[FICLET] 3 Boys 1 You

PicsArt_1416022477636

Title: 3 Boys, 1 You

Author: RachelP

Casts: Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Im Siwan

Other casts: Choi Minho

Genre: Romance,school-life

Author’s note:

Hai, hallo, hai~~ ada yang nunggu comeback-ku gaa? Comeback, kambek! Nah, uda deh, gausah banyak curcol, langsung dibaca & tinggalin jejak,ne^^

Based on my real life.

I didnt copy others’ idea

Do not copy

• Jika kau dikejar-kejar oleh banyak orang yang mencintaimu, apa yang akan kau lakukan? •

Jiyeon’s PoV

Hai, aku Park Jiyeon. Aku seorang primadona di kelasku, 12-B. Yah, seperti yang tadi kukatakan. Primadona. Pernahkah kau merasakannya? Eitss, menjadi primadona kelas bukanlah hal yang menyenangkan. Kau tahu, dikejar-kejar oleh orang yang mencintaimu. Baik dari penampilan, sikap, maupun kekayaan.

Ne, yang kurasakan tidak seenak yang kau bayangkan. Dan apalagi, dikejar oleh namja-namja culun?  Aigo, tapi, menyenangkan kalau dikejar namja yang kita sukai. Contohnya diriku ini.

Author’s PoV

Jiyeon terduduk dibawah pohon maple sambil memetik gitar berwarna coklat pemberian oppa-nya, Chanyeol. Ia mengeluarkan dua lembar kertas berwarna-warni yang telah dihias. Ya, kartu ucapan ulang tahun. Hari ini, Jiyeon berulang tahun yang ke-19.

Kertas pertama, ucapan dari Jieun, sahabatnya. Dan satu lagi, dari sepupunya yang tinggal di Nagoya, Jepang. Ia tertawa singkat saat membaca kedua kertas berhiasan manis tersebut. Tanpa ia sadar, ada seorang namja berkacamata besar, melihat seluruh yang ia lakukan tadi. Dia bernama Im Siwan.

Perlahan, ia mendekati Jiyeon. “Happy birthday, Jiyeonie!” Kagetnya sambil mengeluarkan satu kotak coklat dan kartu ucapan dari kantung bajunya. “Aah, Siwan-ssi. Gomawoyo. Chamkkaman, kau tahu dari mana aku berulang tahun?”

“Kau ini primadona sekolah, Jiyeon. Pri-ma-do-na. Dan.. emm, maukah kau menjadi yeojachingu-ku?” Ucapnya dengan wajah bersemu merah. “Siwan-ssi, mianhae.. Aku, aku.. Aku tak bisa menerimamu. Mianhae, aku pergi dulu,” Jiyeon mengangkat gitarnya dan pergi meninggalkan Siwan. Bahkan, coklat dan kartu pemberian Siwan tidak diambil olehnya. Siwan tercengang melihat pemandangan aneh yang baru ia rasakan. ‘Park Jiyeon, kenapa kau menolakku?’

Jiyeon mulai memapakkan kaki keluar dari gerbang sekolah. Tetapi, ada seorang namja memegangi lengannya. “Chamkkaman,” cegah Siwan. “Yak, jinjja! Maumu apa?! Lepaskan!” Emosi Jiyeon sudah tak tertahan lagi. Mengapa ada namja seperti dia? “Aku hanya ingin kau menerimaku,” pinta Siwan.

Mworago? Neo jinjja!” Jiyeon berlari meninggalkan Siwan yang berdiri tak bergeming.

Tok, tokk..

Pintu rumah Jiyeon diketuk dengan keras. “Nuguseyo?” Ucapnya yang sedang berada di ambang pintu. “Tukang pos,” jawab namja paruh baya didepan pagar rumah Jiyeon. Jiyeon berlari kepagar rumahnya. “Dari tuan Choi Minho, untuk nona Park Jiyeon.” Ucapnya. “Ne, itu saya. Ghamsahamnida,”

Tukang pos itu mulai mengayuh sepedanya menuju alamat lain. Jiyeon segera mengunci pagar rumahnya dan masuk kekamarnya. “Choi Minho?” Gumamnya.

Saat dibuka, terteralah tulisan:

Saat aku melihatmu, hatiku berdebar tak karuan.

Saat ku melihat gerak-gerikmu, hatiku tak tertahan lagi.

Aku menyukaimu.

Aku mencintaimu.

Maukah kau menjadi yeojachingu-ku?

Jiyeon berdecak sebal. Tak lain, dan tak bukan, itu adalah surat cinta lagi. Jiyeon merobek surat itu, dan dilemparnya ke tempat sampah. “Jinjja,”

Jiyeon, yang sudah berseragam lengkap, kini tengah mengunci pintu rumah megahnya. Sepasang tangan memegangi pundaknya. “Yak, neo.. Nuguseyo?!” Ucap Jiyeon sambil menepis tangan namja dihadapannya. “Eoh, Choi Minho-ssi. Waeyo?”

“Apa jawabanmu? Apa kau mau menerimaku?” Tanya Minho mengharap. “Mianae, aku menolakmu. Aku duluan,” Jiyeon melangkah terlebih dahulu menuju sekolahnya. “T-tapi..”

Jiyeon tengah melamun dikursinya. Tiba-tiba,

Plukk..

Sebuah pesawat kertas berwarna putih jatuh tepat dikaki Jiyeon. Jiyeon menengok keseluruh penjuru kelas, dan akhirnya ia menemukan Myungsoo tengah tercengir kearahnya. Ia menunjuk-nunjuk kertas yang baru tadi jatuh tepat dikaki Jiyeon.

Jiyeon mengambil kertas itu dan membukanya.

Bertemulah denganku saat jam istirahat di taman belakang. Kutunggu.

Jiyeon mengerutkan keningnya. Tak mengerti. Ia mengeluarkan buku notes berwarna pink dan diselipkan kertas pemberian Myungsoo ditengah-tengah notes tersebut. Ya, itu tempat Jiyeon menyimpan surat-surat dari Myungsoo untuknya.

Jiyeon melangkah cepat menuju taman belakang. Hati dan dirinya tak sabar bertemu dengan sosok yang ia sebut ‘perfect‘ tersebut. Terdapat segerombolan orang disana. “Permisi,”

Saat Jiyeon melihat tengah lingkaran tersebut, terdapatlah Myungsoo berdiri tegap disana. Ia segera menarik lengan Jiyeon. Jiyeon hampir terjatuh, tapi langsung ditangkap oleh Myungsoo. Sekarang, posisi mereka seperti di film-film, Jiyeon tertidur dilengan Myungsoo.

“Jiyeonie.. Will you be mine?” Tanya Myungsoo yang disertai teriak-teriakan gaduh dan histeris dari para penggemar Myungsoo dan Jiyeon. Jantung Jiyeon berdetak lebih cepat dari biasa. Pipinya merah merona. Jiyeon mengangguk malu, dan memeluk Myungsoo, walaupun Jiyeon masih bertiduran dilengan Myungsoo.

Myungsoo membantu Jiyeon berdiri, dan mendekap Jiyeon erat. “Sekarang, Jiyeon milikku. Tak boleh ada yang merebutnya,” Teriak Myungsoo keras-keras. Tanpa diketahui mereka berdua, disebelah barat mereka, Minho berdiri dari jarak jauh, sambil menahan airmatanya. Disebelah selatan, Siwan berdiri tegap, dan segera bersiap-siap berlari sekuat tenaganya menuju rooftop sekolah.

Jiyeon, yang menyadari Siwan yang bermata berkaca-kaca dan sudah tahu, apa yang akan dilakukan Siwan, segera berbisik pada Myungsoo. “Myungie, tunggu sebentar,” Jiyeon berlari menyusul Siwan. Myungsoo-pun membuntuti Jiyeon dengan berlari.

Jiyeon dan Myungsoo telah menemukan Siwan. Ia sekarang berada ditangga menuju rooftop. Mereka mengejar Siwan. Perlahan, Siwan mulai duduk diatas tiang penjaga rooftop tersebut. “Andwae, Siwan-ssi!” Teriak Jiyeon. Siwan mendapati Jiyeon yang berlari kearahnya. “Jiyeon-ah,”

“Bersenang-senanglah dengan Myungsoo. Aku baik-baik saja, tak usah pedulikan aku. Aku akan baik-baik saja disana.” Lirih Siwan. “Siwan-ssi, apa yang kau katakan?! Tidak, Siwan-ssi. Jebal,”

“Aku harus bagaimana lagi? Aku tak tahan melihatmu berduaan dengan pria lain. Aku memilih jalan ini, Jiyeon-ah.” Jiyeon memeluk Siwan dari belakang. “Myungie, bolehkan aku memeluk Siwan? Hanya sekali saja,” ucap Jiyeon. Myungsoo mengangguk. Ia mengerti apa yang telah terjadi.

“Biarkan ini menjadi kenanganmu tentangku. Pelukan pertama dan terakhir. Carilah yang lebih baik dariku. Banyak yeoja lebih perfect dariku, araseo? Aku juga tak ingin melihatmu bersedih. Tolong jangan lakukan hal-hal konyol seperti itu, Siwan-ssi. Kumohon,” airmata Jiyeon mulai berjatuhan. “Yak, jangan nangis, pabo! Aku hanya berakting! Aku ingin melihat, apa kau peduli denganku. Lagipula, aku sudah punya yeojachingu, Kim Namjoo!”

Yakk! Kau.. bisa-bisanya kau!” Jiyeon menginjak sepatu hitam Siwan dengan ganas. “Aa! Appo! Kau berat sekali,” Myungsoo datang dari belakang. “Well, kita sekarang sudah tidak menjadi saingan, Siwan-ah. Aku telah mendapatkan Jiyeon. Dan kau telah mendapat Namjoo..” tutur Myungsoo.

“Aah~~ Aku capek menjadi primadona kelas.. 3 boys, 1 me. Ahahah..” Jiyeon tertawa renyah. “3 Boys?! Jadi, bukan kami berdua saja?!”

-END-

Eotteokhae? Baguskah? Commentnya ditunggu ya^^ gomawo~

39 responses to “[FICLET] 3 Boys 1 You

  1. hahaha jadi sebenarnya jiyeon telah mempunyai hati pada myungsoo terlebih dahulu..kkk~
    pantas saja ia menyimpan surat2 myungsoo.. meski itu cuman lembaran kertas pesawat yang diterbangkan.. cara gak romantis, tapi cukup keren!! ditambah pake adegan memegang jiyeon.. omg!! ok. ini romantis. dadakan. hahaha
    dasar siwan!! gayanya aja yg seperti culun tapi jiwanya playboy punya hahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s