[Chapter – Part 13] Love is NOt A Crime

LINAC 1Part Sebelumnya:

PROLOG [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11]

[12]

Poster by: kimleehye19

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Lee Donghae, Shindong SJ, Jung So Min, Hwang Chansung, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

PG – 13

Sesuai permintaan readers, aku publish chapter ini gak lama setelah chapter 12. Semoga tidak mengecewakan yaa🙂

 *****

Sesuai permintaan Soo Jin, tubuh Jiyeon dibawa ke gereja oleh para biarawati yang dekat dengannya. Rupanya Soo Jin dan para biarawati tersebut sudah memiliki rencana untuk menyelamatkan Jiyeon dari pengaruh racun mematikan yang kini telah menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Nyonya, tubuh putri Anda tergolong kuat melawan racun itu. Meski racunnya telah menyebar ke seluruh tubuh, dia masih dapat bernafas. Tapi kondisinya sangat kritis,” kata seorang biarawati yang membantu seorang tenaga medis memasangkan ventilator dan infus ke tubuh Jiyeon.
Ya, Soo Jin telah menyiapkan semua ini untuk menyelamatkan putrinya. Dia masih beruntung karena ternyata Jiyeon tidak memilih tali dan senjata api sebagai jalan untuk kematiannya. Jika Jiyeon memilih kedua cara tersebut, akan dapat dipastikan dia tidak selamat dan benar-benar tewas saat itu juga.

Flashback
Sesampainya di rumah, Presiden Park dan Soo Jin berbincang di kamar mereka. Mereka baru saja pulang dari lapas dan menyaksikan proses persiapan pemakaman untuk Jung Kyung Ho.
Soo Jin yang masih syok dengan semua yang terjadi saat di lapas, membuat Presiden Park merasa bersalah. Presiden Korsel itu sangat mencintai istri pertamanya.
“Tenanglah…” ucap presiden Park lirih untuk menenangkan Soo Jin. Namun Soo Jin tak kunjung tenang. Tangisnya malah semakin dalam.
“Aku sangat mempercayai Jung Kyung Ho dan selalu menghormatinya sebagai jenderal besar seperti dulu. Kepergiannya dengan cara seperti ini membuatku tidak tenang. Apalagi besok putriku akan dihukum mati,” kata Soo Jin dengan isakan tangis yang terdengar jelas dari kamarnya. Soo Jin yakin kalau semua ini adalah akibat ulah Haeri yang dengan liciknya membuat orang-orang yang dekat dengannya meninggal. “Aku tidak akan membiarkan putriku dibunuh olehnya.”
“Apa maksudmu?” tanya Presiden Park yang menyusul istrinya duduk di tepi ranjang.
“Yeobo, aku yakin Haeri lah yang ada di balik semua peristiwa ini. Aku yakin dia yang menyiksa Kyung Ho dan membuat Jiyeon mendapat hukuman mati. Aku harus menyelamatkan Jiyeon.”
Presiden Park tampak berpikir keras. “Apa kau memang yakin kalau dia adalah Jiyeon?”
“Naluri seorang ibu tidak pernah salah. Hatiku mengatakan bahwa dia adalah putriku. Putri yang lahir dari rahimku. Ikatan batin diantara kami sangat kuat. Aku bisa merasakan betapa sedihnya Jiyeon di sana. Itulah yamg membuatku yakin kalau dia adalah putriku.”
Dengan lembut, presiden Park mengusap punggung istrinya untuk mengurangi kepedihan yang mendalam dari istrinya itu. “Gurae, aku akan membantumu menyelamatkannya. Dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku mempercayaimu, Jung Kyung Ho, dan Jiyeon. Apa rencanamu untuk menyelamatkannya?”
Setelah mendengar pengakuan dari presiden Park, seketika itu juga Soo Jin menghentikan tangisnya. “Aku akan meminta bantuan para biarawati dan tenaga media khusus gereja untuk membantuku. Semoga besok Jiyeon tidak memilih senjata api dan tali.”
“Gurae, aku yang akan menyiapkan tenaga medis dan ahli racun secara diam-diam.
Flashback end

Seorang ahli racun juga ada dalam mobil ambulance itu. Semalam dia berusaha meracik ramuan yang dapat menangkal racun mematikan yang sangat berbahaya yang kini tengah menyebar di seluruh tubuh Jiyeon.
“Jangan sampai racunnya menyebar ke jantung. Akan sangat bahaya jika jantungnya terkena racun. Beruntung tubuhnya sangat kuat sehingga kita bisa melakukan upaya pengeluaran racun itu.”
Seorang biarawati, ahli racun dan tenaga medis sedang melakukan pengobatan tradisional akupunktur untuk menghambat penyebaran racun di tubuh Jiyeon. Meski efeknya tergolong lambat, akupunktur itu berhasil menghentikan penyebaran racun dan sekarang tinggal menetralisir racun itu atau mengeluarkan racunnya sekalian. Semua tindakan penyelamatan Jiyeon dilakukan di dalam mobil ambulance menuju gereja. Para biarawati dapat membujuk kepala polisi untuk tidak mengawasi mereka. Apakah mereka tidak percaya kepada para pelayan Tuhan? Itulah yang dikatan oleh para biarawati itu untuk menolak pengawalan dari polisi. Jika mereka mendapat pengawalan polisi, tentu saja mereka tidak akan bjsa menyelamatkan nyawa Jiyeon.

Di Korea Utara, Myungsoo dan presiden Kim sedang mengadakan pertemuan tertutup untuk membahas Korsel. Mereka telah mendapat banyak ancaman dari dunia luar karena terbukti mengembangkan senjata pemusnah massal alias nuklir di negara itu. Presiden Kim berpendapat bahwa percuma saja mereka mengembangkan nuklir itu jika tidak digunakan secepat mungkin karena sudah dapat dipastikan, Amerika akan mengambil alih proyek itu. Jika itu terjadi, maka sia-sia usaha mereka menciptakan suatu senjata yang sangat ditakuti oleh semua orang di dunia.
Myungsoo menyarankan agar presiden Kim tidak tergesa-gesa dalam melakukan penyerangan ke Korsel. Mereka harus memikirkan strategi sebaik-baiknya. Ini adalah perang antar negara meskipun mereka merupakan bangsa satu rumpun.
Pecahnya Korea Utara dan Selatan setelah masa Joseon yang diakhiri oleh penjajahan Jepang, membuat berbagai pihak yang tidak menyetujui pemecahan wilayah itu geram dan menyatakan penolakan mereka. Dulu waktu masih berada pada masa kekuasaan Joseon yang berakhir pada tahun 1019, Korea Utara dan Selatan adalah satu kesatuan yang utuh. Namun sayang, setelah penjajahan Jepang, Korea pecah jadi dua dan pada awalnya masing-masing dari mereka tidak saling menghormati.
Kembali ke Myungsoo. Dia menyarankan presiden Kim untuk menggunakan taktik halus untuk bisa memperdaya Korsel. Jika mereka tetap tidak dapat ditaklukkan, nuklir adalah satu-satunya cara untuk menyerang mereka.
“Bukankah kita sudah sepakat sejak awal untuk menggunakan strategi itu, abeoji…”
Presiden Kim menatap putra semata wayangnya. Benar juga, pikirnya. “Jadi, kita akan melakukan negosiasi dengan Selatan? Cara itu terlalu halus.”
Myungsoo mengerutkan keningnya. “Terlalu halus?” Ekspresi wajahnya semakin serius. Begitu juga dengan Presiden Kim.
“Apa kau tidak mendengar kabar terbaru dari selatan?” tanya Presiden Kim.
Pertanyaan apa lagi ini, pikir Myungsoo. “Kabar tentang apa?”
“Jung Kyung Ho meninggal. Kemarin. Dia mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya akibat penyiksaan yang dilakukan oleh pihak Selatan. Bukankah ini namanya penghinaan untuk Utara?”
“Mwo? Kyung Ho saem meninggal?” Myungsoo merasa sakit hati mendengar kabar yang menusuk jantung ini. “Bagaimana mungkin? Bagaimana appa bisa tahu?”
“Apa kau pikir aku tidak mengirim mata-mata ke Selatan?”
Myungsoo terdiam. Dalam hatinya, dia menangis kehilangan Jung Kyung Ho. ‘Apakah Gongju dan Jaejoong sudah mengetahui hal ini?’ batinnya. “Gurae, appa. Langsung saja gunakan rencana B. Aku akan membuat mereka lebih sakit hati.” Myungsoo mengepalkan tangan kanannya. Dia sangat kesal pada tindakan orang-orang Selatan yang seenaknya saja.
“Kalau begitu. Cepatlah ambil tindakan pendekatan. Jika sudah berhasik, aku sendiri yang akan ke Selatan untuk menuntaskannya.”
Putra tuan Kim menganggu mantab. Sejurus kemudian ia pamit undur diri karena ingin segera pergi ke suatu tempat.

Myungsoo sedang dalam perjalanan menuju tempat Jaejoong. Rupanya dia ingin membicarakan suatu hal dengan oppa dari Gongju itu. Tak berselang lama, Myungsoo sampai di depan kediaman keluarga besar Gongju namun ada yang aneh. Semua pintu tertutup dan rumah itu nampak sepi tak ada aktivitas dari seorang manusia di sana. Myungsoo membuka pintu gerbang, berhasil. Rupanya pintu gerbang tidak dikunci sehingga ia bisa masuk ke dalam halaman rumah.

Tok tok tok!
Myungsoo mengetuk pintu yang terbuat dari kayu tua itu.  Ia mengetuknya beberapa kali. Tak ada jawaban dari siapapun, baik dari Jaejoong, Jung Soo Min, maupun Shindong.
“Kenapa sepi sekali? Kemana mereka pergi?” tanya Myungsoo pada dirinya sendiri karena di sana tak ada orang yang bisa diajak bicara. Myungsoo melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumah Hanok itu. Dia masih memandang tiap sisi rumah itu, berharap ada yang tiba-tiba menampakkan diri untuk bicara dengannya. Namun harapannya musnah. Rumah itu sepi.

Karena tak berhasil menemukan Jaejoong di rumahnya, akhirnya Myungsoo menghubungi ponsel Jaejoong.
“Yoboseo…”
“Hyung, eodiseo?” tanya Myungsoo yang tengah merasa lega karena Jaejoong mengangkat telepon darinya.
“Wae?”
“Aku ada di depan rumahmu tetapi rumahmu sepi sekali. Kalian ada dimana?”
“Kami dalam perjalanan menuju Utara. Kau pasti tahu alasannya.”
“Ne, hyung. Aku turut berduka atas meninggalnya Kyung Ho saem. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan langsung denganmu, hyung. Aku tidak bisa bicara di telepon. Akhir-akhir ini banyak penyadapan entah dilakukan oleh siapa. Kau bisa bertemu denganku? Atau aku yang akan mendatangimu.”
“Aku yangbakan mendatangimu, Myungsoo-a. Kau adalah putra presiden, jika kau berkeliaran di luar, akan ada banyak orang yang melihatmu. Jung Soo Min ahjumma dan Shindong ahjussi akan aku minta ke Utara duluan. Kita bertemu di rumahku. Jadi, tunggulah di teras. Jangan di depan rumah. Berbahaya.”
“Eoh, araseo hyung. Aku menunggumu di sini. Annyeong.”

Klik! Sambungan terputus. Myungsoo menuruti kata-kata Jaejoong untuk menunggunya di teras rumah. Dia celingukn kanan-kiri melihat-lihat kondisi rumah itu. Hanok tradisional yangbsederhana tetapibsangat bersih dan indah dipandang mata, tidak seperti rumahnya sendiri yang patut disehut istana raja namun membosankan jika dipandang mata. Myungsoo berjalan mondar mandir, bolak-balik menunggu Jaejoong yang tak kunjung datang. “Aish, apa dia pikir aku tidak punya kegiatan lain selain menunggunya di sini? Hyung eodiseo?” gerutu Myungsoo yang sudah tak sabar lagi menunggu Jaejoong.

Kriiiet! Pintu gerbang terbuka. Muncullah Kim Jaejoong dengan ekspresi datarnya seperti biasa. Myungsoonlega melihat orang yang ia tunggu akhirnya datang juga.
“Hyung,” panggil Jaejoong.
“Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan! Waktuku tidak banyak.” Jaejoong berdiri tegak di depan Myungsoo.
“Tentang Kyung Ho saem. Apa kabar itu benar?”
Jaejoong mengangguk.
“Aku punya rencana untuk membalas perbuatan mereka hyung.”
“Apa kaubtahu siapa yang melakukannya?”
“Tak peduli siapa yangbmelakukannya, sudah pasti orang Selatan. Maka mereka harus menanggung resikonya. Menyiksa Kyung Ho saem dan sampai meninggal merupakan suatu penghinaan kepada negara kita.”
“Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu. Tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan. Aku harap kau tidak buru-buru melakukan hal konyol dengan senjata pemusnah massalmu itu.”
“Anhi, hyung. Aku akan menggunakan pendekatan secara halus. Jika aku langsung menggunakan nuklir itu, seluruh masyarakat dunia akan menghujat dan mengutukku.”
“Baguslah kalau kau tahu. Lakukan pendekatanmu itu. Aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan di Utara.” Jaejoong mengatakan hal itu karena dia sudah tahu kalau Jiyeon telah menjalankan hukuman mati. Namun dia tidak tahu kalau sebenarnya Jiyeon masih bisa diselamatkan. “Apa masih ada yang ingin kau sampaikan?”
Myungsoo terdiam. Sebenarnya masih banyak yang ingin dia bicarakan dengan Jaejoong namun sepertinya Jaejoong tidak ada waktu untuk mendengarnya. “Aku ingin bertanya satu hal. Dimana Gongju, hyung? Aku sudah lama tidak berjumpa dengannya. Apa dia masih di Jepang?”
Kiji Jaejoong yang terdiam. Dia berusaha mencari alasan yang logis. “Ne, dia masih di sana. Tapi dia belum tahu kalau Kyung Ho saem sudah meninggal.”
“Jinjja? Kapan dia pulang?”
“Mollaseoyo. Ah, aku pergi dulu. Aku sarankan, jika kau ingin mendekati Park Soo Hee, lakukan seperti caranya mendekatimu. Itu akan berguna untukmu.” Jaejoong bergegas meninggalkan Myungsoo karena dia harus segera ke Utara untuk memberi penghormatan di makam Jung Kyung Ho.

Myungsoo malah bengong. ‘Bagaimana dia tahu kalau aku berencana mendekati Soo Hee?

Myungsoo masih berdiam diri dengan duduk bersandar di teras rumah Jaejoong. Pikirannya kacau. Dia ingin mencari Gongju tetapi ia tidak tahu dimana Gongju berada karena Jaejoong hanya mengatakan kalau Gongju ada di Jepang. ‘Aku harus melakukan sesuatu malam ini juga.‘ Tak lama kemudian Myungsoo menghubungi Departemen Kependudukan dan pihak Imigrasi. Entah apa yang ingin dilakukan oleh Myungsoo.

Sementara itu, Jaejoong, Jung Soo Min dan Shindong telah berada di Selatan. Mereka sangat berhati-hati agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada mereka. Setelah tiba di depan makam Kyung Ho, mereka melakukan penghormatan seperti biasa yang dilakukan oleh orang Korea saat mengunjungi makam seseorang. Berdiri dengan menautkan kedua tangan di depan kepala lalu bersujud di depan makam dengan pelan-pelan.
Ketiganya tak kuasa menahan airmata. Bahkan Jaejoong telah membasahi wajahnya dengan banyak airmata.
“Seonsaengnim, aku sama sekali tidak menyangka Anda akan pergi secepat ini. Katakan padaku siapa yang melakukan ini, seonsaengnim. Katakan padaku apa dia yang melakukannya padamu?” Jaejoong terisak dalam tangisnya. Dia teringat masa-masa kecilnya bersama dengan Gongju, Myungsoo dan Kyung Ho yang setiap hari latihan bela diri.

Flashback
Matahari telah mencapai puncak. Teriknya sungguh menyengat apalagi saat ini musim panas sedang menghampiri negara-negara subtropis. Melihat murid-muridnya telah kelelahan dan tak semangat lagi, Jung Kyung Ho menyuruh mereka beristirahat. Gongju dan Jaejoong menancapkan pedang mereka di atas tanah. Lalu mereka duduk di sampingnya.
“Tarik nafas, lepaskan. Tarik nafas, lepaskan,” Myungsoo yang tengah duduk di teras sedang memandu dirinya sendiri untuk mengatur pernafasan.
Gongju tertawa melihatnya.
“Yaaak, waeyo?” tanya Myungsoo pada Gongju yang menertawakannya. Ia tidak terima jika ditertawakan.
“Anhiyo. Oppa, lakukan dengan baik!” kata Jiyeon dengan menahan tawa.
Sementara Jaejoong malah terbaring di samping Gongju dan menutup kedua matanya.
“Oppa, kau tidur?” tanya Gongju.
“Anhi. Aku hanya memejamkan mata sebentar.”
Gongju cekikikan. “Yaak, oppa! Itu namanya tidur. Issh! ada apa dengan kedua oppa ini?”
Dalam hatinya, Jaejoong menertawakan ucapan Gongju. Namun dia mengekspresikannya hanya dengan senyuman tipis khas Jaejoong.
“Musim panas terasa lama sekali.” Tiba-tiba Kyung Ho buka suara.
Gongju menoleh ke arah gurunya dengan senyum. “Seonsaengnim, jika kita ada di musim panas memang terasa lama. Tetapi jika berada di musim dingin malah terasa semakin lama.”
“Kau benar juga. Bersyukurlah karena kita masih dapat menikmati semua musim.”
Jaejoong dan Myungsoo dapat mendengar percakapan antara Gongju dan Jung Kyung Ho namun mereka tetap pada ekspresi masing-masing dan tetap melakukan apa yang tengah mereka lakukan. Myungsoo bersandar pada dinding rumah dam merelekskan otot-ototnya, sedangkan Jaejoong menutup matanya meski dia tidak tidur.
‘Aku akan menjagamu agar kau tetap menikmati semua musim, Gongju-a,’ batin Jaejoong. Sesaat kemudian dia tersenyum sendiri. Beruntung tak ada yang melihatnya.
Flashback end.

Jaejoong, Soo Min dan Shindong masih berdiri terpaku di depan makam Jung Kyung Ho. Meski terik matahari menyengat, mereka tetap tak beranjak sedikit pun dari tempat itu. Mereka ingin merasakan apa yang dirasakan oleh Kyung Ho. Meski panas matahari tak sebanding dengan penyiksaan yang diterima Kyung Ho, setidaknya mereka telah merasakan ketidaknyamanan seperti yang dirasakan oleh Jung Kyung Ho.
“Apakah benar orang itu yang melakukannya?” tanya Shindong memecah keheningan siang itu.
“Maksudmu siapa?” tanya Soo Min balik.
“Dia, Haeri. Bukankah dia adalah orang yang menusuk Gongju pada waktu masih bayi?”
“Ahjussi, apakah kita pantas membucarakan hal itu di depan makam Kyung Ho saem?” Jaejoong menatap Shindong yang masih tertunduk.
Shindong mengangkat kepalanya. “Aku rasa tidak apa-apa jika kita membahasnya di sini. Kau ingin membahasnya dimana selain di tempat ini? Tempat ini adalah tempat teraman untuk kita.”
Sontak Soo Min menoleh kanan-kiri melihat gundukan tanah di sekelilingnya.
Jaejoong menarik nafas panjang dan menghembuskannya asal. “Tadi aku bertemu dengan Myungsoo. Rupanya dia juga sudah tahu tentang kematian Kyung Ho saem namun dia belum tahu kalau Gongju juga ada di Selatan.”
Soo Min dan Shindong menoleh ke arah Jaejoong dengan menyipitkan mata agar cahaya matahari tak menghalangi pandangan mereka.
“Lalu apa yang dikatakannya?” tanya Soo Min.
“Dia akan melakukan sesuatu untuk membalas kematian Kyung Ho saem.”
“Mwoya?”
“Jangan pikirkan hal itu, ahjussi. Kita fokus pada Gongju. Aku dengar, Gongju telah dihukum mati namun tubuhnya dibawa ke sebuah gereja oleh ibu kandungnya.” Jaejoong membeberkan segala yang ia tahu dari para mata-mata yang dia kirim ke Selatan.
“Rupanya mata-matamu sungguh tangguh dan cerdas. Mereka berhasil mencari kabar terbaru di Selatan. Kita cari tahu dimana letak gereja yang dituju oleh ibu kandung Gongju.”
“Kau benar, ahjussi. Aku yang akan mencarinya. Kita harus tinggal di sini untuk beberapa hari.”
“Kami setuju,” kata Soo Min mantab.

Malam telah tiba. Sesuai dengan rencananya tadi siang, Myungsoo akan melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya. Ya, hal ini juga yang disarankan oleh Jaejoong tadi siang. Myungsoo akan mengikuti cara Soo Hee dalam mengejar cintanya. Dengan berbekal dokumen dan identitas palsu, Myungsoo melangkahkan kaki di perbatasan antara Korut dan Korsel. Dia menyamar sebagai seorang mahasiswa jurusan broadcast di Korut. Bagi Myungsoo, sangatlah mudah mendapatkan dokumen-dokumen dan identitas palsu itu karena dirinya adalah putra presiden Korut. Sebenarnya Myungsoo ragu melakukan penyusupan seperti itu. Namun tak ada cara lain selain ini. Dia harus berhasil.
Para petugas memeriksa identitas dan dokumennya. Myungsoo berusaha setenang mungkin dan berakting dengan baik.
“Untuk apa kau pergi ke Korsel?” tanya petugas yang tengah berjaga.
“Aku hanya ingin mengembangkan kemampuanku di sana. Jangan khawatir, aku tidak akan lama berada di Selatan karena kuliahku masih berjalan seperti biasa. Jika kau mengijinkanku masuk, aku akan segera keluar dari Selatan sesuai janjiku,” terang Myungsoo yang langsung mendapat anggukan kepala dari petugas itu.
Myungsoo diijinkan memasuki Selatan setelah menjalani beberapa pemeriksaan. Pemeriksaan yang dilakukan di perbatasan tidak akan seketat itu jika tak ada insiden berdarah yang terjadi beberapa waktu lalu.
Dengan santainya, Myungsoo melenggang pergi untuk mencari penginapan. Dia harus merencanakan langkah selanjutnya di sebuah tempat untuk tinggal sementara waktu.

Ternyata penginapan yang disewa oleh Myungsoo adalah penginapan yang disewa oleh Jaejoong dan yang lainnya. Namun sayangnya, mereka tidak melihat satu sama lain karena memang tidak tahu jika mereka tinggal di penginapan yang sama.
Myungsoo melepas kostumnya dan membuat rencana untuk bertemu dengan Soo Hee. Ia telah mengirim surat pada Soo Hee, entah kapan surat itu akan jatuh ke rangan yeoja yang dikenal sebagai putri presiden Korsel itu. Sembari menunggu surat itu sampai ke tangan Soo Hee dan Soo Hee mengirim SMS padanya, Myungsoo memejamkan mata sebentar untuk melepas lelah.

Myungsoo pov.
Selama berhari-hari badanku terasa sangat lelah. Kalau seperti ini terus, aku bisa cepat tua. Semoga yang aku lakukan ini adalah langkah yang tepat untuk misiku dan Jaejoong. Ah, aku lupa belum membeli sesuatu yang bisa aku makan. Aigoo, Kim Myungsoo, kau menjadi pelupa begini. Terpaksa, aku harus turun lagi dari lantai 6 ini hanya untuk membeli makanan. Aku tidak mungkin memesan sesuatu melalui telepon. Di sini pasti sangat mudah melacak dan menyadap sambungan telepon. Bahaya. Sabar Kim Myungsoo.

Cekleeek!
Pintu kubuka, kepalaku keluar lebih dulu untuk melihat situasi diluar sana. Sepi, aman. Akupun keluar dari kamar dengan menggunakan penyamaranku seperti tadi. Tidak lupa kacamata besar yang kupakai tadi tetap melekat di wajahku. Menambah aneh pada wajah tampanku. Aku berjalan santai seperti orang-orang lainnya. Di sini pasti tidak ada yang mengenali wajahku apalagi bahasa tubuhku. Mereka tidak akan peduli pada orang Korea apalagi putra Presiden. Haha… kalau seperti ini, penyamaranku tidak akan ketahuan.
“Jeogi.”
Tiba-tiba aku mendengar seseroang yang berada di belakangku memanggil seseorang. Apakah dia memanggilku? Akupun menoleh ke belakang.
Omo! Jung Soo Min ahjumma?
Dia berjalan pelan mendekatiku. Kedua matanya menatapku lekat-lekat. Kali ini aku pasti ketahuan.
“Apa ini putra presiden Kim?” tanya Jung Soo Min ahjumma dengan masih menatapku lekat.
Aku kebingungan. Apa yang harus aku katakan? Akhirnya aku mengetik sesuatu di ponselku lalu menunjukkannya pada Soo Min ahjumma.

“Ahjumma, ini benar-benar aku, Kim Myungsoo putra presiden Kim. Tolong jangan terkejut melihatku ada di sini.”

Ahjumma menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Aku membawanya untuk menjauhi kamera CCTV.
“Kim Myungsoo?” tanya Jung ahjumma yang massh tidak percaya melihatku ada di Korsel.
Aku mengangguk.
“Bagaimana bisa ada di sini?” tanyanya lagi.
“Entahlah ahjumma. Aku hanya mengikuti kata hatiku. Sebenarnya aku punya satu misi. Apa Jaejoong hyung juga ada di sini?” tanyaku dengan suara lirih setengah berbisik agar tidak ada yang dapat mendengar percakapan kami berdua.
Jung ahjumma mengangguk. “Kami bertiga menginap di sini. Kebetulan tadi aku baru saja membeli makanan dan melihatmu. Aku yakin kau adalah Kim Myungsoo. Makanya aau memberanikan diri bertanya padamu. Sesangi… ternyata benar kau Kim Myungsoo.”
“Ahjumma, sebenarnya kenapa kalian masih ada di sini? Bukankah kalian hanya ingin memberi penghormatan di makan Kyung Ho saem?”
Tiba-tiba Jung ahjumma menangis. Ada apa dengannya?
“Ahjumma, kenapa kau menangis?” tanyaku yang tentu saja bingung karena aku tidak merasa telah menyakiti Jung ahjumma.
Jung ahjumma mengusap airmata yang membasahi wajahnya. “Aku… aku…”
“Ahjumma, bicaralah pelan-pelan. Katakan saja apa yang terjadi?” Aku memegang bahu ahjumma agar dia merasa kuat untuk mengatakan hal yang dipendamnya.
Yeoja paruh baya yang sedang berdiri di depanku itu menarik nafas panjang dan menghentikan tangisnya. “Gongju… Gongju ada di sini.”
Jlegeerrr!
Bagai disengat listrik puluhan ribu volt, jantungku berdegub kencang. Firasat buruk menghampiri benakku. “Gong..ju? Ada di sini? Untuk apa Gongju ada di sini?” tanyaku dengan nada sangat serius. Kali ini tak ada wajah manis yang kutunjukkan pada ahjumma. “Ahjumma, katakan apa yang terjadi pada Gongju?”
“Dia… dia… dihukum mati di sini.”
“Mwo? Andwae. Apa salah Gongju?”
“Gongju terlibat perang di perbatasan. Dia marah saat tentara Korsel menembak mati jenderal Lim. Maka dari itu Gongju membalas dengan membunuh Jenderal Hwang dari Korsel. Dia dihukum mati atas kejadian itu.”

Sungguh aku tak sanggup berdiri lagi. Entah kenapa kedua kakiku terasa seperti lumpuh, tak mampu lagi menopng tubuhku yang tidak terlalu berat ini. Aku terduduk lemas tak berdaya. Airmata berlinang membasahi wajahku, kutundukkan wajahku supaya tak ada yang melihatku sedang menangis. Gongju, yeoja yang sangat kucintai… kenapa takdir seperti ini? Sesangi! Kenapa kau memberikan takdir yang mengerikan padanya? Kenapa kau tidak menyayanginya? Tanganku mengepal. Genap sudah rasa sakit hatiku setelh meninggalnya Kyung Ho saem, sekarang Gongju juga meninggal. Apa yang harus aku laukan?

Jung ahjumma menahan tangis. “Uljimma Myungsoo-a, uljimma! Gongju tidak ingin melihatmu menangis. Kau harus kuat. Kita harus sabar menerima kenyataan ini.”
“Ahjum..ma, dengan cara apa dia meninggal?”
“Racun. Gongju memilih minum racun untuk mengakhiri hidupnya. Nasib gadis itu malang sekali…”
Jung ahjumma memelukku. Kami menangis bersama-sama meratapi kepergian Gongju. Apa aku sanggup hidup tanpa Gongju? Apa aku mampu tersenyum tanpa melihat senyumnya? Kami baru saja menjalin hubungan, kenapa kematian yang harus memisahkan kami? Kenapa Kau tidak mencabut nyawaku sekalian, Tuhan?
Myungsoo pov end

Di sebuah gereja yang terletak di daerah Jeju dengan pemandangan alam yang luar biasa indah, Park Soo Jin menemani Jiyeon yang masih dalam keadaan sekarat karena racun yang menyebar ke seluruh tubuhnya belum dapat dinetralisir sekalipun dengan penawar yang sangat mujarab. Racun yang diracik khusus untuk narapidana dengan hukuman mati memang sengaja tidak dibuatkan penawarnya. Jadi, sang ahli racun harus membuatnya terlebih dahulu. Itupun belum tentu berhasil karena penawar yang ia buat nelum pernah diuji coba.
Dengan sabar, Soo Jin mengelap peluh yang menetes di wajah Jiyeon yang pucat itu. Kedua matanya tertutup rapat. Keadaan fisiknya persis seperti mayat. Pucat kebiru-biruan, dingin, dan tak ada bagian dari tubuhnya yang ia gerakkan.

“Jiyeon-a, eomma janji tidak akan menangis lagi di depanmu. Kau harus segera bangun, chagiya. Eomma tidak akan membiarkanmu pergi untuk kedua kalinya. Kali ini eomma akan mempertahankamu. Berjuanglah Jiyeon-a. Kau harus bangun. Jangan biarkan Haeri bersenang-senang di atas penderitaanmu. Tolong selamatkan rakyat Korsel dari kejahatan Haeri. Kau tahu kan, Jiyeon-a, kalau Haeri yang berkuasa dengan menyuruh Soo Hee menjadi pengganti appamu, dia akan bertindak semaunya. Jangan biarkan itu terjadi, chagiya. Bangunlah, selamatkan rakyatmu.”
Soo Jin bicara sendiri di depan tubuh Jiyeon yang terbaring tak berdaya di atas ranjang. Soo Jin juga tak pernah melepaskan tangan Jiyeon sedetik pun. Dia tetap menatap putri kandungnya itu, berharap yeoja cantik itu membuka matanya dan memanggilnya ‘eomma’.

Seorang biarawati yang memperhatikan segala yang dilakukan Soo Jin terhadap Jiyeon tak kuasa menahan airmatanya. Ia berdiri di depan pintu dengan dua orang biarawati lainnya. “Nyonya, kami berjanji akan melindungi putri Anda dengan segenap kemampuan yang kami miliki. Kami akan berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhannya.”
Tak lama kemudian beberapa orang biarawati itu enyah dari depn pintu. Mereka menuju ruang khusus yang digunakan para biarawati untuk sembahyang. Ketiganya duduk bersimpuh di depan patung Maria dan Yesus. Berdoa untuk kesembuhan Jiyeon. Mereka tidak akan beranjak dari tempat itu sebelum Jiyeon sadarkan diri.

Di alam sana, Jiyeon memakai pakaian hanbok serba putih dengan rambut terurai. Dia tak tahu harus berjalan ke arah mana karena di sana semuanya berwarna putih. Apapun yang dilihatnya hanya warna putih yang nampak di penglihatannya. Jiyeon berjalan pelan entah kemana. Dia hanya berjalan dengan mengikuti kemana kakinya melangkah.
Tiba-tiba seseorang berdiri di depan Jiyeon. Seorang namja dengan senyum yang sangat ia rindukan. Jiyeon berjalan ke arah sosok namja itu dengan rasa penasarannya. Ya, Kim Myungsoo yang tengah berdiri di sana. Sosok Myungsoo yang dilihat Jiyeon tampan sekali. Lebih tampan dari biasanya. Myungsoo tersenyum dan mengulurkan tangan ke arah Jiyeon. Jiyeon pun menerima ukuran tangan Myungsoo. Mereka berdua berdiri berhadapan dengan bergandengan tangan.
“Bogosipoyo…” ucap Myungsoo lirih.
“Oppa, nado bogosiposeo,” ucap Jiyeon dengan kedua mata yang nampak berkaca-kaca.
Myungsoo tersenyum. “Kembalilah ke sisiku, Park Jiyeon. Jangan tinggalkan aku.”
“Oppa, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan kembali untukmu. Tapi… bagaimana caranya aku kembali?”
“Ikuti kata hatimu. Banyak yang sedang menunggumu. Semua menyayangimu, Jiyeon-a. Kembalilah bersama kami.”
Seketika itu sosok Myungsoo telah lenyap dari pandangan Jiyeon. Jiyeon takut dia kehilangan Myungsoo.
“Jiyeon-a!” Terdengar seseorang memanggil namanya. Kali ini suaranya bukanlah suara Myungsoo. Suara ini terdengar agak berat.
JIyeon mencari sosok itu. Ternyata ada di belakangnya.
“Kyung Ho saem!” Jiyeon langsung meneteskan airmata saat melihat sosok Kyu Ho ada di depannya. “Saem, jangan tinggalkan aku. Jebal, kembalilah saem.”
“Jiyeon-a, ada saatnya kita harus oergi untuk menjemput kebahagiaan di dunia lain. Kau pasti akan mengalaminya juga tapi tidak sekarang. Takdirmu bukan di sini, Jiyeon-a.”
“Kalau begitu, ikutlah bersamaku, saem.”
“Anhi. Tidak bisa seperti itu.”
“Waeyo?” tanya Jiyeon.
“Alam memiliki peraturan yaag harus dipatuhi oleh semua makhluk. Begitu pula Tuhan Yang Maha Kuasa. Seseorang yang harus pergi memang sudah waktunya pergi. Seseorang yang belum waktunya pergi, maka dia harus tinggal lebih lama. Kembalilah pada orang-orang yang menyayangimu. Berjalanlah lurus, nanti kau akan menemukan jalan keluar dari sini. Semua orang mendoakanmu, Jiyeon-a. Selamat tinggal.”
Sosok Kyung Ho tiba-tiba menghilang, persis seperti sosok Myungsoo tadi.
Jiyeon berdiri termenung mencerna kata-kata dari gurunya. Kemudian ia menatap lurus ke depan. ‘Mungkinkah di sana ada jalan keluar?’  batinnya. Tanpa sadar, Jiyeon melangkah lurus ke depan sesuai instruksi dari Kyung Ho.

Satu hari telah berlalu. Park Soo Jin masih menunggu Jiyeon membuka kedua matanya. Keadaannya membaik. Racun berhasil dinetralisir 60%. Harapan Jiyeon untuk kembali ke tengah-tengah orang yang menyayanginya semakin besar.
Sore ini, Presiden Park datang mengunjungi mereka di gereja. Tentu saja kunjungan ini dirahasiakan dari siapapun terutama dari Haeri.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Presiden Park yang juga mengkhawatirkan kondisi Jiyeon.
“Putri Anda memiliki daya tahan tubuh yang kuat, Presiden-nim. Dia telah berjuang untuk meneruskan hidupnya meski racun telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia benar-benar kuat,” kata salah seorang biarawati.

Soo Jin terus menerus memperhatikan kelopak mata Jiyeon. Dia sangat berharap kelopak mata itu bergerak dan terbuka. Rupanya harapannya terkabul. Dia melihat kelopak mata Jiyeon bergerak meski belum terbuka. Jari-jari tangan Jiyeon juga mulai bergerak. Tanda yang baik.

“Setelah dia sadar. Lakukan rencana kita,” kata Presiden Park kepada semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
“Ne, Presiden-nim.”

Kembali ke Myungsoo. Dia berusaha mencari jalan untuk membalas kematian dua orang yang dicintainya. Ditemani oleh Jaejoong, keduanya masih bertahan di Selatan untuk mencari petunjuk siapa dalang atas kematian Kyung Ho dan Jiyeon.
“Hyung, aku tidak akan menyerah sampai ajal menjemputku. Aku punya satu cara.”
“Mwonde?” tanya Jaejoong santai tapi serius.
“Aku akan memikat Soo Hee dan memperdaya dirinya supaya kita bisa mengendalikannya dengan mudah.”
“Apa kau yakin?” Jaejoong menyeruput kopi panasnya.
“Tentu saja. Aku telah memikirkannya berminggu-minggu. Serahkan saja padaku. Korsel pasti jatuh ke tanganku, cepat atau lambat.”

Jaejoong tidak menanggapi kata-kata Myungsoo, hal itu menimbulkan kecurigaan dari Myungsoo.

“Hyung, kenapa kau diam? Apa kau tidak setuju kalau aku menyerang Selatan?”

“Bukan begitu, Myungsoo-a. Aku hanya belum yakin kita bisa menyerang mereka.”

“Kita tidak akan menggunakan nuklir itu untuk langkah pertama, hyung. Bukankah sudah kukatakan kalau aku akan melakukan pendekatan? Nanti malam aku bertemu dengan Soo Hee. Jadi, aku akan berusaha untuk membuatnya tunduk padaku.”

Jaejoong menatap Myungsoo dengan datar. Myungsoo sudah terbiasa ditatap seperti itu oleh Jaejoong.

‘Meskipun aku sudah tahu yang sebenarnya tentang Gongju, aku akan melakukan rencanaku ini, hyung. Bukan hanya kau yang kehilangan Gongju. Aku juga merasa ingin mati saja saat ini jika aku terus menerus memikirkan Gongju. Jika bukan karena balas dendam dan keadilan untuk rakyat Korut, aku tidak akan melakukan semua ini. Mungkin aku akan menyusul Gongju. Tanggungjawabku sangat besar. Jadi aku harus bertahan,’ batin Myungsoo yang balik menatap Jaejoong.

Malam harinya, Myungsoo melancarkan rencana yang sudah berminggu-minggu dia pikirkan matang-matang.

“Malam ini dingin sekali,” gumam Myungsoo yang sedang menunggu seseorang di sebuah bar yang ramai dikunjungi orang. Myungsoo mencoba meminum sedikit wine untuk menghangatkan badannya. Dia tidka berniat untuk mabuk di tempat itu. Jika dirinya mabuk, semua rencananya pasti akan gagal.

Tak menunggu lama, akhirnya orang yang ditunggu Myungsoo datang juga. Seorang yeoja dengan celana jeans panjang, kaos tanpa lengan dan jaket jeans mendekat Myungsoo.

“Apa kau menungguku terlalu lama, oppa?”

“Anhi. Duduklah. Aku juga baru sampai dan wine-ku juga baru diantar.”

“Kau juga minum wine?”

“Hanya untuk menghangatkan badan.” Myungsoo tersenyum tipis. “Bagaimana perkembangan kasus itu?”

“Kasus apa?”

“Kasus Jung Kyung Ho. Apakah kasusnya sudah ditutup?” tanya Myungsoo basa basi.

“Tentu saja. Dia sudah meninggal. Jadi, siapa yang akan dihukum?”

“Apakah di negaramu bisa seenaknya saja menghukum orang tanpa bukti dan saksi yang kuat?” Myungsoo bertanya lagi. “Aku ingin tahu, siapa yang memberikan penyiksaan kepada Jung Kyung Ho? Kau pasti tahu, Soo Hee-a. Katakan padaku.”

Soo Hee menatap Myungsoo tajam. “Mollaseoyo.” Lalu ia meneguk wine milik Myungsoo dengan sekali teguk. “Oppa, apa kau masih memikirkan yeoja itu?”

“Nugu?”

“Gongju.”

Mendengar nama Gongju, hati Myungsoo terasa sakit kembali. “Kenapa? Ada apa dengannya?” Myungsoo pura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada Gongju.

“Kau tidak tahu?”

“Tentang Gongju? Yang aku tahu, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.”

“Kau masih memikirkannya?”

“Apa urusannya denganmu?” tanya Myungsoo memancing Soo Hee agar yeoja itu terbakar cemburu.

“Opseo, aku hanya ingin tahu. Jika kau masih memikirkannya, berarti kau masih mencintainya.”

“Darimana kau tahu kalau aku mencintainya?”

“Apa kau pikir aku ini bodoh? Kalian selalu bersama dan hubungan kalian terlihat sangat dekat. Semua orang pasti berpikir sepertiku.”

“Kau cemburu? Iya kan? Kau pasti cemburu, Park Soo Hee. Aku tahu apa yang terjadi pada Gongju. Jadi, apa menurutmu kita bisa berkencan?”

Soo Hee tercengang mendnegar pertanyaan Myungsoo yang dapat membuat jantungnya berdegub kencang. “Berkencan?”
“Bukankah kau mencintaiku? Gongju sudah meninggal kan? Lalu kenapa kita tidak berkencan saja?”

Tanpa pikir panjang, Soo Hee mengiyakan tawaran Myungsoo untuk berkencan dengannya. Yeoja itu tersenyum puas karena akhirnya Myungsoo jatuh ke dalam pelukannya.

Tidak sulit membuatmu menjadi milikku, Kim Myungsoo,’ batin Soo Hee.

Tidak sulit membuatmu tunduk padaku, Park Soo Hee,’ batin Myungsoo.

Tbc

34 responses to “[Chapter – Part 13] Love is NOt A Crime

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s