The Half Blood

foto-suzy-cantik

The Half Blood

-Bae Suzy- Choi Minho- Kim Myung Soo- Park Jiyeon

-Fantasi-

___________________________________________________________________

Sang Pangeran

 

Sinar mentari menyusup dari kusen jendela dan tirai kamar. Aku mengerjabkan mataku, lalu membukanya seperti pagi-pagi sebelumnya. Namun pagi ini terasa berbeda. Sejak kapan semua orang berkumpul di kamarku ketika aku bangun?

“Dia sudah bangun…” bisik ibuku dengan suara seraknya, seperti habis menangis.

“Suze…” itu Sung Gyu.

Ayahku hanya memandangku dengan tatapan sedihnya. Ada banyak makna disana. Ada banyak hal yang harus dia jelaskan padaku. Entah akan mulai darimana. Terutama tentang kenyataan yang menghancurkan hatiku itu. Bahwa aku adalah Nephilim. Bahwa berdasarkan hukum yang di tegakkan raja vampir, aku tidak boleh di biarkan hidup. Hanya tinggal menunggu waktu aku akan di eksekusi.

Aku bangkit duduk, menunggu mereka bicara padaku. Menjelaskan padaku. Meski pun sebenarnya tidak ada gunanya. Tapi setidaknya aku sudah tahu siapa diriku, sebelum aku mati.

“Tinggalkan kami berdua,” kata ayahku sembari memberi anggukan pada ibuku. Ibuku menurut. Setelah mencium puncak kepalaku dia segera beranjak. “Aku mencintaimu…” adalah kata terakhir yang dia ucapkan sebelum meninggalkanku.

Kini hanya ada aku dan ayahku. Sejenak hanya diam, hingga ayahku duduk di tepi ranjang, dan berbicara sambil menatap lantai. “Aku seharusnya memberi tahumu dari awal, hingga situasinya tidak menjadi kacau seperti ini.”

“Siapa aku sebenarnya ayah?” tanyaku lemah penuh tangis. “Siapa aku sebenarnya?”

Ayah menyentuh wajahku, dengan lembut dia menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga. Tatapnya penuh kasih. “Suzy, kau sebenarnya adalah anak dari adik kesayanganku, Yoona.”

Kenyataan itu sudah cukup menghantamku. Kenyataan bahwa aku adalah Nephilim. Tidak perlu di perparah dengan kenyataan bahwa aku bukanlah darah daging dari kedua orang tuaku.

“Yoona adalah gadis yang sangat cantik. Di usia tujuh belas tahun dia bertemu dengan seorang pria yang menurutnya sangat tampan. Aku sudah melarangnya untuk berdekatan dengan pria itu. Karna ku lihat adikku menjadi pribadi yang sangat berbeda saat dia jatuh cinta. Dia menentangku dan mengatakan aku tidak mengerti dirinya. Dia keras kepala, sama seperti dirimu, Suze.”

Ayah mengusap wajahnya menampilkan ekspresi terpedih yang pernah ku lihat sepanjang hidupnya. “Dia adik kesayanganku. Aku tidak bisa menolaknya dan menyakitinya. Saat aku tahu bahwa dia hamil bayi dari seorang malaikat, hatiku sangat hancur. Malaikat itu Grigori, malaikat buangan. Dia dihancurkan karna telah membuat Nephilim, dirimu. Sementara aku membantu ibumu untuk bersembunyi dan membuat isu bahwa ia dan anak yang di kandungnya telah mati.”

Aku menangis membayangnya betapa sulitnya hidup ibuku. Dia pasti sangat menyesal karna sudah mengandungku. Aku tidak sepantasnya hidup.

“Jangan menyesali dirimu, Suzy,” ayah menggenggam jemari tanganku. “Ibu kandungmu sangat mencintaimu, begitu juga ayah kandungmu. Dia mengorbankan nyawanya, menyerahkan diri pada kerajaan vampir untuk melindungi kalian. Aku sudah berusaha semampuku, tapi aku tidak bisa menyelamatkan ibumu. Dia melahirkanmu tanpa tenaga medis, tapi aku bisa melihat senyum bahagianya saat mendengar tangisanmu. Dia tidak bisa bertahan karna pendarahan. Aku tidak bisa membantu apa-apa saat itu. Aku hanya melihat adik yang aku sayangi sekarat dihadapanku.”

Aku ikut menggenggam tangannya. Tangisanku tidak bisa ku tahan lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Jadi itulah sejarah hidupku, sejarah keluargaku. Menyakitkan sekali.

“Satu-satunya yang bisa ku lakukan adalah membawamu ke dalam keluargaku dan mengakuimu sebagai anakku. Suzy, kami tidak pernah menyesal memilikimu. Aku menyayangimu layaknya anakku sendiri, begitu juga istriku.”

Aku memeluknya dan menangis sesegukan. Semua kenyataan ini terlalu sulit untuk ku terima sekaligus. Tentang ibu kandungku, tentang ayah kandungku, tentang apa aku ini sebenarnya, tentang masa lalu ibu kandung dan ayah kandungku, tentang aku yang bukan anak dari keluarga ini. “Kapan mereka memutuskan untuk membunuhku ayah?” tanyaku akhirnya. Rasanya persis seperti orang yang di jatuhi hukuman mati, meski pun aku tidak mengerti kesalahan apa yang sebenarnya sudah aku dan orang tuaku lakukan hingga dunia menghukum kami begitu kejam.

Bisa ku rasakan tubuh ayahku menegang saat mendengar pertanyaanku. Dia mengurai pelukan kami dan berkata dengan tegas. “Tidak akan ku biarkan seorang pun membunuhmu Suzy. Tidak akan.”

Aku menggeleng. “Tidak. Lebih baik aku mati dari pada menempatkan kalian dalam bahaya. Sudah cukup pengorbananmu ayah. Terima kasih karna sudah menjagaku selama ini. Aku mohon, jangan buat aku berdosa karna menyengsarakan keluarga ini.”

Ayah balas menggeleng. “Kau bagian dari keluarga ini Suzy. Ingat itu. Sebagai keluarga kita saling melindungi. Meski pun bukan orang tua dan saudara kandungmu, kami sangat menyayangimu.”

Ayah kembali memelukku. “Kau tidak akan mati… kau akan tetap hidup… aku janji…” Ia mengecup puncak kepalaku sayang.

Suara ketukan pintu membuatku dan ayah sama-sama mengurai pelukan kami. Aku mulai merasa was-was. Apa itu Alfa Jack atau kawanan werewolf lain yang berencana untuk membunuhku? Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menyerahkan diri saja pada mereka? Atau haruskah aku melarikan diri?

“Tenanglah…” ayah meremas jari tanganku, lalu melangkah untuk membukakan pintu.

Seorang pria tampan berpakaian rapi berdiri di ambang pintu. Aku menahan napas. Wajah itu adalah wajah terakhir yang ku lihat sebelum aku menutup mata. Kesempurnaannya semakin terlihat jelas di mataku dalam cahaya terang seperti ini. Ia memiliki mata yang indah dan lembut, mengingatkanku pada warna daun saat musim gugur. Hidungnya, bibirnya, pipinya, alis tebalnya, kesemuanya adalah karya seni yang sangat sempurna. Tidak ada cela darinya. Rambutnya pirang madu dan terlihat sangat halus, jika saja aku bisa membenamkan jari-jariku disana. Dan kulitnya… berwarna putih dan bersinar seperti berlian saat terkena sinar cahaya matahari.

“Vampir…” lirihku.

Sebuah senyuman hinggap di wajahnya. “Boleh aku masuk?”

Ayahku mengangguk dan membiarkannya mendekat padaku. Mata kami bertemu dan aku merasakan lagi kenyamanan seperti sebelumnya. Orang ini adalah heroin bagiku. Dia membawa pergi seluruh rasa sakitku dan menggantinya dengan rasa menyenangkan yang tak tahu asalnya dari mana.

“Kau Vampir… tapi kenapa kau tidak menyerangku?” tanyaku bingung. Aku memberi tatapan bertanya pada ayahku, tapi ia hanya tersenyum.

“Aku akan meninggalkan kalian berdua…” ucap ayahku pamit.

Pria ini hanya mengangguk, singkat. Mengirim ayahku keluar dari kamarku. Setelah pintu di tutup, barulah ia kembali menatapku.

“Kenapa kau tidak menyerangku?” aku bertanya lagi. “Aku ini Nephilim.”

“Kau lupa?” ia berujar tanpa ekspresi. “Aku ini mate-mu.”

Aku membuka bibirku lebar. “Tidak mungkin aku berpasangan dengan seorang vampir!” seruku. “Mate hanya terjadi pada werewolf. Vampir tidak memiliki hal seperti itu.”

Dia mengangguk membenarkan ucapanku. “Benar. Vampir tidak jatuh cinta dengan cara tradisional seperti ini. Kami sama halnya dengan manusia. Mengenal seseorang lebih dahulu, baru setelah itu berkomitmen dengannya. Tapi werewolf membuat komitmen meski pun mereka tidak tahu orang seperti apa pasangan mereka sebenarnya.”

“Apa kau kesini untuk menghina rasku?” sindirku. Sama halnya dengan Vampir, kami para werewolf juga tidak begitu menyukai mereka. Para vampir menganggap derjat mereka lebih tinggi dari pada kami, manusia dan werewolf. Mereka cendrung menyombongkan diri. Itu yang membuat para werewolf tidak menyukai mereka.

“Kau bukan werewolf Suzy…” ucapnya seperti helaan. Ucapannya itu seakan menamparku kembali pada kenyataan.

“Benar. Aku Nephilim. Terima kasih sudah mengingatkanku. Apa kau akan membunuhku? Ku peringatkan kau kalau kau masih belum tahu. Darahku bisa membuatmu menjadi vampir level E. Jadi jangan gila hingga meminum darahku.”

Dia tertawa. Suara tertawanya terdengar sangat merdu di telingaku. “Maafkan aku. Tapi kau tidak seberbahaya itu bagiku.”

Aku mengerutkan dahi. “Kalau begitu coba saja.”

“Aku tidak akan melukaimu Suzy,” ia menggeleng. Ada perasaan aneh yang mengalir di seluruh tubuhku saat dia mengatakannya. Rasanya aku sangat senang. Aku ingin sekali memeluknya.

“Apa kau lupa kejadian terakhir sebelum kau tertidur?” tanyanya, kali ini dengan nada sesal. Matanya terlihat sayu saat memandangku. “Apa kau melupakannya?”

Aku menggeleng dan mendesah. Aku masih ingat kata-kata yang dia ucapkan padaku. Bahwa dia akan melindungiku. Tapi ku rasa tidak akan ada gunanya. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya, pada mateku yang seorang vampir yang tak ku kenal. Aku mencintainya, perasaan itu menyusup begitu saja meski pun aku tidak tahu namanya. Mate ternyata adalah proses yang sangat membingungkan seperti ini.

“Aku akan melindungimu,” lirihnya sambil menatap dalam ke bola mataku. “Sekalipun aku harus menentang seluruh dunia karna itu.”

“Jangan lakukan itu,” aku menggeleng kuat. “Kau vampir. Kau tidak akan bertahan jika terus berada disampingku. Aromaku akan membuatmu mabuk. Aku ini penyakit bagi kaummu. Karna itu aku harus dimusnahkan.”

Ia datang lebih dekat. Kali ini dia mendudukkan tubuhnya di sampingku. “Baumu memang membuatku mabuk, tapi bukan dalam artian seperti itu. Suze, aku berdarah campuran, sama seperti dirimu.”

Tubuhku tersentak. “Apa?”

“Vampir dan Wirewolf… aku gabungan keduanya.”

Dia berdarah campuran. Vampir dan Wirewolf. Cukup menjelaskan kenapa dia bisa menjadi mateku. Tapi… tapi kenapa ini bisa terjadi? Setahuku hanya ada tiga orang berdarah campuran di dunia ini. Pertama adalah putri dari keluarga cullen, Renesmee, yang setengah manusia dan setengah vampir. Dan kedua adalah dua pangeran kerajaan vampir yang… yang… tidak mungkin.

“Kau… seorang pangeran?” cetusku tidak percaya.

Dia mengangguk. “Aku Choi Minho.”

“Pangeran Minho…” lirihku. “Pangeran mahkota kerajaan vampir.”

“Benar…”

“Bagaimana bisa?” ucapku tak percaya.

“Takdir…” lirihnya sambil menghela napas. “Aku menemukanmu setelah tiga ratus tahun hidupku. Dan kau dalam bahaya, jika saja aku tidak menemukanmu di saat yang tepat.”

Aku mencoba memahaminya, tapi otakku terlalu penuh untuk menerima satu kenyataan lagi. Bahwa mate-ku adalah seorang keturunan campuran, vampir dan wirewolf, dan dia adalah pangeran dari kerajaan vampir yang berniat memusnahkanku.

“Kau… tidak apa-apa dengan bau dan darahku?” tanyaku.

“Tidak. Aku vampir keturunan murni jadi aku tidak terpengaruh dengan hal itu. Semua vampir berdarah murni tidak akan terkena racun dari darah nephilim.”

Golongan vampir terdiri atas dua. Vampir berdarah murni dan yang tidak. Vampir berdarah murni adalah Vampir murni, sang raja. Kemudian keturunannya, yang hanya dua orang, Pangeran Minho dan Pangeran Myung Soo. Keduanya berdarah campuran, Vampir dan Werewolf. Lalu manusia pilihan yang di ubah sang raja untuk menjadi vampir dengan menggunakan darahnya, orang-orang kepercayaan raja (Untuk menjadi vampir, manusia tersebut harus bertukar darah dengan vampir. Jika sang raja memberikan darahnya, itu berarti mereka adalah keturunan murni). Vampir darah tidak murni, atau biasa di kenal dengan vampir rendahan, adalah golongan pemburu, rakyat jelata, dan prajurit perang. Mereka di ciptakan oleh vampir lain dari manusia.

“Suzy…” ia menggenggam tanganku. Aku tersentak. Rasanya seperti ada getaran halus di tanganku yang mengirimkan rasa menyenangkan pada syaraf-syarafku. Ku tatap dia. Ia juga menunjukkan rasa terkejut yang sama denganku.

“Em… aku membutuhkan waktu untuk memahami ini. Mate adalah hal yang baru bagiku. Meski pun aku sudah mempelajarinya dan mencoba memahaminya beratus-ratus tahun lalu. Tapi tetap saja rasanya berbeda dari yang ku bayangkan.” Ia menjelaskan dengan gelisah, membuatku ingin tertawa diam-diam.

“Memangnya apa yang kau bayangkan?” tanyaku penasaran.

Ia menatapku sejenak, menelan ludah. “Sangat sulit di jelaskan. Tapi ini… ini seperti ratusan kali lipat dari yang aku bayangkan.”

“Aku mengerti.” Aku mengangguk. Sama halnya denganku. Aku juga terkejut dengan reaksi-reaksi yang di timbulkan oleh mate itu. Sangat sulit di jelaskan rasanya. Yang jelas, aku merasa duniaku tidak akan sama jika dia tidak ada. Walau pun aku baru mengenalnya beberapa menit, aku sudah merasa bergantung padanya.

“Benarkah? Kau juga merasakan hal yang sama?”

“Kau menghawatirkan hal itu?”

Ia mengangguk. “Sejujurnya aku takut jika kau menolakku. Tapi apa pun yang terjadi, aku rasa aku harus tetap bersamamu. Aku akan membawamu tinggal di istana.”

Aku tercengang. “Apa?”

Ia menggenggam tanganku. Tindakannya itu masih menimbulkan reaksi yang sama pada tubuhku, hingga membuatku tidak fokus. “Aku tidak bisa membiarkanmu tinggal disini. Sangat berbahaya bagimu. Jika kau tinggal di istana aku bisa menjagamu. Akan ku pastikan semua pelayan istana adalah vampir darah murni. Jadi kau tidak perlu khawatir.”

“Tidak,” aku menggeleng. “Bagaimana bisa kau memintaku untuk tinggal bersama vampir?”

“Mereka lebih aman dari pada werewolf…”

“Tentu saja aku lebih aman bersama rasku! Mereka tidak akan gila karna darahku. Aku sama sekali tidak berbahaya bagi mereka.”

“Mereka membencimu Suze, mengertilah. Kebencian itu lebih berbahaya dari bahaya itu sendiri. Kemaren mereka sudah berniat untuk membunuhmu. Bahkan sebelum perintah dari kerajaan vampir. Nephilim sama sekali tidak di terima di ras mereka. Werewolf sangat fanatik, apalagi jika membenci sesuatu. Mereka akan jadi sangat berlebihan.”

“Itu tidak benar…” aku menggeleng sambil menjauhkan diri darinya.

“Tidak. Itu benar. Selain itu bagi mereka kau juga ancaman. Karna dengan kehadiranmu, kawanan mereka akan berada dalam bahaya. Para vampir akan menyerang mereka. Tidak akan menunggu waktu lama hingga dewan werewolf mengambil keputusan untuk membunuhmu. Percayalah, kau lebih aman bersamaku. Aku akan melindungimu dari apa pun juga.”

Aku terpekur. Tidak bisa ku pungkiri ucapannya itu ada benarnya. Aku tidak mungkin menempatkan keluargaku dalam bahaya. Aku tidak ingin menyulitkan Ayah. Meski pun dia adalah seorang Alfa, tidak mungkin dia bisa menghentikan keputusan dewan, yang pasti tidak akan membiarkanku hidup. Aku harus melindungi mereka.

“Baiklah. Kapan kita berangkat?”

***

“Jaga dirimu nak, aku akan sangat merindukanmu.”

Aku memeluk ayah, ibu, dan Sung Gyu lama. Air mataku mendesak ingin keluar tapi berusaha ku tahan. Ini pertama kalinya aku tinggal berjauhan dari mereka. Tak bisa ku pungkiri, rasanya aku sudah merindukan mereka, bahkan sebelum aku pergi.

Minho menuntunku masuk ke dalam limusin yang akan mengantar kami. Sepanjang perjalanan dia terus menggenggam tanganku. Perasaanku terasa lebih tenang, rasa menggelitik itu masih ada, jantungku berdebar-debar.

“Aku menyukai aromamu,” Minho mendekatkan punggung tanganku ke bibirnya. “Baunya seperti pinus di musim hujan. Sangat menyegarkan.”

Aku hanya tersenyum dan dia kembali menaruh tanganku di atas pahanya. Sesaat pandanganku terarah pada jalanan yang kami lewati. Perkampungan Werewolf yang masih sangat sederhana. Rumah-rumah di bangun dari kayu, pemuda berkulit gelap namun berotot, masyarakat yang masih hidup dengan cara tradisional.

“Apa yang kau pikirkan?” suara Minho menarikku keluar dari lamunan.

“Seperti apa kerajaan Vampir itu?” tanyaku, menoleh padanya. Aku tidak pernah berkunjung ke tanah para Vampir sebelumnya. Tapi yang aku tahu, peradaban mereka sudah sangat maju. Lebih maju dari manusia sebelum bencana besar terjadi dibumi dulu.

“Pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan Werewolf. Hanya saja vampir lebih maju di dalam teknologi. Kami menciptakan gaya hidup dan aturan. Kau akan memahaminya begitu kau sudah tinggal disana.”

Sayangnya aku tidak ingin menunggu. “Vampir hanya minum darah untuk bertahan hidup. Apa kalian berburu manusia? Atau binatang?”

Minho menggeleng. “Kami sudah meninggalkan cara tradisional itu. Para ilmuan kami sudah menciptakan sebuah pil yang khasiatnya sama seperti darah. Kami tidak mungkin memangsa manusia lagi sayang, jumlah mereka sudah sangat sedikit. Mereka bisa punah. Dan binatang? Apa ada yang pernah memberi tahumu kalau tidak ada seorang vampir pun yang tahan minum darah binatang kecuali keluarga Cullen? Keluarga Cullen memang melegenda karna kebiasaan mereka yang tidak lazim itu. Darah binatang tidak pernah memuaskan dahaga vampir, tapi keluarga Cullen berhasil melakukannya selama berabad-abad.”

“Lalu bagaimana denganmu?” tanyaku penasaran. Dia setengah vampir dan setengah werewolf. Kami para werewolf memakan makanan manusia untuk bertahan hidup.

“Aku minum darah dan juga makan makanan manusia.” Minho tersenyum. “Kau tidak usah khawatir soal makanan. Kami mempunyai koki di istana. Aku dan adikku sering makan bersama seperti layaknya manusia dan werewolf. Yah, meski pun dia lebih cendrung menyukai darah. Darah vampirnya lebih kental sepertinya.”

“Apa dia juga memiliki mate?” tanyaku. Seperti Minho, Pangeran Myung Soo yang setengah werewolf pasti juga memiliki mate.

Minho menghela napasnya berat. Dia terlihat tercenung sesaat sebelum membuka mulutnya untuk menjelaskan. “Myung Soo tidak akan pernah memiliki mate.”

“Kenapa?” desakku heran.

“Dia jatuh cinta pada Jiyeon. Vampir. Seperti yang ku bilang sebelumnya, Vampir tidak memiliki mate. Kami jatuh cinta seperti layaknya manusia jatuh cinta. Kau tahu kekacauan seperti apa yang akan terjadi jika Myung Soo memiliki mate? Karna itu dia memutuskan untuk tidak pernah menginjakkan kakinya di tanah werewolf. Karna dia sangat mencintai Jiyeon dan tidak ingin menyakitinya.”

Begitu ya…

“Tapi jika dia tidak pernah bertemu dengan matenya, itu berarti gadis itu tidak akan memiliki pasangan seumur hidupnya… kau tahu seberapa penting mate bagi para werewolf.”

“Benar. Mate adalah sebuah ikatan yang sangat kuat, aku mengerti bagaimana rasanya sekarang. Tidak heran jika werewolf muda ingin cepat-cepat mengalaminya. Tapi…” Minho menatapku lama dan sedih. “Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku berpisah dengan mate-ku. Rasanya seperti dunia ini sudah berakhir. Aku mungkin memilih ikut mati denganmu dari pada harus hidup di dunia tanpamu.”

Aku menatap ke dalam kehangatan mata coklat Minho. Ku rebahkan kepalaku di atas bahunya dan ku hirup aromanya dalam. Dia benar. Mungkin begitu juga perasaanku jika berpisah dengannya. Ikatan ini sangat kuat. Perasaan ini juga. Aku tidak yakin aku bisa hidup tanpanya, sekarang.

“Karna itu Myung Soo tidak pernah ingin memiliki mate. Dia tidak ingin di rundung kesedihan seperti yang dialami para werewolf yang kehilangan pasangannya. Tidak seperti para werewolf yang umurnya hanya sampai seratus tahun saja, kami vampir bisa hidup abadi. Apa kau bisa membayangkan penderitaan yang akan aku dan adikku alami jika kami kehilangan mate kami?”

Aku mengangguk. “Ya.” Aku sudah bisa membayangkannya.

“Untungnya kau adalah Nephilim.” Minho menggenggam erat tanganku. “Aku tidak tahu ini pantas untuk ku katakan atau tidak, maafkan aku jika kau tersinggung. Di dalam tubuh Nephilim mengalir darah malaikat, mereka bisa hidup abadi seperti vampir. Aku tidak akan kehilanganmu Suze, aku berjanji pada diriku sendiri aku akan menjagamu. Nyawaku adalah taruhannya.”

Air mataku mengalir. Tidak ku sangka dibalik petaka ini masih ada sisi baik yang patut di syukuri.

Kami tidak membicarakan apa pun lagi. Hanya memeluk dan menikmati kehangatan masing-masing.

Hingga beberapa jam kemudian ku lihat sebuah gerbang besi besar berwarna perak membuka menyambut kedatangan kami.

Welcome to Vampire’s Kingdom.

TBC

17 responses to “The Half Blood

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s