[Ficlet] Kiss Series – Bitter Sweet Coffee

posterrrrrkiss-bttersweetcoffee[Kiss Series] Bitter Sweet Coffee

Presented by Shin Min Rin/Lin

Starring

Park Jiyeon (T-Ara) | Kim Myungsoo/L (Infinite) | and other(s)

PG-15 | Romance, Fluff, and….etc(?) | Ficlet (1400++ words)

!Disclaimer! It purely made by me. The cast(s) is belong to themselves. Copy rights is mine~~

!Summary! Jiyeon bingung mendapatkan perlakuan yang berbeda dari Myungsoo. Dannnnn ciuman lembut beraroma kopi pun tersalur dengan mesra(?) bersama rasa pahit (mungkin) manisnya kopi.  (summary macam apa ini .__.) Check this out k ^^

XxxxxxxxX

Kiss Series!

Bitter Sweet Coffee

Terkadang rasa pahitnya kopi yang tidak ditawar dengan rasa manisnya gula menjadi daya tarik yang kuat bagi si kopi. Sama seperti hidup yang tidak selalu manis. Kadang kita butuh rasa pahit dalam kehidupan agar hidup menjadi lebih menantang dan menarik. Benar bukan?

 

Mata ku meniti jalanan yang basah karena tetesan air hujan. Hawa sekitar berubah menjadi dingin juga. Tapi hawa di sekitar ku terasa hangat karena penghangat ruangan. Aku kembali menghirup kopi hangat yang ku genggam di meja. Menghirup aroma kopi yang amat begitu terasa menenangkan. Sambil memikirkan sesuatu, aku menyesapnya pelan dengan menikmati perubahan rasanya yang terasa berbeda pada belahan bagian lidah. Dengan mata yang masih tetap menatap keluar kaca jendela kafe, aku meletakkan kembali cangkir kopi ke meja dan mulai meletakkan tangan ku pada dagu, menjadikannya tumpuan pada dagu ku.

Aku mulai berpikir tentang hidup, tentang hari ini yang telah ku lewati dari pagi hingga sekarang. Begitu amat melelahkan, sangat banyak hal yang terjadi sampai-sampai aku pusing jika memikirkannya kembali. Aku menghela nafas berat. Lalu mengambil cangkir kopi dan menyesapnya kembali. Hidup memang berat.

“Hei. Apa yang sedang kau pikirkan?”

Aku mengalihkan perhatian ku dari jalanan yang basah akan air hujan dan mendapati seorang pria sedang tersenyum manis di hadapan ku. Jantung ku tiba-tiba berdesir melihat lengkungan manis yang dihiasi lesung di kedua pipinya. Aku terkesiap begitu merasakan pipi ku terasa panas hanya karena melihatnya tersenyum begitu manis seperti itu. Tanpa bisa menjawab pertanyaannya aku lebih memilih mengabaikannya dan mengipas-ngipaskan tangan ku. Lalu menoleh ke arah jalanan yang basah lagi untuk menghindarinya seraya berujar, “Aigo, pemanas ruangannya terlalu panas ya.”

“Ah keureyo? Sangchul-ah, kecilkan sedikit volume pemanas ruangannya.” Dia sedikit berteriak memerintahkan Sangchul yang disambut jawaban ‘ya’ dan berikutnya Sangchul sudah pergi ke belakang mengecilkan pemanas ruangan. Sekarang hawa ruangan menjadi agak sedikit dingin.

“Bagaimana? Apa kau sudah merasa nyaman sekarang?” Aku menoleh, melihatnya yang kini tengah menatap ku. Aku hanya bisa mengangguk agak sedikit kaku, karena sebenarnya itu hanya akal-akalan ku saja. Ku harap pelanggan lain tidak merasa terlalu dingin dan protes.

Dia tersenyum lagi dan menatap ku tepat pada mata ku. Aku agak merasa sedikit aneh dengan sikapnya. Wajah ku lagi-lagi terasa memanas karena aku memberanikan diri menatapnya juga secara langsung di hadapannya. Cepat-cepat aku mengambil cangkir kopi ku dan akan menyesapnya kembali.

“Tunggu sebentar,” tangan ku terhenti begitu mendengar suaranya, aku melihatnya dengan alis sedikit berkerut bingung. “Biar ku coba dulu,” dia meraih cangkir kopi dari tangan ku dan yang bisa ku lakukan hanya membiarkannya melakukan apa yang dia mau sekarang. Aku tak mengerti jalan pikirannya.

Dia menyeruput kopi itu dan matanya menyipit diikuti dengan bibirnya yang mengatup rapat. “Pahit sekali. Kau selalu memesan yang tanpa gula seperti ini. Aku heran dengan selera kopi mu.”

“Aku pikir tanpa gula lebih terasa enak dibandingkan pakai gula. Kalau kau tidak menyukainya cukup bikin kopi sendiri di toko kopi mu ini. Kalau tidak suruh Sangchul saja sana!” Aku meraih cangkir kopi ku dari tangannya dengan cepat lalu menyeruputnya. Dia hanya diam dengan senyuman simpul yang terpasang di wajahnya.

“Arasseo, arasseo. Aku kalah nenek penyihir!” Hah! Mulai lagi. Dia mulai lagi memanggil ku dengan panggilan yang seenaknya.

“Kim Myungsoo! Sudah ku bilang aku tidak suka dipanggil seperti itu.”

“Wae? Kau kan dulu juga pernah menjadi nenek sihir yang menyerang ku di teater. Aku kan hanya bernostalgia sebentar memanggil mu nenek sihir.”

“Tapi kau sudah sering memanggil ku seperti itu Myung dan aku tidak suka. Apa-apaan panggilan nenek sihir itu,” Aku menggembungkan pipi ku gusar. Hah selalu saja. Aku tidak tau apa yang dipikirkannya. Dia sekarang malah tertawa pelan.

“Tidak ada yang lucu.” Myungsoo masih tertawa menampilkan sederetan gigi-giginya dan sangat kelihatan menarik dengan ekspresi seperti itu.

“Hahaha… Mph-Maaf. Maaf. Ekspresi mu kelewat lucu tadi.”

Aku lebih memilih tidak memperdulikannya dan kembali meminum kopi hangat milik ku. Aku melirik dirinya yang kini sudah tidak tertawa seperti tadi. Kini dia malah mengalihkan pandangannya ke arah jalanan yang dibasahi air hujan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Cangkir kopi sudah terletak manis di meja. Aku sekarang melihatnya penasaran dengan siapa yang menelponnya itu.

“Soojungie?”

Soojungie? Soojung? Jung Soojung? Mereka sudah seakrab itu? Aku terlalu dibuai senyuman Myungsoo hari ini sampai lupa soal Soojung dan Myungsoo.

“Ne, besok jadi. Baiklah. Sampai jumpa besok.” Percakapan Myungsoo dengan si penelpon selesai, dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jaket dan menatap ku. Mata ku membulat, terkejut karena tertangkap basah sedang menatapnya. Cepat-cepat ku alihkan mata ku untuk kembali melihat jalanan yang basah dengan rintik hujan. Tetesan air yang jatuh tidak begitu banyak, tapi frekuensinya yang jatuh di genangan air terlihat banyak dan cepat. Sepertinya hujan ini sama seperti hati ku ya? Tidak terlihat begitu sedih tapi rasanya sedih sekali. Haish. Perumpamaan seperti apa itu yang ku buat barusan? tidak ada cocok-cocoknya sama sekali.

Aku terkekeh pelan menanggapi kebodohan ku barusan. Kembali mengambil cangkir kopi ku dan melihat ke depan lagi, yang ternyata masih ada Myungsoo di situ menatap ku lekat dengan ekspresi serius tidak seperti tadi.

Aku tercenung, membatu dengan tatapan elang dari bola matanya yang hitam legam. Tangan ku terhenti sambil memegang cangkir kopi itu. Rinai hujan masih terus berjatuhan sedikit-sedikit dari langit. Aku terpaku oleh tatapan matanya itu tanpa bisa melakukan apapun. Begitu pun juga dia. Kami terdiam, sama-sama terdiam dengan posisi kami.

“Jiyeon-ah,” Suaranya menggelitik ku, dia menyelipkan surai yang menjuntai ke belakang telinga ku. Wajah ku tiba-tiba terasa memanas. “Neomu yeoppeo.”

Dia tersenyum lembut, menampilkan lesung pipinya kembali. Darah ku terasa berdesir. Dada ku membuncah, rasanya seperti ada kembang api besar yang pecah di langit malam begitu mendapatkan perlakuan yang berbeda dari Myungsoo. Aku merasa salah tingkah dengan keadaan saat ini. Ku putuskan untuk menyesap kopi ku dengan menoleh ke arah lain. Hangatnya kopi terasa menyatu dengan panas di wajah ku. Mata ku melihat ke luar. Orang berlalu lalang memakai payung dan kendaraan yang lewat daritadi. Mereka terlihat amat sibuk.

“Kau tahan dengan rasa pahit kopi itu?” Aku menoleh melihat Myungsoo yang kembali melontarkan perkataan. Aku meletakkan cangkir kopi ku ke meja. Lalu menggeleng sambil mengusap bibir ku dengan punggung tangan ku.

“Sekali-kali kau harus mencoba rasa kopi yang manis juga Yeon-ah.”

Alis ku naik sedikit bingung dengan perkataan Myungsoo saat ini. Pelanggan-pelanggan di toko kopi Myungsoo sudah tinggal satu-dua orang. Suasana menjadi amat sepi ditambah suara rintik hujan dari luar. Aku merasa salah tingkah sekarang dan tidak tau harus bersikap seperti apa. Kalau aku melihatnya lagi, takut terkunci dengan tatapan itu lagi. Ku lirik sedikit Myungsoo terkekeh.

“Kau kenapa Myungsoo-ah?”

Myungsoo hari ini aneh, sepertinya ada bagian dari kepalanya yang terbentur. Aku menggeleng heran dengan wajah yang masih terasa panas lalu menyeruput kopi ku lagi. Tepat pada saat ku letakkan cangkir kopi ke meja. Myungsoo menyambar cangkir ku dan menyeruputnya dengan ekspresi enggan. Aku hanya menganga tidak percaya dengan apa yang sedang dilakukannya sekarang. Myungsoo tidak suka kopi pahit, berbeda dengan ku yang suka.

Dia menggerakkan jari telunjuknya kepada ku, membuat ku makin bingung. Kepala ku terasa penuh pertanyaan padanya hari ini. Dia masih menggerak-gerakkan jari telunjuknya kepada ku yang tak ku hiraukan barusan.

“Mwo?”

Dia tidak menjawab dan masih menggerak-gerakkan jarinya seperti menyuruh ku mendekat. Tanpa banyak basa-basi lagi aku mendekatkan wajah ku ke hadapannya. Dia mendekatkan wajahnya juga, hingga wajah kami sangat dekat. Lagi-lagi darah ku memuncak sampai ke pipi. Dia tersenyum lagi dan mendekatkan wajahnya ke telinga ku.

“Jiyeon-ah, mau mencoba rasa kopi yang manis bikinan ku?”

Aku menatapnya dengan bingung, tidak mengerti dengan maksud ucapannya. Dia malah tersenyum polos. Aku melihatnya lama, jantung ku berdegup kencang dengan jarak sedekat ini. Dan akhirnya aku tanpa sadar malah mengangguk dengan tidak mengerti karena penasaran.

Myungsoo tersenyum lagi dan lagi, entah harus berapa kali dia menampilkan senyumannya itu di depan ku malam ini. Dia mengambil cangkir kopi ku lalu menyesapnya. Aku masih diam melihat apa yang akan dilakukannya dengan meminum kopi pahit tanpa gula itu.

Dia mendekatkan wajahnya ke wajah ku. Tak berapa lama, bibirnya dengan lembut sudah menempel pada bibir ku. Mata ku membesar, membelalak kaget. Mata Myungsoo terpejam, rasanya air kopi yang pahit tadi terasa manis diantara bibir kami. Aku pun ikut memejamkan mata, menikmati rasa kopi pahit yang terasa manis sekarang. Tidak peduli dengan tatapan beberapa pelanggan yang ada disana maupun karyawan Myungsoo. Kami melupakannya, dan merasakan dunia hanya milik kami berdua.

Aku pikir, tambahan gula pada kopi ada baiknya juga, dan rasa pahit kopi menambah rasa enaknya kopi itu juga.

 

 

 

THE END

 

 

XxxxxxX

 

Greetings : Haiiiii ^^ Annyeong~~~ aku punya rencana pngen bikin kiss series yg ada cerita berbeda di setiap seriesnya tapi bahas kiss /otak byuntae/ *ditabok readers* hmmmm kira2 gmn? berkenan ga kalian para readersnim? ^^ klo ga yaaa cma ini aja kkkkk
kritik dan saran sangat aku tunggu dan komen kalian juga hehehhe😀 klo ada typo atau cerita gaje dan ga nyambung dan rada maksa gitu maaf yaaaa. okeeeey byeee see ya next time~~

95 responses to “[Ficlet] Kiss Series – Bitter Sweet Coffee

  1. Ceritanya sweet 😘😍💗💕💞
    Tp yg aku gx ngerti hubungan mreka? myungyeon pacaran taw temenan??
    Lalu soojung?
    😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s