He Was Kissed Her Cheek

tumblr_ne5tuqaE13d1s11n58o1_r2_500_副本

Fanfiction : He was Kissed Her’s Cheeks

Author : PJYKYUR_

Main cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Cast: INFINITE, T-ARA, Jung Soojung oc

Leght : oneshoot

Rating : pg 17

Note : Story is Mine!

Warning : Typo, Gaje, Random

—————————————————-

—————————————————-

Suara gaduh memenuhi lorong kamar apartemen yang ditempati T-ara selama tinggal di Beijing China.

“apa yang dia baik-baik saja?” bisikan itu jelas-jelas menembus pintu kayu pembatas antara ke-lima gadis cantik itu dengan seorang gadis yang sedang tertidur lelap.

Jiyeon-gadis itu- tengah terlalap dengan nyamannya, suara deringan ponsel bahkan tidak membuatnya terbangun dari alam mimpinya.

“dia tertidur, jangan berisik. Ayo kita pergi dari sini. Sial! Pria bodoh itu benar-benar membuatku kesal” suara Eunjung -gadis dengan rambut pendek itu- menggertak, mengepalkan tangan yang jatuh bebas disisi-sisi tubuhnya.

“aku bosan dia menelponku” Boram bahkan lebih terlihat kesal, memang biasanya Boram lebih bisa untuk bersikap santai, namun kali ini entah kenapa amarah gadis itu sudah sampai dibatas akhir, siap meledak jika saja orang yang dia maksud tepat berada dijarak pandangnya.

“itu sepenuhnya bukan salah Myungsoo” Soyeon berucap dengan iba.

Hyomin mendelik kesal, diikuti dengan tatapan memburu dari Boram, dua orang itu memang terlihat paling tidak senang, dan meskipun hanya diam dan terlihat acuh sebelumnya, Qri lebih kesal dari pada siapapun yang terlihat. “kau membela orang yang menyakiti Jiyeon? Tidak Soyeon, aku sudah peringatkan dari awal. Harusnya bocah itu tidak datang dan merusak kehidupan Jiyeon, semuanya selalu berhubungan dengan dia dan dia, aku tidak bisa lagi mentoleransi hal semacam ini, cukup saja” Qri melipat tangannya selagi berceloteh dengan sangat cepat.

Hyomin dan Boram mengangguk, Eunjung mendesah pasrah, karena sebenarnya ini bukanlah jalan terbaik untuk gadis kecil mereka, berdebat dan membebankan semua kesalahan pada Myungsoo. Eunjung tau betapa Myungsoo begitu mencintai Jiyeon, dan begitupun sebaliknya. Hanya saja, semua tidak mungkin akan selalu berjalan sesuai apa yang kita kehendaki bukan? Mereka hanya terlahir di takdir dan jalan yang salah.

“sudahlah, kita tidur saja, besok kita harus bangun pagi untuk bersiap” Soyeon menengahi dan berlalu menuju kamarnya, Eunjung mengikuti Soyeon. Jika hal-hal seperti ini terjadi, biasanya Eunjung sebagai teman sekamar Jiyeon akan mengungsi dikamar lain, seperti keadaan darurat sekarang.

***

Morning Beijing, China

“Jiyeon~ssi, suaramu serak, banyaklah minum air putih dan minum vitamnmu” seorang pria dengan kumis agak tebal tampak menggelengkan kepalanya sesekali ketika mendengarkan rekaman yang tadi sudah diambil.

“ye, maafkan aku. Akhir-akhir ini staminaku kurang fit” seolah tanpa beban, gadis itu tersenyum, membuat beberapa gadis yang tau akan keadaannya kemarin mendesah sedih.

***

Pengambilan suara dan editing melody sudah berjalan cukup baik, tetapi Jiyeon tetap menatap kearah ponselnya dengan tatapan kosong.

“Jiyeon, jangan menahannya, jangan menekan diriku sendiri” Soyeon menatap Jiyeon iba, namun gadis yang menjadi lawan bicaranya itu hanya tersenyum tipis.

“aku tidak menahan apa-apa. Kau tidak perlau khawatir Eonnie” ucap gadis itu dengan mencoba lebih tersenyum lebar.

Soyeon mendesah, tidak cukup sabar dengan kelakukan Magnaenya itu. Dengan gerakan cepat Soyeon menarik tangan Jiyeon dan menatap memberlain dengan pandangan seolah berkata ‘jangan mengikuti kami’. Dan selanjutnya Soyeon menarik kearah atap dari gedung itu.

***

“jangan membuat kami lebih khawatir Jiyeon” Soyeon menatap Jiyeon letih, dia juga merasa lelah dengan keadaan Magnaenya itu, menutupi semuanya dan membuat seolah tidak terjadi apa-apa.

Jiyeon terdiam, dan selanjutnya setetes air mata jatuh dipipinya, isakan gadis itu mulai terdengar dan sekarang semuanya menjadi jelas. Jiyeon terluka dan lebih dari itu dia sudah menahan semuanya selama 3 hari ini.

“katakan semua yang ingin kau katakan” Soyeon berucap lirih namun mensugenti Jiyeon dengan baik.

Gadis itu terduduk dan menarik lututnya lebih dekat dan menyembunyikan wajahnya, menangis lebih kencang.

“Eottehkae Eonnie? Apa, Neomu apaseo, Jeongmal. Aku sudah tidak kuat lagi, bersamanya begitu menyakitkan. Mereka mencintainya Eonnie, seperti aku mencintainya. Gadis itu dengan terang-terangan berkata akan mendapatkan Myungsoo. Aku takut, setiap kali dia tidak bersamaku, aku selalu gundah Eonnie. Aku pikir dengan semua ucapannya setidaknya bisa lebih baik. Tapi sekarang dia bahkan tidak mengucapkan apa-apa padaku, seolah dia akan pergi jauh Eonnie. Aku takut, aku sangat takut Eonnie” gadis itu terisak dan sesegukan.

Soyeon mendekati Jiyeon dan duduk sembari memeluk gadis itu. “dia masih mencintaimu., kau tidak boleh egois, bukankah kau juga sama sepertinya. Kalain sama-sama Idol, kau tahu lebih dari siapapun tentang perasaan Myungsoo sekarang” ucap Soyeon lembut.

Jiyon menahan isakannya. “tapi aku selalu mengatakannya kepada Myungsoo, aku mengungkapkannya tanpa satupun yang aku rahasiakan. Tapi dia tidak, dia menyembunyikan itu dariku.” Jiyeon terdiam lalu tertawa sinis, hanya tawa kecil yang sedikit menakutkan. “menyembunyikan? Bagaimana bisa pria itu begitu bodoh dan berpikir dia dapat menyembunyikan hal ini dariku?” ucapnya dengan penekanan.

Myungsoo’s pov

Sial! Sial! Ini benar-benar diluar dugaanku, Park Jiyeon! Harusnya kau melakukan seperti biasa, memarahiku dan mengumpan kasar kearahku. Bahkan kau harusnya terbang kesini dan menamparku. “SHITTT AARRRGGHH!!” aku melempar galas yang kupegang tanpa sadar, terduduk karena kakiku yang terasa tidak berdaya, seperti semua tenagaku disedot tanpa tau kemana perginya, benar-benar sial, bahkan sekarang aku merasa susah untuk berbicara, aku ingin menangis tapi tak ada tenaga lagi untukku melakukan sesuatu.

“PRANGGGGG” seakan suara dari efek kegiatan yang kulakukan tadi terlambat memantul keindra pendengaranku, seolah yang tadi kulakukan seperti gerakan slowmotion dan membuat gelas itu jatuh kelantai dalam detik yang sangat lama, nyaris begitu pelan seolah tak ada gravitasi yang bekerja.

Author’s poV

“apa yang terjadi?” beberapa pria tampak kaget dan berlari kearah suara pecahan itu berasal.

Pria-pria itu terbelalak melihat bagaimana kacaunya keadaan Visual mereka itu. “Myungsoo, kau kenapa?” tanya Woohyun lalu menghambur untuk mendekati pemuda itu.

Myungsoo memang tidak terlihat dari tadi karena sibuk mencoba menelpon Jiyeon didalam kamar, namun tiba-tiba dia keluar dari kamar dengan hanya berteriak “aku haus” namun yang terjadi beberapa menit kemudian semua member yang tengah sibuk dengan masing-masing kegiatan itu dikejutkan dengan bunyi pecahan kaca dari dapur.

“Myungsoo kau baik-baik saja?” pertanyaan itu datang dan diikuti pertanyaan lain dari beberapa orang pemuda yang juga menatapnya khawatir, tapi seolah tidak sadarkan diri Myungsoo tetap tidak bergeming, namun matanya tetap tertuju pada pecahan kaca yang tadi dia lempar.

“Jiyeon, Na Eottehke?” dia menggerakkan jari-jarinya untuk menggapai pecahan kaca itu meskipun dia tidak yakin akan melakukannya jika dia tetap berdiam diri disana. Seolah Jiyeon tengah menatapnya dengan murka, setitik air mata jatuh dari pelupuk mata pemuda itu. “Chagia~ Mianhaeyo, jeongmal Mianhae. Na Eottheohke? Apa yang aku lakukan agar aku bisa mendengar suaramu? Dunia ini tiba-tiba gelap Jiyeon, aku rasanya seperti tidak bisa bernafas” tangisnya pecah begitu saja, pemuda itu menangis sejadi-jadinya, menyesali perbuatanya, menyesali takdir yang selalu menghujatnya dengan begitu banyak kesakitan.

“Ya! Kim Myungsoo! Kau sadarlah! Ini tidak akan membuat keadaan lebih baik” Hoya mendelik kesal dan menarik kerah baju yang dipakai Myungsoo.

Myungsoo menatap Hoya sayu, seolah dia berdiri sekarang hanya ditumpu tangan Hoya yang membuat lehernya tercekik. Tapi entah kenapa, dia merasa hatinya lebih sakit dan ngilu dari pada lehernya itu.

“sadar bodoh!” Hoya meninju Myungsoo dengan kekesalan yang membuncak.

“Ya! Lee Howon” Dongwoo menarik lengan Hoya ketika pria itu kembali ingin menarik kerah baju Myungsoo.

Sunggyu dengan cepat memapah Myungsoo untuk berdiri, dan yang lainnya tampak terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Mereka sedikit syok, ini adalah kali pertama Visual mereka serapuh ini, ini kali pertama mereka melihat Myungsoo seperti mayat hidup yang siap untuk dibakar, begitu pasrah.

“Myungsoo, kau! Kenapa jadi seperti ini?” Sunggyu menatap Myungsoo lelah, tidak percaya dengan keadaan pemuda itu.

Myungsoo menarik napas, seolah akhirnya setelah perjuangan yang begitu sengit untuk mempertahankan nyawanya agar tetap berada ditubuhnya dia menatap sekelilingnya, wajah Sungjong yang datar tanpa ekspresi, tetapi jelas saja pemuda itu jauh lebih khawatir dari siapa saja yang melihat Myungsoo sekarang, wajah Hoya yang memerah menahan marah dan selebihnya-wajah iba yang kentara.

“aku tidak bisa mendengar suaranya, Hyung. Tidak sekarang dan aku takut ia menyiksaku untuk seumur hidupku Hyung. Aku sangat takut” Myungsoo tampak menggigil disaat dia berbicara.

Ini memang kali pertama Jiyeon mendiaminya  sudah lebih dari 2 hari sejak perilisan episode film yang dibintangi oleh pemuda itu.

Flashback On

From : My Love

Aku tidak tau ternyata Oppa akan mencium gadis itu, dan bodohnya aku benar-benar tidak tau apa-apa

Itu sederet kata-kata terakhir yang masih belum dihapus oleh Myungsoo, terdiam dilayar pesan diponselnya, tak bergerak atau bahkan mungkin bisa saja berubah.

Setelah itu, Jiyeon tidak bisa dihubungi, hari pertama Myungsoo mencoba untuk menerima keadaan dan membiarkan gadis itu untuk sendirian, meskipun Myungsoo agak merasa aneh karena tidak biasanya Jiyeon diam.

Jiyeon adalah gadis yang cerewet, tidak suka menyimpan sakit sendirian sehingga ia suka marah-marah untuk melimpahkan kekesalannya. Tapi sekarang berbeda, tidak lagi suara Jiyeon yang memenuhi indra pendengan pria itu, tidak ada lagi Myungsoo yang melihat bagaimana lucunya bibir manis Jiyeon saat gadis itu berceloteh kesal.

***

Hari berikutnya Myungsoo tetap mencoba untuk menghubungi Jiyeon tetapi tak satupun dari panggilannya gadis itu indahkan, bahkan saat Myungsoo ataupun member lain mencoba mnghubungi Jiyeon lewat Eonnie-Eonnienya tak ada satupun yang bisa membantunya berbicara dengan Jiyeon, gadis itu seolah tidak ingin berbicara dengan Myungsoo.

Dan puncaknya adalah pesan dari Boram

From : Boram Noona

Jangan pernah menghubungi Jiyeon lagi, kau hanya membuatnya menangis. Dan saat melihat namamu yang selalu tertera diponselnya membuatnya semakin terpuruk

Dan disitu Myungsoo tidak bisa mengendalikan tubuhnya, semua yang ada seperti berputar dan dia berada didunia yang berbeda, berkebalikan dari bumi yang biasa dia pijak.

Flashback Off

Myungsoo’s pov

Aku tidak tau kenapa aku sudah berada dikamar dan disinari oleh sinar mentari yang menghangatkan tubuhku, tetapi aku seperti terbakar. Dari hatiku seolah ada api yang menjalar dan menghanguskan seluruh tubuhku.

Aku terhenyak menatap jam yang tertempel tepat didinding samping kiriku, terlonjak dan berlari seolah lantai yang kupijak akan retak dan membuatku tenggelam pada lubang hitam yang tidak berdasar.

***

Beijing China

Qri terlonjak kaget ketika mendapati Myungsoo ada didepan matanya, berada tepat didepan pintu apartemen mereka.

“Noona apa Jiyon ada?” ucapnya dengan senyum ramah, namun dibalik topi itu semua bisa tahu tanpa make up mata Myungso sangat menyedihkan, bahkan dari matanya saja bisa dilihat bagaimana pemuda itu tampak kegitu kacau.

“untuk apa kau kesini?” Qri menatap Myungsoo sinis.

Myungsoo agak terkejut, dia tidak pernah menemukan Qri seperti ini sebelumnya. Baginya Qri adalah Noona yang sangat lembut dan tak pernah marah, Qri adalah yang termasuk paling ramah dari semua member T-ara yang ia kenal.

“aku harus menjelaskan semuanya kepada Jiyeon, aku tidak mau dia salah paham tentang Dramaku. Sungguh Noona aku hanya ingin profesioanal dengan pekerjaanku, aku yakin kau mengertiku” nadanya memohon, meminta pengertian yang sangat dari Qri.

Gadis itu mendesah, tidak habis tentang bagaimana bias pemuda yang ada didepannya ini dating jauh-jauh ke Beijing hanya untuk menjelaskan semuanya pada Magnaenya itu. Tidak ada alasan untuk Qri menidakkan ucapan Myungsoo.

“dia sedang beristirahat, dan jangan terlalu memaksanya” ucap Qri menjauhkan diri dari pintu agar Myungsoo bias masuk.

***

Myungsoo’s pov

Tubuhku bergetar hebat ketika kudapati gadisku tertidur diranjangnya, beberapa helai rambutnya jatuh menutup wajah cantiknya, aku tidak tahu apa yang tergambar diwajahku saat ini.

Dia bergerak risih, seolah menyadari keberadaanku. Dan beberapa saat kemudian dia mendudukkan dirinya, menatap diriku kaget.

“Oppa, apa yang kau lakukan disini?” Dia menatapku dengan mata sayunya, aku mendekatinya dan tanpa bias kutahan ku peluk tubuhnya erat. Dia tersentak dan menegang, namun aku menyadari setelahnya dia mencoba untuk rilex.

“bogoshipo Chagia, jeongmal bogoshipoyo” kubenamkan wajahku diantara tngkuknya, menghirup aroma tubuhnya yang sama sekali tidak berubah.

Namun tidak ada respon dari Jiyeon, aku melepaskan pelukanku dan menatapnya resah, “maafkan aku, aku tahu aku salah. Aku dating kesini untuk meminta pengampunanmu Chagia~” aku merenggun, sesuatu yang jarang kugunakan bersamanya.

Dia mengalihkan tatapannya menatap tempan lain, aku menarik napas panjang dan menangkup pipinya. “apa karena aku melakukan seperti ini pada gadis itu sehingga kau mendiamkan ku dan membuatku hampis mati selama 3 hari ini?” Aku mengecup pipinya.

Author’s pov

Jiyeon bergeming saat Myungsoo mengecup pipinya dengan lembut, sangat lembut sehinga membuat gadis itu merinding, menyadari betapa Myungsoo begitu merindukannya begitupun ia.

“apa yang harus aku lakukan agar kau berhenti mendiamkanku?” Myungsoo berujar pasrah, tidak tau lagi akan berbuat apa.

Jiyeon menatap Myungsoo dengan datar lalu menarik tubuhnya dari pelukan Myungsoo, “kau berjanji akan mengatakan semuanya padaku, apapun pekerjaanmu yang berhubungan dengan wanita-wanita itu. Bahkan kali ini dengan gadis itu, dia mencintaimu Myungsoo, dia sangat mencintaimu, dia cantik, terkenal dan semua yang dia miliki lebih dari yang aku punya. Aku hanya takut, saat kau bersama mereka-bersama orang-orang yang begitu bersinar- kau akan pergi jauh dariku. Dan sekarang kau bahkan mencium pipinya” Jiyeon tidak menangis, dia sudah cukup untuk menitikkan air matanya.

Myungsoo kembali menarik tubuh Jiyeon dan kembali memeluk tubuh gadis itu. “Jiyeon, aku hanya takut hubungan kita akan buruk selama proses syutingku dan membuat semua konsentrasiku hancur karena hanya memikirkanmu. Jangan membuatku gila, aku hanya mencium pipinya dan itu karena tuntutan dramaku, dan bukankah aku sudah menciummu lebih dari itu. Bahkan aku sudah berjanji jika nanti aku akan menciumi semua yang ada padamu”

“Ya!!!” Jiyeon memukul punggung Myungsoo, sehingga pemuda itu berteriak ngilu.

“Neo! Byeonte!” Teriak Jiyeon dengan muka memerah, namun melihat reaksi Jiyeon Myungsoo malah memeluk gadis itu.

“aku lebih baik merasa sakit secara fisik karena kau pukul seperti ini dari pada kau diami dan membuat hati dan pikiranku sakit, itu lebih menakutkan” Myungsoo berucap dengan lirih, kembali membenamkan wajahnya di tengkuk gadis itu.

Wajah Jiyeon memerah, hembusan nafas Myungsoo yang teratur itu membuatnya merinding. “dia memang cantik, dia juga terkenal dan mungkin bagi orang lain dia lebih segalanya darimu. Tapi kau harus tahu satu hal Jiyeon~a. Meskipun sekarang tidak ada orang lain yang tau, gadisku harus dan wajib tau. Gadis paling cantik, gadis paling sempurna dan gadis paling aku cintai hanya gadis yang akan aku nikahi nantinya, gadis yang sekarang sedang ku peluk. Aku tidak akan berpaling dengan mudah, apalagi untuk menjauh dan membuatmu merasa sendiri, aku tidak akan melakukannya” seperti suara dari surga, ucapan Myungsoo membuat Jiyeon merasa tenang, namun entah kenapa dia kembali menangis, tapi tangis itu disertai sebuah senyum yang begitu lebar.

“aku hanya akan memaafkanmu kali ini saja” ucap Jiyeon mencoba berucap ketus.

Namun dia malah menemukan Myungsoo mendesah bosan, melepaskan pelukannya dengan Jiyeon dan menatap gadis itu “jadi hanya ini lalu kau memaafkanku? Kenapa mudah sekali? Aku kira aku harus mencuci mukutku agar tidak ada lagi bekas gadis itu, ya mencuci mulutku dengan mulutmu bukan ide yang buruk” ucap Myungsoo.

“Kau! Cepat pulang ke Seoul” teriak Jiyeon jengkel.

-END-

31 responses to “He Was Kissed Her Cheek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s