LIKE THE FIRST TIME [4]

LIKE THE FIRST TIME! [4]

 likethefirsttime

Length : 3.045 words

Type    : Part

Genre  : Romantic, Sad, Little bit comedy, Drama.

Author : @shaffajicasso

Rating  :  PG – 14

Cast     : Park Jiyeon, Kim Myungsoo.

Other   : Lee Jieun, Kim Jongin, Bae Suzy, Oh Sehun, etc.

Poster  : Girikwon29@HSG

.

.

“Seperti….” Jongin berhenti sejenak.

“Seperti?” Jiyeon mengangkat sebelah alisnya. Menatap Jongin dengan rasa penasaran.

“Seperti aku. Aku mencintai sahabatku sendiri. Dan orang yang aku cintai adalah…. kau, Park Jiyeon.”  Jongin menatap mata Jiyeon dalam.

Bagaikan tersiram air es, kini Jiyeon tidak tau harus berkata apa. Lidahnya terasa begitu kelu. Jiyeon benar-benar terkejut, perasaan Jiyeon campur aduk saat ini. Bagaimana bisa Jongin mencintainya? Bagaimana bisa? Jiyeon menatap Jongin dengan tatapan tak percaya.

“Jiyeon-ah… aku benar-benar mencintaimu. Aku sudah lama memendam perasaan ini, tapi aku takut untuk mengatakannya. Aku pun tak tau mengapa aku bisa menyimpan perasaan ini padamu. Aku… aku…”

“Jongin-ah…” Jiyeon menyela perkataan Jongin. Jiyeon menunduk.

“Bagaimana bisa kau mencintaiku? Apa aku melakukan sesuatu yang hingga membuatmu mencintaiku? Aku benar- benar tidak tau harus apa. Aku tidak tau apa yang harus aku katakan padamu. Tapi, bagaimana bisa hal ini bisa terjadi, Jongin-ah?” lirih Jiyeon. Jongin menggenggam tangan Jiyeon.

“Jiyeon-ah, jangan katakan padaku mengapa aku mencintaimu. Jujur, aku pun tidak mengerti. Sikap dan sifatmu yang membuatku terasa nyaman saat ada didekatmu Jiyeon-ah. Sebenarnya, aku sudah mulai mempunyai perasaan ini sejak 2 tahun yang lalu.” Ucap Jongin.

Jiyeon diam seribu kata, ini benar-benar membuatnya bingung. Ini sungguh di luar dugaannya. Perlahan, Jiyeon melepaskan genggaman Jongin. “Mianhae, Jongin-ah..” . Jiyeon berdiri dari duduknya.

“Aku benar-benar tidak bisa. Aku hanya tidak ingin persahabatan kita hancur hanya karena hal ini. Aku tidak mau. Kalian berdua, sudah aku anggap sebagai keluargaku. Mianhae…” setelah mengucapkan hal itu, Jiyeon pergi meninggalkan Jongin.

Apa kalian bisa membayangkan perasaan Jongin sekarang? Kini perasaan Jongin hancur, ia benar-benar merasakan sakit. Jiyeon menolaknya, Jiyeon hanya menganggapnya sebagai sahabat. Dan itu artinya Jiyeon sama sekali tidak mempunyai perasaan yang lebih pada Jongin.

Jongin memegang dadanya yang entah sejak kapan terasa begitu sesak. Ia memukul-mukul dadanya pelan. “Gomawo Jiyeon-ah, ternyata kau sama sekali tidak mempunyai perasaan lebih padaku. Kau hanya menganggapku hanya sahabatmu, kenapa ini begitu sakit? Sial! Kau membuatku cengeng Jiyeon-ah, kau satu-satunya yeoja yang membuatku menjadi kacau seperti ini. Haisshh!” Jongin mengacak rambutnya, keadaannya kacau.

Sementara Jiyeon, kini ia sedang menunggu bus di halte. Pikirannya masih tertuju pada Jongin. “Apa aku menyakiti perasaannya? Ah, sepertinya iya. Aigoo Jiyeon-ah kau benar-benar yeoja jahat!” Jiyeon menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Issh!! Aku haus!!” Jiyeon berjalan menuju minimarket yang tak jauh dari halte. Ia masuk ke dalam minimarket tersebut.

Jiyeon membuka tempat pendingin tersebut, lalu mengambil botol minuman dingin dari dalamnya. Sesudah mengambil minuman tersebut, Jiyeon berbalik badan hendak menuju kasir untuk membayar. Tapi….

“Omo!” Jiyeon terkejut, sangat terkejut. Saat ia berbalik, ternyata sedari tadi ada orang di belakangnya. Dan kini orang itu tepat di depannya, sangat dekat jaraknya. “Omo! Jantungku!” Jiyeon mengelus dadanya.

“Gwaenchana?” tanya orang itu. Jiyeon mendongakkan kepalanya. Sekali lagi, Jiyeon di buat terkejut.

“Oh Sehun.” Mulutnya terbuka sedikit. Sehun memandangnya heran. Sehun melambaikan tangannya di depan wajah Jiyeon, tapi Jiyeon tidak ber-reaksi sedikitpun hingga Sehun menepuk bahu Jiyeon. Akhirnya Jiyeon pun tersadar.

“Ah, mian..” Jiyeon geser tiga langkah ke samping. “Kau ingin mengambil minuman kan?” tanya Jiyeon. Sehun mengangguk. “Hm, silahkan..” . Setelah mengucapkan itu, Jiyeon berlalu menuju kasir.

Sehun memandang kepergian Jiyeon, tanpa sadar kedua ujung bibirnya terangkat keatas hingga terukir sebuah senyuman manis. “Yeoja lucu.” Ucap Sehun, lalu kemudian mengambil minuman yang ia inginkan.

Setelah membayarnya, Jiyeon kembali menuju halte bus. Ia duduk kembali. Jiyeon mengeluarkan ponselnya dilihatnya waktu yang tertera disini. Hari sudah menunjukkan pukul 15.00. Jiyeon menghela nafasnya. Lalu kemudian ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.

“Ya! Kenapa kau masih disini?” Jiyeon terkejut. Ia menoleh. Ternyata Myungsoo. Jiyeon menghela nafas.

“Kau mengagetkanku sunbae.” Ucap Jiyeon.

“Benarkah? Ah maaf. Kenapa kau belum pulang?” tanya Myungsoo.

“Hm, itu… aku barusaja dari toko buku.” Ucap Jiyeon bohong.

“Ah begitu. Ya sudah, pulanglah bersamaku.” Tawar Myungsoo. Jiyeon terdiam ia sedang berfikir.

 “Wae? Tidak mau? Yasudah.” Myungsoo menaiki motornya.

“Anhi, aku bahkan belum mengatakannya.” Ucap Jiyeon kesal.

“Lalu?”

“Baiklah…” ucap Jiyeon, ia menghampiri Myungsoo dan motornya. Myungsoo memakai helm miliknya.

“Pakai helmnya!” Myungsoo memberikan helm pada Jiyeon. Jiyeon pun memakainya. Jiyeon menaiki motor Myungsoo dan memegang bahunya.

“Ya! Ya! Jangan memegang bahuku! Ini terasa berat!” protes Myungsoo.

“Tchh.. dasar!” Jiyeon pun hanya meremas sedikit jaket yang dikenakan Myungsoo.

Myungsoo mulai menyalakan motornya, hingga Myungsoo meng-gas nya membuat Jiyeon terkejut dan dengan reflex membuat Jiyeon memeluk pinggang Myungsoo. Jiyeon ketakutan.

“Ya! Sunbae! Kau ingin membuatku jatuh terjungkir, eoh? Dan apa kau ingin membuatku mati karena terkejut? Issshh menyebalkan! Ya! Jangan mengebut!” cerocos Jiyeon. Myungsoo mendengarnya, di balik helmnya Myungsoo tersenyum.

Motor Myungsoo pun menghilang/? . Tanpa diketahui Jiyeon dan Myungsoo, ternyata ada dua pasang mata yang melihat kejadian tersebut.

**********

“Sunbae.. aku tidak ingin pulang ke rumah.” Ucap Jiyeon.

“Apa maksudmu?”

“Apa kau bisa membawaku ke lapangan basket dekat toko bunga di blok sebelah itu?”

“Untuk apa kau mau ke lapangan basket?”

“Huh, anhi. Hanya saja aku sudah lama tidak bermain basket.” Ucap Jiyeon. Jiyeon menghela nafas. “Bagaimana sunbae? Kau mau tidak? Setelah itu kau tidak usah mengantarku pulang, karena jarak ke rumahku dari lapangan basket tidak terlalu jauh. Eotte??”

“Baiklah. Aku akan mengantarmu.” Ucap Myungsoo.

Sesampainya di lapangan basket, Jiyeon lekas turun dari motor Myungsoo dan mengembalikan helm milik Myungsoo. Jiyeon berjalan menuju lapangan tersebut, mengambil bola basket yang sudah tersedia disana.

Kemudian ia mendribble bola basket itu, dan Jiyeon melempar basket itu menuju ring. Dan, masuk! Jiyeon kembali bermain basket. Myungsoo belum pulang, ia memandang Jiyeon yang sedang bermain basket. Bibir Myungsoo melukiskan sebuah senyuman. Lalu Myungsoo menghampiri Jiyeon, kini Myungsoo sudah berdiri di hadapan Jiyeon.

“Ternyata kau hebat dalam bermain basket. Ayo kita tanding!” tawar Myungsoo. Jiyeon terkekeh.

“Tanding? Apa kau yakin?” tanya Jiyeon. Myungsoo mengangguk. “Baiklah..” Jiyeon mengangguk. Jiyeon melempar bola basketnya pada Myungsoo.

“Geurom. Kita mulai!” Myungsoo mulai mendribble bola basket. Jiyeon memandang Myungsoo, ia tersenyum.

Jiyeon berusaha merebut bolanya, tetapi ternyata Myungsoo hebat dalam bermain basket hingga membuat Jiyeon kebingungan. Sudah lama ia tidak tanding basket, terakhir ia tanding basket saat ia berumur 6 tahun. Jiyeon terus saja berusaha untuk merebut bolanya, hingga tap! Jiyeon berhasil membawanya dan Jiyeon mulai mendribble bola itu, Jiyeon hendak melempar bola ke dalam ring. Myungsoo menghalangi Jiyeon, tapi ternyata bola itu masuk ke dalam ring saat Jiyeon melemparnya.

“Yeaahh!! 1-0!!” Jiyeon senang, ia mengejek Myungsoo. Myungsoo tersenyum melihat sikap Jiyeon yang seperti anak kecil. Myungsoo memandang langit di atas. Mendung.

“Jiyeon-ah, ayo kita pulang! Sepertinya ini akan hujan.” Ucap Myungsoo. Jiyeon menghampiri Myungsoo.

“Sunbae, aku sudah bilang kau tidak usah mengantarku pulang. Jika kau ingin pulang, pulanglah. Aku masih ingin disini, jika hujan aku ingin bermain dengan hujan. Sudah lama sekali aku tidak bermain di bawah guyuran hujan.” Jiyeon tersenyum.

Jiyeon mengangkat kepalanya memandang langit yang mendung, ia memejamkan matanya. Tangan Jiyeon terangkat, ia menadahkan tangannya. Myungsoo memandang Jiyeon, lalu Myungsoo mengikuti apa yang Jiyeon lakukan. Beberapa detik kemudian, turunlah rintikan hujan. Membasahi wajah Jiyeon dan Myungsoo. Jiyeon tersenyum.

“Sunbae, ini menyenangkan bukan?” Jiyeon memandang Myungsoo yang masih dengan posisi itu.

MYUNGSOO POV

Ini sudah lama sekali aku tak merasakan tubuhku dibasahi oleh air hujan. Sudah sangat lama sekali. Ini menyenangkan. Aku kembali mengingat kejadian itu, kejadian yang sudah lama sekali. Dimana aku bermain di bawah guyuran hujan di lapangan basket ini bersama seseorang. Aku membuka mataku, Jiyeon sedang menatapku.

“Wae?” tanyaku. Dia menggeleng, lalu tersenyum. “Apa kau mau bermain basket bersamaku? Sepertinya menyenangkan bermain basket sembari hujan-hujanan.” Aku menantangnya. Jiyeon mengangguk.

Dia langsung mengambil bola tersebut dan langsung memainkannya. Curang! Dia mengambil start duluan! Aku menghampirinya dan berusaha merebut bola itu. Tapi.. ternyata ia mempunyai pikiran licik! Aigoo, ia malah membawa lari bola basket itu dan itu membuatku harus mengejarnya dia benar-benar curang!

Alhasil, kami hanya kejar-kejaran sembari hujan-hujanan. Kami benar-benar sudah basah kuyup.

“Ya! Kau curang! Kembalikan bolanya!” aku berlari cepat dan berhasil mendahuluinya hingga aku berada di hadapannya.

“Shireo!” Jiyeon mengangkat bola basket itu keatas. Bodoh! Kenapa kau mengangkatnya? Tinggiku bahkan melebihi tinggimu. Tapi saat aku akan mengambilnya, ia malah menurunkan kembali bola itu.

“Ah, kau ingin bermain denganku eoh? Baiklah, ayo kita bermain!” aku menunjukkan smirkku. Tapi Jiyeon menjulurkan lidahnya, dia mengejekku!

Jiyeon kembali berlari, tapi aku berhasil menghadangnya kembali. Jiyeon tidak bisa kemana-mana, karena gerakanku begitu cepat dibandingnya. Jiyeon terlihat kebingungan, ia kembali mengangkat bola basket itu. Tapi kali ini ia terlambat! Aku berhasil meraih pergelangan tangannya dan menariknya.

Tap!

Sepertinya aku terlalu kencang menariknya, hingga membuat jarak antara aku dan Jiyeon begitu dekat. Bola basket yang sedaritadi Jiyeon pegang terjatuh, tapi aku masih memegang pergelangan tangannya. Wajah kami sangat dekat, kurang lebih jika dihitung hanya 10 senti jaraknya. Aku bisa melihat dengan jelas wajah Jiyeon sekarang. Ternyata ia terlihat begitu cantik. Jiyeon menatapku dalam diam, Jiyeon menunjukkan senyumnya.

“Sunbae, ini menyenangkan. Gomawo, sudah membuatku ceria kembali.” Jiyeon tersenyum padaku, aku membalas senyumnya.

“Aku juga berterima kasih padamu, kau sudah mau bermain denganku. Gomawo…” ucapku. Aku mengacak rambutnya yang basah.

“Kajja pulang, nanti kau sakit jika terlalu lama berada disini.” Ucapku.

“Shireo!” ucapnya. Ia melepas tangannya yang sedari tadi aku pegang. Bodoh! Aku lupa.

“Aku masih ingin disini.” Jiyeon duduk di tengah lapangan basket ini. Hujan mulai mereda.

“Kyaa! Kenapa hujannya berhenti? Huh dasar!” dia bicara sendiri. Kemudian Jiyeon berbaring, anak ini.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berbaring disitu?” aku menggoyangkan kakinya dengan kakiku.

“Ishh sunbae! Sudah aku bilang, aku masih ingin disini. Aku merindukan masa-masa saat aku masih kecil.” Ucapnya. Aku menggelengkan kepalaku. Akhirnya aku pun mengikutinya, aku ikut berbaring di sampingnya.

“Tchh… kau bahkan mengikutiku.” Ucapnya, ia melirikku.

“Wae? Apa tidak boleh?” aku meliriknya. Jiyeon memalingkan wajahnya, kemudian ia memandang langit yang masih mendung.

“Sunbae, apa kau pernah merasakan apa itu cinta pertama?” tanya Jiyeon. Aku terdiam, lalu menatapnya.

“Ya, pernah.” Ucapku, ia menoleh padaku.

“Aku tau siapa itu, Hm, pasti yeoja yang waktu itu kan? Itu, yeoja yang tiba-tiba saja memelukmu. Saat kau menyelamatkanku dari preman-preman itu.” Ucapnya. Aku menggelengkan kepalaku.

“Anhi. Isshh, kau sok tau. Suzy maksudmu? Dia bukan cinta pertamaku. Ya walaupun memang dia adalah mantan yeojachingku tapi dia bukan cinta pertamaku.” Ucapku.

“Lalu? Siapa cinta pertamamu?” tanyanya lagi.

“Ck! Apa aku harus memberitaumu siapa cinta pertamaku?” aku mendelik kesal padanya. Jiyeon tersenyum memperlihatkan deretan giginya.

“Hoho, anhi. Lupakan.” Jiyeon memejamkan matanya.

“Lalu? Apa kau pernah merasakan cinta pertama?” tanyaku.

“Hm, ya.” Ucapnya. Ia tetap memejamkan matanya.

“Apa sampai saat ini kau masih menyimpan perasaan padanya?” aku bertanya kembali. Jiyeon mengangguk.

“Sayangnya, kini aku tidak tau dimana dia sekarang. Dan aku menunggunya disini, sampai saat dia kembali padaku.” Ucapnya.

“Nde? Apa maksudmu?” aku tak mengerti. Jiyeon mendelik ke arahku.

“Sudahlah. Kajja kita pulang!” ucapnya. Ia berdiri, aku masih terdiam dengan posisi yang sama.

“Ya! Ayo kita pulang! Jja, cepat!” Jiyeon mengulurkan tangannya. Aku mengejeknya.

“Tchh, apa kau kuat menarik tubuhku?” aku duduk dan memandangnya dari bawah.

“Woaah! Kau meragukanku? Issh, cepatlah!” Jiyeon menghentakan kakinya. Aku mendecak, kemudian menerima uluran tangannya. Jiyeon menarikku, dan aku pun berdiri.

“Arraso. Kajja kita pulang.”

**********

JONGIN POV

Aku tidak bisa tidur, ini sungguh membuatku terganggu. Jiyeon memenuhi pikiranku. Perkataannya, membuatku mengingat kejadian tadi siang. Bodoh! Kim Jongin! Kenapa kau mengatakan bahwa kau mencintai Jiyeon? Disaat yang tidak tepat!

“Haissh! Aku benar-benar bodoh!!” aku mengacak rambutku. “Jiyeon-ah, apa kau masih meragukan diriku? Ah jinja, aku benar-benar akan gila setelah ini!!”

Aku memandang foto ini, aku, Jiyeon, dan Jieun. Kami bertiga. Ini saat kelulusan SMP dua tahun yang lalu. Disaat inilah aku mulai menyukai Jiyeon. Ya, aku memang tidak terlalu memperlihatkan rasa sukaku pada Jiyeon. Karena aku tidak ingin Jiyeon curiga akan sikapku yang aneh saat bersamanya, karena saat bersamanya aku merasakan jantungku berdebar. Tetapi, agar tidak terlalu kelihatan saat aku gugup. Dan akhirnya Jieun-lah solusi terakhir. Aku tau aku memang gila. Ya, aku gila karena seorang Park Jiyeon!

“Anhi.” Aku menggelengkan kepalaku. “Aku harus menyelesaikannya dengan Jiyeon besok. Aku akan bicara dengannya. Ya, benar.” Aku menganggukan kepalaku.

.

.

JIYEON POV

Aku melangkahkan kakiku untuk menaiki anak tangga ini. Ya, aku berada di rumah sekarang. Saat berada di anak tangga yang ke-5..

“Jiyeon-ah..” appa memanggilku. Aku terdiam, aku menoleh kepada appa.

“Darimana saja kau Jiyeon? Kenapa baru pulang?” tanya appa.

“Aku bermain basket.” Ucapku. Appa memandangku dari atas sampai bawah. Hhh~ aku tau itu.

“Kenapa pakaianmu basah? Kau hujan-hujanan?” ucapnya. Aku mengangguk. Appa terlihat menghela nafasnya.

“Kemarilah.” Appa berjalan menuju sofa. Dengan sangat terpaksa, aku kembali turun ke bawah dan menuruti apa kata appa.

“Ada apa?” tanyaku, setelah aku duduk di sofa ini.

“Ada yang ingin appa bicarakan padamu.” Ucapnya. Aku menatap appa malas.

“Mwonde?”

“Jiyeon-ah. Maaf, appa tau jika appa memang salah karena sudah berselingkuh di belakang eommamu. Appa benar-benar minta maaf karena appa sudah menamparmu saat itu.” Ucapnya. Aku menghela nafas.

“Mwoya? Seharusnya appa meminta maaf pada eomma. Bukan padaku.” Ucapku marah. Appa menunduk. “Aku tidak ingin kalian bertengkar seperti ini. Selesaikan masalah dengan baik-baik, aku tidak ingin kalian hingga berpisah.” Ucapku berusaha tenang. Appa menggeleng.

“Anhi. Appa dan eomma tidak akan bisa seperti dulu lagi. Ini sudah cukup hancur Jiyeon. Ini tidak bisa diperbaiki lagi, semua akan percuma.” Ucap appa yang sukses membuatku panic.

“Apa maksud appa? Kenapa appa bicara seperti itu??” aku berusaha menahan emosiku saat ini.

“Appa sudah memikirkannya, kami akan bercerai.” Ucapnya. Aku melotot kaget, sungguh apa sebenarnya yang ada dipikiran appa?

“Appa benar-benar minta maaf padamu Jiyeon. Appa minta maaf karena tidak bisa menjaga keluarga ini dengan benar. Appa benar-benar merasa bersalah.” Ucapnya. Aku mendecak.

“Tchh.. Jika appa merasa bersalah. Kenapa appa melakukan ini? Seharusnya appa bisa memperbaiki semuanya, bukan dengan cara seperti ini! Ini bukan seperti appa yang aku kenal dulu!” Ucapku dengan nada yang tinggi. Emosiku sudah tidak bisa aku tahan lagi. Aku bangkit hendak kembali ke kamar.

“Jiyeon-ah mianhae. Tapi appa akan menikah dengan wanita itu. Dan perceraian ini akan diurus secepatnya. Maaf telah membuatmu dan Shin Hye kecewa.”

Jleb.

Menikah? Apa pikiran appa sedangkal itu? Sungguh kini badanku terasa lemas. Aku berlari cepat menuju kamarku di atas. Aku membanting pintu kamarku dan menguncinya. Aku berjalan perlahan menuju tempat tidurku, aku terduduk di atas tempat tidurku.

“Appa.. kau membuat keluarga kita menjadi seperti ini. Kemana keluarga kita yang dulu harmonis? Kenapa sekarang seperti ini? Hancur. Kau yang membuat ini menjadi hancur.”

Aku benar-benar tak menyangka, ternyata apa yang aku khawatirkan semuanya terjadi. Appa dan eomma akan bercerai, dan appa akan menikah kembali. Sungguh, ini sangat sakit! Aku memukul-mukul dadaku yang terasa sesak, mataku sudah tidak bisa membendung air mataku untuk tidak keluar.

Aku merasa, kini aku benar-benar menyedihkan. Sangat menyedihkan.

**********

Pagi ini, aku sudah bersiap. Bersiap untuk pergi, karena tadi pagi-pagi sekali Jongin mengirimkan pesan padaku bahwa ia ingin bertemu denganku di taman yang tidak terlalu jauh dari blokku. Aku memandang pantulan diriku sendiri di cermin ini, aku terlihat cantik dengan balutan mantel berwarna merah menyala ini dan dengan rambut yang aku biarkan tergerai.

Tiba-tiba saja kepalaku terasa sangat berat, ini seperti dihantam oleh benda yang keras. Kepalaku begitu pusing, sangat pusing. Aku memijat keningku. “Ya Tuhan, kenapa begitu sakit?” aku menggelengkan kepalaku. Kemudian aku keluar dari kamar, aku menuruni anak tangga, saat aku hendak membuka pintu untuk keluar dari rumah. Appa memanggilku.

“Jiyeon-ah..” aku terdiam.

“Waeyo?” tanyaku tanpa berbalik.

“Kau mau kemana?”

“Bermain bersama teman.” Ucapku. Aku pun membuka pintu, lalu keluar dari rumah ini.

Aku berjalan menuju taman. Hari ini adalah hari minggu, tetapi kenapa perumahan ini serasa begitu sepi? Huh, apa mereka menikmati hari libur dengan bersantai dirumah dengan tidur seharian? Huh, entahlah.

Kini aku sudah sampai di taman. Sesuai apa yang dikatakan Jongin, aku harus menunggunya di kursi taman tepat di bawah pohon maple besar ini.  Aku berjalan mendekati kursi taman, lalu kemudian duduk. Aku kembali memegang kepalaku yang masih terasa sakit.

“Jongin belum datang.” Aku memandang ke sekeliling taman ini. Taman ini tampak sepi. Aku menghela nafas, aku menundukkan kepalaku. Tak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahku. Aku mendongakkan kepalaku, Jongin.

“Apa kau menunggu lama?” tanyanya. Aku menggeleng, kemudian aku berdiri, dan tersenyum padanya.

“Kau ingin bicara apa, Jongin-ah?” tanyaku. Jongin mendekat kearahku, ia terus mendekat hingga akhirnya ia memeluk tubuhku. Aku terdiam, aku tidak tau harus apa membalas pelukannya atau tidak.

“Jiyeon-ah…” panggilnya. Aku tak menjawab.

“Mianhae, seharusnya aku tidak mengatakan jika aku mencintaimu. Seharusnya aku mengubur perasaanku padamu dalam-dalam, karena aku tau kau menunggu seseorang. Tetapi untuk mengubur semuanya itu sulit, sangat sulit. Jiyeon-ah…” ucapnya lirih. Apa Jongin menangis?

“Jiyeon-ah… apa kau masih menunggu namja itu? Kenapa kau masih saja menunggunya? Sedangkan dia pun tidak tau jika kau menunggunya disini, dan apa dia juga selalu memikirkanmu disana sama seperti kau memikirkannya disini? Apa kau tau itu?” Jongin melepas pelukannya. Lalu menatapku. “Apa kau pernah memikirkan hal ini?” tanyanya.

Aku terdiam. Berusaha mencerna perkataan Jongin. Perkataan Jongin tadi sukses membuat lidahku kelu untuk menjawabnya. Jongin benar, belum tentu orang yang aku tunggu selama 11 tahun ini masih mengingatku. Aku menatap Jongin.

“Jiyeon-ah…bukalah hatimu untuk lelaki lain. Kau telah dibutakan olehnya, seakan kau tidak ingin membukakan hatimu pada lelaki lain. Dan kau hanya ingin hatimu diisi olehnya. Tetapi sampai sekarang, lelaki yang kau tunggui tak kunjung datang.” Ucap Jongin.

“Geurae, kau memang benar Jongin-ah..” aku menghela nafas. “Tetapi aku tidak bisa melupakannya begitu saja. Aku menuruti apa kata hatiku, untuk menunggunya walaupun aku tau ini sudah cukup lama sekali. Aku akan terus menunggunya dengan setia. Karena dia sudah berjanji padaku.” Ucapku. Jongin menundukkan kepalanya.

“Jiyeon-ah, apa tidak bisakah kau membukakan hatimu untukku?” lirihnya. Aku bisa lihat ia mengeluarkan air mata. Sungguh, aku benar-benar tidak tega melihatnya seperti ini. Aku mendekat lalu memeluknya,

“Mianhae jeongmal mianhae, Jongin-ah.. Karena aku kau menjadi seperti ini, aku benar-benar minta maaf. Aku mohon jangan seperti ini, aku tidak ingin melihatmu menjadi lemah dan kacau seperti saat ini.” Aku memeluknya erat dan mengusap punggungnya. Aku bisa merasakan, Jongin membalas pelukanku dengan erat juga.

“Biarkanlah seperti ini untuk sesaat, Jiyeon-ah, setidaknya hanya untuk saat ini. Untuk selanjutnya, aku tidak yakin aku akan bisa melupakan perasaanku ini padamu.” ucapnya. Aku menganggukkan kepalaku. Kemudian aku mengelus rambutnya.

“Menangislah, jika memang dengan menangis bisa membuatmu menjadi lebih tenang. Setidaknya hanya untuk saat ini. Aku yakin, kau pasti bisa melupakanku. Dan aku yakin, perasaanmu padaku hanya sesaat Jongin-ah.” Ucapku. Ternyata Jongin benar-benar menangis, kini ia menangis di pelukanku. Ya Tuhan, aku telah menyakiti sahabatku sendiri…

 .

.

.

To Be Continue .

25 responses to “LIKE THE FIRST TIME [4]

  1. jiyi kasian ,, appanya msa habs cerai nanty langsung mw nikah ,, tuh perempuan selingkuhan appanya gk tw diri .. Penasarn ama sakitnya jiyi, cewe selingkuhannya, sma ank dimasa lalu jiyi .. 3 hal itu yang bkin ku penasaran,, next read

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s