[Ficlet] 17 : 25

tumblr_m46itzZB3V1rtz9hio1_500

17 : 25

Kim Myungsoo, Park Jiyeon

© Kyubei

*

Gadis itu, Park Jiyeon sekali lagi memperhatikan baik-baik pantulan dirinya di cermin. Menurut pendapatnya sendiri, penampilannya sudah cukup bagus. Tapi, kepercayaan dirinya sekarang sudah hilang. Bagaimana nanti kalau dia mendapat tatapan penghinaan, dan bagaimana nanti kalau pria itu mendaptakan kritikan tajam akibat berkencan dengannya? Gadis itu menghancurkan tatataan rambutnya saking frustasi. Dia tidak bisa. Kalau dia memaksa maka semuanya pasti akan berakhir buruk.

 

“Jiyeon-ah, Myungsoo sudah datang.”

 

Terlambat. Dia tidak bisa merubah keputusannya lagi. Sekarang mau tidak mau dia harus menghadapi apa yang berada di hadapannya. Baiklah, pertama-tama dia harus menenangkan dirinya sendiri sebelum menemui Myungsoo di bawah sana.

 

Perlahan-lahan langkah kaki kecil Jiyeon sudah membawanya turun ke bawah, dan akhirnya menemukan Myungsoo dengan wajah yang luar biasa tampan tersenyum hangat kepadanya. Jiyeon membalas senyum hangat pria itu dengan gugup sembari memainkan rambutnya yang tergerai bebas.

 

“Kau canitik,” puji Myungsoo. Pria itu berusaha mengembalikan kepercayaan diri Jiyeon. Dia meraih pergelangan tangan Jiyeon, lalu menautkan jemari mereka. Myungsoo mengelus pelan rambut hitam pekat Jiyeon. Dia menunduk mensejajarkan tinggi mereka, kemudian berbisik, “Tenang, aku akan tetep bersamamu.”

 

Sejenak Jiyeon merasa kegugupannya menghilang tertelan oleh nada suara lembut Myungsoo. Astaga, seharusnya sejak tadi dia mendengar suara pria ini untuk membuatnya tidak kalang kabut seperti tadi. Jiyeon mendongak menatapi iris mata teduh milik Myungsoo. “Terima kasih, Oppa.”

 

“Hmm, ayo, kita hampir terlambat, Nona muda.”

 

*

 

Jiyeon mendelik memperhatikan puluhan wanita dewasa saling bercengkrama ramah satu sama lain. Sementara dirinya justru terjebak bersama Myungsoo dan teman prianya –yang entah membahas apa. Gadis itu mendengus pelan. Ini sangat buruk. Acara seperti ini bukan tempat gadis tujuh belas tahun sepertinya. Di tempat ini semuanya nyaris berusia pertengahan dua puluh, dan dia lah satu-satunya orang asing di tempat ini.

 

Myungsoo berhenti bercakap-cakap dengan teman lamanya. Dia mengalihkan pandangannya pada Jiyeon. Pria itu tersenyum tipis. Dia paham sekarang Jiyeon sudah sangat risih dengan suasana pesta ini yang terbilang untuk para orang dewasa, sementara gadis itu masih berusia belasan tahun. Jiyeon berbisik pada salah seorang temannya, meminta izin untuk membawa Jiyeon ke tempat yang lebih tenang.

 

“Oppa, apa tidak sebaiknya kita pulang?”

 

Myungsoo menyuruh Jiyeon duduk terlebih dahulu, lalu dia merunduk sedikit di hadapan gadisnya. “Sebentar lagi, hum. Kau tunggu di sini, aku akan mengambilkan minuman. Jangan coba-coba menghilang, Yeon-ah. Kau tidak mau aku jadi kalang kabut, ‘kan?”

 

Jiyeon mengangguk setuju. Untuk sekarang dia tidak berminat untuk mengeluarkan bantahan atas perintah Myungsoo. Yang diinginkannya hanya pulang agar ia bisa meninggalkan tempat mengerikan ini.

 

Sepeninggalan Myungsoo, Jiyeona semakin gelisah di tempatnya, pasalnya sekarang ada sekelompok wanita yang tengah berbisik-bisik mengenai dirinya dan tentu saja Myungsoo. Baiklah, dia akan menunggu sebentar lagi. Sekarang dia harus bersabar. Dia jelas saja tidak bisa membantah para wanita dewasa itu mengingat dia cukup memiliki sopan santun terhadap yang lebih tua.

 

“Coba kau pikir, bagaimana bisa Myungsoo yang secara pasti menyukai wanita dewasa sekarang justru berkencan dengan bocah ingusan. Ah, ini pasti efek setelah hubungannya dengan Naeun berakhir.” Suara wanita berambut pendek itu tidak diusahakan untuk pelan, malah dia dengan sengaja membesarkan volume suaranya sembari terkadang melirik Jiyeon.

 

“Aku setuju. Tapi, menurutku Myungsoo memang sedikit aneh, seharusnya ‘kan dia mengencani gadis sebayanya, atau setidaknya mencari yang perbedaan usianya terpaut satu atau dua tahun. Tapi, coba lihat dia mengencani anak tujuh belas tahun yang baru saja belajar mengenal perasaan cinta. Ha-ha, sangat lucu.”

 

Telinga Jiyeon makin memanas. Mata gadis itu terpejam bersamaan dengan hembusan nafas pendeknya, lalu tanpa memikirkan Myungsoo lagi, dia langsung bergegas meninggalkan tempat itu untuk menenangkan dirinya sejenak setelah harus berperang menahan amarahnya.

 

Lama Jiyeon berjalan sampai akhirnya gadis itu berhenti tepat di pinggir jalan, dia menunggu lampu jalanan berganti sembari memikirkan semua ucapan kelompok wanita tadi. Mungkin semua perkataan mereka ada benarnya. Dia masih di bawah dua puluh tahun dan sama sekali tidak memiliki pengalaman apapun tentang cinta, dan Myungsii sekarang sudah dua puluh lima tahun, jelas pria itu menginginkan sosok yang bisa mengimbanginya. Sementara dirinya malah terkesan seperti adik pria itu. Manja, dan selalu menggantungkan diri. Beberapa saat dia termangu sehingga tanpa sadar dia telah ketinggalan untuk mengikuti pejalan kaki lain yang sudah menyebrangi jalan.

 

Myungsoo mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana tidak, tadi salah seorang temannya mengatakan kalau Jiyeon mendadak keluar dengan wajah yang bisa dikategorikan merah padam. Myungsoo berasumsi, kalau bukan malu pasti gadis itu marah besar. Matanya meneliti setiap penjuru yang bisa tertangkap olehnya, berharap akan menemukan sosok gadis manis itu dengan rambut sebahunya yang bergelombang.

 

Pria itu berjalan secepat mungkin kala penglihatannya berhasil menangkap sosok yang sudah dicarinya selama kurang lebih dua puluh menit. Dia tersenyum, memberikan wajah kelegaan. Dan, tanpa peringatan dia melingkarkan lengannya pada tubuh mungil gadisnya.

 

“Ya, apa yang..”

 

“Ini aku,” balas Myungsoo sekenanya. Masih tidak berniat melepaskan diri, “Kenapa kau pergi, hum? Apa ada yang menganggumu, katakan saja aku akan langsung memberi pelajaran karena telah menganggu peri kecilku.”

 

Dia bahkan masih menganggapku anak-anak dengan panggilan peri kecil, pikir Jiyeon kesal. “Ada. Sangat banyak yang menganggu.” Jiyeon menggerutu kian kesal setelah mendengar kekahan kecil keluar dari mulut Myungsoo. Oh ayolah, dia sekarang butuh setidaknya kata-kata yang manis dari pria itu bukan tawa menjengkelkan.

 

“Pasti mereka membahas usia kita lagi, ‘kan?” Myungsoo mempererat dekapannya pada tubuh Jiyeon. Dia sama sekali tidak peduli di mana tepatnya dirinya berada. Entah puluhan mata, atau bahkan ratusan mata kini menatapnya penuh tanya, pria itu hanya mengabaikannya dan menganggap jika hanya dirinya dan Jiyeon lah yang menjadi satu-satu penduduk bumi sekarang. Gila, bukan?

 

“Apa kita akhiri saja? Aku benci mendengar semua orang mengatakan Oppa aneh dan sudah mulai hilang arah karena berkencan dengan bocah kecil sepertiku. Lagi pula sepertinya Oppa harus mulai mencari seseorang yang sebaya denganmu.”

 

Myungsoo tersenyum simpul, tidak menghiraukan ocehan Jiyeon. “Umur itu hanya angka, ingat. Dan, siapa yang peduli tentang perbedaan umur di antara kita kalau kita saling mencintai?” Pria itu mencubit pipi tirus Jiyeon, dan membalikkan tubuh gadis itu agar berhadapan dengannya. “Yah, aku mengakui aku cukup gila, Yeon-ah. Jadi, ucapan mereka tidak sepenuhnya salah. Saat itu aku memang sudah tidak waras ketika memutuskan untuk jatuh cinta padamu, padahal kau masih enam belas tahun. Dan juga, kalau saja waktu itu kau tidak datang dan mengatakan menyukaiku aku mungkin akan diam-diam pergi, tapi kau justru datang dengan wajah tanpa dosa dan polosnya mengatakan menyukaiku, lalu setelah itu semua apa lagi yang bisa ku lakukan selain mengakui bahwa aku juga menyukaimu.”

 

Jiyeon tersenyum mendengar ucapan Myungsoo. Dia terkenang kembali, saat itu dia datang tanpa tahu malu pada Kyuhyun dan mengakui semua apa yang dirasakannya. Dan bang, pria itu membalasnya. Sebuah kejutan besar untuknya.

 

“Tapi,”

 

“Jangan pedulikan pemikiran orang lain. Hubungan kita hanya lah antara kita, bukan orang lain.” Myungsoo mengelus puncak kepala Jiyeon dengan lembut, dan akhirnya menunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jiyeon. Detik berikutnya bibir mereka bertemu, lalu tiga detik kemudian Myungsoo sudah menjauhkan diri.

 

Tadi itu hanya kecupan, tidak lebih. Dan Myungsoo benar-benar menghormati Jiyeon dan tidak ingin melampaui batas seharusnya. Dia sama sekali tidak ingin Jiyeon mengetahui lebih banyak hal lain sebelum usianya benar-benar cukup untuk mengetahuinya.

 

“Aku malu,” cecar Jiyeon sembari menutupi wajahnya. Gadis itu menunduk memandangi sepatunya dan Myungsoo yang berhadapan. Gadis itu merutukuki dirinya sendiri sebab penyakit jantungnya kumat lagi akibat tindakan Myungsoo. Dan sepertinya, kali ini dia benar-benar harus memeriksakan dirinya ke dokter.

 

“Sekarang jangan pedulikan omongan orang lain. Cukup tanamkan dalam kepala dan hati kecilmu, bahwa aku mencintaimu. Aku mencintai gadis kecil bernama Park Jiyeon.”

 

Jiyeon tidak membalas dengan kata-kata, dia langsung memeluk tubuh Myungsoo dengan erat. Melampiaskan rasa senangnya. Lagi serasa ada ribuan kupu-kupu yang terbang dalam perutnya, dan satu-satunya penyebab dia merasakan hal itu hanya pria ini. Kim Myungsoo.

 

Seperti kisah-kisah beberapa pasangan lain yang memiliki jarak usia yang jauh, mereka masih berakhir dengan bahagia. Cukup tahu saja, umur hanya lah angka, dan juga seperti kata Kim Myungsoo; siapa yang peduli tentang perbedaan usia di antara kita kalau kita saling mencintai. Lagi pula, cinta itu datang dengan sendirinya, ‘kan? Jadi, tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menolak kepada siapa dia akan jatuh cinta, entah itu kepada yang lebih tua, atau lebih muda darinya. Sama halnya dengan kasus Myungsoo, dia sama sekali tidak pernah menduga sebelumnya bahwa akan dengan mudah jatuh ke dalam pelukan seorang gadis tujuh belas tahun yang jelas-jelas usianya delapan tahun di bawahnya. Memangnya siapa yang bisa menghindar ketika panah cupid sudah mengenai hati?

 

FIN

Sekedar pemeritahuan, kalau ff ini sebelumnya pernah saya post di blog pribadi dengan Cast Kyuhyun-Yoona, jadi jangan heran kalau ceritanya sama persis.

Thanks🙂

28 responses to “[Ficlet] 17 : 25

  1. Sweet banget! Sukaaa!
    Hoho Jiyeon sama om-om gemes! Beitu pula sebaliknya Myung sama adek-adek gemes.😄
    Ya, umur hanyalah angka. So its ok.
    MyungYeon sweet banget dah pokoknya 😍😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s