[CHAPTER 5] School Rush!! Season 2

school-rush6

fanfiction intro-_-

A/N: Mianhae, udah ngebuat kalian nungguin FF ini mpe lumutan~ T.T 1 bulan ini beneran sibuk… Oh ya, bellalang recommend novelnya Dan Brown yang Inferno, wajib dibaca! Bagus banget soalnya (slesai baca butuh waktu hampir 1 bulan)

INFO: Chapter selanjutnya bakalan di publish sekitar pertengahan bulan Desember. Karena minggu depan udah mulai UAS.

Happy reading.. ^^

Chorong POV

Kulangkahkan kakiku semakin cepat kearah cafe itu. Mungkin terlihat seperti orang yang sedang terburu-buru ke suatu tempat. Dadaku berdebar kencang karena rasa marah yang menyerangku. Mataku mulai memanas melihat adegan didalam cafe itu. Kubuka pintu cafe dengan cukup kasar sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Semua mata yang ada di cefe itu tertuju kearahku. Semuanya, termasuk kedua pelaku yang membuatku marah. Ekspresi wajah salah satu dari mereka terlihat pucat pasi. Sedangkan yang satu lagi terlihat bingung.

“NAM WOOHYUN!!! YOU BASTARD!!!” Aku berteriak sekeras mungkin. Tidak kupedulikan para pengunjung yang lain. Aku mendekat kearah namja bernama Nam Woohyun itu.

PLAKK

Kuayunkan tanganku sekeras mungkin pada pipi sebelah kanannya. Airmataku sudah turun dari mataku. Benar-benar namja ini!

“Kau benar-benar menyebalkan Nam Woohyun!! Apa ini yang kaulakukan selama aku tidak ada disampingmu?? Berapa banyak yeoja yang sudah kau kencani, hah?” Raut wajah Woohyun berubah, dari yang sebelumnya terkejut menjadi sebuah senyuman yang menurutku sangat manis. Ahhh!! Apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa benar-benar marah padanya karena senyumannya itu!

“Yang kulakukan selama kau tidak ada adalah bekerja dan pergi ke sekolah. Tidak ada satu orangpun yeoja yang kukencani selama kau pergi. Itu jawabanku atas pertanyaanmu, Park Chorong” Aku masih tidak percaya akan jawaban yang dia berikan. Tapi, senyum di wajahnya itu terlihat sangat polos. Mataku beralih pada yeoja disampingnya. Ternyata dari dekat yeoja ini terlihat lebih muda dariku dan Woohyun.

“Chorong-eonnie? Eonnie, ini aku, Saeron” Aku membulatkan mataku mendengar perkataannya. Saeron? Nam Saeron? Aku kembali memandang Woohyun, namja itu hanya tersenyum seperti biasanya. Saeron memelukku erat. Dan pada saat itu baru kusadari apa yang telah kulakukan. Ya, mempermalukan diriku sendiri di hadapan Woohyun.

“Saeron? Kau sudah besar? Ya, ampun. Eonnie hampir tidak mengenalimu” Aku membalas pelukan yeoja bertubuh mungil ini.

~o~

Jiyeon POV

Aku menatap Chorong eonnie yang duduk disampingku. Setelah keributan yang dibuatnya tadi di kafe, dia mengajakku untuk segera pulang. Karena katanya ia membelikanku oleh-oleh yang pasti akan sangat kusukai. Chorong eonnie bukanlah kakak kandungku, tapi ia memperlakukanku selayaknya adik kandungnya sendiri. Sudah 4 tahun aku tidak bertemu dengannya. Dia baru saja meyelesaikan kelas terakhir di France Academy of Art. Dan sekarang dia kembali ke Seoul dan dengan santainya dia berkata padaku bahwa ia juga akan masuk ke OIHS sebagai murid kelas 2. Usianya sama dengan Minseok, tetapi karena Minseok berkata bahwa ia pernah tidak naik kelas satu kali maka dari itu dia dan eonnie tidak berada di tingkatan yang sama.

“Eonnie, bagaimana dengan Paris? Apakah disana eonnie bertemu dengan banyak pelukis terkenal?” Aku memulai pembicaraan diantara kami. Karena sejak tadi suasana didalam taksi sangat hening.

“Itulah yang sangat membuatku kesal. Aku tidak bertemu dengan satupun dari mereka” Mendengar itu aku membulatkan mataku.

“Waeyo?”

“Aku menolak untuk bertemu dengan mereka. Karena aku takut mereka ingin bertemu denganku karena pengaruh appa dan Chanyeol” Aku dapat mengerti perasaan eonnieku. Bahkan pengaruh keluarga Park sudah mencakup ke bidang entertaiment berkat ‘si tuan muda’ itu.

“Tapi, aku bertemu dengan banyak sekali pelukis jalanan yang setiap lukisannya memiliki arti yang sangat indah. Bahkan terkadang, aku meminta mereka untuk mengajariku teknik melukis mereka, dan dengan senang hati mereka mengajariku, tanpa tahu siapa aku. Dan kau tahu? Mereka juga sering memuji lukisanku” Chorong eonnie bercerita dengan penuh semangat sepanjang perjalanan menuju ke ‘istana setan’.

Perjalanan terasa begitu singkat karena aku benar-benar mendengarkan cerita kehidupan Chorong eonnie di Paris. Chorong eonnie dan aku turun bersamaan dari taksi tersebut. Dapat kulihat bayangan bebarapa pelayan yang berbaris di dalam dekat pintu masuk. Tentu saja bukan untuk menyambutku, tapi untuk menyambut kedatangan Chorong eonnie. Eonnie menarik tanganku masuk ke dalam rumah terkutuk ini. Semua pelayan yang berbaris itu membungkukkan tubuhnya atas kedatangan Chorong eonnie. Tapi, eonnieku itu tidak peduli dan terus melangkah ke arah kamarnya, yang terletak tepat di sebelah kamar si ‘tuan muda’. Dan, sialnya si ‘tuan muda’ itu baru saja keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan kami. Dapat kutebak dari gitar yang dibawanya dan gaya berpakaiannya bahwa ia akan pergi ke club temannya seperti biasa.

Chorong POV

“Mau kemana kau?” Aku menatap mata namja jangkung dihadapanku ini dengan dingin. Dia adik tiriku yang lain. Tapi dia dan Jiyeon sangat berbeda dimataku. Jiyeon adalah yeodongsaeng yang manis dan baik, sedangkan Chanyeol adalah namdongsaeng yang sama menyebalkannya dengan eommaku sendiri. Belum lagi sikapnya pada Jiyeon-adik kandungnya sendiri, sangatlah tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang kakak.

“Aku tidak perlu mengatakannya padamu, bukan?” Kurang ajar! Bahkan dia juga tidak pernah menghargaiku sebagai kakak tirinya. Dia tidak pernah sekalipun memanggilku dengan sebutan ‘noona’! Aku merasakan tarikan pelan di ujung kiri mantel yang kukenakan. Dapat kudengar pula bisikkan pelan dari Jiyeon yang mengatakan ‘Cukup, eonni’. Namja jangkung itupun melangkah pergi menjauhi kami.

“Cih, benar-benar namja kurang ajar!” umpatku dengan suara yang cukup keras.

~o~

Chanyeol POV

Aku duduk di sebuah bangku taman yang terletak tidak jauh dari Namsan Tower. Malam ini aku membatalkan semua scheduleku, hanya untuk duduk sebentar di taman ini dan menghirup udara malam yang menyejukkan. Dan tentu saja, bersama dengan gitar akustik coklat kesanyanganku.

“Jiyi, bagaimana kabarmu? Apa kau sehat? Apa kau makan dengan baik?” Aku dapat melihat uap putih keluar dari mulutku. Udara di Seoul akhir-akhir ini menjadi lebih dingin, itu berarti musim panas akan segera berakhir.

“Oppa sangat merindukanmu, Jiyeon” Mungkin aku sudah mulai tidak waras. Sejak tadi yang kulakukan hanyalah berbicara sendirian.

“ ‘Park Chanyeol, seorang musisi terkenal berbicara sendirian di taman’ Mungkin jika ada netizen di sekitar sini, headline berita besok akan menjadi seperti itu” Aku baru akan mulai memetik senar-senar gitarku, tetapi rasanya ada sesuatu yang menggangguku sedari tadi. Ada seseorang yang memperhatikanku dari dekat, tepat di belakangku.

“C-Chanyeol-ssi?” Aku sedikit memiringkan posisi dudukku agar dapat melihat wajah orang yang memanggil namaku.

“Bae Suzy, benar? Ada apa?” Untuk beberapa detik yeoja itu seperti membeku di tempatnya. Dia tidak bergerak ataupun berbicara sedikitpun.

“Apakah kau mengenal Jiyeon, Chanyeol-ssi?” Aku terkejut mendengar pertanyaannya.

“Tentu saja tidak. Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu, Miss Bae?” Yeoja itu seperti tidak mendengar jawabanku.

“ ‘Oppa sangat merindukanmu, Jiyeon’ apa maksud dari perkataanmu? Bukankah kau tidak mengenalnya?” Aku bangkit dari posisi dudukku, kumasukkan gitar ke dalam tasnya, lalu kugendong tas tersebut dan berniat untuk berdiri.

“Chamkamanyo, Chanyeol-ssi” Suzy memberanikan dirinya untuk berdiri tepat dihadapanku yang masih terduduk. “Apakah kau kekasih rahasia, Jiyeon? Ataukah, ex-namjachingunya?” Dapat kutangkap kecemburuan dari cara yeoja ini mengatakkannya. Aku bangkit berdiri dan hal itu membuat kami berada dalam jarak yang sangat dekat. Dapat kutangkap dengan hidungku, aroma peach dari tubuhnya.

“Apa menurutmu, yeoja bernama ‘Jiyeon’ hanya ada satu di Korea? Dan apakah dengan posisi kita yang seperti ini, kau masih berpikir bahwa aku memiliki yeojachingu?” bisikku di dekat telinga Suzy. Aku terkejut dengan reaksiku sendiri saat napas yeoja ini dapat kurasakan di kulitku. Jantungku berdetak lebih cepat dan aku merasa suhu tubuhku meningkat. Mungkinkah aku demam?

“A-ani, aniyo. Mianhae” Suzy melangkah mundur. Jarak diantara kami masih terbilang dekat, tapi tidak sedekat tadi. Sekarang, aku dapat melihat wajahnya yang merona merah.

“Wajahmu memerah. Apakah kau demam? Coba kulihat” Aku melangkah maju, mendekatkan kembali jarak diantara kami. Kuletakkan tanganku dikeningnya sebentar, lalu turun kepipinya. Rasanya seperti ada listrik kecil yang mengalir ke jari-jariku ketika aku menyentuhnya.

“Cha-Chanyeol-ssi?” Dia mengangkat wajahnya, sehingga membuat mata kami saling bertemu. Saat ini, aku benar-benar tidak mengerti dengan diriku sendiri. Mata gadis ini membuatku terhipnotis seperti halnya ketika suaranya masuk ke gendang telingaku. Tanganku masih menyetuh pipinya yang memerah. Dan aku mulai mengelus pipinya lembut dengan ibu jariku.

“Suzy-ssi”

“N-nde?” ucapnya terbata.

“Ini sudah malam. Pipimu terasa dingin, kau bisa jatuh sakit. Kau harus merawat suaramu, cuaca dingin tidak baik untuk kesehatan pita suaramu. Cepatlah pulang” Ini bukanlah apa yang ingin kukatakan. Tapi, sejenak tadi aku lupa tentang apa yang ingin kukatakan pada yeoja ini.

“Ahh! Nde, ini sudah malam. Aku sebaiknya pulang sebelum kedua orangtuaku khawatir. Chanyeol-ssi, jongseohamnida” Suzy membalikkan tubuhnya lalu segera berlari dengan cepat menjauhiku.

“Suzy-ssi, you gave me an inspiration for my new song, ‘Muse’. Dan kau yang akan menyanyikannya, Suzy-ssi” Aku kembali duduk, mengambil buku catatan kecilku untuk mecatat lirik yang terngiang di dalam kepalaku.

Auntumn wind is blowing

When I see through that beautiful brown eyes

And touch your reddened cheeks

My heart is racing fast

You gave me an inspiration

And this is a song I made for you,

My Amused Muse

~o~

Jiyeon POV

“Park Jiyeon!!” Aku membalikkan tubuhku ketika mendengar sebuah suara meneriakkan namaku dengan tak tahu malu di depan umum, lebih tepatnya di tengah keramaian di Hongdae. Sulit untukku mencari sumber suara teriakkan itu, tapi tidak lama sebuah sosok yang sebenarnya tidak ingin kukenal menampakkan dirinya. Namja menyebalkan yang bernama L.

“Jiyeon-ah, apa yang sedang kau lakukan malam-malam di Hongdae?” Aku menatap tajam L yang dengan berani memanggilku dengan sok akrab.

“Sejak kapan aku harus memberitahumu apa yang sedang kulakukan? Dan pertanyaan itu seharusnya kutunjukkan untukmu, sedang apa kau berada di Hongdae sedangkan hyung-mu masih berada di Guri?” Ini sudah 2 hari sejak Minseok pergi ke Guri, tapi masih belum ada seorangpun yang dapat menghubunginya ataupun kabar bahwa dia akan pulang. Selama 2 hari ini, kami berempat sama sekali tidak dapat menghubunginya.

“Minseok-hyung masih memiliki beberapa hal yang harus diselesaikannya disana. Sedangkan aku hanya mengambil izin selama 2 hari di sekolah. Dan untuk pertanyaanmu tentang kenapa aku berada di Hongdae, jawabannya adalah karena aku melihatmu berjalan ke arah Hongdae” ujarnya dengan nada yang menurutku sangat menyebalkan.

“Jadi, kau mengikutiku?”

“Bisa dibilang begitu” jawabnya polos. Aku kembali menatap tajam namja-oh-so-annoying ini.

“Kanapa kau sangat menyebalkan, huh? Sekarang, berhenti mengikutiku dan pergi jauh-jauh dari hadapanku! You’re so annoying!” Aku melangkahkan kakiku dengan kesal dan cepat menjauhi namja-oh-so-annoying. Tapi dapat kudengar derap kaki mendekatiku dan dengan tiba-tiba menarik tanganku.

“Ya! Lepaskan tanganku! Hey!” Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk melepaskan genggaman tangan L yang sedang menarikku mengikuti langkahnya. Tapi sia-sia, kekuatanku tidak dapat melepaskannya.

“Temani aku jalan-jalan malam ini. Hanya malam ini, setidaknya beraktinglah menjadi teman baikku, oke?” Ucapannya itu terdengar lebih seperti perintah daripada permintaan. Tapi, kupikir menjadi orang baik untuk kali ini tidak terdengar buruk. Mungkin saja kematian eommanya di panti asuhan membuatnya sangat sedih sehingga dia membutuhkan sedikit hiburan.

“Ne, arraseo! Aku akan menjadi teman baikmu untuk malam ini. Jadi sekarang, lepaskan tanganmu”

“Tidak akan. Selama kita berjalan-jalan malam ini, aku akan terus menggenggam tanganmu. Jadi, jangan memberontak ataupun berusaha untuk kabur” Lagi-lagi dia mengeluarkan nada mengancamnya. Mengingatkanku pada si Ketua OSIS yang egois dan suka mengatur, Kim Myungsoo.

“Aishh! Anggap aku sedang berbaik hati saat ini” Dengan masih sedikit kesal, aku mengikuti apa yang diinginkan oleh L. Berdebat dengannya hanya akan membuang tenaga.

Tidak lama setelah kami berjalan, L membawaku ke sebuah kedai yang menjual ddukbeokki dan fishcake. Dia membelikanku keduanya. Dan entah kenapa aku merasa seperti sedang diperhatikan oleh yeoja-yeoja yang melalui kedai itu, tidak bahkan sudah sejak kami berjalan di jalanan Hongdae, mata para yeoja itu memandang sinis kearahku seakan-akan aku adalah makhluk yang tidak pantas hidup.

“Kau tahu, pandangan yeoja-yeoja itu sangat mengganggu”bisikku berusaha untuk tidak terdengar oleh orang lain kecuali L.

“Jinjja? Kalau begitu, kau ikut aku ketempat lain” Belum selesai aku memakan ddukbeokki dan fishcake yang dibelikannya untukku, di sudah menarikku lagi. Terpaksa aku memakan fishcakeku sembari berjalan dengan menggunakan tangan kiri.

“Kau akan membawaku kemana?” Dia tidak menjawab pertanyaanku dan terus berjalan. Kami tiba di daerah yang tidak terlalu ramai. Dia membawaku masuk ke sebuah restaurant Jepang. Restaurant itu sepi akan pengunjung, sehingga sedikit mata yang memandangi kami.

“Kau pintar juga dalam memilih tempat” Dia lagi-lagi tidak memberikan respon terhadap ucapanku. Namja dihadapanku ini hanya diam sambil memandangiku.

“Waeyo? Ada yang salah dengan wajahku?” Tiba-tiba L mendekatkan wajahnya padaku. Dan hal itu membuatku sedikit terkejut. Rasanya dunia disekitarku seperti berhanti untuk sejenak. Dari dekat wajahnya memang benar-benar tampan. Jantungku, oh tidak! Jangan seperti ini, tolong. Tenanglah. Aku berusaha untuk mengambil napas tapi itu tidak berhasil. L mengusap ujung bibirku dengan ibu jarinya.

“Ada sisa makanan diwajahmu” Dia menjilat ibu jari yang digunakannya untuk mengelap sisa makananku. Tuhan, kenapa pipiku terasa hangat sekarang? Ada apa ini? Bahkan ketika makananku datang, mataku tidak bisa berhenti memandanginya.

“Sekarang, kenapa kau yang memandangiku? Ada yang salah dengan wajahku?” Mendengar ucapannya, aku seperti dibawa kembali ke dunia nyata. Aku menggelengkan kepalaku pelan berharap agar hal tersebut mampu membuatku sadar.

“Ya, ada yang salah dengan wajahmu. Wajahmu itu sangat menyebalkan untuk dilihat” Namja bernama L itu hanya terkekeh pelan.

“Park Jiyeon, bagaimana pandanganmu tentang Minseok-hyung? Aku ingin kau jujur menjawabnya” Kali ini ekspresi mata L menunjukkan keseriusan. Dasar namja aneh, dengan sekejap dia dapat mengubah suasana.

“Kim Minseok adalah namja yang menyebalkan. Tapi aku suka sifat menyebalkannya itu. Beberapa hari tanpa Kim Minseok membuat ruang kelas kami jauh lebih sepi. Dan, dia adalah satu-satunya namja yang bisa kupercaya” ungkapku dengan membayangkan kejadian-kejadian menyebalkan yang kami alami bersama.

Flashback

“Annyeonghaseyo, Kim Minseok imnida” seorang namja kecil berpipi tembam berdiri dengan wajah datar di depan ruang kelas kami yang berukuran kecil. Semua yeoja (kecuali aku dan Sohee) di dalam kelas menatapnya dengan kagum. Baiklah kuakui, untuk seukuran anak kecil, namja itu memiliki ekspresi yang dewasa dan wajah yang imut.

Anak baru bernama Kim Minseok itu berjalan kearahku dan Sohee, lalu duduk di bangku dihadapan kami. Sampai jam pelajaran terakhir, namja itu sama sekali tidak mengobrol dengan siapapun dikelas. Jadi aku dan Sohee memutuskan untuk menyapanya terlebih dahulu.

“Ya, Kim Minseok?” Aku dan Sohee menghampirinya ketika ia sedang duduk di bangku taman, membaca buku.

“Eoh? Nde?” Dia tampak kaget dengan kedatangan kami. Pipinya yang memang sudah memiliki sedikit rona merah menjadi semakin merah.

“Ahh~ Kyeoptta” dengan reflkes Sohee yang sangat menyukai hal-hal yang lucu mencubit pipi Minseok gemas.

“Sohee, kendalikan dirimu. Dia bisa ketakutan” Sohee segera melepaskan cubitannya di pipi namja imut itu.

“Ah, Jiyeon imnida. Jangan tanyakan siapa margaku karena aku tidak akan menjawabnya” Aku mengulurkan tanganku pada Minseok. Dan dia membalas nya.

“Kim Minseok” jawabnya singkat.

“Ahn Sohee imnida. Aku ingin bertanya berapa usiamu? Kanapa wajahmu terlihat seperti anak yang belum sepantasnya sekolah? Kau imut” Kali ini Sohee memeluk tubuh Minseok.

“Tolong maklumi temanku ini. Dia tidak tahan melihat sesuatu yang imut” Minseok hanya membalasnya dengan senyuman kecil.

Flashback Off

“Betapa berbedanya dia yang dulu dengan yang sekarang. Apakah dia dulu memang seperti itu?” Aku melihat perubahan ekspresi L. Dia tampak sedikit murung.

“Ya, dia dulu adalah seorang kakak yang sangat dewasa diusianya yang sangat muda. Dia sangat pintar, tidak, dia seorang jenius. Tapi sekarang, dia benar-benar berbeda setelah berteman dengan kalian. Dia terlihat seperti remaja yang sesuai dengan usianya. Terlihat lebih ceria” Aku tersenyum mendengar perkataan L. Karena itu tersirat seperti dia sedang memuji G class karena berhasil mengubah Minseok.

“Itu berarti kau harus berterima kasih pada kami karena telah mengubah sifat kakakmu itu”

“Aku juga ingin bertanya padamu, kenapa kau membenci margamu itu?” Aku terdiam mendengar pertayaannya itu. Selama ini, belum pernah ada yang menanyakan pertanyaan itu padaku.

“Aku tidak bisa menjawabnya” jawabku singkat. Aku tidak suka topik ini dilanjutkan.

“Apa kau membenci keluargamu?”

“Bisa kau berhenti bertanya soal ini? Ini sama sekali bukan urusanmu” Aku mulai memakan makananku, berusaha untuk tetap bersikap normal.

“Saat kau mabuk setelah Sport Festival, aku yang mengantarkanmu pulang” Sendok yang sedang kugenggam, kuletakkan kembali.

“Siapa kau sebenarnya, nona Park? Apa kau menipu G class?” Amarahku meningkat dengan cepat. Dan tiba-tiba saja, pandanganku mulai terasa kabur dan kepalaku menjadi sangat pusing.

“Aku tidak pernah menipu G class!” teriakku marah pada L. Aku sudah tidak tahan lagi berada di tempat ini. Dengan segera aku melangkah keluar dari restaurant.

Pandanganku menjadi semakin kabur, bahkan sesekali menjadi gelap dan pening di kepalaku mulai kembali terasa. Tidak terdengar suara langkah kaki dibalakangku. Itu berarti L tidak berusaha untuk mengejarku. Jalanan yang kulalui terlihat sangat sepi. Sepertinya semua orang sudah tertidur pulas di kamar mereka masing-masing. Pandanganku menjadi semakin gelap, tapi aku tidak merasa lemas atau apapun. Ada apa dengan mataku? Aku mengerjapkannya beberapa kali. Dan untunglah beberapa saat kemudian, pandanganku kembali normal.

“Mungkin aku benar-benar butuh istirahat”

~o~

Sohee POV

“Sohee, beberapa hari ini kau sepertinya sangat sering melamun” tanya Suzy yang duduk dihadapanku. Aku, Suzy, Jiyeon, dan Jinri saat ini sedang berada di kelas. Tidak ada guru dan pelajaran seperti biasanya.

“Benarkah?” Aku sadar bahwa apa yang dikatakan oleh Suzy ada benarnya. Sejak kejadian di apartemen Luhan, kefokusanku sedikit terganggu. Pikiranku terus berpusat padanya.

“Hmm. Aku juga menyadarinya, ada yang aneh denganmu. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Jinri yang sebelumnya sedang melakukan push-up, berdiri dan menempatkan dirinya disampingku.

“Tentu saja ada yang mengganggu pikiranku. Minseok masih belum menghubungiku. Apa dia sudah menghubungi kalian?” Aku mengambil ponselku dan memandangi layarnya.

“Belum. Dia masih belum ada kabar. Tapi L sudah kembali ke Seoul, tadi malam dia datang menemuiku dan mengatakan bahwa Minseok masih memiliki beberapa urusan di Guri. Jadi mungkin, dia tidak akan pulang sampai-” Belum Jiyeon menyelesaikan perkataannya, pintu kelas kami dibuka oleh seseorang.

“CHINGUDEUL!!! Kim Minseok is BACK!!” Seorang namja berpipi tembam menyebalkan berdiri dihadapan kami dengan senyum mengembang di wajahnya.

“Kalian pasti merindukanku bukan? Bagaimana rasanya hari-hari tanpa diriku yang manis ini?” Suzy bangkit berdiri dari tempatnya dan berjalan kearah Minseok.

“Bogoshipo, Baozi” Suzy memeluk Minseok dengan sangat erat.

“Nde, nado bogoshipo” Minseok pun membalas pelukkan hangat Suzy.

“Ya! Berhentilah berpelukkan. Kalian seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu” ujar Jinri dengan nada kesal palsu.

Suzy dan Suzy melepaskan pelukkannya, lalu melangkah ke arah Jinri dan memeluk yeoja toboy-feminim itu. Disusul oleh Jiyeon yang sedari tadi hanya menggelengkan kepalanya.

“Kenapa kalian jadi berpelukkan tanpa aku?” Aku berlari kearah mereka lalu memeluk mereka. Tidak lama kami pun melepaskan pelukan kami. Suasana menjadi sedikit awkward.

“Bukankah kita terlihat seperti anak kecil di playground? Berpelukan seperti tadi” Diantara kami semua yang memecahkan suasana awkward seperti ini pastilah Kim Minseok. Dia selalu tahu kapan saat bicara ataupun kapan saat diam.

“Eumm, baguslah. Itu berarti kita awet muda” Sedangkan yang selalu memberikan lelucon garing adalah Jiyeon. Sifatnya benar-benar bertolak belakang dengan Minseok. Sedangkan kami bertiga biasanya hanya pusing sendiri melihat tingkah laku Jiyeon dan Minseok.

“Minseok-ah, kenapa selama kau di Guri, kami tidak dapat menghubungimu sama sekali? Apa yang terjadi di sana sangatlah buruk?” tanya Jinri pada Minseok. Mendengar pertanyaan Jinri, raut wajah ceria Minseok berubah menjadi sedikit gelap. Itu adalah ekspresi yang ditunjukannya saat dia ingin mengatakan sesuatu yang penting.

“Aku memiliki sesuatu yang harus kukatakan pada kalian”

 

Preview

“Aku mempercayaimu! Aku sangat mempercayaimu! Tapi kau menghancurkannya! Kau menghancurkan segalanya! Aku sangat membencimu!”

“Kau benar-benar pembohong besar! Jangan muncul lagi dihadapan kami!”

“Kenapa kalian melakukan ini tanpa persetujuanku? Aku menolak perjodohan ini!”

“Tidak perlu kau pedulikan aku!”

“Eonnie, gwenchana?”

“Dia mengalami benturan keras di kepalanya. Hal ini menyebabkan saraf mata di otaknya terputus. Dia akan mengalami kebutaan total”

“Kenapa semuanya menjadi gelap?”

 

40 responses to “[CHAPTER 5] School Rush!! Season 2

  1. Itu yg akhir siapa ???
    Dan Minseok akankah dia akan jujur pada teman2nya klw dia adalah saudara dr Myungsoo ??
    Next, please jgn lama2. Saya nunggunya ampe lumutan😥

  2. aduhh ni jiye buta ya..kasihan gi mana ya riaksi chanyeolnya apa dia bakaln tunjuin kalo dia risau atau dia bkalan terus berbohang gak perduli sma adiknya tercinta??aduhh bikin bingung ni..klo benar pasti mereka berdua lgi trseksa dong..terutama chanyeol dia gak bisa bilang bahawa dia cinta sama adiknya dan gak bisa peluk adiknya waktu susah gini..ADUHHHHHHHH JAHAT BAGAT SI MAK TIRINYA DASAR NANEK SIHIR…ERRRR GERAM BANGAT…

  3. Duhh takutnya itu yg buta jiyeon T-T andwae !!!! Aisss knpa sifat gensi mereka trlalu tinggi ?? Apa salahny sih jujur dasar orkay !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s