[Chapter – Part 8] Lost In Bali

LIB

Part sebelumnya:

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7]

Author: Kim Lee Hye

Main Cast:
Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Luhan EXO, Ryu Hwayoung
Other Cast:
Park Chorong, Lay EXO, Im Siwan, Lee Jieun
Genre:
Romance, Friendship
Rating:
G

Annyeong…

Sesuai janjiku pada kalian, hari ini aku publish kelanjutan epep Lost in Bali. Epep ini aku dedikasikan untuk chingudeul semua yang udah nunggu-nunggu kelanjutan LIB ini. Semoga part ini tidak mengecewakan chingu semua ya ^^

Mian for typos dan jangan lupa kasih respon ya🙂

Part 8

Jiyeon senang sekali mendapat pinjaman ponsel dari Myungsoo. Ponselnya tergolong ponsel super mahal. Maklaum saja, Myungsoo kan memang anak seorang chaebol. Jadi, tidak heran kalau barang-barang miliknya memiliki harga yang selangit. Karena tidak ada kegiatan, Jiyeon iseng-iseng membuka Galeri di ponsel Myungsoo yang berisi puluhan foto Myungsoo.
Di dalam galeri itu, Myungsoo telah memilah-milah foto-fotonya berdasarkan momen-momen saat dia mengambil gambar. Setelah berhasil membuka galeri, Jiyeon tertarik untuk membuka folder ‘I am’. Ia terkejut melihat foto-foto yang ada di dalam folder tersebut. Bagaimana tidak? Di dalam folder itu tersimpan banyak sekali foto-foto Myungsoo saat masih bayi hingga tamat sekolah dasar. Jiyeon tertawa geli melihat foto Myungsoo saat masih bayi.
“Rupanya dari bayi dia sudah cute…” gumam Jiyeon. Pantas saja Myungsoo berparas tampan dan cute. Dari bayi, namja itu sudah menunjukkan ketampanannya. Sulit dibayangkan bagaimana imutnya Myungsoo zaman dulu. Sekarang saja dia masih imut-imut meski sering menyebalkan.
Kriiing…
Tiba-tiba ponselnya berdering. Jiyeon terlonjak kaget. Hampir saja ponsel itu jatuh dari tangannya.
“Hwayoung?” lirih Jiyeon, dahinya berkerut. Dia sangat ingin tahu ada apa Hwayoung menghubungi Myungsoo. Apa Hwayoung juga menyukai Myungsoo? Kalau iya, kenapa Hwayoung menyukai namja yang ia kenal?
Tut.
“Yoboseo… Myungsoo oppa. Besok kita jalan-jalan ya?”
Jiyeon menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
“Oppa, eotteyo?” tanya Hwayoung memastikan karena tak ada jawaban dari ponsel Myungsoo.
Tut.
Jiyeon memutuskan sambungannya.
Hwayoung mengajak Myungsoo jalan-jalan? Bukankah Hwayoung sudah punya Lay oppa… kenapa dia tidak mengajak Lay oppa?

Di depan ruang tv, Myungsoo tengah sibuk memindahkan beberapa data dari card memory ke dalam ponselnya yang butuh sedikit sentuhan agar pemindahan segera berakhir.
Saat sedang asyik dengan ponsel barunya, tiba-tiba Luhan memanggilnya. Myungsoo tersontak kaget. Ponsel barunya hampir ia jatuhkan karena reflek kaget.
“Ada apa Hyung?” tanya Myungsoo yang mengerutkan dahinya. Luhan bukannya menjawab Myungsoo eh malah melenggang naik ke lantai dua. “Aneh..” gumam Myungsoo.

Ternyata Luhan pergi melihat kamar yang pernah ditempati Jiyeon. Dia sangat merasa kehilangan Jiyeon. Alasan kenapa Jiyeon pergi pun ia tidak tahu. Luhan yakin kalau Jiyeon punya alasan yang kuat dan masuk akal karena Jiyeon adalah yeoja baik-baik.
“Oppa, waeyo?” Suara Hwayoung mampu membuyarkan lamunan Luhan yang baru saja dimulai.
“Oh, anhiyo. Apa masih belum ada kabar dari Jiyeon?”
Hwayoung menggeleng. “Ajikdo. Mungkin Myungsoo oppa tahu sesuatu.”
“Jinjja?”
Hwayoung mengangkat kedua bahunya. “Coba saja tanya padanya. Sejak tadi dia hanya bermain dengan ponsel barunya.”

Luhan menuruti perkataan Hwayoung. Namja itupun turun lagi ke lantai dasar untuk bertanya pada Myungsoo perihal Jiyeon.
Myungsoo masih asyik dengan ponsel barunya. Rupanya dia tengah bermain game.
“Ehemm!” Luhan berdehem agak keras supaya Myungsoo dapat mendengarnya.
“Omo! Hyung, kenapa kau selalu mengagetkanku? Kalau aku punya penyakit jantung bagaimana?” Myungsoo membenahi posisinya yang semula tiduran di sofa menjadi duduk bersandar.
Luhan menyusul Myungsoo duduk di atas sofa empuk itu.
“Myungsoo-a, apa kau tahu sesuatu tentang Jiyeon?”
Myungsoo yang tengah asyik bermain game sontak menoleh ke arah Luhan yang telah memasang ekspresi serius.
“Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya terluka, hyung.”
Luhan membenahi posisinya. Kini ia menghadap ke Myungsoo layaknya sepasang kekasih yang tengah berbagi cerita. “Kau tahu darimana?”
“Aku menemukannya di depan toko. Dia meringkuk tidur kedinginan di lantai toko. Aku yakin, sebenarnya dia tidak ingin pergi dari sini.”
Luhan menatap Myungsoo lekat-lekat.
“Yaak, hyung, kenapa kau menatapku seperti itu? Lalu posisimu ini. Aku bukan yeoja-mu.” Myungsoo langsung memutar tubuhnya membelakangi Luhan.
Pletaakk!
“Auw!” Myungsoo memegang kepalanya yang dipukul Luhan.
“Nappeun!” kata Luhan. Dia langsung beranjak dari sofa itu.
“Yaak! Hyung! Aku harus balas dendam! Aish! Luhan hyung, awas kau!” seru Myungsoo kesal. “Aah, aku sudah kalah gara-gara Luhan hyung.” Myungsoo lagi-lagi membuka ponselnya untuk main game. Tiba-tiba dia ingat Jiyeon. Dengan iseng, dia mengirim pesan ke nomornya sendiri.

Ting!
Jiyeon mendengar ponsel Myungsoo yang dibawanya berdering. Dia enggan membuka pesan masuk itu karena mungkin saja itu pesan pribadi dari seseorang yang mengenal Myungsoo. Dia tidak ingin ikut campur urusan orang lain.

Di seberang sana, Myungsoo berharap Jiyeon segera membalas pesannya.
“Kenapa dia tidak membalas? Apa dia sudah tidur? Ah, mungkin saja Jiyeon sudah tidur.” Myungsoo melangkah naik tangga. Dia ingin segera berbaring di tempat tidurnya. Badannya pegal-pegal dan matanya sudah ngantuk sekali.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Myungsoo mendatangi tempat Jiyeon menginap. Dia sudah menemukan tempat kos yang layak untuk Jiyeon.
Tok tok!
Pintu diketuk oleh Myungsoo.
Tok tok!
“Yaak, Jiyeon-a! Ini aku Myungsoo. Buka pintunya. Aku sudah kebelet.” Myungsoo berteriak-teriak di depan pintu kamar Jiyeon hingga beberapa orang yang lewat menatap aneh padanya.
Cekleek!
“Eoh, masuklah. Pagi-pagi sekali?”
Myungsoo nyelonong masuk ke dalam kamar Jiyeon. Dia langsung menuju kamar mandi untuk melepaskan hasrat ingin buang air kecilnya.
Jiyeon menyalakan tv untuk mencari hiburan karena dia merasa bisan di dalam kamar terus dan tidak berbuat apa-apa.
Kriiet!
Myungsoo selesai dengan acaranya di toilet. Dia nampak mengelus perutnya yang terasa lega. Tak lama kemudian dia menyusul Jiyeon duduk di tepi ranjang, menonton acara tv.
“Apa kau mengerti bahasa Indonesia?” tanya Myungsoo pada Jiyeon karena acara yang ditonton Jiyeon adalah acara berbahasa Indonesia.
“Anhi,” jawab Jiyeon dengan santainya.
“Lalu kenapa kau memilih channel itu?”
“Aku hanya ingin melihat gambarnya,” jawab Jiyeon dengan wajah innocent-nya.
“Aku datang ke sini untuk memberitahumu sesuatu.”
“Mwoya? Kau sudah menemukan tempat kost untukku?” tanya Jiyeon bersemangat.
Myungsoo mengangguk. “Eoh. Tapi jika kau masih asyik menonton tv, aku tidak akan mengantarmu ke sana.

Klik! Jiyeon mematikan tv-nya.

“Keurom, kajja!” Ia tersenyhum pada Myungsoo yang menatapnya aneh.

Cepat sekali dia merespo, pikir Myungsoo.

“Eoh, gurae, kajja!” Myungsoo berdiri, diikuti Jiyeon. Akhirnya mereka pun berjalan kaki menuju tempat kos yang dimaksud Myungsoo.

“Oppa, apa masih jauh?”

“Wae? Kau sudah lelah? Berjalan sebentar saja sudah lelah. Bukankah kau malah pernah berjalan di bawah terik matahari dnegan membawa belanjaan banyak?”

Jiyeon baru ingat apa yang dikatakan oleh Myungsoo. Benar juga, dia pernah mengalami ini sebelumnya. Ah, kenangan itu membuatnya ingat pada Luhan. “Bagaimana kabar Luhan oppa?”

Myungsoo menoleh ke arah Jiyeon dan langkahnya semakin lambat, “Luhan hyung baik-baik saja. Dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Kelihatannya sebentar lagi dia ingin ke Korea.”

“Ke Korea? Dalam rangka apa?” Jiyeon mengernyitkan dahinya.

“Molla, itu masih rencana. Belum tentu terjadi. Lalu bagaimana denganmu?”

“Apanya?”

“Kau tidak kembali ke Korea?”

Jiyeon menunduk terdiam sejenak. Kenapa Myungsoo menanyakan hal itu? “Aku akan mengumpulkan uang untuk bisa pulang.”

“Aku bisa meminjamimu.”

“Ah, tidak usah. Dulu Luhan oppa juga pernah menawariku. Tetapi aku menolaknya. Tidak enak kalau harus berhutang pada orang lain.” Jiyeon memamerkan senyumnya yang kemudian dibalas senyum juga oleh Myungsoo.

“Kalau begini, kau kelihatan sudah dewasa.”

“Yaak! Aku memang sudah dewasa. Sebentar lagi aku lulus kuliah. Issh!”

Karena asyik mengobrol, mereka tidak menyadari kalau tempat kos itu tidak jauh lagi. Tinggal 50 meter. Myungsoo mempercepat langkahnya, Jiyeon tidak terima jika tertinggal di belakang. Akhirnya diapun mempercepat langkahnya juga karena tak mau kalah cepat dengan Myungsoo.

Hosh Hosh Hosh!

Keduanya tmapak terengah-engah karena balapan berjalan cepat.akhirnya hanya dalam waktu kurang dari satum menit, Myungsoo dan Jiyeon sampai di tempat tujuan.

Myungsoo mencari si empunya tempat kos sedangkan Jiyeon melihat-lihat lingkungan kos itu. Bangunan kos itu mirip sebuah apartemen tetapi style-nya lebih sederhana dan tidka semewah apartemen. Halamannya bersih dan indah. Banyak tanaman bunga dan bonsai yang memeprcantik halaman berumut itu.

“Sepertinya aku akan betah di sini,” lirih Jiyeon yang puas melihat-lihat halaman.

“Annyeonghaseo, ahjumma,” ucap Myungsoo member salam kepada si empunya kos.

Jiyeon menyenggol Myungsoo dengan sikunya. “Apa dia mengerti bahasa Korea?”

Myungsoo tersenyum. “Anhi,” jawabnya.

“Ahjumma ini orang Indonesia asli.”

“Oh…” Jiyeon manggut-manggut.

“Saya Kim Myungsoo dan ini Park Jiyeon. Bolehkan kami melihat kamar kos yang saya pesan kemarin?” tanya Myungsoo kepada pemilik kos. Dia minta izin untuk melihat-lihat kamar yang sudah dia pesan kemarin.

Si pemilik kos mempersilahkan Myungsoo dna Jiyeon melihat-lihat kamar itu. Kebetulan kamar yang dipesan Myungsoo berada di lantai dua. Jadi, mereka harus menaiki tangga yang tidak jauh dari pintu masuk.

Mereka sampai di kamar yang dimaksud. Jiyeon tersenyum senang karena kamar itu tidak kumuh. Yeoja yang sangat menjaga kebersihan itu tampak puas melihat halaman dan kamar kosnya.

“Oppa, aku suka.” Jiyeon tak henti-hentinya melihat-lihat bagian dalam kamar itu. Peris sebuah apartemen. Segalanya ada di sini, tempat tidur, tv, dapur, kamar mandi, lemari. Ya, meskipun tidak semewah apartemen tapi tempatnya nyaman dan bersih.”

Myungsoo juga tersenyum. Dia senang sekali melihat Jiyeon seperti itu.

‘Ekspresimu itu persis seperti waktu pertama kali aku melihatmu,’ batin Myungsoo.

“Ahjumma, kami sewa kamar yang ini. Jiyeon akan menjadi penghuni baru kamar ini mulai sekarang. Bolehkah ahjumma?”

“Tentu saja boleh. Silahkan. Kamarnya sudah kami bersihkan. Anda tinggal menata barnag-barang di dalamnya. Jika ada apa-apa bisa hubungi saya.” Ahjumma itu memberikan secarik kertas bertuliskan nama dan nomor kontaknya.

“Gamsahapnida…” ucap Jiyeon seraya membungkukkan tubuhnya.

Entah apa ahjumma itu mengerti atau tidak, Jiyeon tidka peduli. Yang penting dia sudah berterimakasih kepada ahjumma itu. ahjumma itu hanya tersenyum. Sesaat kemudian dia berbalik, meninggalkan Myungsoo dan Jiyeon di kamar itu.

Setelah ahjumma itu pergi, Jiyeon berseru senang. Dia juga berterimakasih kepada Myungsoo karena sudha membantunya sejauh ini. Jika tidak ada Myungsoo, mungkin dirinya sudah menjadi orang asing yang terlantar. Parahnya, Jiyeon tidak menguasai bahasa Indonesia. Jadi dia mendapat kesulitan jika ingin pergi ke suatu tempat dimana orang-orang tidak mengerti bahasa Korea, Jepang, dan Inggris karena hanya tiga bahasa itulah yang ia kuasai.

Ting! Sebuah pesan masuk di ponsel Myungsoo. “Luhan hyung..” lirihnya.

From: Lu Hyung

Myungsoo-a, tolongh beritahukan Jiyeon kalau dia diterima bekerja di tempat yang telah aku rekomendasikan. Hari ini dia sudah bisa mulai kerja.

“Ada apa dengan Luhan oppa?” tanya Jiyeon penasaran.

Bukannya menjawab, Myungsoo malah member ucapan selamat kepada Jiyeon. tentu saja Jiyeon bingung karena dia sama sekali tidak tahu ucapan selamat untuk apa.

“Apa aku telah memenangkan sebuah lotre?” tanya Jiyeon polos.

Ekspresi Myungsoo berubah 180 derajat. “Pabbo! Selamat karena kau diterima kerja di tempat yang telah direkomendasikan oleh Luhan hyung.”

“Jongmalyo?” manic mata Jiyeon berbinar-binar. “Waah, senangnya… sampaikan pada Luhan oppa, nan nomu nomu nomuuu gomawo.”

“Waaah aku bisa minta traktir,” goda Myungsoo pada Jiyeon. Yeoja itu langsung mempoutkan bibirnya.

“Kerja saja belum, kau malah mau minta traktir. Kalau aku rajin bekerja, bos pasti memberikan gaki yang lebih padaku. Akhirnya aku bisa pulang ke Korea.” Jiyeon senyum-senyum sendiri membayangkan dia dapat kembali ke Korea sesegera mungkin.

“Apa sesenang itu kau bisa kembali ke Korea?” tanya Myungsoo dengan ekspresi wajah datar.

“Pasti. Bahkan lebih dari ini. aku sudah sangat merindukan Chorong eonni.”

“Ya sudah, aku pergi dulu. Jadwal kerja. Oh iya, jika kau berangkat kerja, naik taksi saja. Kau kan sudah membawa ATM ku. Cairkan uang seperlumu.” Tanpa mendengar respon dari Jiyeon, Myungsoo melangkahkan kakinya pergi menjauh dan semakin jauh dari tempat kos Jiyeon.

Jiyeon menatap kepergian Myungsoo dengan hati berbung-bunga. Hari ini dia sudah bisa mulai bekerja.

Ckiiit!! Sebuah taksi berhenti tepat di depan toko souvenir dekat pantai Kuta. Jiyeon turun dari taksi yang telah membawanya menempuh perjalanan 5 kilometer dari tempat kosnya. Masih berdiri di samping taksi, Jiyeon menatap atap toko itu. Di sana tertulis BALINESS SOUVENIR CENTRE. Senyum tipis menghiasi wajah cantiknya. Tak lama kemudian dia mengayunkan kaki perlahan memasuki toko souvenir itu.

Pemilik toko itu sangat ramah. Orang asli Indonesia yang ternyata sudah berteman lama dengan Luhan. Jiyeon sampai heran, kenapa kebanyakan orang di Bali adalah teman Luhan? Apakah Luhan adalah sosook yang terkenal di pulau dewata itu?

“Aku bisa bahasa Korea tetapi hanya sedikit,” kata sang pemilik toko menggunakna bahasa Korea.

Jiyeon terkejut mendengarnya. Dia senang karena setidaknya ada yang mengerti bahasa yang ia gunakan. “Anda pasti belajar dari Luhan oppa.”

“Tentu saja. Ternyata menarik juga bicara dnegan bahasa Korea meskipun rumit dan sulit dipelajari. Hahaha…” sang pemilik toko tertawa setelah mengatakan sesuatu yang dinilai Jiyeon sebagai kejujuran mahal.

“Aku senang ada yang mau mempelajari bahsa Korea. Kalau begitu, aku juga ingin belajar bahasa Indonesia. Anda mau kan mengajariku?”

Jiyeon sudah bisa akrab dengan sang pemilik toko tempat ia bekerja. Hari ini tugas Jiyeon adalah membersihkan toko dan menjaganya jika ada pengunjung yang melihat-lihat koleksi souvenir di toko itu.

Brakk! Terdengar pintu ditutup dengan keras oleh seseorang. Tak lama kemudian muncullah Hwayoung membawa setumpuk kardus yang akan ia gunakan untuk membuat kerajinan.

“Eoh, oppa, kau tidak bekerja?” tanya Hwayoung pada Luhan yang tengah nonton tv.

Tanpa menoleh ke arah yeoja itu, Luhan menjawab,”Sebentar lagi. Acaranya seru.” Ternyata Luhan sedang melihat acara petualangan di channel tv Indonesia. Dia senang sekali melihat objek-objek wisata yang asri, teduh, alami, pokoknya bersifat natural.

Hwayoung meletakkan kardus-kardusnya di depan sofa lalu dia duduk di samping Luhan. “Oppa, apa kau sudah menanyakan tentnag Jiyeon pada Myungsoo oppa?”

“Sudah.”

“Apa yang terjadi padanya?” tanya Hwayoung lagi.

Luhan menarik nafas dalam-dalam dan memandang kosong pada tv di depannya. Ia mencoba mengingat inti dari pembicaraannya dengna Myungsoo semalam. “Ada sesuatu yang membuatnya keluar dari vila ini. Sesuatu yang memaksanya melakukan itu soalnya Jiyeon terlihat memprihainkan saat Myungsoo menemukannya.”

“Myungsoo oppa menemukannya?” tanya Hwayoung memastikan kalau dia tidak salah dengar.

“Eoh.”

“Keurom, kenapa dia tidak kembali saja ke Korea?”

Luhan merasa ada yang aneh dari Hwayoung. Dia menoleh ke arah yeoja itu. “Kenapa kau bertanya seperti itu?” Dahinya berkerut.

“A, anhiyo. Bukankah dia ingin sekali kembali ke Korea? Kenapa dia tidak kembali saja ke sana? Di sana kan dia tinggal dengan keluarganya.”

“Jiyeon tidak punya keluarga selain kakaknya,” sahut Luhan datar.

Hwayoung terdiam. Ia kehabisan kata-kata untuk bertanya lagi pada Luhan. Apapun yang ditanyakan olehnya, pasti dijawab dengan jawaban tegas oleh namja yang duduk di sampingnya.

“Aku harus bersiap.” Luhan beranjak dari tempat duduknya lalu pergi ke kamarnya untuk bersiap berangkat kerja karena kurang dari satu jam lagi, dia harus sampai di Bedugul.

Luhan sudah siap dengan menenteng tas ransel kecil. Dia sedang memasang kartu identitasnya sebagai Tour Guide sembari berjalan keluar vila. Dia tidak melihat Hwayoung dimana-mana. Mungkin ada di kamarnya, pikir Luhan. Karena Hwayoung sudha tahu kalau dia kaan berangkat kerja, jadi Luhan tidak berpamitan pada yeoja itu.

Hari ini Luhan tidak seperti biasanya. Dia memilih naik mobil pribadinya agar lekas sampai di Bedugul. Biasanya dia akan menggunakan motornya atau naik taksi. Jarang sekali Luhan mengeluarkan mobil mewahnya.

Luhan pov.

Hari ini panas sekali. Aku juga sedang malas dan bad-mood. Mobil yang baru saja kukeluarkan dari garasi, segera aku pacu gasnya agar melesat lebih cepat. Indonesia benar-benar panas. Kalau begini terus, aku bisa kembali ke China atau Korea. Semakin hari semakin panas.

Aku sudah mengatakan pada Myungsoo untuk memberitahu Jiyeon kalau hari ini dia sudah bisa mulai bekerja di toko itu. Apakah Myungsoo sudah menyampaikannya pada Jiyeon? ah, sebaiknya aku cek sendiri saja. Aku akan lewat depan toko itu. Tapi jika aku lewat sana, sama saja dengan memutar, waktu tempuhku akan semakin lama. Ah, biar saja. Aku harus memastikan kalau Jiyeon sudah mulai bekerja atau belum.

Kecepatanku sengaja aku kurangi, aku ingin berhenti sejenak di depan toko itu. Nah, sampai. Aku menghentikan mobilku tepat di depan toko tempat Jiyeon bekerja. Mana Jiyeon tidak terlihat? Aku mencari sosok Jiyeon yang mungkin saja terlihat dari luar karena toko itu penuh dengan kaca bening hingga dapat melihat bagian dalamnya dari luar sini. lima menit sudah aku menunggu tapi Jiyeon tidak muncul. Mungkin saja hari ini Jiyeon belum mulai kerja. Aku bersiap tancap gas. Saat mataku menatap toko itu terakhir kali sebelum aku pergi, tiba-tiba aku melihat sosok yeoja yang kucari. Dia tampak sedang membawa kemucing dan membersihkan etalase toko dengan lat yang dibawanya itu. Senyum sumringah menghias wajah cantiknya. Dia persis seperti saat baru tiba di sini. Syukurlah kalau begitu. Aku bisa bekerja dengan tenang.

Aku sampai di Bedugul lebih awal dari jadwal yang diberikan oleh atasan. Daripada menganggur di dalam mobil, lebih baik aku keluar jalan-jalan dulu. Masih ada waktu 15 menit sebelum tugasku sebagai tour guide dimulai. Rasanya biasa saja di sini. bedugul sudah sangat sering aku kunjungi. Jika menurut orang-orang tempat ini menarik dan unik, aku tidak begitu. Biasa saja. Di Jeju juga ada pemandangan seperti di sini. Hah, aku istirahat di sana saja. Di samping sebuah toko aksesoris. Panas…

Apa itu Myungsoo? Tiba-tiba mataku melihat sosok Myungsoo berkeliaran di jalan. Benar, dia Myungsoo. “Yaak! Kim Myungsoo!” panggilku pada Myungsoo yang bingung mencari siapa yang telah memanggilnya. Hihihi biarkan saja dia seperti itu. Lucu juga ekspresinya. “Yaak! Myungsoo pabbo!” teriakku. Akhirnya Myungsoo menemukan keberadaanku. Hatiku geli sekali telah mengerjai adik sepupuku itu.

“Hyung! Sedang apa kau di sini?” tanyanya dari jarak yang agak jauh. Lama kelamaan Myungsoo semakin dekat dan akhirnya sampai di sini.

“Seharusnya aku yang bertanya padamu. Sednag apa kau berkeliaran di jalan seperti orang gila saja.”

“Rasanya aku ingin kembali ke Korea, hyung. Di sini panas sekali.” Myungsoo mengusap peluh di dahinya.

Luhan hanya tersenyum tipis. Ternyata bukan dia saja yang mengeluh akan cuaca di Indonesia yang super panas. “Yaak! Indonesia adalah negara tropis karena terletak di bawah garis khatulistiwa, sama seperti Brazil.”

“Aku juga tahu. Makanya ku ingin kembali saja ke Korea.”

“Apa kau ingin menyerah hanya karena cuaca panas? Lama-lama kau akan terbiasa dengna cuaca seperti ini. Ya, aku akui memang di sini snagat panas. Aku juga ingin kembali ke China.”

“Yaak! Hyung! Neo jinjja…” Myungsoo kesal pada Luhan. Barusan Luhan bertanya apakah Myungsoo akan menyerah hanya karena cuaca panas? Ternyata dia sendiri juga menyerah.

Luhan tertawa terbahak-bahak hingga dirinya sulit bernafas. Myungsoo memang selalu mudah dikerjai olehnya. Kadang tampang Myungsoo polos tanpa dosa, kadang menyebalkan, dingin, tetapi bagi Luhan, Myungsoo sering menunjukkan ekspresi lucunya.

Luhan masih tertawa. Dia teringat wajah innocent dan pabbo-nya Myungsoo saat di vila dan dimana pun saat mereka sedang bersama.

“Hyung, apa kau terkena sindrom ketawa?” tanya Myungsoo karena dia melihat Luhan yang tak berhenti tertawa.

Pletak!!

Sebuah pukulan mendarat keras di kepala Myungsoo. Luhan memukulnya sengan selebaran peta lokasi wisata di Bedugul. Myungsoo mengusap kepalanya yang baru saja dipukul oleh Luhan.

“Inilah enaknya jadi orang yang lebih tua. Bisa seenaknya memukul yang lebih muda. Hahaha…”

“Apa kau bangga sudah menjadi tua, hyung? Seharusnya kau khawatir kalau dirimu semakin tua. Itu artinya kau tidak sepertiku lagi. Orang yang semakin tua, beban hhidupnya semakin banyak. Aneh sekali kau, hyung. Semakin tua malah semakin bangga.”

“Yaak! Bukan seperti itu. Aku bangga menjadi orang yang lebih tua darimu. Aku bisa memukulmu kapanpun aku mau.”

Myungsoo meliriknya tajam seperti elang yang hendak menangkap mangsanya. Melihat lirikan Myungsoo yang seperti itu malah membuat Luhan tertawa. Dia tidak pernah takut jika Myungsoo marah padanya, karena bagaimanapun suasana hati Myungsoo, namja itu akan selalu tertawa jika bersama dengan Luhan.

“Oh, Omo! aku hapir telat. Ah, gara-gara dirimu aku hampir lupa kalau sekarang saatnya bertugas.”

“Lagakmu seperti polisi saja, hyung.”

“Aku pergi dulu. Annyeong..” Luhan melambaikan tangannya ke arah Myungsoo yang masih berdirik bersandar pada dinding toko aksesoris.

‘Aah, aku pulang saja. Daripada diluar seperti ini, panas. Bisa-bisa kulitku menjadi gelap.’ Batin Myungsoo yang berjalan pelan menuju jalan raya untuk menyetop taksi. Belum sampai di jalan raya, matanya dibuat membelalak oleh pemandangan yang lain dari biasanya. Ya, dia terkejut melihat mobil mewah Luhan terparkir sangat rapi diantara mobil-mobil yang lain di tempat parkir.

‘Bukankah ini mobil Luhan hyung? Apakah tadi dia naik mobil?’ tanyanya dalam hati. ‘Aah, enak sekali bisa naik mobil pribadi. Membuatku iri saja.’ Batin Myungsoo lagi. Sesaat kemudian sebuah taksi berhenti di depannya lalu Myungsoo masuk ke dalam taksi itu.

Hari ini Jiyeon mulai bekerja. Dia sudah bisa akrab dengan sang empunya toko karena pemiliknya adalah teman Luhan. Jiyeon tidak ingin merasa berutang budi pada Luhan. Dia pun mencoba menghubungi Luhan karena ingin mentraktirnya makan. ‘Chakkaman, yak, Park Jiyeon, kau ingin mentraktir Luhan oppa? Kau kan tidak punya uang?’ kata Jiyeon pada dirinya sendiri. Dia sedang bicara sendiri di tempat kasir. Ya, sang pemilik toko menyerahkan tugas kasir kepada Jiyeon karena dia sudah selesai bersih-bersih. ‘Aku bisa pinjam uang Myungsoo dulu. Jika aku sudah gajian, aku akan mengembalikannya. Hehehe… bagus, Park Jiyeon,’ katanya dalam hati. Jiyeon senyum-senyum sendiri hingga tanpa ia sadari, seorang pelanggan masuk ke dalam toko.

“Nona, topi cowboy seperti yang di depan apa tidak ada warna yang lain?” tanya seorang pelanggan yang sukses membuyarkan lamunan Jiyeon.

“Oh, ne. Ah, mian, opseo,” jawab Jiyeon reflek dengan bahasa Korea. “Omo!” Dia baru sadar kalau ternyata barusan dia menjawab dengna bahasa Korea.

“Park Jiyeon?”

Jiyeon mendongakkan kepalanya. Kedua bola matanya membulat saat melihat sang pelanggan yang ternyata Lay. “Lay oppa!”

“Waah, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Kau bekerja di sini?” tanya Lay. Dia langsung duduk di kursi depan meja kasir yang sengaja disiapkan oleh Jiyeon barusan.

“Eoh, ne. Aku baru bekerja di sini. masih satu hari.”

“Jinjja? Wah, daebak!”

“Oppa, mianhae. Waktu itu aku kabur dan tidak memberi kabar padamu.” Jiyeon tertunduk.

“Eoh, gwaenchana. Yang penting sekarang kau dalam keadaan baik-baik saja. Semua orang mencarimu, terutama Luhan dan Myungsoo. Aku merasa bersalah pada mereka karena akulah yang membawamu keluar vila.”

“Jongmal mianhae, oppa. Waktu itu aku tidak bermaksud membuat kalian semua cemas. Aku hanya merasa tidak enak selalu merepotkan kalian.” Kali ini raut wajah Jiyeon terlihat serius.

“Gwaenchana, gwaenchana. Aku senang bisa melihatmu lagi. kupikir kau sudah kembali ke Korea.”

Jiyeon mendesah kasar. “Aku belum punya uang untuk kembali ke Korea. Lagipula aku juga belum menghubungi eonni-ku untuk mengirimkan paspor dan surat-surat penting lainnya. Aku malah berharap akan ada pemeriksaan oleh pihak imigrasi dan aku ketahuan tidak memiliki paspor. Dengan begitu, aku bisa dideportasi ke Korea.”

“Yaak! Michyeoseo? Jika kau dideportasi, kau akan kesulitan kemari untuk kedua kalinya.”

“Jongmal? Ah, kalau begitu tidak jadi. Aku akan mengumpulkan uang agar bisa kembali ke Korea. Biaya transpost ke Korea kira-kira berapa, oppa?”

Lay tampak sednag mengingat-ingat sesuatu. “Sebentar aku ingat-ingat dulu. Hmm kalau tidak salah, tiket pesawatnya seharga lima juta rupiah.”

“Mwo? 5 juta? Gajiku di sini mungkin hanya sekitar 1,5 juta. Aku tidak ingin berlama-lama di sini…” gerutu Jiyeon kesal.

“Bersabarlah. Pasti ada jalan lain.” Lay berusaha menghibur Jiyeon yang hampir patah semangat.

Hari semakin gelap. Jiyeon pulang kerja tepat pukul 6 sore. Dia berterimakasih sekali lagi kepada pemilik toko itu.

Di dalam keramaian malam hari, Jiyeon berjalan kaki menuju tempat kosnya. Seperti biasa, dia menggunakan aplikasi Maps di ponsel yang ia dapat dari Myungsoo. Dengan begitu, dia tidak takut nyasar lagi.

Jiyeon iseng-iseng membuka akun SNS milik Myungsoo. Di dalamnya ada beberapa foto Myungsoo yang terlihat sangat tampan dan keren. “Wah, ternyata dia tampan juga…” gumam Jiyeon. Jiyeon mencari username akun Jieun. Mungkin saja dia bisa menghubungi Jieun.

Beberapa saat kemudian.

“Wah! Ketemu. Ini Lee Jieun. Benar ini Jieun. Wah akhirnya aku menemukan akun Jieun.”

Jiyeon segera mengetikkan pesan dan akan dikirim ke akun SNS milik Jieun.

To: Jieun Lee

Yaak! Lee Jieun! Ini aku Park Jiyeon. Aku senang sekali bisa menghubungimu meski hanya lewat SNS. Kau dimana, Jieun-a?

Terkirim. Jiyeon senang sekali. Dia snagat berharap Jieun mau membalasnya meski dia menggunakan akun milik Myungsoo.

Ting!

Jiyeon segera membuka ponselnya. Ternyata ada pesan dari Luhan.

From: Lu Hyung

Myungsoo-a, kau belum pulang? Kalau kau pulang, aku titip belikan obat sakit kepala dan flu di apotik, ne?

“Mwo? Luhan oppa sakit? Myungsoo belum pulang? Aish namja itu selalu keluyuran malam-malam,” gumam Jiyeon kesal akan sikap Myungsoo yang aneh, menurutnya.

“Siapa yang keluyuran malam-malam?”

“Omo! sepertinya aku kenal suara itu.” Jiyeon membalikkan badan.

Jreng!!

Myungsoo sudah berdiri tegak di depannya. Jiyeon terkejut melihat Myungsoo dengan ekspresi dingin seperti itu.

“Eoh, i, ige. Luhan oppa memintamu mampir ke apotik untuk membelikannya obat.” Jiyeon menunjukkan pesan dari Luhan pada Myungsoo. Myungsoo melihatnya, sejurus kemudian dia tersenyum.

“Aku sudah membelinya.” Myungsoo menunjukkan bungkusan plastik putih pada Jiyeon.

“Loh, bagaimana bisa? Apa dia tahu nomor barumu?”

“Tentu saja,” jawab Myungsoo singkat.

“Malam ini kau akan pulang ke vila?”

“Waeyo? Apa kau ingin aku menginap di kosmu?”

“Yaak! Bukan itu maksudku. Jika kau ingin pulang ke vila, aku ikut denganmu. Aku ingin melihat keadaan Luhan oppa.”

“Tidak usah. Dia hanya sakit biasa.”

Jiyeon merasa kesal dan dongkol terhadap Myungsoo. Dia meremehkan penyakit yang diderita Luhan. “Pokoknya aku ikut!” seru Jiyeon.

“Andwae!” seru Myungsoo tak kalah keras tinggi suaranya.

Akhirnya, mau tak mau, Myungsoo mengalah. Dia membiarkan Jiyeon ikut ke vila untuk menjenguk Luhan.

Di perjalanan, Jiyeon membuka ponselnya. Ternyata Jieun sudah membalas pesan SNS darinya.

From: Jieun Lee

Park Jiyeon? Kenapa nama akunnya Kim Myungsoo? Kau mencuri ponsel Myungsoo? Kau dimana, Jiyeon-a?

Jiyeon mengetik sesuatu untuk membalas pesan Jieun.

“Aku masih di Bali, Jieun-a. Seharusnya aku sudah bersantai ria di Korea. Tetapi waktu itu aku ketinggalan pesawat. Semua berkasku dan juga dompetku dibawa eonni. Jadi aku di Bali tidak membawa apapun. Ponselku hilang waktu di toilet bandara.”

 

“Aku sudah mendengarnya dari Chorong eonni. Sekarang aku sudah di Korea, Jiyeon-a. Aku senang sekali kau menghubungiku karena ada sesuatu yang terjadi di sini.”

 

“Mwonde? Apa yang telah terjadi?”

 

“Mian. Chorong eonni baru saja mengalami kecelakaan. Saat dia naik bus, busnya menabrak sebuah mobil hingga bus itu terbalik dan banyak korban tewas dan luka-luka.”

Deg!

Sakit rasanya Jiyeon membaca pesan Jieun yang terakhir.

“Keunde Jieun-a, aku ingin kembali ke Korea. Tetapi aku sama sekali tidak punya uang.”

Jiyeon hampir menangis saat mengetik pesannya.

“Sabarlah, Jiyeon-a. Aku akan mengirim uang untuk biaya perjalananmu ke Korea. Kirimkan alamatmu di Bali.”

Jiyeon terdiam. Dia belum turun dari taksi yang membawanya ke vila.

“Kau tidak turun?” tanya Myungsoo.

“Eoh, ne.” Jiyeon sedikit kaget. Dia segera turun dari taksi. Raganya memang berada di Bali tetapi pikirannya jauh melayang di Korea, memikirkan eonni-nya yang sedang sekarat di rumah sakit.

Tap tap!

Suara sepatu Myungsoo dan Jiyeon beradu dengan lantai vila milik Luhan.

“Hyung!” panggil Myungsoo.

Luhan yang merasa namanya dipanggil oleh seseorang segera keluar ke ruang tamu. Dia senang bukan kepalang melihat siapa yang datang bersama Myungsoo.

“Jiyeon-a…” lirih Luhan.

“Oppa, Luhan oppa…” Mata Jiyeon yang terasa panas sejak tadi akhirnya meneteskan airmata. Dia menangis karena sedih memikirkan eonni-nya sekaligus terharu bisa bertemu dengan Luhan lagi. tanpa sadar, Jiyeon memeluk Luhan dan menangis di dalam dekapan namja itu.

Hwayoung keluar dari kamanya. Dia penasaran siapa yang bertamu malam-malam begini. betapa terkejutnya Hwayoung saat melihat Jiyeon berpelukan dengan Luhan. Myungsoo pun hanya menatap sedih pada mereka berdua.

Myungsoo dan Hwayoung mengira Jiyeon menangis karena rindu pada Luhan yang telah menolongnya sejak dia tiba di Bali. Mereka tidak tahu sama sekali bahwa alasan lain Jiyeon menangis adalah eonni-nya. Karena eonni-nya sedang sekarat.

“Gwaenchanayo?” tanya Luhan pada Jiyeon yang masih meneteskan airmatanya.

“Oppa, eonni-ku…” Jiyeon tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia malah menangis semakin dalam.

Luhan mengusap punggung Jiyeon agar yeoja itu bisa sedikit tenang. Sedangkan Myungsoo pergi ke dapur dan membuatkan minum untuk Jiyeon.

Hwayoung muncul sengan tangan dilipat di depan dadanya. Tatapannya pada Jiyeon biasa saja, tidak ada simpati sama sekali.

Myungsoo kembali ke ruang tamu. Sekarang Jiyeon dan Luhan duduk di atas sofa. Mata indah Jiyeon masih sembab dan sedikit mengeluarkan airmata. “Ige, minumlah dulu agar kau bisa lebih tenang.” Sekarang Myungsoo tahu kalau Jiyeon menangis bukan hanya karena bertemu dengan Luhan tetapi ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Tidak mungkin Jiyeon menangis seperti tadi jika bukan karena sesuatu menyakiti hatinya.

Tbc.

32 responses to “[Chapter – Part 8] Lost In Bali

  1. Thorrr.. Tolong dong buat part selanjut.y.. Penasaran bangettt nih thorr.. Plisss.. T_T mian, baru coment sekarang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s