Tension [2]: Future

tension

Denting bel yang menempel di sisi atas pintu toko tersebut mengalihkan perhatian beberapa manusia yang tengah beraktivitas di dalam ruangan bernuansa elegan tersebut. Jiyeon dan Myungsoo membungkuk ke arah seorang pegawai toko yang menyambutnya dengan senyum.

.

shaza proudly present

[Tension] Future (Chapter 1)
by: Shaza (@shazapark)

starring: Park Jiyeon & Kim Myungsoo

Romance, Drama
Series

READ PREVIOUS — [3 Hours] [Future #1]

hyunfayoungie‘s design @ Art Fantasy

.

Jiyeon menarik lengan jas Myungsoo ketika pegawai itu mendekati keduanya. Sementara Myungsoo mencuri kesempatan untuk memaksa tangan Jiyeon agar menggamit lengannya. Jiyeon tidak banyak protes, karena ia sedang gugup diperhatikan oleh pegawai wanita di depannya.

“Selamat siang menjelang sore, Tuan dan Nona. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah, membuat Jiyeon melonggarkan genggaman tangannya pada lengan Myungsoo. Entahlah, ia sedikit paranoid dengan orang-orang yang lebih tua darinya, teringat masa-masa sekolahnya ketika ia sering ditindas oleh kakak kelas.

“Kami ingin mencari cincin pernikahan.” Jiyeon mengangguk, menyetujui penegasan Myungsoo. Pegawai dengan seragam hitam itu memandang keduanya dengan kening yang berkerut, menukar pandang antara Myungsoo dan Jiyeon—bergantian, kemudian teguran Myungsoo membuat wanita itu tersadar.

“Ah, maaf. Saya khilaf.” Wanita itu memalingkan wajah dengan gugup. Selagi Jiyeon menyenggol siku Myungsoo seraya menutup mulutnya. Myungsoo tahu, Jiyeon pasti hendak tertawa mendengar penuturan pegawai wanita itu. Khilaf?

“Kenapa memerhatikan kami, Nyonya?” tanya Myungsoo usil, membuat wanita itu semakin salah tingkah. “A-ah, tidak. Hanya saja, kalian sepertinya terlalu muda untuk menikah.” Kejap berikutnya, Jiyeon menyembunyikan wajah memerahnya—karena menahan tawa—di balik lengan Myungsoo.

“Myungsoo~ wanita itu bodoh sekali.” Komentar Jiyeon ketika pegawai itu telah berjalan mendahului keduanya untuk menunjukkan tempat penyimpan cincin pernikahan. Myungsoo ikut terkikik, mengingat bagaimana wanita itu memerhatikan wajah mereka, kemudian salah tingkah sendiri. Tidak jelas.

“Dasar orang tua.” Dengus Myungsoo sebelum menarik Jiyeon untuk mengikuti pegawai tadi menuju almari penyimpan puluhan cincin mewah. Jiyeon menurunkan bahunya, membuang rasa gelinya beberapa detik lalu dan digantikan dengan wajah takjub.

Ia mengingat kapan terakhir kali Myungsoo memberikannya cincin palsu dulu ketika keduanya masih terduduk di bangku sekolah menengah atas. Cincin yang terbuat dari pengait tutup kaleng. Cincin yang seolah telah menobatkan Jiyeon sebagai calon pendamping hidupnya di masa depan.

Teringat di benak Jiyeon ketika dulu ia merengek meminta cincin pada Myungsoo. Dan kekasihnya itu hanya bisa membuang napas, berkali-kali membujuk Jiyeon untuk bersabar dan mengingatkan gadis itu bahwa dirinya pasti akan membelikan cincin sungguhan.

Ia tanpa sadar menggurat senyum lebar yang nyaris menjelma tawa kecil ketika kini kedua kakinya telah menjejak toko cincin yang ramai, serta almari penuh yang berisi puluhan cincin yang ia idamkan sejak dulu. Ia menggigit bibir, menahan seluruh gejolak kebahagiaan yang sejak dulu ditahannya di balik dada.

Sementara Myungsoo berbicara kepada pegawai wanita tadi, Jiyeon merenung sesaat. Ia mengerling ke arah belasan pasangan yang tengah mengisi ruang toko ini. Samar, ia dapat mendengar suara Myungsoo mengantarkan sebuah kalimat pertanyaan kepada pegawai tersebut. Bertanya harga, jenis, dan merk—atau entah apa, Jiyeon tidak begitu menajamkan pendengarannya.

Nyaris seluruh pasangan yang tengah membeli cincin di dalam toko itu memang tak berhenti menampilkan senyum. Mengapa Jiyeon tidak? Maka dengan itu, ia kembali menoleh ke arah Myungsoo. Ia memandang punggung tegap yang selalu menjadi tempatnya bersandar itu. Serta bahu yang sering kali terguncang ketika sang pemilik sedang terkekeh, atau tempat di mana kepalanya beristirahat.

Jiyeon membuang napas panjangnya. Satu genap ia ambil sebagai langkah awalnya. Hari ini, mereka akan mempersiapkan acara pernikahan yang akan dilangsungkan satu bulan lagi. Ia tidak percaya ini, namun kenyataannya—ia hampir terlepas dari pegangan orangtua dan akan menjadi milik Myungsoo sepenuhnya bulan depan.

Tanpa sadar, kelopaknya menutup rapat. Merasakan jantungnya yang berdentum keras. “Jiyeon! Kau kenapa?” suara dalam itu mengejutkan Jiyeon dari keterdiamannya. Gadis itu mendongak, dan mendapati wajah cemas Myungsoo memenuhi pandangannya. Ia terkekeh geli, kemudian menjauhkan wajah tampan itu.

“Tidak apa! Ayo, temani aku melihat-lihat cincin yang lain!” dan demi menutupi rasa syukur berkelebihannya, Jiyeon bertingkah kekanakan—lagi—di depan Myungsoo.

.

.

Jiyeon mengamati cincin perak tanpa bandul—namun berukir namanya di sisi dalam—itu dengan seksama. Jari manisnya telah dipeluk oleh emas perak yang sejak dulu ia inginkan dari Myungsoo. Suasana di dalam mobil Myungsoo terasa lengang, hanya suara musik yang disembulkan dari radio mobil yang memenuhi udara saat itu.

Jiyeon merengut, mencebikkan bibir. “Myungsoo.” Panggil Jiyeon pada Myungsoo yang sedang fokus menyetir. Jiyeon menoleh ke arah Myungsoo, kemudian mengacungkan jemarinya tepat di depan wajah Myungsoo—untunglah saat itu Myungsoo baru saja menginjak rem untuk menaati lampu merah.

“Kata orang, jika cincin pasangan perempuannya pas di jari kelingking pasangan prianya, maka ia berjodoh.” Tukas Jiyeon dengan nada terlampau riang. Myungsoo mengatur gigi mobil, kemudian kembali melajukan mobil ketika cahaya lampu lalu lintas telah memendar warna hijau.

“Lalu?” tanyanya bosan. Jiyeon tersenyum lebar, kemudian meraih sebelah tangan Myungsoo yang beristirahat di atas kemudi. Ia memasangkan cincin peraknya pada jari kelingking Myungsoo, namun yang ada pria itu meringis karena jarinya seperti dicekik oleh lingkar kecil cincin tersebut.

“Kau bodoh? Ini sakit! Sempit sekali.” Sentak Myungsoo menarik kembali tangannya dari genggaman Jiyeon. Jiyeon mengerucutkan bibir, kemudian memasang kembali cincinnya di jari manisnya.

“Jari Myungsoo memang besar ya. Ternyata tidak muat.” Jiyeon menggumam di sebelah Myungsoo yang mengerutkan dahi karena tidak suka dipaksa memakai cincin Jiyeon. Jiyeon yang melihat perubahan wajah Myungsoo lantas berkata.

“Myung? Kau kenapa?” tanyanya, menelaah lagi wajah jengkel Myungsoo yang sedang fokus menyetir. “Kau marah? Ya Tuhan, maafkan aku.” Lanjut Jiyeon, tak mendapat sahutan dari Myungsoo.

Ia tidak mengerti, kapan dan mengapa Myungsoo-nya berubah menjadi sosok pendiam. Yang ia ingat, sejak kedua kaki mereka telah mengeluari toko cincinlah wajah Myungsoo berubah jengkel, dan setelahnya Jiyeon tidak peduli dengan alasannya.

Jiyeon mengetuk kukunya di atas paha, kemudian melirik Myungsoo lagi. “Apa kelingkingmu terasa sakit karena perlakuanku tadi?” tanya Jiyeon lagi, memberi jeda agar Myungsoo menjawabnya. Namun, masih sama seperti sebelumnya—Myungsoo bergeming—setidaknya ia sempat berkata. “Diamlah.” Untuk mencegah ocehan Jiyeon lagi.

“Ma-maaf, Myung. Aku tahu, aku bodoh, telah mempercayai mitos-mitos kuno itu. Aku janji tidak akan—”

“Aku memintamu untuk diam!” Myungsoo memberi penekanan. Membuat Jiyeon semakin bingung akan perubahan sikap Myungsoo. Secara tidak sengaja, kekasihnya itu telah menyakiti Jiyeon. Gadis itu menunduk, memainkan sabuk pengaman yang membelit tubuhnya.

“…maafkan aku.” Maaf Jiyeon—untuk yang kesekian kalinya selama lima menit. Namun, Myungsoo hanya mengembuskan napasnya ketika melihat kepala Jiyeon telah terkulai ke arah kaca mobil untuk tertidur.

.

.

Myungsoo menempatkan mobilnya di area parkir terbuka yang sangat dekat dengan pintu masuk toko bunga. Toko bunga yang saat ini akan disinggahinya itu adalah satu dari puluhan toko bunga di kotanya yang paling menyetak jejak di hati para pelanggan.

Di mana ketika kau masuk, kau akan disuguhi dengan wewangian bunga yang tidak tercampur dan menenangkan serta ruang luas yang seolah menyediakan taman untuk para pelanggan. Myungsoo dan Jiyeon memilih untuk memesan bunga di tempat itu. Tak hanya mereka yang juga memesan bunga di sana, tetapi nyaris setiap pasangan akan rela mendatangi toko tersebut.

Myungsoo mematikan mesin mobil, kemudian melepas sabuk pengamannya dengan tenang tanpa bersuara. Ia melirik sosok manis di sebelahnya yang masih tertidur. Ia ingat, selama perjalanan menuju toko ini, kekasihnya itu terus tertidur tanpa peduli dengan keningnya yang berulang kali membentur dasbor mobil ketika Myungsoo menginjak rem.

Pria jangkung dengan surai hitam legam itu mengusap dahi Jiyeon yang memerah, nyaris menuju biru karena bengkak terbentur dasbor berkali-kali. Ia meniup dahi Jiyeon, meringankan perih dari kulit putih tersebut.

Ia teringat akan perlakuannya selama melajukan mobilnya ke toko bunga besar ini, di mana ia sedang dalam keadaan unmood karena rupanya harga cincin yang baru saja mereka beli melebihi batas perkiraannya, sehingga uang tabungannya untuk memberi kejutan sebuah rumah pada Jiyeon harus terkuras sedikit.

Jiyeon membujuk Myungsoo—merengek—untuk dibelikan cincin sederhana dengan ukiran nama di dalamnya, namun rupanya harga cincin yang dipesan itu jauh lebih mahal dibandingkan cincin lainnya. Terpaksa, Myungsoo mengais uang tabungannya. Pada kenyataannya, Myungsoo ingin menggunakan uang itu untuk memberi kejutan berupa rumah pada kekasihnya itu ketika mereka telah menikah nanti.

Setelah berlama-lama memandangi wajah Jiyeon yang tak kunjung terjaga, Myungsoo memutuskan untuk beranjak dari dalam mobilnya. Ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar beberapa petak dari mobil. Tubuhnya memaling ke arah mobil, kemudian mengunci mobilnya dari luar—pikirnya, untuk berjaga-jaga apabila Jiyeon diculik atau bisa jadi dilecehkan oleh orang-orang yang berada di sekitar parkiran.

Myungsoo bergidik membayangkannya, jangan sampai terjadi. Tidak peduli akan fakta bahwa Jiyeon terkunci dari dalam. Dengan langkah santai, Myungsoo menjauhi mobilnya dan mendekati pintu masuk toko bunga.

Ketika tangannya mendorong gagang pintu alumunium milik toko itu, wewangian bunga yang tersusun teratur segera merasuki penciumannya. Ia bahkan disambut ramah oleh pelayan pria yang sejak tadi berdiri di dekat pintu. Myungsoo membungkuk ke arahnya, kemudian mengucap salam singkat sebelum akhirnya menarik anjak untuk melihat-lihat bunga.

Myungsoo tidak begitu memahami nama-nama bunga, Jiyeon yang mengetahuinya. Myungsoo hanya senang melihat bentuknya dan mencium aromanya, tanpa mengetahui nama dari bunga-bunga tersebut. Untuk apa dihafal? Pikirnya.

Ketika ia sedang asyik memandangi bunga crisan, seorang wanita menepuk pundaknya. Myungsoo tersentak, menoleh cepat sembari mengusap pundaknya yang baru saja disentuh oleh wanita asing. Entahlah, Myungsoo tidak terbiasa disentuh oleh orang yang tidak dikenalnya.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanyanya ramah. Lagi-lagi, Myungsoo mendapatkan perhatian khusus dari pelayan wanita di toko ini. Jika sebelumnya ia dilayani oleh seorang wanita di toko cincin, maka sekarang di toko bunga.

“Itu…” Myungsoo menggaruk dagunya, bingung ingin berkata apa. “aku ingin memesan bunga. Bukan buket atau satu tangkai, tapi untuk dekorasi pernikahan yang—” belum sempat Myungsoo menyelesaikan kata-katanya, wanita di hadapannya telah tersenyum dengan mata berbinar.

“Ah! Anda akan menikah? Kalau begitu, biar saya antar Anda menuju tempat tersimpannya bunga lily oriental.” Katanya rancu, membuat dahi Myungsoo mengerut. Ia kemudian terpaksa menyeret langkahnya mengikuti wanita di depannya.

Tibalah ia di sebuah ruangan—yang rupanya jauh lebih disesaki manusia di dalamnya. Di sana, ia diantar menuju rak duduk penyimpan bunga berwarna merah mudah dan oranye. Ia tidak begitu senang dengan tampilannya.

“Ini lily oriental, saya rasa cukup cocok dengan Anda. Saya yakin, Anda menginginkan kelangsungan pernikahan yang suci, lembut, ceria, dan penuh kasih sayang.” Myungsoo merasa rahangnya jatuh ketika wanita bertitel pelayan itu menjelaskan secara rinci. Sungguh, Myungsoo sejak dulu tidak pernah peduli pada nama bunga—terlebih artinya.

Yang ia tahu, jika bunga itu nyaman dipandang, maka ia suka.

Kemudian Myungsoo menggelengkan kepalanya, tanda tak setuju dengan saran pelayan wanita tersebut. Myungsoo memutuskan untuk menggerakkan lehernya memutar, melihat sekilas bunga-bunga yang masih terjajar rapi di sana.

Ketika maniknya menangkap ratusan kelopak kuning, otaknya dengan cepat menarik atensi untuk mendekati rak tersebut. Diikuti oleh pelayan wanita yang ingin melayani Myungsoo sepenuhnya.

“Untuk dekorasi, aku ingin pesan bunga ini. Berikan aku sekitar dua ratus tangkai,” Myungsoo berujar cepat, membuat pelayan wanita tadi dengan tergesa-gesa mencari nota di sakunya. Ia mencatat pesanan Myungsoo selagi pria itu mengamati bunga kuning yang tampak cerah.

“Tuan, ini namanya bunga matahari. Apakah Tuan tidak tahu?” wanita itu menyerbunya dengan pertanyaan, membuat Myungsoo menoleh malas. Lagi-lagi. “Tidak.” Jawabnya singkat, membuat wanita tadi tersenyum.

“Bunga matahari melambangkan kemurnian, pemikiran yang luas dan dalam, kesungguhan hati dan keceriaan.” Myungsoo lantas teringat akan sosok Jiyeon-nya ketika mendengar penuturan pelayan itu. Myungsoo bukannya sedang merasa bahwa Jiyeon adalah sosok yang murni dan berpemikiran luas, namun getaran di ponselnya mengembalikan lamunan pria itu.

Sebelumnya, ia melirik segerombol bunga berwarna putih yang dikesampingkan dengan mawar merah. Ia menunjuk bunga kecil berwarna putih tersebut. “Jadikan ini buket genggam pengantin,” katanya, memerintah.

Ketika ia menggeser layar untuk menerima panggilan, ia mendengar suara bergetar milik kekasihnya. “Myungsoo?” katanya sesaat.

“Myung? Kau di mana? Kenapa aku terkunci di dalam mobil? Ayolah, aku takut!” ia lantas tersadar bahwa kekasihnya masih ia kurung di dalam mobil tadi. Ah, bodohnya kau.

.

.

“Jangan mengambek, Sayang. Maaf, ya. Habis kau tertidur tadi.” Setelah mengurus administrasi pembayaran yang melebihi seharga satu juta, Myungsoo berlari menuju parkiran. Ia mendapati wajah Jiyeon yang merengut, matanya digenangi air. Sontak membuat Myungsoo cemas.

Ia membuka pintu mobil sisi samping pengemudi, tempat di mana Jiyeon terduduk. Ia kemudian meminta Jiyeon untuk duduk menyamping, ke arahnya yang masih berdiri di depan pintu. Pria itu membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan kekasihnya.

“Kenapa tidak bangunkan aku saja?” dan seiring dengan kalimat itu terucap, air mata Jiyeon telah jatuh ke permukaan pipinya. Myungsoo tertegun, merutuki kesalahannya yang selalu membuat Jiyeon menangis. Myungsoo menarik punggung Jiyeon untuk mendekat ke arahnya. Membenamkan tubuh itu di dalam dekapannya.

Tubuhnya yang masih dalam keadaan berdiri—sementara Jiyeon sedang terduduk—itu membuat wajah Jiyeon bertabrakan dengan perut Myungsoo. Jiyeon memeluk erat pinggang Myungsoo, menyembunyikan wajahnya.

“Aku pikir… tadi aku sedang diculik. Aku tidak tahu jika sekarang kita sudah sampai di toko ini.” Jiyeon mengeluarkan keluhannya, sementara Myungsoo dengan tenang mengayunkan tubuh Jiyeon ke kanan dan ke kiri. Biasanya, dengan seperti itu Jiyeon akan merasa tenang.

“Justru itulah mengapa aku mengunci mobil ini. Aku takut seseorang membuka mobil ini dan mendapati dirimu di sana, lalu menculikmu. Kau mau?” Jiyeon tidak membalas dengan kata-kata, namun gadis itu meneguhkan pelukannya seperti berusaha membuat kemeja Myungsoo menyerap seluruh air matanya.

“Maafkan aku, Jiyeon-ah. Ini sungguh kesalahanku.” Jiyeon mengesampingkan wajahnya, kemudian kembali menyandarkan pipinya di perut Myungsoo. Pria yang tengah mendekapnya itu kemudian mengusap surainya hati-hati. “Yang terpenting, sekarang kau baik-baik saja. Bukankah begitu?” tanya Myungsoo.

Jiyeon membalasnya dengan anggukan, kemudian Myungsoo melepas pelukannya. Ia membungukuk, agar wajahnya bisa berhadapan langsung dengan wajah memerah Jiyeon-nya. “Jangan menangis lagi, kau ini kenapa?” Myungsoo iseng menjawil hidung Jiyeon, menuai tawa singkat gadis itu.

“Minum dulu. Jangan menangis lagi, okay?” tutur Myungsoo mengusap wajah Jiyeon, diikuti dengan permainan tangannya di rambut kekasihnya. Jiyeon ikut menghapus air matanya sendiri, kemudian menerima botol berisi air mineral yang disodorkan Myungsoo dari pintu dalam mobil.

“Aku tidak janji untuk jangan menangis. Pasti aku akan menangis lagi.” Sahut Jiyeon setelah meneguk air. Myungsoo membuang napasnya, kemudian merampas botol di genggaman Jiyeon.

“Mengapa seperti itu? Setidaknya kau tidak boleh menangis hingga acara pernikahan kita selesai nanti.” Myungsoo menegakkan tubuhnya, bersamaan dengan sergahan Jiyeon.

“Justru itu! Aku akan menangis saat itu.” Jiyeon menyergap dengan wajah jengkel. Tanpa sadar, pipinya merona mengatakannya. Jejak air mata bersama dengan hidung merah di wajah gadis itu membuat Myungsoo berpikir panjang. Ia memandang wajahnya lama, kemudian paham dengan sendirinya.

“Ba-bahkan jika aku membayangkan kita akan menikah nanti, aku… rasanya aku—” Myungsoo membungkuk lagi, menghapus air mata yang kembali meruah dari maniknya yang kecokelatan. Kemudian kali ini benar-benar membungkuk, agar kekasihnya itu dapat menangis di dalam dekapannya—menumpahkan air matanya pada bahunya.

“Aku ti…dak menyangka akan meni…kah dengan…mu. Huwe~ Myungsoo~” Ujar Jiyeon tersendat-sendat diselingi dengan isakan, dan yang membuat kepala Myungsoo mendadak pecah adalah rengekannya. Ia selalu bisa menangani sikap Jiyeon, apapun itu—kecuali ketika ia menangis seperti saat ini, bukan tangisan sedih.

Sst, tidak perlu menangis, Jiyeon. Ugh, sungguh.” Myungsoo melepaskan pelukannya, kemudian kembali memandang wajah Jiyeon dari dekat. Matanya, mata yang selalu mengeluarkan air berharga.

“Kenapa kau selalu menangis? Apa kau juga mengekspresikan kebahagiaan melalui tangisan?” Myungsoo bertanya. Tidak sadar bahwa keduanya telah berlama-lama mendepak tempat parkir di toko bunga tersebut. Jiyeon mengangguk lucu, bibir bawahnya mencebik.

“Maaf, Myungsoo.” Namun pria itu tidak membalas permintaan maaf Jiyeon dengan kalimat, ia hanya mengusap kepalanya sembari tersenyum, sebelum akhirnya menutup pintu mobil di sisi samping kemudi. Ia kemudian beranjak ke sisi pintu lainnya, di mana jok kemudi berada.

“Jangan menangis lagi.” Kata Myungsoo ketika sedang memasang sabuk pengamannya. Jiyeon mengangguk sebelum akhirnya Myungsoo menyalakan mesin mobil. “Kau paling senang dengan hal-hal berbau desain dan pakaian, bukan?” tanya Myungsoo setelah memundurkan mobilnya untuk keluar dari area parkir.

“Um!” angguknya singkat. Kemudian, Myungsoo melanjutkan. “Kita ke butik milik Bibiku, kemarin beliau bilang sudah membuatkan pakaian pernikahan untuk—”

Yeay!” Jiyeon menjerit bahagia, tak sadar akan kebiasaannya yang mengekspresikan kebahagiaan melalui tangisan. Ia bahkan nyaris melompat dari joknya ketika mendengar penuturan Myungsoo tadi. Myungsoo menggelengkan kepalanya, namun tak dapat menyangkal bahwa senyumnya tak hilang ketika Jiyeon mengecup pipinya seraya berteriak, “Terima kasih, Sayang.”

Jika hanya karena pakaian saja Jiyeon bisa tersenyum, maka Myungsoo rela membelikan kekasih—calon istrinya—itu dengan berlusin pakaian. Namun, jauh dari benak Jiyeon, Myungsoo-lah faktor senyumnya.

.

.

Myungsoo dan Jiyeon bukan tipe orang yang senang mencoba barang, mereka tidak pernah memastikan apakah barang itu cocok untuknya atau tidak untuk mereka. Seperti saat ini, rupanya Bibi Myungsoo meminta keduanya untuk mendatangi langsung rumahnya, bukan butiknya.

Myungsoo—dan terutama Jiyeon—terpaksa bertutur sopan ketika menginjakkan rumah bergaya vintage tersebut. Jiyeon tak berhenti memuji setiap sudut ruang yang terdesain rapi dan nyaman, meskipun kecil. Diam-diam, ia menginginkan rumah seperti ini jika telah menikah dengan Myungsoo nanti.

Beberapa menit setelah Myungsoo dan Jiyeon mendapatkan tuksedo dan gaunnya, Bibinya itu segera membondong Myungsoo dan Jiyeon dengan kalimat. “Coba kenakan pakaiannya!” yang memaksa. Myungsoo dan Jiyeon bersamaan tersenyum garing, kemudian saling memandang satu sama lain seperti tengah bertelepati untuk menyetujui keinginan Bibinya atau tidak.

Pasalnya, bukan hanya karena matahari yang semakin bergerak cepat menuju barat, Jiyeon dan Myungsoo juga tidak terbiasa mencoba pakaian secara langsung. Mereka lebih senang mencucinya terlebih dahulu, lalu mengenakannya.

“Ba-baiklah, Bibi. Di mana aku bisa mengganti pakaianku?” Myungsoo akhirnya menyetujui, sementara Jiyeon masih menggaruki kepalanya, canggung. Bibinya kemudian tersenyum lebar ke arah Myungsoo seraya menunjukkan kamar ganti di dekat kamar mandi dapur.

Jiyeon meremas tas kertas berisi gaun putihnya, kemudian terpaksa ikut bertanya pada Bibi Myungsoo. “Bagaimana denganku, Bibi? Aku harus berganti di mana?” tanyanya halus. Bibi Myungsoo tersenyum kian lebar, bahkan senyumnya kini menjelma menjadi tawa ringan ketika menyadari wajah Jiyeon tampak gugup.

Wanita paruh baya itu dengan senang hati mengantarkan Jiyeon menuju kamarnya. Wanita itu tidak sabar untuk melihat pakaian yang dibuatnya akhirnya dikenakan oleh pemiliknya.

Beberapa menit berselang, Bibi Myungsoo mengetuk pintu kamar ganti Myungsoo. “Myungsoo? Kau sudah selesai memakainya?” tanyanya dari luar kamar, wanita paruh baya itu mendekatkan telinganya di sisi pintu berusaha mencuri dengar.

“Ah, a-aku sudah selesai, Bibi. Ta-tapi—” Bibi Myungsoo mengernyit ketika mendengar suara gugup Myungsoo. Ia dengan menggunakan tangan kanannya membuka pintu tersebut, membuat Myungsoo berteriak.

“Sedang apa kau di sana?” tanyanya sembari mendekati Myungsoo yang berdiri tepat di depan cermin. Tangan kanan Myungsoo menyembunyikan kain dasi di belakang punggungnya. Bibi Myungsoo yang sempat melihat bahwa benda yang disembunyikan Myungsoo adalah sebuah dasi lantas tersenyum jahil.

“Kau tidak bisa memasang dasi?” tanyanya lagi, disertai kerlingan mengejek. Myungsoo menggaruk tulang hidungnya, kebiasaannya ketika sedang gugup, kemudian mengangguk. “Begitulah, Bi.” Sahutnya pada akhirnya.

Bibi Myungsoo seperti melihat sosok keponakannya tiga belas tahun yang lalu, imut dan mudah gugup. Sebelum Bibinya sempat meraih dasi di tangan Myungsoo, suara ketukan pintu menghadang segenap perhatian keduanya. Baik Myungsoo dan Bibi Myungsoo sama-sama menoleh ke arah pintu yang barusan diketuk.

Dari sana, menyembul kepala seorang gadis. Poninya jatuh melandai ke arah kanan, sesuai dengan tubuhnya yang juga bertumpu di balik pintu seperti menyembunyikan tubuhnya. Itu Jiyeon. “Bibi, ehm—aku tidak bisa memasang resleting di punggungku.” Mendengar keluhan gadis itu, sontak saja Bibi Myungsoo mengernyit bingung.

Sama saja. Mereka berdua sama saja.

“Bagaimana kalian akan menikah jika memasang dasi dan resleting saja tidak bisa?” pertanyaan itu dilempar pada keduanya, dan dengan cepat pula direspons oleh mereka.

“Aku bisa memasang dasi!”
“Aku bisa memasang resleting!”

Bahkan Myungsoo dan Jiyeon berteriak serempak. Perbedaannya, Jiyeon yang berkata bahwa ia dapat memasang dasi, sementara Myungsoo menegaskan bahwa ia bisa memasang resleting. Bodoh, Myungsoo dan Jiyeon memang bisa terlihat bodoh di depan orang-orang yang lebih tua.

“Nah, kalau begitu. Jiyeon pasangkan dasi milik Myungsoo. Dan, Myungsoo pasangkan resleting di punggung Ji—” belum sempat Bibi Myungsoo menyelesaikan perkataannya, Myungsoo dan Jiyeon kembali bersuara.

Andwae!” lagi-lagi serempak, membuat pipi keduanya tampak merona. Myungsoo dan Jiyeon memalingkan tubuh agar tidak saling melihat wajah memalukan mereka.

Myungsoo mengatur detak jantungnya, mengambil napas dan membuangnya pelan-pelan. Ia sempat membayangkan bila ia memasang resleting gaun Jiyeon, dan itu membuatnya malu, apalagi jika Jiyeon memasangkan dasinya. Tidak. Jantungnya akan meledak.

Sementara itu, Jiyeon merasakan bahwa dadanya naik turun—napasnya sedikit memburu karena gugup. Ia memukul pelipisnya, kemudian meringis karena perlakuannya sendiri. Ia memandang ke arah bawah—tempat di mana rok gaun putihnya tampak mekar melindungi kakinya. Dihias rumbai manis dan menyentuh lantai. Ia meraba punggungnya yang masih dikaitkan resleting, namun tidak menutup sepenuhnya. Bagaimana jika Myungsoo memasang resletingnya, itu memalukan. Sungguh, ia malu. Lagi, ia belum siap untuk benar-benar memasang dasi Myungsoo, barusan ketika ia melirik tubuh Myungsoo yang digelut tuksedo hitam saja sudah membuat jantungnya berdentum keras, apalagi berdiri di hadapannya—memasangkan dasinya, ugh.

Bibi Myungsoo yang menyadari perubahan atmosfer segera tertawa keras. Jujur, Bibinya hanya bercanda barusan, dan wanita itu tidak menyangka jika candaannya akan berakhir dengan dua manusia tinggi yang saling menebar rasa malu. Menggemaskan.

“Baiklah, baiklah. Jiyeon kembali ke kamarmu, Bibi akan memasangkan resletingmu setelah memasangkan dasi Myungsoo. Cepat!” dengan menjinjing rok megarnya, Jiyeon terburu-buru pergi ketika mendengar perintah Bibi Myungsoo. Hingga dengan ceroboh, ia tidak melihat baik-baik anak tangga yang tengah ia langkahi. Ia ambruk di sana, menimbulkan suara debuman yang cukup keras hingga mengalihkan kembali perhatian Myungsoo dan Bibinya.

“Aw!” ringisnya dengan suara kecil. Ia mengusap tulang keringnya yang membentur ujung anak tangga, wajahnya berubah masam merutuki kesialannya.

“Jiyeon? Kau tak apa?” suara Myungsoo terdengar dari dalam kamar ganti. Jiyeon menyentakkan kepalanya, kemudian terburu-buru berdiri dan merapikan rambutnya. “Aku baik-baik saja.” Sahutnya, tak ingin membuat Myungsoo keluar dari kamar lantas menghampirinya. Melihat Myungsoo dengan tuksedo itu hanya akan membunuhnya pelan-pelan.

“Kau serius? Tadi kau jatuh bukan?” kali ini Myungsoo berteriak, memastikan suaranya sampai di pendengaran Jiyeon. Jiyeon segera melarikan diri ke kamarnya. “I’m okay, honey! It’s really okay!” responsnya menjerit sebelum akhirnya menutup pintu kamarnya dengan tergesa-gesa.

Bagaimana bisa Jiyeon akan menjadi seorang pengantin, jika seperti ini saja ia gugup setengah mati? Gadis itu membuang napasnya resah, tidak yakin dengan keputusannya.

.

.

Hari sudah malam—benar-benar malam—ketika Myungsoo dan Jiyeon memutuskan untuk pulang, dan kini mereka berdiam di dalam lindungan mobil. Di luar sana mendadak tanah dibasuh rerintik air, hujan membungkus kota dan malam musim panas semakin terasa dingin kala itu.

Jiyeon memainkan jemarinya yang masih dilingkari cincin perak, dentum air yang mengenai kaca mobil telah menjadi teman pendengaran Myungsoo dan Jiyeon. Jalanan licin, namun kendaraan masih hilir-mudik di atas aspal jalanan kota. Begitupun dengan Myungsoo dan Jiyeon.

Jiyeon mengangkat kepalanya, wajah sedih yang sedari tadi ia lukis kini terpampang. Rambut sebahunya ia ikat menjadi satu di belakang tengkuk.

“Myungsoo.” Panggilnya di antara berisik air hujan di luar mobil. Myungsoo menoleh selama tiga detik ke arah Jiyeon, kemudian kembali pada jalanan kota malam.

“Ya?” demikian sahutan singkatnya. Jiyeon memiringkan tubuhnya agar dapat duduk menghadap Myungsoo sepenuhnya, ia menekuk kakinya agar terangkat di atas jok.

Gadis itu mengambil napas dalam-dalam, kemudian memeluk lututnya. “Itu… hm, kau yakin akan menikahiku?” tanya Jiyeon final. Ia sejak tadi benar-benar membendung satu pertanyaan ini, dan lidahnya terasa kelu setelah menyampaikan perasaan gelisahnya tersebut.

Bagaimanpun, kejadian di mana ia dan Myungsoo terlihat seperti orang bodoh di rumah Bibi Myungsoo tentu saja membuat hati Jiyeon goyah. Ia tidak mau menjadi pengantin yang memalukan.

Myungsoo menoleh ke arah kekasihnya ketika mendengar suara bergetar itu. Hanya sesaat, untuk memastikan bahwa wajahnya baik-baik saja. Namun, hal yang didapatkan Myungsoo justru sebaliknya.

Jiyeon dengan wajah memelasnya ia pikir lebih baik jika dibandingkan dengan sekarang. Hidung dan matanya memerah, namun gadis itu tidak menangis. Di antara cahaya yang sangat kecil, Myungsoo dapat mengetahui bahwa gadis itu sedang menahan gejolak emosi.

Myungsoo merendahkan kecepatan menyetirnya agar ia dapat fokus berbicara pada Jiyeon. “Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba?” Myungsoo menjawab, tiba-tiba ikut merasa resah. Jiyeon mengerutkan dahinya, berpikir keras.

“Kau tahu…” gadis itu memberi jeda, ia memainkan ujung lengan pakaiannya. “aku kekanakan, dan mudah membantah. Aku manja, dan mudah marah. Aku egois, juga tidak dapat—”

“Jiyi, ternyata kebiasaan menjelek-jelekkan diri sendiri itu belum hilang juga, hm? Setidaknya bersyukurlah aku masih mau menikahimu nanti.” Sela Myungsoo, sudah lelah dengan sikap Jiyeon yang hatinya mudah goyah. Jiyeon tertegun mendengar penuturan Myungsoo, ia menundukkan kepalanya.

“A-apa itu berarti… kau terpaksa menikahiku?” setelah terdiam tiga puluh detik untuk berpikir, Jiyeon kembali bersuara. Kali ini pertanyaannya membuat Myungsoo menginjak pedal rem mendadak, untunglah jalanan sepi saat itu.

“Jiyeon!” tegas Myungsoo menoleh ke arah Jiyeon dengan mata berkilat marah. Benci dengan pertanyaan Jiyeon barusan. “Kau barusan berkata apa, Jiyeon? Gunakan otakmu ketika ingin bertanya.” Myungsoo tanpa sadar mengeluarkan kalimat kejamnya pada Jiyeon.

Baru ketika Jiyeon menyembunyikan wajahnya di balik lutut diikuti dengan isakan tertahan dan bahu bergetar, Myungsoo tersadar akan ucapannya. Ia mendesah berat, menarik ujung poninya yang memanjang.

“Jiyeon, maafkan aku, Sayang.” Ia melajukan mobilnya, hanya untuk menepi di pinggir jalan, kemudian kembali terfokus pada Jiyeon-nya yang menangis. “Aku bukan bermaksud bekata seperti itu, sungguh. Siapa bilang aku terpaksa menikahimu?” tanyanya langsung, ia ikut duduk menyamping agar berhadapan dengan tubuh Jiyeon.

Jiyeon mengangkat kepalanya, memerlihatkan wajah basahnya. “Kau yakin?” ucapnya, menghapus air mata. Myungsoo tersenyum tipis, bersyukur karena Jiyeon tidak mengomel atau merengek. Ia mencondongkan tubuh, mengacak surai lembut kekasihnya.

“Coba kau pikir-pikir. Berapa lama kita bersama? Kapan aku berkata terpaksa? Siapa yang selalu membuatmu menangis karena bahagia? Apa yang membuatmu mengenal kasih sayang?” tanya Myungsoo beruntun, namun Jiyeon membalasnya dengan keterdiaman. Karena ia tahu, seluruh jawaban itu ada di tangan Myungsoo.

“Siapa yang akan kaupanggil ketika sedang dalam masalah? Dan, siapa pula orang yang sampai detik ini ingin sekali aku lindungi, dan berhenti menangis?” Myungsoo mengangkat wajah Jiyeon agar menoleh ke arahnya, kemudian ia menebar senyum.

“Maaf karena membentakmu tadi.” Ujarnya, melanjutkan kalimat. “Aku sungguh tidak suka ketika kau berkata bahwa aku terpaksa menikahimu.” Myungsoo mencebikkan bibir tebalnya, kemudian Jiyeon balas memandang wajah kekasihnya yang diterangi sekelebat cahaya kendaraan yang lewat.

“Kau menyuruhku untuk meminta maaf karena telah berkata seperti tadi, huh?” Jiyeon bertanya ketus, sementara Myungsoo tertawa. “Tidak. Aku memintamu untuk menyesal dan jangan mengulanginya lagi.” Perintahnya, yang segera diangguki oleh Jiyeon.

“Maafkan aku.” Pada akhirnya, gadis itu tetap meminta maaf pada Myungsoo. Sungguh, ia tetap merasa bersalah. Merasa bersalah adalah perasaan yang paling membekas di hatinya, dan tak bisa dihapus meski melalui senyum Myungsoo—senyum yang seolah mengatakan bahwa pria itu baik-baik saja.

“Tidak apa.” Katanya sebelum akhirnya kembali melajukan mobilnya. Suasana kembali hening. Hati Jiyeon telah kembali menyatu, ia merasakan semangat tak terbendung di dadanya ketika mendengar pertanyaan beruntun yang diberikan Myungsoo barusan.

Berapa lama kita bersama? Kapan aku berkata terpaksa? Siapa yang selalu membuatmu menangis karena bahagia? Apa yang membuatmu mengenal kasih sayang? Siapa yang akan kaupanggil ketika sedang dalam masalah? Dan, siapa pula orang yang sampai detik ini ingin sekali aku lindungi, dan berhenti menangis?

Itu hanya pertanyaan sederhana yang entah mengapa sukses menyatukan kepingan hati Jiyeon yang sebelumnya terpecah karena keraguan. Kini, ia yakin bahwa Myungsoo-nya bersungguh-sungguh mencintainya, dan akan menjadi pendamping hidupnya bulan depan.

“Myungsoo.” Panggilnya lagi, dengan nada manja seperti biasanya. Myungsoo memutar bola matanya jengah. “Apa lagi?” sahutnya bosan. Namun, di detik berikutnya, ia kehilangan keseimbangan dalam menyetir karena tubuh Jiyeon telah terduduk di pangkuannya.

Sayangnya, ia tidak sempat menonton bagaimana Jiyeon bisa melompat ke pangkuannya, hingga kini gadis itu terduduk di atas pahanya—membelakangi stir, dan berhadapan dengan Myungsoo.

“Jiyeon?! Apa yang kau—”

“Aku ingin tidur.” Penggalnya sebelum membenamkan wajahnya di pundak Myungsoo, memberi ruang untuk melihat jalanan bagi Myungsoo yang sedang menyetir. Lengan Jiyeon melingkari leher Myungsoo. Mereka seperti sepasang koala yang sedang berpelukan.

Myungsoo menahan suara detak jantungnya, ia menghentikan laju mobilnya ketika sampai di lampu merah. Tubuh Jiyeon yang sepenuhnya bertumpu pada tubuhnya itu tidak terasa berat. Ia menikmati di mana suara napas berat kekasihnya menyapa gendang telinganya, senang menyadari bahwa kaki Jiyeon mengalungi pinggangnya—Jiyeon seperti anak kecil yang membutuhkan pelukan orang tuanya.

Ketika Jiyeon menggeliat dalam pelukannya, lampu lalu lintas merubah warna menjadi hijau.

“Jangan angkat kepalamu, Jiyeon! Aku tidak bisa melihat nanti!” seru Myungsoo tertahan, namun rupanya gadis itu hanya menggeliat sesaat. Tidak benar-benar terbangun, dan ia melanjutkan tidurnya dengan nyaman. Myungsoo bersyukur setelahnya.

Dimulai detik ini, ia akan lebih memerhatikan Jiyeon-nya. Terlebih, keduanya akan merajut masa baru. Ya, masa depan. Masa depan yang lebih berwarna, karena penyandang status kekasih itu akan segera mengalihnya dengan suami dan istri.

.

.

// finite. //

.

.

Seperti yang udah pernah aku sebutkan di chapter lalu bahwa FF ini masih akan berlanjut. Mungkin hasilnya menjadi oneshot atau twoshot yang berkesinambungan. Sebagai contohnya komik Doraemon. Satu cerita langsung selesai, tapi masih ada series yang berlanjut.

Oh iya, kemaren ada yang salah nangkep ya? Kayaknya semua gak ngerti malah .-.
Jadi, di sini myungyeon bukan nikah besok, siapa yang bilang besok nikah dah -,- orang di sini cuma dijelasin kalau mereka cuma dikasih waktu satu hari untuk nyiapin pernikahan mereka.

Gitu deh.

Dan buat yang nanya mereka udah direstuin atau belum, itu jawabannya udah dirstuin. Jelas ‘kan?

 Oke, makasih atensinya🙂 tunggu series Tension lainnya dari aku, ya?

42 responses to “Tension [2]: Future

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s