LIKE THE FIRST TIME [3]

LIKE THE FIRST TIME [3]

 likethefirsttime

Length : 2.200 words

Type    : Part

Genre  : Romantic, Sad, Little bit comedy, Drama.

Author : @shaffajicasso

Rating  :  PG – 14

Cast     : Park Jiyeon, Kim Myungsoo.

Other   : Lee Jieun, Kim Jongin, Bae Suzy, etc.

Poster  :  Girikwon29@HSG

Jiyeon POV

Aku melangkahkan kakiku menyusuri jalanan ini dan membawaku menuju halte bus. Ya, hari ini aku berangkat sekolah naik bus. Tidak seperti biasanya yang selalu di antar-jemput oleh supir pribadi. Tidak sengaja mataku menangkap seorang anak perempuan yang terjatuh tersandung oleh batu, lututnya terluka. Kemudian gadis kecil itu melempar batu tersebut, dan tepat sekali! Batu itu ternyata melayang jatuh tepat ke punggung seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu marah-marah dan ya mereka sedang beradu mulut. Tanpa sadar, aku tersenyum.

Kemudian aku melanjutkan berjalan menuju halte bus. Sampainya di halte bus, ternyata hari ini aku beruntung. Saat aku sampai, bus sudah datang di waktu yang tepat. Dengan cepat aku masuk ke dalam bus, lalu duduk tepat di samping jendela. Aku menatap keluar jendela, kejadian tadi mengingatkanku kembali pada kejadian 11 tahun yang lalu, pada saat aku berumur 6 tahun…

Flashback

Aku berlarian di sekitar lapangan yang luas ini. Ini begitu menyenangkan. Berlarian kesana kemari tanpa tau apa tujuannya. Hingga aku tidak menyadari di depan ku ada sebuah batu yang berukuran sedang. Dan akhirnya aku tersandung batu tersebut dan terjatuh, darah segar keluar dari lututku. Rasanya ini begitu nyeri dan perih. Aku menangis, ya menangis! Aku memarahi batu tadi yang membuatku tersandung.

“Ya! Kenapa kau harus diam disana, huh? Lihat! Karenamu lututku terluka dan berdarah!”aku mengambil batu itu dan menunjuknya kesal.

“Dasar! Ya! Kenapa kau terdiam? Issh!” aku melempar batu itu asal. Tapi ternyata batu yang tadi aku lempar mengenai seseorang hingga…

“Ya! Apa kau yang melempar batu ini?” datanglah seorang anak laki-laki yang sepertinya seumuran denganku, sepertinya. Aku menoleh.

“Hm, wae?” tanyaku polos-sepolosnya.

“Ishh kau! Gara-gara kau punggungku sakit karena kena lemparan batu ini!” kesal anak laki-laki itu. Aku menatapnya heran. Kenapa dia marah-marah seperti seorang ahjussi?

“Geundae ahjussi, kenapa kau menyalahkanku? Itu bukanlah salahku, salahkan saja batu itu! Kenapa dia jatuh tepat ke punggungmu?” Ucapku dengan polos, lagi.

“Mwo? Kau memanggilku ahjussi?”

“Ne, apa kau tidak mempunyai telinga? Aigoo..” aku mendecak. Namja itu menatapku kesal.

“Geundae, itu! Lututmu berdarah, apa itu tidak sakit?” tanyanya.

“Apa kau pikir tidak? Tentu saja ini sakit, babo!” ucapku.

“Kau menyebalkan!” ucapnya. Aku menatapnya tajam. Dia mengulurkan tangannya.

“Ayo cepat berdiri!” titahnya. Aku menatapnya heran.

“Aku akan membantumu berdiri. Cepatlah!” ucapnya. Aku menerima uluran tangannya.

Mungkin karena bobot badanku terlalu berat, hingga kami berdua kekurangan keseimbangan. Aku ataupun laki-laki ini tidak tau harus melakukan apa. Akhirnya kami terjatuh, dengan posisi terjatuh yang sangat memalukan! Aku berada diatas tubuhnya. Mata kami melotot seketika itu juga, dan…

“Aaaaaaaaa” kami berteriak dengan serempak.

“Ya! Kita masih kecil!!”

Flashback end.

Aku tersenyum pahit, kejadian itu masih belum bisa aku lupakan. Sekarang, bagaimana kabar laki-laki itu? Mungkin, sekarang laki-laki itu sudah bertumbuh menjadi seorang yang dewasa dan menjadi semakin tampan. Huh jinja, aku merindukannya.

Tanpa sadar, ternyata kini bus sudah berhenti. Aku turun dari bus, dan kembali berjalan menuju sekolahku.Ya, tidak terlalu jauh jaraknya dari halte ke sekolah. Jadi, aku tidak akan kelelahan. Aku berjalan menyusuri koridor ini. Hingga langkah kakiku terhenti, karena tepat di depan mataku ada kerumunan para siswa. Tepat di depan kelasku. Ada apa ini? Aku mendekat, tapi langkahku kembali terhenti.

“Park Jiyeon!” seseorang memanggilku, aku menoleh.

“Myungsoo sunbae..”

“Bagaiman keadaanmu?” tanyanya.

“Aku baik-baik saja.”

“Ngomong-ngomong kenapa di depan kelasmu banyak siswa berkumpul?” tanyanya, aku mengangkat bahuku, pertanda tidak tau.

“Entahlah. Sunbae, aku duluan ya. Sampai jumpa!” aku berlalu meninggalkannya.

Aku berusaha masuk ke dalam kerumunan ini. Sungguh, ada apa ini? Kenapa begitu ribut? Akhirnya aku berhasil masuk ke dalam kerumunan ini, aku terus menerobos dan sukses! Aku berhasil masuk ke dalam kelas. Aigoo, ini begitu sesak!

“Jiyeon-ah!” Jieun menghampiriku.

“Ya! Ada murid baru di kelas kita!” bisiknya tepat di telingaku. Aku terkejut. Kemudian aku melihat seorang namja sedang duduk di kursi yang kursinya berada tepat di sampingku. Aku menggangguk mengerti.

Aku melangkahkan kakiku menuju kursiku. Aku meletakkan tas sekolahku, lalu kemudian aku duduk. Pantas saja, ternyata ada murid baru seorang namja. Dan namja ini begitu tampan, pasti yeoja disini menyukainya. Aku melirik sekilas ke murid baru itu, ia sedang membaca buku.

Tidak lama kemudian, bel pertanda masuk berbunyi. Membuat para siswi yang tadi berkumpul di depan kelas kesal karena bel berbunyi, merekapun masuk kedalam kelas masing-masing dengan perasaan kecewa.

“Jiyeon-ah!” Jieun berbalik ke belakang. Ya, kursi Jieun berada di depanku. Tapi, asalnya kursi Jieun berada di sampingku hanya saja sekarang kursi itu beralih penghuni.

“Waeyo?” tanyaku.

“Sekarang, kau akan pulang kemana?”

“Aku? Entahlah. Tapi aku ingin kembali pulang ke apartemen eonni, tapi sepertinya appa akan memarahiku. Lebih baik aku pulang ke rumah saja.” Ucapku.

“Arraso.” Jieun mengangguk, dan ia kembali berbalik ke depan.

**********

 “Halo anak-anak!” datang lah seongsaenim Kim, Kim Soo Hyun.

“Hai saem…”

“Bagaimana kabar kalian?”

“Baik saem.”

“Baguslah. Oh ya, katanya di kelas ini ada murid baru, hm?” tanya Kim saem.

“Ne…” ucap semua para murid serempak. Terkecuali aku.

“Baiklah. Silahkan perkenalkan dulu diri anda!” ucap Soo Hyun. Murid baru itu berdiri dari kursinya.

“Jadi kau murid baru itu? Silahkan perkenalkan dirimu.” ucap Kim saem.

“Ne saem..” aku melihatnya. Ia begitu tinggi.

“Annyeong haseyo, namaku Oh Sehun. Aku pindahan dari Shinhwa. Bangapta, aku harap kita bisa berteman dengan baik.” Ucap murid baru itu yang bernama Sehun. Setelah itu para murid bertepuk tangan.

“Baiklah, Sehun. Selamat datang, aku harap kau betah disini.” Ucap Soo Hyun.

“Baiklah, kita mulai pembelajaran hari ini.”

**********

Saat istirahat berlangsung, aku hanya diam di kelas. Tidak berniat kemanapun. Saat ini, aku ingin diam. Aku memakai headphone ku dan memutarkan lagu. Aku menatap keluar jendela, melihat para murid yang sedang asyik bercanda ria di luar sana. Aku tersenyum. Aku kembali mengingat kejadian 11 tahun yang lalu. Sungguh, itu sungguh konyol. Kejadian saat kita pertama kali bertemu.

Seseorang menepuk bahuku, membuatku menoleh dan membuka headphoneku. Aku menoleh, ternyata Sehun. Ia menatapku.

“Apa ini punyamu?” Sehun memperlihatkan sebuah buku catatan padaku. Aku mengangguk.

“Ini! Orang itu menyuruhku untuk memberikannya padamu.” Ucapnya. Ia menyodorkan buku itu. Aku menerimanya. Sehun pun kembali ke tempat duduknya.

“Gomapta.” Ucapku. Aku kembali memasangkan headphoneku dan kembali menatap keluar jendela.

Aku merasakan handphoneku bergetar. Aku melihatnya ternyata ada sebuah pesan, dari Jongin.

From: Jongin

Jiyeon, apa nanti sepulang sekolah kau ada waktu?
Jika ada, ayo kita makan siang bersama!
Bukankah sudah lama kita tidak makan bersama berdua?
Sepulang sekolah nanti, aku menunggumu di tempat parkir, di bawah pohon sakura.

Aku tersenyum membacanya. Baiklah, Jongin. Aku kembali memasukkan handphoneku kedalam saku  bajuku. Aku menghela nafasku. Tidak tau kenapa aku merasa sangat lelah.

Bel pulang pun berbunyi, pelajaran berakhir. Para murid keluar dari ruang kelas dengan terburu-buru. Aku hanya menghela nafas, rasanya aku malas melakukan apapun. Aku keluar dari ruang kelas dan menuju tempat parkir, untuk menemui Jongin. Sampai di tempat parkir aku melihat Jongin sudah menungguku disana, dengan langkah cepat aku menghampirinya.

“Apa kau sudah lama menunggu?” tanyaku. Jongin menggeleng.

“Aku juga barusaja sampai.” Ucapnya.

“Baiklah. Kita akan makan dimana?”

“Kau mau makan apa?” tanyanya, ia memakai helmnya lalu memberikan helm satunya padaku, aku menatapnya dan memakai helm juga.

“Entah, terserah kau saja.” Ucapku.

“Geurae, kajja.”

**********

“Tumben sekali kau mengajak makan berdua, biasanya kita selalu makan bertiga bersama Jieun.” Ucapku. Aku membalikkan daging yang sedang di panggang.

“Ah? Anhi, hanya saja aku sudah pernah makan berdua dengan Jieun. Jadi aku mengajakmu makan berdua.” Ucapnya. Aku mengangguk.

“Jja! Ini dagingnya!” aku menaruh daging yang barusan aku panggang ke piring Jongin. Jongin mengangguk, dan ia langsung memakannya.

“Makanlah yang banyak..” ucapku. Aku pun juga melahap makanan ini.

“Igeo, bukankah kau suka ini?” Jongin menyodorkan semangkuk sup tahu dan daging didalamnya. Aku tersenyum.

“Gomawo..” aku langsung memakannya.

“Jiyeon-ah..” panggil Jongin.

“Hmm..”

“Aku merasa, kau terlihat berbeda akhir-akhir ini.”

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Ya, kau terlihat beda Jiyeon-ah. Biasanya jika kau sedang makan, kau akan makan dengan sangat lahap dan cepat. Tetapi sekarang yang aku lihat kau terlihat seperti malas memakannya. Apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?”

Aku terdiam. Jongin benar. Beberapa waktu ini aku terlihat berbeda. Apa aku harus memberitau tentang masalahku pada Jongin? Aku menghela nafas. “Jongin-ah, akhir-akhir ini aku sedang ada masalah.” Ucapku.

“Masalah? Masalah apa?” tanyanya. Aku bisa menangkap bahwa ia khawatir.

“Keluarga.” Ucapku. Setelah aku mengucapkan hal itu, Jongin terdiam. Cukup lama suasana menjadi hening. Aku memulainya kemudian.

“Habiskanlah makananmu.” Ucapku. Aku melanjutkan untuk memakan makanan ini.

.

.

AUTHOR POV

Setelah makan siang bersama. Jongin tidak langsung membawa Jiyeon kerumahnya, tetapi ia membawa Jiyeon ke sungai Han. Jiyeon bingung, kenapa Jongin membawanya kemari?

“Kenapa kita kesini?” Jiyeon bertanya. Jongin menghampiri kursi yang tersedia disana, lalu duduk.

“Duduklah disini.” Jongin menepuk tempat kosong disebelahnya. Jiyeon menurutinya, ia duduk disamping Jongin.

“Jiyeon-ah…” panggil Jongin.

“Ya?”

“Sudah berapa lama kita bersahabat kira-kira?” tanya Jongin. Jiyeon berfikir, untuk mengingatnya.

“Hmm, mungkin sudah 8 tahun.” Ucap Jiyeon saat mengingatnya.

“Apa kau ingat saat pertama kalinya kita bertemu?”

Jiyeon mengangguk. “Ya, aku mengingatnya. Saat itu aku sedang menangis, lalu kau dan Jieun datang menghampiriku. Ah, itu sudah lama sekali bukan?” Jiyeon tersenyum mengingatnya.

“Ya, sudah lama sekali..”

Flashback

Dua orang anak kecil sedang berlarian di lapangan yang luas ini. Lebih tepatnya, mereka berkejar-kejaran.

“Ya! Jongin-ah! Kembalikan permenku bodoh!” ucap anak perempuan yang sedari tadi mengejar anak laki-laki.

“Tidak mau! Ini untukku!” ucap anak laki-laki yang bernama Jongin itu.

“Ya! Apa kau ingin aku laporkan pada ahjumma jika kau mengambil permenku!” ancam anak perempuan tersebut. Jongin berhenti berlari.

“Ya! Lee Jieun! Kau!” Jongin berbalik badan, dan menunjuk Jieun.

“Mwo? Apa kau takut? Wleee..” Jieun menjulurkan lidahnya. Dan berlari untuk menghindari serangan Jongin.

“Ya! Awas saja jika kau memberitau eomma!” Jongin mengejar Jieun.

Tapi mungkin karena Jieun yang terlalu lambat berlari, atau Jongin yang cepat berlari. Membuat Jieun tertangkap oleh Jongin, Jongin berhasil meraih lengan Jieun dan menariknya ke belakang hingga membuat Jieun kekurangan keseimbangan dan terjungkir jatuh ke belakang. Karena posisi Jongin ada di belakang Jieun, iapun menjadi ikut terjatuh. Akhinya mereka pun terjatuh berdua.

“Haissh! Jika saja kau tak menarik lenganku kita tidak akan jatuh seperti ini babo!” Jieun menjitak Jongin.

Merasa tidak mau disalahkan, Jongin kesal dan akhirnya angkat bicara. “Kau menyalahkanku? Ishh jinja!”

“Tentu saja, bukankah kau yang menarik lenganku? Jika bukan kau lalu siapa lagi? Hantu begitu?” Jieun berdiri, dan merapihkan bajunya yang terlihat kotor.

“Hiks..hiks..hiks..” Jongin dan Jieun terdiam, saat mendengar suara isak tangis.

“Jieun-ah, kau dengar itu? Suara tangisan itu, apa disini ada hantu?” Jongin berbisik. Jieun memutar bola matanya karena kesal.

“Babo! Dasar penakut! Mana ada hantu siang bolong seperti ini, Kim Jongin! Itu! Ada seorang perempuan seumuran kita sedang menangis.” Jieun menunjuk seorang anak perempuan yang sedang menangis dibawah pohon.

“Kajja! Kita hampiri dia!” Jieun berjalan meninggalkan Jongin. Jongin berlari kecil mengikuti Jieun.

Jieun berjongkok di hadapan anak perempuan itu, dan menatapnya. “Apa yang sedang kau lakukan disini? Dan kenapa kau menangis?” tanya Jieun. Anak perempuan itu menatap Jieun, wajahnya basah oleh bekas air mata.

“Siapa namamu?” tanya Jieun. Jongin ikut berjongkok di samping Jieun, dan menatap anak perempuan itu.

“P-park Jiyeon.” Ucapnya. Ia menatap Jieun dan Jongin bergantian “Apa kalian tidak akan menyakitiku sama seperti apa yang mereka lakukan padaku?” tanya Jiyeon. Jieun bingung.

“Mereka? Siapa?” tanya Jieun. Jiyeon menunjuk sekumpulan anak perempuan yang sedang bermain di lapangan itu dengan jarak yang lumayan jauh dari mereka. Jieun dan Jongin mengikuti arah jari telunjuk Jiyeon.

Jongin mengangguk. “Mereka memang seperti itu. Sikapnya sangat tidak sopan, dan bersikap seenaknya. Memangnya apa yang mereka lakukan padamu?” tanya Jongin.

“Mereka menyiramku dengan air. Mereka bilang aku tidak pantas bermain dengan mereka. Menyebalkan.” Ucap Jiyeon. Jieun melihat penampilan Jiyeon, baju Jiyeon memang basah.

Jongin mengangkat tangannya, dan memegang pipi Jiyeon. Lalu Jongin mengusap air mata Jiyeon, Jongin tersenyum. “Jangan menangis lagi. Aku Jongin, dan dia Jieun. Mulai dari sekarang aku dan Jieun adalah temanmu. Itu artinya kita bertiga adalah teman.” Ucap Jongin. Jiyeon dan Jieun tersenyum mendengarnya.

Flashback off

Jiyeon dan Jongin terdiam. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Jiyeon memainkan jemarinya. Sedangkan Jongin ia terlihat sedang melihat ke arah Sungai Han.

“Park Jiyeon..” panggil Jongin. Jiyeon menoleh.

“Menurutmu, apa mungkin sahabat bisa menjadi cinta?” tanya Jongin. Jiyeon bingung apa yang dibicarakan Jongin.

“Maksudmu?”

“Bagaimana jika ada dua orang sahabat yang sudah bersahabat sangat lama misalnya. Dan, salah satu dari dua orang tersebut ternyata mempunyai perasaan kepada sahabatnya itu. Maksudnya bukan perasaan saling menyayangi hanya sebatas sahabat. Tetapi ada rasa lain yang timbul dari orang tersebut, dan ia merasakan perasaan itu kepada sahabatnya sendiri. Lebih tepatnya mencintai sahabatnya sendiri, sebagai seseorang yang ia cintai, dan menginginkan hubungan yang lebih dari sekedar sahabat.” Ucap Jongin. Jiyeon terdiam, ia berusaha mencerna perkataan Jongin.

“Hmm, menurutku ada. Dan sepertinya banyak sekali yang seperti itu.” Ucap Jiyeon.

“Contohnya? Apa kau bisa memberikan contohnya?” tanya Jongin, ia menatap Jiyeon dalam. Jiyeon menatap Jongin.

“Contoh? Ah, aku belum pernah menemukan yang seperti itu selama hidupku ini. Aku tidak tau..” ucap Jiyeon. “Apa kau tau? Apa kau pernah mendengarnya? Jika iya, siapa?” tanya Jiyeon. Jongin mengangguk.

“Seperti….” Jongin berhenti sejenak.

“Seperti?” Jiyeon mengangkat sebelah alisnya. Menatap Jongin dengan rasa penasaran.

“Seperti aku. Aku mencintai sahabatku sendiri. Dan orang yang aku cintai adalah….”

“Kau. Park Jiyeon.”

.

.

.

To Be Continue

23 responses to “LIKE THE FIRST TIME [3]

  1. ternyata kai suka sma jiyeon thor, dan dia menyatakan perasaannya sma jiyeon😮 siapa anak laki2 yg ada di msa lalu jiyeon thor? Wah ternyata ada sehun jga😀

  2. mwoaaa!!! kai menyatakan perasaannya pada jiyeon!! jinjja!
    lalu bagai mana dg myungsoo?
    lalu sehun?
    aigoo apa hubungannya #plakk haha
    tapi aku suka dengan contoh yg diberikan kai, simple dan jelas!! ahh cakep!
    eh,, sehun kenap tiba2 datang ke sekolah jiyeon? apa ia yg di sebut2 sebagai namjachingu suzy??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s