[CHAPTER 3] A Thousand Years

poster a thousand years pt 3

a special fanfiction by

astriadhima

A Thousand Years

Romance, Angst // Chapter // PG

this fiction casted by :

Park Jiyeon as Wei Jiyi

Kim Myungsoo as El

Suzy as Suzy

Naeun as Naeun

Kai EXO as Kai (Naeun’s Brother)

Disc! Cats isn’t belong to me. I just borrow them for my story.

Prolog| Chapter 1 | Chapter 2

Bagaimana jika seseorang lain datang. kemana ia harus pergi

3rd Chapter

“Siapa bulan siapa Peony?” –Jiyi.

                Sebuah kepala melongok kea rah kamar Madame Ezra. Kedua matanya menyapu ruangan dan mendapati Chu Ma tengah membersihkan meja. Kepala itu masuk mengendap-ngendap dan dengan sengaja menghempaskan pantatnya ke kursi beludru empuk. “Jiyi, Ya Tuhan kelakuanmu.” Teriak Chu Ma terkejut. Kepala itu yang ternyata Jiyi terkikik menuntupi mulutnya. Ia sengaja melonjak-lonjak agar per dalam kursi itu berdenyut-denyut sesuai irama badannya. Didepannya Chu Ma masih mengelap beberapa jambangan. “Kau harus mengganti peony-peony itu Chu Ma. Kulihat Peony mulai mekar kali ini” Seru Jiyi saat mengamati wanita paruh baya itu mencium bunga dalam jambangan. Hidungnya berkerut kemudian. “Aku tak habis pikir mengapa bunga-bunga jaman sekarang mudah apak.” Jiyi tertawa mendengarnya.

Tangan Jiyi terasa gatal untuk membuka penutup mangkuk manisan diatas meja. Ia meraih satu manisan berbentuk bunga dan memakannya. “Menurutmu, mengapa mereka tidak memakan babi? Bukankah sama saja dengan sapi atau domba?” Jiyi bertanya dengan lirih. Chu Ma yang masih sibuk dengan jambangannya seketika menoleh. “Babi? Apa kau belum membuang manisan itu?” teriak Chu Ma tidak sabar. Jiyi menggeleng ringan seolah tidak ada sesuatu yang terjadi. “Kau tahu betapa marahnya Nyonya nanti padaku. Aku menyuruh orang lagi dan ia membeli manisan babi. Bukankah sudah kusuruh kau membuangnya?” suara Chu Ma semakin tinggi. Kedua tangannya ia tautkan di panggul, kentara sekali jika ia sedang marah. Jiyi tetap menggeleng.

“Aku hanya penasaran, mengapa mereka tak memakan ini?” kata Jiyi sambil membolak-balikkan manisan. Wajah Chu Ma semakin mengeras. “Kau beraninya duduk di kursi Nyonya padahal seumur hidup belum pernah aku berani menduduki kursinya. Bahkan saat aku membersihkan ranjangnya, aku tak pernah mencoba mendudukinya.” Jelas Chu Ma. Sebelum sempat Jiyi menangkis pernyataan Chu Ma, terdengar pintu bergeser. Jiyi menutup mangkuk dan pura-pura membantu Chu Ma membersihkan meja. Disabutnya sudur bibir yang berminyak. “Jiyi, apa kau tak keluar bermain bersama El dan saudaranya?” tanya Madame Ezra.

Jiyi hampir lupa mengenai El dan kedua saudaranya. Seingatnya sebelum tadi ia memutuskan untuk meninggalkan ruangan dan mencari pekerjaan lain, seorang gadis yang kata Nyonyanya bernama Naeun memasuki ruang makan. Ia tengah menatap gadis itu yang sangat berbeda dengannya. Saat kedua mata gadis itu bersirobok dengan mata coklat El, hati Jiyi terasa teriris. Ia memilih untuk pergi. “Apakah Jong dan Odelle datang? Aku sudah lama tak melihatnya.” Jawab Jiyi. Ia melirik Chu Ma sekilas. Wanita itu sudah menurunkan volume kemarahannya. Seolah tak terjadi apa-apa, ia mengelap mangkuk manisan tanpa membukanya.

“Alangkah baiknya kau memanggil mereka Tuan Muda dan Nyonya. Maksudku, bagaimanapun dekatnya kalian, kalian tetap berbeda. Kau tahu maksudku kan? Sebentar lagi ada anggota baru dalam keluarga ini. Aku hanya khawatir jika ia tak bisa menerimanya.” Jelas Madame Ezra. Ia memeijit dahinya lalu duduk di di kursi beludru. Jiyi tersentak dengan penjelasan itu. Ia menatap tirai transparan dijendela yang membiaskan sinar mentari. Ia merasa perbedaan yang ada dalam dirinya tumbuh lagi. Entah menjadi tunas atau malah sudah memiliki daun pertama. Yang jelas ketika gadis itu datang, ia bisa merasakan kembali tembok tipis yang menghalanginya. Menghalangi antara dirinya dan El. Setidaknya ia merasa begitu. “Mungkin memang seharusnya begitu.” Ucap Jiyi. Madame Ezra ingin membuka mangkuk manisan tetapi Chu Ma melarangnya. Jiyi yang melihatnya dengan tatapan bingung, mencoba berbicara dengan Chu Ma lewat kontak mata. “Maaf Nyonya, karena hari besar ini saya lupa mengganti manisan di kamar ini.”

 

Saat Jiyi membersihkan ruang makan, pria-pria berjanggut itu (tamu-tamu Ezra) sudah pulang. Mereka meninggalkan banyak gelas-gelas dan pinggan diatas meja. Jong dan Odelle belum pulang, ketiganya tengah duduk-duduk di taman belakang. Dari ruang makan, Jiyi bisa mengamati bagaimana wajah El berseri-seri saat bergurau dengan saudaranya. Jong yang tertawa hingga berguling-guling serta wajah Odelle yang tersiram sinar mentari senja menjadi pemandangan yang luar biasa bagi Jiyi. Beberapa tahun lalu ia diterima dalam pergaulan itu sebagai seorang teman. Bermain bersama dan makan bersama. Namun ketika mereka tumbuh dewasa, akankah ia diterima seperti dulu lagi. Pikiran itu selalu terbesit dalam kepalanya satu atau dua kali. Semakin hari berlalu dan mereka tumbuh dewasa, semakin besar pula arti ‘pelayan’ bagi mereka. Tiba saatnya nanti El harus menikah. Lalu kemana Jiyi akan pergi. Akankah keluarga Ezra menikahkannya dengan seorang petani sama seperti Chu Ma dulu.

El menatap Jiyi dari kejauhan. Ia yakin benar gadis itu tengah menatapnya dan saudaranya. Ditangannya masih terdapat pinggan-pinggan kotor, tetapi tatapannya menatap El dengan kosong. Pemuda itu mengayunkan tangannya diikuti tatapan Jong dan Odelle. “Itukah Jiyi? Sudah lama tak kulihat parasnya.” Odelle bergumam. Jiyi ingin sekali ikut dalam kerumunan kecil itu, tetapi perkataan Madame Ezra tadi mengingatkan bahwa hubungannya dengan mereka hanya pelayan dan tuan. Samar Jiyi menggeleng dan pergi ke belakang untuk menaruh pinggan-pinggan.

 

Esoknya, Jong dan Odelle harus pergi. Saat sarapan Odelle bertemu dengan Jiyi dan melepas rindu. Ia memuji betapa cantiknya Jiyi sekarang. Dengan garis matanya yang panjang dan bola mata yang hitam. Ia menyentuh pipi Jiyi dan ia tersenyum dibuatnya. “Kau sungguh cantik. Keluarga ini sungguh beruntung memilikimu.” Kata Odelle. Jiyi menunduk, mungkin kata memiliki itu bisa diganti dengan kata membeli. Mengingat memang ia dibeli semenjak ia kecil. Ia jadi teringat dengan ibunya, apa wanita itu sudah tumbuh baik dan sehat.

Jong melambaikan tangannya sesudah memeluk anggota keluarga satu persatu. Odelle yang matanya berkaca-kaca tak mengatakan sepatah kata lagi selain “Hiduplah dengan baik”. Untuk bisa pulang dan bersua, Odelle dan Jong perlu Pasah tahun depan. Mereka hanya pulang saat Pasah. Selebihnya mereka akan menjalankan usaha Ezra yang ada di Beijing. Dibelakang kerumunan keluarga, tepatnya dibelakang El, Jiyi berdiri sambil meremas tangan. Bukan Jong dan Odelle yang ia tatap, melainkan El yang berdiri didepannya. Ia memandang bagian belakang rambut lelaki itu yang sedikit pendek. Ia baru menyadari betapa tampannya pemuda itu sekarang. Dengan alis tebal dan hidung yang tinggi. Mungkin jika Jiyi tumbuh sebagai anak saudagar, ia akan menaksir El tanpa alasan. Setelah kereta Jong hilang diujung jalan, El menatap Jiyi dengan tiba-tiba. “Ada apa denganmu beberapa hari ini?”

Jiyi memilih kata untuk ia berikan pada El. Berusaha keras agar tak menyinggung hatinya. Ezra serta Madame Ezra sudah memasuki rumah yang hanya meninggalkan El dan Jiyi sendirian. “Aku hanya menjalankan hari dengan biasa, Tuan Muda.” Jawab Jiyi. Dahi El berkerut saat mendengar kata Tuan Muda dari bibir Jiyi. “Tuan Muda? Sejak kapan kau memanggilku Tuan Muda?” tanya El. Jiyi menurunkan pandanganya “Nyonya besar menyuruhku untuk memanggilmu Tuan Muda mulai sekarang. Bukankah itu lebih sopan?” balas Jiyi. El menggeleng dengan mantap. “Lalu aku harus memanggilmu Tuan Putri?”

“Tidak! Cukup Jiyi saja.”

 

El berganti pakaian yang cukup rapi. Mengenakan atasan warna gading. Ia berjingkat-jingkat dalam kamarnya. Jiyi memasuki ruangannya sambil membawa bubur beras. “Kau akan pergi kemana?” tanya Jiyi. Ia meletakkan mangkuk bubur diatas meja, lalu mengamati Tuannya dengan seksama. “Aku ingin berjalan-jalan di dekat pasar.” Jawabnya santai. Ia membenarkan kancing bajunya. ‘Ada apa dengan pasar?” desak Jiyi.

“Tidak ada.”

“Ada apa dengan tidak ada?”

“Tidak penting.”

“Ada apa dengan tidak penting?”

“Jiyi!.”

Selalu mudah membuat El kesal. Jiyi berusaha menyembunyikan senyumannya. Ia meniup bubur serta mengipasinya dengan kipas kecil agar lebih hangat. “Sangat sulit untuk merahasiakan sesuatu darimu. Kau selalu bisa menggali rahasiaku bahkan sebelum aku sempat merahasiakannya.” Imbuh El. Ia menghampiri Jiyi dan duduk didepannya. Menanti agar buburnya cepat dingin. Jiyi memungut sendok lalu menyendok bubur. El dengan mulut menganga menerima suapan bubur dari Jiyi. “Apa rahasia yang kau simpan di kantng hatimu saat ini?” tanya Jiyi. Gadis itu sedang mengaduk kuah kacang yang sedikit kental. El menatap kuah itu dengan kosong. Ia sibuk dengan rahasianya. Jiyi menyuapinya lagi. Dengan mulut penuh bubur, El mengungkapkan rahasianya.

“Aku melihat seorang gadis yang sungguh cantik.”

 

El berjalan dengan santai di pasar. Menengok para pedagang yang sibuk menjajakan dagangannya. El mengamati saat lelaki gembul saling tawar menawar dengan pembeli. Perutnya bergoyang-goyang saat ia menertawai tawaran pembeli yang cukup rendah. El melirik jajakan disamping lelaki gembul tadi. Gelang dari biji-biji yang dikeringkan. El memilih salah satu dan membelinya. Lalu ia tiba didepan rumah Kung Chen. Rumah itu berada ditengah pasar, setiap hari ia bisa melihat hiruk pikuk pasar keluar masuk dari rumah itu. Sesekali jika ia beruntung ia bisa melihat turis-turis asing yang membeli barang di toko Kung Chen, termasuk dari kaumnya. Bahkan jika ia sedang beruntung lagi, ia bisa melihat anak gadis Kung Chen yang berbaris untuk memasuki rumah. Tepat empat hari yang lalu, El melihat salah satu diantara mereka. Gadis itu lebih tinggi dari saudari-saudarinya tetapi wajahnya paling muda. Ia berdiri dibarisan belakang. Memakai baju China dengan sangat cantik dan anggun. Ia mengenakan selendang untuk menutupi wajahnya agar tak terlihat oaring. Tetapi tetap saja, El masih bisa menembus wajah cantik itu dari sela-sela selendangnya yang transparan.

Pengalaman empat hari lalu membuatnya ingin menemui gadis itu lagi. Sebenarnya hanya sedikit wajah yang bisa ia lihat. Tetapi ia bisa menggambarkan wajah itu dengan sangat baik. Wajah seputih susu, bibir merah jambu, serta garis mata yang lembut. Begitulah penggambarannya, mengingat wajah istri Kung Chen yang sepertinya akan menurun pada anak-anaknya. El memanjangkan kepalanya. Mencari sosok itu kalau-kalau ia tengah berjalan didepan rumah.

El sibuk meremas tangannya saat si gadis tak kunjung nampak. Ia mencebik kesal dan menendang batu hingga menggelepar naas. Ia menatap rumah itu lagi dan lagi. Puluhan orang keluar masuk. Hingga dua orang gadis berselendang sekelebat berjalan didalam rumah. Sekuat tenaga El berjingkat ditengah belasan kepala lain yang mengacaukan. Ia mencoba mendekati rumah itu, tetapi gadis yang ia kira gadis itu ternyata salah. Anak Kung Chen yang lain. El kecewa dan ia pulang ke rumah.

Jiyi menyambutnya dengan segelas air hangat. El duduk dan menyuruh Jiyi mengipasinya. Ia mengkomando agar gadis itu mengipasinya dengan kipas yang besar, agar keringat dan rasa kesalnya cepat hilang katanya. El menarik napas dalam-dalam dan mencoba terlelap. “Bagaimana gadis rahasiamu? Apa dia menampakkan wajahnya? Ia memakai baju apa hari ini?” tanya Jiyi tidak sabar. El membalikkan tubuhnya membelakangi Jiyi, mendecak kesal. “Aku cukup lelah sekarang bahkan untuk berbicara.” Katanya. Jiyi mengipasinya dengan ayunan besar-besar. Membuka jendela-jendela agar udaranya semakin segar.

“Wanita suka sekali dirayu. Kenapa kau tak menulis puisi atau semacamnya?” tanya Jiyi. Ia melirik El yang mati-matian menyembunyikan kepalanya. Ia yakin pemuda itu belum terlelap. Jiyi bangkit dan meraih beberapa lembar kertas dan menepuk bahu El. Cobalah menulis sesuatu.”

El berbalik dengan gusar. Ia melihat dikedua tangan Jiyi terdapat kertas dan pena. Gadis itu mengayunkannya tepat didepan wajah El. “Kau menyuruhku apa?” El mengulangi pertanyaannya pada Jiyi sambil mengerutkan wajah. “Aku hanya bilang jika wanita itu suka dirayu. Kau sebaiknya menulis puisi atau apa.” Jiyi membanting bahunya. Ia meletakkan kertas dan pena itu di meja depan El. Ia bangkit berdiri dan berpura-pura meninggalkan El. Lalu tanpa diragukan lagi pemuda itu menyuruh Jiyi berhenti dan duduk. Jiyi menurutinya dan menuntun El untuk membuat puisi. “Aku tak pandai bersyair tentu saja. Aku hanya bisa melukis di atas kanvas. Bahasaku terlalu lembek, bukankah kau tahu itu.” Seru El sekilas memandang Jiyi. Kemudian ia alihkan lagi pandangannya pada pena yang menggantung diatas kertas. Jiyi mengangguk mantap, menatap pena El yang tak kunjung bersentuhan dengan kertas. “Sejatinya kedua hal itu sama saja. Kau hanya perlu menggambar emosimu dengan kata-kata. Sama seperti saat kau melukis. Kau memikirkan sesuatu dan mengeluarkannya dalam bentuk gambar, sekarang pikirkanlah sesuatu dan gambarkan dengan kata-kata. Ayolah.” Karena tak tahan Jiyi memegang tangan El dan memaksa tangan itu untuk menuiskan sesuatu. “Kau fikir aku bisa menulis dengan seperti ini.” Teriak El. Ia melepas tautan tanganku, mengamati tangannya dan mengeluh kesakitan. “Aku tak menyangka kenapa tanganmu sekuat itu. Tetapi tanganmu hangat.” Imbuh El lagi. Ia kembali memegang pena, mencoba menulis sesuatu. Jiyi yang sudah habis kesabarannya hanya melipat tangan. “Pikirkanlah sesuatu.” Bentak Jiyi.

 

Bulan membasuh hamparan Peony

Disudut paling tepi sebuah Peony mendongak

Gemerlapan diantara rona merah jambu

Bulan hanya tersipu

 

“Tersipu? Menurutmu apa yang harus kutulis lagi setelah kata tersipu?” seru El. Ia mendongakkan wajah menunggu tanggapan dari Jiyi. Tetapi gadis itu memalingkan wajah dan El kembali menulis. Penanya menggantung, ia bingung menulis kata apa lagi. Ia mengamati Jiyi tetapi gadis itu bersikeras membuang muka. “Siapa bulan siapa Peony?” tanya Jiyi.

“Menurutmu?”

 

 

Masih cukup pagi untuk memulai sarapan tetapi Jiyi sudah memasuki kamar El dengan bubur beras. Gadis itu menyibak kelambu hingga sinarnya membuat El terbangun. “Ada apa?” seru lelaki itu kesal. Ia kembali bergumul dengan selimut, menutup kedua telinganya rapat-rapat. Jiyi mengguncangkan tubuh El keras tetapi ia tak kunjung bangun. “Tuan Muda!”Jiyi menggoncang tubuh itu makin keras.

“Tuan Muda!”

“Berhenti memanggilku Tuan Muda dan aku akan sarapan. Sekarang juga.” Erangan El terdengar seperti bentakan. Ia langsung berdiri dan menghampiri meja. Ia bersungut-sungut lalu menyendok bubur tanpa membasuh muka terlebih dahulu. Jiyi yang mematung membawa baskom lalu menaruhnya didekat El. “Aku hanya menuruti kata ibumu. Kau tidak ingin membasuh muka terlebih dahulu?”

 

El berdiri disudut ruangan. Didepan sebuah kayu yang tingginya mencapa langit-langit. Benda itu hanya selebar telapak tangan. Di sisi sampingnya terdapat goresan-goresan tinta untuk menandai tinggi El dari kecil hingga dewasa. Dulu ketika El berumur lima tahun, Madame Ezra menggoreskan tinta tepat seperempat dari tinggi tiang itu. Setiap bulan secara teratur Madame Ezra mengukur tingginya hingga tiang itu penuh dengan coretan hitam. Hingga datangnya Jiyi, kini tugas menghitung tinggi El adalah tugas Jiyi. Setelah mencuci badan dan berganti pakaian, El berdiri dengan kesal didepan tiang itu. Jiyi memegang kuas yang sudah dibasahi dengan tinta. “Aku tak habis pikir kenapa ibumu masih menyuruhku untuk mengukur tinggi badanmu.” Seru Jiyi. Gadis itu berjinjit mensejajarkan tingginya dengan El. Tetapi El terlampau tinggi hingga ia hanya bisa mencapai wajah El. “Mungkin ibuku takut kalau aku menjadi raksasa.”

Jiyi mengeluh karena tak kunjung menorehkan tinta pada tiang. Ia ingin meloncat tetapi tintanya menetes di baju El. ‘Hei hati-hati.” El melipat tangannya. Jiyi mencoba berjinjit sekali lagi. Ototnya seakan molor beberapa meter. Lalu kuas itu menyapu pinggiran tiang dengan samar. Jiyi berteriak lega. Ia menyadari El tengah menatapnya. Dari sudut ini Jiyi bisa mengamati wajah itu dengan jelas. Mata dan hidungnya. ‘Oh, jangan menatapku seperti itu.”

Madame Ezra memasuki kamar. Wajahnya berseri mengalahkan sinar pagi yang merambat lembut kala itu. Ia menengok mangkuk El yang sudah bersih. “Bagaimana tinggimu, Nak?” tanyanya.

Madame Ezra menghampiri El dan mencoba melihat tinta yang ditorehkan Jiyi. “Tak berubah satu incipun.”

Madame Ezra mengangguk. Ia menatap Jiyi dengan tatapan tak kalah bahagia. “Apa kau tak mengantuk, Nak. Kudengar kau tak tidur semalaman. Apa yang kau kerjakan?” tanya Madame Ezra. Jiyi tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia menatap El dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian ia menatap Madame Ezra lagi. “Apakah Chu Ma yang mengatakannya. Aku hanya tak bisa tidur dan mencoba menulis sesuatu. Ah tidak, aku hanya mencari kegiatan lain.”

Madame Ezra hanya menjawab ‘Baiklah’ lalu menatap El. El membalas tatapan itu dengan tidak mengerti. Bola matanya bergerak-gerak menunggu ibunya berbicara. “Hari-harimu akan semakin cerah anakku. Naeun akan datang dan tinggal disini sampai kalian menikah.”

 

 

TBC

Haha akhirnya chap 3 ini rilis juga. Pertama aku mau minta maaf buat readers yang sempet komen di chap 3 dan nggak aku bales. Honestly, aku pengen bales komen kalian tapi malang karena modem aku ada masalah. Jadi harus bela-belain ke warnet buat bales. Dan semoga dengan chap ini bisa mengobati luka hati kalian.

Well, sekali lagi aku minta maaf soalnya di part ini kesan tradisionalnya agak hilang karena aku lagi baca novel TFIOS jadi kebawa-bawa. Maaf juga kalo kurang nyess dihati. Semoga WB aku gak kambuh dan modemku kelar. Selamat membaca😀

Terima kasih yang masih mau bertahan sampai sini.

63 responses to “[CHAPTER 3] A Thousand Years

  1. siapa cewek yg dipasar itu?
    aaaaaa kenapa? kenapa? kenapa? naeun? aaaaaaa jangan pliiiiiissssss😥

  2. Pingback: [CHAPTER 5] A Thousand Years | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s