[ CHAPTER – PART 18 ] RAINBOW AFTER THE RAIN

ra2r

Tittle : Rainbow After The Rain
Author : gazasinta
Main Cast : Park Jiyeon, Bae Suzy, Choi Minho, Kim Myungsoo
Genre : Family, Friendship, Romance
Rating : PG-17

Poster created by @chomichin

Mianhe for belated post, semoga part ini bisa mengobati rasa jengkel readers yang sdh nunggu lama, hehehe*emang ada?
Author gagal attach instrumental “ Lovely Memories “ Alvaro Pierri, itu loh sad song nya Meteor Garden
Kalo kalian mau coba boleh kok sendiri yah.
Selamat menikmati part yang panjang ini, mudah2an ga bosan yah.

Part 18

Aku bangun begitu pagi dengan perasaan senang, berharap kita bisa pergi bersama, tapi eomma bilang kau sudah berangkat ke hotel pagi-pagi sekali, gwenchana….lain kali kita pasti bisa melakukannya.
– Kim Myungsoo

Yeonnie-ah apa kau sudah sampai di hotel ?
– Kim Myungsoo

Aku melihat serombongan orang membawa kail dan ransel besar menaiki sebuah bus, tiba-tiba aku teringat janji kita, jika kau mau aku akan mengatur waktu untuk mewujudkannya, kita akan pergi memancing bersama, otthe ?
– Kim Myungsoo

“ Ommo!!! Kau sudah sampai ? bagaimana acaranya ? mianhae, aku tidak bisa datang, kemarin ibu kepala memintaku untuk lembur “ ucap Jieun yang baru saja datang, ia segera menaruh tas didalam loker pribadinya dan menukar nya dengan seragam hotel.

Jiyeon yang sedang membaca satu-persatu pesan dari Myungsoo sedikit terkejut ketika tiba-tiba Jieun muncul di hadapannya, ia langsung memasukkan ponsel ke dalam saku seragam dan mengubah raut wajah bimbangnya dengan senyuman “ Eoh…Gwenchana, masih banyak waktu untuk mengenalkan dirimu pada keluargaku “ ucap Jiyeon sedikit gugup.

Alis Jieun bertaut, keningnya nampak berkerut melihat Jiyeon yang terkejut dengan kedatangannya. “ Acaranya menyenangkan bukan ? “ tanya Jieun memastikan.

Jiyeon mendesah lemah “ Nde, tentu saja “ ucap Jiyeon seolah tidak yakin dengan jawabannya.

Jieun masih memandang aneh ke arah Jiyeon, namun akhirnya ia masuk ke kamar ganti untuk segera bersiap-siap melakukan pekerjaannya.

Myungsoo menghela nafasnya berat, memandang ponsel yang sejak tadi bahkan lampunya saja tidak menyala, Jiyeon tak membalas satupun pesan yang ia kirim sejak pagi tadi.

Myungsoo kembali mengetikkan sesuatu diponselnya.

Yeonnie-ah, apa kau marah padaku? maafkan atas sikapku semalam, mohon lupakan dan anggap tidak terjadi apa-apa.

Myungsoo berfikir sejenak “ Tidak, aku tidak akan mengungkitnya “ Myungsoo menghapus pesan yang telah ia ketik, hingga berkali-kali kalimat yang ia susun namun akhirnya ia menghapusnya kembali.

“ Myungie-ah “

Jaejoong masuk membawa sebuah berkas dan menaruhnya diatas meja Myungsoo “ Ini cukup bagus, appa rasa kau sudah siap untuk mempresentasikannya, ingat jangan membuat appa kecewa didepan Mr.Hayosi “ ucap Jaejoong yang hanya dibalas tatapan tidak semangat Myungsoo.

Jaejoong kemudian mengambil duduk dihadapan Myungsoo “ Bagaimana persiapan pertunanganmu ? berapa persen itu sudah siap eoh “ tanya Jaejoong mengira tidak semangatnya wajah Myungsoo berhubungan dengan semakin dekatnya pertunangan Myungsoo dan Sulli.

Myungsoo menghela nafasnya berat, bahkan ia sudah tidak lagi memikirkan tentang pertunangannya dengan Sulli, jika tidak memikirkan Jiyeon, mungkin sekarang juga ia akan memberanikan diri untuk berterus terang pada orangtuanya.

“ Eoh, appa….maafkan aku, untuk saat ini aku hanya ingin fokus pada pekerjaan kita, masalah pertunangan, Sulli ingin mengaturnya sendiri “ ucap Myungsoo menutupi keengganannya.

Jaejoong menatap lama manik mata Myungsoo, ada sesuatu yang janggal ia tangkap ketika Myungsoo mengatakannya “ Baiklah, appa percaya pada kalian, hanya saja kau harus ingat appa Sulli dan kita adalah rekan bisnis sejak lama, jadi appa minta kau menjaga baik hubungan ini “ urai Jaejoong mengingatkan.

Myungsoo bergeming, merasa jalan terjal yang akan ia lalui semakin panjang dan begitu sulit, namun sekali lagi ia telah bertekad untuk tidak goyah dan terus memperjuangkannya.

Jieun berjalan dengan langkah yang terburu-buru, seorang yeoja berparas cantik yang tak lain adalah Sulli berjalan dari arah berlawanan, Jieun memberikan senyum penghormatan karena Sulli adalah tamu hotel yang ia harus bersikap ramah padanya.

Tidak tersenyum Sulli justru hanya menatapnya seksama, hingga akhirnya keduanya hendak berjalan saling melewati…

“ Chogiyo…” Jieun menoleh kearah Sulli yang ia yakin memanggilnya.

Bunyi sepatu heels Sulli terdengar berirama seiring yeoja tinggi putih dan langsing itu mendekat kearah Jieun “ Nde, ada yang bisa saya bantu nona ? “ tanya Jieun ramah.

Sulli masih terdiam, ia terus memandangi Jieun dari ujung kaki hingga rambutnya.

“ Nona ini sudah beberapa kali melihatku, bahkan kurasa ia sudah tahu siapa aku, mengapa masih saja memandangku seperti ini “ Jieun bergumam dalam hatinya memprotes sikap Sulli yang membuatnya tidak nyaman.

“ Nona, maaf tapi aku merasa aneh anda memandangku seperti aku ini makhluk dari planet lain “ ucap Jieun dengan cengiran polosnya karena merasa sedikit jengkel dengan cara pandang Sulli.

“ Eoh maafkan aku, aku hanya ingin memastikan ingatanku, kau….bukankah sahabat Bae Jiyeon ? “ tanya Sulli mencoba menghapus pandangan buruk Jieun padanya.

“ Rupanya nona cantik ini seseorang yang mudah melupakan orang lain “ lagi Jieun bergumam dalam hatinya.

Sulli menunggu jawaban Jieun, ia kemudian melirik sekilas name tag diseragam Jieun dan kemudian mengangguk-angguk seolah menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri “ Ahhh, benar Lee Jieun, kau adalah teman sekamar Bae Jieun, eumm….kau tidak sedang bersamanya ? “ tanya Sulli.

Jieun hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyan Sulli.

Sulli kemudian semakin mendekat dan berdiri dengan gaya anggunnya dihadapan Jieun “ Aku akan bertanggungjawab jika atasanmu mencarimu, aku ingin kau menerima tawaranku untuk menemaniku menikmati makan siangku “ Seolah tidak peduli apapun jawaban Jieun, Sulli melangkah pergi dari sana.

Jieun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tidak mengerti apa yang diinginkan Sulli dari dirinya, namun akhirnya kakinyapun bergerak mengikuti kemana Sulli melangkah.

“ Anyyeong!!! “

Minho terkejut ketika ia menemukan Suzy sudah berdiri dihadapannya dengan membawa dua kotak makan siangan ditangannya, kantor Suzy memang terletak tidak jauh dari kantornya sehingga yeoja ini bisa setiap hari jika ia mau untuk mengunjunginya seperti yang saat ini ia lakukan.

“ Kajja kita makan siang bersama !!! “ ucap Suzy yang langsung saja menarik tangan Minho kembali masuk keruangannya.

Sementara dibelakang Suzy sekretaris Minho nampak pucat dan menggigit bibir bawahnya, seolah memohon agar Minho tidak memarahinya karena tidak bisa mencegah Suzy untuk sembarang masuk ke ruangannya.

“ Keluarlah, dia sahabatku “ ucap Minho akhirnya menghapus kekhawatiran sekretaris dari kesalahannya.

Suzy memandang sinis sekretaris yang seolah menghalanginya, diikuti Minho ia kemudian membuka bekal makan siang, menyiapkan satu untuknya dan satu untuk Minho, Minho mengernyit heran, ia seperti tidak asing dengan kemasan dari makan siang yang Suzy bawa, ia menemukannya beberapa kali disetiap makan siangnya.

Minho meraih yang menjadi miliknya, tanpa banyak pertanyaan ia membuka dan mulai menikmatinya, Suzy tersenyum lebar kali ini ia tidak sia-sia datang lebih awal dari biasanya.

“ Bagaimana, kau menyukainya ? “ tanya Suzy antusias.

“ Eoh “ Minho menjawab singkat dan kembali memasukkan banyak makanan kedalam mulutnya.

Skip…

“ Tunggu, kau mau kemana bukankah istirahat siangmu sudah hampir habis ? “ Suzy heran Minho sudah berdiri dan hendak meninggalkannya.

“ Aku ada janji dengan Jiyeon, ia pasti sedang menungguku “ ucap Minho enteng seolah tidak sadar setelah kalimat itu ia ucapkan raut wajah Suzy berubah lesu.

Perasaan bahagia karena Minho begitu lahap menikmati makan siang pemberiannya hilang tiba-tiba, ternyata Minho tidak ingin kehilangan waktunya untuk bersama dengan Jiyeon, Suzy pun kemudian menyunggingkan senyumnya yang nampak aneh “ Eoh Jiyeon ? woahh….jika saja aku seorang bos yang tidak terikat waktu sepertimu, aku juga ingin menyempatkan diriku kesana, tapi tidak apa aku bisa setiap hari meminta Jiyeon untuk datang kerumah, baiklah….cepat pergi dan menemuinya, aku harus kembali ke kantor….anynyeong “ ucap Suzy seraya membereskan kotak makanan yang sudah bersih, namun…

“ Tidak perlu, biar sekretarisku yang membersihkannya “ Minho memegang tangan Suzy, menghalangi yeoja itu membersihkan sampah makan siang mereka.

“ Eoh, baiklah “ ucap Suzy menarik tangannya gugup.

“ Gomawo “ ucap Minho sebelum Suzy menghilang dari hadapannya.
Suzy mengangguk memberikan senyum lembutnya untuk Minho, ia pun kemudian bergegas pergi dari hadapan Minho.

Sepeninggalan Suzy…

“ Apa aku keterlaluan ? “ Minho bertanya pada dirinya sendiri menyadari jika ia telah membuat Suzy kecewa.
Minho mengeluarkan ponsel dan mengetikkan pesan disana.

Jiyeon-ah, mianhae nanti sore saja kita bertemu, aku akan menjemputmu.

Sent to “ My Destiny “

Suzy berjalan dengan langkah kaki yang tidak lagi sama semangatnya ketika ia datang tadi, ia mendesah berat, bahkan sekedar berbasa-basi untuk menawarkan untuk mengantar dirinya kembali kekantor saja tidak Minho lakukan, apalagi untuk mengingat jika ia sudah sering meninggalkan makan siang untuk Minho ?

“ Gwenchana, ini tidak berarti apa-apa “ ucap Suzy mencoba membangun kembali rasa semangatnya.

“ Changkaman !!! “

Suzy reflek menengok ke arah datangnya suara, tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya senyumnya pun kembali hadir, Minho namja itu kini berlari kearahnya “ Ia pasti akan mengantarku “ tebaknya dalam hati.

“ Igeo!!! Meski dekat kau tidak mungkin berjalan kaki “ Minho menyodorkan sebuah kunci dengan gantungan bola basket kepada Suzy.

Suzy kembali menarik senyumnya “ Pabbo!!! Seenaknya saja otakku ini berkhayal “ ucap Suzy dengan senyum yang lebih terlihat ringisan karena terlalu percaya diri.

“ Hati-hati !!! “ seru Minho melepas kepergian Suzy.

Teng

Myungsoo melihat kearah jam tangannya, waktu yang ia nanti sejak tadi sudah datang, tepat pukul 17.00 KST, dengan gerakan cepat Myungsoo berdiri dan merapikan berkas yang baru saja ia presentasikan di depan Mr Hayosi.

“ Jwesonghamnida sajangnim, aku meninggalkan rapat yang pertama kali “ Myungsoo membungkukkkan tubuhnya meminta ijin pada Jaejoong, kliennya Mr.Hayosi dan jajaran direksi lainnya.

Tanpa menunggu jawaban, Myungsoo pun segera meninggalkan ruang meeting, setiap orang disana tidak terkecuali Jaejoong appanya menatap heran kepergian Myungsoo. Merasa tidak enak, Jaejoong kemudian tersenyum mencoba mengalihkan semua mata untuk kini fokus ke arahnya “ Jwesonghamnida, Kim Myungsoo….ia sedang mengejar waktu untuk tidak datang terlambat ke acara persiapan pertunangannya, mohon anda semua memakluminya “ Jaejoong terpaksa memberi alasan yang ia tidak yakin apakah kliennya dapat memaklumi, namun itu lah yang akhirnya ia ucapkan.

“ Ahniyo, kita juga dulu pernah berada dalam posisi itu, begitu semangat dan khawatir ketika menyiapkan sesuatu yang berhubungan dengan masa depan, putramu sungguh hebat, begitu pintar, cekatan, dan profesional….aku menyukainya “ suara tua Mr.Hayosi membuat Jaejoong begitu lega.

Namun entah mengapa Jaejoong penasaran apa yang sebenarnya ingin Myungsoo lakukan sampai terburu-buru seperti itu.

Sedan hitam milik Kim Myungsoo meluncur cepat menuju sebuah hotel, sebelah tangannya masih sibuk menghubungi seseorang, lagi-lagi yeoja itu tidak mengangkatnya. Myungsoo pun melempar ponselnya dengan kesal dan menambah kecepatan mobilnya.

Tiba di area hotel, sosok yeoja dengan kaos putih polos berkerah dipadu dengan celana jeans dan tas punggung yang biasa dibawa nampak terlihat berdiri dilobi hotel, yeoja itu sedang memandang ponsel ditangannya dengan raut wajah bimbang.

“ Aku tidak terlambat “ Tangan Myungsoo dengan cepat melepas sabuk pengaman dan meraih knop pintu untuk segera keluar dari sana.

Langkah panjangnya seolah berkejaran dengan langkah Jiyeon yang hendak meninggalkan hotel itu.

Jiyeon nampak terkejut ketika tiba-tiba Myungsoo kini ada dihadapannya, tangannya perlahan masuk kebalik kantong rok seragamnya, menyembunyikan ponsel yang sedari tadi ia pandangi.

Myungsoo yang menyadari apa yang Jiyeon lakukan nampak sedikit kecewa, padahal hari ini ia mencoba untuk bersikap tenang untuk berbicara dengan Jiyeon, meski pagi tadi yeoja inipun berusaha menghindarinya.

“ Mengapa kau mengabaikan panggilanku ? “ akhirnya kalimat bernada kecewa yang keluar dari mulut Myungsoo.

Dilihatnya wajah Jiyeon yang masih bisa menunjukkan ketenangan, bertolak belakang dengan yang yeoja ini tunjukkan dengan sikapnya yang begitu gugup menyembunyikan sesuatu dibalik kantong roknya, Myungsoo menunggu apa yang hendak Jiyeon ucapkan, berharap yeoja ini tidak lagi berbohong yang akan membuatnya semakin kecewa.

“ Mianhae….sejak tadi aku meninggalkannya diloker, dan belum mengeceknya hingga sekarang, changkaman !!!“ Jiyeon kini mengambil benda itu dari dalam kantong roknya.

Myungsoo membuang pandangannya, menghela nafasnya kecewa karena Jiyeon membohonginya “ Tch…jeongmal!!! “ ucap Myungsoo kesal.

Jiyeon menghentikkan aktivitasnya, ia sadar Myungsoo mengetahuinya, dan kini ia tidak tahu harus mengatakan apa untuk menjelaskan kebohongannya, pundak yang awalnya berdiri tegak kini menurun seiring dengan rasa bersalah dan lelah yang ia rasakan ketika harus berhadapan dengan Myungsoo.

“ Keutchi, kau berbohong padaku ? waeyo ? “ tanya Myungsoo dengan sorot mata begitu menginterogasi, ia mengusap wajahnya lelah ketika akhirnya Jiyeon hanya menatapnya datar.

Sebuah mobil berhenti tak jauh dari keduanya berdiri, bunyi pintu yang cukup keras mengalihkan mata mereka yang beradu pandang, Minho….pria jangkung keluar dari dalam sana, melangkah mendekat ke arah Myungsoo dan Jiyeon yang berdiri saling berhadapan.
Minho merasakan bahwa Myungsoo tidak senang melihatnya “ Apa aku mengganggu kalian ? “ sapa Minho memecah kebuntuan diantara keduanya, meski tidak sejak awal ia berada disana namun Minho bisa menebak apa yang terjadi dengan keduanya.

“ Eoh Minho-ah !! tentu tidak, aku yang memintamu untuk menjemputku, kajja..kita pergi “ Jiyeon bernafas lega, Minho datang diwaktu yang tepat dan menyelamatkannya dari pertanyaan Myungsoo yang ia tidak bisa menjawabnya.

Gigi Myungsoo bergemeletuk menahan kecemburuan, Jiyeon memasukkan tangannya kesela-sela tangan Minho dan berniat meninggalkannya, kedua tangannya terkepal erat dengan emosi yang sudah meletup-letup ia rasakan.

“ Ikut aku !!! “ Myungsoo tidak lagi bisa mengendalikan dirinya, ia menarik paksa Jiyeon dari Minho membuat pegangan keduanya terlepas, dan dengan langkah cepat menjauh dari Minho.

Minho yang sudah bisa menduga apa yang akan terjadi tidak membiarkan Myungsoo bertindak kasar dan memaksakan kehendaknya, ia pun melangkah cepat untuk mencegah Myungsoo menyakiti Jiyeon.

“ Lepaskan Kim Myungsoo!!!“ Minho menarik bahu Myungsoo dan menghempaskan tangannya yang membelenggu tangan Jiyeon.

Myungsoo dan Minho saling menatap tajam “ Kau!!! Jangan ikut campur dengan masalahku, ini tidak ada hubungannya denganmu “ ucap Myungsoo pelan namun begitu tajam.

Minho tidak peduli ia menarik Jiyeon kearah belakangnya “ Kau tidak lihat eoh ? Jiyeon tidak senang kau melakukan ini, cinta tidak seperti ini Myungsoo-ah, tidak membuat yang satu bahagia dan yang lainnya terbebani, aku mohon biarkan dia tenang “ ucap Minho menekan bahu Myungsoo dengan sebelah tangannya, menahan sahabatnya ini merebut kembali Jiyeon, sementara tangan Minho yang lainnya ia gunakan untuk menggenggam erat tangan Jiyeon, menyembunyikan yeoja itu dibelakang punggungnya.

Terdiam, tidak ada jawaban atau perlawanan dari Myungsoo, kalimat “ TERBEBANI “ yang Minho ucapkan begitu menohok perasaan Myungsoo, benarkah ? benarkah Jiyeon terbebani dengan perasaannya ? entah apa yang ada dipikirannya saat ini, diluar dugaan Myungsoo berlutut dihadapan keduanya, matanya yang semula begitu merah menampakkan kemarahan kini berubah menjadi begitu lemah.

Minho tertawa sinis dengan apa yang Myungsoo lakukan, ia tidak percaya Myungsoo yang begitu keras kini nampak begitu lemah dihadapannya, namun tidak dengan Jiyeon, yeoja ini begitu tidak tega dan ingin menangis, Jiyeon melepaskan genggaman tangannya dari Minho, tubuhnya melewati tubuh Minho dan kini berjarak lebih dekat dengan Myungsoo.

“ Oppa….aku tidak ingin melihatmu seperti ini, ini seperti bukan dirimu yang aku kenal, belajarlah untuk menerima Sulli eonni, meskipun itu terasa sulit, temui dan ajaklah ia membicarakan hari pertunangan kalian, bukankah itu sudah begitu dekat ? ia lebih membutuhkanmu “ Kalimat yang terucap begitu tenang diiringi dengan senyuman tulus dari bibirnya, meski Jiyeon mati-matian mengabaikan rasa sakitnya.

Semakin sakit Myungsoo rasakan apa yang Jiyeon katakan, ia tidak menginginkan senyum Jiyeon yang mengikhlaskan dirinya bersama yeoja lain, kedua tangan Myumgsoo yang terkepal tertumbuk ketanah, ia menunduk seolah memohon “ Aku sudah menyatakan perasaanku padamu dan bertekad untuk memperjuangkannya meski aku tahu ini tidak akan mudah, Yeonnie-ah….kita tidak mungkin bisa membuat semua orang tersenyum dengan keputusan yang kita ambil, meski sekeras apapun kita berusaha, pasti akan ada yang terluka, jika tidak mereka itu pasti kita, berjuanglah bersamaku eoh, penyesalan yang mendalam adalah ketika kau mampu memperjuangkannya tapi kau tidak melakukannya, setiap orang layak bahagia, aku mohon kau jangan lagi berpura-pura menggantungkan cintamu “ ucap Myungsoo panjang lebar, ia benar-benar berharap Jiyeon memikirkan perkataannya.

Jiyeon hanya terdiam memandang Myungsoo, jujur ia ingin sekali seperti Myungsoo, tidak mempedulikan orang lain dan dapat bersikap berani memperjuangkan apa yang dirasakannya, namun tidak dengan hati nuraninya, hati nuraninya tidak dengan mudah mengijinkan Jiyeon melakukan itu.

“ Sulli eonni…ia wanita yang sangat baik, oppa beruntung mendapatkannya, ia sangat mencintaimu, bahkan kurasa ia tidak bisa jika hidup tanpa ada dirimu disisinya, sedangkan aku ? oppa lihat….aku bahkan bisa hidup tanpa dirimu bertahun-tahun lamanya, karena….karena aku tidak pernah MENCINTAIMU, aku sama sekali tidak pernah MENCINTAIMU “ kalimat Jiyeon terhenti disana.

Deg…

Myungsoo dan Minho menatap serempak ke arah Jiyeon, perasaan yang timbul diantara keduanya begitu bertolak belakang, Myungsoo merasakan tubuhnya menjadi begitu ringan, seolah raganya telah terbang dan tidak lagi bersama jiwanya, hanya meninggalkan perasaan yang teramat sakit didadanya.

Sedangkan Minho, ia merasa semangatnya kembali membuncah tersiram oleh kalimat Jiyeon yang begitu melegakan hatinya, rasa optimisnya kembali tumbuh untuk mendapatkan yeoja ini.

Meski kedua kakinya begitu lemah, namun Myungsoo berusaha untuk bangkit, langkahnya mendekat kearah Jiyeon, ia tidak melihat ada air mata ketika Jiyeon mengucapkan kalimat itu, wajahnya nampak begitu tenang dengan perasaan lega yang terpancar dari sana.

“ Kau bohong ! “ Myungsoo menggeleng menatap Jiyeon tak percaya.

Jiyeon berusaha tersenyum hangat kepada Myungsoo, meski sebenarnya yang dilakukannya begitu kontras dengan perasaannya.

“ Tch, bahkan kau membalas ketika aku menciummu, apa kau akan bilang itu tidak berarti apa-apa ??? “ Myungsoo mengatakannya dengan nada tinggi.

“ Kejadian itu…aku hanya terbawa suasana hingga aku membalasnya, namun aku benar-benar tidak merasakan perasaan apa-apa saat itu, hak oppa jika pikir aku berbohong, namun aku benar-benar baru menyadarinya, kau… HANYA OPPA bagiku “ ucap Jiyeon menahan kesedihannya sendiri.

Tubuh Myungsoo mundur beberapa langkah, kakinya mendadak lemah untuk menopang berat tubuhnya, separuh keyakinannya tentang perasaan Jiyeon luntur sudah, ia tidak ingin mempercayai, namun rasanya begitu sulit.

Sementara Minho berusaha mengontrol emosinya mengetahui keduanya pernah berciuman, ia membuang pandangannya ke arah luar “ Aissshhh “ ia berteriak kesal dan hanya menendang angin ketika kakinya ia ayuhkan.

Jieun menggigit bibir bawahnya, sepanjang perjalanan dari lantai atas tempatnya bekerja, hingga turun melalui lift dan kini sudah tiba di lobi hotel tangannya tidak lepas memelintir tali tas yang menyilang didadanya, banyak hal yang ia pikirkan hingga membuatnya berkali-kali menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.

“ Andwee….maldo andwee, Jiyeon bukan seperti yang yeoja itu katakan, mana mungkin ia yeoja perebut kekasih orang lain, dan mwo ???? aisshhhh mengapa dunia ini begitu sempit, bagaimana bisa tunangan yeoja itu adalah oppanya Jiyeon ? ini benar-benar rumitttt “ Jieun meremas-remas rambutnya begitu bingung.

“ Ohh….Jiyeon ? sedang apa disana ? “ Jieun berlari kearah taman hotel ketika matanya tidak sengaja melihat sahabatnya dari kejauhan, Jieun menyetop beberapa kendaraan yang menghalanginya untuk menuju ke tempat Jiyeon berada.

“ Ommoo!! “ Jieun spontan berhenti, ketika mengetahui Jiyeon tidak sendiri, ada dua orang namja yang ia kini bisa menebak apa hubungannya dengan Jiyeon.

Jieun kemudian memutuskan untuk memandangnya dari arah kejauhan, dan bersembunyi di balik pohon rimbun ditaman hotelnya bekerja, memastikan apa yang mereka bicarakan.

Myungsoo masih terlalu syok dengan kalimat yang meluncur dari mulut Jiyeon yang ia tidak berharap akan mendengarnya sampai kapanpun, tangannya perlahan memegang bahu Jiyeon, mencengkramnya begitu kuat.

“ Katakan ini tidak benar, Yeonnie-ah…katakan ini tidak benar eoh, kau hanya bercanda “ Myungsoo tersenyum pahit, perasaannya benar-benar terpukul.

“ Oppa….” ucap Jiyeon membuang pandangannya tidak sanggup menatap wajah Myungsoo.

“ Tatap mataku dan katakan kau tidak mencintaiku !!! “

Jiyeon menutup kedua telinganya ketika Myungsoo berteriak begitu kencang dan penuh amarah.

“ Mwo ? Kau tidak bisa melakukannya eoh ? “ tanya Myungsoo begitu sinis.

“ Tatap mataku dan katakan kau tidak mencintaiku !!! “

“ Aku tidak mencintaimu !!! “

Jiyeon sudah tidak tahan lagi, ia pun menghirup banyak oksigen dan memberanikan dirinya berteriak sama lantangnya dengan apa yang Myungsoo lakukan.

“ Kau bohong !!! “

“ Aku benar-benar tidak mencintaimu !!! “

Bugh…

Minho tidak tahan dengan sikap Myungsoo, ia melangkah cepat dan menghantam wajah Myungsoo, dengan sekali pukulan keras tubuh Myungsoo terpental kebelakang.

“ Yyaaa!!! “ Jiyeon terkejut dengan gerakan cepat Minho yang tiba-tiba, ia nampak begitu panik.

“ Saekiyaaa…pukul aku jika memang kau seorang namja eoh “ Minho meraih kerah baju Myungsoo, namja itu masih terduduk dan belum berusaha untuk bangkit, darah segar keluar dari sudut bibirnya.

“ Kau jangan jadi pecundang, hanya berani menekan yeoja yang lemah eoh ? bangun….bangun dan pukul aku !!! “ teriak Minho memaksa Myungsoo untuk berdiri.

Bugh…

Teriakan Minho membangkitkan kemarahan Myungsoo, ia pun dengan tiba-tiba memukul balik wajah Minho, Minho tersungkur disamping Myungsoo, Myungsoo bangkit dan ganti menarik kerah Minho yang kini posisinya terlentang, Myungsoo naik ke atas tubuh Minho “ Kita memang bersahabat, namun aku tidak akan diam jika kau membuat wajahku terluka “ tekan Myungsoo.

Myungsoo hendak melayangkan pukulan kembali pada wajah Minho, namun dengan kekuatannya Minho menahan tangan Myungsoo dan berhasil membuat posisi mereka kini bertukar.

Jiyeon benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya, kali ini wajahnya tidak lagi bisa berpura-pura ia buat tenang, ia pun berlari dan mencoba melerai keduanya.

“ Hentikann!!! Aku bilang hentikan !!! mengapa dua sahabat harus berkelahi hanya untuk masalah seperti ini “

Jieun yang sejak tadi bersembunyi kini tidak tahan lagi ketika Jiyeon kesulitan untuk melerai keduanya, ia pun keluar dari persembunyiannya dan membantu Jiyeon untuk Minho yang hendak memukul Myungsoo.

“ Jieun-ah, bantu aku!! “ Jiyeon sedikit lega ketika mengetahui Jieun sudah berdiri tak jauh dari tempatnya kini.

Jieun kemudian sekuat tenaga membantu Jiyeon menarik tubuh Minho untuk menjauh dari Myungsoo “ Ommo!!! Minho-ah “ Jiyeon terkejut mendapati darah segar mengalir dari bibir Minho.

Jieun jatuh terduduk ketika mereka berhasil melepaskan tubuh Minho dari Myungsoo, sementara Myungsoo, ia masih dengan posisinya yang terlentang tak berdaya diatas tanah, ia membuang pandangannya, tidak ingin menatap Jiyeon yang lebih mengkhawatirkan keadaan Minho ketimbang dirinya, air mata Myungsoo mengalir, air mata seorang namja yang hanya ada ketika yeoja yang ia cintai melukainya.

“ Yeonnie-ah, kau seperti malaikat untuk banyak orang, tapi tidak untukku, kau melindungi hati banyak orang, tapi tidak hatiku, waeyo ? “ Myungsoo mengucapkannya dengan hati yang sedih.

Jiyeon mendengarnya, ia pun begitu sedih, ingin rasanya ia bangkit dan berlari ke arah Myungsoo, tapi tidak ia lakukan.

“ Gomawo omonim, biar ini aku yang menaruhnya “ Sulli meletakkan setumpuk undangan pertunangan yang baru saja ia dan Nana ambil dan meletakkannya diatas nakas disamping televisi.

Keduanya nampak begitu lelah setelah setengah harian ini sibuk mengurus segala persiapan pertunangan yang hanya kurang dari 2 minggu lagi digelar, namun semakin dekat hari itu akan datang semakin membuat Sulli khawatir, ia masih belum yakin dengan Myungsoo, calon tuangannya itu belum lagi berbicara apapun mengenai hubungannya.

Seolah mengetahui dengan baik kekhawatiran diwajah calon menantunya ini, Nana pun memegang tangan Sulli dan mengelusnya lembut “ Omoni akan membicarakannya dengan Myungsoo agar segera mencoba baju pertunangan kalian, masih ada banyak waktu bukan ? omoni yakin kalian tidak perlu merombaknya “ ucap Nana menghibur Sulli.

“ Eoh gomawo omoni, aku ingin sekali persiapan kami cepat selesai, aku sering tidak bisa tertidur hanya karena memikirkan hal ini, aku benar-benar gugup “ ucap Sulli membuat Nana tersenyum geli.

“ Kau tenanglah, jangan terlalu memikirkan, semakin mendekati harinya ketenangan sangat dibutuhkan, omoni akan membantumu “ ucap Nana tersenyum lembut.

Sulli mengangguk senang, teringat sesuatu ia pun mengedarkan pandangannya menyusuri setiap sudut rumah keluarga Kim dan terhenti disalah satu kamar diatas sana “ omoni….boleh aku bertanya ? “ Wajah Sulli berubah serius menatap Nana.

Nana mengangguk tersenyum “ Tentu, waeyo ? “ balas Nana.

“ Euum…Myungsoo dan Jiyeon, mereka terlihat begitu dekat sebagai saudara sepupu….” Sulli menghentikan kalimatnya, terlihat wajah Nana yang menatapnya sedikit aneh.

“ Eumm maksudku….hubungan mereka benar-benar hanya sepupu bukan?“ ucap Sulli terlanjur terjebak dengan kalimat awal pertanyaannya.

Nana terdiam, mencoba menebak arah pembicaraan Sulli, perasaan tidak enak itu muncul kembali, pagi tadi ia sedikit heran ketika Jiyeon begitu memaksa agar ia dan Jaejoong mengijinkannya untuk berangkat begitu pagi ke hotel, bahkan hari masih begitu gelap ketika Jiyeon berangkat, putrinya itu sempat terlihat panik dan menolak ketika Jaejoong hendak membangunkan Myungsoo dan memintanya untuk mengantar Jiyeon.

“ Eoh nde ? “ Nana tersentak, ia segera tersadar dari lamunannya ketika Sulli menyentuh punggung tangannya.

“ Ya, mereka adalah sepupu…namun kami sudah menganggap Jiyeon seperti anak kandung sendiri, bukankah hubungan Myungsoo dan Suzy juga terlihat sangat dekat ? kami mengajarkan kepada mereka untuk saling menyayangi dan memberi perhatian “ tegas Nana berharap Sulli tidak lagi mengatakan kalimat yang kembali membuatnya berprasangka buruk terhadap Myungsoo dan Jiyeon.

Menyadari pertanyaannya tidak tepat Sulli menjadi kikuk sendiri “ Eoh nde aku hanya…” ucap Sulli nampak bingung.

“ Perasaan orang yang ingin segera terikat memang seperti itu, selalu curiga, tapi jika Jiyeon yang menjadi bahan kecurigaanmu, maka kau harus menepisnya jauh-jauh, Myungsoo dan Jiyeon sejak kecil memang seperti itu, mungkin karena kau baru melihat kebersamaan mereka, terlebih kami terpisah cukup lama “ Nana memotong kalimat Sulli dan mencoba membuatnya tenang.

Sulli mengangguk setuju dan berusaha percaya dengan apa yang Nana ucapkan “ Jadi Myungsoo belum benar-benar serius memutuskanku, orangtuanya belum tahu, Pabbo mengapa aku harus mengatakan hal seperti itu “ ucap Sulli dalam hati, menurutnya ketidaktahuan orangtua Myungsoo akan lebih baik untuk dirinya.

Nana mencoba kembali bersikap tenang, meski tidak dapat dipungkiri, apa yang Sulli pikirkan menambah kekhawatiran Nana.

Suara deru mesin mobil terdengar, Nanapun tersenyum “ Itu mereka sudah pulang “ Nana meninggalkan Sulli dan segera membuka pintu ruang tamu, namun ia heran hanya Jaejoong yang keluar dari dalam mobilnya.

“ Jadi persiapan pertunangan mereka belum 100% selesai ? kukira ia pulang lebih cepat hari ini karena ada janji dengan Sulli “ tanya Jaejoong heran kepada Nana yang baru saja masuk ke kamar mereka setelah mengantarkan Sulli pulang hingga pintu pagar.

Nana membantu Jaejoong yang nampak kesulitan melepaskan dasinya “ Hari ini ia memang nampak begitu aneh “ Jaejoong kembali bergumam.

Nana menatap wajah Jaejoong, namun tentu saja ia tidak akan mengatakan kekhawatirannya sekarang sebelum memiliki bukti kuat.

“ Waeyo, apa yang kau pikirkan ? “ tanya Jaejoong yang melihat seperti memikirkan sesuatu.

“ Ahni, aku akan menyiapkan air hangat untukmu “ ucap Nana dan berlalu dari hadapan Jaejoong.

Suzy membungkukkan tubuhnya, kado kecil yang sejak tadi berada ditangannya diletakkan didepan pintu apartemen Minho, ia memandang kembali pintu yang tidak pernah terbuka sejak 2 jam lalu ia berada disana.

Suzy membuka pintu mobilnya, kekecewaannya membuat tenaganya terserap hingga harus berkali-kali untuk mengulang menutup pintu mobilnya “ Aiishh jeongmal “ geramnya menahan kesal.

Brukk..

“ Harusnya seperti itu tenagaku “ Suzypun menarik persneling dan melajukan mobilnya menuju kerumahnya.

Kringg….

Dengan cepat Suzy menoleh kearah ponselnya yang berdering, berharap Minho menghubunginya, meski peluang untuk itu hanya 10%, dan kepalanya langsung tertunduk lemah tatkala nama Myungsoo yang tertera disana.

Dengan malas Suzypun mengangkat ponselnya “ Yeobboseo!!! Mwooo ? ll-la-llu nugu ? Eoh baiklah, aku akan segera kesana “ Suzy berubah panik dan segera memutar arah mobilnya.

Myungsoo terkapar tak berdaya ditengah-tengah lantai dance sebuah diskotek, kondisinya menjadi tontonan banyak orang yang malam itu sedang menikmati kehidupan malamnya, kemeja putih yang nampak kusut ternoda oleh tetesan darah, serta rambut hitam tebalnya yang sudah tidak diketahui lagi bagaimana bentuk awalnya, jas yang ia gunakan pun sudah terlempar jauh dari tempatnya berada, Myungsoo nampak benar-benar menyedihkan.

“ Yyaaa!!! Kau….ahni bukan kau tapi kalian apa kalian tahu dimana Yeonni-ku ? aku sudah hampir gila menunggunya datang, tapi hingga kini pun ia belum juga datang, mwo ? dengan namja lain ? tch…..tidak mungkin, kalian tenang saja…ia pasti akan menemuiku disini, ia sangat mencintaiku sama seperti aku yang mencintainya “ Myungsoo terus saja berbicara, bicaranya nampak kacau dan mengundang semua orang menjadi iba padanya.

Dan kerumunan orang-orang perlahan memekar …

“ Sebelah sana agassi “

Suzy berjalan mengikuti langkah kaki seorang pelayan diskotek, Suzy benar-benar tidak nyaman dengan keadaan sekitar, bau alkohol menyeruak membuat perutnya mual, ia mempercepat langkahnya agar segera terbebas dari tempat mengerikan ini.

“ Silahkan agassi, tuan ini sudah terlalu banyak minum, kami tidak bisa menghentikannya “ ucap Pelayan memperlihatkan keadaan Myungsoo yang terkapar diantara kerumunan banyak pengunjung dengan memar di bagian pipinya.

“ Ommo!!! “ Suzy menggeleng tidak percaya, keadaan Myungsoo benar-benar menyedihkan, dan diskotik ? ia belum pernah sekalipun melihat Myungsoo mengunjungi tempat ini, jangankan minum minuman keras, mengisap rokok pun Suzy tidak pernah melihatnya, sesuatu pasti telah terjadi.

Suzy kemudian meraih ponselnya untuk meminta bantuan pada Minho, namun kemudian ia mengurungkan niatnya, Suzy sangat yakin keadaan oppanya sekarang berhubungan dengan namja itu.

“ Eumm….bisa beberapa dari kalian membantuku, tolong bawa oppaku ke dalam mobilku “

Dengan sangat hati-hati Jiyeon membersihkan luka Minho, disudut bibir Minho nampak darah yang sudah mengering, Minho meringis menahan sakit ketika Jiyeon menekan es terlalu dalam.

“ Aww…” ringis Minho.

“ Mianhae, tahan sedikit saja, ini tidak boleh menjadi bengkak “ ucap Jiyeon menghentikan sejenak aktivitasnya.

Minho menatap lekat wajah Jiyeon yang sedang mengobati wajahnya, jarak keduanya begitu dekat hingga Minho masih bisa merasakan nafas Jiyeon yang membelai wajahnya, kekhawatiran nampak tersirat dari wajah cantik yeoja yang telah berhasil membuat dirinya dan Myungsoo terluka ini.

Yeoja ini begitu serius dan sangat hati-hati menyentuh wajah Minho, senyum tipis terulas dibibir Minho yang terluka ketika kalimat penolakan Jiyeon terhadap Myungsoo hadir kembali, tapi hatinya masih belum benar-benar tenang, keraguan akan jujur atau tidak kalimat yang Jiyeon lontarkan masih membayanginya, andai ia bisa mengetahui hati seseorang, ia hanya akan memilih hati Jiyeon yang ingin ia ketahui.

Jiyeon menyadari kini Minho menatapnya, ia pun masih berpura-pura untuk tidak merasa terganggu dengan sikap Minho, namun ia terkejut ketika tiba-tiba tangan Minho sudah berhasil meraih pipi mulusnya, tangan Jiyeon berhenti beraktivitas, ia beranikan matanya untuk balas menatap Minho.

Wajah Minho semakin lama semakin mendekati wajahnya, Jiyeon tidak tahu apa yang harus ia lakukan, otaknya sama sekali tidak bisa ia gunakan untuk berpikir akan melakukan apa kini, tepat ketika bibir Minho akan menyentuh bibirnya bayangan wajah Myungsoo berkelebat di pikirannya.

“ Maukah kau menjaga ini hanya untukku ? jangan biarkan orang lain menghapus jejak yang baru saja kutinggalkan “

Jiyeon membuang pandangannya ke arah samping, menghindari bibir Minho yang sedikit lagi mendarat dibibirnya.
Minho tersenyum kecewa, kini ia tahu jawaban dari semua keraguannya, tanpa bertanya mengapa ia pun mengambil alih kotak obat dari sisi Jiyeon dan membersihkan sendiri lukanya dengan memunggungi Jiyeon.

“ Mianhae, aku…tidak bermaksud … aku….aku hanya…” Jiyeon tidak tahu harus mengatakan apa pada Minho.

“ Gwenchana, aku mengerti, kau tidak akan melakukannya dengan orang yang tidak kau cintai “ Minho memejamkan kedua matanya, mengatakan kalimat yang menguatkan hatinya dengan perasaan yang pedih.

Jiyeon bangkit dari sisi ranjang Minho, berjalan pelan untuk melihat wajahnya yang menunduk dalam “ Kau….seharusnya juga lebih peka terhadap sekelilingmu, jika aku tidak memilihmu untuk menjadi seseorang yang kelak selamanya berada disampingku, bukan karena aku tidak menyukaimu, aku menyukaimu….sebagai sahabatku, ada yeoja lain yang menyukaimu tidak hanya sebagai sahabat “ ucap Jiyeon bijak.

Minho menundukkan wajahnya, meski ia harus menerima keputusan Jiyeon, masih begitu sulit untuknya melepas yeoja yang telah ia tunggu begitu lama dan hampir membuatnya gila karena kehilangannya.

“ Apa benar-benar tidak ada sedikitpun perasaan untukku ? “ Minho masih berharap, ia tidak ingin Jiyeon menolaknya kali ini karena kebaikan hatinya untuk melindungi perasaan orang lain.

Jiyeon meraih lembut tangan Minho “ Tanyakan pada hatimu yang paling dalam siapa sebenarnya yeoja yang pantas kau cintai, kurasa bukan aku orangnya, meski kini kau tidak menyadarinya, kelak kalian akan bersama dan bahagia “ Minho terdiam, ia sama sekali tidak berniat untuk memikirkan yeoja lain seperti yang Jiyeon ucapkan, tidak mudah menyusun hatinya yang hancur berkeping-keping sekalipun kalimat yang membesarkan hatinya berasal dari yeoja yang begitu berpengaruh dalam hidupnya, semakin sulit karena yeoja itulah yang membuat hatinya hancur.

Merasa keadaan Minho sudah membaik Jiyeon kemudian berjalan menuju sofa dan meraih tas yang ia taruh disana, baru beberapa langkah kakinya hendak berjalan keluar apartemen Minho “ Istirahatlah, aku bisa pulang sendiri, ada sebuah kado kecil untukmu, aku menaruhnya disana, ku lihat Suzy yang mengirimnya “ ucap Jiyeon seraya menunjuk kado kecil disamping meja ranjang Minho dengan dagunya, setelahnya ia meneruskan kembali langkahnya.

Minho menolehkan sejenak pandangan ke arah benda kecil yang ditunjukan Jiyeon, namun ia belum berminat untuk melihatnya. Minho kembali meratap, ia menundukkan kepalanya begitu dalam, air mata menetes membasahi kedua lututnya, belum percaya perjuangan cintanya selama 7 tahun berakhir malam ini, ia tidak melihat ada beban ketika Jiyeon mengatakan jika ia tidak memilihnya, berbeda dengan ketika Jiyeon mengucapkannya pada Myungsoo.

“ Eoh kamsahamnida, terimakasih untuk bantuannya “

Suzy kembali masuk ke dalam apartemen Myungsoo, ia memutuskan untuk tidak membawa oppanya ke rumah dengan keadaan seperti ini, orangtuanya pasti akan sangat khawatir dan bertanya perihal apa yang terjadi pada oppanya. Suzy melepas sepatu yang masih menempel dikaki Myungsoo, gerakannya terhenti ketika tiba-tiba Myungsoo berbicara dalam keadaan tidak sadarkan diri.

“ Yeonnie-ah, jika mencintaimu adalah kesalahan, aku akan memilih agar diriku salah, sekali saja! katakan walau hanya sekali …….SARANGHAE…aku ingin mendengar kata itu dari bibirmu “ Suzy menatap sedih keadaan oppanya yang tidak berhenti mengoceh dalam keadaan tidak sadarkan diri.

“ Wae ? kau tega membuatku seperti ini, ini begitu menyakitkan ….. saranghaeyo..jeongmal – jeongmal saranghae “ Air mata mengalir dari kedua mata Myungsoo yang terpejam, sebelah tangannya mencengkram kuat dibagian dadanya, seolah menahan rasa sakit yang begitu dalam.

Suzy terdiam, ia mengusap kasar butiran bening yang juga keluar dari sudut matanya, ada penyesalan dalam diri Suzy, ia tidak sama sekali melakukan apapun untuk kebahagian oppanya, malam ini ia melihat kembali keadaan rapuh oppanya karena rasa cintanya terhadap Jiyeon, namun ini dua kali lipat lebih menyedihkan dari keadaan Myungsoo yang terbaring lemah dirumah sakit ketika Jiyeon meninggalkannya, Suzy kemudian bangkit dan memeluk tubuh oppanya.

“ Oppa, bersabarlah eoh….jangan seperti ini, kau harus tetap kuat “ Suzy terisak.

Jiyeon berdiri menatap gedung tinggi yang menjulang dihadapannya, meski tidak tepat pada kamar Myungsoo, namun ia dapat merasakan kesedihan Myungsoo disana.

“ Oppa mianhae, aku akan menerima jika Tuhan menghukumku karena aku telah menyakitimu terlalu dalam, mianhae….mianhae…mianhae “ ucap Jiyeon lirih.

Jiyeon berbalik, melangkah lemah menuju tempatnya tinggal, ia tidak pernah berharap akan jatuh cinta pada oppanya, seseorang yang orangtuanya ajarkan untuk keduanya hanya memiliki rasa sayang sebagai saudara, saling melindungi karena besar dilingkungan yang sama.

Cahaya pagi masuk dari sela-sela jendela kamar Minho, mata besarnya mengintip dari balik selimut, Minho mendesah malas, terlalu malas untuk bangkit dari tidurnya, namun suara bel yang berbunyi memaksa Minho untuk segera membukakannya.

Kriett…

Dari celah sempit yang terbuka wajah Suzy menyeruak disana, Suzy terkesiap menyadari jika Minho memiliki keadaan yang tidak jauh berbeda dengan oppanya, ada bekas luka dipipi dan sudut bibir Minho, tanpa menunggu Minho mempersilahkan masuk, Suzy mendorong cepat pintu dan masuk kedalamnya.

“ Ada apa dengan mu ? mengapa bisa terluka seperti ini ? “ Suzy nampak khawatir dengan keadaan Minho.

Minho menepis tangan Suzy, ia melangkah mendahului Suzy kemudian menyandarkan tubuhnya pada sofa besar di apartemennya, Suzy mengikuti dari belakang dan kini duduk disamping Minho.

“ Aku baik-baik saja “ ucap Minho menyembunyikan keadaannya.

Suzy menatap sedih Minho “ Sudah seperti ini kau masih mengatakan kau baik-baik saja, sebenarnya apa yang terjadi pada kalian eoh ? “ Minho langsung menatap tajam ke arah Suzy mendengar kata kalian dari mulutnya.

Tidak berapa lama Minho membuang lagi pandangan dan tersenyum sinis “ Aku harap keadaan oppamu jauh lebih baik daripada diriku “ ucap Minho ketus entah apa yang ia maksud dengan keadaan lebih baik.

Suzy lebih mendekat kearah Minho dan mencoba menyentuh lembut bahu Minho “ Minho-ah, aku tidak ingin membicarakan tentang itu, lupakan tentang itu dan biarkan aku membantumu “ Suzy berkata lembut mencoba meredam emosi Minho, namun Minho justru terlihat tampak tidak terpengaruh dengan bujukannya, namja itu kini berdiri dihadapannya.

“ Hari ini aku tidak ingin siapapun menggangguku, aku bisa menjaga diriku sendiri dan sekarang aku mohon tinggalkan aku sendiri “ ucap Minho memasukkan kedua telapak tangan kedalam saku celana dan dengan tenang meminta Suzy untuk meninggalkannya.

“ Tapi…ak-kku…”

“ Pulanglah “

Suzy ingin memaksa bertahan, namun wajah Minho sudah menampakkan kemarahan “ Baiklah, aku akan pergi…namun jika kau membutuhkan apapun, panggil lah aku “ Suzy beranjak meninggalkan Minho sendirian.

Minho membuang nafasnya kasar, melihat Suzy entah mengapa yang terbayang adalah wajah Myungsoo yang berkelahi dengannya kemarin, meski Suzy tidak bersalah padanya secara langsung, namun ia benar-benar merasa kesal.

Suzy memandang sedih pintu yang tertutup, bahkan ia hanya ingin membuatkan bubur untuk Minho nikmati dan menyembuhkan luka diwajah Minho. Perasaan sedih, kesal dan kecewa bercampur aduk kini ia rasakan, rasa khawatirnya terhadap Minho dibalas tidak menyenangkan.

Jiyeon tidak tahu apa yang harus ia klarifkasikan kepada Jieun tentang cerita Sulli yang menganggapnya perebut kekasih orang, ia lebih memilih untuk diam dan tidak berniat sama sekali untuk menuntut Sulli menarik ucapannya, meski Jieun memanasinya agar Jiyeon segera membersihkan nama baiknya, Jiyeon malah menggeleng aneh dengan ucapan Jieun, bagi Jiyeon nama baik seorang pelayan hotel tidak akan dipandang jika yang menjadi lawannya adalah yeoja kaya dengan orangtua yang cukup disegani dalam dunia bisnis tidak hanya di Korea, bahkan di Amerika.

“ Sudahlah, aku tidak butuh orang lain menganggapku yeoja baik-baik, cukup kau percaya, aku merasa diriku benar-benar baik “ ucap Jiyeon mendinginkan emosi Jieun.

Keduanya bersiap-siap untuk segera pulang, karena jam kerja sudah berlalu sejak 20 menit yang lalu.

“ Kau ini terlalu banyak memahami orang lain yang berbuat semaunya padamu, tapi seperti kata oppamu, bahkan kau tidak pernah memahaminya “ ucap Jieun berlalu begitu saja meninggalkan Jiyeon.

Jiyeon terdiam, ia menggigit bibir bawahnya, ia tidak marah ketika Jeun kembali mengulang kalimat itu, kalimat yang hampir membuatnya berlari dan memeluk Myungsoo.

“ Andai oppa mau memahami kenapa aku memilih untuk menyakitinya “ ucap Jiyeon dengan helaan nafas yang berat.

Sejak pagi hingga sore ini, Myungsoo sama sekali tidak menyentuh apapun untuk ia masukkan kedalam mulutnya, sekarangpun di meja makan ia hanya mengaduk-aduk bubur yang Suzy buatkan untuknya, ia benar-benar tidak berselera untuk memakannya, kepalanya masih begitu pening akibat pengaruh alkohol yang dikonsumsinya semalam.

Pandangan Myungsoo nampak kosong, namun otaknya bekerja untuk memutar ulang kenangannya bersama dengan Jiyeon, ia baru menyadari jika sejak kecil hingga hari ini yeoja itu tidak pernah merasakan kebahagian berada didekatnya, Myungsoo telah menyumbang begitu banyak kesedihan, dan bahkan cintanya hanya menjadi beban dalam hidup Jiyeon.

Myungsoo menaruh kepalanya perlahan diatas meja makan, tangannya lemah meraih ponsel yang sejak pagi tadi ia abaikan, begitu banyak pesan yang masuk dan tidak sama sekali ia membukanya.

Oppa, aku tahu kau pasti tidak berselera untuk memakannya, tapi bubur yang aku buatkan begitu enak, kau harus menghabiskannya eoh, aku akan marah jika kembali dan melihat itu masih utuh dipanci.
– My lovely dongsaeng

Myungie-ah, hari ini kau tidak datang ? mengapa tidak memberi kabar, hubungi appa jika kau membacanya.
– My lovely appa

Oppa, aku sudah ada didepan apartemenmu, kau dimana ? hari ini aku sudah menyelesaikan beberapa persiapan, hanya menunggu jadwal kosongmu dan kita pergi bersama untuk fitting gaun pertunangan kita
– Choi Sulli

Myungie-ah, Sulli berada disini, kau dimana ? pulanglah meski kau telat membaca pesan eomma, kami menunggumu.
– My lovely eomma

Myungie-ah, eomma tidak tahu apa yang terjadi denganmu, segera datang setelah membaca pesan ini.
– My lovely eomma

“ Ia tidak mengkhawatirkan ku “ ucap Myungsoo lirih tidak menemukan 1 pesanpun dari yeoja yang ia harapkan.

“ Oppamu itu, pekerjaan apa yang ia selesaikan hingga telepon dari eommanya pun tidak mau ia angkat “ Nana bergumam sedikit kesal seraya memasukkan beberapa makanan yang ia buat untuk Jiyeon bawa ke rumah kontrakkannya.

Mendengar kalimat eomma Jiyeon mengurungkan niatnya untuk menekan tombol kirim di ponselnya, ia pun menghapus pesan yang telah ia susun cukup lama dan memasukkan kembali ponsel kedalam tasnya.

“ Kau sudah menghubungi oppamu ? “ Pertanyaan Nana sontak membuat Jiyeon tergugup, ia tidak sadar jika sejak tadi eommanya menatap ke arahnya.

“ Hubungi oppamu sekarang eoh, katakan padanya kita menunggunya disini “ ucap Nana lembut membuat Jiyeon salah tingkah.

Jiyeon tidak mungkin menolak permintaan eommanya yang hanya meminta dirinya untuk menghubungi oppanya, ia pun kembali meraih ponsel dalam tasnya “ Nde…aku akan menghubungi oppa “ ucap Jiyeon berusaha menyembunyikan kegugupannya.

Tidak terdengar apapun disana, ponselnya oppanya tidak aktif, Jiyeon pun menghela nafasnya lega, tak sadar Nana mengamatinya.

“ Eomma, sudah malam….aku akan datang setiap hari menemui appa dan eomma “ ucap Jiyeon seraya mengambil alih rantang susun yang telah Nana siapkan untuk ia dan Jieun.

“ Benar, kau tidak ingin menginap ? “ Jaejoong muncul dari toilet dengan surat kabar ditangannya.

“ Ahniyo oppa, aku tidak membawa seragam, aku akan datang lagi besok “ ucap Jiyeon lalu segera mencium pipi kanan dan kiri kedua orangtuanya.

“ Hati-hati eoh “ ucap keduanya serempak.

“ Nde “ Jiyeonpun berlalu pergi dari pandangan keduanya.

Sepeninggalan Jiyeon…

“ Apa yang kau pikirkan ? “ tanya Jaejoong kepada Nana.

Nana menoleh kearah Jaejoong, namun akhirnya ia hanya menggeleng menandakan ia tidak sedang memikirkan apapun.

Jiyeon melangkah pelan menapaki jalan yang menurun tajam, rantang bersusun berisi bekal yang eomanya berikan ia tenteng dengan suka cita, satu tangannya lagi ia masukkan kedalam saku mantel, meredam rasa dingin yang menjalar ditubuhnya.

“ Bagaimana kabarnya hari ini ? “ Jiyeon mendongakkan kepalanya seolah bertanya pada langit.

Baru saja Jiyeon kembali menatap jalan, seseorang yang ia pikirkan berdiri terdiam tidak jauh dari hadapannya.

Myungsoo….ia melihat Jiyeon yang sedang menatap langit pertama kali, ia menghentikan langkahnya menyadari seseorang yang berjalan kearahnya adalah yeoja yang menolak cintanya dan membuat namja seperti dirinya menangis dan begitu kacau semalam.

Keduanya tidak tahu harus melakukan apa, hingga akhirnya Myungsoo memutuskan meneruskan langkahnya, Jiyeon bergeming tetap berdiri disana hingga akhirnya Myungsoo melewati tubuhnya.

Jiyeon memejamkan matanya, menerima dengan ikhlas ketika Myungsoo tidak mempedulikannya, namun…

“ Ayo memancing bersamaku, sebelum kita benar-benar tidak bisa lagi bersama, setelahnya aku tidak akan lagi memaksamu untuk bersamaku “ ucapan Myungsoo membuat Jiyeon terdiam, suara Myungsoo nampak begitu tenang ketika mengucapkannya.

Myungsoo berbalik menunggu reaksi Jiyeon atas permintaannya, cukup lama ia menunggu hingga akhirnya kini ia melihat Jiyeon tersenyum lembut padanya.

“ Kapan kita akan melakukannya ? “ tanya Jiyeon entah mengapa setelah mengucapkannya perasaannya begitu sesak, ia menyadari mereka tidak mungkin akan bersama, Myungsoo telah benar-benar memilih untuk berhenti dan mengikhlaskan dirinya.

“ Sebelum hari pertunanganku “ Myungsoo tersenyum meski begitu sulit ia melakukannya, dan tidak menunggu lagi jawaban Jiyeon ia kembali melangkah meninggalkan Jiyeon menuju rumahnya.

Jiyeon masih disana, memandang punggung oppanya hingga benar-benar menghilang, ia kira airmatanya telah habis untuk kembali jatuh, tapi nyatanya airmatanya masih menetes, membasahi kedua pipi putihnya.

“ Jiyeon-ah!!!”

Jiyeon mengusap cepat airmatanya ketika suara yang tidak asing ditelinganya terdengar, yeoja imut dengan baju hangat yang membenamkan tubuh kecilnya, sudah berada tidak jauh dari tempat ia berdiri memandang oppanya.

“ Jieun-ah “ ucap Jiyeon dengan suara yang terdengar berbeda, Jiyeon kembali ingin mengusap airmatanya, namun dengan cepat Jieun menghalanginya.

“ Tidak perlu, kau tidak perlu menghapus airmatamu, kau tidak bisa lagi mengelak mengatakan jika kau tidak sedang bersedih “ ucap Jieun.

Ia kemudian mendekat dan meraih bahu Jiyeon dan memeluk sahabatnya ini begitu erat “ Kau tau seseorang pernah mengatakan padaku, daun jatuh karena kerasnya angin bertiup, atau memang karena pohon yang tidak pernah memintanya untuk tinggal. Masalahnya kau atau dia yang menjadi daun eoh ? “ ucap Jieun penuh kelembutan agar Jiyeon tidak merasa diintimidasi karena kepura-puraannya.

Jiyeon tidak bisa mengatakan apapun, ia hanya membenamkan kepalanya dibahu Jieun, berusaha untuk tidak terisak meskipun airmatanya sudah tidak terbendung.

“ Kajja!!! Kita pulang, aku tahu kau pasti akan bertemu dengannya dan menangis, oleh sebab itu aku datang untuk menguatkanmu “ Jieun menepuk pundak Jiyeon dan melangkah memegang tangan sahabatnya erat.

Minho nampak begitu lemah terkulai ditempat tidurnya, wajahnya begitu pucat dengan suhu tubuh diatas normal, keringat dingin keluar dihampir semua bagian tubuhnya.

“ Ini reaksi normal setelah menerima suntikan, agassi harus memberikan obat ini secara teratur “ ucap uisa yang memeriksa keadaan Minho.

“ Nde, aku mengerti uisa, terimakasih anda sudah begitu cepat datang ketika aku menghubungimu “ ucap Suzy merasa tidak enak merepotkan.

“ Baiklah, jangan lupa berikan obatnya teratur “ ucap uisa dan segera pergi.

Suzy menatap Minho begitu cemas, beruntung Suzy memiliki feeling yang kuat bahwa ia harus datang kembali menemui Minho meskipun pada akhirnya kehadirannya kembali Minho tolak.

Suzy beranjak ke dapur dan membuatkan Minho semangkuk bubur seperti yang pagi tadi ia buatkan untuk Myungsoo oppanya, tidak berapa lama bubur yang ingin ia sajikan sudah matang.

“ Minho-ah, kau harus meminum obat agar segera sembuh, makanlah dulu bubur yang aku buatkan untukmu eoh “ Suzy duduk disamping Minho dan siap menyuapkan sesendok bubur kedalam mulutnya.

Diam, Minho hanya menatapnya seolah tidak suka, namun Suzy tidak menyerah ia terus membujuk Minho meski berkali-kali pula Minho menolaknya, hingga bujukan terakhirnya….

Pranggg….

“ Jangan paksa aku untuk memakannya !!! “ Minho berteriak seraya menepis mangkuk yang berada ditangan Suzy, hingga terlempar dan pecah.

Mulut suzy terbuka cukup lebar, tidak menyangka lagi-lagi Minho menolak secara kasar niat baiknya, dengan menahan airmata yang sudah menggenang dipelupuk matanya Suzy berjongkok memungut pecahan mangkuk yang bertebaran dilantai Minho.

Minho pun terkejut tidak menyangka tangannya begitu saja melayang, meski ia tidak sama sekali berniat melakukannya, dipandangainya Suzy yang sedang membersihkan pecahan mangkuk, namun lidahnya terasa kelu untuk mengatakan maaf.

Suzy sudah kembali berdiri, pecahan mangkuk ditangannya tidak sampai melukainya, namun ia tetap merasakan begitu sakit dan perih, ia menoleh ke arah Minho, namun namja itu bergeming, seolah tidak peduli apa yang Suzy lakukan, dengan cepat Suzy membersihkan sisa pecahan dan mengambil tasnya untuk segera pergi karena Minho sama sekali tidak menginginkan ia berada disana.

“ Aku manusia biasa, bukan malaikat seperti yeoja yang kau cintai, tapi mengapa tidak sedikitpun kau menghargai usahaku, sekarang aku harus mengatakan aku lelah, aku lelah selalu mengemis cinta padamu “ Suzy berkata dengan lantang , berkali-kali ia mengusap pipinya yang basah dengan airmata, namun itu tak pernah berhenti untuk turun.

Minho merasa bersalah, ia ingin bangkit dan mengejar Suzy namun tubuhnya terlalu lemah untuk melakukan itu.

Tangan Suzy sudah menempel tepat pada knop pintu, namun akhirnya…

“ Jangan pergi, aku membutuhkanmu tetaplah disini dan merawat hingga aku sembuh “ suara Minho terdengar bergetar.

Suzy menunda untuk memutar knop pintu, ia ingin sekali lagi mendengar Minho mengatakannya agar ia benar-benar yakin untuk kembali menoleh ke arah namja itu.

“ Temani aku, aku membutuhkanmu disini …mianhae “ Seolah tahu apa yang Suzy pikirkan, Minho mengulang kembali kalimatnya.

Suzy pun kini yakin untuk membalikkan tubuhnya, ia menatap lekat wajah Minho, dan tersenyum ketika kembali melangkah ke arah namja itu.

“ Aku harap ini kali terakhir aku menangis sedih karenamu, selanjutnya aku hanya ingin menangis karena aku bahagia bersamamu “ gumam Suzy dalam hati.

14
15
16

Jiyeon sibuk menandai kalender kecil ditangannya dengan tinta spidol berwarna biru, ia sedang menghitung banyaknya hari yang telah ia lewati tanpa kehadiran Myungsoo disekitarnya. Pertemuan mereka di dekat rumah orangtuanya malam itu adalah kali terakhir mereka bisa saling melihat dan itu sudah 3 hari belalu.

“ Apa kabarmu ? “

Jiyeon menengadahkan kepalanya melihat sosok yang menyapanya, Suzy…..ia tersenyum senang melihat Jiyeon “ Eoh Suzy-ah, aku baik-baik saja, kau…bersama siapa ? “ tanya Jiyeon mengedarkan pandangannya mencari barangkali ada sosok lain didekat Suzy.

“ Aku hanya sendiri, kau sedang apa disini ? “ tanya Suzy mengambil duduk disamping Jiyeon.

“ Hanya menikmati udara dingin, sebelum pulang “ ucap Jiyeon seraya mengelus kedua lengannya menyilang, menghirup udara dingin untuk ia nikmati.

Suzy melirik kalender disamping Jiyeon, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya “ Ini amanat oppa untukmu, ada apa dengan ponselmu kau tidak bisa dihubungi “ tanya Suzy seraya menyerahkan selembar kertas.

Besok, Danau Cheongpungho, tunggu aku distasiun Seoul jam 3 sore, bawa apapun yang menghangatkan tubuhmu.

“ Pergilah terakhir kali dengan oppa, jangan memikirkan apapun “ ucap Suzy tersenyum memegang lembut tangan Jiyeon.

Jiyeon terdiam, ia tidak menyangka Suzy tahu apa yang sedang ia pikirkan.

“ Aku sudah mengetahuinya dari Minho, kau menolaknya karena kau tidak mencintainya, sekarang meskipun aku tidak tahu perasaanmu yang sebenarnya kepada oppa, setidaknya berbahagialah untuk terakhir kali sebelum status oppa berubah eoh “ ucap Suzy, ia pun berdiri meninggalkan Jiyeon yang masih tidak bergerak menatap tulisan diatas kertas pemberiannya.

Ingin rasanya Suzy menceritakan bagaimana keadaan Myungsoo setelah Jiyeon menolaknya, hanya saja Myungsoo berpesan untuk tidak lagi memohon apapun, ia akan mencintai Jiyeon dengan cara yang sederhana, melihat senyum dan merasakan keberadaan yeoja itu, meski hanya dalam impiannya.

Keesokkan harinya….

Sulli begitu gembira tidak menyangka ketika pagi ini Myungsoo menghubunginya untuk melakukan fitting baju pertunangan mereka, meski Myungsoo tidak menjemputnya dan mengatakan akan langsung bertemu dibutik cukup membuat sulli terkejut, jika tahu secepat ini dari dulu saja ia meminta eomma Myungsoo untuk merayunya. Sulli pun mempersiapkan secantik mungkin penampilannya, agar Myungsoo tidak kecewa dan kembali tertarik dengannya ketika bertemu nanti.

Sementara di pantry hotel…

“ Eoh sudah siap semua perlengkapannya ? “ Jieun muncul dari balik pintu, ia kemudian membantu Jiyeon untuk berkemas.

“ Jam berapa oppamu akan menjemput ? “ tanya Jieun nampak antusias.
Jiyeon tersenyum, meski senyumnya belum sepenuhnya lepas “ Oppa memintaku untuk menunggunya jam 3 sore di stasiun Seoul “ ucap Jiyeon.

“ Eoh kalau begitu cepat, mengapa hanya meminta cuti setangah hari, kau kan jadi terburu-buru eoh “ Gerutu Jieun.

Tanpa mereka sadari, Sulli berada didepan pintu hendak menemui Jiyeon dan menyampaikan kabar bahwa oppanya sudah sepakat meneruskan pertunangannya, Sulli nampak geram mendengar apa yang ia ketahui dari obrolan kedua gadis itu.

“ Aku tidak boleh membiarkan mereka bersama, meski hanya satu hari “ ucap Sulli menahan geram.

Pkl 12.00KST

Myungsoo melirik jam ditangannya, ia menggoyang-goyangkan kakinya nampak gelisah menunggu Sulli yang belum juga muncul padahal ia sudah berada disana sejak 2 jam yang lalu, Myungsoo pun bangkit, melihat ke luar dari balik jendela dan kemudian kembali duduk gelisah.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan tertara nama eommanya disana.

“ Yeobboseo !!! “

“ Myungie-ah…..cepat kau datang ke rumah sakit, Sulli…Sulli mengalami kecelakaan !!! “

“ Mwo?? “

Myungsoo segera bergegas meninggalkan butik menuju rumah sakit, pikirannya kini terbelah, antara Sulli yang berjuang dirumah sakit, dan Jiyeon yang menunggunya distasiun, sepanjang perjalanan Myungsoo berdoa agar Sulli baik-baik saja agar ia bisa memenuhi janji yang lama tertunda sebelum ia benar-benar sulit bersama dengan Jiyeon.

Seoul station….

Seorang yeoja dengan kemeja panel merah yang terbuka agar kaos putih polos yang bertuliskan FREEDOM-nya terlihat, sedang duduk disalah satu kursi disebuah stasiun kereta, jeans dengan warna biru pudar yang sedikit menggantung dilengkapi sepatu kets putih menambah kesan sederhana namun casual pada dirinya.

Jiyeon, perasaannya begitu gembira hari ini, ia duduk diantara banyaknya wisatawan domestik serta penjual makanan yang lalu lalang disekitarnya, ada perasaan lain yang hadir hinggap dihatinya, entah apa sulit ia lukiskan. Sesekali ia melirik ke arah jam besar yang tersedia distasiun, terlalu gembira hingga ia sudah tiba 1 jam lebih cepat dari yang Myungsoo janjikan.

Beberapa jam berlalu…

Wajah gembira Jiyeon berganti menjadi cemas, Myungsoo belum juga muncul bahkan memberikan kabar untuknya, Jiyeon merogoh ponsel berinisiatif untuk menanyakan kebaradaan Myungsoo, dan berubah gugup ketika nomor lain yang justru muncul di layar ponselnya.

Perasaannya berubah resah, namun jarinya terlanjur menekan tombol terima.

“ Pasti kau sedang menunggu calon tunanganku hadir dihadapanmu, benar bukan ? “

Jiyeon terdiam mendengar kalimat to the point Sulli tanpa sapaan, yeoja yang awalnya begitu ramah terhadapnya kini berubah sinis.

“ Aku benar-benar kasihan padamu, begitu gigih untuk mendapatkan Myungsoo oppa, sampai-sampai hari pertunangan kami yang sudah didepan mata saja kau masih berani merayunya “

Dada Jiyeon serasa bergemuruh mendengar apa yang Sulli katakan, senyum yang sedari tadi terukir diwajahnya berubah menjadi raut kesedihan, tidak menyangka Sulli lancang mengatakan hal yang tidak ia lakukan.

“ Dengar…..Myungsoo oppa tidak akan pernah datang menemui yeoja seperti dirimu, Kau adalah yeoja perebut kekasih orang lain, apa kau tidak malu mendengar itu eoh !!! “

Jiyeon benar-benar sesak mendengar kalimat yang Sulli lontarkan, jika tidak sedang berada dikeramaian, ia tidak mungkin bisa lagi bertahan untuk tidak mengeluarkan emosi ataupun kesedihannya, sejenak ia mengambil nafas menyiapkan hati untuk membalas perkataan Sulli.

“ Maafkan aku, kau memang seorang yeoja yang memiliki banyak pendukung untuk kalian bersama, tapi kau tidak memiliki hatinya, dia…dia adalah seorang namja dengan satu yeoja dalam hatinya, dan itu aku “ ucapnya tenang namun terdengar menjengkelkan ditelinga Sulli.

Jiyeon langsung menutup ponselnya, tidak peduli lagi bagaimana perasaan Sulli mendengar apa yang ia katakan, ia tidak akan lagi membiarkan orang lain menginjak-injak harga dirinya, terlebih Sulli.

Jiyeon mengibas-ibaskan telapak tangan didepan wajahnya menghilangkan rasa panas dan perih karena air yang sudah menggenang dipelupuk matanya, semua orang nampak menatapnya heran, sebisa mungkin ia menyunggingkan senyumnya meski itu terlihat pahit.

“ Oppa, kau tidak mungkin mengingkari janjimu, kau pasti akan datang…..aku akan menunggu hingga kau datang “

TBC

142 responses to “[ CHAPTER – PART 18 ] RAINBOW AFTER THE RAIN

  1. sebelll sama suli … maksain cwo yg ga sukka sama dia sama ja kyak cwe ga da harga diri.a … jiyeonn berjuanglah demii myungsooo … hahahhhaaa . jdi baper baca.a …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s