Sticky Note

cute-heart-i-love-you-love-paper-Favim.com-116844_large

Sticky Note

by Juliahwang

.

Cast :

Myungsoo | | Jiyeon

Fluff, Marriage life, AU | | General | | Vignette

~

-Recommend Song-

VIXX – Love Letter

‘Saying I love you with words might not be enough’

‘But, still I will confess to you today’

‘I wanna be with you, always from a step behind you’

‘Let’s be together for always, forever’

‘I love you, I need you’

 

~Sticky Note~

 

Minggu pagi ini adalah kegiatan rutinku untuk pergi ke gereja. Mataku terus mengerjap saat sinar mentari memaksa masuk melalu celah jendela yang terbuka. Aku menoleh ke samping kananku dan tersenyum. Myungsoo tak ada dan telah pergi.

Aku membenci Myungsoo, suamiku. Sejak pertama bertemu dengannya, tak ada keseriusan dari raut wajah pria itu sama sekali. Pria itu tak banyak bicara, hanya diam dengan wajah datar seolah tak pernah ada kebahagiaan dalam hidupnya. Jujur, saat pertama kali melihatnya, aku menyukai tatapan tajam miliknya. Selang beberapa saat, rasa itu hilang berganti rasa benci yang teramat sangat saat Myungsoo tak pernah mau membalas perkataan dan apapun yang berkaitan denganku. Aku sangat membenci pria yang tidak mempunyai sopan santun seperti itu.

Seminggu pernikahanku dengannya, tak pernah ada kontak dan sapaan dalam rumah kami. Yang bisa kunilai darinya adalah, Myungsoo pria yang pendiam dan anti sosial. Hampir setiap hari, ia hanya berdiam diri di perpustakaan kecil rumah kami dan berkutat dengan buku-buku bodoh miliknya. Myungsoo tak pernah mau bicara saat aku sering membentak kebiasaan dan melupakan kewajibannya sebagai seorang suami. Saat marah, Myungsoo hanya menunduk seolah-olah ia menyesal dan merasa begitu bodoh menjadi seorang suami. Aku bahkan merasa, aku seperti hidup sendiri. Tak pernah menganggap pria itu ada. Dan tak akan pernah peduli. Sampai kapan kami akan berpura-pura menjadi pasangan yang bahagia, aku tak pernah tahu.

.

Aku berjalan menuju meja rias. Berkaca, melihat mataku yang menyipit saat baru bangun. Biasanya setiap pagi, aku selalu melihat pantulan diri Myungsoo yang berada di belakangku sedang berganti baju, tapi sekarang hanya aku sendiri. Pandanganku beralih pada sticky note berwarna kuning yang tertempel di sudut cermin dan mengambilnya.

“Selamat pagi.”

Aku tertegun saat membaca tulisan yang tertera disana. Apakah ini dari Myungsoo ? Mungkin iya karena hanya kami berdua yang tinggal disana, tak ada orang lain. Aku berpikir sejenak, ada angin apa Myungsoo rela menghabiskan waktunya untuk membuat pesan dan mengucapkan salam padaku lewat sticky note yang kupegang sekarang. Ini jelas bukan kebiasaan Myungsoo yang hemat bicara itu.

Aku mengabaikan pesan itu dan berjalan menuju kamar mandi. Mataku kembali membulat saat menemukan pesan kedua yang tertempel tepat di pintu kamar mandi saat sebelum aku memasukinya.

“Aku sudah menyiapkan air panas. Bergegaslah!”

Tanganku refleks kembali mengambilnya. Menggabungkan pesan itu dan pesan sebelumnya dengan sticky note yang sama. Tanpa berkomentar, aku langsung menyimpannya dalam kantung dan kembali memasuki kamar mandi dengan raut wajah yang sama. Bingung.

.

Pintu besar itu terbuka lebar. Memperlihatkan deretan pakaian yang luar biasa banyak itu saat aku membukanya. Dengan senyum simpul yang terpampang di wajah, aku mulai memilih dress yang tepat untuk ku pakai ke gereja nanti. Salah satu dress kembali menarik perhatianku. Dress berwarna putih selutut dengan pita di belakangnya. Tertempel pesan lagi yang kali ini entah kenapa membuatku tersenyum.

“Pakailah ini! Kurasa ini bagus untukmu.”

Dan entah kenapa, akhirnya aku memilih dress itu dan memakainya.

Tak berhenti sampai disitu, pesan baru aku temukan lagi. Kali ini di pintu sebelum aku baru saja akan keluar dari dalam kamar. Saat membacanya, pipiku nampak merona dan wajahku memerah seketika.

“Kau nampak sangat cantik hari ini.”

.

.

“Aku sudah menyiapkan sarapan di atas meja. Selamat makan!”

5 buah sticky note dengan pesan berbeda telah berada di tanganku. Sejak tadi, aku sengaja mengumpulkannya dan entah untuk apa ingin sekali menyimpannya. Pesan terakhir aku temukan tertempel di pintu kulkas saat hendak mengambil roti untuk sarapan. Aku membuka tudung saji sesuai pesan dan menemukan roti bakar dengan selai coklat dan segelas susu telah terhidang di dalamnya. Myungsoo telah menyiapkan semuanya dengan sangat rapi.

.

Langkahku terhenti saat menemukan pesan yang tertempel di kaca mobil.

“Jangan memakai mobil. Jalanan sangat ramai.”

Kuhembuskan nafas panjang dan tertawa. “Dasar pria gila!”

.

.

“Jiyeon-ah..”

Aku melambaikan tangan pada Paman Han yang memanggilku saat melewati toko roti miliknya. Aku terpaksa berjalan kaki menuju gereja karena memang benar jalanan sangat ramai hari ini. Untuk kali ini tidak masalah untukku, karena gereja itu tak begitu jauh dari kompleks perumahanku.

“Seseorang menitipkan ini untukmu. Ia memintaku untuk memberikannya padamu saat kau lewat sini.”

Keningku berkerut saat Paman Han memberikan sebuah kotak coklat dengan pita merah muda di atasnya. “Siapa yang memberikannya ?”

“Kau akan tahu nanti.”

Ia berlalu pergi dan berpamitan padaku. Saat kuperhatikan kotak itu lagi, ada sticky note yang tertempel disana. Dan sudah pasti, tidak lain dan tidak bukan, kotak ini dari Myungsoo. Pesan yang tertera disana pun membuat rasa penasaranku semakin tinggi.

“Bukalah saat kau sampai di gereja.”

.

.

.

Aku berdiri menatap bangunan besar di hadapanku. Bangunan besar dengan ornamen khas Eropa yang begitu kental menghiasinya. Sejak kecil, aku sangat menyukai tempat ini. Saat berada di dalamnya aku merasa begitu tenang. Seperti ada yang melindungiku di dalamnya. Bahkan di tempat ini juga, seseorang telah berjanji untuk selalu menjaga, mencintai dan mengasihiku seumur hidupnya.

Papan kokoh nan besar berwarna putih di hadapanku membuat badanku melemas seketika. Aku menggenggam erat kotak yang berada di tanganku dan beberapa kali menarik nafas panjang. Kudorong gagang pintu itu dengan pelan, membuat berkas cahaya menyeruak menyinariku. Kursi-kursi yang berderet rapi itu nampak kosong. Jendela-jendela besar dengan ukiran para malaikat membuat suasana tenang seperti yang kusuka.

Pandanganku tertuju pada seseorang yang sedang berdiri dan menautkan tangannya berdoa. Ia memakai kemeja putih dan rambut hitamnya nampak bersinar terkena sinar matahari. Matanya tertutup rapat. Wajahnya tetap sama seperti sebelum-sebelumnya, datar dan selalu terlihat serius. Ia sedikit menunduk, berusaha menutupi wajahnya tapi tetap saja aku sangat jelas melihatnya. Jarak kami memang tak begitu dekat, tapi aku tahu dia siapa. Dia adalah Myungsoo.

Aku berjalan pelan ke arahnya. Berusaha tak menimbulkan suara agar tak mengganggu doanya. Langkahku terhenti di dekat tangga pelataran. Dan saat berhenti, ia telah menyelesaikan doanya.

Ia akhirnya menyadari kehadiranku. Tersenyum singkat dan nampak menggaruk tengkuknya. “Kau sudah sampai ?”

“Apa maksud semua ini ?”

Ia tak menjawab. Hanya tersenyum dan untuk pertama kalinya selama kami hidup bersama sebagai pasangan suami istri, akhirnya aku bisa melihatnya tersenyum.

“Bukalah kotak itu.”

Tanpa bertanya lagi, aku segera membuka kotak yang sedari tadi kupegang. Dengan pelan saat tutupnya terbuka, sticky note tertempel kembali.

“Aku mencintaimu. Untuk semua tentangmu. Untuk semua yang kau berikan. Dan untuk cintaku, Terima kasih.”

Kurasakan air mata mengenang di pelupuk mataku. Entah kenapa hawa panas langsung muncul seketika saat membaca pesan itu. Aku mengibaskan wajah dengan telapak tangan dan mencoba menahan air mata agar tidak menangis.

Sticky note dengan pesan menyentuh itu kuambil. Menyisakan karton kosong yang tak berisi. Aku bingung, kotak sebesar ini hanya berisi secarik sticky note saja ? Pandanganku beralih pada karton kecil yang menonjol di sudut kotak. Saat kutarik, sebuah kue ulang tahun berbentuk hati muncul di dalamnya. Di atasnya tertulis,

“Happy Birthday, Jiyeon”

Apakah hari ini ulang tahunku ? Aku bahkan lupa dan benarkah Myungsoo mengingat ulang tahunku ?

“Selamat ulang tahun, istriku Jiyeon.

Aku tak bisa berkata apapun selain mendoakanmu untuk tetap sehat dan tetap seperti Jiyeon yang kulihat hari ini. Terima kasih untuk tetap di sampingku.

Sejak tadi, aku tak berhenti mendoakanmu. Menunggumu untuk datang dan aku tak percaya kau akan datang kesini. Kupikir kau akan mengabaikan semua pesanku karena kutahu, kau begitu membenciku sejak awal. Aku tahu kau tak pernah mau menerima pernikahan ini. Karena itu aku hanya bisa diam. Diam seperti orang bodoh dan malu saat berhadapan denganmu. Seumur hidupku, aku tak pernah merasa sedekat ini dengan seorang wanita. Merasakan harum tubuhnya dan hembusan nafasnya. Aku selalu bahagia saat malam tiba, saat kau tidur tepat di sampingku walaupun kita terpisah dengan guling. Aku tetap bahagia.

Dan sekarang, kupikir semua sudah jelas. Jika kau tetap tak mau menerimanya, aku akan tetap menganggapmu istriku. Semoga kau selalu bahagia. Aku mencintaimu, Jiyeon.”

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh. Membasahi pipi dan wajahku yang terus menunduk. Bibir dan tanganku bergetar saat membaca surat singkat yang berada dalam kotak bersama kue ulang tahun pemberiannya. Aku bahkan merasakan pertahananku sebentar lagi akan ambruk.

Aku mengangkat wajahku. Menatap pria yang selama ini kubenci. Pria lugu yang ternyata mencintaiku dengan setulus hatinya. Pria yang tak pernah kudengar suaranya saat berbicara. Lewat semua pesannya pagi ini, ia mencurahkan semua isi hatinya padaku. Yang ternyata, ia selalu memperhatikanku setiap saat.

Ia mengeluarkan sebuah lilin kecil dari dalam kantung celananya. Menghidupkannya dan berjalan ke arahku. Ia masih saja tersenyum dengan membawa lilin itu di hadapanku.

“Ucapkan keinginanmu.”

Suaranya sangat kecil. Sangat lembut tanpa intonasi yang keras khas seorang pria. Apakah itu sebabnya ia tak pernah mau bicara, karena suara kecilnya yang membuatnya berbeda dengan pria manapun.

Aku menutup mataku. Meletakkan kotak berisi kue itu dan menautkan tanganku sambil menutup mata. Mulai mengucapkan keinginan tulusku di hadapan Myungsoo dan sengaja membesarkan suara.

“Tuhan, di hari ulang tahunku ini, aku hanya meminta doa dan berkat darimu. Terimakasih telah memberikan Myungsoo dalam hidupku. Terimakasih telah memberikannya kesabaran. Aku mencintainya seperti aku mencintaimu. Dan untuk selamanya, aku akan selalu mengingat hari ini.”

Kutiup lilin yang Myungsoo bawa. Menghambur memeluknya dengan erat dan menangis disana. Aku menyesal telah membencinya. Membencinya tanpa tahu isi hatinya. Tanpa tahu bagaimana ia sebenarnya.

Ini adalah hari baru untuk kami. Aku berjanji akan selalu bahagia bersama dengannya. Menjadi Jiyeon yang Myungsoo minta. Ini adalah janjiku di tempat ini. Di gereja yang sama saat Myungsoo mengucapkan janjinya saat menikahiku.

“Thank you for being you, Kim Myungsoo.”

.

.

.

.

.

-fin

 Long time no see, guys~ ^^

Author Raining Love yg masih nyicil chapter 6, sebenarnya udh setengah jadi chapter 6 nya, tp malah ngepost ff ini😦 semoga masih pada mau nunggu. Soalnya saya juga habis ulangan, jadi dimohon pengertiannya :’)

Kritik dan saran yang membangun tetap saya terima ^^ Thanks for your support {}

Lafya~❤

71 responses to “Sticky Note

  1. cerita’y seruu niie,, trnyata di balik diam’y myungsoo dia sangat memperhatikan jiyeon yya.. wahh sweet bggt…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s