Love is Not A Crime [Chapter – Part 12]

LINAC 1

Part Sebelumnya:

PROLOG [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11]

Poster by: kimleehye19

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Lee Donghae, Shindong SJ, Jung So Min, Hwang Chansung, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

PG – 13

Annyeong… Mian yang udah nunggu FF ini publish lamaa banget yaa…

Ya udah langsung aja ya

Happy reading, mian for typos

Soo Hee merasa ada yang aneh dengan Soo Jin. Kenapa eommanya bicara empat mata dengan Gongju sampai dirinya diminta meninggalkan mereka berdua. Bukankah Soo Jin selalu menceritakan semua hal padanya. Soo Hee mendesah pelan dengan memandangi taburan bintang dari balkon kamarnya. Saat sedang menikmati pemandnagan malam, tiba-tiba ia teringat seseorang. Ya, dia ingat seorang namja yang tidak lain adalah Kim Myungsoo. Sejak terakhir kali dia menyusup ke Utara, Soo Hee belum melakukannya lagi. bukannya belum, tetapi akan dipastikan kalau dia tidka akan pernah menyusup lagi di Utara mengingat hubungan Utara dan Selatan meregang gara-gara dirinya dan Gongju.

“Oppa, apa yang kau lakukan di sana? Aku ingin kau ada di sini. kita bisa mengobrol di sini dan bercanda ria,” gumam Soo Hee. Ia menutup kedua matanya, mengingat seperti apa wajah tampan Myungsoo dalam pikirannya.

Sementara itu, di Utara, Myungsoo sedang melihat laporan dari beberapa menteri. Dia yang memeriksa laporan itu lalu melaporkan isi laporan itu kepada sang presiden yang notabennya adalah appanya sendiri. Myungsoo duduk di atas kursi kerjanya dengan gelisah. Dia merasa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Kenapa tiba-tiba dia memikirkan Gongju? Saat dia memikirkan Gongju, dia yakin kalau Gongju juga pasti sedang memikirkannya karena mereka memiliki ikatan batin yang cukup kuat. Sudah lebih dari empat laporan yang dia periksa. Myungsoo semakin mengantuk.

Dari laporan-laporan itu, dapat disimpulkan bahwa Korea Utara mendapat desakan dari berbagai negara untuk berdamai dengan Selatan. Dilihat dari banyaknya negara yang menolak impor barang-barang dari Utara, memblokade jalur perdagangan khusus Korut di kawasan Atlantik, hal ini pasti dilakukan oleh Amerika Serikat yang tidak ingin negara sekutunya dihancurkan oleh Korut.

Pikiran Myungsoo penuh dengan banyak masalah sehingga dia merasa berat di kepalanya. Seakan-akan kepalanya mau pecah tetapi tetap tidak pecah. Andai saja ada Gongju di sisinya, pikir Myungsoo. “Kenapa di saat aku ada masalah, kau malah meninggalkanku?” gumam Myungsoo bertanya pada Gongju yang tidak ada di depannya. Gongju masih berada di dalam sel.

Tok tok tok!

“Masuklah!” perintah Myungsoo dengan nada lemah karena kelelahan.

Seorang tentara datang membawa laporan dari perbatasan. Dia menyerahkan lembar laporan itu pada Myungsoo. Myungsoo hanya melihat amplop besar pembungkus berkas laporan itu. “Sampaikan laporanmu. Aku sedang lelah membaca laporan,” pinta Myungsoo kepada tentara yang membawa laporan dari perbatan itu.

“Dari perbatasan, kami telah memantau keamanan di sana nonstop. Tidak ada aktifitas mencurigakan dari pihak Selatan. Menurut mata-mata, pemerintah Korea Selatan dan militernya sedang fokus terhadap masalah intern negara, termasuk hukuman mati untuk warga negara kita yang terlibat perang di perbatasan beberapa tempo lalu.”

“Warga kita? siapa?” tanya Myungsoo.

“Identitasnya masih belum jelas karena diduga, orang itu bukanlah orang Korea Utara asli.”

“Gurae, aku akan cari tahu sendiri. Kau boleh keluar. Gomawo.”

Myungsoo penasaran dengan orang yang dikabarkan terlibat perang di perbatasan. Bahkan ada yang bilang kalau perang itu diakibatkan oleh serangan Utara yang ingin membunuh putri presiden Park bernama Park Soo Hee. Tentu saja Myungsoo tidak percaya begitu saja. Warga Korut bahkan tidak pernah melihat rupa dari putri presiden Korsel. Apalagi para tentara? Dia yakin alasannya bukan ini. untuk saat ini, Myungsoo meyakini belum ada orang yang dapat dipercaya. Ah, mungkin Jaejoong bisa menjelaskan semua padanya. Myungsoo ingin pergi menemui Jaejoong di rumahnya. Tetapi ia mengurungkan niat karena badannya tidak memungkinkan untuk bepergian ke sana kemari mencari berita yang akurat. Dibukanya laporan dari perwakilan tentara tadi. “Yeoja?” lirih Myungsoo yang tengah membaca laporan bahwa yeoja yang telah membunuh jenderal dari Korsel akan segera dijatuhi hukuman.

Jiyeon pov

Malam ini, aku dapat memejamkan matanya meski hanya sebentar. Saat menutup mataku, aku selalu bermimpi sedang berperang di medan peperangan dan musuhku adalah Myungsoo oppa. Aku tidak menganggap mimpi itu tak berarti, mimpi itu pasti merupakan pertanda. Aku merenungi mimpi yang menghiasi tidurku tadi. Mimpi itu seperti nyata. Aku seperti sedang berperang sungguhan melawan Myungsoo oppa dan tentara Korut. Sesangi… apakah mimpi itu akan menjadi kenyataan? Aku memimpikan hal itu tiga hari berturut-turut. Tapi… jika aku harus melawan Myungsoo oppa, apa yang telah terjadi? Apa penyebabnya?

Aku tidak tahu seperti apa nasibku. Akupun tak ingin menduga-duga karena apa yang telah terjadi padaku adalah sesuatu yang membuatku syok. Perjalanan hidupku tidka dapat direncanakan sebelumnya. Mungkin jika sebagian ornag mempunyai anggapan hiduonya dapat direncanakan dari A sampai Z, hal itu tidak berlaku bagiku. Jika saja aku bisa melakukan hal itu, tentu saja aku tidak berada di sini dan aku akan bertemu dengan orangtuaku dengan cara yang baik, bukan seperti ini, menjadi tahanan yang dapat dipastikan mendapat hukuman mati.

Jika aku tak dapat menahan airmataku, mungkin saat ini airmataku sudah kering karena terlalu banyak yang ingin keluar. Aku tidak boleh menangis. Jung Kyung Ho saem bilang pada kami untuk tidak menangis. Namja ataupun yeoja, sama sekali tidak boleh menangis apalagi di depan orang lain. Jika ingin menangis, menangislah di tempat yang sunyi, yang jauh dari orang lain. Kyung Ho saem… bogosiposeo…

Luka bekas tembakan beberapa hari yang lalu masih sedikit sakit. Meski begini, aku senang karena telah bertemu dengan ibu kandungku. Ibu yang sudah mengancungku selama 9 bulan. Mungkin saat bayi aku sudah melihat paras cantik eomma. Itulah pertama kali aku melihat eomma meski aku sama sekali tidak mengingatnya. Dan untuk yang terakhir kali, aku akan melihat paras eomma sebelum ajal menjemputku. Aku tetap menyayangi appa dan eomma meski mereka telah membuangku saat masih bayi. Aku akan pergi dengan tersenyum di depan keduanya, agar mereka tak bersedih dan tak menangis, dan juga agar mereka bisa melihat betapa bahagianya aku setelah dapat bertemu dengan mereka.

Park Jiyeon, itulah namaku yang sebenarnya. Ya, aku akan menggunakan nama itu mulai sekarang. Namaku bukan Gongju lagi. aku lahir dengan nama Park Jiyeon dan akan mati dengan nama Park Jiyeon juga. Aku lahir di depan appa dan eomma, begitu juga aku akan mati di depan mereka. Jadi, tak ada yang berubah dari diriku.

Ku tarik nafas panjang. Besok lusa, aku harus meregang nyawa setelah mendapat hukuman mati. Ya, aku hanya bisa pasrah.

Jiyeon pov end.

Keesokan harinya, saat presiden Park berada di rumah dan sedang menikmati waktu bersantainya di ruang tamu dengan mengamati beberapa ikan arwana yang berenang di dalam akuarium, Park Soo Jin menghampirinya. Yeoja paruh baya yang masih kelihatan cantik itu ingin membahas tentang Jiyeon karena suaminya sama sekali belum mengetahui perihal Gongju yang ternyata adalah Jiyeon.

Dengan langkah sangat pelan, Soo Jin mendekati suaminya. Presiden Park hanya tersenyum melihatnya.

“Ada apa? Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan denganku.” Presiden Park menatap istrinya yang sudah duduk manis di sampingnya dengan sedikit gelisah.

“Ne, yeobo.” Soo Jin menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkan kata-kata. “Kau tahu Gongju?” tanya Soo Jin mengawali perbincangan dengan suaminya.

Presiden Park mengerutkan dahi sambil mengingat-ingat nama Gongju. “Apakah dia tersangka pembunuh jenderal Hwang?”

“Benar, yeobo. Gadis itu sebenarnya adalah Park Jiyeon, putri kandung kita yang telah aku buang bertahun-tahun yang lalu.”

Hati presiden Park mencelos. Terkejut. “Park Jiyeon? apa kau sudah membuktikannya?” tanya presiden Park.

“Aku sudah membuktikannya. Bukti-bukti itulah yang membuatku yakin kalau dia adalah Park Jiyeon putri kita. kau harus melihat bukti-bukti itu.”

“Bukti apa?” tiba-tiba suara Haeri terdengar nyaring dari luar ruang tamu.

Soo Jin dan presiden Park menolehkan kepala mereka, menatap Haeri yang dengan angkuhnya duduk di depan Soo Jin.

“Kembalinya putri kandung kita harus diumumkan ke khalayak ramai,” pinta Soo Jin.

Brakk!!

Haeri menggebrak meja. Dia menatap Soo Jin nanar. Dia tidak terima jika Jiyeon diakui sebagai putri kandung tuan Park dan Soo Jin. Tentu saja hal ini dikarenakan keserakahannya atas jabatan yang sudah lama diincar oleh Haeri.
“Haeri-a, aku sudah muak melihat sikapmu yang selalu menentangku. Apa tidak cukup aku membuang putriku sendiri karena ulahmu. Kau yang mengarang cerita kalau putriku yang membawa petaka bagi negara ini. Mana hati nuranimu?”
Haeri tersenyum evil. Yeoja itu benar-benar tidak punya peri kemanusiaan. Hanya harta dan tahta yang ia pikirkan. “Kenapa kau mau mengakuinya? Yeoja pembunuh itu belum tentu 100% putrimu yang telah kau buang.”
“Tutup mulutmu!” bentak Soo Jin. Baru kali ini ibu kandung dari Park Jiyeon itu bicara dengan nada tinggi apalagi sampai membentak orang. Itu artinya Soo Jin benar-benar kesal pada Haeri.
Haeri melotot pada Soo JIn. Dia tak terima dibentak oleh istri pertama dari tuan Park itu. “Apa buktinya kalau dia adalah putrimu? Semua gadis bisa saja mengaku-ngaku menjadi putri presiden. Tak bereda dengan tersangka yang mendekam di penjara itu. Dia pasti hanya membohongi kalian agar percaya pada akal bulusnya.” Haeri bicara dengan nada amarah yang tertahan. Sebenarnya dia ingin sekalo bicara dengan kata-kata yang lebih kasar.
Soo Jin tidak terima mendengar Jiyeon dijelek-jelekkan oleh Haeri. “Dia punya bekas luka di dadanya dan juga surat tulisan tangan Taeyeon, adik kandung Kim Taehee. Mau bukti ap lagi? Bukankah kau sendiri yang menusuk dada putriku? Gurae, jika kau mau melihat buktinya, mari sekarang juga kita ke penjara dimana gadis itu berada.”
Sebenarnya Soo Jin hanya ingin pengakuan dari presiden Park kalau Jiyeon adalah putri kandungnya yang hilang selama 20 tahun.

Presiden Park, Soo Jin, dan Haeri sedang dalam perjalanan menuju sel tahanan perempuan yang letaknya sekitar 10km dari kediaman keluarga presiden. Ketiganya hanya dikawal oleh tiga orang tentara bersenjata lengkap dan hanya diangkut menggunakan satu unit mobil BMW mewah milik presiden. Kunjungan ke sel tahanan itu merupakan kunjungan rahasia karena tak ada yang boleh mengetahui masalah intern keluarga Park.

Sesampainya di sel tahanan, tempat dimana Jiyeon ditahan karena bersalah telah membunuh salah seorang jenderal Korsel, ketiga orang itu bergegas menuju ruang khusus interogasi, bukan ruang yang digunakan para pengunjung seperti biasanya. Sebelum rombongan presiden tiba di rutan, tempat itu telah disterilkan dari warga sipil terlebih dahulu agar tak ada orang yang melihat kedatangan presiden ke sana.

“Cepat bawa yeoja itu kemari!” perintah Haeri pada seorang pegawai sipir yang bertugas.
Dua orang bergegas masuk ke dalam sel untuk membawa Jiyeon ke dalam ruang interogasi sesuai perintah Haeri.
Tak lama kemudian, Jiyeon dibawa untuk menghadap ketiga orang penting tersebut.
Soo Jin melelehkan air mata saat melihat Jiyeon yang kelihatan makin kurus. Wajahnya pucat, ekspresi datarnya menjadi ciri khas dari Jiyeon saat itu.
Haeri mendekati Jiyeon dan menatap wajah gadis itu dengan seksama. Dia mengamati penampilan Jiyeon dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Tunjukkan bukti yang kau punya. Buktikan bahwa kau putri kandungnya!” perintah Haeri.
Jiyeon hanya terdiam menatap Haeri. Kemudian pandangannya beralih ke Soo Jin.
“Cepat tunjukkan! Wae? Kau tidak bisa membuktikan, geutji? Kau takut kedokmu terbongkar.”
Jiyeon menatap Soo Jin yang menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia membolehkan Jiyeon menunjukkan bukti yang diminta oleh Haeri. Dengan perlahan, Jiyeon merogoh saku celananya untuk mengambil surat tulisan tangan Taeyeon yang menyatakan bahwa Jiyeon adalah putri kandung Presiden Park. Jiyeon menyerahkannya kepada tuan Park, bukan kepada Haeri.
Tuan Park membuka lipatan kertas yang sudah agak usang itu lalu membacanya dalam hati. Hatinya seperti diketuk oleh seseorang setelah membaca surat itu. Isi suratnya sebagai berikut:
Presiden, dan Nyonya Park.
Yang telah berani menggoreskan pena di atas kertas ini adalah pelayan setia presiden dan keluarganya, Kim Taeyeon.
Surat ini saya tulis sebagai bukti bahwa Park Jiyeon yang telah tuan dan nyonya cari selama bertahun-tahun bahkan mungkin dianggap sudah meninggal, kini telah tumbuh menjadi seorang yeoja yang cantik, pandai, cerdas dan baik. Persis seperti tuan dan nyonya.
Pada waktu itu, secara tidak sengaja saya bertemu dengam Gongju alias Jiyeon. Dia membawa saya ke tempat tinggalnya. Ternyata saya bertemu dengan Jung Kyung Ho dan Kim Jaejoong, putra tunggal Kim Taehee di sana. Saya sangat gembira.
Karena takut dengan apa yang akan terjadi nantinya yakni jika tuan dan nyonya tidak menemukan Park Jiyeon, maka melalui surat inilah saya berani bersumpah kalau Gongju dari Korea Utara adalah putri tuan dan nyonya yang bernama Park Jiyeon. TOlong jangan ragukan kebenarannya. Karena dilihat dari apapun, Jiyeon memiliki ciri-ciri yang sama dengan putri tuan dan nyonya.
Dia juga telah hidup susah sejak kecil. Tolong jangan membuatnya bersedih dan kecewa. Jiyeon memiliki bekas luka tusukan di dadanya. Anda hisa lihat secara langsung dan membuktikan apakah dia adalah putri tuan dan nyonya atau bukan.

Salam setia,
Kim Taeyeon

Setelah membaca surat singkat yang ditulis oleh Taeyeon, tuan Park hanya berdiam diri. Namja paruh baya yang menjabat sebagai presiden Korsel itu menyembunyikan kesedihannya agar tidak dilihat oleh istri-istrinya dan juga Jiyeon.
Haeri merebut surat itu dari presiden Park kemudian membacanya. Dia geram membaca surat itu dan hendak menyobeknya. Beruntung Soo Jin segera menghentikan tangan Haeri yang sudah menyobek kecil di bagian tepi kertas.
“Jika kau tidak mau menerima kebenaran ini, jangan rusak apapun yang bukan milikmu.” Soo Jin merebut kembali surat itu dan membawanya.
Surat itu diberikan oleh Jiyeon kepada Soo Jin saat mereka bertemu namun malamnya, Soo Jin mengembalikan surat itu lagi agar Haeri tidak menggeledah kamarnya apalagi bisa menemukan surat itu.
Wajah Haeri merah padam.
“Jiyeon-a, buktikan kalau kau memiliki luka bekas tusukan di dadamu,” pinta Soo Jin.
Jiyeon sedikit ragu untuk menunjukkannya karena bekas luka itu terletak di dada tepat sebelah bawah tulang selangka bagian kiri. Dengan perlhan, Jiyeon menyingkap kerah bajunya dan memperlihatkan bekas luka itu. Haeri dan presiden Park ternganga melihat bekas luka itu.
“Dia bisa saja sengaja membuat bekas luka itu,” kata Haeri sinis.
“Kau bisa membuktikannya pada dokter spesialis kulit. Apakah bekas luka itu asli atau buatan? Dan apakah bekas luka itu sudah lama atau masih baru. Dilihat pun sudah dapat diketahui bahwa bekas luka itu sudah terlalu lama karena warna dan tekstur lukanya sudah berubah. Apa kau masih menyangkal?”
“Tenang. Semuanya diam. Biar aku tanya pada yeoja itu.” Tuan Park berdiri berhadapan dengan Jiyeon. Jiyeon hanya menunduk. Ia terlalu sungkan menatap tuan Park yang notabennya adalah presiden sebuah negara besar bernama Korea Selatan. “Apa kau benar-benar putriku?”
“Yeobo…” ucap Haeri untuk menghentikan kata-kata Presiden Park.
“Diamlah. Aku tidak menyuruhmu buka mulut.” Presiden Park sedikit membentak Haeri karena dia tidak melihat situasi dan kondisi di dalam sel itu. Kata-kata pedas dan menusuk yang terlontar dari mulutnya, rupanya membuat Presiden Park semakin penasaran pada sosok Gongju atau Jiyeon.
“Jawablah. Apa kau benar-benar putriku, Park Jiyeon?”
Jiyeon langsung menjawab. “Ne, aju memang putri Anda. Presiden Park, aku menginjakkan kaki di tanahmu ini hanya karena ingin melindungi Soo Hee dan mencari jati diriku. Aku telah berhasil melindungi Soo Hee. Tapi untuk mencari jati diri, aku sama sekali belum berhasil. ”
“Buang saja kata-kata manismu itu!” bentak Haeri pada Jiyeon. “Kau adalah tersangka pembunuhan orang penting di Korsel. Besok kau akan dihukum mati di depan banyak orang, terutama rakyat Korsel.” Haeri lagi-lagi berkata sinis dan menusuk hati.
“Jaga ucapanmu!” bentak Soo Jin pada Haeri yang sudah tega mengeluarkan kata-kata sepedas itu.
“Aku ingin kalian bawa Jung Kyung Ho kesini,” kata Presiden Park dengan nada bicara serius.
Semua mata tertuju pada presiden Park saat beliau memutuskan untuk menghadirkan Jung Kyung Ho ke hadapannya, termasuk Jiyeon.
Jiyeon yang notabennya adalah murid kesayangan sekaligus anak angkat Jung Kyung Ho, sangat terkejut saat mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut presiden Park sendiri. Dia harap-harap cemas menanti kedatangan appa angkatnya yang sudah beberapa minggu ditahan oleh tentara Korsel hanya karena kepemilikan senjata yang dibawa oleh warga Korut tempo lalu.

Letak lapas untuk yeoja dan namja sangat dekat bahkan gedungnya berdampingan sehingga memudahkan petugas untuk membawa Jung Kyung Ho menghadap Presiden Park.
Tak lama kemudian, setelah menanti beberapa menit, mereka yang tengah berada di ruang interogasi bertemu dengan sang mantan panglima besar jenderal Jung Kyung Ho. Kyung Ho memasuki ruangan itu dipapah oleh dua orang petugas sipir. Selanjutnya namja yang bernasib sial itu di suruh bersujud di hadapan raja.
“Jung Kyung Ho sudah kami bawa kemari, presiden,” kata seorang sipir yang membawa Kyung Ho tadi.
Jiyeon menoleh ke arah dimana Kyung Ho duduk bersimpuh di atas lantai.
“Sonsaengnim…” Airmata Jiyeon meleleh tanpa kendali. Dia sangat merindukan Kyung Ho yang tiba-tiba menghilang setelah dibawa oleh sekelompok orang beberapa waktu yang lalu. Kondisinya benar-benar mengenaskan. Jung Kyung Ho mengalami siksaan di dalam penjara. Kedua matanya lebam hingga tak bisa terbuka secara total, tubuhnya penuh darah yang telah mengering, hidung dan mulutnya berdarah. Luka lebam pun tak luput dari tubuh kekar itu. Ya, Kyung Ho adalah jenderal teladan yang mendapat berbagai penghargaan pada saat dia menjabat sebagai jenderal Korea Selatan. Namun sayang, keteladanannya menjadi seorang jenderal besar harus berakhir setelah Haeri dinikahi oleh tuan Park. Haeri yang dengan tega hati memfitnah Jung Kyung Ho melakukan pengkhianatan. Dia mengatakan bahwa Kyung Ho berpihak pada Korea Utara. Haeri juga menunjukkan bukti-bukti palsu kepada presiden yang menjabat pada masa itu. Motifnya adalah dia ingin menyingkirkan siapapun yang menghalanginya untuk menjafi penguasa di Korsel.
Saat itu Haeri dapat membaca politik Korsel di masa mendatang dan membuat prediksi-prediksi, salah satunya adalah memprediksikan bahwa tuan Park akan menjadi presiden. Dia pandai dalam membaca situasi politik. Ternyata benar, tuan Park telah terpilih menjadi kandidat calon presiden dan rakyat memilihnya sebagai presiden beberapa tahun yang lalu. Semua usaha yang dilakukan Haeri tidak sia-sia.
Kembali pada Jung Kyung Ho yang telah difitnah oleh Haeri. Ia dipecat dari jabatannya dan beberapa minggu setelah itu ia menghilang seperti ditelan bumi tepat 7 bulan sebelum Jiyeon dan Soo Hee lahir. Rupanya Kyung Ho pindah ke Utara karena dia terlalu sakit hati pada orang-orang Selatan yang telah membuangnya dan tidak menghargai jasa-jasanya. Kyung Ho pindah ke Utara dengan alasan, dia bisa memantau keadaan politik Korsel dari dekat dan bisa mengirimkan mata-mata ke Selatan dengan mudah. Dia tidak melepaskan tanggungjawabnya begitu saja karena selama dia berada di Utara, pemantauan terhadap pertahanan Selatan selalu ia lakukan hingga akhirnya dia bergabung dengan badan inteligen Korut. Saat itulah Kyung Ho berhenti memantau keamanan dan ketahanan Korsel.

Jiyeon merasakan sesak di dadanya tatkala melihat hasil penyiksaan gurunya. Ia tak tega melihat Kyung Ho seperti itu.
“Presiden-nim, ijinkan mengajukan satu pertanyaan,” kata Jiyeon yang menahan airmatanya membasahi wajahnya. Ia tidak ingin orang-orang melihatnya menangus apalagi di depan kedua orangtuanya. Jiyeon ingin terlihat kuat meski dalam diri dan hatinya rapuh.
“Silahkan,” kata presiden Park.
Jiyeon mengambil nafas dalam-dalam sembari memilih kata-kata yang akan dia ucapkan. “Presiden-nim, aku ingin bertanya, bisakah Anda menjelaskan apa yang terjadi pada Kyung Ho seonsangnim? Kenapa beliau bisa seperti itu?”
Presiden Park mengerutkan kening. Dia heran, kenapa Jiyeon malah membahas Kyung Ho. Sedangkan Haeri tersenyum evil.
“Tolong jelaskan kepada saya, apa yang telah dilakukan Kyung Ho saem sehingga dia menerima penyiksaan seperti ini. Jelaskan undang-undang pidana mengenai hal itu. Jebal…”
Haeri menjawab,”Gurumu ini telah melakukan pengkhianatan tempo dulu. Dan sekarang dia telah mengirimkan mata-mata ke Utara dengan membawa senjata miliknya. Jadi, dia pantas menerima segala penyiksaan itu.”
Jiyeon geram. Alasan yang tidak masuk akal. Tangannya mengepal, siap memukul Haeri kapanpun. “Jinjja? Bukankah waktu itu Kyung Ho saem sudah menerima pemecatan sebagai hukumannya? Kenapa sekarang masih diungkit-ungkit? Jika ingin mengungkit hal itu, kenapa tidak dari dulu? Bukankah jika beliau dihukum, harus ada alasan yang jelas. Saksi dan bukti harus sesuai.  Jika tidak, ini namanya penyiksaan.”
Plaaakk!!
Tangan kanan Haeri berhasil mendarat keras di pipi kiri Jiyeon hingga meninggalkan bekas merah di sana. Terasa panas hingga Jiyeon meneteskan airmata yang sudah susah payah ditahannya sejak tadi.
“Haeri-a! Beraninya kau menampar putriku!” Soo Jin tidak terima atas perlakuan Haeri terhadap Jiyeon.
“Silahkan tampar saya sepuas Anda. Tapi bebaskan Kyung Ho saem. Jika perlu, bunuh saya sekarang juga agar Kyung Ho saem bisa bebas.” Jiyeon menatap Haeri nanar. Sorot matanya penuh amarah.
“Aku tidak perlu mengotori tanganku untuk membunuhmu karena besok kau akan menjalani hukuman mati. Sedangkan dia…” Haeri menunjuk ke arah Kyung Ho. “Dia akan bertemu denganmu di alam baka.”
“Sudah cukup!” teriak Presiden Park yang tidak ingin mendengar perselisihan di ruangan itu. “Sekarang jawab aku, Jung Kyung Ho. Apakah dia anak angkatmu?”
“Ne. A, aku me…nemukannya wak..tu d, dia ma…sih bayi,” jawab Kyung Ho dengan terbata-bata. Dia menjawabnya dengan sekuat tenaga karena menahan sakit di sekujur tubuhnya. Jiyeon menatap iba pada gurunya itu.
“Apakah benar kalau dia adalah putriku?” tanya Presiden Park to the point.
“A, anhi..yo… dia hanya anak yatim piatu. Orangtuanya su…dah me..ninggal. Mereka hanya pe..tani biasa.”
“Seonsaengnim…” lirih Jiyeon yang ingin menegur Jung Kyung Ho agar tidk berbohong dan mengatakan yang sebenarnya.
Haeri tersenyum puas. “Kalian dengar? Bhkn Jung Kyung Ho sendiri mengatakan bahwa anak itu bukan putrimu Soo Jin.”
“Dia putriku. Jung Kyung Ho, katakan yang sebenarnya. Jebal… jangan seperti ini.” Soo Jin berlutut di depan Kyung Ho. Posisi mereka duduk berhadapan di atas lantai.
Jiyeon tak sanggup melihat pemandangan itu. Percuma saja dia menunjukkan bukti-bukti jika Kyung Ho mengatakan hal yang sebaliknya.
Presiden Park sedikit terkejut mendengar jawaban dari Jung Kyung Ho. Dalam hati yang paling dalam, dia yakin kalau gadis yang berdiri di depannya adalah Park Jiyeon putri kandungnya yang telah dibuang selama 20 tahun. Hatinya sedikit kecewa mendengar pengakuan Kyung Ho. “Bawa mereka berdua kembali ke sel.”
“Yeobo…” lirih Soo Jin. Dia tidak ingin kedua orang itu, Jiyeon dan Kyung Ho, dimasukkan ke dalam sel lagi.
‘Aku percaya padamu, Park Jiyeon. Aku juga percaya padamu, Jung Kyung Ho. Kau pasti berbohong untuk melindungi putriku. Gomawo kau telah menjaga dan merawat putriku,‘ batin presiden Park dengan ekspresi wajah sedih dan menyesal.
“Andwae! Saya mohon presiden-nim, jangan bawa Kyung Ho saem ke penjara. Tolong obati lukanya…” Jiyeon duduk bersimpuh di bawah kaki presiden Park dan memohon supaya Kyung Ho dirawat dan diobati lukanya. “Biarkan aku saja yang masuk ke dalam sel. Jika Kyung Ho saem harus menjalani penyiksaan lagi, biarkan aku yang mewakilinya.”
“Jiyeon-a…” lirih Soo Jin dengan airmata berlinang. Dia memeluk Jiyeon yang masih duduk bersimpuh di bawah kaki presiden Park.
Jung Kyung Ho meneteskan airmatanya. Dia terharu melihat apa yang Jiyeon lakukan untuknya. ‘Aku hanya ingin melindungimu, Jiyeon-a. Jadi jangan mencoba untuk melindungiku. Aku tidak pantas menerimanya,‘ batin Kyung Ho sambil terisak dan menahan sakit di tubuhnya.
Tiba-tiba Jiyeon berdiri. Entah memdapat kekuatan dari mana sehingga dia mampu melakukan itu. Jiyeon juga mengusap airmata yang membasahi pipinya. “Gurae, aku tetap yakin dan percaya kalau aku adalah Park Jiyeon. Semua bukti telah aku miliki. Aku adalah putri dari Park Soo Jin. Yang aku inginkan adalah pengakuan dari keluargaku karena aku hanya mencari jati diri, bukan kekuasaan. Aku sama sekali tidak ingin merebut kekuasaan dari siapapun. Pengakuan dari eomma sudah cukup bagiku. Aku sangat berterimakasih pada eomma. Aku juga ingin mengajukan permintaan terakhirku sebelum pelaksanaan hukuman mati besok. Eomma, tolong temani aku saat menjemput ajalku besok.”
Soo Jin menutup mulutnya dan terisak dalam tangis yang sangat dalam. Dia hanya mengangguk karena tidak sanggup mengeluarkan kata-kat.
Sesaat kemudian, empat orang sipir masuk ke dalam ruangan. Dua orang membawa Jiyeon kembali ke selnya, dan dua yang lain membawa Jung Kyung Ho.
Mereka berjalan pelan saat keluar dari ruang interogasi itu. Soo Jin terduduk lemas dengan masih berlinangan airmata. Sedangkan Haeri tersenyum puas karena apa yang dia inginkan sudah hampir tercapai. Tinggal selangkah lagi, pikirnya.

Sebelum berbelok menuju selnya, Jiyeon meminta waktu sebentar untuk bicara dengan Kyung Ho. Petugas pun mengijinkannya.
Jiyeon mendekati Kyung Ho yang tubuhnya gemetaran. “Saem, bogosiposeo. Aku dan Jaejoong oppa sangat merindukanmu. Anhi, bukan hanya kami melainkan semua keluarga di Utara sangat merindukanmu. Aku dan Jaejoong oppa berjanji akan membebaskanmu dari tempat terkutuk ini. Bertahanlah saem. Bertahanlah demi kami.”
“Mi, mianhae j, jiyeo-a…” Kyung Ho bicara dengan terputus-putus namun masih terdengar jelas. Tubuhnya menggigil makin hebat.
Jiyeon menangis dan memeluk Kyung Ho erat-erat. Dia sangat ingat pelukan dari gurunya. Betapa Jiyeon merindukan pelukan hangat seperti itu.
Kyung Ho berusaha bertahan dan menghela nafasnya perlahan-lahan. Ia mengusap bahu Jiyeon lembut. Setelah beberapa detik kemudian, usapan di punggung Jiyeon terhenti. Kepala Kyung Ho bersandar di bahu Jiyeon.
“Saem… mianhae jongmal mianhae…”
Tak ada jawaban dari Kyung Ho. Jiyeon meneteskan airmata untuk kesekian kali. “Seonsaengnim…”
Jiyeon dan Kyung Ho hampir jatuh saat Jiyeon berusaha untuk melepas pelukannya, menegakkan tubuh Kyung Ho dan melihat wajah gurunya. Jung Kyung Ho menutup mata. Tak ada hembusan nafas dari hidungnya.
“Seonsaengnim… irona seonsaengnim…” lirih Jiyeon sambil mengguncangkan tubuh Kyung Ho. Mereka berdua telah terduduk di atas lantai. “Saem… ireona. Jebal ireona!” teriak Jiyeon hingga berhasil membawa Soo Jin, Haeri dan presiden Park berlari ke arahnya. “Ttonajima saem. Ttonagajima…” Jiyeon memeluk tubuh Jung Kyung Ho yang sudah tak berdaya itu. Gurunya telah meninggal dunia di dalam pelukannya.
Soo Jin mendekati Jiyeon. Dia pun sedih melihat kematian Jung Kyung Ho.

Jenazah Jung Kyung Ho dikremasi sebagaimana mestinya. Namun sayangnya Jiyeon tidak diijinkan untuk memberikan penghormatan terakhir pada almarhum gurunya itu. Di dalam sel, Jiyeon tak henti-hentinya menangis. Guru yang sangat disayangi, sangat dihormati bahkan dia menganggap Jung Kyung Ho seperti appanya sendiri. Orang yang ingin dia lindungi dan dia selamatkan dari tempat terkutuk itu kini telah pergi meninggalkan dirinya, Jaejoong dan Myungsoo. ‘Gidaryeo, seonsaengnim. Aku akan menyusulmu ke alam sana,’ batin Jiyeon.

Keesokan harinya, suasana lokasi eksekusi untuk Jiyeon tampak sepi. Hanya beberapa petugas yang menata tempat itu sebagaimana mestinya.
Dua jam kemudian semua sudah siap. Presiden Park, Soo Jin, Haeri, Soo Hee, petugas eksekusi dan beberapa hakim telah siap menyaksikan proses hukuman mati Park Jiyeon.
Jiyeon dituntun menuju tempat eksekusi dengan mata tertutup diikat kain. Ia mengenakan pakaian hanbok sederhana yang berwarna serba putih. Langkahnya terhenti saat dia telah berdiri di depan meja kecil yang di atasnya terdapat pilihan cara eksekusi. Petugas membuka ikatan penutup mata Jiyeon. Jiyeon dapat melihat tiga benda yang diletakkan di atas meja di depannya. Pertama, racun mematikan yang bila diminum bisa langsung merenggut nyawa peminumnya. Kedua, senjata api. Tentu saja untuk menembak mati. Yang terakhir adalah tali untuk gantung diri.
Jiyeon ragu memilih tali dan senjata api. Dia tidak ingin melukai dirinya sendiri. Setidaknya jika dia harus mati, tak ada bekas luka di tubuhnya. Dengan tangan gemetar, Jiyeon memilih racun sebagai jalan kematiannya.
Semua orang melihatnya memilih racun. Soo Jin tak tega melihat Jiyeon memilih jalan menuju kematiannya sendiri. Ia harus berbuat sesuatu.

“Aku memilih racun sebagai jalan kematianku. Aku tidak memilih tali dan senjata api ini karena aku tidak ingin membuat luka di tubuhku. Aku tidak ingin mati seperti Jung Kyung Ho saem yang meninggal dengan penuh luka di sekujur tubuhnya.”
“Gurae, sekarang, ambil racun itu. Buka tutup botolnya. Dalam hitungan ketiga, tenggak habis racun itu dalam sekali teguk,” perintah seorang petugas aksekusi.
Jiyeon mengambil botol racun itu, membuka tutupnya lalu mencium racun itu. Aromanya sangat menyengat. Dia menatap orang-orang yang ada di sana satu persatu, terutama Soo Jin, Presiden Park, dan Soo Hee. ‘Mianhae, eomma…’ batin Jiyeon diiringi tetesan airmatanya. Sesaat kemudian, Jiyeon menuangkan seluruh isi botol itu ke dalam mulutnya dan memasukkannya ke dalam tenggorokan. Saat itu juga, Jiyeon jatuh tergeletak di atas lantai dengan mata tertutup.
Soo Jin panik dan takut. Dia segera memerintahkan petugas untuk mengantarkan jenazah Jiyeon ke gereja. Dia tidak ingin mengubur jenazah Jiyeon dalam waktu dekat. Soo Jin beralasan bahwa dia akan tinggal di gereja bersama jenazah Jiyeon. Baru setelah itu dia akan mengubur jenazah putri kesayangannya.

Praaang!!
Gelas yang Myungsoo letakkan di atas mejanya tiba-tiba jatuh ke lantai dengan sendirinya. Myungsoo sendiri bingung bagaimana bisa gelas itu jatuh ke lantai padahal ia meletakkannya bukan di tepi meja. Myungsoo berjongkok untuk memberesi pecahan kaca gelasnya. Tiba-tiba tangannya tergores pecahan kaca dan mengeluarkan darah segar.
“Yaak, kenapa aneh begini?” Myungsoo mengikatkan sehelai kain kecil di jari telunjuknya untuk menutup luka agar darah tidak mengalir terus menerus. Myungsoo merasa sesak di dadanya seakan ada sesuatu yang sangat melukai hatinya. Ia tak tahu apa yang terjadi padanya, apakah dia mengidap sebuah penyakit? Myungsoo terduduk di lantai dan bersandar pada kaki meja kerjanya. Dia berusaha berpikir kenapa dadanya terasa sesak bahkan ia juga merasa sulit bernafas. Tarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Ya, begitulah yang dilakukan oleh Myungsoo untuk menghilangkan sesak di dadanya. Dia belum tahu kalau sebenarnya dadanya terasa sesak dan hatinya terasa sakit seperti ditusuk pisau tajam dikarenakan Jiyeon yang tengah sekarat setelah meminum racun. Entah dia masih bisa diselamatkan atau bahkan sudah meninggal.

Tbc.

Aku tunggu komen kalian. Saranghanda and gomawo chingudeul…🙂

37 responses to “Love is Not A Crime [Chapter – Part 12]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s