Tension [3]: Unmarried Feeling

tension

Satu bulan terlewat bersamaan dengan lulusnya Kim Myungsoo dari Seoul National University. Satu bulan pula terlewat serempak dengan hari pernikahan Jiyeon dan Myungsoo yang diselenggarakan secara sederhana, dengan tamu yang jumlahnya banyak—mengingat Myungsoo dulu adalah ketua OSIS yang digemari banyak orang, maka nyaris seluruh angkatan sekolah menengah atasnya hadir dalam acara pernikahan mereka.

.

shaza proudly present

Tension [3]: Unmarried Feeling
by: Shaza (@shazapark)

starring: Park Jiyeon & Kim Myungsoo

Romance, Drama
Series

READ PREVIOUS — [3 Hours] [Future #1] [Future #2]

hyunfayoungie‘s design @ Art Fantasy

.

Jiyeon menangis. Lagi. Terlebih ketika Myungsoo memberikan pidato singkat di sesi awal pesta pernikahan mereka, dan mengumbar kisah mereka yang bisa berakhir hingga jenjang pernikahan. Dan yang membuat Myungsoo sedikit merasakan denyutan di kepalanya adalah ketika gadis itu tetap merengek selama pesta pernikahan.

Entahlah, namun ia merasa hal tersebut patut dijadikan momentum tak terlupakan. Jiyeon, seorang istri yang mudah menangis, dan bahkan masih tetap menangis selama sesi pesta pernikahan berlangsung. Sering kali Jiyeon meminta Myungsoo untuk menggendongnya ketika sedang menyambut tamu yang baru hadir, dan berkali-kali pula Myungsoo menolaknya dengan alasan bahwa rok gaun Jiyeon terlalu mekar dan mengganggu.

Jiyeon menangis lagi ketika Myungsoo menolaknya. Dan, hal-hal yang biasa ia lakukan ketika masih duduk di bangku SMA-pun masih diterapnya hingga kini. Jiyeon yang temperamental dan kekanakan, Myungsoo kesulitan menanganinya.

Ibu Jiyeon yang saat itu juga hadir—tentu saja—menghampiri Jiyeon, memeluk anak semata wayangnya dengan air mata yang meruah. Bangga terhadap putri kekanakannya yang akhirnya bukan milik Ibunya lagi, tetapi milik Kim Myungsoo. Bahkan Myungsoo merasakan jantungnya berdentum menyenangkan ketika melihat interaksi hangat antara Ibu dan anak itu, ia selalu teringat akan Ibunya yang telah menemui surga.

Dan tepat ketika ia merindukan Ibunya, sosok bijaksana dari seorang Ibu Jiyeon turut menegurnya. Ikut memeluknya dan mengucap madah bangga, betapa pria itu telah bersabar, dan Ibu Jiyeon mengucap seratus pesan beserta ucapan terima kasihnya. Myungsoo merasa, tiada hari paling penuh kasih sayang selain hari itu, sebelas November dua ribu tiga belas.

11-12-13.

Hari di mana Jiyeon dan Myungsoo mengucap janji, dan saling memiliki sepenuhnya. Hari kasih sayang bagi keduanya, dan tak akan terlupakan sepanjang masanya.

.

.

Seperti yang telah dijanjikan Myungsoo sebelumnya, pria itu telah membeli rumah yang cukup untuk ditempati mereka. Mengingat ada tiga kamar di dalam rumah itu dan Jiyeon bisa memilih salah satu kamar di sana.

Myungsoo membelinya dengan sisa tabungannya selama bekerja paruh waktu menjadi asisten dosen, dan ia bangga dengan jabatan kecil itu. Mulanya, Jiyeon tak berhenti memutari seisi rumahnya yang luas, namun tidak terkesan sepi—karena Myungsoo telah mengisi setiap sudutnya dengan perlengkapan barang mereka. Jiyeon dengan gaun putih, dan rok yang menyeret lantai itu tak sabar mengelilingi dapur, kamar, ruang tamu, kamar mandi, diikuti tawa dan decak kagum karena akhirnya memiliki rumah sendiri.

Sementara, Myungsoo pada kala itu hanya terduduk di ruang tengah, menyandarkan punggungnya yang lelah pada sandaran sofa. Kedua kelopaknya terpejam, berusaha menyelip di antara istirahat panjangnya setelah berjam-jam mengarungi lelah pada acara pernikahan mereka.

Ketika itulah, Myungsoo tiba-tiba merasakan beban di pahanya dan ia tak perlu membuka matanya untuk mengetahui beban apa yang jatuh di pangkuannya ketika merasakan kain gaun yang lembut menyinggung kulitnya.

Ugh, kau berat, Jiyeon. Jangan terbiasa duduk di pangkuanku. Yak!” geram Myungsoo, namun ia merasa jemari Jiyeon bermain-main di kepalanya, memijat pelipisnya hingga pria itu membuka matanya. Ia menemukan Jiyeon sedang tersenyum ke arahnya, rambut sebahu yang diikat menjadi satu sanggulan ke atas itu memerlihatkan wajah cerahnya, sementara poni panjangnya seperti menimbun kesan manis di wajah cantiknya.

“Kau lelah ya? Maafkan aku, Myungsoo. Aku merepotkanmu.” Dan seiring dengan permintaan maaf—yang tak pernah habis dari bibir istrinya itu—Myungsoo tersenyum geli. Ia menarik pinggang gadis itu, memeluknya erat.

YAK! Myungsoo?! Apa yang—” Jiyeon menjerit spontan ketika merasakan tubuhnya terangkat, ia berada di gendongan Myungsoo saat ini. Myungsoo tak mengatakan ingin membopongnya, maka wajar saja jika Jiyeon menjerit karena terkejut.

“Kau belum melihat kamar kita, bukan?” kata Myungsoo tepat di depan telinga Jiyeon, membuat pipi gadis di dalam pelukannya itu merona. Jiyeon menyembunyikan wajahnya di pundak Myungsoo, sementara suaminya membawanya ke kamar.

“Kalau ingin beristirahat, lebih baik di kamar. Itu maksudmu membawaku kemari, bukan?” Jiyeon bertanya was-was. Ia mengingat novel yang akhir minggu ini ia baca, bertema romansa dan berbatasan umur dewasa. Ia mengingat deskripsi malam pertama sepasang pengantin yang digambarkan di novel tersebut, adegan dewasa yang sepenuhnya ia pahami, meskipun ia kekanakan, bukan berarti ia tidak mengerti adegan dewasa yang biasa dilakukan sepasang pengantin di malam pertama. Dan itu membuat jantung Jiyeon berdetak menimbun bunyi berdebam nyaring.

“Tentu saja. Kau lelah, bukan? Malam ini, kau harus tidur nyenyak. Dan, oh—lebih baik besok kau libur kuliah saja.” Myungsoo menurunkan tubuhnya di atas ranjang, sebelum akhirnya pria itu melengos pergi menuju kamar mandi.

Setelah Myungsoo menutup pintu kamar mandi, Jiyeon membuang napasnya yang sejak tadi tertahan. Ia merbahkan tubuh lelahnya di atas kasur dengan seprai putih bersih dan harum. Ia berguling dengan wajah memerah padam ketika mendengar kucuran air dari kamar mandi. Sesaat kemudian, ia memukul keningnya karena merasa bodoh telah membayangkan tubuh Myungsoo.

“Aw!” ringisnya keras ketika tangannya masih memukul keningnya berkali-kali. Kucuran air di kamar mandi terhenti, digantikan senyap. “Ada apa, Jiyeon-ah?” tanya Myungsoo dari dalam kamar mandi. Jiyeon menyembunyikan wajahnya di bantal ketika mengetahui bahwa suaminya terlalu peka untuk mendengar ringisannya barusan.

“Tak apa. Lanjutkan saja mandinya.” Sahutnya dengan suara serak karena mulai lelah. Detik berikutnya, kucuran air itu kembali memenuhi udara malam. Bersamaan dengan Jiyeon yang merutuki kebodohannya.

.

.

Pagi membungkus kota, suasana di kamar Jiyeon dan Myungsoo masih bergelung di bawah selimut dengan mata terpejam. Suasana yang tenang di pagi hari itu dikeping oleh dering ponsel di nakas.

Jiyeon mengerutkan dahinya ketika mendengar suara itu, namun matanya masih terpejam. Sinar matahari yang telah naik itu tak sanggup menebas tirai kamar keduanya yang masih terlelap. Jiyeon membalikkan tubuh, memunggungi Myungsoo yang terlelap di sebelahnya.

Sebelumnya, kakinya tergerak untuk menendang bokong Myungsoo. “Myungsoo! Ponselmu berdering. Angkatlah, cepat!” Jiyeon menarik selimut tebal yang mereka gunakan, kemudian menyembunyikan wajahnya di balik gulungan selimut tersebut. Sementara Myungsoo menggeliat, ponselnya bergetar-getar di atas nakas seolah berteriak meminta untuk diraih.

Mengusap matanya yang terasa berat, Myungsoo meraih ponsel pintarnya, kemudian masih dengan berbaring dan mata terpejam, ia menyeret suaranya untuk keluar dari tenggorokan sebagai sapaan pertama dalam sambungan telepon tersebut.

“Halo?” suaranya terdengar serak, ia menggaruk belakang kepalanya ketika mendengar suara seorang pria paruh baya di seberang teleponnya. “Maaf, Anda siapa? Saya tidak mengenal suara Anda. Mungkin Anda salah sambung. Selamat ting—eh…” Myungsoo menghentikan gerutuannya ketika mendengar suara di seberangnya menyela.

Perlahan-lahan, kelopaknya terbuka—meski terasa berat—dan ia mendapati perih melanda maniknya di saat itu juga, tepat setelah seseorang yang meneleponnya itu mengucap namanya dan memintanya untuk segera ke tempat kerja. Seketika itu pula, Myungsoo menegakkan tubuh.

“Apa?!”

Ia ingat, hari itu adalah hari keduanya menjadi asisten manajer mall. Jeritan itu membuat sosok di sebelahnya terbangun. Jiyeon memandang Myungsoo yang tengah mematikan ponsel, kemudian bergegas ke kamar mandi. Dahinya mengernyit heran, baru saja ia akan bertanya pada suaminya ketika pria itu kembali membuka pintu kamar mandi dengan tergesa.

“Aku akan pergi ke tempat kerjaku lima belas menit dari sekarang. Tolong bantu aku!” kemudian suara berdebam yang ditimbulkan dari pintu kamar mandi membuat Jiyeon memejamkan mata karena terkejut. Ia membuang napasnya, heran dengan perilaku Myungsoo.

.

.

Setelah menyikat gigi dan membasuh wajahnya di kamar mandi dekat dapur, Jiyeon mengikat rambutnya. Ia hendak memperhatikan area dapur barunya yang asing ketika pendengarannya menangkap suara gaduh dari lantai atas, kamarnya dengan Myungsoo.

“Jiyeon-ah!” seseorang memanggil namanya dengan panik, membuat Jiyeon segera melesat ke kamar, tempat di mana suara itu berasal. Ia nyaris tersandung anak tangga ketika melangkah terlalu cepat, diikuti ringisan kecil, Jiyeon membuka pintu kamar.

“Ada ap—”

“Di mana kau meletakkan koperku?!” Myungsoo dengan bathrobe putih yang melindungi tubuh basahnya segera bertanya panik pada Jiyeon, sesaat ketika ia mendengar suara istrinya yang bertanya, pria itu menyelanya dengan jeritan.

Jiyeon tidak memiliki waktu untuk terpesona dengan rambut basah Myungsoo ketika mengetahui suaminya tengah panik. Ia terburu-buru membuka lemari di dekat pintu kamar mandi, dan mengeluarkan sebongkah koper hitam milik Myungsoo.

Gadis itu membongkar isinya untuk menemukan pakaian Myungsoo. Namun, pergerakannya terhenti ketika benaknya tersadar. “Kau ingin memakai pakaian apa, Myungsoo?” alih-alih mendapat jawaban, Myungsoo malah berdecak.

“Awas. Biar aku yang mencari.” Jiyeon berkedip, masih dengan kaki tertekuk karena berjongkok membongkar isi koper Myungsoo. Selagi pria itu mulai kesal, ia menarik tangan Jiyeon agar berdiri, diganti dirinya yang berjongkok di hadapan koper.

“Kenapa kau tidak merapikan baju-bajuku, Jiyeon? Seharusnya semalam kau—” Myungsoo mendumal kecil, namun ketika seluncur kalimat itu ia utarakan, ia segera menariknya. Teringat jika semalam, dirinyalah yang meminta Jiyeon untuk beristirahat penuh.

Jadi, hal itu murni kesalahan Myungsoo.

Jiyeon berdiri mematung di samping Myungsoo yang telah menemukan pakaian jasnya. Myungsoo meluruskan kakinya untuk berdiri, kemudian ia memulas pipi Jiyeon ketika melihat wajah sedih gadis itu. “Maaf, Myung. Seharusnya aku merapikan baju-baju ini semalam—”

“—tidak apa. Bukan salahmu, oke? Jika semalam kau tak merapikan bajuku, sekarang apa kau ingin menambah bebanku?” Jiyeon membalasnya dengan gelengan polos, membuat Myungsoo gemas mengecup hidungnya.

“Kalau begitu pergilah ke dapur.”

Dapur. Seketika bahu Jiyeon menegang. Ia mengerti suasana ini, terutama setelah tempat bernama dapur itu terdengar di pendengarannya.

.

.

Jiyeon tidak bisa memasak. Lebih dari apapun, ia masihlah seorang remaja—yang pada kenyataannya berusia dua puluh satu tahun—labil, tidak konsisten, mudah menangis, dan ceroboh.

Gadis itu memandangi gelembung air mendidih serta denging api yang membakar wadah pancinya dengan mata gelisah. Berkali-kali ia berusaha mengeluarkan akalnya, berpikir—untuk apa ia memasak air, sementara ia tidak memiliki makanan atau minuman di kulkasnya.

Derap langkah dari belakangnya membuat gadis itu terlonjak karena desing air mendidih itu belum juga ia hentikan tercabik panas api. Ia spontan mematikan kompor, dan mengangkat panci dengan tangan kering—sayangnya, ia tidak memakai sarung tangan.

Seperti sebelumnya, Jiyeon ceroboh. Dan, hal itu semestinya direnungkan Myungsoo sebelum ia memutuskan untuk menikahi gadis itu. Jiyeon memekik karena merasakan panas yang menjalar di jemarinya, ia sontak melepas genggamannya pada panci. Tidak sadar bahwa hal itu justru terpaksa membuat kakinya terbasuh air panas.

“Aaaa~” jeritnya, terburu-buru menjauhkan kakinya dengan air mendidih tersebut. Ia meringis, berjongkok memegang kakinya yang memerah karena melepuh. Myungsoo yang pada saat itu tengah berusaha menghubungi atasannya hanya dapat mengembuskan napasnya lelah. Ia melangkah gontai ke arah Jiyeon. Pria itu merasa kepalanya akan pecah, digulung dengan luruhan lelah, kecewa, cemas, dan pasrah.

“Jiyi.” Panggilnya dengan suara pelan. Mengingat sekelebat momen di mana ia terbangun telat karena terlalu lelah. Ia mengilas balik awal mula di mana mood-nya runtuh dalam hitungan detik. Ia sadar, bahwa kesalahan itu adalah miliknya.

Ia tidak bisa melibatkan Jiyeon yang saat itu juga masih tertidur di sebelahnya. Keduanya hanya tidak bisa terbangun lebih awal akibat acara pernikahan yang begitu melelahkan kemarin.

Myungsoo menggulung lengan kemejanya hingga siku, kemudian berjongkok di sebelah Jiyeon yang tengah menangis. Myungsoo tidak akan terkejut, dan tidak akan pernah merasa aneh saat Jiyeon dengan mudahnya menangis. Ia mengenal Jiyeon sangat jauh, dan ia dapat memaklumi hal tersebut.

“Sayang, aku obati dulu, ya?” seiring dengan pertanyaan itu dilemparkan, Jiyeon menggeleng. Ia menolak pertanyaan Myungsoo dan memilih untuk mengusap air matanya. “Tidak usah.” Ia tersenyum dengan mata yang mengecil, melengkung indah membentuk bulan sabit.

Myungsoo tertegun beberapa kejap. Sadar bahwa sosok indah yang menyisihkan kebahagiaannya itu adalah miliknya. “Kau akan pergi bekerja, bukan? Hei, ini hari keduamu menjadi seorang asisten manajer!” Jiyeon berulah. Suara melengking ketika mengatakannya, khas anak kecil yang merengek.

Myungsoo tak kuasa untuk menyelipkan anak rambut Jiyeon ke belakang telinga gadis itu, membersihkan wajahnya yang ternodai air mata, lantas Myungsoo tersenyum hangat—senyuman paling hangat yang ia miliki, dan itu membuat hati Jiyeon terketuk keras.

“Jangan melukai dirimu. Bilang padaku, jika kau tidak bisa memasak. Hei, kau pikir aku tidak bisa memasak? Kau salah. Aku pandai memasak, bahkan lebih dari Ibumu, mungkin.” Gurau Myungsoo, membuat Jiyeon tanpa sadar tertawa samar. Jiyeon kemudian meringis ketika menggerakkan kakinya.

Rasa perih itu masih merambat di permukaan kulitnya. Myungsoo yang melihat itu lantas dengan sigap membantu Jiyeon berdiri, dan mendudukkan gadis itu di sofa. Ia berderap ke kamarnya untuk menemukan kotak obat.

Jiyeon hanya diam—benar-benar diam—ketika Myungsoo mengobati lukanya dengan teliti. Ia mengingat-ingat bahwa pagi ini adalah pagi pertama keduanya sebagai seorang suami dan istri. Namun, Jiyeon menghancurkan momen bahagia di mana semestinya suami akan menyambut bahagia istrinya yang memasak sarapan untuknya.

Ilusi itu terhapus dengan realita, membawa bibir Jiyeon untuk tertekan. Menghimpit dadanya seperti ada bebatuan penyesalan yang mengendap di balik relung hatinya. Myungsoo memasukkan kembali salep minyaknya ke dalam kotak obat.

Posisinya yang masih berlutut di hadapan Jiyeon yang terduduk membuat pria itu sedikitnya mendongak. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Jiyeon, membenturkan kening keduanya. Sementara Jiyeon memejamkan matanya, Myungsoo membuang napasnya melalui hidung, perlahan-lahan.

Membuang perasaan campur aduk yang didominasi dengan rasa cemas di dadanya. Jemarinya terulur untuk mengusap pipi gadisnya.

“Aku akan pulang sore. Jaga dirimu baik-baik di rumah, oke? Jangan membuatku panik saat di kantor.” Dan pesan Myungsoo saat itu didengar Jiyeon baik-baik sebelum suaminya benar-benar pergi meninggalkan rumah.

.

.

Jiyeon benar-benar sendirian di rumahnya beberapa jam setelah Myungsoo pergi meninggalkannya di rumah. Lajur otaknya meminta raganya untuk beristirahat total di rumahnya. Ia sesekali meneliti layar datar ponselnya untuk sekadar berkontakan dengan Jiyoung, meneleponnya—kemudian diakhiri dengan gerutuan sahabatnya itu karena jam kuliahnya terganggu akan panggilan telepon Jiyeon.

Gadis itu kini berbaring di atas ranjang megah miliknya—dan Myungsoo, tentu saja—kepalanya masih ditindih pening akibat lelah yang kemarin menderainya seusai acara pernikahan. Jiyeon mengernyit, memutar ponselnya bosan karena ia seperti dapat mendengar tetes air yang menitik di wastafel kamar mandi akibat senyapnya rumah baru itu.

Tubuhnya berguling ke kiri, ke lahan di mana semalam Myungsoo tertidur di sebelahnya. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di balik bantal Myungsoo, namun sebelum ia dapat merasakan aroma menyenangkan dari bantal itu, mendadak perutnya terasa sakit, keram.

Jiyeon meringis seraya memegang perutnya yang seperti dikoyak. “Aw!” ringisnya mendadak meringkuk. Gadis itu mengernyit ketika merasakan sakit di perutnya kian merambat hingga membuatnya tak dapat terduduk.

Gadis itu melirik jam dinding yang menuding angka dua. Ini sudah pukul dua siang, lewat lima belas menit bahkan. Dan, Jiyeon sejak tadi belum menyantap sedikit pun sarapan atau makan siang. Gadis itu mengeluh, patah-patah menarik selimut untuk menggulung tubuhnya yang mendadak gemetar karena perutnya keram.

Tak peduli seberapa tinggi suhu yang menduyun keringat di dahinya. Jiyeon memeluk perutnya sendiri, kemudian memutuskan untuk terlelap—karena dengan begitu, biasanya ia akan terbangun dengan keadaan sehat. Serentak menunggu Myungsoo-nya pulang, maka ia dapat bernapas lega seraya mengembuskan napasnya, perlahan memejamkan mata menahan sakit.

.

.

Sejak kecil Jiyeon memiliki kondisi fisik yang lemah, meski tubuhnya menjulang tinggi jika disanding dengan teman sebayanya, ia tetaplah seorang gadis yang mudah sakit. Beberapa tetes gerimis yang membasahi kepalanya saja akan membuat gadis itu berakhir di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus yang mengalirkan cairan vitamin penopang staminanya.

Terlambat makan akan melilit perut gadis itu hingga terasa perih, dan pada dasarnya Jiyeon tidak sanggup menahan sesuatu yang perih, maka gadis itu akan menangis. Seperti kebiasaannya, menangis adalah rutintas yang semestinya tidak ia lakukan setiap hari, namun berbeda dengan Jiyeon. Gadis itu bisa melakukannya setiap saat jika ia mau.

Jiyeon masih bergelung di bawah selimutnya ketika dahinya mengernyit karena merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah seprei putihnya. Gadis itu hendak melirik ke bawah, namun matanya lebih dulu tertarik dengan lembar kertas yang teronggok di nakasnya, kalender.

Ia menemukan tanggal dua belas yang terasa ganjil di matanya. Hingga gadis itu dalam keadaan diam membuka kunci layar ponselnya, dan terburu-buru mencari daftar hari yang ia perkirakan menjadi harinya datang bulan. Ia mencatat tanggal-tanggalnya di nota ponsel, dan ketika ia menemukan bulan November yang terbubuh kalimat: perkiraan awal tanggal menstruasi di bulan November adalah pada tanggal sebelas, dua belas, atau tiga belas.

Jiyeon merutuk dalam hati, tidak begitu sanggup untuk memaki kecerobohannya. Karena perut bagian bawahnya terasa seperti ditekan-tekan batu, ia menutup matanya lagi. Hendak menemui bunga tidurnya. Ketika lima menit berselang, dan gadis itu hampir jatuh ke dalam mimpinya, ia mendengar pintu kamarnya terbuka.

Sontak Jiyeon mati-matian menahan napasnya ketika pintu itu tertutup. Pendengarannya berganti menangkap suara desahan berat seorang pria, diikuti langkah kaki yang mendekatinya. Jiyeon memejamkan matanya, didominasi oleh pening membuat gadis itu terlalu malas untuk menyingkap selimut yang tengah menggelut tubuhnya.

Jiyeon kemudian mendengar suara berisik dari tas yang dijatuhkan asal di lantai, kemudian disertai pintu kamar mandi yang terbuka dan beberapa detik ke depannya senyap melindungi ruangan tersebut. Derai air yang ditimbulkan dari kamar mandi membuat Jiyeon merasa lelah, ia terlena untuk kembali tertidur. Membiarkan sosok di dalam kamar mandi—ia yakin, itu adalah suaminya—agar menyelesaikan kegiatannya.

.

.

Setelah mengganti pakaiannya langsung di kamar mandi, Myungsoo mengeringkan rambutnya dengan handuk putih. Ia sesaat memandang pantulan wajahnya yang lelah dari cermin lebar di dekat pintu kamar mandi. Myungsoo menarik napasnya, kemudian mengukir sesimpul senyum ketika mengetahui bahwa tadi siang ia mendapat banyak kesempatan dari atasannya untuk tetap berkerja dengannya meski ia telah terlambat lebih dari satu jam.

Myungsoo melirik jam yang menggantung di dinding, kemudian menemukan langit di balik jendela kacanya telah memancar warna gelap, sementara bagian barat ditabur semburat jingga yang hangat. Myungsoo merasakan kebahagiaan yang sejak dulu ingin ia raih itu akhirnya mengendap di jiwanya, terlebih ketika netranya mengerling ke arah sosok lain yang bergelung di bawah selimut.

Ia berjalan mendekati istrinya. Mengguncang tubuh jangkungnya dengan satu tangan, ia sesekali memanggil namanya untuk segera terjaga karena Myungsoo hendak mengajaknya makan malam di luar. Berkerap Myungsoo memanggilnya, gadis itu tak juga menyingkap selimutnya, membuat Myungsoo mengernyit heran.

“Jiyi?” panggilnya, beberapa saat kemudian terduduk di sisi ranjang, kemudian menepuk gundukan di balik selimut putihnya. “Sayang~ bangunlah. Ini sudah malam. Kau tak lelah tertidur terus?” Myungsoo mencondongkan tubuhnya untuk menghela selimut tebal tersebut, namun ia mengambil langkah yang salah. Karena berikutnya, ia mendapati bercak darah menodai selimut serta seprai baru mereka. Sementara Jiyeon meringkuk memeluk perut dengan ringisan tertahan dari bibirnya.

Mata Myungsoo melebar. Ia mengerjap setelahnya, merasa bingung dengan keadaan seorang gadis yang menodai seprai dengan darah. “Jiyeon? Kau kenapa?” Myungsoo memandangi wajah Jiyeon yang masih merintih, kemudian otak cerdasnya mengulur panjang pemikiran lain untuk sesegera mungkin merangkap kepahaman.

“Jiyi,” panggilnya lagi, hendak mengalihkan atensi Jiyeon. “kau—menstruasi?” tanyanya lambat-lambat. Khawatir jika terkaannya salah dan dapat membuat temperamen Jiyeon melunjak, gadis itu akan mengomel dan memukulinya jika hal itu terjadi. Sepasang kelopak Jiyeon terbuka, memperlihatkan manik bening yang dihadang genangan air. Gadis itu tertatih mengambil posisi duduk, kemudian meringis. Myungsoo mengerutkan dahinya karena rasa cemas itu naik ke ubun-ubunnya ketika melihat Jiyeon-nya kesakitan.

“Hei, kau tak apa?” tidak peduli dengan darah yang menambal warna lain di celana Jiyeon, gadis itu memeluk Myungsoo, tepat setelah pria itu bertanya akan keadaannya. Jiyeon menarik leher Myungsoo, disusul dengan sepasang kakinya yang memeluk pinggang Myungsoo.

“Aku datang bulaaaa~n. Uh! Bagaimana iniii? Myungsooooo~ perutku sakiii~t.” Jiyeon merengek, menepuk keningnya di atas bahu Myungsoo. Pria itu baru saja mandi, dan sekarang Jiyeon dapat merasakan aroma menenangkan dari tubuh Myungsoo. Keram di perutnya berangsur mereda seiring dengan usapan lembut suaminya di perutnya, wangi lembut rambut Myungsoo ikut menghapus pening di kepalanya.

“Tidak apa. Datang bulan itu biasa, kau tak perlu panik.” Sementara Jiyeon membenamkan wajahnya di antara lengannya yang melingkari leher Myungsoo, gadis itu mendengus samar. Bahkan Myungsoo saja tidak panik, tetapi aku panik berkelebihan seperti ini. Batinnya mengendus lagi wangi suaminya.

“Kau tahu, tadi jantungku hampir lepas karena kasur kita berdarah-darah seperti kau habis menyayat kulitmu.” Myungsoo mengayunkan tubuh Jiyeon seperti biasa, disusul dengan pejaman mata Jiyeon. “Maafkan aku. Aku akan mencuci seprei ini nanti, aku janji!” Jiyeon mengangkat kepalanya yang tadi bersandar di bahu Myungsoo, kemudian menghadap ke arah wajah Myungsoo.

“Aku akan berusaha untuk tidak selalu merepotkanmu.” Tegas Jiyeon menyatukan keningnya dengan kening Myungsoo, kemudian Jiyeon memaksakan seulas senyum di anatara deru napasnya yang memberat karena sakit masih melanda perutnya.

Myungsoo terdiam memandangi wajah Jiyeon dari dekat, kemudian sebelum ia sempat merespons ucapan istrinya. Gadis itu telah menegakkan tubuh. “Myungsoo!” ia spontan menjauhkan wajahnya dari Myungsoo. Kakinya bergerak gelisah.

“Kurasa ini semakin deras.” Myungsoo mengerutkan dahinya untuk beberapa saat, namun setelah melihat wajah Jiyeon yang panik, Myungsoo segera memahaminya. Memahami arti deras yang baru saja dikatakan Jiyeon.

Yak! Jiyeon! Kau… for God sake—kau jorok sekali.” Namun dalam sekali hentak, pria itu mengangkat tubuh Jiyeon ke dalam gendongan depannya. Jiyeon berteriak karena terkejut, terlebih ketika rupanya Myungsoo menurunkannya di atas konter wastafel kamar mandi.

Ia kini terduduk di hadapan Myungsoo. Tinggi badan keduanya sejajar akibat konter wastafel yang agak tinggi. Jiyeon merengut ketika Myungsoo mempersiapkan handuk, alat mandinya, air hangat, pembalut, serta pakaian. Gerutuan Jiyeon berubah menjadi pekikan ketika ia melihat Myungsoo mengacak kopernya dan menemukan pakaian dalamnya, benda berharganya.

“Myungsoo!” sementara pria itu tertawa keras hingga matanya berkedut, Jiyeon terburu-buru turun dari konter wastafel. “Berikan padaku!” Jiyeon menjulurkan tangannya, hendak menerima sepasang pakaian dalam yang berada di genggaman Myungsoo.

Myungsoo masih tertawa ketika ia memberikan pakaian dalam itu pada Jiyeon. Gadis itu merengut kesal. Jika barusan Myungsoo melihat darahnya, menyiapkan pakaian dan pembalutnya, Jiyeon masih merasa maklum. Karena, Myungsoo bukanlah pria yang mudah jijik hanya karena melihat darah menstruasi. Tetapi, jika Myungsoo sudah melihat pakaian dalam wanita, pria itu akan berubah menjadi sosok konyol yang tertawa-tawa mesum.

Dalam sekali sentakan, Jiyeon membanting pintu kamar mandi. Enggan mendengar tawa mengerikan suaminya. “Hentikan, Myungsoo!” pekiknya dengan wajah padam karena malu.

.

.

Keduanya berakhir di kafe kecil yang terletak jauh dari rumah mereka untuk menyantap makan malam. Ditemani angin musim panas yang menerpa wajah keduanya, serta gemerlap bintang malam yang menjadikan penerang area kafe di sana.

Jiyeon terdiam, tidak banyak berbicara ketika mereguk air mineral di dekatnya. Lebih tepatnya, setelah insiden pakaian dalam yang ditemukan Myungsoo satu jam silam, membuat Jiyeon-nya merengut dan jarang berbicara.

“Yeon-ah. Kau masih marah?” tanya Myungsoo usil, ia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat mimik Jiyeon yang disembunyikan ketika ia menunduk. Myungsoo mengerjap, penasaran dengan ekspresi istrinya saat ini.

Jiyeon telah mengganti penampilannya dengan yang lebih baik. Ia mengenakan dress berbahan jeans simpel, serta mengikat rambutnya di belakang tengkuk. Gadis itu manis, sangat—untuk Myungsoo. Berbeda dengan dirinya yang hanya mengenakan kaus dan celana jeans, Jiyeon terlihat lebih modis darinya. Penampilannya adalah punggung dari sikapnya yang kekanakan. Siapapun yang melihat penampilannya saat ini pasti akan mengira bahwa gadis itu adalah sosok yang dewasa, bandingkan dengan realita.

“Jangan marah, Jiyeon-ah. Aku ‘kan sudah meminta maaf tadi sepanjang perjalanan kemari. Oh, apakah kau marah karena aku tidak mengantarmu dengan mobil pribadi?” Myungsoo bertanya lagi. Kali ini, Jiyeon semakin mempertontonkan sikap cueknya dengan menyibukkan diri bersama ponsel. Myungsoo memang tidak mengajaknya ke kafe itu menggunakan mobil seperti pria-pria dewasa yang biasa Jiyeon lihat di acara drama. Myungsoo mengantarnya dengan bus umum yang sesak, itu memang tidak menyenangkan—namun Jiyeon tetap menyukainya.

Ia melirik Myungsoo yang belum juga menghabiskan makanannya karena terlalu sibuk mengucap maaf padanya. “Ayolah, aku tidak akan makan jika kau belum memaafkanku.”

“Aku sudah memaafkanmu, Myungsoo. Hei, aku hanya sedang tidak mood.” Jiyeon menopang dagunya dengan telapak tangan yang bertumpu pada meja, karena sejak tadi ia telah menyelesaikan makan malamnya, jadi ia tinggal menunggu Myungsoo.

Myungsoo teringat akan sebuah artikel yang dibacanya dua tahun yang lalu. Mengenai seorang wanita yang emosinya lebih tak terkendali ketika mereka menginjak masa menstruasi. Dengan itu, Myungsoo melanjutkan makannya dengan tenang.

Denting piano dari kafe mendadak meriuh ketika Myungsoo tak lagi meminta maaf padanya, digantikan hening yang terserobot sekelumit nada romantis dari piano tersebut. Myungsoo merunduk, memilih untuk menyantap makan malamnya dengan tanpa melihat ke arah Jiyeon. Ia merasa canggung karena Jiyeon sedang dalam keadaan unmood.

“Kau tahu, kita seperti sepasang kekasih saja.” Jiyeon menceletuk dengan mata yang memandang ke arah Myungsoo. Di lain masa, Myungsoo tersedak karena gugup. Jiyeon mengangkat bahunya karena respons berlebihan Myungsoo, namun sesaat setelah pria itu meneguk airnya, Jiyeon kembali melanjutkan.

“Aku seperti bukan seorang istri.” Dengusnya melempar pandangan ke luar jendela dengan mata yang menerawang. Myungsoo yang menemukan Jiyeon-nya terbawa emosi dan mulai mengayun hatinya untuk bersedih itu kemudian tersenyum.

“Tidak, Jiyeon. Mungkin kita terlihat seperti sepasang kekasih. Karena kita tidak tampak seperti sepasang pengantin. Hei, kau tahu—ini masih hari pertama, jadi… bersemangatlah!” seru Myungsoo memberinya dukungan. Jiyeon memandang senyum cerah Myungsoo, kemudian perlahan-lahan ia dapat merasakan hangat melubangi hatinya.

“Terima kasih, Myungsoo. Aku…” Jiyeon menjeda kalimatnya. Sementara Myungsoo mengangkat alisnya penasaran. “akan belajar lebih banyak. Maafkan aku yang masih terlalu labil.” Kegundahan itu meruah bersamaan dengan kalimat pengakuan Jiyeon. Namun, Myungsoo adalah sosok yang memahami dirinya.

Jika Jiyeon terlihat ragu-ragu akan melangkah, maka Myungsoo akan menganggap bahwa itu adalah kesalahannya yang tak bisa menjaga istrinya. Itulah konsep Myungsoo.

“Aku juga akan belajar lebih banyak, Sayang. Berjanji untuk jangan menangis.” Myungsoo mengacungkan jari kelingkingnya, kemudian dibalas kerjapan mata Jiyeon. “Ayo, berjanji padaku!” dan akhirnya, meski Jiyeon merasa tidak yakin akan menyanggupi janji itu, ia tetap menautkan jari kelingkingnya dengan Myungsoo.

“Aku mencintaimu, kau tahu itu!” Myungsoo berucap gemas, menekan pipi Jiyeon dengan bibirnya sekilas. Sayangnya, Jiyeon tidak diberikan waktu untuk melihat bagaimana dan secepat apa Myungsoo-nya mencondongkan tubuh lalu mengecup pipinya. Ia hanya merasakan kehangatan itu menjalar ke tubuhnya.

“Jiyeon, besok kau mulai kuliah, oke?”
Err—baiklah. Tapi, antar aku ya, Myungsoooo~oo.”
“Yak! Kau sudah besar!” jerit Myungsoo ketika melihat wajah merajuk istrinya.
“Tidak. Aku masih mahasiswi, kok.” Tantang Jiyeon, membuat keduanya tertawa di tengah alunan musik romantis—yang sebenarnya tidak romantis bagi Jiyeon dan Myungsoo itu. Mengapa tidak romantis? Karena keduanya, memiliki sisi romantis tersendiri dalam hubungannya. Melalui tangisan, derai tawa, kata maaf yang berbaur dengan penyesalan. Itulah romantisme Myungsoo dan Jiyeon.

.

.

// finite. //

.

.

Yang kemaren masih bingung dan nyimpen pertanyaan di komen, aku jawab lewat sini ya. Dan, aku harap banget, kalian jangan pernah melewatkan author’s note—terutama punya Shaza.

Q: Umur Myungyeon berapa sih?
A: Myungsoo 23. Jiyeon 21.

Q: Dulu mereka pacaran?
A: Iya, pacaran. Mereka pacaran sejak Jiyeon masih SMP kelas 3 dan Myungsoo saat itu masih SMA kelas 2.

Q: Udah direstuin ama orangtuanya?
A: Udah, karena sejak mereka jadian, mereka udah direstuin.

Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui di sini, aku akan menuliskan beberapa fakta tentang myungyeon di sini, so myungyeon shipper, ayo merapat, jangan ada yang kelewatan.

  1. Myungyeon anak tunggal.
  2. Myungsoo udah gak punya Ibu. Ibunya meninggal sejak dia masih kecil, masih SD.
  3. Jiyeon juga gak punya Ayah. Intinya, mereka berdua anak yatim.
  4. Dulu Myungsoo itu ketua osis di SMA, dan Jiyeon suka gangguin Myungsoo kalo pacarnya itu lagi sibuk kerja di osis dulu.
  5. Karakter Myungsoo itu susah ditebak. Dia bisa jadi penyabar, perhatian, dan penyayang.
  6. Jiyeon sendiri anaknya kekanakan, manja, keras kepala, labil. Dia selalu ngerasa gak pantes sama Myungsoo, tapi Myungsoo bilang kalo cuman Jiyeon yang paling bisa ngambil hati dia yang dulunya sedingin es.
  7. Dulu, Jiyeon deket banget sama Jiyoung, nama mereka juga mirip😄
  8. Waktu SMA, ada cewek namanya Soojung yang terobsesi banget sama Myungsoo, dan Myungsoo pernah iseng deket-deketin Soojung cuman buat bikin Jiyeon cemburu. Alhasil si Jiyeon ngambek. Unyu yah? Haha. Tapi asli, Jiyeon sama Soojung itu temen deket. Deket banget malah.
  9. Jiyeon punya mantan pas masih SMP. Namanya Sehun. Dan, Sehun dulu mutusin Jiyeon karena dia gak sanggup lagi sama sikapnya Jiyeon yang kelewat kekanakan. Namanya juga Myungsoo doang yang sanggup /eits/

Oke, faktanya segitu dulu. Buat sisanya, kalian boleh tanya apa aja. Di chapter depan bakal aku bahas lagi, oke?

44 responses to “Tension [3]: Unmarried Feeling

  1. gg adakah ff yang nyeritain. tentang awal” jiyi am myung pacaran gtu ???!
    kepo bangettt ihh , jiyi nya ke lewat manja dan myung ke lewat sabar ,mereka cocok saling melengkapi ^^

  2. Pingback: Tension [4]: A Relic #1 | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s