Tension [1]: Future

tension

5 years ago…

Akhir-akhir ini, Jiyeon selalu mendengar teman-teman gadisnya yang baru saja dilamar oleh kekasihnya. Banyak raga dari mereka yang menunjukkan cincin perak pada Jiyeon. Membuat hati kecil Jiyeon merengek iri. Ia juga ingin mendapatkan hal serupa, dilamar oleh Myungsoo.

.

shaza proudly present

[Tension] Future (Chapter 1)
by: Shaza (@shazapark)

starring: Park Jiyeon & Kim Myungsoo

Romance, Drama
Series

Sangat dianjurkan untuk membaca 3 Hours terlebih dahulu.

hyunfayoungie‘s design @ Art Fantasy

.

//flashback. 5 years ago//

Hari itu adalah hari di mana festival musim dingin diselenggarakan di sekolahnya. Jiyeon pada saat itu masih duduk di bangku kelas satu, sementara Myungsoo kelas tiga.

Jemarinya menggeser layar, mengacak akun SNS-nya dengan memperbarui status-status. Wajahnya murung, namun tidak menampakkan sedih yang begitu mencabik hati. Ia hanya sedang iri dengan teman-temannya yang baru dilamar.

@pj_yeon: Ingin cepat dilamar.

Ketiknya, mengirim satu status berisi curahan hatinya. Sesaat, ia tersenyum—melupakan barang sedikit kesedihannya. Di detik berikutnya, ia mendapati pendapat teman-temannya mengenai status barunya. Jiyeon hanya diam menanggapi dengan senyuman.

@pj_yeon: I almost married with @km_myungsoo. Haha.

Jiyeon membubuhkan akun Myungsoo di dalam status barunya, yang pastinya akan terkirim dan masuk ke dalam notifikasi kekasihnya yang juga memiliki akun SNS. Jiyeon tertawa sendiri setelah mengirim status baru tersebut.

Di kala dirinya telah terlarut dalam kesenangan semunya, benda hangat terasa menyentuh pipinya. Ia mendongak seraya mendelik ketika merasakan jalaran hangat itu merambat di pipinya. Sinar matahari yang berusaha menerobos musim dingin itu mengembunkan pandangan Jiyeon.

Myungsoo, dengan sepasang tangan yang menggenggam kaleng minuman panas tengah berdiri di sampingnya. Gadis itu dengan tergesa mengunci layar ponsel, lantas menyimpannya di dalam saku jas sekolah. Pria di sampingnya ikut terduduk tanpa ingin mendengar argumen.

“Kau tidak mau?” tanya Myungsoo yang masih mengulurkan tangannya ke arah Jiyeon. Gadis itu tersentak. Sigap menerima kaleng berisi cokelat itu ke dalam genggamannya. Ia mengangguk samar, mengabaikan detak jantungnya yang berdebar keras.

Myungsoo membuang napasnya keras-keras, mengeluarkan uap tipis sebagai sinyal dinginnya siang di tengah sekolah mereka. Pria itu merapatkan duduknya dengan Jiyeon, selagi hening memeluk keduanya. Myungsoo mendorong pengait tutup kaleng agar minumannya memberi rongga.

Jiyeon melirik Myungsoo yang sedang menunduk sebelum akhirnya kembali mengangkat kepala untuk meneguk minumannya. Jiyeon menimbang pikirannya untuk bertanya kepada Myungsoo tentang suatu hal yang sejak tadi mengganjal pikirannya.

“Aku mencarimu ke mana-mana, asal kau tahu.” Myungsoo membuka suaranya beserta obrolan ringan yang biasa mereka lakukan di siang hari, tepatnya pada jam-jam bebas dari pelajaran. Jiyeon mengerling, kemudian mengangguk kecil. Di sebelahnya, Myungsoo tengah mengusap bibir dengan punggung tangan. Pria itu tampak menggigil, sama seperti dirinya.

Jiyeon menoleh, hendak melirik Myungsoo dengan kepala yang lebih fokus mengarah pada paras tampan kekasihnya. Gadis itu mendapati wajah lelah Myungsoo-nya masih tergores di sana, namun dihias dengan senyum lebar ketika mulutnya kembali berujar.

“Aku baru saja menyelenggarakan acara terbesar di musim dingin, Jiyeon! Kau tidak ingin memberi selamat pada kekasihmu ini?” Myungsoo memang baru saja sukses menyelenggarakan acara festival musim dingin, jelas itu adalah tugasnya sebagai ketua OSIS. Myungsoo tiba-tiba merangkul bahu Jiyeon, membuat kepala gadis itu terantuk ke arah bahunya yang tegap. Gadis itu mengaduh kecil, namun dapat didengar oleh Myungsoo.

“Ah, maaf, Jiyeon-ah. Apakah itu sakit?” terburu-buru, Myungsoo menjauhkan tubuhnya dari Jiyeon memeriksa kening yang baru saja membentur bahunya begitu keras. Ia mengamati Jiyeon yang saat ini hanya mengangguk kecil seraya menggumam aku tak apa. Tampak murung, dan tak bersemangat.

Myungsoo menautkan alisnya mendapati perubahan sikap kekasihnya. Ketika Jiyeon perlahan menjauh dari tubuhnya, jemari gadis itu menekan pengait tutup kaleng. Myungsoo masih memandangnya bingung, sampai ketika telapak tangannya menyentuh kening kekasihnya itu.

“Kau sakit?” ujarnya tak menyembunyikan kecemasan. Jiyeon mengangkat kepalanya, memkasa kedua bola matanya untuk terarah pada telaga kecokelatan yang terbiasa memancarkan kelam itu dengan lurus. Napasnya terlalu dekat, begitu terasa di wajah Jiyeon.

Sesaat Jiyeon itu mengamati wajah kekasihnya yang memerah karena dingin, kemudian ia membawa jemarinya untuk menekan pipi Myungsoo. Pipi Myungsoo yang memerah itu mengalihkan kemurungan Jiyeon, membawanya kepada sekat gemas. Ia mengecup pipi Myungsoo sekilas, membuat pria itu terpaksa membeku di tempatnya.

“Aku tidak sakit, Myungsoo.” Katanya, sedikit-banyak melupakan perihal lamaran yang ia idamkan beberapa menit lalu.

Jiyeon memang manis.

.

.

Festival musim dingin diakhiri dengan upacara penutupan di malam hari pada pukul tujuh malam. Beberapa di antara murid sedang menggerutu karena ingin cepat pulang, sebagian tidak rela dengan berakhirnya festival menyenangkan itu, sementara sisanya terburu-buru bersembunyi untuk membolos upacara penutupan.

Seperti yang dilakukan oleh Myungsoo dan Jiyeon saat ini.

Ketika speaker pengeras suara mendentang pengumuman untuk berkumpul di aula, Myungsoo sigap menarik pergelangan Jiyeon. Meminta gadis itu untuk mengikutinya.

“Myungsoo! Kenapa kita malah ke gedung ini? Yak!” Jiyeon menarik pergelangannya yang dicekal oleh Myungsoo. Pria di depannya hanya menyeringai tipis sebelum aikhirnya mendorong pintu atap gedung angkatannya. Jiyeon menggerutu kecil, selagi suara kepala sekolah Kim terdengar dari bawah atap.

“Myung, tidakkah kau merasa tempat ini tidak baik? Di sini dingin.” Selagi Jiyeon menyuarakan pendapatnya, Myungsoo menutup pintu dengan kaki lantas melangkah mendahului Jiyeon yang masih merengut kedinginan. Myungsoo mendaratkan tulang duduknya di salah satu bangku panjang yang merekat di dinding pagar atap setelah memangku tas punggungnya.

Jiyeon melangkah lambat menghalau angin malam, mendekati Myungsoo yang sedang mengambil SLR di dalam tasnya. Jiyeon ikut terduduk di samping Myungsoo, kemudian terdiam—membiarkan bunyi tiruan alat potret itu memenuhi udara malam. Jiyeon tidak peduli lagi dengan Myungsoo yang disibukkan oleh kameranya, ia sedang membenci dinginnya malam, jadi ia hanya menggosokkan kedua telapaknya sementara Myungsoo mendepak potret bintang.

Jiyeon mendelik ke arah Myungsoo. “Sejak kapan kau suka memotret? Setahuku—” Jiyeon tidak sempat mempertemukan kalimatnya dengan ujung ketika bunyi derit tipis yang disembulkan oleh kamera itu kembali terdengar, diikuti kilat cahaya yang mengarah padanya.

Jiyeon memicing, menyadari bahwa baru saja Myungsoo mengambil foto wajahnya secara terang-terangan. Gadis itu mendengus ketika mendengar Myungsoo tertawa keras setelah melihat hasil autograf yang ia tangkap di kameranya. Jiyeon merengut jengkel, kali ini bertekad—tak mau menoleh ke arah Myungsoo sama sekali.

“Jiyeon! Kau harus lihat ini! Wajahmu aneh sekali di sini.” Myungsoo mengatakannya tanpa beban, diselingi tawa manisnya. Jiyeon mengerutkan dahi, ia benar-benar dibawa menuju ambang mood yang runtuh. Dua puluh dua detik setelah Myungsoo tertawa, suara kepala sekolah Kim yang digemakan oleh speaker kembali terdengar dari aula bawah. Myungsoo menyentakkan wajahnya ke samping, membuat rambutnya membuai diterbangkan angin.

“Jiyeon, aku tahu, pasti kau akan marah.” Myungsoo menukas dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya, bahkan ia mengeluarkan kalimatnya dengan nada manja. Ia meraih minuman kaleng di dalam tasnya, kemudian memberikannya pada Jiyeon.

“Kau mau?” Myungsoo menawarkan minumannya ke arah Jiyeon, namun gadis itu hanya bergeming memandang sekerat langit kelam keunguan yang ditaburi bintang. Bosan dengan minuman kaleng, batinnya. Ia tidak marah pada Myungsoo, hanya saja—dinginnya malam hari itu seperti memaksa Jiyeon untuk menusuk setiap pori-pori kulitnya. Myungsoo sebenarnya sudah mengetahui hal itu—bahwa Jiyeon-nya tidak senang dingin—namun, pria itu tetap mengajaknya ke tempat terbuka seperti ini.

Jiyeon merapatkan jas sekolahnya ketika Myungsoo mendorong pengait tutup kaleng. Ketika hening melanda atap sekolah, dan angin menemani kebisuan itu, Myungsoo membuka ponselnya. Myungsoo bukannya jengah dengan sikap kekanakan Jiyeon yang mudah merengut itu, namun ia hanya ingin membiarkan Jiyeon pulih dengan sendirinya.

Maka dengan kesibukan ponsel itu, ruang terbuka atap semakin dilingkupi gemingan. Jiyeon memainkan kakinya yang menggantung dari bangku panjang, mulai bosan. Myungsoo sendiri membuka akun SNS-nya, kemudian tersenyum geli ketika melihat notifikasi yang meluncur dari daftar waktu.

Ia melirik Jiyeon yang masih melipat kedua tangannya di atas perut, wajahnya yang manis dijatuhi cahaya rembulan, angin malam menerbangkan anak rambutnya yang panjang, sementara giginya bergemeletuk karena dingin. Myungsoo membaca notifikasinya sekali lagi, lantas tersadar akan pukulan rasa bersalah.

@pj _yeon: Ingin cepat dilamar.
@pj _yeon: I almost married with @km_myungsoo. Haha.

Myungsoo mengenal Jiyeon lebih jauh dari Suzy—sahabatnya—dan memahami setiap langkah selanjutnya ketika gadis bermarga Park itu sedang berada di garis kebimbangan, gundah, dan memerlukan ruang untuk berbicara dengan hatinya. Jiyeon adalah tipe gadis yang akan mengungkapkan perasaannya secara gamblang di media sosial, dan Myungsoo seketika mengetahui maksud gadisnya menulis status perihal pernikahan.

Kemarin, Myungsoo juga memergoki kekasihnya sedang membuka artikel penjualan cincin ketika sedang di rumahanya. Mulanya, Myungsoo menanggap hal itu angin lalu, namun ketika lajur pikirnya bertemu dengan masa sekarang, segalanya terasa lebih jelas.

Jiyeon-nya menginginkan pernikahan.

Myungsoo melepaskan napasnya, sebelum memanggil gadis itu. “Jiyeon-ah.” Panggilnya, membuat kekasihnya itu menoleh, air wajahnya telah beralih tenang—tidak tersirat kejengkelan lagi di sana. Myungsoo menggenggam kaleng minumnya.

“Kau masih memiliki kalung rantai tipis hasil jualan stan kelasmu?” tanya Myungsoo rancu, namun kekasihnya hanya mengangguk sebelum mengeluarkan plastik berisi puluhan rantai, gelang, dan suvenir seorang gadis di dalamnya. Ia menyerahkan rantai kalung ke arah Myungsoo.

Myungsoo melepaskan pengait tutup kaleng soda dengan paksaan keras. Jiyeon dibuat bingung setelah melihat Myungsoo menyatukan lubang pengait tutup kaleng dengan rantai kalung. Menjadikan pengait kaleng sebagai bandul kalung.

“Myung, apa yang kau—”

“—kau ingin cepat dilamar, Yeon-ah?” tanya Myungsoo setelah menyembunyikan kalung dengan bandul pengait tutup kaleng itu di genggamannya. Jiyeon membentuk lekukan di dahinya ketika mendengar pertanyaan Myungsoo, namun darah di balik kulitnya tertiup deras. Ia seketika tersadar akan celotehan tak bermutunya di akun SNS tadi siang.

“Bu-bukan begitu, Myung.” Jiyeon berdalih, mengibas tangannya di depan wajah seolah menolak terkaan Jiyeon. Myungsoo menelengkan wajahnya, sementara langit yang ditudung kegelapan itu menebas angin dingin.

“Aku hanya sedang iseng, tidak lebih.” Alasan klise seorang Jiyeon, dan Myungsoo terlampau sering mendapatkan jawaban serupa di saat gadis itu sedang berada di kondisi seperti saat ini. Myungsoo menggeleng, membuang napasnya pendek-pendek. Jiyeon merasakan bibirnya terkunci ketika lengan Myungsoo memutari lehernya.

“Aku tahu kau menginginkan cincin mahal dengan mahkota berlian.” Rupanya Myungsoo tengah mengalungi rantai berbandul pengait tutup kaleng itu di leher Jiyeon. Jiyeon menahan napasnya ketika merasakan ujung dagu Myungsoo menyentuh keningnya.

“Aku tahu kau ingin makan malam romantis dengan buket bunga yang aku beli untukmu.” Myungsoo menjauhkan wajahnya ketika merasa bahwa kalungnya telah melingkar di leher Jiyeon. Gadis itu bahkan tak sempat melirik kalung yang telah jatuh di lehernya, ia memandang mata Myungsoo yang masih tampak sangat lelah.

“Tapi, aku ingin menjadi orang pertama yang melakukan ini.” Ia mengangkat jemari Jiyeon, kemudian mencium jari manisnya—hanya di sana, tidak di tempat lain. “Ini tanda bahwa suatu saat, jari ini akan disematkan oleh cincin mahal hasil kerja kerasku seperti yang kau inginkan. Bukan lagi kalung-kaleng murahan ini.” Myungsoo menuturkannya dengan senyum hangat, Jiyeon tak mengeluarkan kata-kata apapun selain membisu.

“Myungsoo,” Jiyeon bersuara. “kau melamarku?” matanya menerawang ke arah Myungsoo, mencari kejelasan. Seketika, pria itu tertawa. “Jadi kau pikir aku sedang apa barusan? Konser drama?” Myungsoo melepaskan tautan tangannya dengan Jiyeon, kemudian sigap mengarungi kameranya ke dalam tas.

“Ayo, pulang. Sudah larut.” Myungsoo menyatukan telapak mereka. Ketika Myungsoo hendak melangkah lebar, Jiyeon menarik tautan tangan mereka, membuat Myungsoo menoleh. “Ada apa?” tanya Myungsoo ketika melihat mata Jiyeon disesaki air.

“A-aku—entahlah, kurasa aku ingin…” Jiyeon tidak sanggup melanjutkan kalimatnya ketika kepalanya memutar ulang kejadian di mana Myungsoo melingkarkan kalung berbandul pengait tutup kaleng itu pada lehernya, mengecup jarinya, lantas mengucap janji manis.

Satu bulir cair kebahagiaan itu meluncur dari matanya, menggelinding ke pipinya hingga membentuk sungai kecil. Cahaya rembulan malam yang menerangi wajah tersenyum Jiyeon seolah menjelaskan bahwa gadis itu sedang menangis bahagia.

Myungsoo melangkah lebih dekat ke arah Jiyeon, menyeka air matanya. “Tidak ada tangisan lagi, Sayang. Kau berbahagia, maka tersenyumlah.”

Bukan keunikan Myungsoo dalam melamar yang saat ini diharukan oleh Jiyeon. Namun, ketegasan pria itu dalam melamarnya. Ia masih memahami keadaannya, dan hingga kini terus merajut kebahagiaan padanya. Entah kapan, Myungsoo akan benar-benar berhenti menjadi malaikat.

“Terima kasih, Myungsoo atas lamaranmu. Terima kasih.”

Dan, hanya mereka yang tahu—lamaran dengan titel apa jadinya jika tanpa sebundar cincin, segumul buket bunga, makan malam, dan kalimat will you marry me? Hanya mereka yang tahu.

“Apapun untukmu, Jiyeon. Apapun.”

.

.

Masa depan. Sebagian orang awam mengatakannya dengan sebutan cita-cita. Salah satu cita-cita Jiyeon adalah memasuki universitas yang sama dengan kekasihnya. Menunjuang ujian kelulusan serta latihan yang biasa diterapkan olehnya satu bulan sekali.

Ia mengikis kebahagiaannya ketika pertama kali mendapat kegagalan di hari pertama tesnya. Ia menelan segala penyesalan selama dirinya bergulat di antara sejumlah mata ajar, serta waktu malam yang ia habiskan hanya untuk belajar.

Tes keduanya tidak memiliki perbedaan dari tes awal, sehingga dirinya merasakan tekanan pada dadanya ketika bayang-bayang mengenai SNU yang sejak dulu diimpikannya terasa kian menjauh. Semenjak munculnya nilai-nilai percobaannya dalam mengganjar tes, Jiyeon kehilangan semangatnya. Ia merasa tidak memiliki perubahan dalam belajar.

Hingga Kim Myungsoo—kekasihnya—terus memberikan semangat dan usaha. Menariknya jauh dari kegagalan, dan menyokong kebahagiaan. Di mana ketika Jiyeon mulai merengut dan mengeluhkan nilainya yang tak pernah masuk rata-rata SNU, maka Myungsoo akan mengajaknya berjalan-jalan, melepas penat dan bernapas lebih panjang.

Jiyeon merasakan jantungnya berdentum sekali di dalam dadanya ketika ia mengingat senyum Myungsoo dulu. Melampiaskan kegugupannya, ia menopang dagunya dengan telapak tangan, menyibukkan diri dengan menggoreskan tinta pena pada kertas putih di halaman terbelakang bukunya.

Dosen berkepala putih tengah menerangkan sebuah sejarah. Jiyeon tak mendengarkannya, melainkan mengilas balik masa-masa di mana dirinya bisa sampai di tempat mulia ini beserta dengan kegigihan yang diciptakan Myungsoo.

Atap yang saat ini tengah melindungi kepalanya adalah atap bangunan Seoul National University. Kampus yang sejak dulu ia idamkan, dan kampus yang memeras otak serta kerja indranya. Ia menilik jendela bening di sisi kelasnya yang menyorotkan taman hijau, seketika merasa lubuknya berenang di antara masa lalu.

“Jiyeon, bel sudah dibunyikan. Kau tak pulang?” seseorang menegurnya dengan menyentuh bahunya. Jiyeon mendongak ketika merasakan sentuhan singkat itu, kemudian mengerjap. Ia memandang sekelilingnya. Nyaris kosong, dan gadis itu baru menyadarinya.

Seulgi, gadis yang baru saja menegurnya itu tersenyum singkat, melambaikan tangannya di depan wajah Jiyeon yang bersorot pandang menerawang. Menyibak rambut cokelatnya, Jiyeon membalas ucapan Seulgi.

“Aku akan pulang. Kau duluan saja.” Bahkan, tanpa dimintapun, Seulgi memang akan pergi mendahului Jiyeon yang senang berdiam diri di kelas seperti menunggu seseorang. Seulgi sejak dulu ingin bertanya alasan dari kenapa Jiyeon selalu berdiam di kelas ketika seluruh temannya telah berhambur pulang, tetapi ia merasa jawabannya sudah sangat jelas ketika seorang pria jangkung memasuki kelas mereka dengan senyuman hangat.

Kim Myungsoo. Sama seperti kemarin, Myungsoo seperti menjemput Jiyeon langsung menuju kelasnya. Mereka akan mengobrol beberapa jenak di dalam kelas Jiyeon yang lengang, berbagi cerita dan masalah di tempat itu, lantas pulang bersama.

Siapapun yang mengamati kedua manusia jangkung itu tak akan pernah berhenti mengurai kata iri. Ini adalah hari yang begitu biasa, langit masih melindungi bumi dan matahari masih terbenam di sebelah barat. Myungsoo-pun masih menjemput Jiyeon langsung menuju kelas gadis itu.

Suasana kampus yang tenang membuat Jiyeon tidak bosan menunggu kehadiran Myungsoo. Jadi, ketika pria itu berangsur memasuki kelasnya, ia masih menampilkan senyum. “Myungsoo!” sapanya riang, hendak merentangkan tangannya ke arah Myungsoo sebelum pria itu justru menarik pergelangannya.

“Kita tak punya banyak waktu!” Myungsoo mengatakannya dengan intonasi panik, membuat Jiyeon mengernyit. Cengkeraman tangan Myungsoo tidaklah sakit, namun ia dilanda kebingungan ketika kekasihnya terburu-buru menyeretnya menuju lapangan parkir kendaraan mahasiswa.

“Ada apa, Myungsoo?!” tanpa sadar, Jiyeon berteriak ketika merasakan keadaan semakin genting. Terlebih ketika Myungsoo membanting pintu mobilnya—ralat, pintu mobil milik Ayahnya. Myungsoo memang meminjam mobil Ayahnya.

“Kau lupa? Hari ini kita akan mempersiapkannya!” di atas kesadarannya, ia berteriak. Memakai sabuk pengamannya tergesa-gesa, sementara itu Jiyeon menarik paksa tangan Myungsoo.

“Myung, berbicaralah yang jelas. Pelan-pelan, aku tidak mengerti maksudmu.” Katanya merunduk untuk memandang mata kecokelatan kekasihnya. Myungsoo menarik napasnya pendek, kemudian membuangnya singkat.

“Kita hanya diberikan waktu hari ini oleh Ayah, ingat?” Jiyeon mengernyit. Sementara, Myungsoo menarik ujung poninya—kesal karena Jiyeon tak kunjung memahami kata-katanya.

“Membeli cincin, memesan bunga, baju, dan membuat undangan, okay?” Myungsoo mengatakannya cepat dan tanpa jeda. Ia seperti sedag dikejar oleh detik. Jiyeon perlahan-lahan menurunkan alisnya ketika memahami setiap kata yang dibuat oleh Myungsoo. Ia memundurkan wajahnya dari Myungsoo, kemudian tersenyum.

“Aku lupa soal itu, sungguh!” dan Myungsoo hanya dapat menggelengkan kepalanya sebelum benar-benar menancap gas.

.

.

“TO BE CONTINUED—”

.

.

This is the sequel of 3 Hours. Moga masih ada yang inget sama cerita yang itu. Dan cuma buat informasi aja. Ini twoshot. Dan kalo judul Future ini udah selesai, aku bakal lanjutin series berikutnya kalau ada yang mau, thanks.

51 responses to “Tension [1]: Future

  1. seneng bgt jadi jiyi bisa dapetin myung yg so sweet bgt kyk gitu. myung perhatian + pengertian bgt sama jiyi. bikin irii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s