[FICLET] Kiss Series – Peppermint Sugar

pprmntsgrpstr

[Kiss Series] Peppermint Sugar

Presented by Shin Min Rin/Lin

Starring

Park Jiyeon (T-Ara) | Kim Myungsoo/L (Infinite) | Jung Soojung/Krystal (f{x}) | and other(s)

PG-15 | Romance, Fluff, Friendship, and….etc(?) | Ficlet (2600++ words)

!Disclaimer! It purely made by me. The cast(s) is belong to themselves. Copy rights is mine~~

!Summary! Dia seperti menghindari ku sejak hari itu. Mulai menjauh seperti daun mint yang dingin. Tapi aku ingin kemanisannya, rasa manis gula. (ini summary apaan ._.) check this out k ~(^-^)~

If you want to read the previous, heres Bitter Sweet Coffee

XxxxxxxxxxxxxX

Kiss Series!

Peppermint Sugar

Permen itu manis, dan walaupun sudah ditelan masih meninggalkan rasa manis di lidah. Manis identik dengan kesenangan. Anak kecil suka dengan hal-hal yang menyenangkan, termasuk permen. Ada kalanya perasaan harus menjadi seperti anak kecil. Polos, lugu, konyol, dan tulus. Tidak dibuat-buat, tidak ada gengsi, tanpa ada beban berat dan tanpa harus ada alasan logis untuk hal-hal yang sederhana, cinta misalnya.

 

 

Sudah jarang ku lihat dia datang kesini bahkan aku sudah tidak pernah lagi melihatnya yang hanya sekedar singgah untuk minum kopi. Melihat siluetnya saja sudah tidak lagi. Melihatnya yang biasa lewat depan kafe juga jarang. Aku mencarinya, karena aku merindukannya, itu jelas. Hanya tidak tau apa yang terjadi padanya, kenapa dia menjadi dingin seperti mint dan menjauh.

Ku lihat Sangchul sedang meracik kopi untuk pesanan pelanggan. Aku hanya diam saja melihatnya dari kursi yang kududuki. Melihat Sangchul yang sangat serius bekerja jadi membuat ku teringat dengan keinginan kuat waktu itu untuk membuat coffee shop. Hingga bisa benar-benar merealisasikan hal yang ku senangi. Aku hanya merasa sangat bangga, tidak banyak orang yang bisa menjadikan kegemarannya menjadi sumber penghasilan. Aku suka kopi, jadi ku buat tempat yang dapat tercium aroma kopi di setiap sudut ruangannya.

Tiba-tiba aku teringat dengan sosok yang sudah jarang kesini. Dia suka kopi, sama seperti ku, jadi sebenarnya dia secercah semangat ku untuk benar-benar membangun coffee shop. Tidak tau kenapa dia menjadi seperti menghindari ku belakangan ini. Aku sudah mengiriminya pesan berkali-kali, tapi tidak pernah diperdulikan satu pun.

Aku membuka SNS, hanya untuk melihat di panel home mungkin saja dia meninggalkan pesan atau status tentang mengapa dia menghindari ku. Aku tidak tau dengan isi hatinya. Dia benar-benar membuat ku penasaran.

“Sajangnim, ada gadis yang mencari mu di luar.” Aku tersadar dan melihat karyawan wanita toko kopi ku sedang menunjuk ke arah luar. Kemudian aku mengangguk mengerti, “Eoh, gomawo Hyeju-ah.”

Aku beranjak dari kursi sambil memutar ponsel setelah Hyeju merespon dan kembali lagi ke meja kasir. Aku keluar, mendapati dirinya sedang berdiri di depan meja kasir. Dia memandang ku lalu tersenyum manis. Kelihatan sangat manis dan imut ditambah dengan hiasan rambut di kepalanya. Dia melambaikan tangan dan aku juga membalasnya seraya tersenyum.

“Myungie-ya, seperti biasa ya.” Aku tersenyum kembali seraya mengangguk mengerti kemudian aku setengah berteriak memerintahkan Sangchul dari meja kasir. Dia sudah duduk manis di kursi dekat meja kasir. Aku mengikutinya duduk disitu, dia tersenyum.

“Kau kelihatan berbeda hari ini, hahaha.” aku membuka percakapan begitu duduk di hadapannya. Dia menyelipkan surai rambutnya ke belakang telinga lalu membetulkan posisi duduknya pelan.

“Ah, benarkah? Jadi makin cantik kan? Hahahahaha,” Aku tertawa mendengarnya yang memang selalu semangat dan percaya diri. Dia juga ikut tertawa. Dia memang benar-benar lucu kalau moodnya sedang baik. Tak lama setelah itu, Hyeju datang membawa secangkir kopi racikan yang ada torehan-torehan perpaduan kopi, krimer, dan choco granule dipermukaannya. Mulutnya membulat membentuk huruf ‘O’ begitu melihat desain yang dibuat Sangchul beda dari biasanya.

“Daebakk! Kenapa bisa sekeren ini? Sangchul-ah kau benar-benar barista hebat yang pernah ku temui!” Aku terkekeh melihatnya yang sekarang sedang mengacungkan dua buah jempolnya, sebagai penghargaan atas kerja keras Sangchul. Sangchul dari meja kasir hanya bisa menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal itu, dan tersenyum kemudian menunduk malu.

Bunga-bunga cantik dan kupu-kupu menjadi karya indah di atas kopi untuknya. Dia menyukai kupu-kupu, Sangchul benar-benar pandai menarik hati wanita pujaannya ini. Aku melihatnya yang sedang meminum kopi itu dengan nikmat. Kemudian aku memainkan ponsel ku. Membuka kembali SNS hanya untuk melihat profil seseorang yang kurindukan.

‘Molla molla molla (T.T)’

Alis ku terangkat bingung, tidak mengerti apa maksud status singkatnya itu. 10 menit yang lalu. Status itu masih baru dibuat. Aku mengetikkan beberapa kata di kolom komentar. Membaca kata-kata yang sudah diketik. Rasanya ada kata-kata yang salah, mungkin dia akan merasa aku terlalu seduktif.

Ah tidak, hapus. Ku ketikkan lagi beberapa kalimat, lalu terhenti, kata-kata yang ku ketik mungkin tidak nyambung. Ku hapus lagi. Aku diam, memejamkan mata, berpikir dengan keras apa yang harus ku tulis. Rasanya seperti ada cahaya lampu terang bersinar dalam otak, cepat-cepat ku tulis beberapa kata lagi. Untuk kesekian kalinya aku menghela nafas merasa gagal menulis kata-kata yang tepat. Aku menghapusnya lagi. Tangan kanan ku sekarang memegang kepala, tangan kiri ku memegang ponsel, dan sepatu ku mengetuk-ngetuk lantai porselen kafe. Aku bingung harus memulai dengan kata apa untuk menuliskan komentar. Argh lama-lama aku bisa jadi stres kalau hanya untuk menulis komentar saja bisa sepusing ini di statusnya.

“Myungie-ya kau kenapa?” Dia menepuk bahu ku, matanya memancarkan sinar kebingungan yang teramat sangat. Aku merasa sangat terlihat bodoh sekarang. Seperti dikuliti hidup-hidup. Bukan hanya dia saja yang begitu, pelanggan-pelanggan di kafe juga melihat ku dengan bingung. Mungkin aku terlalu heboh sendiri tadi memikirkan mau menulis apa.

Sebelum menjawab pertanyaannya aku tersenyum sambil minta maaf ke para pelanggan. “Aku tidak apa-apa Soojungie. Hahaha, jeongmal.”

Soojung terlihat ragu dengan jawaban ku, alisnya masih bertautan. Tapi aku tersenyum manis setelahnya, hingga sekarang membuatnya yakin. Aku kembali berkutat dengan ponsel, masih melihat status yang baru diluncurkan belasan menit lalu. Aku mengetikkan beberapa kata. Membacanya lagi, aku merasa ini bisa dikirim, aku akan menekan tombol enter. Tapi lagi-lagi aku merasa aneh dengan komentar itu, rasanya komentar yang ku tulis seperti rayuan palsu para playboy, dan aku tidak mau dia menganggap ku pria playboy seperti itu.

Arggggh! Jadi aku harus menulis apa? Aku mengacak rambut ku sebal setelah meletakkan ponsel di meja. Seperti orang stres yang tiba-tiba sakit gilanya kambuh.

“Kau yakin tidak apa-apa Myungie-ya?” Soojung mengerutkan dahinya bingung. Aku terkejut dan mencoba untuk tenang.

“Hahaha. Gwenchana. Aku tidak apa-apa.” Suara tawa hambar ku terdengar sumbang. Soojung geleng-geleng kepala bingung melihat tingkah ku hari ini. Aku hanya bisa merutuki kebodohan ku kali ini. Argh hanya karena dirinya, aku bisa jadi seperti ini. Kemana diri ku yang tenang seperti biasanya hah? Aku tidak bisa tenang kalau sudah menyangkut gadis yang menulis status ini. Aku sudah lama tidak melihatnya, dan ini status pertama setelah hari itu.

Aku mengambil ponsel ku membaca statusnya lagi. Dia kelihatannya seperti sedang sedih, aku jadi ingin tau apa yang sekarang dirasakannya. Aku melihat sekeliling sambil memikirkan apa yang akan ku tulis di kolom komentar. Pikiran ku mulai menerawang jauh. Dari tempat ku berada sekarang, aku melihat keluar kafe dari dinding kaca kafe milikku. Mengedarkan pandangan ke luar sana. Seperti biasa, orang-orang sibuk dengan halnya sendiri berpacu waktu berjalan berlawanan arah.

Mata ku membulat lebar. Aku melihat sosok yang ku rindu-rindukan belakangan ini. Dia berjalan gontai membawa tasnya dengan lemah seperti tidak bertenaga. Dia benar-benar seperti nenek tua yang pinggangnya sedang diserang encok. Dengan tangan kanannya yang memegang permen tangkai. Tanpa sadar aku malah tertawa pelan dan aku tau kalau Soojung sedang menatap ku aneh sekarang. Dia berhenti lalu menghela nafas, seperti sangat lelah dengan pekerjaannya hari ini. Dia menghisap kembali permen tangkainya, mengulumnya sambil memegang tangkai permen dan melepaskannya, membiarkan permen itu singgah ke dalam mulut lebih lama. Dia menoleh ke arah coffee shop ku berada. Dia melihat kesini, ekspresinya terlihat bingung dan berpikir apakah akan singgah atau tidak. Dia melihat jam tangannya, lalu melihat ke arah sini lagi. Aku meletakkan tangan ku pada dagu dan menikmati setiap perubahan ekspresinya sekarang, tiba-tiba aku tersenyum melihatnya yang ada di seberang tempat ku berada.

Dia mengeluarkan permen tangkai itu dari mulutnya. Matanya tiba-tiba membulat seperti menangkap sesuatu. Dia kelihatan terkaget-kaget dan menunduk lalu menghisap kembali permen tangkainya. Dia berjalan setelah itu, pergi dari pandangan ku. Aku mengernyit bingung. Tak lama dia terjatuh tersenggol seorang ahjumma karena tidak memperhatikan jalanan. Aku beranjak dari kursi, berniat untuk menghampirinya disana. Merasa khawatir melihatnya terjatuh begitu.

“Soojungie aku tinggal dulu. Aku akan segara kembali,” Sooojung tampak bingung tapi dia hanya mengangguk. Aku menoleh ke arah kasir yang ku lihat ada Sangchul disana, “Sangchul-ah, aku pergi sebentar. Tanggung jawab toko, ku berikan pada mu sementara.”

Tanpa mendengar balasan dari Sangchul aku sudah berjalan keluar membuka pintu. Aku menyebrangi jalan untuk mencapainya yang sekarang menunduk minta maaf pada ahjumma tadi. Aku setengah berlari mendekatinya. Aku merangkul pundaknya, dia tampak terkejut. Mulutnya membuka kentara dengan matanya yang melebar, aku hanya tersenyum melihatnya sekilas lalu memandang ahjumma di depannya.

“Jeosonghamnida ahjumma. Pacar ku ini tidak memperhatikan jalan dengan benar. Aku benar-benar minta maaf sebagai gantinya.” Aku membungkuk hormat di depan ahjumma. Ku lirik dia terlihat terkejut. Mulutnya masih membuka. Aish kalau dia lama-lama membuka mulutnya seperti itu, aku khawatir akan ada lalat masuk kesana.

“Baiklah, karena pacar mu sudah minta maaf sopan seperti itu. Aku memaafkan mu, lain kali jangan diulangi ya.” Ahjumma itu berlalu pergi dari hadapan kami. Dia menunduk dan membungkuk hormat begitu ahjumma tersebut berlalu pergi. Orang-orang yang awalnya menjadikan ini sebagai tontonan kembali sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Aku tersenyum melihatnya yang kini tampak terkejut melihat ku lagi. Wajahnya mulai bersemu merah. Dalam diam, jantung ku berdesir hebat melihat ekspresinya yang begitu menyegarkan.

Dia menunduk dengan cepat setelah memasukkan kembali permen tangkainya ke dalam mulut. Kakinya melangkah meninggalkan ku sendirian disini, yang masih merasakan detakan-detakan hebat dari si pemompa darah. Aku mengikutinya dari belakang. Dia menoleh ke belakang dan terlihat kaget lalu mempercepat langkahnya. Aku juga makin mempercepat langkah ku mengikutinya.

Dia mulai berlari pelan mencoba menjauh dari ku. Aku juga ikut berlari mengejarnya. Aku dan dia jadi seperti anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran di tengah khalayak ramai. Melupakan sejenak umur yang makin hari makin bertambah. Aku mengejarnya, dan dia berlari menghindari ku. Sungguh aneh. Cinta memang aneh. Dia kembali lagi menoleh ke arah ku dan makin mempercepat larinya. Aku juga lari makin cepat mengejarnya. Tangkai permennya masih diam manis di bibirnya. Dia makin berlari cepat. Aku mengejarnya tapi tidak ada niatan untuk mendahuluinya.

Aku dan dia berlari hingga keluar dari banyaknya orang yang berlalu lalang di daerah pusat kota. Aku berhenti sejenak karena nafas ku sudah terengah-engah mengejarnya. Ku sandarkan tubuh pada tembok pagar sebuah rumah. Ku lihat dia masih kuat berlari dengan keringat bercucuran hebat dari pelipisnya. Bagaimana bisa dia berlari nonstop dan menghindari ku seperti ini? Aku benar-benar merasa terhenyak karenanya. Nafas ku masih tidak beraturan. Aku kembali melihat dia yang sekarang sudah tidak berlari lagi dan terduduk di jalanan. Tasnya diletakkan begitu saja didekat tubuhnya duduk.

Aku berjalan pelan mendekatinya. Bahunya terlihat turun naik mengatur nafas. Aku menjatuhkan diri ku ke sampingnya. Tanpa menoleh, tapi bisa ku rasakan dia sekarang menutup mulutnya seolah tak percaya.

“Ya. Mau sampai kapan berlari? Kau tidak letih hah?” nafas ku masih terengah-engah. Aku membuang muka ku ke arah berlawanan darinya.

“Mianhe.” Dia bergumam pelan namun dapat ku dengar jelas, karena komplek perumahan yang menjadi perhentian aku dan dia sangat sepi. Aku tersenyum samar. Sang mentari sebentar lagi akan tenggelam dan langit akan menjadi gelap. Mungkin saja akan diterangi sinar rembulan, jika bulan malam ini muncul.

Dia menyodorkan botol air mineral miliknya pada ku. Matanya seperti menyuruh ku untuk meminumnya, dan tangannya bergerak sedikit mengajukan botol itu. Aku mengambilnya dan dengan cepat meneguknya. Ku lirik dia kembali menghisap permen tangkai berwarna merah putih blaster itu lagi. Aku meletakkan botol minuman ke aspal jalanan sambil melihatnya. Dia merasa terusik dan menoleh melihat ku. Mata kami saling bertemu pandang. Waktu terasa berhenti untuk beberapa detik. Mentari yang akan tenggelam seperti mematung melihat kami berdua. Disinari oleh cahaya keemasan jingga aku dan dia diam dalam tangkapan mata masing-masing. Darah ku terasa berpacu kuat, kupu-kupu seperti berterbangan di dalam perut ku. Mata indahnya seperti memasung ku. Aku benar-benar tidak bisa tidak jatuh dalam telaga matanya. Dia berdehem begitu merasakan kami terlalu lama saling berpandangan dengan jarak dekat seperti ini.

“Hei. Kenapa kau menghindari ku?” Aku mengalihkan mata ku pada pemandangan sinar kejinggaan.

Dapat ku rasakan dia sekarang menoleh menghadap ku. Dia menelan ludah seperti enggan ingin mengungkapkan perasaannya.

“Aku mencari mu terus,” aku menoleh lagi melihatnya yang masih melihat ku. “Aku merindukan mu.”

Semilir angin berhembus pelan begitu kami masih saling berpandangan. Aku diam, dia pun juga diam. Dia mengalihkan lagi pandangannya ke depan. Mengeluarkan permen tangkainya dari mulut dan menghisapnya lagi ke dalam mulut.

“Apa maksud mu? Aku tidak mengerti,” Jantung ku serasa ditekan. Dia mengeluarkan permen tangkainya dari mulut dan memegangnya dengan setengah jari bertumpu pada aspal jalanan, “Kau…. Jangan jadi gila secepat ini.”

Aku terbelalak dengan kata-katanya yang pedas seperti penyihir. Peran nenek sihir memang betul-betul cocok untuknya. Aku menoleh menghadapnya. Merasa benar-benar gemas dengan sikapnya yang mulai berubah sejak malam itu. Tanpa pikir panjang, aku meraih dagunya, menghadapkannya ke arah ku. Dia tampak terkesiap begitu melihat ku yang melihatnya dengan ekspresi serius. Wajahnya bersemu merah kembali.

Aku menarik kedua pipinya pelan lalu tersenyum gemas. Dia benar-benar pandai berakting dan berbohong. “Lepaskan Myungsoo-ah.” Tangan kanannya meraih tangan ku dan menggenggamnya berusaha melepaskan genggaman ku dari pipinya.

“Ini hukuman bagi nenek sihir yang mengeluarkan kata-kata jahat,” Aku masih tersenyum seiring dengan bibirnya yang mengerucut lucu. Satu tangannya tadi menggelitiki jari-jari ku sekarang. Dia berhenti menggelitiki jari-jari ku. Tangannya sekarang beralih pada perut ku. Dia menggelitik dengan ganas hingga aku tertawa terbahak-bahak tidak mampu menahan rasa geli.

“A, Hahahahahaa. Ahahahahah. Ha-hahaha—-hahaha….. Jiyeon-ah sudah sudah, jangan disitu. Aku tidak tahan. A hahahahhaa hahahaha…..” aku melepaskan genggaman ku dari pipinya dan menahan tangannya yang menggelitiki perut ku. Aku tertawa geli hingga terlentang di aspal jalanan. Dia berhenti menggelitik begitu aku tidak berdaya untuk melawan lagi.

Jiyeon memasukkan kembali permen tangkainya ke mulut. Lalu tidak memperdulikan ku yang masih meyisakan tawa. Kami terdiam lagi tanpa mengeluarkan suara. Walaupun ada penghuni salah satu rumah di komplek perumahan ini yang tadi keluar, kami tidak menghiraukannya dan asyik sendiri dengan apa yang kami lakukan. Aku masih terbaring melihat langit yang sudah berubah warna menjadi gelap dihiasi goresan kecil langit berwarna oranye gelap.

“Hei Myungsoo-ah. Kenapa kau bilang aku pacar mu tadi?” Aku mendelik kemudian mendudukkan diri ku lagi bersampingan dengannya. Aku mengulum senyum.

“Karena memang begitu. Kita sudah berciuman dan kau resmi menjadi pacar ku mulai dari hari itu. Tapi kenapa yeojachingu ku ini malah menghindari ku….” Aku melirik lalu menoleh melihatnya yang sekarang menunduk menyembunyikan wajahnya yang mulai bersemu merah. Dia masih mengulum permennya.

“Bagaimana dengan Soojung?” Lagi-lagi alis ku mengernyit bingung. Soojung tiba-tiba menjadi topik pembicaraan. Ini tidak ada sangkut pautnya.

“Soojungie? Dia kenapa?” Dia menoleh pada ku dan menggigit bibirnya. Aku menatapnya penuh tanda tanya.

“Ah tidak. Lupakan saja.” Dia kembali menunduk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah lagi. Aku merasa begitu senang melihatnya yang tidak berubah terlalu jauh begitu aku jarang melihatnya. Dia tampak menyembunyikan senyumannya yang merekah dalam tundukan wajahnya. Jantung ku tiba-tiba terasa berdesir hebat.

“Jiyeon-ah…” Aku mulai menggenggam tangannya. Dia menoleh melihat ku dengan wajah yang masih bersemu. “Kenapa kau menghindari ku?”

Dia tampak bingung akan menjawab apa, gelagatnya kelihatan seperti menyembunyikan sesuatu.

“Na-nan moreugeseoyo. A-ak-aku merasa malu, wajah ku rasanya emm panas setiap kali me-melihat mu, dan jantung ku…. Jantung k—…….”

Aku menarik tangkai permen dari mulutnya, memegang permen tangkai itu. Dalam hitungan detik, bibir ku sudah menempel lembut ke bibirnya. Jiyeon memejamkan matanya. Diam-diam meresapi ciuman yang ku berikan. Aku memegang kepalanya dan membelai rambutnya lembut.

Wajah ku agak menjauh dan melihatnya tepat pada bola matanya itu. Jiyeon terdiam menelan ludahnya. Dia memegang pipinya yang terasa merah. Aku tersenyum menampilkan sederetan gigi ku padanya.

“Aku senang kau memiliki perasaan yang sama dengan ku,” Aku mengecup keningnya. Dia tampak membulatkan matanya, Jiyeon menggigit bibirnya gugup. Aku tersenyum kembali.

“Aku ingin mulai sekarang kau tidak menghindari ku lagi. Jangan jauh dari ku lagi.”

Aku mendekatkan kening ku kepadanya. Dia dengan gugup mengangguk lugu. Terlihat sangat lucu dengan sinar rembulan menyinari kami malam ini. Tak lama dia tersenyum. Tidak perlu hal yang terlihat istimewa tapi terpaksa, hanya menjadi diri yang sederhana, apa adanya sudah bisa membuat ku terpesona.

 

 

 

 

THE END

XxxxxxxxxxxxxxxxxxxxX

Notes : Hola! Annyeong~! bener-bener unexpected bnget >w< aku ga nyangka responnya lebih dr ekspektasi awal yg seris pertama. Karna ngerasa itu main asal tulis. Ureshiiiiii(?) Makasiiiih banyak atas respon kalian yg buat aku senyam senyum hahaha *mulailebay* ternyata kalian otak byuntae(?) semua yaaaaa waaaaaaah (pdhal aku lebih yak wkwk)
Well, gatau knapa ga kena wb mau nulis ff ini wkwk~ mungkin rancangan awalnya udh terstruktur kali ya(?) *lah* Aku smangat buat lanjutinnya hahaha~ Dannnnn aku rasa di seris kedua ini kayaknya agak jelek dan rada maksa gitu ya? gaje juga kayaknya….. o.o) mohon masukan2nya jika ada yg kurang berkesan dan ada yg salah. Typonya juga kalau ada bilang2 ya, aku ga edit2 dan posternya itu jg main asal edit doang.
Akhir kata, aku menunggu saran + kritik dr kalian smua ^^ agar kedepannya biar lbh baik lg. Ohiya, di seris ini udh jelas blom gmn? soalnya kmren kyaknya pd bnyak yg blom jelas dan minta kejelasan hahaha. Mumpung blom uts ini bakal cepet mungkin lanjutin *plakk*. Leave ur comments dear🙂 Thanks a lot!

76 responses to “[FICLET] Kiss Series – Peppermint Sugar

  1. Kyaaaa~ suka suka sukaaaaaa 😀😃😄
    Ff nya bikin q senyum” terus,
    pertamanya masih bingung, tp akhirnya ngerti jg berkat kata” myungsoo diakhir.
    Chukhae myungyeon 😘💐

  2. Aiihh manisnya myungsoo oppa, jiyeon eonni cemburu makanya menjauhi myungsoo oppa,
    Tapi gwenchana yang penting sekarang MyungYeon bersatu , kkk~

  3. kyaa so sweet >< hhaha jiyeon menghindari myung gara2 kejadian itu ya xD ternyata myung suka sma jiyeon🙂 soojung itu siapanya myung? Aaah suka bnget sma ffnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s