[CHAPTER – PART 7] 15:40:45 – Begin

myung-ji-154045-1

15:40:45

Begin

written by Quinniechip

T-ara’s Jiyeon – Infinite’s L – EXO’s Sehun – SHINee’s Minho || and other minor cast || Romance Friendship School Life || Chapter

Poster here | Prev here

-oOo-

Seperti minggu-minggu sebelumnya, hari sabtu akan digunakan untuk pelajaran peminatan bahasa asing, dan artinya Jiyeon harus berpisah dengan Soojung, Bomi, dan Hayoung untuk hari ini. Ia hanya bersama Yooyoung yang memilih peminatan bahasa yang sama dengannya.

Setelah seminngu lalu Mr. Song menjalani pelatihan dengan sesama pengajar bahasa Jerman sekota Seoul, hari ini dengan senyum mengembang seperti biasanya, ia membawa setumpuk kertas putih yang cukup tebal. Sesaat setelah Jiyeon melihat kertas yang dibawa oleh Mr. Song, perasaannya langsung berubah tak enak.

“Sepertinya akan ada kegiatan yang mengharuskan kita membaca seluruh tulisan dalam keras putih itu.”

Yooyoung mengangguk setuju, “Sepertinya begitu, setelah ia tidak masuk minggu lalu, ia tak akan membiarkan kita bersantai untuk minggu ini, bukan?”

Kelas seketika diam setelah Mr. Song duduk dan terbatuk kecil bermaksud untuk menenangkan kelasnya yang terisi cukup penuh hari ini. Semua mata kini tertuju pada Mr. Song dan tumpukan kertas yang diletakkannya di atas meja.

“Hari ini kita akan melakukan tes lisan dan-”

Belum sempat Mr. Song menyelasikan ucapannya, Seluruh siswa dikelasnya langsung sibuk mengeluh atas perintah yang bahkan belum sempat selesai diucapkan oleh Mr. Song.

“Bisa diam sejenak?” Mr. Song bertanya untuk mengumpulkan perhatian seluruh muridnya kembali, “Saya akan memberi waktu hingga bel pergantian jam berbunyi. Semua materi ada di kertas ini dan Jimin tolong bagikan kertas ini pada temanmu..”

Keluhan dari para siwa mulai kembali terdengar saat Jimin membagikan kertas dari Mr. Song. Walau sebenarnya tak begitu sulit, tetapi ada begitu banyak kosa kata yang harus mereka hafalkan.

“Sebaiknya kita undur sampai minggu depan saja, sir..”

“Wah, ini begitu sulit. Aku tak yakin bisa menghafalkannya dalam kurun waktu kurang dari empat puluh lima menit.”

Sir, apakah enam puluh tujuh kosa kata ini harus kita hafalkan, semuanya?”

Senyuman yang diberikan oleh Mr. Song seketika membuat nafas seluruhnya mendengus kasar. Jika sudah seperti itu, artinya guru mereka yang satu itu tidak main-main, Mr. Song benar-benar serius dengan apa yang ia katakan.

Dan jika sudah seperti ini keadaannya tidak ada pilihan lain selain mengikuti semua perintahnya. Jiyeon dan Yooyoung dengan cepat membalikkan tubuhnya menghadap meja milik Jimin dan Woohyun yang duduk berdampingan di belakangnya. Memang sudah menjadi suatu kebiasaan jika Jimin akan meminta pertolongan Jiyeon dalam hal menghafal, dan sebagai teman yang baik Jiyeon akan selalu membantu walaupun sulit karena Jimin memang sedikit lemah dalam hal semacam ini.

“Hafalkan dulu dari yang termudah.”

Jimin terus memegangi lembaran kertasnya sambil memperhatikannya satu per satu, “Tidak ada yang mudah, semuanya sulit..”

“Ini lihat bagian yang atas.” Tunjuk Jiyeon, “Kita mulai dengan bagaimana memperkenalkan diri.”

Wie ist ihr name?” Coba Jimin tak yakin.

“Bukan yang itu, Jimin-ah. Lihatlah bagian yang paling atas..” Tunjuk Jiyeon pada kertas milik Jimin sekali lagi, “Mein name ist Ludwig.”

Tanpa Jiyeon ketahui, sejak awal Jiyeon mengajari Jimin yang terus menerus salah dan hampir menyerah karena tak pernah benar, Myungsoo hanya tersenyum memperhatikan betapa lucunya ekspresi dan tingkah Jiyeon saat Jimin lagi-lagi melakukan kesalahan.

“Ya! Kim Myungsoo, daripada kau terus memperhatikan orang lain, lebih baik kau urusi dirimu sendiri yang aku yakin tak sepatah katapun kau hafal.”

Pandangan Myungsoo berganti kearah Sungyeol, “Kau meremehkanku?”

Sungyeol menggelengkan kepalanya cepat, “Tidak, tapi apa yang kukatakan benar, bukan?”

“Wah! Dasar kau bocah.” Myungsoo menepuk lengan Sungyeol pelan, “Apa kau tidak tahu bahwa aku belajar langsung dari orang Jerman asli, huh?”

“Tidak.” Jawab Sungyeol pendek.

Myungsoo hanya menatap Sungyeol dengan wajah datar, “Sudah. Aku malas bicara denganmu.”

Dengan cepat Myungsoo menggeser kursinya menuju meja milik Jimin yang sedang melingkar belajar bersama Jiyeon. Perhatiannya masih belum teralihkan dari lembaran kertas yang berisi puluhan kosakata yang harus dihafal secepat mungkin.

“Ah yang ini, pasti kau tahu..” Teriak Jiyeon tiba-tiba.

Ich liebe dich artiny-”

I love you.” Sahut Myungsoo cepat.

Semua pandangan mata kini tertuju pada Myungsoo. Jiyeon hanya menatap Myungsoo dengan pandangan heran dan kaget, sejak kapan ia duduk teapt disampingnya?

Ich liebe dich artinya I love you..”

Myungsoo balik menatap mata Jiyeon dan tersenyum melihat ekspresi kaget Jiyeon yang ditunjukkan padanya. Sedangkan Jimin dan Yooyoung sudah tertawa kecil atas drama pendek yang sedang mereka tonton. Ekspresi bingung Jiyeon yang setengah enggan, senyuman Myungsoo yang entah apa artinya, benar-benar kejadian yang konyol..

-O-

“Dan kalian tahu apa yang dikatakannya?”

Mata ketiganya sudah terfokus pada satu arah, memandang Yooyoung dengan rasa penasaran yang cukup besar dan tawa yang masih berusaha mereka tahan.

Ich liebe dich artinya I love you..”

Kini tawa ketiganya sudah tak dapat dibendung lagi, mulut mereka otomatis terbuka lebar ketika Yooyoung menyelesaikan ucapannya. Sedangkan Jiyeon yang menjadi objek tertawaan hanya bisa diam dengan wajah kesal setengah mati.

“Berhenti menertawakannya.” Ucap Jiyeon, “Dan kau Yooyoung, berhenti melebih-lebihkan apa yang sebenarnya terjadi.”

Yooyoung dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Aku tidak melebih-lebihkana apapun, aku hanya menceritakan apa yang terjadi. Itu saja.”

“Dan apa yang baru saja kau ceritakan itu bukanlah sebuah kisah menakjubkan yang patut untuk disebarluaskan.” Sambung Jiyeon cepat.

“Hanya sebuah kejadian yang tak berarti apapun. Huh! Benar-benar memalukan..”

Jiyeon masih bersedekap dengan menunjukkan wajah kesalnya. Ia hanya bisa diam saat Yooyoung membuka satu hal memalukan yang ia alami. Entah apa alasannya, sebenarnya Jiyeon bisa saja diam dan tak mempedulikan apapun yang terjadi, Jiyeon bisa saja menganggap hal itu sebagai sebuah candaan kecil anak muda jaman sekarang. Tapi entah karena apa, Jiyeon menganggap hal ini adalah satu hal paling menyebalkan yang terjadi padanya, atau mungkin karena pelakunya adalah Kim Myungsoo..

“Hei, kau kira aku tak tahu jika kau tersipu dengan hal tadi.” Sahut Yooyoung ringan, “Pipimu yang bersemu merah itu sudah membuktikannya.”

Ucapan Yooyoung barusan membuat Jiyeon benar-benar terkaget. Jiyeon sudah berusaha menahan pipinya agar tak bersemu merah, tapi tampaknya ia gagal menyembunyikannya karena Yooyoung berhasil memergokinya dan kini ia menceritakannya dengan senyum senang yang membuat Jiyeon semakin kesal.

Jiyeon hanya mengipasi diri dengan telapak tangannya, berusaha mengusir hawa panas yang Yooyoung dan ketiga temannya ciptakan, walaupun ia tahu bahwa hal itu sama sekali tak membantu.

“Sudah, lebih baik aku pergi mengambil pesananku daripada harus terus menjadi bahan tawa kalian berempat.”

Jiyeon meninggalkan keempat temannya yang masih sibuk dengan tawa kegelian membayangkan betapa menggelikannya perlakuan yang diterima sahabatnya dari Kim Myungsoo. Ditambah lagi dengan Yooyoung yang bercerita dengan sedikit melebih-lebihkan, membuat peristiwa yang sebenarnya menjadi lebih menggelitik.

Sedangkan Jiyeon hanya mendengus kasar sepanjang jalannya menuju stan topokki milik Han ahjumma. Masih denga pandangan yang sesekali menoleh kebelakang melirik tajam kearah empat temannya. Ia tak begitu fokus dengan apa yang ada didepannya, dan di tempat seramai kantin seperti ini, tak akan membuat perjalanannya berlangsung mulus begitu saja.

Bruukk..!

“Aaawww..!”

Pandangan mata Jiyeon tak bergerak lagi sedetik setelah ia melihat siapa yang barusaja ia tabrak. Mata itu, Jiyeon masih hafal betul bagaimana cara mata itu menatapnya, masih teringat jelas dalam benaknya siapa pemilik mata sendu itu.

Tak beda halnya dengan Jiyeon, lelaki di hadapannya juga ikut terpaku bersama pandangan mata Jiyeon. Masih berusaha menerka apa yang sebenarnya terjadi padanya saat ini, masih berusaha bertanya apakah yang ia lihat ini nyata..

“Ah maafkan aku.”

Lelaki itu bangun dan membuyarkan lamuman Jiyeon seketika. Tangannya perlahan terulur dan tanpa diperintah Jiyeon menyambut uluran tangan lelaki itu.

“Te.. terimakasih.”

Lelaki itu hanya tersenyum tanpa mengucapkan apapun. Ia masih berusaha membersihkan bagian belakang seragamnya yang kotor karena debu yang menempel dari lantai kantin yang sudah beribu kali terinjak.

“Lain kali hati-hati.” Ucapnya masih dengan senyum, sebelum ia pergi berbalik meninggalkan Jiyeon.

Jiyeon masih diam membisu menatap punggung lelaki di depannya dengan pandangan bodoh. Bagaimana tidak, wajah yang sudah entah berapa lama tak pernah ia lihat, bahkan hanya sekedar ujung kuku sekalipun.

Sebelumnya ia tak pernah menyadari betapa manisnya senyum yang lelaki itu miliki. Mata yang selalu memandangnya teduh. Jiyeon baru menyadari bahwa Oh Sehun begitu tampan.

Tanpa mengingat tujuan utamanya meninggalkan meja, ia berbalik dan kembali menuju keempat temannya yang masih mengobrol dengan asyik.

“Ya! Kau ini mengambil pesanan atau ping-”

“Dengarkan aku dan jangan coba untuk menyela apa yang ku katakan setelah ini.”

Jiyeon mendudukkan tubuhnya disamping Bomi dan menarik nafas sebelum mulai bercerita, “Aku bertemu dengannya, manatap matanya, bahkan memegang tangannya, dan aku menyesal karena itu adalah pertemuan paling konyol dalam hidupku..”

“Oh bagaimana aku harus menceritakannya..” Jiyeon menghentikan ucapannya sejanak, “Entah ada yang salah dengan penglihatanku atau apa, yang pasti dia tersenyum padaku. Dia Oh Sehun, dan itu sangat manis.”

Keempat teman yang sedang mendengarkannya hanya diam dan fokus dengan pikirannya masing-masing. Berusaha menebak apa yang terjadi pada Jiyeon, apa yang Jiyeon pikirkan seteah pertemuan pertamanya kembali dengan Jiyeon setelah mereka tak memiliki hubungan apapun satu sama lain.

“Oh Sehun terlihat berbeda dari sebelumnya, bahkan jantungku kembali berdebar saat menatapnya..”

-O-

Suasana kelas sudah mulai sepi setelah bel tanda pulang berbunyi. Satu per satu mulai beranjak pergi dan pulang sebelum hujan turun, karena sepertinya hujan akan turun sebentar lagi. Kecuali Jinki yang sejak dua menit lalu terus mengobrak-abrik meja dan tas milik Minho dengan alasan mencari buku tugasnya yang hilang dan ia yakin telah Minho bawa selama tiga hari.

Minho yang merasa tidak pernah membawa buku tugas milik Jinki hanya memperhatikannya dari bangku sebelah dengan santai. Sudah ia katakan sebelumnya bahwa ia sama sekali tak pernah menyentuh apapun milik Jinki, apalagi buku tugas miliknya yang sama sekali tak berisi dan sama sekali tidak pantas digunakan untuk sebuah bahan contekan.

“Sampai Miss Nam kembali muda pun, kau tak akan menemukan buku milikmu di dalam tasku.” Ucap Minho kembali mengingatkan.

Jinki masih terus melakukan inspeksi pada tas Minho tanpa menggubris ucapan Minho sedikitpun.

Minho hanya menarik nafasnya panjang, “Sudah kukatakan, buku tugasmu itu tidak berada padaku. Coba periksa lagi milikmu sendiri, kau itu sangat mudah menghilangkan suatu barang.”

“Tidak.” Balas Jinki, “Oh ayolah, jangan bercanda Choi Minho. Aku akan mati jika setengah jam lagi aku tak mengumpulkan tugas pada Miss Nam.”

“Siapa yang sedang bercanda, Lee Jinki..” Minho menaikkan sebelah alisnya bingung.

“Sudah aku ingin pulang sekarang.”

Minho beranjak dari tempatnya semula dan mengambil paksa tas yang masih berada di tangan Jinki. Jinki masih berusaha merebut kembali tas milik Minho saat Minho masih membereskan buku dan barang yang telah dikeluarkan Jinki.

“Carilah di lokermu, tiga hari lalu kau meletakkannya disana, dasar pelupa!”

Minho berjalan meninggalkan Jinki yang masih bingung sambil menggaruk tengkuk belakangnya malu.

Tidak seperti yang ia katakan pada Jinki, sebenarnya Minho masih belum ingin pulang. Ada satu tempat lagi yang ingin ia tuju sebelum ia bergegas meninggalkan sekolah. Minho mengedepankan tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah kotak bewarna hijau berisi cokelat yang baru kemarin dibawa oleh kakaknya sepulang dari perjalanan bisnis. Kotak yang sudah terbungkus rapi dengan pita kuning kecil.

Minho tak akan pernah melakukan hal –yang menurutnya– sulit ini untuk siapapun, bahkan untuk sahabatnya sendiri. Tapi pengecualian untuk yang satu ini, Minho tak akan segan melakukan hal ini untuk adik kelasnya, Park Jiyeon. Entah sejak kapan rasa itu mulai tumbuh, mungkin rasa tertarik itu sudah ada sejak lama, tetapi untuk meyakinkan dirinya bahwa ia benar-benar menyukai Jiyeon, iapun tak dapat menjawab kapan pastinya.

Bertemu dengan Jiyeon dengan membawa sebuah hadiah seperti ini cukup membuat jantung Minho berdegup cepat. Dalam pikirannya sudah terlintas banyak kemungkinan, Jiyeon akan menerimanya dengan senag hati atau justru menolak dan mengabaikannya. Bagaimana jika Jiyeon benar-benar menolak hadiah darinya? Ah seharusnya ia bertanya pada teman atau siapapun tentang apa yang disukai oleh seorang Park Jiyeon.

Pintu studio musik tampak sibuk dengan pintu yang sedikit terbuka hinggan Minho bisa melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana. Ia mengintip memastikan bahwa Jiyeon sedang berada di dalam studio, mengingat bahwa seminggu lagi penampilan pertama Jiyeon bersama band yang baru saja dibentuk akan menyanyikan sebuah lagu bersama beberapa grup dan siswa lain dari ektrakulikuler musik.

Tiba-tiba seseorang keluar dari dalam studio, mengangetkan Minho yang masih menyipitkan mata dengan posisi sedikit membungkuk. Gadis berambut pendek yang baru saja keluar hanya menatapnya dengan wajah bingung.

Sunbae, apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya Hyeri.

Minho dengan cepat kembali berdiri normal sambil menggaruk rambut yang tak gatal, “Aku.. Ah aku-”

“Ah aku tahu, pasti mencari Jiyeon. Tunggu sebentar, akan aku panggilkan Jiyeon untuk menemuimu disini..”

Dengan sedikit berlari Hyeri kembali masuk ke dalam studio, “Jiyeon-ah, ada yang mencarimu di luar!” Teriakan Hyeri masih terdengar oleh Minho yang berada di luar.

Tak lama kemudian seorang gadis dengan seragam yang sedikit berantakan keluar dari studio, “Ah ternyata kau, sunbae. Ada apa mencariku?”

Pertanyaan yang Jiyeon lontarkan hanya Minho balas dengan sebuah kotak yang sejak tadi ia sembunyikan dibalik tubunya. Dengan senyum yang mengembang Minho menyerahkannya pada Jiyeon.

“Ini untukmu..”

Jiyeon hanya menatap Minho dan kotak ditangannya dengan ekspresi yang tak bisa diartikan oleh Minho. Senang, bingung, atau justru tak suka, entahlah..

“Ini apa?”

Pertanyaan balik Jiyeon hanya dibalas tawa kecil oleh Minho, “Terima saja.”

“Aku tak tahu kau menyukainya atau tidak, tapi aku akan senang jika kau mau menerimanya.”

Jiyeon hanya mengangguk. Ia menerima kotak berwarna hijau yang Minho berikan padanya, Jiyeon tersenyum setelah memperhatikan kotak tersebut dengan seksama dan menggerakkannya sedikit mencoba mencari tahu apa yang ada didalamnya.

“Sepertinya aku tahu apa yang kau berikan.” Jawab Jiyeon masih tersenyum, “Dan sepertinya aku akan menyukainya.”

Minho menghela nafanya lega setelah Jiyeon menyelesaikan ucapannnya. Mendengar bahwa Jiyeon akan menyukai pemberian darinya merupakan suatu kesenangan tersendiri untuk Minho. Tak peduli Jiyeon mengatakan hal itu jujur dari hati atau hanya untuk menyenangkan hati Minho, setidaknya Jiyeon sudah menghargai pemberian darinya.

“Minggir!”

Belum sempat Minho kembali membuka percakapannya dengan Jiyeon, seseorang di belakang Jiyeon sudah mendahuluinya. Dengan cepat Jiyeon menoleh dan melihat siapa seseroang yang berbicara dengan nada memerintah dibelakangnya.

Jiyeon hanya bisa membalas tatapannya tajam dan kembali menghadap Minho dengan wajah kesalnya. Ia bergeser sedikit menyamping memberi jalan pada seseorang dibelakangnya. Lelaki dengan seragam yang sepenuhnya berantakan itu hanya berjalan keluar dari studio dengan menyenggol keras pundak Jiyeon.

“Ya! Kau kira tubuhmu sekecil apa? Pundak besarmu itu menabrakku!” Teriak Jiyeon cukup kencang.

Myungsoo hanya melirik Jiyeon dengan ujung matanya, “Siapa yang menyuruhmu berdiri di tengah pintu.”

Jiyeon semakin menunjukkan wajah kesalnya pada Myungsoo. Ini sudah bukan yang pertama atau yang kedua kalinya dia beradu mulut dengan Myungsoo. Pemikiran mereka berdua tidak pernah satu jalan. Setiap ucapan yang dikatakan Jiyeon pasti Myungsoo membantahnya dengan cepat, begitu juga sebaliknya. Entah apa yang sebenarnya terjadi, yang pasti emosi Jiyeon akan terus memuncak setiap ia mendengar Myungsoo bicara dengan nada –yang menurutnya– menyebalkan.

Kini Jiyeon semakin merapatkan tubuhnya pada dinding pintu studio, memberi jalan yang lebih lebar pada Myungsoo tanpa membantahnya lagi. Ini sudah terlalu sore untuk kembali adu mulut dengan lelaki itu.

Jalan yang diberikan Jiyeon padanya sudah cukup besar, tetapi Myungsoo masih belum kembali masuk ke dalam studio. Ia justru terus diam dan melihat ke arah Minho dan Jiyeon secara bergantian.

“Apa yang kau lakukan disini?”

Myungsoo sama sekali tak menggubris ucapan Jiyeon, masih terus memperhatikan Minho dengan tatapan yang, kesal?

“Kembalilah ke dala-”

“Penampilan pertama kita akan dilaksanakan satu minggu lagi.” Potong Myungsoo cepat, “Daripada kau melakukan hal yang tak penting dan hanya membuang waktu, lebih baik kau kembali ke dalam dan memulai latihan.”

Jiyeon hanya menatap Myungsoo dengan wajah herannya. Ada angin apa sehingga lelaki semacam dirinya bisa bicara seperti itu. Dan yang lebih penting, apa haknya hingga berani bicara seperti itu bahkan disaat orang yang bersangkutan masih berdiri tepat di depannya.

“Urusi saja dirimu sen-”

Ucapan Jiyeon kembali terpotong saat tubuhnya mundur mengikuti gerak tangannya. Myungsoo menarik paksa tangan Jiyeon dan meninggalkan Minho yang masih terdiam bingung.

-To be Continued-

Note :

Haaiii~ Aduh lama banget ya? Maaf deh.. Maklum udah mepet waktu ujian, dibandingin sama hari ujiannya sih kayanya lebih sibuk minggu sebelumnya, yang ngejar remidi, ngisi tugas kosong, tugas proyek, aduh semuanya dikebut. Jadi harap dimaklumi ya /pelajar/

Semoga kalian semua suka ya..

Comment please yes! Sarannya juga boleh kok~

77 responses to “[CHAPTER – PART 7] 15:40:45 – Begin

  1. Ampun jiyi labil , kata nya perasaan am sehun uda biasa aja tapi sekarang berdebar lgy , ckckckck
    trus myung demi apa dong manis banget tau ihh , i love you , omona pantes aja jiyi merona , kkkkkk
    kayak nya myung uda suka am jiyi deh

  2. omg perjalanan cinta jiyeon sama myung bakalan seru nich.apa jiyeon mulai suka lagi sama sehun.baca kelanjutannya dulu

  3. Kya.. Makin keren aja nih FF.. Ciye MyungSoo cemburu.. Wkwkwk.. Masa JiYeon jatuh cinta lagi sama Sehun, janganlah biar JiYeon sama MyungSoo aja.. Hehehe.. sudah penasaran tingkat akut, izin baca next chapternya ya Thor.. Annyeong..😀

  4. aigoo myung oppa bilang aja knpa sih klo oppa itu cemburu sma minho, ga usah malu” deh,, hahaa

    Next readd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s