LIKE THE FIRST TIME [5]

like-the-first-time  

Length : 2.770 words

Type    : Part

Genre  : Romantic, Sad, Little bit comedy, Drama.

Author : @shaffajicasso

Rating  :  PG – 14 Cast     : Park Jiyeon, Kim Myungsoo.

Other   : Lee Jieun, Kim Jongin, Bae Suzy, etc.

Poster  : Njei Poster Design

.

.

.

Jiyeon berjalan lunglai menuju rumahnya, Jiyeon merasa badannya begitu lemas. Sesampainya dirumah, Jiyeon melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang berada di atas. Tanpa memperdulikan jika ada orang di rumahnya. Hingga Jiyeon memberhentikan langkahnya saat ada yang memanggil.

“Jiyeon-ah…” Jiyeon hafal suara itu. Jiyeon membalikkan badannya. Mata Jiyeon berkaca-kaca saat mengetahui siapa yang memanggilnya.

“Eomma…” panggil Jiyeon dengan lirih. Jiyeon berlari menuju eommanya lalu memeluknya dengan erat. Jiyeon menangis di dalam pelukan eommanya.

“Eomma…hiks.. bogoshipo…” ucap Jiyeon di sela tangisannya. Ny. Park mengelus punggung Jiyeon. Mereka berdua mengabaikan tuan Park yang sedaritadi juga ada disitu.

Jiyeon melepas pelukannya. “Eomma…” wajah Jiyeon basah, penuh dengan air mata.

“Nari-ah..” panggil tuan Park.

“Mwo? Biarkan sebentar saja untukku menemui Jiyeon. Apa tidak boleh? Bukankah Jiyeon juga anakku? Apa aku salah jika menemui anakku sendiri Hyunsik?” Nari melirik sinis pada Hyunsik. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada Jiyeon.

“Berhenti menangis, sayangku..” Nari mengusap air mata Jiyeon.

“Omo! Jiyeon-ah, tubuhmu panas. Apa kau demam?” Nari panic, ia memegang dahi Jiyeon berkali-kali.

“Hyunsik! Apa yang selama dua hari ini kau lakukan? Hingga kau tidak memperhatikan Jiyeon jika dia demam!” Nari marah.

“Mwo? Kau menyalahkanku??” Hyunsik tidak terima untuk disalahkan.

“Anhi eomma,  gwaenchana.” Jiyeon tersenyum. Jiyeon memegang kepalanya yang terasa pening, ia menatap eommanya pandangannya mulai mengabur. Hingga akhirnya Jiyeon ambruk, ia pingsan dipelukan Nari.

“Jiyeon! Jiyeon-ah! Aigoo.. bangun Jiyeon.” Nari benar-benar panic sekarang.

“Kenapa kau diam saja? Bawa Jiyeon ke rumah sakit!!”

*******

“Uisa-nim, bagaimana dengan keadaan anakku?” tanya Nari.

“Dia demam, demamnya sangat tinggi. Lalu…” ucapan dokter itu terhenti karena Jiyeon sadarkan diri.

“Jiyeon-ah, akhirnya kau sadar..” Nari mengelus rambut Jiyeon.

“Eomma.. perutku, perutku sangat sakit.” Ucap Jiyeon dengan suara parau.

“Nde? Sakit? Mana yang sakit hm?” Jiyeon menunjukkan bagian kanan perutnya.

“Disini eomma, disini rasanya begitu nyeri.” Ucap Jiyeon.

“Aaahhh…” Jiyeon meringis kesakitan.

“Uisa-nim, eottokeh? Ada apa dengan anakku??”

“Tunggu dulu nyonya, saya akan memeriksanya.” ucap dokter itu. “Kau mengatakan jika perutmu terasa nyeri dibagian kanan?” tanya dokter itu, Jiyeon mengangguk.

“Eomma, aku ingin muntah..” ucap Jiyeon, Jiyeon menahan rasa mualnya. Seorang suster yang sedaritadi menemani sang dokter membantu Jiyeon untuk muntah.

“Nde?” Nari kebingungan. Sementara dokter itu terdiam beberapa saat, dokter itu menatap Jiyeon yang pucat.

“Jangan-jangan….” Dokter itu tidak melanjutkan perkataannya.

“Nyonya, sepertinya anak anda mempunyai penyakit usus buntu.” Ucap dokter itu. Nari terperanjat kaget.

“U-usus buntu?” Nari menutup mulutnya dengan tangannya.

“Ne, kita harus memeriksanya lebih lanjut. Sebelum semuanya menjadi parah.” Ucap sang dokter.

“Geurae, lakukan saja. Asalkan anakku baik-baik saja.” Ucap Nari. Dokter itu mengangguk.

******

Nari kini sedang berada di ruangan dokter yang tadi menangani Jiyeon.

“Ternyata kekhawatiranku terbukti. Saat tadi diperiksa, ternyata benar ia menderita usus buntu. Sepertinya ini masih baru, jadi belum terlalu parah.” Ucap dokter itu.

“Apa kau sedang bercanda?” tanya Nari yang masih tak percaya jika anaknya menderita usus buntu.

“Tidak nyonya. Karena gejala dari usus buntu adalah perut bagian kanan terasa sangat nyeri, akan merasa mual dan ingin muntah. Serta demam tinggi juga, seperti saat ini.” Ucap dokter itu. “Jika tidak ingin ini menjadi semakin parah lebih baik dioperasi nyonya.” Ucap dokter itu kemudian.

“Operasi? Ya Tuhan….”

“Ya, karena jika dibiarkan akan semakin parah. Jalan satu-satunya adalah melakukan operasi.” Ucap sang dokter.

“Uisa-nim, tolong jangan katakan hal ini padanya. Aku mohon. Apalagi jika menyangkut tentang operasi.” Ucap Nari.

“Jadi? Apa kita akan melakukan operasi?” tanya dokter itu.

“Tolong beri kami waktu untuk memikirkannya.”

*******

Myungsoo POV

Aku menatap keluar jendela, kini di luar sana sedang hujan. Ya, hujan. Aku tersenyum. Tidak tau kenapa hujan membuatku ingat akan sesuatu hal. Entahlah aku tidak tau apa.

Cklek.

Pintu kamarku terbuka. Aku menoleh, ternyata eomma. Aku tersenyum pada eomma, lalu eomma menghampiriku.

“Myungsoo-ah, apa yang sedang kau lakukan?” tanya eomma, eomma ikut melihat keluar jendela untuk melihat hujan yang sedang turun di luar sana.

“Eobso. Aku hanya melihat hujan eomma.” Ucapku. Eomma mengangguk.

“Myungsoo-ah..” panggil eomma.

“Apa kau ingat sesuatu?” tanya eomma. Aku terdiam.

“Entahlah eomma, saat aku melihat hujan turun aku seakan mengingat sesuatu hal.” Ucapku.

“Kalau begitu, kau pasti mempunyai kenangan dimana saat itu hujan sedang turun. Aigoo, kenapa harus begini?” eomma mengelus rambutku.

“Kenapa kau harus mengalami kecelakaan itu? Waeyo?”

Aku terdiam saat eomma mengatakan itu. Eomma benar, jika aku tidak mengalami kecelakaan itu pasti aku tidak seperti sekarang ini. Seharusnya, aku harus lebih hati-hati saat itu. Ya seharusnya, tapi itu sudah terlambat. Semuanya sudah terjadi, sungguh aku menyesalinya…

“Myungsoo-ah, sudah jangan terlalu kau pikirkan. Eomma ke bawah dulu ya..” eomma meninggalkanku sendiri di kamar ini. Aku kembali melihat keluar, hujan sudah mulai reda.

“Kenapa perasaanku tidak enak? Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ada apa  ini?” aku memegang dadaku.

Sungguh perasaanku sangat tidak tenang. Hatiku risih. Apa ada sesuatu yang terjadi? Tapi apa itu?

*******

Author POV

Nari keluar dari ruangan dokter tadi, ia menutup pintu ruangan dengan pelan. Ia berjalan lunglai menuju ruang rawat Jiyeon. Langkahnya terhenti, ia melihat seorang pria sedang duduk di kursi tunggu depan ruang rawat Jiyeon, ya itu Hyunsik. Nari kembali melangkah untuk masuk ke dalam ruang rawat Jiyeon. Barusaja Nari memegang knop pintu dan berniat untuk membukanya, kini ia urungkan. Nari memandang Hyunsik.

“Pulanglah, aku saja yang mengurus Jiyeon.” Ucap Nari dengan suara parau.

“Bagaimana keadaannya? Dia sakit apa?” Hyunsik bangkit dari duduknya. Nari menggelengkan kepalanya.

“Sudahlah. Aku bilang lebih baik kau pulang saja.” Ucap Nari.

“Nari-ah, Jiyeon juga anakku. Apa aku tidak berhak untuk mengetahui sakit apa Jiyeon sekarang?” Hyunsik berusaha untuk tenang. Nari menghela nafasnya dalam.

“Usus buntu. Pulanglah..” setelah mengucapkan itu, Nari masuk ke dalam ruang rawat Jiyeon. Sedangkan Hyunsik, ia terdiam mematung.

“Usus buntu? Bagaimana bisa? Ya Tuhan!!” Hyunsik menjambak rambutnya sendiri. “Ini semua salahku!” Hyunsik menyalahkan dirinya sendiri.

“Mianhae Jiyeon. Maafkan appa..” Hyunsik kembali duduk.

“Kenapa kau masih ada disini?” suara seseorang membuat Hyunsik mendongakkan kepalanya.

“Shin Hye…” gumam Hyunsik.

“Lebih baik kau pulang. Biar aku dan eomma yang mengurus dan menjaga Jiyeon. Lebih baik, kau urusi saja pernikahanmu yang sebentar lagi itu.” Ucap Shin Hye.

“Permisi.” Shin Hye masuk ke ruang rawat Jiyeon, meninggalkan Hyunsik yang masih terdiam disana.

*******

Jieun’s home.

Jieun sedang menonton tv sembari memakan potongan buah apel yang tadi ia potong sendiri. Hingga ponselnya bordering, menandakan ada panggilan masuk. Shin Hye.

“Shin Hye eonni? Ada apa dia menelpon?” Jieun menggeser tombol hijau di layar ponselnya lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

“Yeoboseyo..”

“…”

“Mwo? Rumah sakit? Memangnya ada apa?”

“…’

“Mwoya?? Jiyeon dirawat? Ne ne.. aku akan segera kesana. Jamkkaman!!” setelah mengucapkan itu Jieun memutuskan sambungan telepon tadi, lalu kemudian berlari keluar rumahnya.

Ternyata Jieun datang ke kediaman keluarga Kim. Ya, ke rumah Jongin dan Myungsoo. Jieun menekan bel rumah tersebut beberapa kali. Terlihat sekali wajah Jieun begitu tegang. Jieun terus menekan bel, hingga pintupun terbuka.

“Jieun? Waeyo?” ternyata yang membukakan pintu adalah Myungsoo.

“Sunbae! Jongin eoddi??” tanya Jieun.

“Jongin? Sejak tadi pagi ia belum pulang. Waeyo?” tanya Myungsoo.

“Issh! Lalu siapa yang akan mengantarku ke rumah sakit?” gumam Jieun pelan. Tapi terdengar jelas di telinga Myungsoo.

“Rumah sakit? Kenapa ke rumah sakit?” tanya Myungsoo.

“Jiyeon. Jiyeon dirawat di rumah sakit sunbae. Aku harus kesana, tetapi Jongin tidak ada lalu aku kesana dengan siapa?” ucap Jieun dengan wajah yang panic.

“Di rawat? Jiyeon? Kalau begitu, biar aku saja yang mengantarmu. Tunggu sebentar, aku akan mengambil kunci motorku.” Setelah mengucapkan itu Myungsoo berlari untuk mengambil kunci motornya.

******

Jongin kini berada di sungai Han. Ia sedang duduk di pinggiran sungai Han, pandangannya menatap lurus ke depan. Entah apa yang ia pikirkan. Apa ia masih memikirkan Jiyeon? Entahlah.

“Jiyeon-ah…” gumamnya pelan.

“Park Jiyeon, wae?” Jongin melempar sebuah batu kecil ke sungai, hingga menimbulkan suara.

“Aku yakin kau pasti hanya masih ragu dengan pengakuanku. Aku akan berusaha untuk terus mendapatkanmu, ya aku akan berusaha terus. Hingga nanti jika orang yang kau nanti datang, disaat itulah aku akan menyerah mengejarmu.” Ucap Jongin.

Ponsel Jongin bergetar, Jongin mengambil ponselnya yang berada di dalam saku jaketnya. Ada pangillan masuk. Jieun. Jongin menggeser tombol hijau pada layar lalu mendekatkan ponselnya ke telinga.

“Yeoboseyo..”

“Ya! Kau dimana? Cepat kemari, Jiyeon dirawat!” suara Jieun menandakan jika dirinya sedang panik. Jongin membulatkan matanya.

“Mwo? Jiyeon dirawat?”

“Eoh, cepatlah kerumah sakit.” Ucap Jieun.

Beepp

Sambungan pun terputus, Jongin terdiam beberapa saat. “Jiyeon dirawat? Bukankah tadi pagi ia masih baik-baik saja?” Jongin bangkit. Lalu menghampiri motornya, dan memakai helm-nya. Iapun mengendarai motornya menuju rumah sakit, dimana Jiyeon dirawat.

******

“Eonni!” panggil Jieun, Jieun memeluk Shin Hye. Di belakang Jieun, terdapat Myungsoo ia menatap Jiyeon yang sedang berbaring.

“Jieun-ah…” lirih Shin Hye.

“Bagaimana dengan Jiyeon?” tanya Jieun. Jieun melepas pelukannya.

“Jiyeon, mempunyai usus buntu.” Ucap Shin Hye. Seketika itu pula mata Jieun membulat.

“Usus buntu?” gumam Myungsoo.

“Ne, sebenarnya dia harus cepat dioperasi. Tapi eomma minta kepada dokter untuk member waktu untuk memikirkan soal operasi Jiyeon.” Ucap Shin Hye. Jieun menghampiri Jiyeon yang sedang berbaring tak sadarkan diri.

“Lalu? Apa Jiyeon mengetahuinya?” tanya Jieun, ia mengelus rambut Jiyeon.

“Anhi, eomma memintaku agar tak memberitau soal ini kepada Jiyeon. Apalagi mengenai operasi.” Ucap Shin Hye.

“Jadi, kalian juga jangan sampai memberitau Jiyeon tentang ini.” Ucap Shin Hye. “Aku mohon…” Shin Hye memohon.

Myungsoo menghampiri ranjang yang Jiyeon tiduri. Ia menatap Jiyeon sedih. “Kami akan melakukannya.”

Myungsoo POV

Aku memandang Jiyeon yang masih belum sadarkan diri. Entah kenapa, aku merasa sangat sedih melihat Jiyeon terbaring lemah seperti ini. Hatiku rasanya sakit melihatnya seperti ini sekarang. Apa ini jawaban mengapa perasaanku mengganjal tadi? Tapi kenapa?

“Nuna, apa Jiyeon sudah lama mempunyai penyakit ini?” tanyaku. Ia menggeleng.

“Kami pun baru mengetahuinya.” Ucap Shin Hye. “Sebelumnya, Jiyeon juga pernah mengeluh padaku jika perutnya sangat sakit. Dan tadi pagi, ia demam tinggi lalu pingsan di pelukan eomma.” Ucap Shin Hye.

“Ah, waktu itu  Jiyeon juga pernah pingsan saat disekolah.” Ucap Jieun. Aku mengangguk, meng-iyakan ucapan Jieun.

“Mwo? Kenapa ia tak memberitauku?” tanya Shin Hye. “Aigoo, anak ini ternyata sudah besar. Pasti banyak sekali yang sudah ia sembunyikan saat ini, Jiyeon-ah..” ucap Shin Hye lirih.

“Ah iya, aku harus bekerja. Apa kalian mau menjaga Jiyeon? Aku harus kembali bekerja, aku akan pulang pukul 2 siang.” Ucap Shin Hye.

Aku melihat jam tanganku, sekarang pukul 10 pagi. “Kami akan menjaga Jiyeon, tenang saja.” Ucapku. Jieun mengangguk.

“Kembalilah bekerja eonni, jangan khawatirkan Jiyeon.” Ucap Jieun. “Kami akan menjaganya.” Sambung Jieun.

“Aku percaya pada kalian. Baiklah, aku pergi.” Sepeninggal Shin Hye nuna. Kini hanya ada aku, Jieun, dan Jiyeon diruangan ini.

“Aku sudah menghubungi Jongin, sebentar lagi ia akan kemari.” Ucap Jieun, aku mengangguk. “Sunbae, aku akan membeli makanan. Apa kau mau?” tanya Jieun.

“Terserah kau saja.” Ucapku.

“Baiklah, tolong jaga Jiyeon disini. Aku pergi.” Jieun pun keluar dari ruangan ini. Kini hanya tinggal menyisakan aku dan Jiyeon yang masih tak sadarkan diri.

Aku duduk di sebuah kursi disamping ranjang Jiyeon. Aku menaruh kedua sikuku diatas ranjang, kemudian menopang daguku dengan telapak tanganku  satu. Aku memandang Jiyeon, wajahnya terlihat sangat cantik jika sedang terpejam. Ia benar-benar cantik. Aku memegang dadaku, jantungku berdebar kencang. Entah apa yang mendorongku hingga meraih tangannya lalu menggenggam tangannya yang lembut.

“Jiyeon-ah, apa kau tau? Kenapa disini, jantungku selalu berdebar saat bersamamu.” Aku menaruh tangan Jiyeon di dadaku. “Apa itu artinya aku menyukaimu?” tanyaku pada Jiyeon. Aku menaruh kembali tangan  Jiyeon.

“Apa benar aku menyukaimu Jiyeon?” ucapku. Aku terdiam beberapa saat, aku kembali memandangnya.  “Sepertinya iya, aku menyukaimu Park Jiyeon.” Ucapku.

“Euung~” Jiyeon mengerang. Dia sudah sadar? Matanya perlahan-lahan terbuka, ia menatapku.

“Sunbae…” panggilnya dengan suara serak. Aku mengambil gelas berisi air putih, lalu menyodorkannya pada Jiyeon.

“Minumlah…” aku membantu Jiyeon untuk minum. Setelah itu Jiyeon kembali berbaring.

“Eonni, eomma. Eoddi?” tanyanya. Ia melihat kesekitar ruangan ini.

“Eomma aku tidak tau dimana. Tetapi eonnimu, ia bekerja. Aku disini bersama Jieun, tapi Jieun sedang membeli makanan.” Ucapku.

“Appa?” gumamnya pelan, tapi aku bisa mendengarnya.

“Kau ingin bertemu dengan appamu?” tanyaku, ia menggeleng.

“Lebih baik aku tak bertemu dengannya.” Ucapnya. “Aku membencinya.” Ucap Jiyeon kemudian, aku terdiam. Kemudian aku berdehem.

“Apa kau merasa baikkan?” tanyaku.

“Entahlah, aku tak tau bagaimana cara membedakan suhu badan jika sedang demam.” Ucapnya polos, ia memegang dahinya sendiri. Aku terkekeh, kemudian tanganku terangkat memegang dahinya.

“Demammu masih tinggi.” Ucapku. Jiyeon mengangguk.

“Sunbae…” panggilnya. “Apa aku boleh memanggilmu oppa?” sambungnya kemudian.

“Mwo?” ucapku tak mengerti.

“Hanya saja, jika aku memanggilmu sunbae terasa aneh. Aku ingin memanggilmu oppa atau jika tidak aku akan memanggilmu Myungsoo.” Ucapnya, lalu ia menunjukkan cengirannya.

“Terserah kau saja.” Ucapku.

Cklek

“Eoh, Jongin-ah.” Ucapku saat melihat Jongin dibalik pintu. Jiyeon mengikuti arah pandanganku.

“Hyung, kau juga disini.” Ucap Jongin. Aku mengangguk. Kemudian ia tampak melihat ke sekitar ruangan ini.

“Jieun? Dia sedang membeli makanan.” Ucapku yang seakan mengerti. Jongin menghampiri ranjang Jiyeon.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jongin. Jiyeon mengangguk. “Kau sakit apa?” tanya Jongin, Jiyeon menggeleng lalu kemudian ia memandangku hingga Jonginpun ikut memandangku.

“Wae?” tanyaku.

“Oppa, aku sakit apa?” tanya Jiyeon. Aku merasa geli saat ia memanggilku ‘oppa’. Aigoo, anak ini. Aku terdiam beberapa saat, hingga aku mengangkat kedua bahuku pertanda tidak tau. Ya, aku berbohong padanya.

“Jinja? Kau tak mengetahuinya?” tanya Jiyeon. Aku mengangguk. “Bagaimana bisa? Seharusnya kau tau itu.” Ucapnya. Aku mendelik.

“Ya! Memangnya aku harus selalu tau, eoh?” ucapku berpura-pura kesal. Jiyeon berdecak.

Cklek

“Eoh? Jongin-ah kau sudah dat-. Omo! Jiyeon-ah kau sudah sadar?” Jieun berlari kecil menghampiri ranjang Jiyeon. “Aigoo, gwaenchana Jiyeon-ah?” tanya Jieun khawatir.

“Ck! Jieun-ah, mana makanannya? Aku lapar..” ucapku. Jieun menyodorkan kantong plastic berisi makanan didalamnya padaku. Saat aku hendak mengambilnya, Jiyeon menahannya.

“Anhi, ini untukku. Kau tidak boleh makan ini oppa.” Ucapnya, lalu matanya melotot. Aku menaikkan alisku sebelah.

“Yak! Mana bisa! Ini untukku, arraji?” aku berusaha menarik kantong plastik itu, tapi Jiyeon menahan tanganku.

“Ya! Oppa…” dia merengek seperti anak kecil. Ck! Sepertinya dia berusaha untuk membujukku, dasar anak ini. “Oppa, aku lapar…” ucapnya, Jiyeon memasang wajah pura-pura sedih. Huh!

“Issh! Hentikan aegyomu itu! Buatmu saja!” aku melepaskan tanganku. Lalu aku menghampiri sofa yang berada dekat jendela besar ini.

“Gomawo, Myungsoo oppa..” ucapnya, ia tersenyum.

“Jiyeon-ah! Sejak kapan kau memanggil Myungsoo sunbae dengan oppa?” tanya Jieun. Jiyeon menunjukkan cengirannya.

“Sejak tadi..” ucapnya. “Lagipula Myungsoo oppa tidak keberatan jika aku memanggilnya…” ucapnya, aku mendecak.

Jongin POV

Hyung dengan Jiyeon terlihat sangat akrab akhir-akhir ini. Setiap kali bertemu mereka pasti selalu bertengkar, seperti sekarang ini. Aku hanya bisa diam melihat mereka yang bertengkar. Aku benar-benar merasa iri pada Myungsoo hyung, bisa dekat dengan Jiyeon. Tidak denganku untuk sekarang, Jiyeon sepertinya tak menganggapku yang sedaritadi ada didekatnya. Baiklah, aku mengerti. Aku berdehem.

“Aku pamit untuk pergi.” Ucapku. Semuanya menatapku heran.

“Wae? Bukankah kau barusaja datang?” tanya hyung, aku tersenyum menanggapinya. “Kenapa cepat sekali ingin pergi?” hyung menghampiriku.

“Ah, aku ada urusan lain hyung.” Ucapku berbohong. Ya, aku berbohong. Aku hanya ingin pergi dari ruangan ini, karena jika aku tetap berada disini aku akan merasa panas jika terus melihat Jiyeon dan hyung bertengkar.

“Benarkah?” tanya Jieun. Aku mengangguk. “Huh, baiklah. Hati-hati dijalan ne.” ucap Jieun. Yang seperti biasanya ia selalu perhatian. Aku tersenyum.

“Jiyeon-ah…” panggilku. Jiyeon memalingkan wajahnya.

“Pergilah. Berhati-hatilah…” ucapnya dingin. Aku tersenyum getir saat mendengar perkataan Jiyeon.

“Ah ne. Aku pergi.” Aku meninggalkan ruang rawat Jiyeon.

Sungguh, aku merasa Jiyeon ingin menjauh dariku. Ya Tuhan, apa pilihan yang aku pilih ini salah? Apa aku harus merelakan Jiyeon untuk lelaki lain? Sepertinya iya, tetapi aku butuh waktu untuk menghilangkan rasaku pada Jiyeon agar benar-benar menghilang.

******

Jiyeon POV

Kini hanya tersisa aku saja didalam ruangan ini. Myungsoo oppa dan Jieun sudah pulang barusan. Sekarang masih pukul setengah satu siang, aku sangat bosan jika terus-terusan hanya berbaring di ranjang ini. Aku menghela nafasku kemudian mengembungkan pipiku, dan melihat-lihat ke sekitar ruangan ini.

Cklek

Suara knop pintu membuatku mengalihkan pandangan, hingga masuklah seseorang dari balik pintu tersebut. Seketika itu pula raut wajahku menjadi berubah. Orang itu, mau apa dia kesini?

“Jiyeon-ah…” panggilnya, aku memalingkan wajahku.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya, ia menghampiriku.

“Wae? Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku dingin.

“Jiyeon-ah, maafkan appa.” Ucapnya, aku terdiam tak menjawab.

“Ah iya, appa membawa calon istri dan calon anak tiri appa.”

Deg.

“Lalu? Kau ingin pamer padaku? Tchh.”

“Anhi, appa hanya ingin memperkenalkan mereka padamu.” Ucapnya. Aku memutar bola mataku.

“Ayo masuklah..”

Pendengaranku menangkap suara derap langkah. Mereka masuk. Kalian tau? Aku sangat tidak ingin melihat wajah mereka. Sangat tidak mau! Mereka membuatku muak!

“Jiyeon-ah, perkenalkanlah. Ayo cepat, lihat lah kemari.” Aku menghela nafas, terpaksa aku harus melihat mereka.

Oh god! Siapa itu? Mataku membulat sempurna, sungguh aku benar-benar terkejut. Apa aku sedang bermimpi? Aku bisa lihat, dia juga sama terkejutnya denganku. Inikah? Calon anak tiri appa? Aku tak bisa mempercayainya. Bagaimana bisa? Dia, akan menjadi saudaraku?

‘Oh Sehun. Benarkah ini dia?’

.

.

.

To Be Continue

[COMING SOON] [CHRISTMAS EDITION]

my_christmas_story

21 responses to “LIKE THE FIRST TIME [5]

  1. ahh appa nya jiyeon keterlaluan , yeay myungsoo d panggil oppa keke lucu
    jongin udah la ma jieun aja ,
    eh knapa eomma jiyeon gk mau jiyeon lgsng d operasi aja .?
    next thor , dtunggu . fighting🙂

  2. yakin dah myungsoo teman kecilnya jiyeon, dan sekarang sehun juga bakalan jadi saudara tiri jiyeeon.. jong in kasian sih sama ji eun aja
    .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s