatap lekat setiap orang yang lalu lalang di stasiun Seoul, sesekali ia panjangkan leher dan menjengkitkan kakinya, namun seseorang yang ia harapkan belum menampakkan dirinya.

Sementara itu, dibelakangnya sebuah kereta yang akan membawa para penumpang ke kawasan wisata danau Cheongpungho masih terparkir, menunggu para penumpang untuk menaikinya, Jiyeon masih setia berdiri, berharap untuk kali ini dewi fortuna bersamanya.

“ Kajja palli kereta akan segera berangkat !!! “

Brukk……

Arrgghh…

“ Jwesonghamnida agassi, maaf kami terburu-buru kereta akan segera berangkat “

Jiyeon hanya tersenyum lemah, memaafkan beberapa penumpang yang berlari untuk menaiki kereta dan menabrak bahunya.

5 menit tersisa untuk keberangkatan…

“ Dia tidak datang “ Jiyeon berkata lirih, ia pun membalikkan tubuhnya dan menunduk lemah.

Diraihnya ransel kecil yang ia sandarkan pada sisi bangku keatas punggungnya, ini adalah kereta ke-3 yang membawa penumpang ke Danau Cheongpungho, Jiyeon memaksakan senyumannya mulai melangkah ragu menuju pintu kereta.

“ Oppa, mianhae….mungkin tidak kali ini “ Jiyeon melemparkan kembali pandangannya kebelakang, setelahnya ia benar-benar menjejakkan kakinya diatas kereta yang tidak berapa lama pintunya tertutup otomatis.

Kringgg….

Myungsoo dengan cepat mengambil ponsel dari saku celananya, nomor tak dikenal tercantum disana.

“ Yeobboseo “

“ Apa kau yang bernama Kim Myungsoo ? “

Myungsoo terdiam, suaranya nampak asing namun ia seolah pernah mendengarnya.

“ Nde, nuguseyo ? “

“ Aku Lee Jieun salah satu pelayan dihotel Seoul tempat kekasihmu menginap, jwesonghamnida tiba-tiba menghubungimu, kita …. ya kita pernah bertemu !! “

Myungsoo mencoba mengingat sosok dengan suara yang terdengar begitu tergesa-gesa dan menyiratkan kekhawatiran “ Lee Jieun? “ ucap Myungsoo dalam hati mencoba mengingat.

Disampingnya, Suli calon tunangannya itu mempertajam pendengarannya, wajah heran yang Myungsoo perlihatkan menjawab rasa khawatir Sulli bahwa bukan Jiyeon yang menghubungi Myungsoo, namun tetap saja ia tidak ingin ada seseorang yang akan menghasut kekasihnya itu untuk kemudian meninggalkannya.

“ Aku mohon jangan biarkan Jiyeon menunggu terlalu lama, ia tidak boleh sendirian pergi ke Danau Cheongpungho, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengannya “

Myungsoo masih berusaha mengingat dimana ia pernah mendengar suara ini….

“ Kamsahamnida tuan, Anda telah menyelamatkan teman saya “

“ Eoh tuan, sekali lagi terimakasih, jika tidak ada anda mungkin nasib teman saya akan berbeda “

Deg….

Raut wajah yang awalnya terlihat bingung kini berubah tegang, suara itu…Myungsoo mengingat suara itu, dan ia sangat terkejut menyadari suara itu adalah suara seseorang yang mengucapkan terimakasih padanya karena telah menyelamatkan temannya yang dalam bahaya, jadi ? yeoja yang hampir diperkosa itu adalah Jiyeon ? dan ia menemukannya ketika ia baru saja menjejakkan kaki diKorea, Ya Tuhan Myungsoo benar-benar merutuki kebodohannya, dan sekarang ia pun membiarkan yeoja itu menunggunya sendirian dan mungkin saja bahaya yang sama akan menghampirinya.

“ Kim Myungsoo-ssi….aku mohon sahabatku tidak boleh lagi bersedih karenamu , dia-…..“

Sulli tidak lagi dapat mengendalikan dirinya, tangannya dengan cepat merebut paksa ponsel dari tangan Myungsoo.

“ Yyaaa!!! Apa yang kau lakukan ??? “

Myungsoo berteriak marah, ia menatap tidak percaya apa yang Sulli lakukan, tangan yeoja itu dengan cepat merebut ponsel dari genggamannya, bahkan Myungsoo kini menjadi ragu bahwa Sulli sedang terluka, tangan yeoja itu nampak kuat merebut ponsel miliknya.

“ Lepaskan Choi Sulli!!!! “

“ Tidak, aku tidak akan membiarkanmu menghubunginya “

“ Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu jika terjadi apa-apa dengannya, dengar itu eoh!!!”

“ Tidak akan terjadi apa-apa pada yeoja itu!!! aku yang terluka bukan dia!!! “

Sulli semakin sulit dikendalikan, selang infus yang bergerak mengikuti kemana tangannya bergerak tidak lagi ia pedulikan, Myungsoo terus mencoba mencegah Sulli untuk merebut alat komunikasi itu dari dirinya, hingga….

Pranggg!!!!

Keduanya serentak berhenti, menatap lekat benda yang kini tidak lagi jelas bentuk awalnya. Myungsoo menggeleng tidak percaya, sementara Sulli masih terdiam menunduk.

“ Apa benar kau terluka eoh ? katakan apa benar kau terluka ??? KATAKAN!!! “

Ditariknya paksa tangan yang masih terbalut perban, goresan kecil tepat pada urat nadi, Myungsoo menatap Sulli dengan pandangan sinis “ Demi mendapatkanku kau rela melakukan ini ? “ ucapnya tajam.

Sulli membuang nafasnya kasar, rambut panjang indahnya kini tidak lagi tertata, keringat dan airmata bercampur membasahi anak rambut dipelipis dan dahinya “ Aku benci dirimuuu….aku benci yeoja ituuu!!!kalian telah mempermainkan perasaanku, apa aku salah melakukan apapun agar namja yang kucintai tetap berada disisiku eoh ? “

Mata tajam Myungsoo semakin lekat menatap manik mata Sulli, tidak menyangka jika yeoja yang terbiasa lembut dihadapannya kini begitu liar berteriak hingga suaranya begitu memekikkan telinga, bahkan tidak ada perasaan menyesal yang tersirat dari wajah Sulli setelah melakukan hal yang tidak biasa itu.

“ Aku akan tetap menemuinya, aku akan kembali “ Myungsoo melepaskan tangan Sulli dan hendak melangkah.

“ Jika kau pergi walaupun selangkah saja, aku akan membuat dirimu menyesali apa yang kau lakukan padaku seumur hidupmu!!!”

“ Kim Myungsooooo!!! Kau benar-benar meninggalkanku eoh ? Kim Myungsoo kembaliiii!!! “

Seolah kehilangan kendali, Sulli mencabut selang infus dari tangannya hingga darah menetes perlahan dari pergelangan tangannya yang terluka.

“ Aaarrgghhkkk….”

Myungsoo menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Sulli, ia terbelalak dan dengan cepat menahan Sulli melakukan tindakan yang lebih membahayakan untuk dirinya.

“ Hentikan! Apa yang kau lakukan ??? “ Teriak Myungsoo seraya memegang tangan Sulli erat.

“ Ini karena kau tidak mempedulikan aku, biar saja…biar aku mati agar kau bisa bersama dengannya!! “Berontak Sulli.

“ Kau tidak boleh seperti ini, aku bilang hentikan !!! “

Sulli terus memberontak, meski Myungso sudah memegang tangannya begitu kuat. Myungsoo tidak tahu harus melakukan apalagi, ia pun memencet tombol darurat memanggil uisa datang untuk menenangkan Sulli yang mengamuk tidak terkendali. Myungsoo menghela nafasnya begitu lelah, ia menjadi semakin tidak yakin jika Sulli adalah yeoja yang tepat untuk mendampingi disisa hidupnya.

“ Aisshh jinjja ini membuang waktuku, mengapa harus kehabisan baterai disaat seperti ini, otthokae ? “ Kesal Suzy.

Setelah tidak mendapatkan hasil dari kunjungannya ke tempat Minho, Suzy memutar cepat otaknya untuk mendapatkan bantuan dari seseorang, ia mengarahkan mobilnya dengan cepat ke Hotel tempat Jieun berada, kali ini ia memiliki keyakinan 100%. Ia harus segera menggantikan Myungsoo menjaga Sulli dirumah sakit, sementara Jieun akan ia minta untuk bergegas menyusul dan menemani Jiyeon hingga oppanya datang, namun kini ia begitu kesal ketika ponselnya harus mati disaat-saat diperlukan.

Di Hotel –

Semua orang di lift menatap aneh kearahnya yang sejak tadi menggerutu dengan ponsel dihadapannya, namun Suzy tidak peduli.

Tring….

Lift terbuka, Suzy langsung merangsek keluar melewati padatnya orang didalam lift, ia melangkah cepat mencari sosok terakhir yang bisa ia minta pertolongannya, tidak berapa lama ia menemukan sosok mungil yang sepertinya sedang bersiap-siap untuk pergi.

“ Eoh nona ? “ ucap Jieun sedikit terkejut ketika Suzy sudah berada dihadapannya.

“ Jieun-ssi kau harus membantuku “ ucap Suzy terlihat sulit untuk menjelaskan

“ Apa yang terjadi ? apa ini tentang Jiyeon ? “ Wajah Jieun semakin khawatir, ia baru saja memutuskan untuk menyusul Jiyeon ketika tiba-tiba komunikasinya dengan Myungsoo terputus.

Suzy mencoba mengatur nafasnya agar normal kembali “ Apa kau mau membantuku ? aku mohon sekarang kau susul Jiyeon dan temani ia sementara distasiun, aku akan ke rumah sakit untuk menggantikan oppaku menemani Sulli eonni yang sedang mengalami kecelakaan “ ucap Suzy dengan nafas sedikit tersengal.

“ Mwo ? Ke – Kkecelakaan ? “ ucap Jieun tidak percaya.

“ Kajja…..aku akan menjelaskannya nanti, kita harus cepat “ Suzy segera menuntun Jieun untuk mengikuti langkahnya, ia tidak mempunyai banyak waktu untuk memberikan kesempatan Jieun berpikir, namun tiba-tiba sosok namja tinggi dihadapannya membuat ia berjengkit kaget.

“ Minho ? kau ? “ Ucap Suzy tak percaya

“ Aku akan bersama yeoja ini ke stasiun “ ucap Minho seraya menunjuk Jieun, Suzy masih terdiam ditempatnya, menatap tidak percaya ke arah Minho, namun tidak berapa lama ia tersenyum dan mengangguk.

“ Go-ma-wo “ ucap Suzy merasa begitu senang.

Tanpa berkata apapun Minho melangkah pergi, Suzy segera mendorong tubuh Jieun agar yeoja itu segera menyusul langkah panjang Minho.

“ Ini kau pegang saja, kalau ada apa-apa hubungi nomor namjachingumu itu “ ucap Jieun seraya memberikan ponselnya kepada Suzy yang mengernyit heran Jieun menyebut Minho namjachingunya.

….

Myungsoo memandang lemah wajah Sulli yang kini nampak sudah tenang tertidur diranjangnya, sementara tangan Sulli memegang erat tangannya seolah tidak membiarkan dirinya sedikitpun beranjak dari sisi yeoja itu.

“ Mengapa kau selalu menganggap jika dirimulah yang paling terluka ? dia telah banyak berkorban dalam hidupnya bahkan untuk dirimu yang tidak ia kenal dengan baik, aku hanya memohon padamu untuk 1 hari dalam hidupku, sebelum aku akan selamanya menjadi milikmu “ Myungsoo berkata lirih dihadapan Sulli yang matanya bahkan sudah tertutup.

“ Dia mengalami depresi berat tuan hingga kini yang ada dipikirannya hanya ingin menghilangkan nyawanya, perhatikan dan ikuti semua yang di inginkannya sekarang ini adalah obat paling mujarab, mengenai tangan yang tergores sepertinya sengaja ia lakukan karena pengaruh ketakutannya”

Kalimat uisa yang baru saja memeriksa Sulli membuat Myungsoo tidak percaya bahwa pengaruh dirinya begitu besar dengan kejiwaan Sulli, alhasil ia kini harus memasrahkan nasibnya untuk menemani Sulli dan membiarkan Jiyeon menunggunya tanpa kepastian, ia hanya berharap seseorang segera datang dan menolongnya untuk keluar sementara dari tempat ini.

Tidak berapa lama, pintu ruangan berderit, muncul Jaejoong dan Nana dengan langkah yang tergesa-gesa, keduanya terheran melihat keadaan ruangan yang sedikit kacau.

“ Myungie-ah, Wae geurae ? “ Tanya Nana heran.

Tidak ada jawaban sama sekali dari Myungsoo, putranya masih menatap wajah Sulli dengan tatapan kosong. Jaejoong perlahan mendekat dan menyentuh bahu putranya. Barulah Myungsoo tersadar, ia mendongakkan wajahnya dan sedikit lega ketika kini wajah kedua orangtuanya sudah ada dihadapannya.

“ Appa, eomma kau sudah datang ? “ ucap Myungsoo antusias diiringi tatapan tidak mengerti kedua orangtuanya.

“ Apa yang terjadi ? “ Tanya Jaejoong, namun Myungsoo dengan cepat berdiri.

“ Appa, aku akan menceritakan padamu, sekarang ini aku memiliki keperluan yang mendesak, sementara aku titip Sulli pada kalian “ Myungsoo berkata dengan terburu-buru.

“ Myungie-ah….Myung- “

Myungsoo sudah hilang dari pandangan kedunya “ Ada apa ini ? “ Tanya Jaejoong, sementara hati Nana menjadi tidak tenang, ia semakin yakin ada sesuatu yang coba disembunyikan oleh anak-anaknya.

“ Bagaimana ? “

“ Tidak ada “

“ Apa dia memutuskan untuk pergi sendiri ? “

Jieun menghela nafasnya lelah, ia dan Minho sudah berkali-kali menyusuri stasiun namun tidak berhasil menemukan sosok Jiyeon disana. Minho masih mengedarkan pandangannya, berharap matanya dapat menangkap sosok Jiyeon masih berada disini.

Minho meraih ponsel dan menekan nomor Jiyeon disana, namun tidak ada sama sekali nada tunggu, ponsel Jiyeon tidak aktif “ Dia sudah pergi “ ucap Minho yakin.

Jieun semakin tidak tenang, ia pun percaya dengan ucapan Minho, karena ia paham betul sifat Jiyeon.

“ Tidak aktif ? lalu apa yang harus kita lakukan ? “ Tanya Jieun wajah cemasnya semakin terlihat, sama seperti Minho matanya masih sibuk menyusuri seluruh sudut stasiun berharap ada Jiyeon yang terlwati dari pandangannya tadi.

“ Aku akan menyusulnya, kau kembalilah ke hotel “ ucap Minho.

“ Tapi….ini sudah terlalu malam, aku rasa tida ada lagi kereta yang menuju kesana ” Ucapan Jieun membuat Minho menghentikan langkahnya.

“ Aisshhh….” Minho mendesah kesal.

Suzy baru saja menjejakkan kakinya di dalam ruang Sulli dirawat, hal yang pertama kali ia sadari adalah ia tidak menemukan Myungsoo disana, sosok oppanya tergantikan oleh appa dan eommanya yang duduk disamping Sulli dan kini memandang tidak biasa kearahnya. Suzy menjadi resah, ia yakin jika kedua orangtuanya sudah mengetahui sesuatu yang kini sedang ia sembunyikan.

“ Kau harus menjelaskan hal ini “ ucap Jaejoong tajam.

Myungsoo baru saja tiba distasiun ketika keadaan semakin sepi, namun ia tetap berlari ke arah dimana seharusnya kereta membawa dirinya dan Jiyeon pergi, ia sadar jika ini sia-sia, Jiyeon tidak mungkin menunggunya hingga larut malam seperti ini.

“ Permisi, apa-…..” Myungsoo tidak tahu harus bertanya apa pada petugas stasiun yang ia hampiri, kereta menuju Cheongpungho tentu saja baru akan ada lagi esok pagi.

“ Kau akan bertanya apa anak muda ? “ Petugas menyadarkan Myungsoo yang sedang bergelut dengan pikirannya sendiri, alih-alih menanggapi pertanyaan petugas stasiun, Myungsoo justru berbalik dan berjalan lemah menjauh.

“ Yeonnie-ah mianhae, bahkan untuk janji yang mungkin hanya sekali tidak juga bisa kita penuhi “ ucap Myungsoo dengan penuh penyesalan

Dirumah sakit

Suzy merasa lega ia tidak menghadapi orangtuanya sendirian disaat menegangkan seperti ini, Minho dan Jieun sudah berada bersamanya setelah mereka tidak berhasil bertemu Jiyeon. Ketiganya hanya terdiam ketika Jaejoong meminta salah satu dari mereka menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jaejoong tidak mengerti mengapa Sulli yang baru tersadar mengatakan bahwa Myungsoo dan Jiyeon telah melukainya.

Disampingnya Nana terus mengurut keningnya, ia merasa masalah ini membuat migrainnya seketika kambuh.

“ Jika tidak ada diantara kalian yang bisa menjelaskan, panggil Myungie dan Yeonnie, appa mau mereka berdua yang menjelaskan “ Ucap Jaejoong terdengar menahan rasa kecewanya.

Suzy menatap eommanya terlebih dahulu, ia seolah memohon agar kedua orangtuanya tidak merasa telah dikecewakan oleh anak-anaknya.

“ Aku –sebenarnya….tidak tahu ….harus memulainya darimana, tapi….” Suzy akhirnya membuka suara, namun lagi-lagi ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ia melihat sorot mata appanya yang benar-benar kecewa dengan apa yang mereka tutupi, terlebih wajah lembut eommanya yang semakin membuat Suzy merasa bersalah.

“ Myungsoo dan Jiyeon, mereka memiliki perasaan satu sama lain “ Minho mengambil alih kalimat Suzy, dan itu sukses membuat semua mata menatapnya terkejut, Jaejoong bahkan kini memegang dadanya, ia seperti mendengar suara halilintar ketika Minho mengucapkannya, tidak kalah terkejutnya, Nana bahkan menyandarkan lemah tubuhnya pada sandaran kursi yang ia duduki seraya menggeleng tidak percaya.

“ Lelucon apa yang sedang kau ucapkan ? “ Jaejoong berkata dengan suara lantang, membuat tiga orang yeoja sempat berjengkit kaget.

Minho menundukkan kepalanya, apa yang sudah ia katakan harus ia pertanggungjawabkan, ia menarik nafas perlahan dan kembali menoleh kearah Jaejoong yang menatapnya tidak suka.

“ Aku mengatakan yang sesungguhnya, keduanya saling mencintai sejak lama, bahkan sebelum ahjussi membawa keluarga ahjussi ke Amerika, Myungsoo….sebenarnya ia ingin mengatakannya sejak dulu, hanya saja Jiyeon meninggalkan kalian tiba-tiba, sebelum sempat Myungsoo berkata jujur tentang perasaannya, setelah kembali keadaan semakin rumit, karena Sulli hadir disisi Myungsoo “ Minho menghentikan kalimatnya, nampak Jaejoong hanya terdiam mendengar apa yang Minho katakan, Jaejoong sangat terpukul mengetahui hal ini dialami kedua anaknya.

Suzy mendekat kearah eommanya dan menggenggam erat tangan Nana, wanita yang berhati lembut itu sudah tidak bisa lagi menghentikan tangisannya.

“ Kau kenapa ? Yeonnie-ah ada apa denganmu ? “

“ Katakan pada eomma, apa yang kau rasakan eoh ? “

“ Ahniya eomma, aku hanya terlalu senang bersamamu..hiks..hiks”

Nana kembali teringat ketika Jiyeon menangis untuk suatu hal yang ia tidak tahu hingga kini mengapa malam itu Jiyeon menangis, dada Nana terasa sesak ketika akhirnya perasaan kedua anaknya terbongkar, ia dapat merasakan betapa keduanya sangat menderita sekarang ini.

“ Ahjussi-ahjumma Myungsoo dan Jiyeon sama sekali tidak bersalah, keduanya telah melalui banyak penderitaan dengan perasaannya. Aku mohon dengan sangat kau tidak menambah lagi kesedihan mereka, Myungsoo…..ia tetap akan bertanggungjawab pada Sulli, hari ini biarkan keduanya bersama, Myungsoo akan kembali pada Sulli “ Ucapan Minho diakhir tidak lantas membuat Jaejoong merasa tenang, ia bukan seseorang yang keras seperti terlihat dari luar.

Jaejoong tidak tahu harus melakukan tindakan apa saat ini, bahkan untuk sekedar membuka mulutnya saja tidak lagi ia sanggup, ia berdiri dan melangkah meninggakan ruangan. Ia sangat menyayangi anak-anaknya, terlebih Jiyeon….ia tahu bahwa ia tidak pernah merawat putrinya itu dengan baik, keadaan Jiyeon saat ini sudah membuktikan bahwa ia telah berlaku tidak adil terhadap putrinya yang satu itu, namun hubungannya dengan keluarga Sulli pun tidak mungkin ia putuskan begitu saja.

Jiyeon bangkit dari duduknya dan menikmati indahnya laut dimalam hari. Suara deru ombak membuat perasaan sedihnya sedikit terobati, meski angin dimalam hari terasa begitu dingin tidak membuatnya ingin segera meninggalkan tempat itu. Jiyeon tidak benar-benar pergi ke danau Cheongpungho, ia memutuskan untuk tidak pernah ke tempat itu tanpa oppanya.

Jiyeon membungkuk meraih ranting kayu yang berada tidak jauh dari dirinya. Dipegangnya ranting itu dengan kedua tangannya, ia mulai merangkai satu persatu huruf diatas pasir tempatnya kini berpijak. Rambut panjang yang mengganggu ia selipkan disela-sela telinganya, kembali tangannya sibuk menuliskan apa yang ada dipikirannya.

Kim Myungsoo Bae Jiyeon, Bae Jiyeon Kim Myungsoo.
Bae Jiyeon!! Kim Myungsoo sangat mencintaimu.
Tapi tahukah Kim Myungsoo ? Bae Jiyeon lebih mencintaimu.
Saranghaeyo Kim Myungsoo oppa, Bae Jiyeon akan selalu mencintaimu

Bibir mungil itu tersenyum miris ketika membaca kembali kalimat yang ia kunci dengan lambang love disana. Kedua kakinya kini berjalan mundur menjauh dari kalimat yang menunjukkan perasaannya, tidak berapa lama ia membalikkan tubuhnya, meninggalkan tempat itu dan melangkah pulang.

Jaejoong dan Nana baru saja tiba dirumah, mereka meminta Suzy dan Minho untuk menemani Sulli malam ini dirumah sakit, hingga kini tidak ada kalimat yang keluar dari mulut Jaejoong, ia hanya diam sejak diperjalanan tadi.

Jaejoong segera masuk ke dalam kamarnya, melepaskan sendiri jas dan dasi yang melekat pada tubuhnya, hal yang tidak pernah lagi ia lakukan ketika Nana berada disampingnya.

“ Myungsoo dan Sulli akan tetap bersama, aku mohon padamu jangan lagi menghukum mereka, apa yang Myungsoo dan Jiyeon lakukan merupakan pengorbanan besar dalam hidupnya “ Nana mencoba menenangkan nampyeonnya yang terlihat resah.

Jaejoong masih tidak percaya anak-anaknya memiliki perasaan saling mencintai dan menyimpannya begitu lama, namun ia tidak mungkin membatalkan pertunangan Myungsoo dan Sulli dengan alasan seperti ini, terlebih dengan keadaan Sulli yang memburuk karena kejadian ini, ia tidak tahu akan bagaimana menghadapi keluarga Choi nanti.

“ Panggil Myungie dan Yeonni, aku akan membicarakan ini pada mereka “ Titah Jaejoong kepada anaenya.

Nana seketika terdiam, kekhawatirannya kembali datang namun ia tidak mungkin mengabaikan perintah nampyeonnya.

Jiyeon memandang rumahnya dari kejauhan, ia hanya berdiri disana tanpa melakukan apa-apa, kamar oppanya diatas sana nampak gelap, menunjukkan jika namja itu tidk sedang berada disana.

“ Aku tidak bisa berpura-pura mencintai hujan, karena sebenarnya yang aku sukai adalah pelangi. Jika tidak ada pelangi saat ini, aku harus lebih bersabar ia pasti akan datang setelah hujan-hujan lainnya “ Ucap Jiyeon lirih, namun….

“ Berapa banyak lagi hujan yang harus kau tunggu ? Seharusnya kau sudah bisa melihat pelangi sejak lama, tapi kau selalu berpura-pura merasa nyaman didalam rumahmu, kau tidak pernah mau keluar dan berani mencari dimana letak pelangi setelah hujan besar kau rasakan, bahkan pelangi itu berada tepat dihadapanmu “

Deg…..

Suara itu, suara yang menyahutnya dari belakang, ia benar-benar merindukan suara itu. Jiyeon terdiam, jika ia membalikan tubuhnya sekarang maka ia akan menjadi tidak terkendali dan akan langsung menghambur untuk memeluk tubuh si pemilik suara, ia menginginkannya, sangat menginginkannya.

Hug…

Jiyeon terkesiap, ia masih berkutat dengan pikirannya namun tubuhnya kini berubah begitu hangat, bahkan indera penciumannya bisa menangkap aroma khas seseorang yang dibelakangnya, namja itu memeluknya, memeluknya begitu erat dan mengalungkan kedua tangannya dileher Jiyeon.

“ Mianhae……karena hampir membuatmu dalam bahaya jika saja waktu itu aku tidak datang tepat pada waktunya, mianhae ….. jika hari ini telah membuatmu menungguku, dan mianhae….karena lagi-lagi kita harus melalui banyak hambatan “ ucap namja yang ternyata adalah Myungsoo.

Myungsoo begitu bahagia akhirnya ia dapat menemukan Jiyeon, awalnya ia tidak berniat melangkah ke rumahnya, tapi entah mengapa kakinya menuntun ia kearah sana. Myungsoo tidak bisa mengendalikan dirinya ketika sosok itu ia temukan, ia berlari meski tubuhnya begitu lelah hanya untuk merasakan hangat tubuh yeoja itu, ia tidak lagi ingin terpisah. Cukup….tidak akan lagi, ia tidak akan menyerah untuk melawan apapun, meski ia harus pergi jauh asal Jiyeon berada disampingnya, ia akan rela melepaskan apapun.

Myungsoo menarik tangannya yang melingkar di leher Jiyeon, meletakkannya kini dibahu Jiyeon, perlahan ia membalikkan tubuh itu, membuat yeoja itu kini menghadapnya. Yeoja itu menangis, namun wajahnya tetap terlihat begitu cantik dan bersinar. Myungsoo menyukai wajah Jiyeon yang seperti ini, menangis dan tersenyum bersamaan.

Tangan Myungsoo meraih lembut pipi Jiyeon, mengusap air mata yeoja itu dengan kedua ibu jarinya, Jiyeon hendak menunduk tapi tangan Myungsoo segera menangkup dagu yeoja itu, menghalanginya untuk menunduk. Lama keduanya hanya saling bertatapan, hingga sesuatu seolah mendorong Myungsoo untuk mendekatkan wajahnya ke arah Jiyeon, ketika hampir tidak ada jarak lagi diantara keduanya Myungsoo menurunkan sedikit wajahnya agar bibirnya tepat menyentuh kening Jiyeon, matanya terpejam seolah ingin mencurahkan semua yang ia rasakan, Jiyeon menelan dengan susah payah air liurnya, apa yang Myungsoo rasakan begitu tersampaikan baik dihatinya, ia pun memejamkan matanya, aliran darah Jiyeon semakin cepat seiring dengan sentuhan lembut tangan Myungsoo dilehernya, deru nafas Myungsoo menyapu lembut setiap bagian wajah Jiyeon yang ia lewati, bibir Myungsoo semakin turun dan ia kembali mengecup ujung hidung Jiyeon, Jiyeon masih belum berani membuka matanya, dan ia hampir tidak bisa bernafas ketika bibir Myungsoo tepat berada dibibirnya kini, ini adalah kedua kalinya Myungsoo melakukan itu padanya, namun ini terasa berbeda, Jiyeon begitu menginginkan oppanya melakukan ini padanya.

Langit dan pekatnya malam menjadi saksi apa yang keduanya lakukan, mereka seolah tidak peduli dengan jalan terjal yang menunggu didepannya, hanya ingin seperti ini. Menumpahkan segala perasaan yang sejak lama susah payah mereka menahannya, tidak hanya Myungsoo, Jiyeonpun bertekad tidak ingin lagi menyerah pada takdir. Myungsoo sudah membuktikannya bahwa ia berani melindunginya, ia pun tidak akan lagi menyiksa namja yang sangat ia cintai ini, ia akan bersama Myungsoo menghadapi semua rintangan.

“ Saranghaeyo oppa “ ucap Jiyeon sesaat setelah Myungsoo melepaskan tautan bibirnya.

Tak elak membuat Myungsoo terhenyak, akhirnya ia mendengar kalimat itu, meski ia tahu perasaan Jiyeon yang sesungguhnya, namun ia benar-benar mendengarnya langsung dar bibir Jiyeon

“ Aku tidak akan memintamu untuk mengulangnya, nan jeongmal saranghaeyo “ Kali ini Myungsoo yang meneteskan airmata, ia begitu terharu menatap Jiyeon.

Myungsoo mengalihkan pandangannya kearah tangan Jiyeon, dengan lembut ia memasukkan jari-jarinya ke sela-sela jari Jiyeon, seperti ada sengatan listrik yang mengigit ketika jari keduanya bertautan.

“ Kajja kita akan melakukannya bersama “ Myungsoo menarik tangan Jiyeon dan melangkah membawa Jiyeon menuju rumahnya.

“ Mwo ? jadi maksud uisa, Sulli eonni akan sering kambuh jika ia sedikit saja merasa stres atau tertekan ? “ Suzy begitu terkejut mendengar keterangan uisa, Minho disampingnya tidak kalah terkejut mendengar informasi yang disampaikan uisa yang menangani Sulli.

“ Apa penyakit ini sudah lama ia derita ? “ Tanya Minho penasaran.

“ Nde, saya baru saja mendapatkan riwayat penyakit nona Sulli dari dokter pribadinya di Amerika Serikat, 4 tahun yang lalu ia mengalami hal yang sama seperti ini, ia mengalami depresi karena tekanan orangtuanya yang menginginkan dia untuk meneruskan perusahaan orangtuanya, ia hampir saja melukai dirinya sendiri bahkan jika ia terus ditekan ia juga bisa membahayakan orang lain “ Ujar uisa panjang lembar.

Suzy dan Minho terdiam dan saling berpandangan “ Baiklah, kamsahamnida uisa “ ucap Minho langsung memegang tangan Suzy dan membawanya segera keluar dari sana. Keduanya kembali ke dalam ke ruang Sulli dirawat, masing-masing dari keduanya sibuk dengan segala pikirannya.

“ Eoh kalian, aku sudah mendapatkan kabar tentang Jiyeon “ Ucap Jieun spontan, namun ia menyadari jika suaranya bisa membuat Sulli tersadar dari tidurnya, meski obat penenang masih mengendalikan tubuh Sulli.

“ Jeongmal ? dimana dia ? “ Minho reflek menanggapi Jieun.

“ Ia bilang ia baik-baik saja, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ia akan kembali kerumah, oleh sebab itu maaf aku harus pergi sekarang, dia tidak boleh sendiri disaat seperti ini “ ucap Jieun segera berdiri dan hendak berlalu.

“ Eoh aku sendiri saja, sebaiknya kalian tetap disini menemani wanita itu, jika sendiri akan sangat merepotkan “ ucap Jieun yang sadar Minho seolah ingin ikut dengannya menemui jiyeon.

“ Baiklah, beri kabar kepada kami “ ucap Minho.

Sepeninggalan jieun…

“ Mungkin pikiranku sangat jahat, tapi bukankan keadaan Sulli eonni merupakan keuntungan bagi oppaku untuk memutuskan pertunangan mereka, orangtuaku pasti tidak akan mengijinkan oppaku bersama dengan seseorang yang mengalami penyakit yang sewaktu-waktu membahayakan semua orang “ ucap Suzy yakin.

Minho hanya terdiam, pikiran Suzy ada benarnya, namun kembali hatinya merasa berat mengakui bahwa tangan Tuhan sedang bekerja untuk mempersatukan Myungsoo dengan Jiyeon. Namun ia kini tersenyum dan mengangguk menyetujui ucapan Suzy.

“ Aku rasa orangtua Sulli menyembunyikannya dari orangtuamu, semoga ini awal yang baik untuk Myungsoo dan Jiyeon “ ucap Minho tersenyum getir.

TBC

Mianhae, bahasa berantakan, plotnya juga rada ga jelas…..wkkwkwkkw, ah entahlah, seperti sinetron indo yang dipaksa untuk buat jalan cerita ya ? ini mungkin kurang memuaskan….tapi author berharap kalian tetap setia untuk mengikuti, ini belum berakhir, masih ada 1 part tersisa, berharap author bisa membuat kalian puas di chap terakhir ya….gomawo untuk yang udah setia komen dari part 1 hingga 18 kemarin, bahkan ada yang baru baca dan langsung kebut, jeongmal gomawoyo.

98 responses to “[ CHAPTER – PART 19 PRE FINAL ] RAINBOW AFTER THE RAIN

  1. jiahhh … pantess aja klakuan.a kyak gtu .. ternyata sulli Sakitt … takdir yg akan menyatukkan jiyeon dan myungsoo …

  2. hmmm perasaan memang gk pernah di ubah ya…kdang kta harus jalani dgan tantangan demi cinta q…shalut sma myungyeon tetao pertahankan cinta mreka. dan terjawab juga jiyeon mencintai myung… wooowww so lanjuttt ahhh. ..mianhae q bner 2 terharu dan seneng.harunya mreka bersama. senengnya baru nemu ff myungyeon ini so just like myungyeon together Love 4 everrrr……. jjang myungyeon daebakkk good luck author

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s