To Be Miss Popular (7)

untitled-21

Park Jiyeon. Kim Myung Soo. Choi Minho. Bae Suzy. Han Hyori. Nickhun.

-Romance- School Life-

To be Miss Popular

Chapter 7

______________________________________________________________________________________

“Nde?”

Aku mengerjabkan mataku. Kerongkonganku tercekat. Mwoya? Tugasku sudah selesai? Apa itu artinya.. artinya…

Hyori tertawa. “Ya! Kenapa wajahmu pucat begitu? Bukannya kau harusnya merasa senang?”

“A-ani…” aku menghindari tatapan Hyori dengan gelagapan. “Aku senang. Hum hum, tugasku sudah selesai, jadi aku… aku…” Aissh, sial, kenapa aku tidak bisa bicara dengan normal. Kenapa tingkahku seperti orang yang baru saja ke-gap melakukan sesuatu. Na jeongmal! Ck, seperti orang bodoh saja.

“Kau takut tidak akan bertemu dengan Kim Myung Soo lagi, aku benar kan?” Hyori mengerlingkan matanya dengan jahil.

“MWO?” aku membelalakan mataku kaget. Ottoke? Bagaimana Hyori bisa tahu?

Hyori mengibaskan tangannya dengan santai. “Aku sudah tahu.”

“Boya ige?” Tuan Woobin ikut menimbrung. “Jiyeon… Myung Soo… jangan katakan…”

Ya, dia sudah bisa menerjemahkan sendiri rupanya.

“Yaa! Apa itu masuk akal? Jiyeon, kau suka pada Myung Soo? Animyeon, kau sudah berpacaran dengannya?”

Saat ini aku ingin membelah tanah yang ada di bawahku dan menenggelamkan diriku ke perut bumi.

“Bajja!” Hyori menunjukku dengan sumpitnya. “Ck, namja bodoh itu. Sudah ku duga dia akan suka padamu.”

“Jiyeon! Nice catch!” Nickhun mengedipkan matanya padaku. “Sebagai pria aku bisa bilang kalau dia adalah namja yang baik. Kau beruntung bisa mendapatkannya.”

“Ku-kuere,” aku meringgis mendengar ucapan Nickhun.

“Ogh,” Nickhun tersenyum. “Tapi ku rasa Myung Soo juga beruntung mendapatkanmu. Kau juga orang baik. Kalian sangat cocok.”

“Yaa! Yaa! Yaa!” Tuan Woobin memicingkan matanya lalu menatap kami satu-satu. “Kalian tidak tahu skandal apa yang baru saja terjadi ini?”

Hyori dan Nickhun menatap blank.

Tuan Woobin menunjukku. “Park Jiyeon, sepertinya kau belum tahu latar belakang keluarga Myung Soo. Keluarga mereka sangat terpandang. Chaebol, satu dari sepuluh group terbaik dinegri ini. Kim Myung Soo adalah satu-satunya penerus. Dia sudah tidak punya orang tua. Dan dia hanya punya kakak perempuan.”

“Oppa hajima,” Hyori mendelik pada tuan Woobin. Dia sepertinya sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. Seperti aku.

Tuan Woobin tidak menggubris. “Ya, dengarkan aku sekali ini. Tidak hanya Jiyeon, tapi kau juga,” Tuan Woobin menunjuk adiknya. “Kalian tidak mengerti karna kalian masih muda. Yang kalian lakukan sekarang hanya mengikuti perasaan kalian saja. Apa kalian yakin perasaan itu akan bertahan selamanya? Neo,” Tuan Woobin menunjuk Hyori. “Apa kau lupa bagaimana dulu kau tergila-gila pada Myung Soo?”

“Itu…”

“Kau pernah bilang kau ingin menikah dengannya. Keunde, kalian putus lalu kau jatuh cinta lagi pada Choi Minho.”

“Oppa!”

“Yang ingin ku katakan adalah, perasaan itu sangat gampang berubah. Kau bisa saja menyukai seseorang hari ini, lalu karna keadaan kau bisa saja merubah perasaanmu.”

“Apa ini karna Shin Hye?” Hyori melirik tuan Woobin kesal. “Oppa kesal karna dia merubah perasaannya kenapa melampiaskannya padaku?!”

“Nan aniya!” Tuan Woobin bangkit dari kursinya. “Kau, apa kau tahu betapa kekanak-kanakannya dirimu? Apa kau tahu betapa sulitnya aku membereskan masalah yang kau buat? Apa kau tahu aku bekerja keras memulihkan harga saham kita setelah kau membatalkan pertunanganmu? Apa kau tahu betapa sulitnya hidupku karna tindakan ke kanak-kanakanmu?”

“Hah, aku benar-benar akan gila!” Hyori memicingkan matanya kesal dan ikut berdiri. “Kenapa Oppa mengungkit-ungkit masa lalu?”

“Karna kau masih sama saja kekanak-kanakannya seperti waktu itu!”

Tuan Woobin melempar serbetnya, mendengus, lalu berlalu pergi meninggalkan ruang makan.

Senyap. Hyori kembali terduduk. Dia menghempaskan serbetnya, kesal.

***

Aku menghela napas berat sembari memandangi bintang-bintang yang ada di langit sana.

Sudah pukul dua belas malam, tapi aku masih belum bisa tertidur. Yang aku lakukan adalah duduk di atas pinggiran kolam renang, sambil menunggu mataku mengantuk.

“Kau belum tidur?” sebuah suara berat mengusikku.

Aku menoleh ke asal suara. Ku lihat Nickhun sedang melangkah ke arahku.

“Kau belum pulang?” tanyaku heran. Ini sudah sangat larut. Apa dia menginap disini?

“Aku menemani Hyori, dia sangat kesal karna kejadian tadi,” Nickhun duduk di sebelahku. “Aku tidak suka jika dia sedih seperti itu. Aku ingin menghiburnya.”

“Beruntung sekali,” aku menghela napas berat. “Hyori punya pacar yang sangat peduli.”

Nickhun sedikit tertawa. “Kau akan terkejut jika tahu kisah kami yang sebenarnya,” Nickhun tersenyum.

“Kuere?” Aku ikut tersenyum. “Kalau begitu beri tahu aku. Agar aku lebih terkesan lagi.”

Nickhun menghela napas berat dari mulutnya. Bibirnya mengembang, tanda dia sedang mengingat sesuatu yang menyenangkan. Pertemuannya dengan Hyori. “Saat kami bertemu pertama kali itu di sebuah Pub. Dia sedang mabuk-mabukan dan aku mencoba menggodanya. Dia sangat cantik dan seksi malam itu. Seperti dewi yunani.” Nickhun menatapku sejenak, lalu mengarahkan pandang ke kolam renang. “Malam itu aku berhasil membawanya ke apartemenku. Hyori sudah tidak sadar. Dan kau tahu apa yang akan di lakukan pria bejat sepertiku?”

“Jangan bilang…” aku terkesiap kaget.

“Aku tidak bisa melakukannya.” Nickhun menggeleng. “Malam itu aku hanya menatap wajahnya yang tertidur. Dia terlihat begitu lemah dimataku. Dan aku tidak ingin menyakitinya.”

“Apa Hyori tahu apa yang sebenarnya akan kau lakukan malam itu?”

Nickhun menangguk. “Ya. Dan dia tidak marah padaku. Dia mengucapkan terima kasih karna mau menjaganya.”

Aku tersenyum mendengar kisah cinta mereka yang sangat indah. “Sejak itu kalian mulai dekat?”

“Ogh,” Nickhun mengangguk. “Tapi aku bukan pangeran dari negri dongeng. Hidupku sangat rusak. Tidak hanya suka minum, aku juga suka main wanita, dan lebih parah aku sempat memakai ganja.”

Aku menutup mulutku tidak percaya.

“Aku bisa menjauh dari wanita-wanita itu, tapi aku tidak bisa menjauh dari alkohol dan ganja. Aku sempat masuk rehabilitasi. Hyori selalu mendukungku. Dia meyakinkanku kalau aku bisa keluar dari tempat gelap itu. Hari-hari saat kami memulai semuanya itu sangat berat dan di penuhi air mata. Kadang aku merasa dia hanya kasihan padaku. Karna aku sangat bergantung padanya. Dia adalah setitik cahaya yang muncul diantara hidupku yang gelap.”

“Aku tidak menyangka kalian melalui hal itu…” aku meringgis.

“Hidupku sangat kacau karna orang tuaku bercerai. Kakakku adalah seorang vocalis group metal yang bunuh diri karna di vonis kanker pita suara. Ayahku sangat sibuk mengurusi perusahaan-perusahaannya. Ibuku menikah lagi, dengan pria yang jauh lebih muda darinya. Aku pernah tinggal bersama mereka, dan rasanya aku ingin muntah setiap kali melihat mereka… mereka…” Nickhun memicingkan matanya. Dia seolah mengingat memori yang mengerikan. “Hah, menjijikan sekali.”

Nickhun melanjutkan. “Hyori… adalah satu-satunya hal terbaik yang aku miliki dalam hidupku. Karna itu, apa pun yang terjadi, aku tidak ingin kehilangannya.”

Aku mengangguk mengerti. Sepertinya aku mulai paham kenapa Nickhun terlihat sangat protektif pada Hyori selama ini. “Keunde, apa kau tidak cemburu mengetahui Hyori sempat bertunangan dengan Myung Soo? Ekspresimu sangat biasa saat tuan Woobin mengatakannya.”

“Tentu saja,” Nickhun menggedikkan bahunya. “Tapi apa yang bisa ku katakan? Moodnya sedang sangat buruk. Aku tidak ingin memperkeruh suasana.”

“Apa aku harus menjauh dari Myung Soo? Mereka sedang membahas aku dan Myung Soo, tapi malah mereka yang bertengkar.”

Nickhun terkekeh. “Apa itu yang membuatmu tidak bisa tidur?”

“Ck, ani.”

“Hei, jangan terlalu dimasukkan hati. Kakak dan adik itu memang aneh. Pertengkaran mereka biasanya tidak ada artinya.”

“Jinja?” aku menatapnya tak percaya. “Mereka jelas-jelas sedang memperdebatkan hubunganku dengan Myung Soo. Dan aku tidak mengerti apa yang membuat tuan Woobin benar-benar marah.”

“Itu karna dia sangat menyukai Myung Soo,” Nickhun menatap lurus pada genangan air kolam yang tenang dengan pandangan menerawang. “Myung Soo adalah orang yang sangat dia harapkan untuk menjaga adiknya. Bukan aku, dia sudah tahu tentang masa laluku.”

“Kalau begitu dia sebenarnya kesal padaku?”

“Yap. Dan dia juga kesal pada Hyori. Padaku juga.”

“Apa aku harus menjauhi Myung Soo?”

Nickhun berdecak mendengar pertanyaanku. “Yaa, apa itu sesuatu yang harus kau putuskan sendiri? Aii, jeongmal. Kalian para wanita memang suka menyiksa.”

Aku mendelik padanya. “Waa, bahasa koreamu sudah benar-benar bagus ya. Apa maksudnya?”

“Ck,” Nickhun tertawa kecil. “Kim Myung Soo, jika aku jadi dia, aku akan sangat marah jika kau menanyakan hal itu. Ani, mengetahui wanita yang aku cintai sempat mempertimbangkan untuk meninggalkanku saja, aku sudah sangat kesal.”

“Kuge…”

“Hajima,” Nickhun menatapku serius. “Orang-orang seperti kami, hanya punya satu hal berharga untuk diperjuangkan. Cinta, bagi kami adalah kemewahan yang sangat sulit di dapatkan. Karna itu jangan lakukan itu padanya. Myung Soo akan sangat marah.”

Aku terdiam meresapi kata-kata yang Nickhun ucapkan.

“Cah…” Nickhun bangkit dari duduknya. “Aku harus segera pergi dari sini sebelum Woobin melihatku.”

“Hati-hati.”

“Hm, jalja, jiyeonie.”

***

Setelah pertengkaran di meja makan hari itu, tuan Woobin tidak lagi menampakkan diri. Hyori bilang Oppanya sedang ada urusan bisnis ke luar negri. Tapi aku tidak begitu saja percaya.

Tuan Woobin sedang marah. Pertengkaran mereka hari itu bukanlah pertengkaran remeh seperti yang Nickhun katakan. Dan yang membuatku tidak enak adalah, semua itu terjadi karna aku.

“Jadi kalian sudah pacaran?” Sung Gyu menunjukku dan Myung Soo dengan sumpitnya. Wajahnya menampilkan senyum jenaka.

“Chukhae, Jiyeon ah. Semoga kau tidak bosan pacaran dengan pria membosankan sepertinya,” ejek Sung Gyu.

Aku hanya tersenyum kecil padanya, sementara Myung Soo terlihat tidak peduli meski dirinya sedang di ejek. Dia meneruskan makannya tanpa menghiraukan Sung Gyu.

Tak lama kemudian, Hyori dan Nickhun bergabung bersama kami.

“Hei, kalian tidak bergabung di meja populer lagi?” tanya Hyori pada kami.

“Kau sendiri?” Sung Gyu mengangkat alisnya. “Ku dengar kau bertengkar lagi dengan Suzy ya?”

Hyori menggedikkan bahunya santai. “Apa aku pernah berteman dengannya? Aku tidak bisa makan semeja dengannya. Tanganku sangat gatal ingin mencakar wajahnya.”

Nickhun terkekeh. “Mereka beradu mulut di depan Kafetaria tadi.”

“Apa lagi yang mereka ributkan? Aku?” Sung Gyu berujar dengan Pdnya.

Hyori memutar matanya malas. “Mimpi saja kau, Kim Sung Gyu! Bahkan Shio saja tidak sudi memperebutkanmu!”

“Woa, apa ini, apa ada sesuatu yang aku lewatkan?” Nickhun mengangkat sebelah alisnya tanda penasaran.

“Dia baru saja putus dengan Shio karna ketahuan selingkuh!”

“Yaa! Aku sama sekali tidak selingkuh!” tepis Sung Gyu.

“Begitu yang ku dengar,” Hyori menggedikkan kepalanya tak acuh.

“Jinja?” kali ini Myung Soo buka suara sambil menolehkan kepalanya menatap Sung Gyu.

“Aniya!” Sung Gyu mengibaskan tangannya.

“Pantas saja kau duduk bersama mereka sekarang,” Hyori berujar dengan nada mengejek, ia menunjukku dan Myung Soo. “Kau tidak sadar kau sedang mengganggu kencan orang? Neo jinja, tidak tahu malu sekali.”

“Ah, waeee?” Sung Gyu membuat wajah polos. “Myung Soo lebih dulu bersamaku dari pada Jiyeon. Dia tidak boleh meninggalkanku begitu saja.”

Hyori hanya mendesis lalu pandangnya dia tujukan padaku. “Kau tidak ada acara kan pulang sekolah nanti? Temani aku belanja oke?”

“Kenapa mengajaknya?” Myung Soo menatapku dan Hyori bergantian. “Kau bisa pergi dengan pacarmu.”

“Yaa,” Hyori menatap Myung Soo dengan serius. “Menghabiskan seluruh waktu dengan pacarmu itu sama sekali tidak sehat. Kau butuh waktu berbaur dengan orang-orang disekelilingmu. Yeoja akan muak dengan pria yang mengekorinya kemana-mana seperti anak anjing.”

“Mwo? Anak anjing?” ketiga namja yang duduk bersama kami itu mengulang dengan nada tidak percaya sekaligus kesal.

“Yaa, Han Hyori,” Sung Gyu membuang satu napas untuk menenangkan sarafnya. “Neo Jinja.”

Hyori mencibir.

“Apa aku terlihat seperti anak anjing?” Nickhun menunjuk dirinya.

“Aniyo,” Sadar bahwa ucapannya menyakiti perasaan Nickhun, Hyori lalu mengelus lengan namja itu dengan sayang dan memeluknya. “Itu hanya berlaku untuk dua namja yang di depanku ini. Aku tidak masalah jika kau mengikutiku. Kalau benar kau anak anjing, maka kau adalah anak anjing yang sangat lucu, menarik, baik, dan tampan. Aku tidak masalah di ikuti olehmu.”

“Aii, aku tidak tahu kepribadian apa yang dimiliki Yeoja ini,” keluh Sung Gyu, dia lalu menyumpit makanannya, melahapnya dalam potongan besar.

Aku hanya tertawa mendengar perdebatan itu. Nickhun sudah membalas pelukan Hyori di lengannya. Sung Gyu menyipitkan matanya kesal.

Myung Soo menggenggam tanganku lalu mengangkatnya ke udara. “Aku bukan anak anjing, tapi aku adalah pemilik anjing.”

“Yaa,” aku berusaha melepaskan tanganku. Mukaku sudah sangat merah.

“Karna itu kau tidak boleh mengajak Jiyeon tanpa ijinku. Karna dia milikku.”

***

Itu kejadian beberapa hari yang lalu. Pagi ini aku dan Hyori sedang duduk-duduk di kelasku menunggu bel berbunyi.

“Huaa neomu Kyeopta,” Hyori tersenyum lebar melihat gambar yang ada di dalam ponselnya. “Jiyeon, lihat. Lucu sekali kan? Aku ingin punya anjing seperti ini.”

Hyori ini benar-benar ingin punya anjing rupanya. Dari kemaren dia membahas-bahas anjing terus.

“Kenapa kau tidak membelinya saja?” cetusku.

Hyori mengerucutkan bibirnya. “Aku tidak bisa. Aku takut pada binatang.”

“Mwo?”

“Oppa pernah membelikanku kucing anggora, tapi aku tidak pernah berani menyentuhnya. Perasaan anjing lebih sensitive dari pada kucing. Aku tidak mau menyakitinya.”

Aku menahan tawa mendengar alasannya yang konyol. Tapi lebih memilih tidak menyuarakannya.

“Yaa, Hyori! Sedang apa kau disini?” Myung Soo muncul dan melemparkan tasnya ke meja yang berada di belakangku. Dia kelihatan berbeda. Mukanya tampak mendung.

“Na?” Hyori menunjuk dirinya. “Apa kau tidak bisa lihat sendiri? Aku sedang berpose cantik.”

Aku tak bisa menahan diriku agar tidak tertawa. Satu lagi kepribadian asli Hyori yang baru terungkap. Dia juga punya sisi konyol.

“Bo?” Myung Soo mencebik. “Berpose cantik? Kau menyakiti mataku, kau tahu?”

“Yaa, Kim Myung Soo, kenapa kau kasar sekali?” tegurku. Aku tidak menyangka Myung Soo bisa berbicara sekasar itu. Dia sebelumnya tidak pernah selepas itu berkata-kata, kecuali jika dia benar-benar dalam amarah karna sebuah keadaan.

“Nde, apa aku ada salah padamu? Kenapa kau begitu kejam padaku? Hmm?” Hyori menunjukkan wajah aku orang paling tidak berdosanya. Ku harap itu bisa mempengaruhi Myung Soo agar mengubah sikapnya, tapi ternyata tidak.

Myung Soo berdecak. “Kau tidak akan pergi?”

“Myung Soo…”

“Kuere,” Hyori melompat turun dari meja yang dia duduki. “Sampai jumpa jam istirahat nanti Ji,” dia lalu melangkah keluar dari ruangan kelasku.

“Kenapa kau bertingkah seperti itu?” dengusku kesal setelah Hyori pergi.

“Aku hanya sedang tidak ingin melihatnya.”

“Ck, aku tidak menyangka kau tipikal namja seperti itu. Apa jika kau sedang tidak ingin melihatku, kau juga akan mengusirku seperti tadi?”

Myung Soo menghenyakkan tubuhnya di atas bangku. Tidak menggubris ucapanku. Dia terdiam. Pandangannya tertuju keluar. Dia… tidak mengacuhkanku. Ada apa dengannya?

“Apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku?”

“Ng?” Aku menatapnya bingung. “Tentang apa?”

“Tentangmu. ” Myung Soo menatapku dengan tatapan tajamnya yang membuatku membeku di tempat.

“Apa… apa terjadi sesuatu?”

Aku yakin ada alasan kenapa Myung Soo bersikap seperti ini. Walau pun tidak menyukai Hyori, dia tidak pernah menunjukkannya secara terang-terangan seperti tadi. Dan, sikapnya sangat dingin. Bisa ku rasakan dia sedang menarik jarak dariku sekarang.

“Ani.”

“Gotjimal.”

Myung Soo menunjukkan seringaian sinisnya. “Kita lihat siapa yang sebetulnya berbohong.”

“Nde?”

Myung Soo mengangkat wajahnya untuk menatapku lekat. “Woobin Hyung datang menemuiku.”

“Tu-tuan Woobin?” aku menutup mulutku.

“Nde. Tuanmu!” Myung Soo menatapku tajam. “Apa sekarang kau akan mengakui kebohonganmu Jiyeon?”

***

Aku membeku. Lidahku terasa kelu untuk di gerakkan. Pikiranku pun terasa sangat buntu. Tak tahu apa yang harus ku lakukan.

Hening. Aku dan Myung Soo saling bertatapan, dalam keterdiaman yang terasa begitu mencekam.

“Kau tidak akan mengatakan sesuatu? Setidaknya beri aku satu alasan kenapa kau melakukan ini padaku.”

“Mianhae…” hanya itu kata yang berhasil keluar dari mulutku.

Myung Soo hanya menatapku sesaat, kemudian dia mendengus. “Hanya itu?”

Hening. Tidak ada lagi yang bicara.

Myung Soo mendengus. Akhirnya memilih pergi meninggalkanku.

***

Aku tidak menemukan Myung Soo dimana pun sepanjang hari itu. Sama seperti saat kejadian kolam renang waktu itu. Dia tiba-tiba saja menghilang.

Dia mungkin tidak ingin melihatku. Mungkin dia membenciku. Mungkin dia tidak ingin melihat wajahku.

Aku mengerti.

Ya, berani-beraninya aku mendekatinya, orang yang bukan siapa-siapa di dunianya. Orang yang seharusnya tidak punya kesempatan untuk bicara sederajat dengannya.

Mendengar kecaman itu di dalam otakku, aku ingin menangis. Dadaku terasa sesak sekali.

Kali ini sudah berakhir… semuanya sudah berakhir…

“Jiyeon!” Hyori mengejarku.

Aku sedang tidak ingin menghadapinya. Aku terus melangkah, hingga aku merasakan dia menarik tanganku dengan kasar. “Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?”

Aku menggeleng, sebisa mungkin menahan air mataku. “Ani.”

“Gotjimal. Ada masalah apa? Kenapa kau lari seperti ini?”

“Apa kau tidak bisa meninggalkanku sendiri saja? Aku sedang ingin sendiri.” Aku mengusap air mataku yang sudah jatuh membasahi pipiku. Rasanya sakit sekali. Aku ingin mencari tempat dimana aku bisa menyendiri dan menangis sepuas-puasnya.

Hyori menatapku sejenak, dia kelihatan ragu. “Apa ini karna… Myung Soo?”

Aku menyipitkan mataku padanya, menilai. Hyori terlihat sangat kelimpungan. Dia juga kelihatan sangat bersalah. Sebuah praduga menelisik masuk ke dalam benakku. “Kau… tahu?”

“Apa?”

“Kau tahu tentang Myung Soo yang sudah tahu identitasku yang sebenarnya. Aku benar kan?”

“Jiyeon ah…”

“Kau tahu…” dadaku jadi semakin sesak dengan perasaan yang mendesak untuk di keluarkan. “Kau tahu… kenapa berpura-pura tidak tahu? Kenapa kau membiarkanku kebingungan didalam sana menghadapi dia? Wae?”

“Mianhae… aku tidak tahu kalau Oppa akan seperti itu. Waktu aku mengetahuinya aku sudah berusaha bicara dengan Myung Soo untuk menjelaskannya. Ku pikir dia akan baik padamu dan hanya membenciku.”

“Apa kita berteman?” tanyaku tajam.

“Nde?”

“Kenapa kau bertingkah seperti kita ini teman? Apa aku ini temanmu?”

Hyori membuka mulutnya lebar, terlihat tidak percaya dengan apa yang dia dengar dariku barusan. “Mwo?”

“Bagiku, hubungan kita adalah majikan pembantu. Apa aku salah?”

“Kau berpikir seperti itu? Setelah semuanya? Kau tidak menghargai apa pun yang aku lakukan terhadapmu!” Hyori menatapku murka. Tapi aku sama sekali tidak takut padanya. Sebaliknya, aku marah padanya. Aku marah mengingat dia lah penyebab semua ini. Dia yang menyeretku masuk ke dalam permainannya. Kalau bukan karna dia, hidupku masih akan aman dan tentram. Tapi semuanya berubah sejak dia datang. Hidupku di penuhi masalah.

“Apa yang kau ketahui tentangku?” tanyaku pilu. “Satu hal saja. Katakan apa yang kau ketahui tentangku.”

Apa dia tahu betapa sulit hidupku sebenarnya. Apa dia tahu orang seperti apa aku sebenarnya. Apa dia mengenalku? Tidak, dia tidak mengenalku. Sedikit pun tidak. Dan dia tidak pernah mencoba. Orang sepertinya hanya ingin dimengerti saja.

Hyori berusaha untuk berkata-kata, tapi tidak ada yang berhasil keluar dari bibirnya.

“Selama ini aku ada disisimu, aku membelamu, aku melakukan segala hal untukmu, itu bukan karna pertemanan. Untuk menjadi teman kau harus benar-benar mengenal satu sama lain. Kau tidak bisa menjadi temanku begitu saja lalu menguasai hidupku sesukamu.”

“…..”

“Berhentilah memutuskan apa yang terbaik bagiku. Aku dan Myung Soo bukan bagian dari permainanmu. Selain kehidupanmu, aku juga punya hidupku sendiri. Mengertilah. Jebal.”

 TBC

Huaaaaa, Mohon di mengerti reader. Bukannya Jiyeon berubah jahat, tapi siapa sih yang gak kesel temenan sama orang yang kayak majikan? Okeh, mungkin Hyori itu emang majikan Jiyeon, tapi bukan berarti dia boleh menguasai hidup Jiyeon sesukanya kan? #inikenapajadi curhat

Bedewe, i have to say sorry, buat para readers setia yang lagi-lagi mesti nunggu lama sampai lanjutan FF ini di post lagi.

mohon maklum, author yang satu ini emang suka moody, kalau ide lagi lancar dan moodnya bagus ya tulisannya lancar, kalo gak ya begini ini nih, gak posting posting selama berminggu-minggu.

Jeosonghamnida *bow* (bener gak sih tulisannya)

And then, karna blogku kayaknya mau aku aktivin (kayak Hp aja -_-), i’ll share the link here :

http://pinczkingdom.wordpress.com/

Mungkin aku bakal posting cerita Sung Gyu- Shio, or Nickhun-Hyori, or whatever yang gak bisa aku posting di blog ini karna main castnya bukan Myung Soo- Jiyeon- Suzy-Minho.

Okeh, sekian dulu readers. Sampai jumpa di To Be Miss Popular part berikutnya

*bow*

57 responses to “To Be Miss Popular (7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s