LIKE THE FIRST TIME! [1]

Like The First Time !? {Part 1}

poster-like-the-first-time

Lenght             : Part / Chapter
Genre              : Romance & Sad
Main Cast        : ~ Park Jiyeon
                        : ~ Kim Myungsoo
Other Cast       : (Cari sendiri..!!)
Author             : @shaffajicasso
NB                  : Say NO to plagiator!! Readers please RCL ..! Thanks..
                          (Read Comment Like)

Author POV

      Sinar matahari masuk ke dalam kamar Jiyeon melalui celah-celah kecil dikamarnya, jendela kamar yang lumayan besar masih tertutup gorden yang besar. Burung-burung berkicauan, dan bertengger manis di pagar balkon kamar Jiyeon. Sementara sang pemilik kamar masih tertidur pulas.

     Tak lama kemudian datang seorang wanita paruh baya, ia langsung saja membuka gorden nya, alhasil sinar matahari masuk seutuhnya ke dalam kamar. Jiyeon mengerjap-ngerjapkan matanya karna silau, tapi sesaat kemudian ia tertidur kembali.

“Park Jiyeon bangunlah! Ini sudah jam setengah 7! Cepat mandi dan berangkat ke sekolah, ini hari pertamamu masuk sekolah! Ppali ppali!!” wanita itu memukul pantat Jiyeon.

“Ah, apeun!” Jiyeon bangun, tapi tidak sepenuhnya bangun. Matanya masih menutup.

“Jiyeon! Cepatlah! Ayo nanti eomma antar kau ke sekolah!” ucap wanita itu.

“Eomma jebal, aku masih mengantuk.” Ucap Jiyeon membuka matanya malas.

“Baiklah kalau begitu, eomma tidak akan memberi uang jajan kepadamu selama seminggu!” ucap wanita itu tegas lalu berdiri. Jiyeon melotot kaget.

“Mwo? Andwae!!” ucap Jiyeon kesal. Dengan cepat dia langsung pergi ke kamar mandi, dengan tergesa-gesa.

     Setelah Jiyeon masuk ke kamar mandi. Wanita itu tertawa kecil melihat tingkah laku anaknya.           Lalu wanita itu pergi keluar dari kamar Jiyeon.

    Jiyeon keluar dari kamarnya, ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Sesudah sampai di bawah Jiyeon menghampiri orangtuanya yang sedang sarapan,di meja makan.

“Pagi appa,eomma!” Jiyeon mencium pipi ayah dan ibunya.

Lalu Jiyeon mencomot roti bakar yang ada di meja lalu memakannya dengan  cepat.

“Jiyeon,pelan-pelan makannya!” ucap ayahnya.

“Mian appa, tapi aku harus cepat ke sekolah!”Ucap Jiyeon agak tidak jelas, karena mulutnya

penuh dengan roti. Ibunya memberikan susu kepada Jiyeon, lalu Jiyeon meminumnya.

“Kajja eomma kita berangkat!” ucap Jiyeon.

“Ne, kajja.” ucap nyonya Park. Nyonya Park berdiri dari duduknya, lalu meminum air putih, dan mengambil tas yang ada di samping kursinya.

“Appa kami berangkat dulu, annyeong..!!” Jiyeon melambai ke arah ayah nya itu

*********

        Sesampai di kelas, sahabat Jiyeon, Jieun. Dengan cepat menghampiri sahabat nya itu, lalu merangkul Jiyeon. Lalu berbisik pelan kepada Jiyeon, Jiyeon bergidik geli karena deru napas Jieun yang terasa di telinga nya.

“Ya! Hentikan, itu geli!” ucap Jiyeon, lalu melepas rangkulan Jieun. Dan Jiyeon meninggalkan Jieun, menuju tempat duduk nya.

“Ya! Park Jiyeon!” panggil Jieun. Tapi Jiyeon tidak menggubris nya, dan terus berjalan. Jieun mendengus kesal.

     Jiyeon menaruh tas sekolah nya di kursi, lalu ia duduk di kursi samping jendela. Jiyeon mengambil komik dari dalam tas nya, kemudian membaca komik tersebut. Jieun menghampiri Jiyeon, lalu duduk disampingnya.

“Ya! Park Jiyeon, lihat aku sebentar saja!” ucap Jieun. Jiyeon hanya diam, terus membaca komik.

“ Park Jiyeon!! Apa kau bisa mendengarku? Lihat aku dan dengarkan aku bicara! Ada apa dengan kau ini! Tolong lihat aku!!” ucap Jieun mulai kesal dengan sikap Jiyeon. Jiyeon berhenti membaca, ia mengalihkan perhatian ke luar jendela. Lalu menutup komik nya itu, dan beralih menatap Jieun yang sekarang sedang kesal.

“Ada apa?” tanya Jiyeon.

“Apa kau sudah tahu kabar tentang Jongin?” tanya Jieun. Jiyeon menggeleng.

“Kabar tentang apa?” tanya Jiyeon. Jieun menghela napas, lalu kembali bicara.

“Jiyeon-ah, Jongin di rawat di rumah sakit sekarang, karena kecelakaan…” ucap Jieun. Jiyeon melotot kaget, Jiyeon terdiam beberapa saat.

“Jiyeon-ah, neo gwaenchana?” tanya Jieun.

“Eoh, gwaencahana.” Ucap Jiyeon.

“Bagaimana jika kita menjenguknya sesudah pulang sekolah nanti?” usul Jieun.

“Baiklah, aku akan menemani mu…” ucap Jiyeon. Dan membuat Jieun tersenyum.

*********

Jieun POV

      Selama pelajaran berlangsung aku sama sekali tidak fokus, tidak tahu kenapa. Hanya beberapa saja yang masuk ke otakku, sisanya tidak. Aku tidak tahu pikiran ku sedang ke mana, sejak tadi aku hanya memikirkan Jongin. Sedang apa sekarang Jongin? Apa dia kesakitan? Apa dia sedih atau menangis? Ah, aku ingin segera menjenguk nya.

Aku rindu pada Jongin. Jongin adalah sahabatku sejak sekolah menengah pertama. Jongin itu sangat ramah, tampan, dan baik. Itu yang membuat ku menyukainya.

**********

 Seperti keinginanku, aku dan Jiyeon pergi ke rumah sakit dimana Jongin dirawat. Sesampai di rumah sakit, aku menghampiri recepcionist disitu.

“Apa disini ada pasien yang bernama Kim Jongin?” tanya ku pada recepcionist itu.

“Tunggu sebentar, akan aku cari…”ucapnya. Lalu ia membuka sebuah buku, selembar demi selembar ia mencari nama. Jari-jari nya sangat lihat, aku kagum melihatnya.

     Aku melihat name tag yang berada di sebelah kanan atas bajunya. ‘Kim Jiwon’. Itulah yang tertulis di name tag nya.

“Ya, disini ada yang bernama Kim Jongin. Ia berada di kamar nomer 3408. Berada di lantai 5.” Ucap recepsionist itu, lalu menutup buku itu.

“Gamsahabnida…”ucapku. Aku dan Jiyeon langsung meninggalkan recepsionist itu dan mencari kamar dimana Jongin berada.

“Jiyeon-ah ini kamarnya!” ucapku. Dan benar saja, ini adalah kamarnya.

Aku mengetuk pintu kamar itu, tidak lama kemudian pintu itu terbuka.

JIYEON POV

            Pintunya terbuka, dibalik pintu ini terlihat seorang namja yang jangkung, tampan, ah dia manis. Kkkkk~ dia benar-benar tampan.

“Apa kalian teman Jongin? Dan ingin menjenguk Jongin?”tanya namja itu membuyarkan lamunanku.

“Ne, kami temannya.”ucap Jieun. Aku meng-iyakan ucapan Jieun.

“Apa kami boleh menjenguk Jongin?” tanyaku.

“Masuk saja!”ucap nya.

“Gamsahabnida…”ucapku. Aku dan Jieun memasuki kamar itu. Sementara namja itu berada di belakang untuk menutup pintu.

“Kalian kesini?”tanya Jongin. Aku tersenyum. Kami menghampiri ranjang Jongin. Sesampai di ranjang Jongin, entah apa yang ada dipikiran Jongin. Dengan tiba-tiba ia menggenggam tanganku. Jujur, aku aneh dengan sikapnya.

“Hyung perkenalkan mereka ini temanku. Jiyeon dan Jieun.”ucap Jongin.

“Ya! Jiyeon, Jieun! Kenalkan ini kakakku. Namanya Kim Myungsoo!” ucap Jongin.

“Ah, annyeong. Aku Park Jiyeon, dan ini Lee Jieun!”ucapku memperkenalkan diri.

“Dia satu tahun lebih tua dari kita. Dia akan sekolah di sekolah yang sama dengan kita.”ucap Jongin.

“Jamkkaman! Ya! Lee Jieun! Apa kau memberi tahu Jiyeon kalau aku dirawat?”ucap Jongin. Jieun mengangguk.

“Aigoo, kau benar-benar tetangga yang ergghh~!!”ucap Jongin.

“Mwo? Kau ingin bicara aku apa, eoh?”ucap Jieun.

“Anio, bukan apa-apa!”ucap Jongin. Jongin membenarkan posisinya menjadi duduk.

“Mwo? Ya!!” Jieun mengambil bantal di sofa, lalu memukul Jongin dengan bantal itu. Jongin tertawa senang.

Jongin berusaha menahannya dengan tangan satu, tapi tak berhasil. Refleks tangan Jongin yang sedang menggenggam tanganku terlepas. Dan Jongin melanjutkan perang bantal nya bersama Jieun.

MYUNGSOO POV

 “Kenapa disini begitu panas?” ucap Jiyeon.

“Aku juga merasa begitu, disini begitu panas. Membuatku gerah..” ucapku.

Jongin dan Jieun berhenti dalam perang bantal itu. Mereka menatap aku dan Jiyeon bergantian.

“Wae?” tanyaku dan Jiyeon serempak.

“Apa kalian tidak bisa melihat disini ada AC??” ucap Jongin dan menunjuk AC.

“Anio, aku merasa panas disini.” ucapku dan Jiyeon serempak. Lagi????

“Ya! Apa kau tidak mempunyai kata lain, mengapa mengikutiku, huh??”tanya nya.

“Siapa yang mengikutimu? Untuk apa juga aku mengikutimu?”ucapku, aku memutar bola mataku.

“Aissh, sudahlah tidak usah memasang wajah sok keren seperti itu! Kau tahu, kau itu tidak keren!!”ucapnya meremehkanku.

“Mwo? Ya! Apa kau tidak lihat bahwa aku sekeren dan setampan ini?” ucapku.

“Hhhh, percaya dirimu sangat tinggi sekali!” ucapnya, ia melipat tangan nya di dada.

“Ya! Aku tidak suka diremehkan seperti ini, kau tahu?”ucapku, aku sudah mulai kesal.

“Aisshh, kalau saja kau bukan kakak kelas dan kakak nya Jongin. Sudah kupatahkan lenganmu dengan jurus taekwondoku!” ucap Jiyeon.

“Kau bisa taekwondo? Aku tidak menyangka kau bisa taekwondo! Hebat!” aku menempelkan ibu jariku di dahi nya dan mendorongnya sedikit.

“Ya! Kau ini….”

“Sudah jangan bertengkar!!” Jongin melerai kami berdua. Aku mendengus kesal.

“Jiyeon-ah, kajja kita pulang. Ini sudah mau sore.” ucap Jieun, Jieun menarik lengan Jiyeon.

“Jongin-ah aku pulang dulu, dan mianhae aku sudah bertengkar dengan kakak mu ini…” ucap Jiyeon, lalu melirik sinis kepadaku.

“Ne gwaenchana, hati-hati dijalan..” ucap Jongin, menunjukkan senyumannya.

“Hhhh, anak itu…” batinku.

Jiyeon dan Jieun pun keluar dari ruangan ini.

‘Aku kesal kepada Park Jiyeon!’Aku bergidik ngeri.

“Waeyo hyung? Apa kau kedinginan sekarang?”tanya Jongin lalu tertawa.

“Ya! Aissh tidak lucu!” aku menjitak kepalanya. Jonginpun mengusap kepalanya.

“Sudahlah, aku ingin pulang! Jaga pola makanmu, jangan tidur malam-malam.! Yasudah aku pulang!” ucapku. Lalu aku keluar dari ruangan ini.

Aku sampai ditempat parkir, di mana motorku diparkirkan. Aku merapatkan jaketku, hari ini aku memakai double jaket. Karena malam ini dingin. Baru saja aku akan memakai helm, handphoneku berbunyi. ‘Bae Suzy’. Dengan malas aku mengangkat telepon darinya.

“Yeoboseyo? Waeyo?”tanyaku ketus.

“….”

“Mwo? Apa kau sudah gila? Ini sudah mau malam! Lagipula besok aku harus sekolah!” ucapku.

“….”

Aku mendengus kesal, saat dia mematikan sambungan nya secara tiba-tiba. Yeoja itu tidak berubah, terus saja keras kepala. Aku tidak suka dia!

***********

#CAFE

Aku memasuki sebuah kafe, seperti yang Suzy suruh. Aku mengedarkan semua pandanganku. Dan aku menemukan Suzy, ia sedang menunduk sembari memegang cangkir. Aku menghampirinya. Saat sudah sampai, aku duduk di depannya. Suzy menengadahkan kepalanya.

“Kau sudah datang…”ucapnya. Aku hanya diam saja.

“Cepat beritahu aku apa yang membuatmu ingin menemuiku? Aku tidak punya banyak waktu!” ucapku ketus, tanpa memandang  Suzy.

“Mianhae… mian aku tidak menjemputmu di bandara. Aku-”

“Aku tidak ingin membahas itu lagi! Sebenarnya apa arah pembicaraanmu?” tanyaku, aku kesal lalu menatapnya.

“Apa kau masih menganggapku sebagai yeojachingu mu?” tanyanya, ia menunduk. Aku terdiam sejenak.

“Anio! Aku sudah tidak menganggapmu sebagai yeojachinguku lagi…”ucapku cuek. Suzy mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca.

“W-waeyo?” tanyanya.

“Wae? Wae? Wae? Seharus nya aku yang bertanya. Kenapa kau selingkuh dibelakangku?? Kenapa kau menduakanku? Waeyo?” ucapku marah, suaraku meninggi. Suzy terkejut.

“Jadi kau sudah tau? Syukurlah kalau kau sudah tau. Maafkan aku, saat kau ke Amerika lagi setahun yang lalu, karena liburan telah habis. Beberapa bulan kemudian aku sudah mempunyai namjachingu lagi. Maafkan aku, Myungsoo.” Lirihnya. Ia menangis.

“Sebaiknya kita putus saja!” ucap Suzy.

“Aku memang menginginkan itu!” ucapku ketus.

Aku menatap keluar jendela, aku melihat di luar ada seorang yeoja sedang berjalan. Ia menendang apapun yang ada di depannya. Seperti batu dan kaleng. Aku menyipitkan mataku. ‘Jiyeon’. Sedang apa ia malam-malam masih disini?

Tiba-tiba datang tiga orang pria, menghampiri Jiyeon. Lalu menggoda Jiyeon. Bahkan satu diantara mereka memegang dagu Jiyeon. Dan ada satu lagi membelai rambut Jiyeon. Dan yang satunya menghalangi Jiyeon pergi. Jiyeon berusaha menghindar dari mereka tapi tidak bisa. Oh god! Aku harus menolongnya!

“Park Jiyeon!!” teriakku. Aku bangun dari duduk ku. Lalu aku berlari, menuju luar. Tanpa aku lihat aku menabrak seorang namja.

“Jaesonghabnida..”ucapku. Lalu aku berlari lagi.

***********

Jiyeon POV

“Ya! Jangan ganggu aku!” teriakku.

Tapi satu diantara mereka membelai rambutku, tapi aku memalingkan mukaku. Aku berusaha untuk kabur dari mereka tapi tidak bisa, karena yang satunya menghalangiku.

‘Ya Tuhan bagaimana ini?’ batinku. Aku sudah tidak kuat. Perlahan air mataku menetes, dan semakin lama semakin deras.

“Ya! Jangan ganggu yeoja itu!!”teriak seseorang. Ketiga pria itu menoleh lalu tertawa. Myungsoo.

“Ya! Bocah, apa kau ingin menjadi pahlawan yeoja ini?” ucap pria yang satu.

“Aku bukan bocah!!!”teriak Myungsoo marah. Dengan cepat Myungsoo memukul pria yang tadi menyebutnya bocah.

“Dengarkan, dan camkan! Aku ini bukan bocah!!”ucapnya, ia terus memukulinya. Hingga pria itu tidak berdaya.

Mungkin karena tidak terima temannya dipukuli, pria yang satunya memukul Myungsoo. Hingga Myungsoo tersungkur. Lalu ia memukul Myungsoo lagi.

‘Omo! Myungsoo berdarah!’ batinku.

“Aisshh! Kau sudah membuatku berdarah!!” ucap Myungsoo dengan menyeringai. Myungsoo menyerbu pria yang tadi memukulnya. Tapi masih ada satu pria lagi.

Pria itu memegang kerah jaket Myungsoo, lalu menariknya. Hingga Myungsoo juga tertarik. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk Myungsoo? Sementara aku ketakutan.

Aku melihat ke sekitarku, ada kayu. Aku mengambil kayu itu. Aku berniat untuk memukul pria itu. Aku lihat Myungsoo dipukuli oleh pria itu. Dengan tangan  yang gemetaran, aku memberanikan diri untuk memukulnya.

‘Aku akan memukulnya dengan hitungan ke-tiga. 1…2…3 !!”

“BUUKK” Aku berhasil memukulnya, tapi ia tidak teler. Ia berbalik badan, dan mendekatiku. Aku berusaha menghindar darinya, aku mundur dan terus mundur.

“Arrrggghhh!!” aku menutup mataku, aku tidak bisa melihat ini semua.

“B+R+U+U+U+K+K = BRUUUKK” (?) -_____-

Aku membuka mataku, ternyata pria yang tadi kini sudah tergeletak di tanah. Aku lihat ada seorang namja yang membantu Myungsoo dari satu pria lagi. Dan ya, pria yang satu berhasil ditaklukan oleh namja yang tadi. Aku menghampiri Myungsoo, yang sedang tergeletak kesakitan.

“Myungsoo-ssi!”panggilku. Aku memangku kepala Myungsoo di pahaku.

“Ya! Cepat pergi darisini! Kalau tidak aku akan menghajar kalian lagi!” ucap namja yang membantuku dan Myungsoo.

“Jiyeon-ssi, kau tidak apa-apa?” tanya Myungsoo. Aku mengangguk.

“Gomawo..”ucapku. Myungsoo tersenyum.

“Kalian tidak apa-apa?” tanya namja tadi.

“Mmm, gamsahabnida sudah membantu kami berdua.” Ucapku. Myungsoo mengangguk.

“Baiklah, aku pergi dulu..”ucap nya lalu pergi.

“Myungsoo-ah!” panggil seseorang. Aku lihat itu seorang yeoja, ia berlarian menghampiri Myungsoo. Lalu yeoja itu langsung memeluk Myungsoo. Aku terbengong melihat pemandangan ini.

“Lepaskan aku!” ucap Myungsoo. Lalu melepaskan pelukan itu.

“Park Jiyeon, tolong bantu aku berdiri!”ucap Myungsoo. Aku menurut. Saat Myungsoo sudah berdiri, tiba-tiba ia merangkulku. Aku menoleh kepadanya, dan memasang wajah bingung.

“Apakah dia, yeojachingumu yang baru?” tanya yeoja itu. Aku membulatkan mataku.

“Itu bukan urusanmu Bae Suzy!!” ucap Myungsoo. Yeoja itu tersenyum pahit.

“Kalau begitu buktikan padaku. Cium dia kalau kau berani, kalau kau berani berarti ia memang yeojachingumu.” Ucap yeoja itu.

‘Mwo? Apa yeoja itu gila? Cium? Aku yang di cium? Aiissh!’ batinku kesal.

“Baik, kalau itu maumu!” ucap Myungsoo. Myungsoo memutar tubuhku, hingga aku dengan Myungsoo berhadapan. Dengan cepat Myungsoo mencium dahiku. Aku benar-benar terkejut.

‘Apa ini mimpi? Myungsoo mencium dahiku, dan ini sudah cukup begitu lama…’ batinku. Lalu Myungsoo melepaskan bibirnya dari dahiku, lalu memutarku lagi. Dan merangkul ku lagi.

‘Apa aku ini boneka? Seenaknya saja ia memutar tubuhku!’ batinku kesal.

“Bagaimana apa kau percaya?” ucap Myungsoo. Yeoja itu menggeleng.

“Mwo? Apa lagi sekarang?” tanya Myungsoo.

“Cium bibirnya!” ucap yeoja itu to the point. Yeoja ini benar-benar sudah gila.

“Nona, tolong anda percaya. Aku ini benar-benar yeojachingunya. Tolong jauhi namjachinguku ini!” aku memberanikan diri mengucapkan ini.

“Apa anda masih tidak percaya? Aku akan membuktikannya!” ucapku. Aku menelan ludahku sendiri. Dengan cepat aku mencium pipi Myungsoo, lalu melepaskannya lagi.

“Bagaimana?” tanyaku. Aku menggandeng tangan Myungsoo.

“Semoga kalian berbahagia!” ucap nya, lalu pergi begitu saja. Setelah yeoja itu pergi jauh, dengan cepat aku melepaskan tanganku.

“Benar-benar yeoja gila!” ucapku kesal. Aku sadar bahwa tangan Myungsoo masih merangkulku.

“Ya! Lepaskan tanganmu itu!!” ucapku. Lalu menepis tangan Myungsoo.

“Kajja kita pulang, aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah malam!” ucap Myungsoo. Lalu berjalan duluan, menuju motornya.

“Aku yakin Suzy masih berada disekitar sini. Jadi kita masih harus berpura-pura. Ini kau pakai jaketku! Apa kau tidak dingin, hanya memakai jaket tipis seperti itu?” Myungsoo memberikan jaketnya padaku.

“Yeoja gila itu. Gara-gara yeoja itu aku mencium pipimu!”ucapku kesal, sembari memakai jaket Myungsoo.

“Ya! Kau tidak memakai sarung tangan? Ini sangat dingin! Tunggu sebentar!” aku membuka tasku, lalu mengambil sarung tangan.

“Pakai ini, agar tidak kedinginan. Lalu….” aku melepaskan syalku. Lalu melilitkan syal tersebut ke leher Myungsoo. Untung saja aku memakai syal dua.

“Ayo berangkat!” ucapku.

“Hhhh.. pakai helm nya!” Myungsoo memberikan helm kepadaku. Lalu aku memakainya.

***********

“Gomawo Myungsoo-ssi.”ucapku tersenyum.

“Mukamu pucat, Jiyeon-ssi!” ucap Myungsoo.

“Benarkah?”tanyaku. Aku memegang wajahku.

“Arrgghhh…..” Aku memegang perutku. Perutku sakit.

“Waeyo?” tanya Myungsoo.

“Anio, gwaenchanayo. Kau pulang saja, ini sudah malam…”ucapku.

“Rumahku dekat dari sini, hanya beda 3 blok saja. Jadi tidak sampai 1 jam kesana…”ucapnya.

“Apa kau benar tidak apa-apa?” tanya Myungsoo.

“Eum, gwaenchana..”ucapku. Myungsoo mendekat kearahku. Lalu ia meraihku ke dalam pelukannya.

“Apa kau bisa lihat disekitar sini ada mobil yang sedari tadi mengawasi kita? Itu adalah Suzy, jadi alasan aku memelukmu adalah itu.”ucapnya.

“Apa perutmu masih sakit, Jiyeon-ssi?” tanya nya.

“Ini sakit sekali. Tolong seperti ini sebentar saja. Karena ini terasa hangat, dan agar perutku tidak begitu sakit….”ucapku dengan lirih. Aku membalas pelukannya.

“Baiklah.” Ucapnya. Myungsoo mempererat pelukannya

*****

Aku menaiki anak tangga, langkahku terhenti ketika suara barang pecah terdengar. Aku juga mendengar suara tangisan, lalu jeritan. Dan aku mendengar appa marah-marah.

‘Eomma… appa… apa kalian bertengkar?’ batinku. Aku menatap pintu kamar eomma dan appa. Perlahan ada yang mengalir di sekitar pipiku, dengan cepat aku menyekanya. Lalu melangkah pergi menuju kamar tidurku.

Aku menutup pintu kamarku dengan pelan. Aku melangkah menuju tempat tidurku, lalu aku duduk di pinggir ranjang. Aku terisak mengingat kejadian tadi.

“Ya Tuhan, apa orang tuaku akan berpisah? Andwae! Mereka tidak boleh berpisah!”

‘Tok tok tok’

Aku menutup mulutku agar isakanku tidak keluar.

“Chagi apa kau sudah pulang? Chagi-ya ataukah kau sudah tidur?” itu suara eomma.

“Baiklah tidur yang nyenyak, semoga mimpi indah. Selamat malam chagi-ya…”ucap eomma. Lalu terdengar suara derap langkah yang semakin menjauh. Aku menghela napas lega.

“Ya Tuhan, apakah ini ujian yang engkau berikan kepadaku?”

“Aaahhh…”

 

To Be Continue ….

26 responses to “LIKE THE FIRST TIME! [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s