[Chapter – 6] HIGH SCHOOL LOVERS : Heartbeat

hsl1

 

High School Lovers : Heartbeat

© Flawless

Poster © Swa @ARTFantasy

Park Jiyeon, Krystal Jung (Kim Soojung), Kim Myungsoo, Choi Minho.

 

*

Hanya ada dua alasan kenapa jantung berdetak diluar batas normal.

Pertama, akibat aktifitas ekstrim.

Kedua, akibat jatuh cinta.

 

*

Ada yang aneh dengan dirinya kali ini. Tidak ada detakan seperti dua tahun sebelumnya, semuanya terasa datar tanpa perasaan. Dia bertanya-tanya sendiri pada dirinya, atas alasan apa tubuhnya menunjukkan reaksi yang berbanding terbalik dengan apa yang ada di kepalanya. Sementara pikirannya sudah merasa senang, tubuhnya justru merespon dengan aneh.

 

“Kau kenapa, Myungsoo-ya? Ada yang salah?” Suzy bertanya lembut. Gadis itu mundur dua langkah. Tangannya dimasukkan ke saku seragamnya. Matanya masih terus terfokus pada Myungsoo, menunggu jawaban apa yang akan didengarnya.

 

“Aku harus pergi. Jiyeon, aku punya sesuatu untuk dikatakan padanya.”

 

Ini bukan hal yang Suzy ingin dengar. Sekali lagi Park Jiyeon. Bahkan baru lewat beberapa menit setelah Myungsoo yakin bahwa Jiyeon hanya sekedar teman dan juga obyek yang membuatnya penasaran, tapi sekarang pria itu malah berlari meninggalkannya tanpa peduli apa pun. “Yah, aku memang sudah tergeser oleh gadis itu.”

 

*

 

Jiyeon duduk diam di atas bangku tempat para penonton biasanya melihat pertandingan basket sekolah. Gadis itu berpangku tangan. Dia akan baik-baik saja, ini bukan pertama kalinya dia merasakan hal seperti ini, sebelumnya dia sudah merasakannya jadi dia pasti akan lebih baik setelah menenangkan diri.

 

“Ada masalah?”

 

Jiyeon melihat sang pemilik suara. Choi Minho rupanya. Dia menggeleng lemah, dan kembali pada pikirannya sendiri. Gadis itu bahkan tidak mendengarkan apa yang sedang diucapkan oleh Minho, yang berada di kepalanya saat ini hanya lah bagaimana cara menghilangkan sesak yang menyakitkan ini dari hatinya.

 

“Aku berani bertaruh, ini pasti karena Suzy. Yah, aku juga merasakan apa yang kau rasakan, Jiyeon-ah, mereka berdua sekarang sepertinya berada jauh di depanku, terutama Soojung. Emm, aku rasa berkat Jong In ada jarak besar di antara aku dan Soojung. Bagaimana menurutmu?” Minho mengingat kembali tadi waktu matanya dengan tidak beruntung menemukan Soojung tertawa riang bersama Jong In. Seharusnya dia tidak pernah merubah predikat adik pada Soojung.

 

“Seunbae, kau menyukai Soojung?” Jiyeon akhirnya menoleh, tertarik dengan arah pembicaraan Minho yang sedikit terbuka. Jujur dia dengan Minho tidak terlalu dekat, mereka hanya bertegur kalau itu perlu, tapi sepertinya mulai sekarang dia akan dekat dengan pria yang dikatai kodok oleh Soojung.

 

“Menurutmu?” Minho balik bertanya dengan senyum yang menggoda. Pria itu tertawa, tangannya bergerak menepuk singkat kepala Jiyeon. Setidaknya gadis ini sudah membuat suasana hatinya jadi lebih baik dari sebelumnya.

 

“Wah, Seunbe kau benar-benar menyukai Soojung ternyata,” ujar Jiyeon takjub. Raut wajah muram sudah hilang dari wajahnya, tergantikan dengan raut kesenangan. Beruntung ada Choi Minho, kalau tidak dapat ia pastikan kalau seharian suntuk ini dia akan berpikir tentang luka yang sudah dialamnya.

 

“Jiyeon-ah, aku pikir kita bernasib sama.” Minho memandang jauh ke depan, di sana Soojung dan Jong In sibuk dengan obrolan yang mungkin sangat menarik sampai Soojung tidak mengetahui keberadaannya yang hanya berjarak beberapa meter. “Dilupakan. Menyedihkan, bukan?”

 

“Tidak kita berbeda. Seunbae menyukai Soojung, dan aku tidak menyukai Myungsoo.”

 

Minho menoleh cepat pada Jiyeon, mengetahui bahwa gadis itu secara tidak sengaja baru saja mengatakan apa yang berada dalam hatinya. “Aku tidak mengatakan kau menyukai Myungsoo, kalau kau mau tahu.”

 

Jiyeon kehilangan kalimatnya. Gadis itu menahan malu yang kian merambat dalam dirinya. Ya Tuhan, apa yang baru saja diucapkannya, itu tidak benar ‘kan? Tidak. Itu memang tidak benar, dia tidak boleh menyukai Myungsoo. “Aku tidak menyukai Myungsoo, sungguh.”

 

“Lihat, aku juga bahkan tidak pernah berkata tidak percaya kalau kau tidak menyukai Myungsoo.” Nada menggoda tentu saja terselip diantara kalimatnya, Minho tertawa melihat pipi pucat gadis itu berubah warna menjadi merah muda yang manis. “Kau tahu itu lah mengapa orang-orang selalu mengatakan hal seperti ini ; Reaksi tubuh dan otak tidak pernah sejalan, terutama menyangkut cinta. Bahkan ketika otakmu sudah berkata tidak, tetapi seluruh tubuh, terutama hati pasti selalu berkata ya.”

 

“Seunbae!”

 

Mereka menghabiskan waktu dengan berbagi luka yang sama sebab merasa terlupakan, saling menghibur diri, bercerita hal-hal yang mengundang tawa dan beberapa hal lainnya yang bisa membuat mereka terlepas dari sesak yang memenuhi dada.

 

Gadis itu –Soojung meringis. Ah, Choi Minho sudah benar-benar menyukai Jiyeon. Dia berpaling pada Jong In, berujar mengajak pria berkulit kecoklatan itu segera pergi dari lapangan basket. Jelas ini bukan pemandang bagus untuknya.

 

*

 

Myungsoo melirik Jiyeon yang diam membisu. Tidak biasanya. Pria itu bergerak-gerak gelisah, kepalanya penuh oleh berbagai kemungkinan tentang alasan Jiyeon menjadi pendiam seperti ini. ‘Apa dia marah?’ hanya itu satu-satunya alasan yang muncul di kepalanya yang menurutnya sedikit logis untuk menjelaskan sikap Jiyeon yang tiba-tiba berubah.

 

“Myungsoo..” Jiyeon bersuara untuk kali pertama. Gadis ini berdehem singkat untuk menyadarkan Myungsoo dari lamunannya. “Mulai besok kau tidak perlu mengantarku pulang, aku bisa sendiri.”

 

Tatapan kaget ditujukan kepada Jiyeon. Myungsoo berhenti melangkah, suasana hatinya memburuk usai ucapan Jiyeon. Lihat, dia benar-benar marah, batin Myungsoo berkecambuk. Tapi, sayangnya dia dengan bodohnya menganggukkan kepalanya pertanda setuju atas perkataan Jiyeon.

 

Wajah Jiyeon muram. Hah, apa yang kau harapkan, Park Jiyeon? Gadis ini mendesah, gumpalan asap putih menguap di udara sebab udara yang dingin. Ia memberi jarak antara dirinya dan Myungsoo. Entahlah untuk alasan apa, tapi semenjak mendengar tanpa sengaja kilasan percakapan Myungsoo dan Suzy, ada yang mengganjal dalam dirinya, terutama jantungnya yang bekerja seperti orang yang memiliki kelainan jantung. Berdebar, seperti itulah.

 

Sepanjang jalanan yang mereka tempuh tidak ada lagi suara apa pun yang tecipta. Keduanya lebih memilih hanyut dalam fantasi aneh mereka, dibandingkan harus saling bertegur dan akan menyebabkan suasananya semakin kaku.

 

“Terima kasih,” tutur Jiyeon. Ia membungkukkan kepalanya pada Myungsoo. Lalu, tanpa sepatah kata lagi dia langsung masuk ke area rumahnya.

 

“Tunggu..” Myungsoo menahan pagar rumah Jiyeon yang hendak tertutup. Ia mengambil nafas sejenak, lalu matanya menghujam Jiyeon dengan tatapan yang berbeda. “Apa aku berbuat salah?”

 

Jiyeon tersenyum getir menanggapi pertanyaan Myungsoo. Pria ini bahkan tidak merasa menyesal setelah mengatakan dirinya hanya obyek yang membuatnya penasaran. Tidak kah ini keterlaluan? Jiyeon membalas tatapan Myungsoo, juga dengan tatapan yang berbeda. “Kau bisa bertanya pada dirimu. Kau mungkin pernah salah kata, atau hal lainnya. Semisal kau memiliki jawaban, kau bisa datang padaku. Sampai jumpa.” Jiyeon berbalik, tidak ingin lagi melihat Myungsoo dengan tampang bodohnya. Itu membuatnya terluka. Bagaimana tidak, dia memiliki harapan besar pada Myungsoo, namun pria itu seenaknya saja membuatnya menjadi barang yang hanya sekedar obyek penasaran.

 

*

 

Rembulan kini telah menduduki singgasananya menggantikan posisi sang surya. Tak lupa, ribuan bintang yang berkelip sudah terlihat menemani rembulan yang kesepian. Baik bulan maupun bintang, mereka layaknya satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Apakah suatu saat nanti kita bisa menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan seperti mereka?

 

Jiyeon memaki dirinya atas pemikiran gila yang baru saja berseliwengan di kepalanya. Demi apa pun, dia yakin sedang ada kerusakan pada sistem kerja otaknya. Rasanya, semua yang terpikir olehnya belakangan ini selalu aneh, dan parahnya sosok Kim Myungsoo selalu ikut andil dalam fantasi liar miliknya. Mungkin lain waktu dia harus menemui seorang psikiater.

 

“Jiyeon?”

 

Gadis itu menoleh begitu rasangan suara masuk ke telinganya. Ia tersenyum senang mendapati sosok tinggi dengan tubuh kekar itu tengah berjalan mendekat padanya. Tangannya terangkat di udara, lalu bergerak untuk melambai-lambai pada sosok itu. Ia menepuk bangku taman yang kosong di sebelahnya, bermaksud menyeruh sosok itu duduk di sampingnya.

 

“Apa yang kau lakukan malam-malam di taman? Sendirian pula.” Minho melirik Jiyeon dengan tatapan memicing curiga. Tangannya yang bebas digunakan untuk memeluk tubuhnya sendiri dan berlagak merinding pada Jiyeon. Tawanya meledak tat kala Jiyeon terkekah atas tingkah kecilnya. “Aku berpikir kau sedang bertemu temanmu yang tak kasat mata.”

 

“Seunbae!” Jiyeon merenggut kesal. Pipinya menggebung seraya wajahnya berpaling dari Minho. Ia melipat tangannya di depan dada, pertanda ada kekesalan yang mencuat dalam dirinya sendiri. “Aku tidak punya teman seperti itu tahu.”

 

“Siapa yang tahu.” Minho membalas sembari menjulurkan lidahnya untuk mengejek Jiyeon.

 

“Sekali lagi seunbae menggodaku, aku tidak segan-segan mengatakan pada Soojung kalau seunbae menyukainya.” Ancam Jiyeon dengan nada sarkastik. Kali ini Jiyeon yang mengejek Minho. “Bicara soal Soojung, apa alasan seunbae menyukainya?”

 

Minho memandang Jiyeon sekilas, lalu mengalihkannya pada langit. Senyum yang sangat tipis nampak pada bibir penuhnya. Lalu, dengan mantap diucapkannya sebuah kalimat singkat. “Cinta tidak butuh alasan, Jiyeon-ah.”

 

Jiyeon mengernyit, tidak setuju atas perkataan Minho barusan. Ia memukul kecil kepala Minho agar pria itu menoleh padanya. “Kau salah seunbae! Cinta itu butuh alasan. Kau tidak mungkin menyukainya tanpa sebab, ‘kan? Pasti awalnya ada hal baik pada dirinya yang membuatmu terkesan. Orang-orang mengatakan cinta tidak butuh alasan sebab terlalu banyak alasan di dunia ini untuk sebuah perasaan cinta, hanya saja untuk diungkapkan dengan kata-kata itu rumit.”

 

“Bagaimana kalau aku katakan, aku menyukainya karena dia Kim Soojung.” Minho menaik turunkan alisnya meminta persetujuan atas kalimatnya barusan.

 

“Tidak buruk.” Jiyeon menimpali. Pria ini pasti sangat menyayangi Soojung, bahkan sepertinya melebihi Myungsoo sendiri, pikir Jiyeon.

 

“Sekarang aku yang bertanya. Apa alasanmu menyukai MYUNGSOO?” Minho menekankan huruf-huruf nama Myungsoo, juga membesarkan volume suaranya. Dia tersenyum jahil pada Jiyeon begitu melihat ada rona merah muda lagi di pipinya, meski pun hal itu tidak nampak begitu jelas akibat gelap.

 

“Aku tidak menyukainya!” Jiyeon berteriak menegaskan kepada Minho untuk yang kesekian kalinya. Lama-lama ia jengah kalau harus dituduh seperti itu oleh Minho, dan tentu saja dia merasa malu sebab Minho mengatakannya dengan lantang.

 

“Sebaiknya kau harus bergerak, atau Suzy akan mengambil Myungsoo darimu.”

 

“Aku tidak menyukainya seunbae!”

 

Minho menggeleng, tidak percaya sama sekali atas penolakan Jiyeon. Pria itu meraih cepat pergelangan Jiyeon, lalu memeriksa denyut nadinya. Selama beberapa saat wajahnya terlihat berpikir, dan akhirnya senyum menggoda pun nampak sangat jelas di wajah tampannya. “Kau berdebar, ‘kan?”

 

Jiyeon terlihat kian gugup. Dilepaskannya cengkraman Minho dari pergelangannya. Wajahnya memaling, terlalu malu untuk melihat Minho lagi. “Aku tidak berdebar!” tukasnya tajam.

 

“Hanya ada dua alasan kenapa jantung berdetak diluar batas normal. Pertama, akibat aktifitas ekstrim. Kedua, akibat jatuh cinta. Dari kedua alasan itu, pilihan kedua adalah satu-satunya alasan paling logis.” Minho membalas enteng. Ia merenggangkan kedua tangannya di udara. Sudah tidak mau ambil pusing dengan lilitan perasaan Jiyeon mengenai Myungsoo, toh gadis itu nanti akan menyadarinya sendiri kalau saatnya tiba.

 

“Sudah lah, aku mau pulang.” Jiyeon bangkit dari duduknya, berniat untuk segera meninggalkan Minho dengan segala spekulasinya yang membuatnya pusing sendiri. Mulai langkahnya bergerak perlahan melintasi jalanan yang lumayan sepi akan orang yang berlalu lalang.

 

*

 

“Oppa!” Soojung berteriak senyaring mungkin untuk menyadarkan Myungsoo dari lamunannya yang berkepanjangan. Ia berkacak pinggang di hadapan Myungsoo, tak habis pikir dengan kakaknya yang berubah sikap semenjak pulang sekolah. Myungsoo jadi lebih diam. Demi Tuhan, kakaknya bukan tipe yang suka diam seperti ini, makanya ia menyimpulkan pasti ada sebuah masalah yang mengganjal hati kakaknya. “Ya! KIM MYUNGSOO!” Soojung kali ini berteriak tepat pada telinga Myungsoo, hingga rangsangan suaranya lebih mudah ditangkap oleh gendang telinga kakaknya.

 

“Aku tidak tuli, Soojung!” Ketus Myungsoo. Ia melemparkan bantal sofa pada wajah adiknya dengan kesal. Mengganggu saja, gerutunya. Dia butuh waktu berpikir, butuh waktu untuk mengingat kesalahan apa yang sudah ia perbuat pada Jiyeon.

 

“Selain tuli apalagi sebutan untuk orang yang tidak bisa mendengar ketika sedang dipanggil, huh?” Soojung melipat tangannya di depan dada sembari memasang wajah kesal yang dibuat-buat. Ia berhambur duduk ke samping Myungsoo. Jari telunjuknnya menusuk-nusuk pipi Myungsoo, bermaksud menggoda kakaknya. Siapa tahu nanti kakaknya bisa normal kembali.

 

Diam. Tak ada reaksi marah-marah yang diberikan Myungsoo, pria itu masih terlalu larut dalam pikirannya sendiri. Diabaikannya berbagai macam gangguan dari Soojung. Sekarang hanya Park Jiyeon yang melintasi otaknya, tidak ada nama lain.

 

“Baik. Sekarang katakan apa masalahnya?” Soojung memaksa Myungsoo melihatnya. Tatapannya meneliti Myungsoo baik-baik. “Park Jiyeon, aku benar?” Soojung memangku wajahnya dengan tangan. Dengan sabar ia menunggu jawaban keluar dari mulut Myungsoo. Ah, rasanya seperti kembali ke masa-masa saat kakaknya ini patah hati karena Suzy. Soojung mengenang.

 

“Hmm, aku sedang berpikir apa kesalahan yang sudah ku perbuat.” Myungsoo mengacak rambutnya hingga begitu berantakan. Tidak ada Kim Myungsoo, si tampan yang berkarisma. Sekarang ia lebih mirip gelandangan di pinggir kota.

 

“Pagi ini dia baik-baik saja. Mungkin saat jam istirahat saat Oppa dan Suzy berbicara bersama. Apa yang kalian bicarakan?”

 

Myungsoo memijat pelipisnya berharap ada kilasan memori yang masih bisa tersimpan dalam kepalanya. Nyaris lima menit terlewat setelah Myungsoo berpikir, namun sepersekian detik berikutnya wajahnya nampak memujat bagai kehilangan nyawa. “Aku mengatakan pada Suzy, kalau dia obyek yang membuatku penasaran, Soojung-ah..” suara Myungsoo lirih, seperti sebuah bisikan kecil.

 

Mata Soojung membulat sempurna. Ini kakaknya, ‘kan? Tapi, bagaimana bisa kakaknya berkata seperti itu? Hal ini benar-benar tidak masuk dalam pemikirannya sama sekali. “Bagaimana bisa.. Ya Tuhan, Jiyeon orang yang baru membuka dirinya, dan Oppa, kau menghancurkannya!” Soojung memekik marah. Siapa pun pasti akan beraksi seperti Jiyeon, misal ada orang yang kau anggap special dan hanya menganggapmu sebagai obyek yang membuat penasaran. Gila.

 

“Aku tidak sengaja. Hal itu keluar begitu saja.”

 

“Minta maaf. SEKARANG!” Soojung memekik, dan telunjuknya mengisyaratkan Myungsoo harus segera pergi dengan menunjuk pintu keluar rumah mereka.

*

Myungsoo bersandar pada dinding pagar rumah Jiyeon. Ia masih terlalu takut untuk menemui gadis itu sekarang, tapi masalahnya akan semakin runyam kalau ia memutuskan kembali. Ah, pantas saja sewaktu berbicara dengan Suzy tadi ada perasaan tidak enak menghampirinya, dan ternyata seperti ini. Tentu kalau Myungsoo tahu sejak awal ia pasti sudah menarik semua kalimatnya tadi.

 

Pria itu merapatkan jacket miliknya guna mempertahankan suhu tubuhnya tetap hangat. Ia menoleh ke kanan-kiri, memastikan jika tidak ada yang melihatnya dan menganggapnya seorang pencuri sama seperti Jiyeon.

 

“Myungsoo,” tegur Jiyeon. Gadis itu membuat guratan penuh tanya di keningnya mana kala matanya berhasil mengunci posisi Myungsoo. Ia mendekat, lalu memandang Myungsoo dari atas sampai bawah. “Apa yang kau lakukan?”

 

Bukan jawaban dalam bentuk kata yang diberikan Myungsoo. Pria itu malah langsung menarik paksa Jiyeon, dan membuat gadis itu jatuh dalam rengkuhan tubuhnya. Ia mempererat rengkuhannya seolah-olah Jiyeon bisa pergi kapan saja. “Maaf.” Hanya itu satu-satunya kata yang terlontar setelah ia mati-matian mencari kalimat apa yang akan diucapkannya sebagai permohonan maaf.

 

“Tidak apa-apa, lagi pula itu memang kenyataan.” Jiyeon tersenyum lirih.

 

“Awalnya begitu, tapi sekarang aku benar-benar menyayangimu sebagai seorang teman, Jiyeon-ah.”

 

Untuk kali pertama ada sesak di dada gadis itu setelah mendengar kata teman dari Myungsoo. Rasanya seperti ada dua gunung yang menghimpitnya sampai ia kesulitan bernapas. Lalu, ia teringat semua ucapan Minho padanya hari ini. Benarkah ia menyukai Myungsoo? Tetesan bening itu jatuh sekali lagi, dan untuk orang yang sama.

 

Myungsoo melepaskan Jiyeon, dan memandang mata gadis itu yang masih mengeluarkan kirstal bening. Ia tersenyum menampakkan wajah seceria mungkin. “Kali ini kau benar-benar harus percaya padaku. Aku menyayangimu sama seperti Soojung.”

 

Diluar dugaan. Myungsoo mengecup sebelah mata Jiyeon yang masih berurai air mata. Entah untuk alasan apa, tapi pria itu hanya ingin melakukan apa pun bisikan yang berasal dari dalam dirinya.

 

Selama beberapa waktu keduanya membeku bagaikan patung. Begitu terkejut atas reaksi tubuh mereka yang terbilang aneh. Jelas perintah otak sudah berteriak menyuruh mereka berjauhan, namun tentu saja reaksi tubuh mereka sama sekali tidak menampakkan penolakan sama sekali, justru keduanya lebih memilih untuk diam dan sama-sama saling berpikir mengenai sebuah perasaan yang timbul dalam diri mereka sendiri.

 

 

*

 

Sekali lagi pagi datang begitu cepat. Terik matahari pagi sudah menyinari setiap celah dari gedung-gedung pencakar langit, termasuk sekolah Myungsoo. Nampak puluhan siswa-siswi saling berebutan melewati pagar sekolah, sebegitu takut akan terlambat dan mendapat hukuman berlari mengelilingi lapangan.

 

Kim Jong In berjalan berdampingan dengan Soojung. Pria itu merangkul Soojung tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Sesekali ia lempar senyum tipis kepada beberapa murid yang dilewatinya, dan sesekali ia juga tersenyum secerah matahari pada Soojung. Ya, hanya pada Soojung.

 

“Sudah lama sekali,” ucap Jong In setengah menghayal. Pria itu mengadahkan kepalanya, melihat indahnya langit ciptaanNya. “Aku sangat merindukanmu, Soojung.”

 

Soojung mencubit perut Jong In, dan memasang wajah seolah ingin muntah. Lalu, ia terbahak setelah menerima reaksi Jong In yang seperti biasanya selalu memasang wajah merajuk yang dibuat-buat hingga membuat kesan idiot melekat padanya.

 

“Hei.” Myungsoo muncul bagai makhluk halus di samping Soojung. Ekspresinya tanpa dosa, sampai-sampai membuat Soojung ingin menghancurkan wajahnya. Ia melirik Jong In, lalu menoleh ke belakang melihat Minho yang berjalan dengan wajah kesal. “Kau melupakan Minho, adikku sayang,” bisik Myungsoo, seraya matanya mengisyaratkan kehadiran Minho.

 

Manik Soojung bertemu tatap dengan Minho, itu pun hanya beberapa detik dan ia sudah berpaling lagi untuk menatap Myungsoo. “Dia baik-baik saja dengan itu. Lagi pula, lihat wajahnya, berseri-seri.”

 

Myungsoo menepuk wajahnya sendiri saking kesalnya. Adiknya adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak peka. “Dia menyukaimu, bodoh!” Myungsoo membuang pandangan dari Soojung, terlalu malas untuk melihat ekspresi Soojung.

 

“Myungsoo-ya.”

 

Waktu terasa berhenti selama beberapa menit bagi Myungsoo. Ia terpaku. Jiyeon, dengan senyumnya yang begitu manis berlari ke arahnya sembari tidak berhenti melambaikan tangannya. Rona merah terlukis di wajah tampan pria itu, sementara sudut bibirnya perlahan tertarik membuat sebuah senyuman yang tak kalah manis dari Jiyeon.

 

Soojung melongo. Gadis itu berulang kali membuang pandangan kepada Jiyeon, dan balik lagi kepada Myungsoo. Ia menyadarinya, ada yang berbeda dari kedua orang itu. Hari ini mereka sangat berbunga-bunga. Kalau mau mengingat kemarin mereka sempat berselisih, dan hari ini sudah sangat akur, Soojung yakin pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Tidak lama, ia terbahak, lalu berjinjit untuk berbisik pada Myungsoo. “Oppa menyukainya, ‘kan?”

 

 TBC

p.s : Pertama, masih ada yang ingat cerita ini? atau semuanya udah lupa. Gak papa lah, ini juga mungkin sebab akunya yang lama update jadi begini.

Tapi aku berterima kasih banget kalau masih ada readers sebelumnya, atau yang baru masih mau menyempatkan diri membaca bahkan komen di ff ini.

Untuk bulan ini, kalau tugas sekolah gak super duper, aku rencanain dan usahain bulan ini sudah sampai part 8. tapi, kalau gak bisa jangan marah ya.

*Kecup

46 responses to “[Chapter – 6] HIGH SCHOOL LOVERS : Heartbeat

  1. Clear…seenggaknya kesalahpahaman jiyeon myungsoo udh terselesaikan, tp mereka blm mengakui klo saling suka ya
    Justru soojung nih kyk nya yg salah paham, sangkain nya minho suka jiyeon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s