To be Miss Popular (6)

untitled-21

Park Jiyeon. Kim Myung Soo. Choi Minho. Bae Suzy. Han Hyori. Nickhun.

-Romance- School Life-

To be Miss Popular

Chapter 6

 

___________________________________________________________________________________

Aku mengumpulkan bola basket yang tadi di gunakan saat jam olahraga ke dalam keranjang. Minho mengikutiku. Dia membantuku memungut bola-bola itu. Saat semua bola sudah terkumpul dia tersenyum padaku dan menawarkan bantuan. “Biar aku saja yang membawanya ke ruang penyimpanan.”

Aku menggeleng menolak tawarannya. “Gwencana. Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Kalau begitu ayo lakukan bersama…”

Aku mengangguk. Tidak ada salahnya menerima bantuannya. Toh aku memang kerepotan karna siswi yang harusnya membantuku melakukannya sedang tidak masuk. Kami berjalan melewati koridor yang mengantarkan kami menuju ruang penyimpanan.

“Aku bertemu Hyori beberapa waktu lalu…” mulai Minho.

“Hm, Aku sudah mendengarnya dari Hyori,” ucapku sambil menatap lurus.

“Kuere?”

“O’.”

“Apa yang… dia katakan padamu?” tanya Minho salah tingkah.

Aku bertanya dengan nada sedikit sinis. “Apa yang ingin kau dengar? Kau ingin tahu keadaannya sekarang atau reaksinya terhadap pernyataan cintamu?”

“Apa kau akan memberi tahuku?” Minho menatapku penuh harap. “Aku benar-benar ingin tahu tentangnya. Dia tidak masuk sekolah dan menghindariku.”

Bola matanya terlihat redup. Aku tahu Minho sebenarnya juga terluka sekarang, tapi aku tidak punya simpati padanya. Terutama setelah aku tahu apa yang dia lakukan. Dia egois sekali.

“Tidakkah itu keterlaluan? Kau tahu mengungkapkan perasaanmu hanya akan membuat dia kembali ragu dengan perasaannya. Tapi kau tetap melakukannya.”

Minho mengangguk lemah dan menghela napas lelah. “Aku memang egois.”

Aku menghentikan langkahku dan ia sentak juga melakukan hal yang sama. Ku tatap dia lurus-lurus. “Untuk seseorang yang sudah membuat seorang gadis patah hati dua tahun lalu, membuatnya pergi meninggalkan rumah, lalu membuat hubungan baru yang telah ia jalin dengan orang lain berantakan, reaksimu bagus sekali, Choi Minho. ‘Aku memang egois’, apa begitu caramu memaafkan dirimu?”

Minho menatapku sejenak, tatapannya penuh dengan rasa frustasi. Ia menarik napas gusar. “Lalu apa yang harus ku lakukan? Seandainya saja dua tahun lalu dia menanyakan padaku kebenarannya, bukannya pergi meninggalkanku begitu saja, semuanya pasti akan berbeda. Dia membuatku merasa tidak berharga. Dia yang membuangku lebih dulu.”

“Tetap saja… itu bukan alasan untuk bersikap egois dan membuat satu orang lagi terluka karnamu…” aku menatap lurus padanya dan dia balas menatapku.

Aku melihat Suzy sedang melangkah ke arah kami. “Atau dua… apa kau pernah memikirkan perasaan orang yang masih bersamamu selama dua tahun ini?”

Minho mengikuti arah pandangku dan wajahnya terlihat muram. “Suzy…”

Aku menarik keranjang itu dari Minho dan beranjak pergi dari sana. Tidak ingin lagi memperpanjang obrolan dengannya karna itu hanya akan membuatku semakin kesal saja.

***

Sehabis mengantarkan bola-bola itu ke ruang penyimpanan, aku kembali lagi ke ruang ganti untuk mandi dan berpakaian. Setelah itu aku pergi menuju loker untuk menaruh pakaian olah ragaku.

Aku menemukan Suzy disana. Dia sedang bersandar di sebelah lokerku, sambil mengamati kuku-kuku jarinya dengan ekspresi malas.

“Aku ingin bicara denganmu,” ucapnya.

“Ada apa?” tanyaku sambil membuka loker dan menaruh bajuku.

“Apa yang Minho katakan padamu?”

“Apa? Aku membicarakan banyak hal dengan Minho,” ucapku tak acuh.

“Tentang Hyori.”

“Kenapa dengan Hyori?” aku balas bertanya.

“Jangan berpura-pura tidak tahu, Jiyeon,” decak Suzy kesal. “Kau tahu apa yang sedang aku bicarakan.”

Aku menghela napas lalu menutup lokerku dengan kasar. Baiklah jika dia menginginkannya. Aku heran kenapa mereka melibatkanku dalam permasalahan mereka. Padahal seharusnya aku tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini. Masalah ini seharusnya mereka selesaikan sendiri.

“Apa sesulit itu meminta maaf Suzy?”

“Mwo?” Ia menatapku dengan tatapan bingung.

“Apa kau tidak menyesal karna sudah melakukan ini pada Hyori? Kau menyakitinya lebih dari siapa pun. Bagaimana perasaanmu jika sahabat yang kau percayai, meminta pacarnya untuk menggodamu lalu membuatmu patah hati hmm?”

“Kau tidak tahu apa-apa Jiyeon.”

“Ya, aku tidak tahu apa-apa.” Aku mengangguk-angguk. “Aku hanya tahu kau meminta Minho untuk mendekati Hyori, entah dengan tujuan apa, lalu kau juga yang menyebarkan fotomu dengan Minho untuk mempermalukan Hyori. Agar semua orang di sekolah tahu bahwa dia di selingkuhi. Membuatnya terlihat bodoh di depan semua orang, bukankah begitu?”

“Dia pantas mendapatkannya,” desis Suzy. “Hyori pantas mendapatkannya. Kau tidak tahu apa-apa tentangku. Jangan coba-coba menghakimiku.”

Aku mengangguk paham. Memang bukan hakku untuk menghakiminya. Aku memang tidak mengerti alasannya melakukan semua ini. Tapi apa pun masalahnya tetap saja apa yang di perbuatnya itu salah. “Baiklah. Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan ini padamu. Sebuah kata maaf tidak akan membunuhmu. Dan kata itu pantas di ucapkan setelah semua hal mengerikan yang kau lakukan padanya, Suzy.”

“Aku tidak merasa bersalah padanya! Aku tidak merasa bersalah melakukannya!” seru Suzy.

Aku tak menjawab lagi. Yang ku lakukan selanjutnya adalah pergi dari sana, menjauh dari Suzy.

***

Aku duduk di ruangan kelas sendirian. Bel tanda pulang sudah berbunyi dari tadi. Tapi aku masih ingin berdiam diri disini. Perasaanku benar-benar kacau. Dan semuanya berawal dari terkuaknya masa lalu Minho, Suzy, Hyori, dan Myung Soo. Entah mengapa sejak hari itu aku tidak bisa berhenti berpikir. Terutama soal Myung Soo.

Sebenarnya apa arti diriku baginya? Kenapa dia mengatakan dia tertarik padaku tapi tidak pernah membuat semuanya jelas denganku. Dia tidak pernah menceritakan tentang Hyori. Dia juga tidak pernah memberi tahuku tentang perasaannya. Apa dia sedang mempermainkanku?

Tapi dia terlihat peduli padamu, Jiyeon. Sebuah sudut dalam hatiku berbisik. Dia memintamu untuk menjauhi Hyori, karna dia pikir Hyori itu egois. Benarkah begitu? Hah, kenapa aku merasa Myung Soo masih memendam amarah pada Hyori dari ucapannya itu. Bisa saja dia berkata begitu karna mendendam soal masa lalu mereka. Menurutnya Hyori sangat egois karna memilih Minho tanpa mencoba mengerti perasaannya.

Tapi… apa Hyori atau Myung Soo tahu kalau mereka sebetulnya saling mencintai dulunya? Atau Minho menyembunyikan itu dari mereka?

Arrgghhh… Molla. Aku benar-benar bingung sekarang.

“Kau masih disini?”

Seseorang muncul dan mencabut headset yang ada di telingaku. Aku mengangkat wajah dan mendapati orang yang baru saja ku pikirkan muncul dalam wujud nyata di hadapanku. Myung Soo sedang menatapku dengan pandangan bertanya.

“Jangan menggangguku…” keluhku dengan nada lelah.

Myung Soo bukannya pergi dari hadapanku, malah menarik bangku yang ada di depanku. Ia duduk disana, memandangku cukup lama.

“Kau sedang banyak pikiran ya? Kau terus saja mengerutkan dahi seperti ini.” Ia mengerutkan dahinya dan menunjukkannya padaku. “Kau jadi tidak kelihatan cantik lagi.”

Aku menggembungkan pipiku kesal. “Apa yang sedang kau coba katakan Kim Myung Soo? Kau mau bilang aku tidak menarik lagi? Aku sudah tidak menarik lagi bagimu, begitu?”

Bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, Myung Soo malah tertawa. “Apa kau mendengar dirimu? Ucapanmu itu seperti wanita usia empat puluhan yang frustasi karna kerutan dan khawatir suaminya tidak lagi mencintainya.”

“Menurutmu itu lucu?”

“Ogh.”

“Ck,” aku segera bangkit dan mengambil tasku, bersiap untuk pergi.

Myung Soo sigap menahan tanganku. “Kau marah?”

“Geure. Aku marah,” akuku. Aku tidak bisa menatapnya. Dia benar-benar membuatku merasa kecil dan tidak berguna. Aku merasa di permainkan olehnya. “Aku marah padamu. Kau terus saja bersikap semaumu. Apa menurutmu menyenangkan berharap padamu?”

Myung Soo mengerutkan alisnya tidak mengerti dengan apa yang baru saja ku katakan. “Apa yang sedang kau bicarakan, Jiyeon?”

“Apa kau selalu seperti ini? Apa kau juga memperlakukan Hyori seperti ini dulu? Kau bersikap manis pada seseorang, membuatnya merasa spesial, tapi nyatanya kau tidak memberikan apa-apa padanya.” Aku menengadah menahan air mataku yang nyaris saja jatuh jika tidak ku tahan. Hatiku benar-benar terasa sakit. Baru saja aku menyadari penyebab emosiku sangat labil akhir-akhir ini. Jadi inilah yang aku tahan sebenarnya. Amarahku pada Myung Soo.

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Apa salahku?” tanya Myung Soo. Wajahnya mendadak serius.

“Kau tahu…” ucapku dingin. Aku mengusap air mataku yang sudah terlampau jatuh. “Kau membuatku menyukaimu…”

Myung Soo berusaha membuka mulutnya untuk bicara, tapi tidak mengatakan apa-apa. Sudah ku duga. Aku tidak sepenting itu baginya. Aku hanya terlalu percaya diri selama ini, aku bodoh sekali berharap pada orang ini. Oh, Jiyeon. Ingatlah siapa dirimu!

“Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa padaku lagi. Aku tidak membutuhkannya. Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi darimu. Kau merasa bebas mengatakan apa pun padaku, kau bilang aku cantik, kau bilang kau tertarik padaku, tapi tidak sekali pun kau menanyakan perasaanku. Aku mengerti sekarang kenapa kau tidak pernah melakukannya. Kau tidak pernah perduli padaku!”

“Kau sangat kacau…” Myung Soo menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengerti apa yang sedang kau racaukan dan apa yang membuatmu begitu marah sebenarnya.”

“Kalau begitu ku harap kau akan mengerti yang satu ini.” Aku menarik napasku dalam. “Aku tidak ingin terluka karnamu, jadi menjauhlah dariku mulai sekarang, Kim Myung Soo!”

Myung Soo mencengkram tanganku semakin erat. Ia terlihat bingung dan frustasi saat menatapku. Hening selama sesaat, hingga ia memulai dengan lambat. “Aku… aku juga menyukaimu… apa itu yang ingin kau dengar?”

Sesaat pandanganku terpaku padanya. Hatiku terasa menghangat. Tapi tidak lagi ketika aku mengingat ucapan terakhirnya. Apa itu yang ingin kau dengar? Itu artinya dia tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Aku menyentakkan tanganku, mencoba melepaskan diri darinya, tapi dia tidak melepaskanku.

“Kalau kau sempat ragu padaku, akan ku katakan dengan jelas sekarang, Park Jiyeon. Aku menyukaimu. Sangat sangat menyukaimu.”

Aku terdiam. Benarkah apa yang ku dengar ini?

“Sudah jelas sekarang?”

Myung Soo melepaskan cekalan tangannya perlahan. Ia kembali duduk di kursinya. Sekarang hanya tinggal aku yang berdiri saja disana dengan perasaan janggal. Bingung tapi juga bahagia disaat bersamaan.

“Kau tidak akan duduk? Kita belum selesai bicara.” Suara Myung Soo tidak lembut sama sekali. Malah ada ketegangan dalam nada bicaranya. Apa dia marah? Aku meliriknya takut dan ku dapati Myung Soo sedang menatapku serius.

Aku memilih patuh. Tidak tahu apa yang harus ku katakan pada saat-saat seperti ini. Aku sendiri juga bingung dengan situasi yang sedang aku hadapi.

“Dari mana kau tahu tentang Hyori?” tanya Myung Soo.

“Bu-bukannya kau yang bilang kalau dia mantan tunanganmu?” ucapku gelisah.

“Kau tidak semarah itu waktu tahu kalau dia mantan tunanganku. Jadi yang jadi pertanyaan sekarang, sejauh apa kau tahu tentang aku dan Hyori, dan siapa yang memberi tahumu semua itu.”

Aku meremas kedua tanganku, gelisah. “Siapa yang memberi tahuku itu tidak penting. Yang jelas, aku tahu kau menyukainya, hubungan kalian tidak sekedar perjodohan.”

Myung Soo mengangguk, membuatku hatiku berdenyut sakit. Apa itu artinya dia mengakui kalau dia menyukai Hyori?

“Kau cemburu?”

Ucapannya itu membuat wajahku memanas. Aku membuang pandang.“Ani.”

“Kalau bukan karna cemburu, lalu kenapa kau marah padaku, huh?”

“KARNA KAU MEMPERMAINKANKU!” seruku marah.

“Kapan aku mempermainkanmu?”

“Kau… kau… aisssh,” aku tidak tahu lagi apa yang harus ku katakan padanya. Apa sesusah itu dia menangkap maksud ucapanku sebelumnya? Kenapa dia membuatku sulit seperti ini.

“Kau cemburu,” ulang Myung Soo, menarik senyuman simpul, senyum penuh kemenangan. “Itu membuktikan kalau kau peduli padaku. Aku menyukainya. Keunde, tuduhanmu itu benar-benar mengganggu. Siapa yang bilang aku menyukai Hyori?”

Aku hanya diam.

“Hyori yang bilang begitu padamu?”

“Ani.”

“Lalu?”

“Tidak penting.”

“Ck, ini benar-benar membuatku kesal,” decak Myung Soo.

“Jadi kau tidak menyukai Hyori?” tanyaku lagi, yang harus aku akui, itu adalah langkah yang salah. Kau hanya akan membuat seseorang marah jika menanyakan suatu hal berulang-ulang seperti itu.

Myung Soo melirikku dengan tatapan tajamnya. “Kau masih menanyakannya? Neo… jinja. Sebetulnya kau melihatku seperti apa hah? Apa aku terlihat seperti namja yang sedang kebingungan perasaannya di tujukan pada siapa? Aku tidak tahu kalau kau sebodoh itu, Park Jiyeon.”

“Ck, kau tidak perlu mengataiku bodoh.” Umpatku pelan, namun dalam hati aku bahagia sekali mendengar ucapannya. Tanpa sadar aku tersenyum.

“Kau memang bodoh,” Myung Soo menatapku serius dan menuntut. “Sekarang katakan, apa saja yang kau dengar. Aku ingin tahu isi otakmu yang di penuhi prasangka buruk terhadapku itu.”

Aku menghela napas sebelum mengatakan semuanya dengan jujur padanya. Tentang apa yang ku dengar dari Minho. Tentang pertunangan dia dan Hyori. Tentang Hyori yang sebetulnya menyukainya. Juga tentang Hyori yang akhirnya menyerah dan lebih memilih Minho dari pada dirinya.

“Hanya ada satu orang yang akan menjelaskannya dengan cara seperti itu padamu. Choi Minho. Aku benar kan?”

Aku terkejut dia bisa menebak semudah itu. “Bagaimana…”

“Aku tahu?” potong Myung Soo. Ia menunjuk dirinya dan menyeringai. “Jika itu orang lain, mereka akan mengatakan kalau hubungan kami hanya seperti teman biasa. Jika itu Hyori, dia akan mengatakan kalau aku tidak menyukainya, dan juga, dia tidak akan mengaku pernah menyukaiku.”

“Jadi…?”

“Aku dan Hyori memang awalnya berteman. Dia cinta pertamaku, ku rasa. Kami sempat berpacaran selama… setahun. Tapi itu sebelum dia berubah menjadi seperti sekarang. Kau boleh tidak percaya, tapi Hyori yang dulu ku kenal adalah gadis polos, baik hati, dan sangat peduli dengan orang lain. Dia berubah sejak mengenal Suzy dan menjadi populer. Aku mulai tidak tahan dengan sikapnya yang mulai bossy, angkuh, dan suka menyakiti orang lain.” Myung Soo menarik napas dalam sebelum meneruskan. “Kami putus, karna dia lebih memilih menjadi dirinya saat bersama Suzy dari pada saat bersamaku. Itu membuatku kecewa. Hh, tapi aku sudah melupakannya. Kami kembali berteman walau tidak sedekat dulu. Saat kami di jodohkan, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa padanya. Hyori seperti menaruh harapan padaku saat itu, mungkin dia pikir kami bisa seperti dulu lagi, tapi aku sudah tidak bisa. Dan akhirnya ia mengerti dan memilih untuk melupakanku dengan berpacaran dengan Minho. Itulah yang terjadi sebenarnya…”

Jadi begitu… Hh. Aku mengutuki kebodohanku sendiri yang sudah berfikiran macam-macam terhadap Myung Soo. Sekarang aku mengerti kenapa sikapnya sedikit aneh pada Hyori. Memang sulit bersikap biasa pada orang yang pernah kita cintai dan mengecewakan kita.

Myung Soo menghela napas lega. “Sekarang kau mengerti kan kenapa aku memintamu untuk menjauhinya? Aku tidak suka pacarku berdekatan dengannya.”

Aku mengerjabkan mataku. Apa aku tidak salah dengar? “Pa-pacar?”

“Apa kita perlu meresmikannya?” Myung Soo menyeringai geli. “Baiklah, mulai sekarang kau itu pacarku. Oke?”

“Yaa! kau… aissh” aku merunduk malu. Hah, aku yakin pipiku sudah semerah tomat sekarang.

“Bagaimana pun, aku tidak suka kau terlibat dengan Hyori.” Myung Soo kembali melanjutkan pembicaraannya yang teralihkan tadi. “Dia bukan orang yang baik. Aku tidak suka dia menggunakanmu untuk membalaskan dendamnya pada Suzy. Aku tidak ingin kau ikut terseret dalam masalah mereka.”

Aku menggeleng lemah. Aku tidak bisa. Mana mungkin aku menjauhi Hyori sementara aku bekerja untuknya? Alasan aku berada di Shinhan itu adalah karna dia. Hah, suatu saat aku harus mengatakannya pada Myung Soo. Tapi tidak sekarang.

“Hyori tidak seburuk yang kau pikirkan. Kau mungkin hanya tidak memahaminya.”

“Kau membelanya?” Myung Soo terlihat tidak suka.

“Aku tidak membelanya,” ucapku mencoba membujuk. “Tapi kenapa kau tidak mencoba membantu mendamaikan mereka? Minho, Suzy, dan Hyori. Bukankah mereka sebenarnya teman-temanmu juga?”

“Aku tidak suka mengurusi orang lain,” Myung Soo bergedik. “Jika mereka ingin berdamai, mereka yang harus memikirkan sendiri caranya.”

Aku mengerutkan bibir. Kenapa dia tidak peduli begitu sih?

“Jangan memasang wajah seperti itu,” decak Myung Soo.

“Kau egois sekali…” sungutku.

“Aku bukannya egois, tapi oportunis,” Myung Soo membalas tak acuh. “Cah… apa kita pulang sekarang? Atau kau ingin pergi ke suatu tempat?”

Aku menggeleng. Ini sudah sangat sore. Aku harus membantu ibuku bekerja di kediaman keluarga Han. “Bisakah kau mengantarku ke tempat Hyori?”

***

“Apa?” Myung Soo menanyai dengan malas saat aku menyipitkan mataku dengan teliti menilai wajahnya.

“Ekspresimu itu seperti seorang ibu yang sedang mengantarkan anaknya ke rumah pelacuran,” desisku.

“Ini lebih buruk dari pada rumah pelacuran,” balasnya tanpa memandangku. Myung Soo marah, dan aku tidak perlu bertanya lagi apa penyebabnya.

Aku meraup wajahnya dan tersenyum membujuk. “Maafkan aku. Tapi Hyori adalah temanku. Aku tidak bisa menjauhinya hanya karna aku sudah punya pacar,” cibirku.

Myung Soo menyentuh tanganku yang ada di wajahnya, mengambilnya, lalu mengecupnya. “Aku sayang padamu. Jangan menjadi seperti dia. Tetaplah menjadi Jiyeon yang ku kenal sekarang.”

Aku tercenung selama beberapa detik. Matanya memandangku dengan sinar lembut yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Bibirnya menampilkan senyuman. Aku tidak pernah melihat sisi ini dari seorang Myung Soo sebelumnya. Dan itu cukup membuat jantungku berpacu dengan sangat cepat.

“Masuklah…” ucapnya sambil melirik ke rumah Hyori. “Apa aku perlu menjemputmu nanti?”

Aku menggeleng dengan cepat. “Aniya. Aku bisa pulang sendiri.”

Myung Soo mengangguk. “Baiklah… Hubungi aku jika kau sudah sampai di rumah. Ara?”

Aku tertawa kecil, lalu mengejeknya. “Kau mulai bersikap protective padaku hm?”

Myung Soo menggedikkan bahunya cuek. “Kenapa tidak? Kau pacarku.”

Hah. Kenapa aku senang sekali saat dia mengklaimku seperti itu?

Myung Soo akhirnya pamit pulang dan disinilah aku sekarang, di kediaman keluarga Han yang seperti biasanya penuh dengan rutinitas pekerja. Di jam-jam seperti ini para pelayan akan sibuk menyiapkan kebutuhan untuk makan malam. Aku, sejak dekat dengan Hyori, memiliki tugas untuk menyiapkan air mandinya. Orang kaya memiliki kebiasaan mandi yang berbeda. Hyori biasanya memilih sendiri wangi-wangian apa yang akan dia pakai di bathtubnya. Dia biasa menghabiskan waktu selama setengah jam untuk mandi.

Saat aku muncul di kamar Hyori dengan mengenakan pakaian pelayan, Hyori tampak baru bangun dari ranjangnya. Wajahnya kusut, matanya sedikit bengkak, dan rambutnya sangat berantakan. Aku sedikit kaget melihat penampilannya. Tidak biasanya Hyori membiarkan dirinya tampil seburuk itu. Meski saat bangun tidur, dia masih terlihat seperti bintang iklan.

“Semuanya, kalian boleh keluar. Aku hanya membutuhkan Jiyeon disini,” ucap Hyori, mengusir semua pelayan yang bertugas untuk membantuku menyiapkan perlengkapan mandinya.

Pelayan-pelayan itu menunduk patuh, lalu pergi meninggalkan ruangan. Hyori bangkit dari kasurnya. Dia terlihat tidak bersemangat.

“Apa kau baik-baik saja Hyo?” tanyaku khawatir.

Hyori membelakangiku menatap jendela kamarnya. Dia menggeleng. “Bantu aku…”

“Apa yang bisa ku lakukan untukmu?”

“Membuat Suzy putus dengan Minho.”

“Hyo…” keluhku. Ini tidak benar. Aku mulai merasa ini keterlaluan. “Kau tidak perlu melakukannya. Bukankah kau sudah memiliki Nickhun? Dia lebih berharga dari pada Minho. Percaya padaku.”

“Nick sudah meninggalkanku!” seru Hyori dengan suara bergetar, dia meremas tirai kamarnya. “Aku tidak ingin mereka bahagia. Aku tidak ingin seorang pun dari kami bahagia.”

“Kalau begitu keinginanmu sudah terwujud.” Aku menggeleng. “Sekarang kalian semua menderita. Kau, Minho, Suzy, dan Nickhun. Tidak seorang pun diantara kalian bahagia sekarang.”

Hyori hanya diam. Bisa ku lihat bahunya berguncang. Aku tahu dialah yang paling kacau diantara mereka semua. Dialah yang menerima penghianatan, dia juga yang di tinggalkan. Dia yang lebih banyak menderita.

Tapi itu tidak bisa lepas dari kesalahannya sendiri. Jika dia ingin membuat semuanya jadi lebih baik, dia harus tahu cara memperbaikinya, bukan hanya memaksa orang lain untuk melakukannya untuknya.

“Bicaralah pada Minho dan Suzy, Hyo… lalu minta maaflah pada Nickhun.”

“Aku tidak bisa melakukannya. Aku membenci mereka berdua. Dan Nick tidak mungkin memaafkanku.”

“Kau tidak bisa selamanya lari dari masa lalu. Tidak ada gunanya memendam kebencian jika itu membuat hatimu sakit Hyo. Dan soal Nick, kau harus mencoba memahaminya. Dia sangat mencintaimu.”

“Tapi dia tidak mengerti perasaanku. Dia meninggalkanku begitu saja…”

“Hyo… Jangan hanya melihat pada lukamu, tapi lihat juga luka yang di derita orang lain. Kau tidak pernah memikirkan perasaannya saat bersamamu sementara dia terus memberikan kasih sayangnya padamu. Dia dengan mudah memaafkan kesalahanmu, meski pun kau tidak pernah memintanya. Bukankah dia pantas mendengar satu maaf darimu? Setelah semuanya?”

Hyori terdiam. Tangannya bergerak menghapus air matanya, meski pun aku tidak bisa melihat wajahnya sekarang, aku yakin air matanya mengalir dengan deras sekarang.

“Yang kau butuhkan sekarang hanya keberanian untuk menerima kekurangan yang ada di hidupmu. Tidak ada kehidupan yang sempurna, Hyo. Semua orang pernah terluka dalam perjalanannya, semua orang pernah melakukan kesalahan, karna ini adalah pertama kalinya kita hidup, kita tidak bisa melakukannya dengan sempurna.”

Hyori berbalik. Aku bisa melihat wajahnya yang di penuhi air mata. Dia lalu menghampiriku dan memelukku. Lalu menangis sejadi-jadinya.

Aku mengelus punggungnya lembut. Berharap bisa menenangkannya dengan cara itu.

***

Wajah Hyori sudah lebih cerah saat dia turun ke lantai bawah untuk sarapan. Tuan Woobin yang awalnya terlihat lelah sepulang bekerja, menyunggingkan senyum bahagia saat melihat adiknya. Hyori mengambil tempat di sebelahnya. Mereka hanya makan berdua karna nyonya dan tuan sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negri.

“Akhirnya… kau keluar juga dari guamu,” sindir tuan Woobin.

Hyori membelalakkan matanya. “Apa maksudnya? Oppa menyebut kamarku itu gua?”

Tuan Woobin tersenyum kecil. Dia tidak menanyakan masalah adiknya, tapi aku tahu dia menaruh perhatian pada Hyori. Kemaren dia menanyakan padaku apa yang membuat adiknya beberapa waktu belakangan. Aku tidak bisa berbohong padanya, jadi aku menceritakan saja semuanya. Ia memintaku untuk mengawasi Hyori. Dia sebetulnya kakak yang peduli, sayang Hyori tidak mengetahuinya.

“Jiyeon, kau duduk disini…” perintah Hyori saat makanan sudah selesai di hidangkan.

“Nde?”

“Aku ingin kau ikut makan malam bersama kami,” tegasnya.

“Tapi…” aku melirik tuan Woobin. Ia rupanya juga sedang memandangku. Di luar dugaan dia malah tersenyum dan mengangguk, memberiku izin untuk ikut.

Hyori bangkit dengan tidak sabar lalu menyeretku ke meja makan. Ia mendudukkanku dengan paksa dan meminta pelayan untuk membawakan satu piring lagi.

Tak lama seorang pria berpakaian kasual memasuki ruang makan. Senyum Hyori langsung melebar dan ia kembali bangkit untuk berlari memeluk pria itu. “Nick!”

“Hai, short cake,” Nickhun mengecup puncak kepala Hyori sayang, lalu melempar senyum pada tuan Woobin, lalu padaku.

“Kau bilang kau sedang berada di Jeju!”

“Well… apa kau tidak tahu aku bisa terbang sesukaku? Tentu saja aku punya jet pribadi yang selalu tersedia kapan pun aku membutuhkan.”

“Wah, apa kau mau pamer?” tuan Woobin menyeringai.

“Tidak juga,” Nickhun menatap Hyori dan mengecup pipinya singkat. “Hanya memberi tahu nona ini, aku bisa berlari padanya kapan saja dia memanggilku.”

“Oh, how sweet,” ejek tuan Woobin.

Nickhun lalu bergabung bersama kami di meja makan. Keceriaan pasangan ini rupanya sudah kembali. Malah mereka terlihat lebih lengket dari pada sebelumnya.

“Hyo memberi tahuku soal kau yang menasehatinya untuk meminta maaf padaku,” kata Nickhun saat menunggu piringnya. “Terima kasih.”

Aku mengangguk. “Aku tidak melakukan apa-apa. Semuanya tetap tergantung pada Hyori.”

“Tapi kau yang membuatku sadar,”desah Hyori dengan wajah bahagia. “Apa yang ku miliki sekarang jauh lebih penting dan lebih berharga dari pada masa lalu.”

Aku tersenyum. Senang akhirnya Hyori menyadari kesalahannya dan menerimanya dengan lapang dada. Dia terlihat jauh lebih rileks dan bahagia sekarang. Berbeda sekali dari saat aku pertama kali mengenalnya.

“Oh, dan Jiyeon… tugasmu sudah selesai. Kau tidak perlu membantuku untuk balas dendam lagi.”

“Nde?”

Aku tergugu saat mendengar ucapan terakhir Hyori.

Selesai? Apa itu artinya aku akan keluar dari Shinhan?

TBC

Otte?

I do my best, tapi karna udah lama gak nulis ini FF, feelingnya jadi hilang. Mian, buat readers yang kecewa sama hasilnya. Still, i need suggestion to make it better. ^^ hope u still enjoy this story. Kayaknya FF ini gak bakal panjang, mungkin beberapa part lagi bakal end. Mohon dukungannya *bow* Moga-moga aku gak hilang mood lagi buat nyelesein ini FF. 😀

56 responses to “To be Miss Popular (6)

  1. cie myung udh jadian sma jiyeon😀 hah kalau misinya udh selesai gmna tuh thor? Gmna nanti hbngan myung sma jiyeon? Dan bagaimana reaksi myung kalau tau jiyeon itu bkan dari keluarga kaya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s