To Heaven

to heaven myungzy

To Heaven

Author_Akirablue

Cast _Infinite L, Miss A Suzy

Support Cast_Exo Xiumin, Find by Your Self

Genre_sad, romance, hurt

Length_Oneshoot

____

Annyyeong reader, miane karena author baru bisa nulis setelah fakum dalam waktu yang lama. Oke setelah proses meditasi kekeke #plak. Author publish ff pertama nih…

Moga suka ceritanya…terinspirasi dari lagunya Jo Sung Mo yang di nyanyiin Chen, author jadi bikin ff ini..mian kalo ceritanya gaje….hehe. oya  author juga publish ff ini dengan cast berbeda di beberapa WordPress jadi bukan plagiat yach.. .selama authornya masih Akirablue…keke

Happy reading, jangan lupa RCL ya…..

____

Namja berkaca mata itu mulai melangkahkan kakinya keatas sebuah panggung, dengan pasti ia mengengam microfonnya, menunggu alunan music memasuki gendang telinganya yang berarti pula akan menuntunnya untuk menyanyikan sebuah lagu. Tepuk tangan penonton menggema saat music mulai mengalun, dengan pasti ia membuka mulutnya dan mengalunkan bait demi bait dari lagu berjudul ‘To Heaven’.

Bukan tanpa alasan ia memilih lagu itu untuk hari ini, karena bagi namja bermarga Kim itu, lagu yang dinyanyikannya bukan hanya sekedar rangkaian nada yang indah didengarkan. Namun juga merupakan kenangannya yang takkan bisa dilupakannya.

_TO HEAVEN_

Seperti biasanya kediaman keluarga Kim telah berantakan sejak pagi hari, kedua putra nyonya Kim akan tergesa-gesa sarapan karena mereka serempak terlambat untuk bangun. Dengan serampangan seorang namja mungil menuruni tangga menuju kemeja makan, meskipun ia tahu jam yang melingkar ditangannya telah menunjukkan waktu dimana ia seharusnya telah duduk rapi dikelas tapi tetap saja ia tak ingin melewatkan sarapan buatan eomma tercintanya.

“pagi eomma” sapanya, kemudian menngambil sesendok penuh selai blueberry kesukaannya.

“aigoo, kenapa kalian tak pernah berubah sih? Kalian hanya akan bangun pagi jika appa ada dirumah”keluh sang eomma pada putra sulungnya. Belum selesai nasehat sang eomma pada sang sulung, seorang namja lain datang dan menyerobot roti yang baru saja diolesi selai bluberry milik kakaknya.

“aku berangkat eomma, gomapta hyung”namja berkaca mata itu berlari keluar rumah dengan cepat. Entah karena ia tak ingin terlambat atau hanya untuk menghindari amukan sang hyung karena telah merebut sarapan paginya.

“Ya! MINSEOK-YA!!!”benar saja namja mungil itu berteriak sekencang yang ia bisa untuk meluapkan kekesalannya, sementara sang eomma hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknnya itu. Namun pada akhirnya sang hyung hanya mendesah kecil, dan tersenyum memandang eommanya.

“sudahlah, aku berangkat eomma, nanti aku akan makan dikantin saja”ucap sang sulung dengan wajah manisnya.

Namja itu hampir saja melangkahkan kakinya dari ruang makan jika suara sang eomma tak memasuki gendang telinganya. “Myungsoo”panggil eommanya lirih.

Namja bernama lengkap Kim Myungsoo itu tersenyum, “waeyo eomma?”

“aniya, pergilah. Nanti kau bisa dihukum karena terlambat”ujar sang eomma yang masih sibuk dengan cucian piringnya.

“arraso, saranghae eomma”Myungsoo berlalu, meninggalkan eommannya yang berkaca-kaca.

.

.

.

.

.

Myungsoo adalah namja yang kuat, ia bahkan tak pernah mengeluh tentang kondisi tubuhnya saat ini. Ia tak pernah memberitahu siapapun tentang penyakit yang dideritanya. Sejak dua tahun terakhir Myungsoo mengidap sebuah penyakit yang membuatnya meninggalkan mimpinya, entah apa nama penyakit itu yang pasti Myungsoo tak ingin mengingatnya. Tapi……Myungsoo merasakannya, semakin hari tubuhnya semakin lemah dan kedua kakinya seakan sudah tak mampu menopang tubuhnya.

“hyung”panggil seorang namja cantik keturunan china, ia berwajah innocent dengan ekspresi datar.

“oh sungyeol-ah, wae?”tanya Myungsoo.

“kenapa kau tak ikut kelas pagi ini? Terlambat lagi?” cecar Sungyeol tepat sasaran.

“aigoo…jinca kau benar-benar pintar sungyeol-ah, anak ini memang ajaib. Bagaimana guru tak memarahinya meskipun jarang masuk kelas” seorang namja lain dengan wajah oriental mendekat dengan nampan makanannya mengikuti kedua manusia itu.

“hohohoho…bilang saja kau iri padaku, kau kan selalu ketahuan kalau meloncat pagar belakang sekolah”ledek Myungsoo .

“ish……menyebalkan, gurae…aku takkan bisa menyaingimu seokkie”minhwan menyerah pada perkataan Myungsoo. Bagaimanapun ia melawan ucapan Myungsoo, Myungsoo pasti tetap akan bisa membalikkan keadaan dan memojokkannya.

Suara logam yang bersentuhan menghiasi seluruh ruangan persegi itu, hampir semua siswa dengan lahap menikmati makan siang mereka termasuk Myungsoo dan kedua sahabatnya.

“chogiyo, bolehkah aku duduk disini?”seorang yeoja dengan tiba-tiba menghampiri meja Myungsoo dengan nampan makanannya yang masih utuh.

Myungsoo mendongakkan kepalanya menatap persis pada wajah yeoja dihadapannya.

“oh…Sooji-ssi”pekik minhwan girang, sementara Myungsoo masih menatap lekat Sooji. Merasa jika Myungsoo terus mengamatinya, wajah Sooji berubah merah padam.

“itu….semua kursi sudah penuh, hanya kursi ini saja yang kosong”sambar Sooji cepat.

“ah.. Sooji-ssi silahkan duduk, kursi disebelah Myungsoo hyung kosong kok”ucap Sungyeol, namun Sooji tak langsung begitu saja duduk, ia masih menimbang-nimbang apakah ia harus ijin lagi pada Myungsoo.

“anja, duduklah, aku takkan memakanmu”ucap Myungsoo datar. Ia kembali memakan makanannya tanpa terganggu sedikitpun dengan kedatangan Sooji.

“uhmmmm, apa kau yang bernama Kim Myungsoo?”tanya Sooji tiba-tiba. Myungsoo menghentikan suapannya. Minhwan dan Sungyeol seketika langsung menatap Myungsoo dan Sooji bergantian.

“bagaimana kau tahu dia bermana Myungsoo?”tanya minhwan heran.

“apa kalian pernah bertemu sebelumnya?”celetuk sungyeol penasaran. Sementara Myungsoo tak merespon dan justru melanjutkan acara makan siangnya.

“benar, jadi kau yang bernama Kim Myungsoo”Sooji terlihat sangat senang.

“wae? Kenapa kau begitu senang bertemu denganku?”tanpa menatap Sooji Myungsoo bertanya.

Sooji hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa berniat untuk memakannya. “aku hanya ingin mengucapkan terimakasih, sebenarnya aku telah lama mencarimu dan akhirnya aku bisa menemukanmu disini”jelas Sooji. Minhwan dan Sungyeol secara serempak hanya melongo mendengar penuturan Sooji, sementara Myungsoo kini memfokuskan perhatiannya pada Sooji.

“apa maksudmu?”tanya Myungsoo.

“satu tahun lalu, saat aku masih tinggal dijepang. Aku mendapat berita jika ada seseorang yang memberikan harapan baru untuk oppaku. Tapi karena aku berada di jepang aku tak bisa berterimaksih padamu”

“sudahlah, itu bukan apa-apa, kau tak perlu jauh-jauh mencariku jika hanya untuk berterima kasih. Ya kalian berdua, aku duluan” pamit Myungsoo meninggalkan tempatnya.

Minhwan dan Sungyeol saling bertukar padangan dan secara bersamaan mereka memandangi Sooji yang baru saja selesai mengamati kepergian Myungsoo. “kenapa Myungsoo hyung bisa menolong oppamu?” tanya Minhwan penasaran.

“itu, oppaku mengidap kelainan pada fungsi ginjal dan membutuhkan donor segera. Disaat yang bersamaan Kim Myungsoo menawarkan padanya untuk memberikan ginjalnya pada oppaku” jelas Sooji.

“maldo andwe! Bagaimana mungkin kami tak mengetahui hal sebesar itu. Myungsoo benar-benar” kesal minhwan pada sikap Myungsoo yang tak pernah terbuka pada siapapun.

Sementara itu Myungsoo tengah berbaring dibawah pohon rindang ditaman belakang sekolah, ia mengulurkan tangannya keudara bebas. Mengamati tangannya yang berusaha mengapai awan dilangit biru.

“hana…..dul……set…..”ucapnya lemah dan membayangkan jika awan itu telah berada digengamannya. Namja manis itu tersenyum pedih ketika melihat telapak tangannya yang masih kosong. Ia tak akan pernah bisa mengapai awan itu.

Myungsoo menyadari seseorang tengah berjalan kearahnya. Ia seketika merubah posisinya menjadi duduk. Dan benar saja tak jauh darinya, Sooji telah berdiri dengan beberapa bungkus coklat ditangannya.

“waeguraeyo? Kenapa kau datang kemari?”tanya Myungsoo datar.

“kulihat tadi kau tak menghabiskan makan siangmu, jadi aku membawakan ini untukmu”Sooji menyodorkan coklat-coklat itu pada Myungsoo, hingga membuat namja itu tersenyum.

“inikah caramu berterimakasih, gomapta……sekarang kembalilah, aku menerima ucapan terimakasihmu” Myungsoo mengambil coklat yang disodorkan Sooji dan memejamkan matanya dengan bersandar pada batang pohon.

“chogiyo”

Myungsoo membuka kembali matanya. “waeyo?”

“kenapa kau terlihat sedih? Mian”tanya Sooji, namun kemudian ia meminta maaf karena merasa pertanyaannya itu sedikit tak sopan.

Myungsoo tersenyum, “aku sedih karena tak bisa menangkap awan, sekarang pergilah nona aku ingin melanjutkan tidur siangku”

“ah… ne mian aku menganggumu” Sooji melangkahkan kakinya pergi.

“apa oppamu telah menjadi dancer terkenal?”tanya Myungsoo pada Sooji, yeoja itu mengentikan langkahnya dan berbalik menatap Myungsoo yang masih memejamkan matanya.

“ne, sebentar lagi ia akan ke Jerman untuk menjalani training”

“gurae, pergilah”

Sooji melangkahkan kakinya menjauhi Myungsoo tanpa menyadari jika air mata menetes dari kelopak mata Myungsoo yang terpejam. “adikmu benar-benar baik euseu-ssi”

.

.

.

.

.

Flashback

“harapanku tak ada lagi eomma! Siapa yang akan memberikanku ginjalnya huh! Sooji takkan bisa melihat oppanya mengikuti kompetisi itu!”samar- samar Myungsoo bisa mendengar suara bising itu dari ruang rawatnya.

Dengan baju khas pasien, Myungsoo menarik tiang infuse yang terhubung dengannya untuk mencari sumber keributan. Saat ia membuka pintu kamar rawatnya, ia melihat seorang namja berlari melewatinya sementara sang eomma berlutut didepan pintu dengan tangis yang tersedu-sedu.

“chogiyo, kenapa kalian bertengkar? Mian tapi aku sedikit mendengar perkapan kalian tadi”

“mianeyo karena telah menganggumu”

“gwencahana, tapi bolehkah aku tahu kenapa kalian bertengkar”Myungsoo mensejajarkan duduknya dengan ahjuma itu,

“Eunseo sangat menyayangi adiknya, dan kini ia tak bisa lagi mewujudkan mimpi adiknya karena penyakit yang dideritanya”

.

.

.

“apa kau yang bernama eunseo?” tanya Myungsoo pada eunseo.

“nugu?”

“namaku Myungsoo, ah…kudengar kau adalah seorang dancer ya?”tanya Myungsoo sumringah.

“ne, tapi semuanya tak berarti lagi. Aku takkan bisa menjadi seperti apa yang adikku inginkan”

Myungsoo tersenyum. “aku juga sangat menyukai tarian, tapi karena aku lebih menyayangi eommaku maka aku memilih meninggalkannya”

“kenapa? Bukankah itu terasa sangat berat” tanya eunseo heran.

“aniya,  sama sekali bukan masalah. Karena aku lebih menginginkan senyum eommaku daripada apapun didunia ini, begitupula yang kau inginkan dari adikmu kan?”

“ne…….adikku adalah orang yang paling berharga dalam hidupku. Kami berdua dibesarkan hanya berdua dari panti asuhan, itulah kenapa aku selalu ingin membahagiakannya”

“bolehkah aku membantumu?”tanya Myungsoo. Membuat eunseo memfokuskan perhatiannya pada Myungsoo.

“kita berdua sama-sama ingin melihat kebahagiaan orang yang kita sayangi bukan. Aku akan memberikan apa yang kau butuhkan dan berikan aku apa yang kuinginkan”

“bisakah kau bicara lebih jelas  aku tak mengerti apa yang kau bicarakan”

“aku akan memberikan ginjalku padamu, dan berikan aku kabar baik kau akan menjadi apa yang adikmu inginkan, othe?”ucap Myungsoo tanpa beban sedikitpun.

“tapi….”

“percayalah, ginjalku sangat sehat. Aku masih akan hidup dengan satu ginjal, lagipula dengan begitu aku takkan menyesal menyerahkan mimpiku untuk menjadi dancer saat melihatmu menjadi dancer terkenal nanti”

Flashback end

.

.

.

.

Myungsoo mengamati satu per satu bus yang berlalu dihadapannya tanpa ingin menaikinya. Dua jam sudah ia berada di halted dan hanya duduk disana.

“kenapa kau hanya duduk disini?” suara Sooji seketika mengangetkan Myungsoo.

“sejak kapan kau disini?”tanya Myungsoo balik.

“kau seharusnya menjawab pertanyaanku duluan, dan aku sudah disini sejak setengah jam yang lalu”jawab Sooji.

“ah……kalau begitu kenapa kau tak pulang?”tanya Myungsoo lagi.

“ish, ternyata kau sangat suka bertanya Myungsoo-ssi, kukira kau adalah orang yang pendiam”Myungsoo tersenyum, dan kembali melihat kearah bus yang kebetulan datang.

“apa kau menungguiku?” Sooji menangguk. Ia kemudian membuka tasnya dan memberikan sebuah foto pada Myungsoo. “ini” Sooji menyodorkan foto itu pada Myungsoo.

Wajah Myungsoo berbinar, senyum indah Myungsoo bisa terlihat jelas oleh Sooji. “oppamu benar-benar menepati janjinya” ucap Myungsoo dan menatap Sooji yang juga tengah menatapnya.

“jangan melihatku seperti itu”ekspresi Myungsoo berubah derastis menjadi sinis dan mengembalikan foto yang diberikan Sooji kembali.

“mian, pantas saja banyak yeoja yang membicarakanmu ternyata apa yang mereka katakan benar” Sooji dengan segera menutup mulutnya sendiri.

Myungsoo tersenyum miring, “pulanglah….ah dan kuberitahu padamu………..”

“jangan sampai kau jatuh cinta padaku”

Myungsoo bangkit dari duduknya dan menghampiri Minseok yang telah melambai-lambaikan tangannya diseberang jalan membawa sebuah lembaran kertas dengan girang.

“annyeong” Myungsoo meninggalkan Sooji yang masih duduk ditempatnya, mencerna setiap kata-kata yang diucapkan Myungsoo.

.

.

.

.

Sepertinya Sooji tak sedikitpun mendengarkan ucapan Myungsoo seminggu lalu untuk tak pernah jatuh cinta pada namja manis itu. Karena hatinya mengatakan sebaliknya, Sooji selalu ingin berada didekat namja itu, melihat apa yang dilakukan Myungsoo, mencari tahu apa yang disukai dan dibenci Myungsoo dan Sooji merasa Myungsoo adalah namja terbaik yang pernah ditemuinya.

“apa kau menyukainya?”tanya minhwan yang tanpa sengaja melihat tatapan Sooji pada Myungsoo.

“eh? Minhwan-ssi” merasa ketahuan Sooji dengan cepat mengalihkan pandangannya.

“kuharap kau bisa menaklukkan hati Myungsoo Sooji-ah, selama ini aku belum pernah melihat Myungsoo menjalin hubungan dengan siapapun. Ia selalu saja sendirian dan berusaha kuat, tapi kurasa ia membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya nyaman dan bisa menjaganya”

Sooji tertegun, benarkah Myungsoo tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Tapi kenapa Myungsoo justru memintanya untuk tak pernah jatuh cinta pada Myungsoo.

“minhwan-ssi, bisakah kau membantuku untuk bisa dekat dengan Myungsoo?” Sooji mungkin agak gila karena menyukai Myungsoo, tapi ia benar-benar telah jatuh pada pesona Kim Myungsoo.

Minhwan tersenyum penuh kemenangan, jika Myungsoo dan Sooji nanti bisa bersama. Maka minhwan bisa mengajarkan pada Myungsoo tentang bagaimana perasaan cinta yang biasanya menjadi bahan ledekan Myungsoo pada minhwan.

“baiklah, dengan senang hati”jawab minhwan yang telah menrencanakan sesuatu bagi Myungsoo dan Sooji. “sore nanti datanglah ke gudang blok B, akan kuberikan kejutan untukmu” minhwan memberikan wink pada Sooji dan berjalan meninggalkannya.

Benar saja Sooji memenuhi permintaan Minhwan untuk datang ke gudang blok B yang berada didekat dermaga.  Sementara Minhwan justru asyik bermain game bersama dengan sungyeol, sementara Myungsoo duduk disofa membaca komik favoritnya.

Ponsel Minhwan berdering dan tertera nama Bae Sooji disana.

“yeoboseo”

“……”

“nuguya?”

“…….”

“dimana Bae Sooji sekarang!”

Minhwan meninggikan suaranya, membuat Myungsoo yang sedang membaca komiknya menujukan seluruh perhatiannya pada minhwan.

“jangan sampai kau menyakitinya sedikitpun, mengerti”

“……”

Minhwan mematikan ponselnya. “ada apa?”tanya Myungsoo dan sungyeol bersamaan.

“Sooji sedang berada dalam bahaya,  minsoo mengira ia adalah kekasihku. Kita harus segera kesana”ucap minhwan khawatir. Begitupula dengan Myungsoo dan sungyeol yang mengikuti jejak minhwan.

Mereka bertiga sampai di gudang dermaga yang berada tak jauh dari rumah minhwan. “Myungsoo-ah, kau kesana, sungyeol kau kesana oke” titah minhwan dan Myungsoo mengikuti arahan sahabatnya itu. Sungyeol bersiap untuk berlari namun dengan cepat minhwan menarik tutup kepala hoodinya.

“kau bantu aku!”minhwan tersenyum licik. Dan membuntuti Myungsoo dari belakang.

Sementara Myungsoo mencari Sooji ke beberapa gudang kosong, hingga ia masuk kedalam gudang di blok B dimana Sooji berada.

“Sooji-ah! Gwencahana?” tanya Myungsoo saat melihat Sooji duduk sambil memeluk lututnya dipojok ruangan. Sooji mendongakkan badannya untuk melihat Myungsoo yang dengan cepat menghambur untuk memeluknya. “syukurlah”ucap Myungsoo.

“memangnya aku kenapa?”tanya Sooji polos. Seketika itu pintu gudang tertutup dan terdengar bunyi klik yang berarti seseorang telah menguncinya.

“Myungsoo mian, kurasa kalian harus memanfaatkan waktu dengan baik, aku telah menyiapkan lilin di atas almari kayu dipojokan,  romantis bukan?” terdengar suara minhwan yang girang karena rencananya berhasil. “ah…… kami akan membukakannya nanti malam, oke”imbuh sungyeol diiringi suara tawa mereka berdua.

Myungsoo berdumel kesal pada kedua temannya itu. Sementara Sooji malah berusaha mencari lilin yang disediakan minhwan dan menyalakannya.

“miane, minhwan memang sedikit keterlaluan” ucap Myungsoo, kemudian ikut duduk disamping Sooji.

“gwenchana…….lagipula aku yang memintanya untuk membantuku” ucap Sooji jujur. Ia telah siap jika Myungsoo memarahinya tapi Myungsoo hanya menghembuskan nafasnya berat.

“ternyata kau tak mendengarkan perkataanku”ucap Myungsoo, Sooji mengamati wajah Myungsoo yang berada disampingnya.  Entah karena ruangan itu hanya diterangi dengan lilin remang-remang atau memang ia melihat wajah Myungsoo tak seperti biasanya. Keringat dinggin keluar dari kening Myungsoo dan wajahnyapun pucat.

“Myungsoo-ssi, gwencahana?” tanya Sooji khawatir. ia segera mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya dan mengelap keringat Myungsoo dengan panic.

“aku akan menelepon minhwan untuk membukakan pintunya”ucap Sooji berusaha mencari ponselnya tapi Myungsoo menahannya. “aniya, nan gwenchana”

“kau benar-benar menyukaiku?” tanya Myungsoo tiba-tiba. Sooji tertegun saat Myungsoo menatapnya dengan lembut.

Air mata Sooji tak terbendung. “ne, awalnya aku hanya menganggumimu karena kau telah memberikan hal yang sangat berharga untuk oppaku, tapi semakin aku mengenalmu kurasa aku semakin menyukaimu”

Myungsoo tersenyum pedih. “berhentilah menyukaiku, kurasa aku hanya akan menyakitimu” Myungsoo memegangi keningnya a yang terasa begitu pening, dunianya terasa berputar-putar, namun ia berusaha keras untuk tak mempelihatkan hal itu pada Sooji.

Sooji menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap Myungsoo yang menurutnya telah menolaknya.

Myungsoo merasakan dadanya begitu sesak hingga ia tak bisa bernafas, air mata lolos begitu saja dari mata indahnya yang memandangi Sooji. Sementara didalam  rongga mulutnya telah terisi dengan cairan pekat yang tak mampu ditahannya lagi. Darah kental mengalir keluar melalui celah diujung bibir mungil Myungsoo, seberapapun ia berusaha menghapusnya Myungsoo tak mampu.

“tapi…..tak bisakah kau belajar……”Sooji mendongakkan kepalanya dan melihat Myungsoo telah bersandar di dinding dan tersenyum padanya.

“MYUNGSOO-AH!!!” yeoja itu dengan refleks bangkit dan memegangi wajah Myungsoo dengan kedua tangannya. “ada apa denganmu eoh!” air mata Sooji tumpah.

Myungsoo mengusap air mata Sooji dengan ibu jarinya. “inilah kenapa aku melarangmu jatuh cinta padaku” ucap Myungsoo, tak begitu jelas memang, tapi Sooji bisa mendengarnya. Yeoja itu memeluk Myungsoo tak peduli darah dari mulut Myungsoo akan mengotori baju putih yang dipakainya.

“jangan pernah menyukaiku, arra?” ucap Myungsoo. Namun Sooji justru mengeleng-gelengkan kepalanya berulang kali dan semakin mempererat pelukannya pada Myungsoo.

“jangan keras kepala Sooji-ah, usiaku takkan lama lagi. otakku ini siap untuk pecah kapan saja, kau akan membuang waktumu jika menyukaiku” Sooji masih mengelengkan kepalanya berulang kali. Hatilah yang telah jatuh pada hati Myungsoo hingga menyeret logikanya untuk tetap menyukai Myungsoo.

“berapa waktumu yang tersisa, sehari, seminggu, sebulan, bahkan jika hanya ada sedetik lagipun aku akan tetap menyukaimu Kim Myungsoo. Aku akan berada disisimu, ijinkan aku menjadi cinta terakhir untukmu” ucap Sooji tulus.

.

.

.

.

3 tahun kemudian

Minseok menaiki panggung dengan langkah pastinya. Tangannya mengenam erat mincrofon yang telah menemaninya dua tahun terakhir sebagai seorang penyanyi terkenal.

Hari ini ia akan membawakan sebuah lagu yang diciptakan oleh kakak iparnya. Menyampaikan seluruh perasaan yang pernah dirasakan kakak iparnya kepada hyungnya.

‘gwaenchanheun geoni? eotteoke jinaeneungeoya?

na eopdagotto ulgo geureojinannni’

Apakah Kau baik-baik saja? Bagaimana kabarmu hari

ini? Apa kau menangis karena aku tidak ada

dengamu?

Myungsoo telah pergi meninggalkan Sooji tepat saat upacara pernikahan mereka, tepat saat musim semi tiga tahun lalu. Dan setelah setahun Myungsoo meninggalkannya, cincin yang dipakaikan Myungsoo dijari manis Sooji masih terus melingkar dengan indah. Hari ini Sooji datang ke makam Myungsoo dengan sebungkus coklat seperti saat pertama kali ia memberikan coklat itu pada Myungsoo.

“Myungsoo-ah apa disana dinggin? Gwenchana? Jangan bilang kau baik-baik saja seperti dulu. Arra? Sekarang cukup katakan kalau kau menangis dan tak berusaha untuk bersikap kuat lagi ne”

Air mata Sooji menetes, harusnya ia bersama dengan Myungsoo. Tiga bulan menemani Myungsoo melewati hari-hari terakhirnya dirasa tak cukup seperti anggapannya hari itu. “seandainya kita memiliki waktu yang lebih lama”

‘maeil kkumsoge chajawa jaejaldaedeon neo yojeumeun

wae boijil annneungeoni

ol su eobseul mankeum deo meolli ganni’

Kau sering datang dalam mimpiku setiap malam

Tapi kenapa aku masih tidak bisa melihatmu hari ini?

Apa terjadi sesuatu?

Pagi ini Sooji terbangun dengan peluh menyelimuti hampir sebagian tubuhnya, ia turun dari tangga menuju keruang makan kediaman keluarga Kim. Seperti biasa Sooji akan duduk di kursi biasanya Myungsoo duduk. “pagi eomma, pagi Minseok” sapa Sooji pada kedua orang yang sangat berarti bagi Sooji.

“pagi juga nuna” salam balik Minseok. Namja itu menahan air matanya setiap kali melihat Sooji terbangun dengan peluh diseluruh tubuhnya. Apa lagi penyebabnya jika bukan mimpi mengenai hyungnya. Minseok tahu persis seberapa besar cinta Sooji pada Myungsoo serta bagaimana hari-hari Sooji yang dengan setia merawat Myungsoo hingga akhir hidupnya.

Sooji meminum susunya, namun matanya memandang lurus kearah fotonya bersama Myungsoo. “eomma, hari ini aku akan pergi ke sungai han. Bisakah aku meminta izin untuk tak menyiapkan makan malam?”

Nyonya kim tersentuh, Sooji selama ini bersikeras tinggal di rumahnya meskipun ia tahu bahwa Sooji akan selalu mengingat Myungsoo dan tak bisa meninggalkan kenangan tentang putranya.  “pergilah, eomma yang akan memasak hari ini” senyum nyonya kim.

hoksi museun irirado saenggyeonni naege

niga eobsido na jal jinae boyeo gwaenhi neo

simsullaseo jangnanchingeoji

Apakah Kau pergi jauh sehingga kau tidak bisa datang

kepadaku?

Apakah kau marah karena aku mencoba untuk terlihat

seperti aku baik-baik saja tanpamu?

Jadi, apakah kau hanya bermain lelucon padaku juga?

Sooji mengamati air tenang di sungai han, ia tahu jauh diatas sana Myungsoo melihatnya.  “Myungsoo-ah, apa aku terlihat baik-baik saja sekarang?” gumam Sooji.

“bisakah aku meminta kau datang lagi padaku seperti dulu? Bisakah kau mengatakan padaku lagi kau berada diluar kota dan tak bisa menemuiku kemudian kau muncul dan membawakan sebuket bunga mawar untukku”

Tangis Sooji pecah, ia tahu itu hanya harapannya belaka, Myungsoonya telah pergi dan takkan lagi bermain lelucon dengannya seperti dulu.

birado naerimyeon gureumdwie sumeoseo

niga ulgo inneungeon aninji geokjeongman haneun

naege

jebal ireojima bol su eopdago

swipge neol ijeulsu inneun naega aningeol jal aljanha

Ketika hujan, kau bersembunyi di balik awan dan

menangis?

Aku melakukannya karena khawatir tentangmu, jangan

lakukan ini padaku

Kau tahu bagaimana aku tidak bisa dengan mudah

melupakanmu hanya karena aku tidak bisa melihatmu

jajaran foto Myungsoo dan Sooji memenuhi hampir setiap sudut kamar tidur Myungsoo. Beragam tulisan Myungsoo sengaja Sooji tempelkan untuk bisa merasakan kehadiran Myungsoo disekitarnya.

Diluar hujan turun dengan begitu deras seakan Myungsoo tengah menangis karena berpisah dengan Sooji. Yeoja itu memeluk foto Myungsoo dan berulang kali menciumnya seolah foto itu adalah Myungsoo yang akan kembali bersamanya.

hoksi niga eobseo himi deulkkabwa niga anin dareun

sarang mannal su itge

neoui jaril biwodun geosiramyeon geu jarin

jeolmangbakken chaeul su eobseo

Dalam hidup ini aku mengalami kesulitan tanpamu

Aku terus mengosongkan tempatmu sehingga Aku bisa

bertemu cinta baru,

Tapi semua tempat itu aku isi dengan keputus asaan

Hari itu matahari cerah menemani langkah kaki Sooji, seolah harapan baru menyambutnya kembali. Sooji kembali bertemu dengan sungyeol, sabahat Myungsoo yang pada akhirnya jatuh hati padanya.

“Sooji-ah, bagaimana kabarmu?” tanya sungyeol.

“seperti yang kau lihat aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?”

“kurasa kau mendapat banyak kesulitan selama merawat Myungsoo, aku benar-benar kaget saat kalian memutuskan untuk menikah dipertengahan tahun. Sampai aku tahu Myungsoo mendererita penyakit” mungkin sungyeol mengangap jika Sooji telah sedikit melupakan Myungsoo, tapi namja itu salah cinta Sooji pada Myungsoo masih sama besarnya seperti saat Myungsoo disisinya bahkan semakin hari semakin besar cinta Sooji pada Myungsoo.

“mian, tapi aku harus pergi sekarang, jika kau mengundangku hanya untuk membicarakan omong kosong maka sebaiknya aku pergi”

“Sooji-ah, mian. Tapi bisakah kau membuka hatimu untuk orang lain?”

Sooji diam, ia tak menjawab pernyataan sungyeol, hanya air mata yang keluar dari mata Sooji.

“aku ingin membuka hatiku untuk orang lain, tapi semakin aku membuka pintu hatiku maka pintu berikutnya akan terkunci semakin rapat untuk membiarkan Myungsoo tetap hidup disana dan tak pernah meninggalkanku”

mianhae hajima meolli tteonagasseodo

yejeoncheoreom ni moseup geudaero

nae ane gadeukhande

geuri orae geollijin anheulgeoya

ibyeori eomneun geu gose uri dasi mannal geu nari

Jangan menyesal bahkan jika kau berada jauh,

Bayanganmu dari sebelumnya masih mengisi dalam

diriku

itu tidak akan butuh waktu yang lama sampai kita

bertemu di tempat di mana tidak akan ada selamat

tinggal

Minseok tahu seberapa besar Sooji mencintai hyungnya,  hari ini Sooji memainkan piano dengan nada yang begitu sedih. Melodi yang mengiris hati Minseok.

“nuna” panggil Minseok. Seketika Sooji menghentikan permainannya dan memandangi Minseok. “Minseok-ya, apakah salah jika aku begitu mencintai hyungmu?”

“aniya, kau sama sekali tak bersalah, tapi demi Myungsoo hyung. Bisakah nuna mencari penganti hyung?”tanya Minseok hato-hati.

Sooji tersenyum, “ahni, untuk apa aku mencari pengganti Myungsoo jika suatu saat kami akan bersama kembali”

“maksud nuna?”

“suatu saat aku pasti akan menemui Myungsoo ditempat kami takkan lagi terpisahkan. Saat ini aku hanya ingin menunggu waktu hingga saat itu tiba” jemari Sooji kembali memainkan nada nada piano sembari mengumamkan sebuah bait lagu.

“nuna apa ini lagu yang kau ciptakan?” Sooji mengangguk. “suatu saat ketika kau telah menjadi penyanyi terkenal, nyanyikanlah lagu ini untuk kami berdua.

“kami?”tanya Minseok heran. “ne, aku dan Myungsoo”

“apa judul lagu ini?”

“to heaven, tempat dimana aku dan Myungsoo takkan pernah terpisah lagi”

geuttaekkaji jogeumman nal gidaryeo jwo…

Sampai saat itu, untukku hanya menunggu sedikit lebih

lama

Minseok menyanyikan bait terakhir lagu dan mengingat ketika Sooji meninggal karena sebuah kecelakaan mobil, ia sama sekali tak mengangis saat detik-detik terakhirnya. Yeoja itu justru tersenyum dan berkata pada Minseok. “sekaranglah saatnya Minseok-ya, Myungsoo telah menungguku untuk tetap bersamanya”

.

.

.

.

Tepuk tangan penonton membahana saat Minseok selesai menyanyikan lagu itu, tak banyak pula dari mereka yang meneteskan air matanya. Sementara Minseok melihat Myungsoo mengengam erat tangan Sooji dan pergi menaiki tangga ditengah penonton, sambil melambaikan tangan mereka. Keduanya terlihat bahagia seperti ketika Myungsoo memasangkan cincin pernikahan dijari manis Sooji.

Selesai

12 responses to “To Heaven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s