[CHAPTER 2] A Thousand Years

a thousand years part 2

a special fanfiction by

astriadhima

A Thousand Years

Romance, Angst // Chapter // PG

this fiction casted by :

Park Jiyeon as Wei Jiyi

Kim Myungsoo as El

Suzy as Suzy

Naeun as Naeun

Kai EXO as Kai (Naeun’s Brother)

Disc! Cats isn’t belong to me. I just borrow them for my story.

Prolog| Chapter 1

Saat hati Jiyi mulai teriris-iris dengan tatapan diantara mereka yang sulit diartikan.

2nd Chapter

“Setelah kalian semakin dekat, Kami akan membicarakan yang lebih jauh.”—Madame Ezra

                Hari itu Jiyi bangun pagi-pagi sekali setelah Chu Ma mengetuk pintu kamarnya. Hari itu menjadi sangat istimewa bagi keluarga Ezra juga kaumnya. Pasah, hari raya mereka. Terhitung ini adalah Pasah yang kesepuluh bagi Jiyi, meskipun secara nyata ia tak ikut terlibat dalam perayaan mereka. Jiyi sibuk mengatur makanan serta pinggan-pinggan yang akan ia atur diatas meja makan. Semenjak subuh Chu Ma sudah repot dengan olahan makanan sehingga Jiyi merasa iba jika harus membebankan dekorasi meja makan padanya. Alhasil, hanya dialah yang mengatur meja makan beserta dekorasinya.

Sementara El menunggu dengan duduk-duduk diberanda. Jiyi sibuk mondar-mandir membawa baki-baki. Yang diantaranya terdapat daun-daun pahit yang sering mereka makan saat hari raya. Dari sudut matanya, El mengamati Jiyi saat tergopoh-gopoh menenteng sebuah baki. Tanpa berniat untuk membantu, lelaki itu tertawa hambar. Tak lama kemudian Madame Ezra memasuki ruang makan. “Kau sudah menyiapkan semuanya nak?” tanya Madame Ezra pada Jiyi. Jiyi seketika berhenti menata potongan daging di sebuah mangkuk lalu menatap tuannya. “Tinggal sedikit lagi, Nyonya.” Jawab Jiyi sambil tersenyum. Ia melanjutkan kegiatannya. “Kali ini kau tidak membeli permen itu kan? Aku ingat saat Rabi mencium wangi permen itu beberapa kali di Pasah tahun lalu. Kau tahu betapa malunya aku.” Kata Madame Ezra kemudian sambil membantu Jiyi mengatur susunan makanan. “Tidak ada Nyonya. Kali ini Chu Ma sendiri yang berbelanja. Saya bisa meyakinkan Nyonya bahwa ia bisa berbelanja dengan benar Tidak aka nada permen dengan minyak babi.” Balas Jiyi.

*Rabi : ahli agama atau pendeta dalam agama Yahudi

El yang tidak tahan dalam duduknya menghampiri kedua perempuan itu seraya bertanya. “Bagaimana sih rasa permen babi itu?” seru El sambil menyandarkan sikunya ke sandaran kursi. Alisnya berjingkat-jingkat saat bicara, Jiyi tak sengaja melihatnya. “Sudahlah anakku. Kau tak perlu menentang Taurat. Kalau dibilang jangan ya jangan.” El membalas jawaban ibunya dengan cemberut. Jiyi yang tak menghiraukan El tetap sibuk memenuhi meja dengan makanan. Dari arah dapur timbul bau-bau yang sangat mengasyikkan. El lapar dibuatnya.

“Hari ini Naeun akan datang menemani Rabi.. Kau ingat gadis itu kan?” Madame Ezra duduk disebuah kursi dan menatap El dengan sungguh-sungguh. El menjilat bibirnya yang kering. “Naeun?” tegasnya kemudian. “Iya, Naeun. Anak gadis Rabi yang pertama. Dia pernah datang ke rumah kita di Pasah tujuh tahun yang lalu. Kira-kira usia kalian baru sepuluh tahun?”. El sibuk dengan pikirannya sendiri, mengingat-ingat apakah ada nama seperti itu dalam kurun waktu hidupnya. Seingatnya setiap Pasah ia akan bertemu dengan kakak laki-lakinya yang sering ia sapa Jong. Juga kakak perempuan angkatnya. Hanya itu yang ia ingat. Ia selalu bermain dengan anak-anak itu sejak kecil. Tetapi seorang gadis bernama Naeun? Apa yang pemalu itu? Pikir El dalam hati. “Setelah kalian semakin dekat, Kami akan membicarakan yang lebih jauh.” Kata Madame Ezra secara tiba-tiba. Tatapan El berubah serius, Jiyi mencuri pandang kearah Madame Ezra. Keduanya bingung mengenai pernyataan ibu serta majikan itu.

 

 

Beberapa orang berjanggut serta berbaju mahal mulai memasuki rumah Ezra. Mereka mengucapkan salam saat bertemu. Ezra memeluk mereka satu persatu dan menanyakan kabar masing-masing. Jiyi sempat mengamati seseorang yang memakai turban serta berbaju besar dan longgar. Alisnya tebal dan kulitnya agak gelap. Jiyi menatap dirinya sendiri. Melihat betapa jauh perbedaan antara mereka. Secara umum tamu-tamu Ezra berfisik sama dengannya. Mereka ini jauh-jauh datang dari seberang hanya untuk merayakan Pasah. Kebanyakan dari mereka adalah pedagang yang merupakan kolega bagi Ezra. Disudut barisan, El mengenakan baju berwarna lumut memegang tangannya dengan gelisah. Ia tahu ekspresi seperti itu, ekspresi El yang bosan dan jenuh. Ezra tak henti-hentinya menepuk pundak El saat ia mengenalkan pada orang-orang. Mereka memeluk El dengan erat. Mengingat badan mereka besar sekali sedangkan El cukup kecil ketimbang laki-laki dari kaumnya sendiri.

Teriakan seorang pemuda menyita perhatian El serta Ezra. Setelah mereka melihat pemuda itu, mereka tersenyum. Seorang pemuda dengan seorang wanita, lebih tua sedikit dari El, memasuki ruangan. Setelah mendekat ke gerombolan, si pemuda memeluk Ezra dengan rindu. “Jong, anakku.” Seru Ezra bahagia. Ialah Jong anak Ezra yang pertama yang berarti El. Umur mereka berbeda tiga tahun. Jong yang sedikit berbeda dengan kebanyakan lelaki dikaumnya karena ia berambut pirang sungguh bahagia memeluk Ezra. Setelah itu ia menjabat tangan El dan mengguncang tubuhnya. Mereka terbahak bersama. Dibelakangnya seorang gadis, dua tahun diatas El, tersenyum malu lalu memeluk Ezra. Dia Odelle, anak angkat Ezra yang berarti kakak perempuan tiri bagi El. Ezra mengangkatnya sebagai anak saat ia dilahirkan. Mina, ibu Odelle yang merupakan adik Ezra meninggal setelah melahirkan gadis itu. Karena merasa iba terlebih lagi ayah Odelle yang merupakan orang China telah meninggalkannya sejak ia dalam kandungan, Ezra mengasuhnya hingga dewasa. Hingga tak ada tembok setipis apapun yang menghalangi mereka sebagai keluarga. Dia Odelle, anak perempuan Ezra.

Odelle yang merasa tersanjung juga tersipu memeluk El dengan canggung. Seiring hari demi hari berjalan, ia semakin tumbuh dewasa hingga timbul kecanggungan diantara mereka. Bagaimanapun juga Odelle seorang perempuan dan El merasa tak sanyaman dulu saat memeluknya. “Kakak, kau semakin cantik.” Pujinya kemudian. Odelle yang berwajah China, karena ibu dan ayahnya seorang China,melihat ke sekeliling ruangan. Ia mencari jiyi, selalu begitu saat mereka mengunjungi rumah. “Jiyi? Apakah ia semakin cantik dan tumbuh besar?” tanya Odelle pada El. Sontak El memandang ke balik tirai, dimana Jiyi tadi berdiri. Tetapi gadis itu sudah tidak ada. Entah pergi kemana. “Sepertinya aku sempat melihatnya dibalik tirai. Kau tak perlu khawatir, ia semakin cantik sekarang.”

 

 

Keempat remaja itu El, Jiyi, Jong dan Odelle duduk dengan meja bundar ditengahnya. Diatas meja itu beberapa makanan yang asapnya masih mengepul menawarkan kelezatan yang menakjubkan. Mereka duduk sambil mengobrol, juga tertawa dengan celetukan Jong yang terdengar segar. Jiyi merasa dianggap terhormat di pergaulan ini. Meskipun ia seorang budak, ia tetap diajak bicara bahkan duduk satu meja. Mereka tak pernah mementingkan status social diantara mereka. Kehidupan mereka mengalir apa adanya. Odelle sedari tadi menatap Jiyi dengan heran. Sesekali ia tersenyum saat melihat wajah Jiyi merona. “Kau sungguh cantik sekarang. Aku tak yakin apakah El bisa menikah dikemudian hari.” Ucap Odelle. Jiyi yang sedikit bingung mengartikan kalimat itu menuang the ke cangkir Jong juga El. Keduanya telah meminum dua gelas the sekali tenggak. Lalu mereka melanjutkan pembicaraannya lagi.

Madame Ezra tiba-tiba muncul menghampiri El dan saudaranya . Mukanya begitu segar dan senang. Saat ia tersenyum pipinya terangkat hingga matanya hanya tinggal sebaris. “Rabi sudah datang bersama Naeun.” Ujarnya. “Naeun?” komentar Odelle. Keempat remaja itu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ruang makan, dimana mereka akan berkumpul dan bercakap-cakap. Di sepanjang jalan El serta saudaranya sibuk bertanya siapa Naeun, apakah mereka masih ingat dengan wajah itu?

Para lelaki duduk di meja makan. Mereka mengobrol mengenani banyak hal, mulai dari harga bahan kain yang mulai menanjak, perkembangan perdagangan di seberang hingga kabar kaum mereka sendiri di Negara asal. Rabi yang duduk di mejanya dengan tangan terlipat. Lelaki itu sangat dipandang hormat oleh kaum Ezra mengingat ialah yang menuntun Ezra beserta yang lainnya tetap dijalan Tuhan. Bagimana nasibnya nanti jika tak ada lelaki itu, masih bisakah mereka mengenal Tuhan. Sayang lelaki itu buta semnjak istrinya meninggal. Ia menyelematkan sang istri dari kebaran yang malah merenggut matanya juga hingga ia tak bisa melihat. Bersyukur saja, itulah yang ia katakana mengenai kebutaannya. Ia berkata dengan begitu ia akan semakin dekat dengan Tuhan tanpa mengurusi urusan duniawi secara berlebih. Namun jika ditanya apakah ia masih ingin melihat, ia akan menjawab jika ia hanya ingin melihat putrinya Naeun menikah. “Bapa, beri kami petuah di hari yang sangat menggembirakan ini.” Pinta Ezra disambut anggukan dari koleganya. Mata Rabi bergerak-gerak dalam kebutaannya, tangannya terangkat diudara sambil berkata. “Sungguh indah karunia Tuhan. Masih mau mengumpulkan kita di hari yang sangat indah ini. Masih adakah alasan bagi kita untuk tidak bersyukur. Jehovah, maafkan segala kemurkaan kami.” Ucap Rabi dengan tegas. Semua lelaki tampak mantap dan menganggukkan kepala. Menyadari betapa banyak mereka melalaikan Tuhan.

*Jehovah : sebutan Tuhan dalam agama Yahudi

El beserta saudaranya memasuki ruang makan. Waktu itu para lelaki sedang bercakap mengenai karpet-karpet yang akan mereka beli dari India. Kemudian El, Jong, serta Odelle duduk bersebelahan. Baru setelah itu mereka menyadari seorang gadis yang duduk disebelah Rabi. Gadis itu menatap mereka dengan heran. Nampaknya gadis itu menunggu El serta saudaranya menyapa, meskipun itu tak kunjung terjadi. Kenangan 7 tahun itu serasa muncul kembali di ingatan gadis itu. Entah El masih ingat atau tidak, ia ingin saat-saat itu terulang lagi.

            El memintanya bergabung dalam lingkaran. Seorang gadis yang berjalan bersama Rabi. Gadis itu pemalu. Awalnya ia tak berani memandang El serta saudaranya. Terlebih pada El yang seumuran dengannya. Namun saat diarasa obrolan para Ayah sangat membosankan, gadis itu bergabung. El, Jong, Odelle, serta Jiyi membentuk lingkaran dan bernyanyi-nyanyi. Gadis itu merasa canggung saat mendekat. El menyadarinya dan memutus lingkaran. Ia menggenggam tangannya dan melepas tangan Jiyi. Mereka menyanyi bersama.

            Mereka bernyanyi hingga suaranya serak. Lalu mereka berbaring diatas rerumputan, saling memandang langit. Sibuk dengan rasa lelah dan pikiran masing-masing. Gadis itu secara bergantian memandangi El dan Jiyi yang ada disampingnya. Ia tak heran dengan wajah Jiyi yang sepenuhnya China, ia hanya penasaran dengan statusnya di keluarga Ezra. Terutama statusnya terhadap El, mengingat gadis itu selalu menempel pada El kemana-mana. “Jiyi, kau bilang namamu Jiyi kan?” tanya gadis itu pada Jiyi. Jiyi yang terfokus memandang langit langsung menatap gadis itu dari samping. “Ya. Itu namaku.” Jawab Jiyi sambil melipat tangan. “Apa hubunganmu dengan El?” tanyanya lagi. Untung usianya waktu itu masih sepuluh tahun, jadi tak masalah jika ia bertanya macam-macam pada El. Mungkin jika ia sudah besar, pertanyaan seperti itu akan sangat mudah disalahartikan. “Aku?” timpal Jiyi. Ia tak yakin jawaban apa yang harus ia berikan. “Dia teman hidupku hingga dewasa.” Jawab El.

            Kelimanya mulai akrab setelah berbicang-bincang. Tak henti-hentinya mereka bersenda gurau sambil membuat permainan-permainan kecil. Kamudian mereka kembali ke ruang makan menghampiri para Ayah. Rabi yang masih bisa melihat, sibuk membacakan isi Taurat dihadapan para Ayah. Saat mendapati anak-anak tengah duduk Rabi kemudian mengalihkan perhatiannya pada anaknya. “Naeun, apa kau senang?” tanyanya. Pertanyaan itu langsung dibalas aggukan oleh Naeun. Tanpa sengaja El memegang tangannya yang tersembunyi di bawah meja. “Aku senang kau merasa nyaman. Kau bilang namamu Naeun kan?”

 

Jiyi mengawasi mereka dari sudut ruangan. Dengan berlindung dibalik tirai ia bisa melihat jelas kearah El serta gadis itu, Naeun. Ia masih hafal ketika gadis itu pertama kali masuk rumah ini. Ia mengakui betapa gadis itu sangat cantik. Baik sekarang maupun dulu, Naeun masih mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Matanya yang bulat berpadu sempurna dengan wajahnya yang lebut dan pipinya yang kecil. Tanpa sadar Jiyi memegangi pipinya sendiri, membandingkan betapa jauh perbedaan antara dirinya dengan wajah asing Naeun. Betapa lembut kulitnya serta lembut wajahnya. Lalu Jiyi memegang ujung matanya. Ia sadar betapa panjang garis matanya, berbanding terbalik dengan milik Naeun yang bulat sempurna. Ia merindukan wajah-wajah asing seperti itu. El, Jong dan juga Naeun. Wajah ketiganya berputar dalam otaknya.

Jiyi mendapati ketiga anak Ezra tengah memandangi Naeun. Memasang tatapan heran kepada wajah asing nan lembut itu. Naeun yang masih heran dan malu-malu, tak melepas pandangan dari ketiga anak Ezra. Terutama pada El yang membuat hati Jiyi serasa teriris-iris. Ditengah pembicaraan para lelaki, muncul seorang laki-laki yang tak jauh umurnya dari El memasuki ruang makan. Tingkahnya sedikit tidak sopan. Sambil membenahi celananya yang sedikit melorot, ia mengucap salam pada Ezra. “Salam, Paman.” Seru pemuda itu lalu mencium telapak tangan Ezra. Kemudian ia duduk disebelah Naeun. Naeun yang mengacuhkannya tetap meandang ketiga anak Ezra, setelah Rabi memperkenalkan pemuda itu, baru Naeun mengalihkan pandangannya. “Apa kalian masih ingat jagoan kecilku yang mengompol tujuh tahun lalu disini?” kata Rabi dengan sedikit terbahak. Para lelaki juga tertawa lepas, si pemuda malu dan menundukkan kepalanya. “Kai. Adik Naeun. Ia telah tumbuh dewasa.”

Kai? Nama itu begitu saja melesat di pikiran Jiyi. Ia tak bisa memandang jelas wajah pemuda itu karena terhalang tirai. Ia berusaha keras memutar otaknya, mengingat apakah tujuh tahun lalu ia juga bermain dengan seorag anak bernama Kai. Kai? Sepertinya hanya Naeun yang bermain dengannya dulu. Para lelaki mulai heboh data memakan dedaunan pahit. Sangat segar katanya, aneh. Mungkin karena mereka tak makan apa yang mereka makan hari ini. Memakan pahit yang tak pernah mereka makan dihari biasa. Merasakan apa yang tidak mereka rasakan di hari biasa.

Madame Ezra baru meletakkan cangkirnya. Ia mengayunkan telapak tangannya pada Naeun. Gadis itu menuruti dan mengikuti Madame Ezra kea rah belakang. Jiyi mengikutinya. Mereka berjalan menuju taman belakang, tempat dimana tujuh tahun lalu ia pertama kali bermain dengan Naeun. Naeun merasa takjub dengan taman itu, mungkin teringat akan kenangan indah yang pernah ia dapatkan dari tempat itu. ‘Apa kau senang bisa kembali kesini?” tanya Madame Ezra saat mengamati wajah Naeun yang gembira. “Begitu senang hingga rasa rinduku terdapat tempat ini meluap-luap.” Jawab Baeun. Madame Ezra tersenyum dan duduk diatas batu. Ia mengamati kolam koi yang ada didepannya. Tatapannya berubah serius. “Aku sudah mulai tua anakku.” Lirih Madame Ezra. Ia melipat tangan diatas pahanya. Tetap memandang kolam koi tanpa menatap Naeun lebih dalam. Naeun yang sibuk mengamati bunga-bunga disekitar taman seketika tercengang. “Ya?”

Madame Ezra berbalik dan menyuruh Naeun duduk disebuah batu disampingnya. Saat Naeun duduk ia menepuk dadanya dengan dramatis. “Tak lama lagi umur kami beranjak senja. Kami perlu regenerasi keturunan.” Jelas Madame Ezra. Naeun paham benar mengenai kata keturunan, ia juga tahu betapa ambisiusnya Madame Ezra terhadap kelanjutan kaumnya. “Kaum kita harus tetap ada. Oleh karena itu aku harus mencarikan yang tepat untuk El.” Lanjutnya kemudian. Sudah bisa ditebak, pikir Naeun. Tentu Madame Ezra akan membicarakan sesuatu menganai kaumnya. Kaumnya yang mulai kehiangan tembok di antara masyarakat China. “Kau tahu betapa pentingnya ini bagiku. Setelah kalian bertemu lebih dalam, kami akan membicarakan hal selanjtnya.” Tegas Madame Ezra lagi. Naeun termenung dengan pikirannya sendiri.

 

Keduanya telah kembali dari taman. Kembali ke ruang makan dan meminum beberapa teguk teh. Madame Ezra menyenggol siku suaminya. Ezra yang terlihat bingung kemudian mengangguk. “Bapa, bukankah kita akan membicarakan mengenai anak-anak?” tanyanya. Rabi kemudian menatap Ezra dengan kedua mata butanya. Terlihat mantap kemudian. “Masalah anak-anak selalu diutamakan.” Katanya sembari tersenyum. Semua lelaki tampak hikmat mendengar perkataan Rabi. Lalu mereka menatap Naeun dan El secara bergantian. “Anakku..” suara Rabi terdengar tegas. Panggilannya diarahkan pada El. Sontak El terkejut dan langsung memandang Rabi. Madame Ezra menatapnya dengan senyuman. El bingung dengan tatapan ibunya. Apa mungkin ini masalah itu? Tentang obrolan yang akan mereka lanjutkan setelah keduanya saling kenal. El menggerak-gerakkan bola matanya gusar.

“Kita akan menunggu mereka untuk saling dekat. Baru kita akan berbicara lebih lanjut. Jika memungkinkan, mereka bisa menikah secepat mungkin.” Kata Rabi dengan mantap.

 

——TBC

Anyeoghaseyo! Eh, semoga ada yang nunggu lanjutan ff ini ya. Aku mau ngucapin alhamdulillah sekaligus makasih buat readers yang memberi respon cukup bagus di chap 1. Jujur aja aku ngerasa seneng dan semangat buat nulis. Apalagi saat melihat komentar-komentar yang beragam, aku semakin senang menulis😀

Sedikit spoiler juga ada di chap ini. Kalo readers bisa tebak, aku bakalan sangat senang. Cluenya adalah tokoh ini “….” akan saya jadikan projek ff saya selanjutnya di IYAF (ImYoonaFiction). Yang ceritanya akan mengambil setting yang sama dengan ff ini tetapi dengan cerita yang berbeda.Semoga bisa cepet jalan.  Kalo kalian bisa tebak siapa yang jadi castnya, kalian hebat haha. Aku udah ngasih clue sih sebenernya, kan aku mau publish di IYAF otomatis cast utamanya adalah…….

Abaikan aja sih yang diatas Ga penting..

Disini ada Kai juga kan ya. Ga tau kenapa aku ngerasa cocok sama Kai buat meranin tokoh Aaron, di novel asli, sikapnya yang agak pemalas da gitu deh aku rasa cocok banget. Ini juga saran dari salah satu readers juga. Semoga dia baca setelah ini hehe

Aku senang jika readers merasa tertarik dengan ff ini, pada banyak komentar selalu bilang kalo jarang sekali ada ff seperti ini. Dan iya, aku juga ngerasa sama. Kebanyakan ff yang beredar di masyarakat (?) ya gitu kebanyakan romansa dengan setting kalangan kantoran. Ya bisa dibilang seperti itu. Dan jujur aja aku sedikit takut untuk menulis ff ini lebih dalam. Alasannya, karena ini menyangkut agama. Awalnya aku pengen ngilangin unsur ini di cerita. Tapi sebenernya itu poin utama dalam cerita ini. Kisah Cinta diantara perbedaan. Aku khawatir jika nanti ada pihak yang tersinggung, meski aku sudah mewanti-wanti. Aku juga menegaskan kalo aku menulis beberapa istilah diatas seperti Pasah, Rabi, Taurat dan Jehovah itu menurut novel Peony, novel asli dari Pearl S. Buck. Jadi segala kesalahan atau kekurangan yang ada di dalamnya mohon dimaklumi. Terutama istilah Jehovah dan Allah. Sampai sekarang saya juga belum mengerti, dalam novel asli beberapa kali disebutkan kata Jehovah sebagai Tuhan, juga Allah sebagai Tuhan. Mungkin bagi Yahudi Allah disebut dengan Jehovah. Saya akan sangat hati-hati dengan bagian ini. Juga ada beberapa kalimat petuah yang saya karang sendiri. Jadi diatas bukan salah satu atau petikan dari Taurat atau sebagainya. Itu murni rekaan. Dan saya meminta maaf jika ada yang tersinggung baik sengaja atau tidak.

Semoga dengan ff ini readers jadi terhibur. Jangan lupa untuk mendukung ff ini supaya chap selanjtnya segera dipublish \(^o^)/ yeay. Untuk chap mendekati akhir, saya berencana untuk mempassword ffnya. Tujuannya biar saya tahu seberapa banyak readers yang antusias sama ff ini. Meski terkesa sok atau mungkin sombong, ya maafkanlah. Saya cuman ingin tahu seberapa besar ketertarikan readers terhadap karangan saya. Juga nantikan beberapa event kecil lainnya.😀

61 responses to “[CHAPTER 2] A Thousand Years

  1. Pingback: [CHAPTER 5] A Thousand Years | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s