[CHAPTER – PART 6] RAINING LOVE

raining love end poster

Raining Love (Chapter 6)

Title : Raining Love | Author : Julia Hwang

Genre : Romance, Drama, little bit Sad | Rating : PG-15 | Leght : Chapter

.

Main Cast :

Kim Myungsoo | Park Jiyeon

Other Cast :

Bae Suzy | Choi Minho | Krystal Jung | Park Chanyeol

 –

Disclaimer : 

Fanfiction ini terinspirasi dari sebuah novel berjudul ‘Rainy’s Days’ milik Fita Chakra ^^ Semua cast milik tuhan, keluarga dan agency masing-masing dan hanya saya pinjam untuk kepentingan ff. Beberapa bagian dari novel akan saya ambil tapi tetap saya menghormati sang penulis dan akan membuatnya menjadi versi saya sendiri. Ingat ini bukan hasil “PLAGIAT”. Terimakasih~

 

-Backsound-

Ed Sheeran – Give Me Love

 

~Raining Love~

 

“Apa benar kau menyukaiku ?”

Kata-kata itu masih saja terngiang di kepala Myungsoo. Mengutuk dirinya yang begitu bodoh karena tak menjawab pertanyaan yang selama ini ia inginkan dari gadis itu. Hanya menjawab ‘iya’ saja sangat susah. Dan tadi, ia hanya bisa diam seperti orang bodoh hingga Jiyeon berlalu pergi.

“Kau memang bodoh, Myungsoo!” Rutuknya saat memasuki kelas.

.

“Dimana Jiyeon ?”

“Dia meminta ijin untuk pulang lebih awal. Dia baru saja pergi.”

Myungsoo berterimakasih kepada Seungho dan langsung mengambil ranselnya dan mulai pergi mengejar Jiyeon. Dewi Fortuna kali ini sedang berpihak padanya kala melihat punggung Jiyeon baru saja keluar dari gerbang sekolah. Ia pikir Jiyeon telah berjalan jauh.

“Jiyeon-ah..”

Jiyeon menoleh tanpa ekspresi. Seperti biasa, Myungsoo hanya tersenyum mendekatinya. “Kau akan kema—“

“Kumohon lupakan kejadian di taman tadi. Anggap itu tak pernah terjadi.”

Kening Myungsoo berkerut saat gadis itu memotong kalimatnya dan mengatakan ia harus melupakan kejadian yang sebenarnya berharga itu. Tapi Myungsoo tak bisa melupakannya begitu saja. Itu tentang cinta dan harga diri. Dan karena kebodohannya, ia sudah melewatkan kesempatan berharga itu.

Myungsoo hanya mengangguk pasrah dan melanjutkan kalimatnya yang terpotong. “Kau akan kemana ?”

Ia menyamakan langkah gadis itu. Tak ada jawaban karena Jiyeon hanya menunduk menatap langkahnya. Myungsoo mulai menggaruk tengkuk. Pun kebiasan yang tak bisa ia hilangkan jika keadaannya canggung seperti ini.

Jiyeon menoleh kembali. Menatap tepat di manik mata Myungsoo dengan menyelidik. “Kau ingin membantuku ?”

“Apa ?”

“Bantu aku mencari ayahku.”

“Siapa ? Ayahmu ?”

.

.

Langit senja nampak bersinar. Memperlihatkan warna jingganya yang indah dan berseri. Jiyeon dan Myungsoo berjalan beriringan. Seperti biasa, hanya keheningan semata yang menyelimuti mereka. Asik dengan dunia sendiri, masing-masing dari mereka tak ingin menghilangkan kecanggungan yang sudah berlalu selama beberapa menit ini.

“Sejak kapan kau tak pernah melihat ayahmu lagi ?” Dengan keberanian penuh, akhirnya Myungsoo mengeluarkan suaranya. Menoleh pada Jiyeon menunggu jawaban.

“7 tahun. Sejak umurku baru mencapai 10 tahun.” Jawabnya singkat tanpa menoleh.

“Kenapa ?”

“Orang tuaku bercerai.”

“Oh..”

Dan inilah kenyataan lain yang Myungsoo ketahui dari gadis itu. Gadis yang selama ini hanya diam kini tiba-tiba ingin mencari ayahnya. Myungsoo berpikir, Jiyeon merindukan pria itu.

“Kemana kita akan mencarinya ?”

“Nanti kau juga akan tahu.” Mengehembuskan nafas berat, Myungsoo hanya bisa mengikuti gadis itu tanpa tahu kemana tujuan mereka mencari ayahnya.

.

Suara dering telepon terus-menerus mengganggu suasana sepi cafe tempat Myungsoo dan Jiyeon menunggu seseorang sekarang. Ini yang kelima kalinya ponsel Jiyeon berbunyi dan nama yang tertera hanya nama ibunya seorang. Ia tak berniat sama sekali untuk mengangkatnya. Ia tak ingin menunda-nunda lagi. Yang lebih utama sekarang adalah ayahnya. Dan ia ingin bertemu sebelum terlambat.

“Kau menyewa orang untuk menjadi—“

“Mata-mata.”

Bola mata Myungsoo membulat sempurna. Entah kenapa ia begitu kagum dan langsung bertepuk tangan heboh. “Keren sekali.”

“Nona Park ?”

Jiyeon dan Myungsoo menoleh serempak. Mendapati seseorang dengan setelan jas hitam sedang berdiri di samping Jiyeon dengan tersenyum. “Paman Shin! Silahkan duduk.”

Pria yang dipanggil ‘Paman Shin’ oleh Jiyeon itu langsung duduk tepat di sampingnya. Mengelurkan banyak berkas dari dalam tas yang ia bawa lalu mulai menjelaskan hasilnya. Jiyeon dan Myungsoo akan menjadi pendengar yang baik. Bahkan Myungsoo belum menghabiskan makanan yang ia pesan demi mendengar pernyataan yang akan terlontar dari Paman Shin. Begitu juga Jiyeon, ia tak akan melewati satu kata pun saat ini.

“Huh..” Paman Shin nampak menghembuskan nafas panjang. “Mungkin ini akan sangat sulit kau terima, Jiyeon. Tapi kau tetap harus menerima semua hasilnya. Aku telah mencoba yang terbaik untukmu. Apa kau siap ?”

Myungsoo langsung menoleh pada Jiyeon. Mendapati gadis itu menegang dengan mengepalkan kedua tangannya. Menelan salivanya berkali-kali dengan perasaan gugup. Jantungnya terus  berdegup dengan kencang. Dan Myungsoo, ia hanya bisa mengelus pundak gadis itu menenangkan.

“Aku siap, Paman Shin!”

“Baiklah.. Hasil penyelidikanku kemarin menyatakan bahwa Tuan Park telah menikah lagi dengan seorang janda yang mempunyai seorang anak laki-laki. Ia sebaya denganmu hanya saja dia yang tertua. Beliau bekerja di sebuah toko roti sebagai seorang chef pastry dan tinggal tak jauh dari sini. Kurang lebih 2 km dari sekolahmu. Dan jika kau membutuhkan, sudah kutuliskan alamatnya disini.” Jelas Paman Shin panjang lebar lalu memberikan secarik kertas dan beberapa foto ayahnya yang ia ambil saat menyelidikinya.

Jiyeon menatap foto itu lama. Mengamati wajah ayahnya yang selama ini ia rindukan. Setetes air mata mulai membasahi wajahnya. Ia terus menghusap foto itu seakan itu adalah benda berharga yang ia punya sekarang. Jiyeon bahkan terharu bagaimana ayahnya berkerja keras dalam membuat kue di dalam foto itu.

“Mungkin sudah cukup kali ini. Tuan Park pasti sangat bangga mempunyai putri sepertimu. Kau sudah besar dan sangat cantik.” Paman Shin memecah keheningan dan beranjak akan pergi. Jiyeon menarik dan menggenggam tangannya. Mengucapkan banyak terimakasih pada orang kepercayaan ayah dan ibunya dulu. Sebelum mereka memutuskan untuk bercerai.

“Paman Shin, aku tak tahu harus mengatakan apa, tapi..” Ia menjeda kalimatnya. Menatap Paman Shin dan tersenyum tulus. “Terimakasih. Terimakasih untuk semuanya!”

“Aku senang bisa membantumu, Jiyeon. Semoga kau berhasil menemukannya. Maaf jika ini tidak seberapa apalagi tak membawa ayahmu kembali padamu. Tapi, semoga kau lebih beruntung dariku.”

Gadis itu hanya mengangguk. Melambaikan tangan sampai pria itu menghilang di balik pintu. Hembusan nafas lega ia keluarkan. Dan sekarang, ia harus bertemu dengan ayahnya dan pergi ke alamat dalam kertas itu.

“Bolehkah aku melihat alamatnya ?”

Sekali lagi ia menoleh. Melupakan fakta bahwa Myungsoo juga bersamanya tadi. Pria itu hanya diam menunggu jawaban. Melambaikan tangan di depan wajah Jiyeon karena gadis itu kembali melamun memperhatikannya.

“Oh.. Tentu saja.”

Setelah Myungsoo melihat alamat dalam kertas itu, ia tersenyum. Menarik tangan Jiyeon keluar cafe menuju parkiran motornya. “Aku tahu alamat itu! Tak begitu jauh dari rumah Chanyeol. Ayo kuantar!”

Jiyeon tak bisa menahan senyum kebahagiaannya lagi mendengar pengakuan Myungsoo. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Myungsoo saat mereka menaiki motor dan mulai melesat saat jam mulai menunjukkan pukul 8 malam. Jiyeon sempat mengucapkan terimakasih, tapi sayang Myungsoo tak mendengar karena suara deru motor kalah dengan suara lembut milik Jiyeon.

“Terimakasih Myungsoo.”

.

.

“Kau yakin ini alamatnya ?”

Myungsoo mulai menggaruk tengkuknya lagi. Ia memang pernah kerumah Chanyeol tapi itu hanya sekali dan itu bahkan berlalu setahun yang lalu. Jiyeon memandanginya menunggu jawaban. Ia tak mungkin mengatakan –aku-lupa-rumah-chanyeol- pada gadis itu.

“Aku yakin alamatnya di daerah sini.” Jawabnya mantap tanpa diketahui Jiyeon yang masih sibuk berjalan mencari rumah dengan nomor 5 di kompleks perumahan itu.

“Aku mendapatkannya!”

Suara bahagia Jiyeon membawa kaki Myungsoo berjalan menyamakan langkah gadis itu. Myungsoo selalu menyukai bagian ini. Dimana saat Jiyeon tersenyum tulus tanpa rasa beban di hidupnya. Senyum bahagia yang sangat jarang ia perlihatkan.

Keduanya kini hanya menunggu diam di depan pintu rumah bergaya minimalis itu. Jiyeon tak berani mengetuk pintu. Entah kenapa ia belum siap. Tangannya kembali bergetar sambil menggenggam kertas kecil beralamatkan tempatnya berdiri kini. Berbeda dengan Myungsoo, sejak tadi ia terus mengamati seluruh halaman rumah itu. Yang ada di pikirannya kini adalah, rumah ini tidak asing baginya.

“Kau tak masuk ?”

Suara Myungsoo membuyarkan lamunan Jiyeon. Membuat gadis itu hanya menunduk tak menjawab. Ia hanya memainkan jemarinya seperti biasa saat ia mulai gugup.

“Aku takut, Myung..”

“Apa kau akan terus berdiri disini ? Kurasa sebentar lagi akan hujan, tak ada bintang yang terlihat satupun.”

Gadis itu mengadahkan kepalanya. Mengamati langit malam yang sunyi tanpa ada sinar kerlap kerlip dari bintang. Gelap seperti yang ia lihat saat ini. Kakinya tiba-tiba melangkah maju. Tangannya terulur mengetuk papan berwarna coklat itu dengan hembusan nafas panjang sebelumnya. Ia sudah bertekad, ia tak akan mengulur waktu lagi. Dan ini saatnya, setelah 7 tahun ia akan bertemu ayah kandungnya.

Tiga kali ketukan membuat Myungsoo akhirnya sadar. Mengingat dengan jelas siapa pemilik rumah tempat ayah Jiyeon tinggal. Menepuk keningnya keras dan membuang nafas kasar. “Bukankah ini rumah…’

“Chanyeol..”

Suara seseorang yang menyebutkan nama ‘Chanyeol’ membuat kedua bola mata Myungsoo langsung membulat. Menemukan kenyataan baru yang sejak tadi membuatnya gelisah. “Iya benar! Ini rumah Chanyeol!” Baru saja ia akan memberitahu Jiyeon tentang hal itu, pandangannya menangkap sosok tinggi sahabatnya sedang berdiri di ambang pintu dengan wajah bingung. Dimana Jiyeon hanya diam berdiri tepat di hadapannya dengan pandangan tak percaya.

“Sudah kuduga.”

“Jiyeon, Apa yang kau lakukan disini ?”

Chanyeol melipat kedua tangannya di dada menunggu jawaban Jiyeon sambil melihat seseorang yang berdiri tak jauh di belakang gadis itu. “Dan.. Hey, Myung! Apa yang kau lakukan disana ? Kau dan Jiyeon, apa yang kalian lakukan di rumahku ?”

Myungsoo mendekati mereka. Menoleh pada dua orang itu secara bergantian, lalu kembali menggeleng. Kenyataan apalagi yang akan terjadi di depan matanya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa banyak terjadi hal-hal mengejutkan dalam hidupnya.

“Yeol.. Siapa diluar ?”

Jantung Jiyeon seketika berdegup kencang kembali. Meremas kemeja Myungsoo yang berada di sampingnya. Peluhnya kembali menetes dan kakinya mulai bergetar. Suara seorang pria dari dalam membuatnya ingin pergi jauh dari tempat itu.

“Kenapa tak ma—“

Tuan Park –Ayah Chanyeol seketika bungkam dan menjeda kalimatnya saat melihat Jiyeon dan Myungsoo sedang menatapnya tak percaya. Pandangannya langsung tertuju kembali pada gadis yang berdiri tepat di hadapan putranya. Gadis cantik yang mengingatkannya akan seseorang dahulu. Seseorang yang ia tinggalkan dan juga ia rindukan. Jiyeon tetap tak bergerak saat Tuan Park melangkah maju ke arahnya. Saat tangan besar dan hangat itu menyentuh pipinya, getaran itu terasa. Getaran 7 tahun lalu saat ia kehilangan ayahnya.

“Jiyeon..” Tuan Park akhirnya menebak. Membuat gadis itu tersenyum sekaligus mengeluarkan air mata yang tadi sempat berhenti. Menggenggam tangan besar ayahnya yang masih betah berada di pipinya.

“Aku merindukanmu, Ayah..”

.

.

.

Malam tanpa bintang kini telah berubah saat rintik hujan mulai turun dengan deras. Membuat suara khas saat ia menjatuhi atap rumah. Bebauan tanah yang menyengat menambah kesan yang memang tak bisa di hilangkan saat hujan turun. Dan kini, Jiyeon telah bertemu kenyataan baru. Kenyataan yang bersamaan dengan turunnya hujan. Bukan hanya bertemu ayahnya, tapi ia mendapatkan saudara baru yang sangat ia inginkan dahulu saat kecil. Saudara yang ternyata teman sekolahnya saat ini.

Disinilah Jiyeon, duduk termenung menatap satu persatu rintik hujan membasahi jendela kamar. Tak ingin mengalihkan pandangannya dan hanya menatap lurus. Fokusnya teralihkan saat seseorang datang dan duduk tepat di sampingnya. Melakukan hal sama dengan dirinya tanpa menoleh.

“Aku tak percaya, ternyata kau adalah adikku.”

Keheningan mulai terganti dengan kecanggungan saat Chanyeol mengutarakan ketidakpercayaannya akan hal yang baru saja mereka dengar bersama-sama. Saat Ayah mereka mengelurkan semua hal yang membuat mereka hanya menggeleng tak percaya. Tuan Park bercerai dan meninggalkan Jiyeon dengan Ibunya. Bertemu dengan seorang janda yang ternyata Ibu Chanyeol lalu menikah hingga sekarang. Semua terjadi hingga Chanyeol dan Jiyeon di pertemukan di sekolah yang sama. Dan Jiyeon masih mengingat betul bagaimana bahagianya Chanyeol saat mereka tahu, mereka memiliki marga yang sama yang ternyata satu ayah selama ini.

“Aku bahkan masih ingat kau begitu bahagia saat mengetahui marga kita sama.”

Chanyeol akhirnya menoleh dan tersenyum memandang Jiyeon. “Aku bangga dengan marga Ayah ‘Park’ karena sebelum kau datang, hanya aku sendiri yang bermarga itu di kelas. Tapi setelah kau datang, betapa bahagianya mempunyai marga yang sama dengan seorang murid baru.”

Mereka terus bercerita malam itu. Tak memikirkan waktu dan Jiyeon hanya bisa tertawa mendengar setiap cerita yang di lontarkan Chanyeol. Bahkan sempat menangis haru saat Chanyeol bercerita tentang kematian Ibunya. Benar, Ibu Chanyeol telah meninggal 2 tahun yang lalu karena penyakit kanker yang di deritanya.

Jiyeon akhirnya tahu semua. Di balik sifat ceria Chanyeol yang lebih tua 5 bulan darinya, ia memiliki sifat pemalu dan sangat tertutup kecuali pada Ayahnya dan Myungsoo –sahabatnya. Sejak kematian Ibunya, ia dan juga Ayah bertekad untuk saling melindungi. Dan apapun yang terjadi, mereka harus tetap tersenyum dan bersama. Dan itu membuat Jiyeon terharu akan kerja keras ayah dan saudara tirinya selama ini. Bukan hanya dia yang merasakan betapa kerasnya hidup, tetapi juga orang-orang di dekatnya.

“Setelah ini, kau akan kemana,” Tanya Chanyeol saat mereka telah selesai berbincang-bincang di temani dinginnya hawa karena hujan. “Apa kau akan pulang ke rumah ?”

Jiyeon tak menjawab. Mendorong tubuh Chanyeol untuk keluar dari kamarnya –kamar tamu ini telah menjadi kamarnya sejak tadi dan melambaikan tangan sebelum menutup pintu.

“Apa yang kau lakukan ? Kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Aku akan tinggal disini bersama kalian mulai sekarang. Selamat malam, kakak.”

 

~Raining Love~

 

Suara deru mobil ferrari berwarna hitam membuat suasana rumah seketika menegang. Membuat Bibi Jung seketika panik dan langsung menyambut Nyonya Park yang akan masuk ke dalam rumah. Sejak tadi pagi hingga sekarang, Jiyeon belum kembali dan membuat seisi rumah panik seketika. Apalagi jika sampai membuat Nyonya Park marah besar karena itu.

“Apa Jiyeon belum kembali ?”

Urat saraf Bibi Jung langsung menegang saat mendengar Nyonya Park mulai mengungkit Jiyeon saat baru saja memasuki pintu utama rumah. “Nona Ji belum pulang sejak tadi, Nyonya.”

Nyonya Park berkacak pinggang dan membuang nafas kasar. Ia langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tas jinjingnya dan menelepon seseorang dengan nada serius.

 

“Kau sudah mendapatkannya ?”

“…”

“Anak itu benar-benar.. Cepat telepon polisi dan aku akan segera kesana!”

“…”

“Dan pastikan pria itu juga ada disana. Berani sekali dia menghasut anakku!”

 

Telepon akhirnya terputus lantas membuat Nyonya Park kembali keluar dan memasuki mobil hendak pergi. Wajahnya memerah menahan amarah dan langsung membanting stir mobil keluar gerbang utama.

.

.

Myungsoo melanjutkan perjalanan pulang dengan senyum merekah yang terpampang terus di wajah tampannya. Ia bahkan tak menyangka jika hari ini semua serasa mimpi baginya. Dimana Jiyeon telah menemukan kebahagiaannya bersama Ayah dan juga saudaranya, Park Chanyeol yang adalah sahabatnya.

Motornya tiba-tiba berhenti saat matanya menangkap sesuatu yang ganjal sedang berjalan tak jauh darinya. Yaitu saat Minho sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita memasuki sebuah restaurant dengan senyum bahagia.

Ia berhenti bukan untuk memperhatikan Minho, tapi yang sejak tadi mencuri perhatiannya adalah gadis yang sedang duduk manis di sampingnya kini. Gadis yang sama yang menjemput Jiyeon saat di sekolah dulu. Myungsoo nampak berfikir ia mungkin salah orang dan tak ingin membesarkan masalah. Ia mencoba mendekat agar dapat melihat jelas pemandangan apa yang sedang terjadi. Mulai mengingat kembali bahwa ia tak salah.

“Benar! Bukankah dia..”

Myungsoo nampak berfikir. Mengingat kembali nama gadis yang berpapasan dengannya di koridor sebelum memasuki ruang kesehatan sekolah. Matanya membulat saat melihat Minho mencium kening gadis itu.

“Suzy..”

.

.

.

.

.

-tbc-

Wah setelah sekian lama, akhirnya chapter 6 ke post juga ^^

Semoga masih pada suka yaa😀 Entah kenapa di ff ini makin banyak konflik -_- aduh mesti kerja keras buatnya😉

Thanks banget untuk semua support dan review’an dari kalian semua :* Sangat berarti untuk obat saya dalam menulis ^^

Oh ya saya juga membuat sebuah sequel dari ff ‘Sticky Note‘ karena banyak banget yang seneng ff nya dan jadi best fanfiction beberapa hari, big thanks for all readers~❤

Komentar, kritik dan saran sangat saya terima {}

46 responses to “[CHAPTER – PART 6] RAINING LOVE

  1. ayo donk ff’y di lanjut,, sayang bbggt kan klo hrs putus tengah jalan,,, bagus bggt loh cerita’y,, lanjut yya hwaiting..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s