LIKE THE FIRST TIME! [2]

poster-like-the-first-time

Lenght : Part / Chapter

Genre : Romance & Sad

Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other Cast : Cari sendiri wookeh ^^

Author : @shaffajicasso

NB : Don’t be silent readers! Don’t forget for RCL ^^

Hai hai…!! Lanjutan nya dataaaangg ^-^ 
Makasih udah mau baca part satu nya….!!
Makasih atas komenan kalian ya ^-^ 
Maaf gak bisa bales satu satu :( 

Buat yang tanya kenapa ortu Jiyeon bertengkar di part sebelumnya?
Penyebabnya, ada disini😀 Dan maaf kalo kependekan..
Yaudah, silahkan dibaca ya. Jangan lupa RCL! Thanksseu :* 

Happy Reading .. ^^

Author POV

Jiyeon memasuki kelas, ia menundukkan kepalanya. Tujuannya hanya satu yaitu, agar tidak ada yang tahu bahwa matanya sembab karena menangis semalam. Jiyeon duduk dikursinya, lalu ia menatap keluar jendela.

“Jiyeon-ah, kau sudah datang?” Jieun menghampiri sahabatnya itu. Jieun berusaha melihat wajah Jiyeon, tapi Jiyeon terus menghindar.

“Jiyeon-ah, wae irraeyo?”Jieun memiringkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah Jiyeon. Dan begitu terkejutnya Jieun, saat melihat wajah sahabatnya yang mendekati hancur.

“Jiyeon, gwaenchana? Ada apa dengan wajahmu, Jiyeon-ah? Apa kau menangis semalam? Katakan padaku apa yang terjadi padamu Jiyeon-ah.!”Jieun langsung melontarkan beberapa pertanyaan.

“Gwaenchana, Jieun-ah..”ucap Jiyeon, ia tersenyum pahit.

“Kau begitu pucat. Apa kau yakin tidak apa-apa?” tanya Jieun khawatir.

“Aku baik-baik saja, sudah jangan berlebihan..”ucap Jiyeon menenangkan. Jieun mengambil sesuatu di dalam tas ransel nya.

“Ige, kau minum dulu…”Jieun menyodorkan botol minuman air putih. Jiyeon mengambilnya.

“Gomawo, kau memang baik…”Jiyeon langsung meminumnya.

“Apa kau sudah sarapan? Kita masih punya waktu 40 menit sebelum masuk..”ucap Jieun.

“Aku belum sarapan, tadi aku terburu-buru untuk berangkat. Kajja kita ke kantin, aku lapar..”ucap Jiyeon. Jieun mengangguk.

********

“Ayo, ceritakan padaku. Sebenarnya apa yang membuatmu menjadi seperti ini Park Jiyeon? Kau yakin tidak terjadi apa-apa?” tanya Jieun. Jiyeon berhenti dari aktifitasnya.

“Orang tuaku bertengkar semalam, dan aku menangisi mereka. Hingga mataku sembab dan hampir mendekati hancur.”ucap Jiyeon. Barusaja Jieun akan menjawab, tiba-tiba datang Myungsoo dan Jongin.

“Kami mencari kalian kemana-mana, ternyata kalian ada disini..”ucap Jongin. Jongin duduk di samping Jieun, sedangkan Myungsoo duduk disamping Jiyeon. Jiyeon mengacuhkan Myungsoo dan Jongin, ia masih asyik dengan dunianya.

“Kau selalu seperti itu Jiyeon-ah, mengacuhkan orang lain. Kau terlalu asyik makan, perutmu itu sebenarnya terbuat dari karet, huh?” Jongin meledek.

“Diam kau, Kim Jongin!” ucap Jiyeon tanpa mengalihkan pandangannya. Sementara Myungsoo menatap Jiyeon yang sedang asyik makan.

‘Ekspresi wajahnya sangat lucu, jika sedang makan. Aku menyukainya..”batin Myungsoo, lalu tersenyum.

“Ya! Kim Jongin! Kenapa kau mengambil minumanku, huh? Bukankah kau diberi uang oleh orangtuamu yang notabennya kaya!”kesal Jieun, ia mengambil minumannya yang direbut oleh Jongin.

“Kau pelit sekali, Lee Jieun!!” Jongin menopang dagunya. Lalu menatap Jieun.

“Wae? Wae kau selalu saja mencari gara-gara denganku, Kim Jongin!”kesal Jieun. Akhirnya mereka berdua pun bertengkar.

“Ya! Jangan mengambil minumanku lagi! Beli sana, bukankah kau mempunyai uang??”Jieun bertambah kesal. Mereka masih beradu mulut memperebutkan minuman.

“Uhuk uhuk..!” Jiyeon tersedak. Myungsoo terperanjat kaget, lalu ia mengambil minuman yang sedang Jieun dan Jongin perebutkan. Jongin dan Jieun terbengong melihatnya, karena Myungsoo memberikan minuman itu ke Jiyeon.

“Waeyo?” Jiyeon tersadar kalau Jongin dan Jieun sedang menatapnya. Jieun merengek sembari menunjuk minumannya yang kini mungkin sudah habis diminum oleh Jiyeon.

“Kenapa kau berhenti? Ayo teruskan makannya!” ucap Myungsoo. Jiyeon menoleh kearah Myungsoo.

“Ya! Bagaimana aku bisa meneruskan makan! Lagipula ini sudah habis, apa aku harus memakan tempatnya juga?!”ucap Jiyeon. Myungsoo tersenyum.

“Yasudah, makan saja sekalian!”ucap Myungsoo. Jiyeon kaget, dengan cepat menjitak kepala Myungsoo.

“Micheosseo? Aku ini masih normal sunbae..”ucap Jiyeon. Jiyeon melihat jam tangan nya.

“Kau tidak sopan, Park Jiyeon dengan kakak kelasmu!”ucap Myungsoo kesal.

“Kajja kita ke kelas, masih ada waktu 15 menit sebelum masuk.”ucap Jiyeon.

Jieun melangkah duluan sembari menghentak-hentakkan kakinya kesal. Lalu disusul oleh Jongin, Jongin langsung merangkul Jieun.  Jiyeon dan Myungsoo mengekor dibelakang mereka berdua.

“Ya! Kim Jongin! Lepaskan tanganmu yang kotor itu!”ucap Jieun.

********

Selama pelajaran berlangsung, Jieun tidak berbicara kepada Jiyeon. Mungkin ia masih kesal dengan kejadian tadi. Sikap Jieun yang seperti itu membuat Jiyeon risih.

“Jieun-ah, kau kenapa? Apa kau marah padaku?” tanya Jiyeon pelan. Karena takut terdengar oleh guru.

“Tentu saja!” Jawab Jieun ketus.

“Jieun-ah, kenapa kau bicara ketus seperti itu? Kau marah kenapa? Apa salahku?”tanya Jiyeon pelan.

“Park Jiyeon! Lee Jieun!”Jiyeon dan Jieun terperanjat kaget.

“Jaesonghabnida sonsaengnim…”ucap Jieun menyesal.

“Sekarang kalian keluar dari ruangan ini! Berdiri di depan kelas, menunggu bel istirahat berbunyi.”ucap Kang sonsaengnim.

“Ne, saem..”ucap Jiyeon. Mereka berduapun bangkit dari duduk mereka masing-masing.

“Jaesonghaeyo..”ucap Jiyeon dan Jieun. Lalu mereka keluar dari kelas itu.

Jieun POV

Hening, aku ataupun Jiyeon tidak berani membuka pembicaraan. Memulainya pun enggan.
Jiyeon menghela napas.

“Mianata, Jieun-ah…”Jiyeon membuka suara. Aku terdiam tak menjawab.

“Jieun-ah, mianata. Jeongmal mianata, Jieunnie…”Jiyeon menundukkan kepalanya.

“Untuk apa?”aku memberanikan diri untuk bicara. Jiyeon mendongakan kepalanya, ia tersenyum.

“Karena aku, kau menjadi dihukum. Padahal sebenarnya akulah yang memulai, dan seharusnya aku yang dihukum..”ucapnya. Aku terdiam kembali. Suasana kembali hening.

“Mianata..”ucap Jiyeon singkat. Aku menghela napas.

“Gwaenchana! Keugae mianata, karena aku sudah marah padamu…”ucapku. Tiba-tiba Jiyeon memelukku.

“Anio, gwaenchana! Wajar saja jika kau marah, Jieun-ah..”ucapnya.

“Aigoo, aku rindu acara berpelukan ini. Gomawo, kau sudah menjadi sahabatku, Jieun-ah. Saranghae Jieunnie…”ucap Jiyeon. Aku membalas pelukannya. Aku terharu mendengarnya.

“Nado saranghae, Jiyeon-ah!”lirihku. Air mataku keluar begitu saja, tanpa komando apapun. Jiyeon melepas pelukannya.

“Jieun-ah kau menangis? Uljimayo, aku tidak ingin melihatmu menangis!”ucap Jiyeon, ia menyeka air mataku.

“Aku hanya terharu, lagipula ini adalah air mata kebahagiaan…”ucapku. Aku tersenyum, Jiyeonpun tersenyum kearahku.

********

KRIING KRIING

Bel istirahatpun berbunyi. Aku dan Jiyeon meghela napas lega. Kami memukul-mukul betis kami masing-masing, karena ini sangat pegal. Bayangkan, 1 jam 45 menit kami berdiri. Aigoo, ini sangat pegal.

“Eoh? Kenapa kalian disini?” kami berdua menoleh, Kim Myungsoo.

“Aahh, sunbae. Annyeong haseyo..”sapaku. Aku lihat Jiyeon hanya bersikap biasa saja, tidak menyapa Myungsoo sunbae.

“Kami dihukum, dan kami disuruh berdiri disini sampai bel istirahat berbunyi. Kami berdiri disini selama 1 jam 45 menit. “ucap Jiyeon dengan wajah kesal.

“Mwo? Dihukum? Hhahahahaha….”seketika itu pula tawa Myungsoo sunbae menggelegar. Membuat para murid yang melewat melihat kearah kami bertiga.

“Ya!” Jiyeon menendang kaki Myungsoo sunbae.

“Aaaww! Ya! Apo!” kesal Myungsoo sunbae. Aku menahan tawaku.

“Jiyeon-ah!”ada yang memanggil, kami bertiga menoleh. Ternyata itu Seulong sunbae. Jiyeon berlari kecil menghampiriya. Lalu menggandeng Seulong sunbae.

“Sunbae….”rengek Jiyeon seperti anak kecil. Aku tersenyum.

“Nugu?”bisik Myungsoo sunbae.

“Itu Seulong sunbae. Jiyeon sangat dekat dengannya, banyak yang iri kepada mereka berdua karena kedekatan mereka. Mereka selalu menunjukkan kedekatan mereka berdua, sampai-sampai para murid disekolah ini mengira bahwa mereka adalah pasangan…”ucapku. Myungsoo sunbae mengangguk-anggukan kepalanya.

“Geurae, annyeong sunbae!” Jiyeon melambaikan tangannya kepada Seulong. Percakapan mereka sudah berakhir. Seulong sunbae pun pergi meninggalkan Jiyeon. Aku dan Myungsoo sunbae menghampirinya.

“Ya!  Apa kau sudah tidak waras? Kenapa kau senyum-senyum sendiri? Apa kau menyukainya? Apa kau mencintai nya?”Myungsoo sunbae, melontarkan beberapa pertanyaan kepada Jiyeon. Yang sepertinya membuat Jiyeon kesal. Jiyeon memukul lengan Myungsoo sunbae.

“Keugae anio! Aku hanya menganggap nya oppaku saja, arraji? Wae? Apa kau cemburu? Sehingga kau khawatir aku akan menyukai Seulong sunbae?”tanya Jiyeon dengan percaya diri. Myungsoo sunbae tertawa, lalu mengacak rambut Jiyeon.

“Cuci mukamu sana!”titah Myungsoo sunbae, aku terkekeh. Jiyeon mempoutkan bibirnya.

Aku lihat para murid disini sedang fokus melihat Jiyeon dan Myungsoo sunbae yang sedang bertengkar seperti anak kecil. Sepertinya mereka akan menjadi bahan gosipan sekarang.

“Sudah berhenti! Berhenti mengacak-acak rambutku! Aku bukan anak kecil lagi!”kesal Jiyeon, Jiyeon merapikan rambutnya. Aku bisa lihat wajah Jiyeon yang terlihat begitu kesal. Tapi seketika itu pula wajah Jiyeon berubah menjadi pucat.

“Park Jiyeon, neo gwaenchana? Wajahmu pucat kembali!”ucap Myungsoo sunbae. Aku terkejut. Jadi Jiyeon pernah pucat sebelumnya, dan Myungsoo sunbae mengetahuinya?

“Jiyeon-ah neo gwaenchanayo??” tanyaku khawatir.

“Kalian ini bicara apa? Tentu saja aku ini – ” Jiyeon berhenti, ia memegang perutnya.

“Aaahhh…”ringis nya kesakitan.

“Perutmu sakit kembali?”tanya Myungsoo sunbae panik. Aku kembali terkejut. Kenapa aku tidak mengetahui ini semua?

“Sunbae, tolong bawa Jiyeon keruang kesehatan!” mohonku.

“Arraso..”ucap Myungsoo sunbae. Tapi tiba-tiba saja tubuh Jiyeon melemas, dan…. Jiyeon pingsan! Tubuhnya tepat jatuh menimpa tubuh Myungsoo sunbae. Tentu saja Myungsoo sunbae kepanikan.

“Aisshh!”Myungsoo sunbae menggendong Jiyeon ala bridal style.

“Kajja Jieun-ah!”

**********

Author POV

“Sulli-ah, eottokeh?”tanya Jieun khawatir, kini sekujur tubuh Jieun bergetar karena panik. Keringat nya penuh dengan keringat dingin.

“Tenang saja, Jiyeon baik-baik saja. Hanya tinggal menunggu Jiyeon sadar dari pingsannya. Tidak usah panik..” ucap Sulli, Sulli menenangkan Jieun.

“Eottokeh? Aku benar-benar khawatir pada Jiyeon.”lirih Jieun.

“Myungsoo sunbae, terima kasih..” ucap Jieun kepada Myungsoo.

“Ya, ini sudah kedua kalinya Jiyeon seperti ini.” Ucap Myungsoo, ia menatap Jiyeon yang masih memejamkan matanya.

“Dua kali?” tanya Jieun kaget. Myungsoo mengangguk.

“Semalam, dan sekarang.” Ucap Myungsoo.

“Jiyeon-ah….” Lirih Jieun.

“Euung~” ringisan kecil keluar dari mulut Jiyeon.

“Jiyeon-ah, kau sudah sadar?” Jieun menggenggam tangan Jiyeon.

“Jieun-ah, kenapa aku ada disini?” tanya Jiyeon dengan suara yang serak.

“Tadi kau pingsan Jiyeon. Untung saja ada Myungsoo sunbae, ia yang membawamu kesini.” Ucap Jieun.

“Sunbae, gomawo. Kau sudah menolongku untuk yang kedua kalinya.” Ucap Jiyeon.

“Ck! Di satu sisi kau bisa menjadi galak, dan di satu sisi kau lemah seperti sekarang ini.” Ucap Myungsoo.

“Ya! Sunbae! Ah sudahlah! Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu!” Jiyeon menyerah.

“Wajahmu pucat.” Ucap Myungsoo singkat.

“Kau sangat menyeramkan, Park Jiyeon. Hahahaha…” tawa Myungsoo meledak seketika. Sulli dan Jieun terkekeh, sedangkan Jiyeon menatap sunbae nya itu kesal.

“Neo!” Jiyeon memukul lengan Myungsoo.

“Baiklah, aku akan masuk ke kelas.” Ucap Myungsoo, yang kemudian berlalu dari ruangan ini.

“Kau baik-baik saja?’ tanya Jieun. Jiyeon mengangguk.

“Geurom, aku sangat baik sekarang. Kajja Jieun-ah kita ke kelas.” Ucap Jiyeon.

“Anhi, lebih baik kau disini saja Jiyeon. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa, arraji?” ucap Jieun.

“Shireo! Aku bosan jika terus disini!”

“Arra arra, kajja!” Jieun berdiri, dan membantu Jiyeon untuk berdiri.

“Sulli-ah, kami duluan ya. Annyeong!” Jiyeon melambaikan tangannya.

“Ne, hati-hati!”

*********

“Jiyeon-ah, mulai hari ini aku akan pulang bersamamu. Aku takut kau pingsan seperti tadi.” ucap Jieun.

“Kau terlalu berlebihan Jieun-ah..” ucap Jiyeon.

“Kau mau tidak antar aku ke toko buku?” tanya Jieun.

“Baiklah, kebetulan aku juga ingin membeli sesuatu.” ucap Jiyeon tersenyum.

“Kajja!” Jieun menggandeng tangan Jiyeon.

Lalu mereka berdua pun pergi menuju toko buku. Setelah sampai di halte bus, mereka pun duduk di bangku halte. Sembari menunggu bus, Jiyeon dan Jieun bersenda-gurau. Mereka tertawa saat Jiyeon menceritakan sebuah lelucon. Ah, indahnya persahabatan mereka.

“Jiyeon-ah, sepertinya bus masih lama datangnya. Bagaimana jika kita membeli minuman ke cafe itu?” usul Jieun. Jiyeon mengangguk.

“Baiklah, ayo!” ucap Jiyeon semangat. Merekapun masuk ke dalam cafe yang letaknya tak jauh dari halte bus.

“Jiyeon-ah kau ingin apa?” tanya Jieun.

“Aku ingin cappuchino saja.” ucap Jiyeon.

“Baiklah, tunggu ya..” Jieun pun berlalu meninggalkan Jiyeon, untuk memesan minuman.

Jiyeon melihat ke seluruh sudut cafe, cafe ini nyaman, pikirnya. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya, membuat mata Jiyeon terus ingin melihat sesuatu itu. Ia melihat dua orang pria dan wanita terlihat sedang bermesraan. Mata Jiyeon membulat seketika itu juga.

“Appa!”

Jiyeon POV

Aku tidak salah lihat kan? Mataku masih berfungsi dengan baik, iya kan? Pemandangan ini, yang sekarang ada di depan mataku apa ini nyata? Itu benar-benar appa? Tapi, kenapa appa bersama wanita itu? Siapa dia? Kenapa sikap appa kepada wanita itu begitu mesra? Ya Tuhan… jangan-jangan ini penyebab appa dan eomma bertengkar semalam. Ternyata.. appa selingkuh.

Sungguh aku benar-benar tak menyangka hal ini bisa terjadi. Appa benar selingkuh? Aku menghampiri appa, aku menatapnya dengan penuh amarah. Sungguh, aku benar-benar marah pada appa. Kenapa ia bisa-bisanya selingkuh? Eomma, kasihan eomma pasti sekarang perasaan eomma sangat sakit.

“Appa!” lirihku. Appa menoleh, dan ya! Appa terkejut melihat kedatanganku.

“J-jiyeon-ah? Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya appa dengan nada panik.

“Mwoya? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu!”

“Sedang apa kau disini, bersama wanita ini?? Dan kenapa kalian berdua bermesraan, hah?”

“Park Jiyeon!!” appa berdiri dari duduknya, dan menatapku.

“Wae? Apa ini penyebab appa dan eomma bertengkar semalam?” ucapku, aku merasakan ada air yang mengalir di pipiku.

“Jaga bicaramu!”

PLAAKK

Shit! Appa menamparku! Aku menatapnya sinis.

“Kau menamparku? Hhh, terima kasih atas tamparanmu. Dan kau nyonya!” aku menatap wanita itu tajam. Wanita itu terkejut, dan menatapku dengan ketakutan.

“Selamat! Kau sudah merebut hati ayahku!” ucapku. Dengan cepat aku pergi dari cafe ini.

“J-jiyeon!” panggil Jieun.

Aku kembali ke halte bus. Aku menunduk, aku berusaha menahan isak tangisku. Ini benar-benar membuatku sakit! Kenapa ini semua harus terjadi kepada keluargaku? Ya Tuhan..

“Jiyeon-ah…” aku menoleh. Aku tersenyum pada Jieun.

“Aku mengerti bagaimana perasaanmu, kau harus sabar Jiyeon-ah.” ucap Jieun. Ia memelukku.

“Hiks.. gomawo Jieun-ah. Aku.. aku tidak tau harus bagaimana sekarang. Aku rasa orang tuaku akan bercerai setelah ini.”

“Kenapa kau bicara seperti itu?”

“Entahlah. Dan aku rasa, appa akan menikah dengan wanita itu.” aku melepas pelukan Jieun.

“Igeo, kau minum dulu. Lebih baik kita tidak jadi pergi ke toko buku. Kau harus menenangkan dirimu Jiyeon-ah.” ucap Jieun, ia memberiku satu cup cappuchino.

“Gomawo. Ne, sepertinya aku akan ke apartemen Shin Hye eonni. Aku akan menginap disana.”

“Baiklah. Apa tak apa aku pergi sekarang?”

“Ne tentu. Gomawo Jieun-ah untuk hari ini.” ucapku, Jieun mengangguk. Lalu kemudianJieun pergi meninggalkanku.

***********

“Eonni.. tolong buka pintunya!” untuk kesekian kalinya aku menekan bel ini.

“Tunggu sebentar!!!” teriak eonni dari dalam.

“Sebenarnya sedang apa dia? Ya! Eonni!! Aissh!” aku menekan bel lagi. Tak lama kemudian pintu terbuka.

“Kenapa kau tidak sabaran?” kesal Shin Hye eonni. Aku masuk kedalam apartemennya.

“Isshh, kau tau? Aku berdiri disana hampir setengah jam!” ucapku. Aku duduk di sofa, dan bersender.

“Wae? Kenapa kau kesini?”

“Aku ingin menginap disini.”

“Mwoya? Wae?”

“Dirumah, sedang ada masalah.” Shin Hye eonni duduk disebelahku.

“Apa mereka bertengkar kembali?”

“Bagaimana eonni tau?”

“Ah, kau tau? Aku melihat eomma dan appa bertengkar kemarin di mall.” aku terkejut.

“Dan tadi.. aku melihat appa bermesraan dengan wanita lain.” ucapku.

“Mwo? Bermesraan?”

“Ya, dan.. appa membela wanita itu. Benar-benar, aishh!” aku mengacak rambutku.

“Sepertinya, sebentar lagi mereka akan bercerai. Dan… appa akan menikah.” ucap Shin Hye eonni. Ia ikut bersender disampingku.

“Kau sudah mendapat firasat?” tanyaku, eonni mengangguk.

“Ya.. firasat buruk.”

“Ah eonni. Apa kau punya obat penghilang sakit perut?” tanyaku.

“Sepertinya ada. Kenapa? Apa kau sedang sakit perut?” tanya eonni. Aku mengangguk.

“Perutku terasa nyeri, sudah dua hari ini.” ucapku.

“Jiyeon-ah, aku takut itu bukan sakit perut biasa. Lebih baik kau ke dokter untuk diperiksa.”

“Mwo? Shireo! Ini hanya sakit perut biasa.” ucapku membantah.

“Jangan meminum obat itu kalau begitu!” ucap Shin Hye eonni.

“Wae?”

“Aku bilang jangan, ya jangan! Arraji?”

“Baiklah. Aku akan mandi…”

**********

Aku merebahkan tubuhku di kasur ini. Ya, untung saja apartemen eonni mempunyai dua kamar. Jadi aku dan eonni tidur terpisah. Aku memejamkan mataku. Hari ini, aku benar-benar lelah. Sangat lelah. Sudah dua hari ini aku menangis, kenapa aku selalu menangis? Apa terlalu banyak beban? Tiba-tiba saja, kata-kata Shin Hye eonni terngiang di pikiranku.

‘Jiyeon-ah, aku takut itu bukan sakit perut biasa.’

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Anhi, ini pasti sakit perut biasa. Ini bukan penyakit apapun itu. Bukan! Aku tidak ingin sakit, aku ingin sehat. Tapi, kata-kata itu terus saja terngiang, memenuhi pikiranku.

‘Lebih baik kau ke dokter untuk diperiksa.” 

“Aku tidak sak- “

“Aaahhh…”

“Ada apa sebenarnya denganku ini? Kenapa perutku selalu sakit seperti ini? Ya Tuhan… apalagi sekarang?”

.

.

.

To Be Continue ~

34 responses to “LIKE THE FIRST TIME! [2]

  1. appanya kejam ,, gk berperasaan .. Dia yang selingkuh dia jga yang nampar .. Aissh kacau .. Jiyi kasian sakit perut Terus ,, sakit hati lagi gra gra ortunya ,, next read

  2. omo appa jiyeon ternyata selingkuh😮 hah apa penyakit yg diderita sma jiyeon thor? Kasian jiyeonnya T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s