Lullaby

Myungsoo tidak memiliki banyak alasan untuk tetap terjaga di tengah malam, selain memandangi wajah Jiyeon yang terlelap damai di sampingnya.

.

.

—SHAZA PROUDLY PRESENT—

Lullaby

starring: Jiyeon Park & Myungsoo Kim

Romance, Fluff
Ficlet (800+)

.

.

Pria itu memiliki kebiasaan untuk merokok sebelum benar-benar menjemput mimpi di balik tudungan langit yang gelap dan tertabur kerlip cahaya samar. Mulanya, Myungsoo hendak memperbuatkan ritual tersebut di ujung bukit dekat rumahnya, duduk di atas bangku panjang yang dinaungi pohon beringin dan menyesap tembakau sesukanya.

Bahkan untuk melepas penat sekali pun, Myungsoo masih membutuhkan batang bernikotin tersebut. Namun, ketika ia mendorong badan pintu berbakal alumunium apartemennya, ia mendapati matanya telah ditimpa lelah dan kantuk telah menggodanya untuk segera bersua dengan mimpi.

Jiyeon masih berada di sana, menunggungnya pulang dengan sepasang tangan yang memerangkap ponsel dan tulang duduk yang beristirahat di atas sofa ruang tengah yang begitu sempit. Rambutnya yang legam terurai antak menyentuh punggung.

“Jiyeon? Kau tidak tidur?” pertanyaannya itu seperti mengilas balik masa-masa mereka dulu. Ketika bulan telah mengoper tugas matahari, keduanya akan terlelap di ranjang yang sama. Jika salah satu raga di antaranya tidak terisi, maka tidak ada yang akan merasakan nyenyaknya sebuah lelap.

Gadis itu menyibak rambutnya yang menutup mata, kemudian menggurat seulas senyum tipis. Kulit matanya tertarik membentuk pola sabit yang indah. Myungsoo dibuat setidaknya tercenung ketika langkah kaki gadis itu telah membawa tubuh ringkih itu ke arahnya.

“Aku menunggumu. Ayo tidur!” Jiyeon menghela tubuh lelah Myungsoo menuju kamar mereka. Seperti hari-hari malam belakangan, tirai jendela kamar mereka telah terkatup—menutup akses sorot cahaya malam yang boleh jadi mengusik tidur mereka.

Myungsoo memasuki kamar mandi hanya untuk membersihkan diri ala kadarnya, lantas memenggal keputusan untuk mengganti busananya dengan pakaian kasual. Ia yang telah dikurung lelah dan kantuk lantas sesegeranya menghampiri ranjang yang telah diisi oleh Jiyeon di sana.

Jiyeon berbaring melandai dengan sepasang telapak yang mengatup, matanya masih terbuka. “Kau sudah lelah, ya?” tanya Jiyeon ketika kekasihnya berbaring memunggunginya, seolah tidak ingin diganggu.

Jiyeon menahan desakan untuk memeluk Myungsoo ketika ia merasa udara dipenuhi gemingan, selain jangkrik yang bernyanyi setiap malam dan detak jam. Gadis itu menekan bibirnya.

“Aku tidak bisa tidur, Myungsoo-ya!” tutur Jiyeon, membiarkan jemarinya bermain-main di atas punggung kekasihnya yang terlapis kaus putih. Ia menggunakan telunjuknya untuk menggores sebuah bentuk di punggung Myungsoo.

“Kau menulis namaku, Jiyeon-ah?” tanya Myungsoo ketika ia merasakan jemari Jiyeon yang bermain-main di punggungnya itu tengah membentuk huruf demi huruf namanya. Jiyeon dibuat tersentak, ia mengerjap dan memaksa tulang lehernya untuk mengangguk—meski ia tahu, Myungsoo tak akan melihatnya.

“Bagaimana kau tahu?”

Masih dengan mata terkatup, Myungsoo terkekeh pelan. “Punggungku yang merasakannya.” Hening sesaat diselingi tawa kecil Jiyeon. Gadis itu kembali menggurat tulisan-tulisan di punggung Myungsoo, membiarkan pria itu menerka-nerka apa saja hal yang telah ia tulis di punggungnya.

Aku…” Myungsoo membaca kata-kata yang tengah ditulis oleh Jiyeon dalam batinnya. “—sayang…” lanjutnya masih di dalam hatinya. Terdapat jeda dari jemari Jiyeon, hingga pendengaran Myungsoo dapat menampung helaan napas gadis di balik punggungnya.

Kim Myungsoo…” Myungsoo dibuat terkesiap setelahnya. Kepalanya spontan menoleh ke arah Jiyeon, dan ia mendapati gadis itu tengah menampilkan mimik terkejut.

“Myungsoo? Kau belum tidur?!” Jiyeon nyaris memekik. Nada bicaranya terdengar panik. Sementara itu, Myungsoo justru berusaha untuk menyembunyikan senyumnya di balik bibirnya yang meruncing lucu. “Aku hampir tidur tadi. Sekarang aku terbangun.” Dalih Myungsoo, tak memerlukan waktu untuk mencari alasan.

Jiyeon menggaruk hidungnya, kemudian menepuk-nepuk lengan Myungsoo. “Baiklah, maaf jika aku membuatmu terbangun. Sekarang tidurlah!” titah Jiyeon.

“Omong-omong, aku tidak bisa tidur. Kau mau menyanyikan lagu untukku?” Jiyeon menyambung ucapannya setelah lima menit menepuk lengan Myungsoo, seolah tengah menidurkan kekasihnya. Myungsoo terpaksa membuka kedua kelopaknya, dan bergeming.

“Kalau kau keberatan, tidak perlu—”

“―aku bertemu denganmu di usia 16 tahun dan jatuh cinta dalam seratus tahun.”

Jiyeon terkesiap. Ia tidak pernah menduga bahwa Myungsoo akan secepat itu menyela ucapannya dan berbalik agar berbaring menghadapnya. Kini wajah gadis itu dihias rona samar di antara pucat karena kedinginan. Di hadapannya, Myungsoo tengah menampilkan senyumnya.

Jemari besar Myungsoo merayap ke pipinya dan memulasnya dengan kehangatan sebelum berkata, “Jejak kaki yang terukir di hari-hari aku mengejarmu adalah harta yang lebih penting dari apa pun.” Meski Jiyeon tidak mengerti kenapa Myungsoo secara spontan membalikkan tubuh ke arahnya, namun degup jantung di balik sternumnya tidak dapat menutup kemungkinan bahwa ia senang mendengar setiap tutur kata yang diucapkan kekasihnya.

Dengan mata separuh lelah, bibir Myungsoo terbuka. “Maka dengan itu, aku akan bernyanyi untukmu.” Jiyeon mengerjap kecil ketika menyadari bahwa di balik lubang mulut Myungsoo itulah sumber suara halus kekasihnya mengalun di udara, melantunkan sebait lirik lagu yang dibentuk melodi indah.

Sesuatu yang mengantarkannya untuk tidur—nyanyian Myungsoo, beserta kungkungan lengan pria itu yang mendekap tubuhnya. Tidak sadar, namun pada akhirnya, Jiyeon-lah yang terlelap di antara keheningan malam. Ditemani Myungsoo yang terjaga hanya untuk memandangi wajah damainya hingga waktu nyaris menuju pagi.

Inilah kesederhanaan mereka, tidak ada yang memilikinya.

Kimi to boku to sakura biyori kaze ni yurete mai modoru
Marude nagai yume kara sameta you ni miageta saki wa momoiro no sora

Kau, aku, dan keindahan bunga sakura datang kembali terayun oleh angin
Seperti aku terbangun dari mimpi panjang, aku menatap langit merah muda

Mai Hoshimura

.

.

//finite.//

.

.

a/n: I’m so glad that I’ve been here after a very long hiatus. I’d like to tell you something in this notes, I hope you all wanna read my notes.

Firstly, maaf banget karena baru bisa update sekarang. Dan, aku juga gak bisa ngasih FF yang panjang, maafin ya. Aku gak begitu yakin kalo kalian mau nungguin FF-ku, jadi aku update rada ngaret.

Di lain hari, aku bakal update FF yang lebih panjang—kalau bisa ya—dan buat project FF chaptered-nya, ehm… aku pikir-pikir dulu lagi deh ya🙂

Thanks,

Shaza [23-11-14]

41 responses to “Lullaby

  1. keren ceritanya suka banget😀 kisah mereka tuh sederhana tapi aaahh keren banget lah sweet pokoknya suka😀 haha
    sip ditunggu ff jiyeon yg lainnya^^

  2. Kata-kata kamu yang bikin aku selalu balik ke ff kamu!
    Ceritanya sih ringan-ringan aja tapi pembawaan bahasanya itu yang bikin aku suka banget!!!
    Sebenernya apa yang buat Myung sampek sebelum tidur harus merokok dulu? Bukannya waktu itu Myung udah pacarankan sama Jiyeon? Kalo itu kebiasannya yang dulu sebelum ketemu Jiyeon sih aku masih bisa percaya tapi ini meskipun udah sama Jiyeon, dia masih harus merokok dulu sebelum tidur? Apa alasannya?

        • Coba baca lebih teliti:

          Pria itu memiliki kebiasaan untuk merokok sebelum benar-benar menjemput mimpi di balik tudungan langit yang gelap dan tertabur kerlip cahaya samar.

          Jadi itu adalah kebiasaan dia sebelum tidur doang kok😀
          Udah paham?

          • Pahaaam😄
            Hehe nah itu yang aku masud kebiasaan Myung merokok sebelum tidur itu udah jadi kebiasaan dia dari kapan. Sebelum ketemu Jiyeon apa sesudah? Jadi kayaknya sebelum ya? Dan untunglah kalo bukan karena Jiyeon, kebiasaan buruk Myung kalo mau tidur harus ngerokok dulu.

          • Teliti dong yaaa~

            Kebiasaan dia sebelum tidur.

            Nah yaudah coba dipikir. Yang namanya ‘kebiasaan’ itu kan ya udah dari dulu dong. Sesudah ataupun sebelum Myung ketemu sama Jiyeon, dia selalu ngerokok, gitu aja. Jadi gak ada hubungannya sama sekali ama Jiyeon, sumpah deh.

            Itu cuma pemanis narasi sama penguat karakter Myungsoo doang😉

          • Hahha jangan marah ya sha, itu cuma sesuatu yang muncul dalam pikiran aku aja.
            Karena kebiasaan kan bisa aja berubah setelah ketemu seseorang.🙂
            Manusia bukanlan robot, mereka punya pikiran dan hati yang bisa berubah saat menemukan motivasi.
            Jangan marah loh sha, sumpah aku nggak ada maksud mau kontra, ngebash ato apapun itu. Karena aku enjoy baca ff kamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s