[FICLET] Today

ff today

Author : blacksphinx

Main casts : Park Jiyeon, Oh Sehun

Genre : Romance, School life, Friendship

Rating : T

Length : Ficlet

◊◊◊

Cinta. Walaupun hanya terdiri dari lima huruf, kata itu memiliki serat arti. Pandangan setiap orang mengenai kata cinta ini pun berbeda-beda. Ada yang mengatakan, cinta itu menyakitkan. Hal itu wajar, mungkin karena mereka pernah dikecewakan oleh seorang cinta pertamanya. Adalagi yang beranggapan bahwa cinta itu sweet, atau cinta itu menyenangkan, dan masih banyak lagi penilaian seseorang terhadap kata cinta.

 

Dan mengenai soal jatuh cinta. Seseorang sebenarnya memiliki hak untuk mencintai siapa saja, walaupun orang yang ia cintai itu telah memiliki pasangan. Cinta itu suci. Namun, apakah cinta akan menemukan titik terangnya jika kedua orang yang saling jatuh cinta tidak menyatakannya satu sama lain dan mereka lebih memilih untuk memperhatikan dalam diam.

 

Story begin..

Jiyeon, entahlah, mungkin setiap namja yang melihatnya mungkin akan berpikiran bahwa gadis itu adalah seorang yang pendiam. Pasalnya, gadis itu lebih memilih untuk diam, memperhatikan, dan berjalan menunduk. Sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan setiap yeoja remaja, banyak dari mereka berjalan dengan mengangkat kepala dan membusungkan dada. Tidak, Jiyeon tidak seperti itu. Ia juga jarang berbicara dengan namja, atau mungkin memang tidak ada yang mengajaknya untuk berbicara? Maybe.

 

Tap tap tap…

Derap langkah lebarnya terdenger jelas. Dering bel masuk sekolah telah berbunyi, Jiyeon memang hobi untuk berangkat mepet dari jam masuk sekolah. Ia juga tidak pernah tidak berangkat kurang dari pukul tujuh pagi. Alasannya? Tentu saja ia sangat malas untuk menunggu bel sekolah dan diam tidak melakukan apapun jika teman dekatnya sibuk dengan buku novel setebal dua ratus halaman atau lebih. Jiyeon malas.

 

“Huh, kebiasaan burukmu selalu berangkat mepet.” Ya, Jiyeon mendengarnya. Ia sering ditegur terang-terangan oleh sahabatnya. “Hak asasi,” jawabnya enteng. Jiyeon meletakkan tasnya malas dan duduk dibangkunya dengan muka agak tertekuk, mungkin ia badmood atau mungkin sedang PMS, hanya Jiyeon yang tahu.

 

Jiyeon hanya magut-mangut memperhatikan tingkah namja di kelasnya. Mereka selalul seperti itu. Bercanda, bermain laptop, atau bercerita yang terkadang melihat ke arahnya. “Jangan melamun!” Jiyeon menoleh, “Aku tidak melamun? Apa ekspresiku terlihat seperti melamun? Tidak, kan?” Sahabat Jiyeon, Jieun hanya menarik nafas dan melanjutkan kegiatan membacanya.

 

“Argh, apa kau menyadari sesuatu?” Jieun mengerutkan kening, kemudian ia menggeleng pelan. “Ash, mereka, selalu memperhatikanku. Apa ada yang salah?” Mata Jieun kemudian mengamati penampilan Jiyeon dari atas ke bawah, kemudian Jieun menggeleng.

 

Dilain sisi…

“Cih, aku bingung dengan apa yang dipikirkannya. Dia hanya masuk ke dalam kelas seenaknya dengan wajah tertekuk,” ucap Sehun, salah seorang namja yang berada dikelas yang sama dengan Jiyeon. JB, teman Sehun hanya menarik sebelah bibirnya dan melihat ke arah Jiyeon, gadis yang Sehun bicarakan.

 

“Keunde, kenapa kau sangat perhatian dengannya? Ah, apa karena kalian hampir tiga tahun ini sekelas, huh?”

“MWO? Mana mungkin,” jawab Sehun cepat, lebih mirip sanggalah sebenarnya. Iya benar, mungkin itu sebuah sanggahan.

“Oh… baguslah, karena aku menyukainya,” ucap JB terang-terangan.

“Ha?”

 

Sehun kemudian menoleh lagi ke arah Jiyeon, apa kau baik-baik saja? Sepertinya tidak. Ada sepatah kalimat yang ingin ia ucapkan, namun bibirnya mengatup bagai terkunci oleh sebuah gembok dan siapapun tidak akan pernah bisa membukanya kecuali si pemilik kunci. Sehun tahu, mungkin Jiyeon ada sedikit masalah. Matanya menatap wajah Jiyeon dari kejauhan, bukan, bukan tatapan iba, melaikan tatapan khawatir.

 

 

“Jiyeon-a!” Jiyeon menoleh sambil menyeruput es lemon tea-nya. Ia memperhatikan raut wajah Jieun. “Aku ingin mengatakan padamu. Sepertinya… aku… menyukai Sehun.”

 

JDER!! Jiyeon seperti merasakan serangan petir. Entahlah, antara bahagia atau sedih. Ia juga bingung, mengapa suasana hatinya malah terasa memburuk setelah mendengar pengakuan Jieun. Harusnya Jiyeon senang. Ia, seharusnya ia merasa begitu. Namun, ada perasaan tidak rela di dalam relung hatinya.

 

Memori Jiyeon memutar ke masa lalu, memorinya bersama Sehun.

 

19 August 2012

Saat itu, seluruh kelas 11-5 berteriak menyemangati kelasnya. Tidak, Jiyeon tidak begitu, ia terlalu malas untuk menuruni anak tangga hanya demi melihat kelasnya bertanding futsal. Menurutnya, ia lebih leluasa menonton pertandingan itu dari balkon di depan kelasnya. Namun ia tidak tahu jika ada seseorang yang mungkin mengharapkan ia menuruni anak tangga dan menyemangati kelasnya secara langsung.

 

 Pertandingan saat itu, mulai dari babak penyisihan sampai semi final, kelas 11-5 selalu menjadi yang terdepan. Setelah pertandingan selesai, Jiyeon memasuki kelas dan bercerita dengan temannya, Eunji.

 

Sebenarnya ada yang mengharapkan Jiyeon. Seseorang yang terduduk letih dibawah pohon mangga. Sekolah Jiyeon sebenarnya tidak memiliki lapangan futsal. Mereka hanya memakai lapangan untuk volley dan dijadikan lapangan futsal. Resiko cidera? Mungkin akan terjadi, bahkan sangat mungkin.

 

Tak lama, pertandingan babak final dimulai. Pertandingan berjalan sangat sengit. Dari pihak kelas 11-3, mereka sering bermain kasar dan melakukan kecurangan. Entah, mata Jiyeon hanya memperhatikan satu orang, Sehun. Ia khawatir padanya. Perasaan yang jarang sekali Jiyeon rasakan untuk saat ini. Ia takut akan terjadi hal yang buruk pada Sehun.

 

Sehun beberapa kali terjatuh dan Jiyeon menyadari, ia terluka. Segera, Jiyeon menuruni anak tangga dan bergabung dengan suporter kelasnya. Ia menyayangkan perilaku Sehun yang terlalu membela tim-nya dan melepaskan sepatu. Jiyeon tahu, ia terluka. Dan..

 

Sreeekkk…..

Jiyeon melihat semuanya. Dan ia menyaksikan tatapan putus asa seseorang yang bola mata kedua orang tersebut masih menatapnya, berharap Jiyeon menolongnya. Jiyeon hanya mampu terdiam dan menyaksikan ujung jempol Sehun yang berdarah, cukup parah. Jiyeon ingin menolongnya, namun orang lain terlebih dulu menolongnya. Jiyeon merasa dirinya sangat tidak berguna.

 

“Hei!” Jiyeon terkesiap dan tersenyum kikuk, “Lantas, apa yang harus aku lakukan?” Jiyeon bodoh atau apa? Apakah ia tidak merasa sakit? Tentu ia merasa sakit, namun, ia akan merasa lebih sakit apabila ia mengecewakan temannya yang sekarang menjadi sahabatnya. Ia tidak mau kehilangan seorang teman hanya gara-gara namja.

 

“Kau, bisakah kau membantuku agar aku dan Sehun dapat berpacaran?”

 

 

Aku mencintaimu, sungguh…

Sehun tersenyum setelah menulis kata itu pada selembar kertas dan kemudian ia meletakkan di kardus khusus. Entah sudah berapa puluh kertas yang telah ia habiskan untuk menuliskan kata-kata itu.

 

Kemudian Sehun mengambil mantelnya dan keluar dari rumah, hanya ingin mencari udara segar. Sesampainya di perempatan jalan, handphonenya bergetar. Ia mengerutkan kening ketika seseorang menelponnya dengan nomor yang sama sekali tidak ia ketahui. Tanpa mengangkatnya, Sehun hanya mengetik pesan untuk nomor asing itu.

 

Sehun kemudian memasukkan handphonenya dan mengangkat kepala. Lampu pejalan kaki sudah menunjukkan warna hijau, namun Sehun tak kunjung melangkah. Tak hanya Sehun, gadis yang berada di seberang jalan pun tak kunjung melangkah. Mereka terkunci dalam tatapan yang tak sengaja mereka buat, membiarkan rasa yang selama ini mereka pendam meluap. Mungkin mereka sudah terlalu lelah untuk menyembunyikan perasaan masing-masing.

 

Namun tidak, Jiyeon langsung menunduk dan berjalan mengikuti trotoar –tak jadi untuk menyeberang-. Sehun menatap kepergian Jiyeon sendu. Ia tahu, ia salah, tak seharusnya ia menyukai jiyeon.

“Ini terlalu rumit…”

 

 

“Jiyeon-aaa!!!” Jieun tersenyum lebar dan menunjukkan eyesmilenya. “Lihat yang kubawa… taraaa!!!!” Jiyeon tersenyum ketika melihat cake yang Jieun bawa untuk Sehun. Iya, Sehun hari ini ulang tahun.

 

“Cakenya bagus..” Jieun tersenyum mendengar tanggapan sahabatnya, “O, tumben kau berangkat sepagi ini dan… bukankah itu tas milik Sehun? Kau yang berangkat duluan atau..”

“Aku yang berangkat dulu,” kata Jiyeon sambil memainkan hpnya. “Sehun tadi keluar dan mungkin bermain ke kelas lain.” Jieun mangut-mangut mengerti, kemudian, tak lama, seseorang memasuki ruang kelas. Iya, itu Sehun.

 

“Sehunnie!”

Jiyeon hanya tersenyum getir melihat perlakuan Jieun pada Sehun. Sehun pun menatap Jiyeon dengan tatapan bingung. Menyaari Sehun balas menatapnya, ia segera menatap layar hadphonenya kembali.

 

Jiyeon membuka aplikasi twitter, kemudian ia menuliskan sesuatu.

Ini hanya sebatas perasaan, bahkan rasa untuk saling memiliki pun sepertinya tidak ada.

 

Sehun tersenyum demi menghargai pemberian Jieun, “Kau tidak perlu untuk mempersiapkan semua ini. Aku tidak memerlukannya,” tegas Sehun, kemudian ia keluar dari kelas.

 

“Jinjja!! Aku sudah membuat kue ini dan Sehun hanya bersikap seperti ini. Aigoo..” gerutu Jieun kesal. “Sudahlah, coba kau beri dia perhatian, mungkin akan luluh.” Jieun tersenyum mendengar saran sahabatnya.

 

 

“Aish, ada apa dengan Jieun? Tingkahnya aneh,” gerutu Sehun sambil duduk di bangku luar kelas. Sehun iseng mengambil ponselnya dan membukan akun twitter miliknya. Ia kemudian mencari akun twitter milik Jiyeon. Keningnya berkerut ketika melihat salah satu tweet Jiyeon yang berbunyi, “Ini hanya sebatas perasaan, bahkan rasa untuk saling memiliki pun sepertinya tidak ada.”

 

Sehun ingin membalas tweet itu. Namun rasanya tidak etis jika ia mengai domba dua orang yeoja yang bersahabat dan menusuk temannya.

 

Sungguh, apa yang aku rasakan saat ini, sama seperti tatapan mataku untukmu. Apa kau tidak sadar sedikitpun? Namun aku yakin kau mengetahuinya.

 

Sehun tersenyum setelah tweetnya tadi terkirim, bukan untuk Jiyeon. Namun ia berharap Jiyeon membalasnya. Rasanya, cinta yang selama ini ia pendam terbalas.

 

 

Sampai sore ini, terus menerus mengecek twitter Jiyeon. Namun hasilnya nihil. Atau mungkin ia hanya terlalu percaya diri bahwa tweet Jiyeon itu untuknya.

 

Akan tetapi..

07.00 PM

Rasanya sangat mustahil hanya untuk mengatakan ‘aku menyukaimu’ tanpa menyakiti siapapun. Mengapa kau seolah memberi harapan?

 

Sehun frustasi, ia sadar akan pemikiran jiyeon yang terlalu sempit. Segera ia membalas tweet Jiyeon tanpa ia tujukan pada si penerima.

07.05 PM

Ada seseorang yang mengatakan bahwa angka itu lebih pasti (FF 10080). Aku akan mempelajarinya jika kau mau.

 

Jiyeon tersenyum, kemudian ia menuliskan sesuatu, dan ia tersenyum ketika tweetnya telah terkirim.

07.10 PM

Me too…

 

Jiyeon tersadar, Sehun memang ada perasaan untuknya. Bahagia? Namun, bagaimana dengan perasaan sahabatnya? Apakah ia harus egois? Tidak, Jiyeon tidak seegois itu. Mungkin mereka berdua hanya mampu untuk saling menatap, tanpa sepatah katapun. Namun, hal itu bisa menjadi komunikasi antara mereka berdua bahwa cinta diantara mereka masih ada. Mereka sebenarnya saling peduli, namun mereka bersikap acuh. Hari itu menjadi hari dimana Jiyeon dan Sehun mengetahui perasaan masing-masing.

 

 

Keesokan harinya…

 

Jiyeon melangkah malas memasuki koridor sekolahnya, pelajaran hari ini begitu menyebalkan, menurutnya. Setelah benar-benar sampai di depan sebuah loker, tangannya tergerak untuk menarik pegangan pintu loker itu. Ekspresi Jiyeon berubah ketika melihat sebuah kotak berwarna hijau. Jiyeon tersadar, itu warna kesukaan Sehun. Jiyeon ingat, Jieun pernah mengatakan hal itu padanya.

 

Perlahan, Jiyeon membuka kotak itu dan mengambil salah satu kertas. Apa mungkin ini dari hater? Tapi.. mengapa mereka membungkus kertas ini dengan kotak?

 

“Hei!” Jiyeon langsung menahan niatnya untuk membuka kotak itu. Ia tersenyum kikuk pada orang yang mengajaknya bicara. “Kertas itu? Dari siapa?”

“Oh, ini.. bukan, ini hanya jadwalku hari ini,” jawab Jiyeon tanpa berpikir sebelumnya. “Keunde..”

“Sudahah, kau hari ini ada jadwal eskul, kan? Sebentar lagi pasti akan dimulai.” Jieun memandang Jiyeon aneh, kemudian ia melangkah menjauh meninggalkan Jiyeon, sendirian.

 

Jiyeon menarik nafas berat dan mengeluarkannya gusar, harusnya aku tidak menaruh hati pada Sehun sejak awal. Jiyeon berbalik, ia terkejut melihat seseorang yang berjalan menuju ke arahnya.

“Bisakah kita berbicara?”

 

Disinilah mereka, di dalam ruang radio sekolah. Mereka saling menatap mata satu sama lain. menyalurkan perasaan mereka masing-masing.

“Bolehkah aku menyukaimu?” ucap Sehun sambil menatap Jiyeon intens.

Jiyeon terdiam, ia tersadar, setiap orang memiliki hak untuk mencintai. Ya, ia sadar. “Mungkin kau akan menyesal jika kau menyukaiku,” ucap Jiyeon seraya menahan air matanya. Ia berbohong.

 

“Keunde, maukah kau bertanggung jawab atas sesuatu?”

“Mwo?” apa yang namja ini katakan?

 

Perlahan, Sehun mendekatkan wajahnya. Menghapus jarak yang ia ciptakan antara dirinya dan Jiyeon. Jiyeon, perlahan ia menutup matanya. Entah salah atau tidak, akan tetapi, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia sadar, ia mencintai Sehun.

 

“Saranghae, Jiyeon-a…” ucap Sehun setengah berbisik. Sedetik kemudian, Sehun benar-benar menghapus jarak antara dirinya dan Jiyeon.

 

— END —

Hohaaaaaiii….

Udah berapa bulan aku nggak apdate? Anggep aja ini FFku sebelum hiatus. Memang gaje, sih? Jalan ceritanya juga berantakan banget ini -,-

Yaodalah ya, tunggu saja diFF selanjutnya, maaf karena kesibukan(banget) aku jadi jarang update FF. Tapi, insyaallah setelah UAS, aku segera update deh FF nya. Sorry for typos.

Annyeong, and thanks for your comment^^

 

 

 

53 responses to “[FICLET] Today

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s