The Half Blood (1)

foto-suzy-cantik

 

The Half Blood

-Bae Suzy- Choi Minho- Kim Myung Soo- Park Jiyeon

-Fantasi-

________________________________________________________________

Bae Suzy tidak menyangka kalau pesta perayaan ulang tahun yang sangat dinantikannya, akan berubah menjadi malam penuh darah. Puluhan vampir tiba-tiba saja menyerangnya dan para werewolf terluka parah akibat melindunginya. Belum lagi dia dikejutkan oleh kenyataan pahit bahwa dirinya bukanlah keturunan murni para werewolf. Dia berdarah campuran, satu-satunya nephilim yang tersisa, dan tidak seharusnya dibiarkan hidup.

Tapi Suzy tidak akan dibunuh seperti seharusnya aturan itu ditegakkan, bagi para Nephilim. Choi Minho, putra mahkota kerajaan vampir, ternyata adalah Mate-nya. Seperti dirinya, Choi Minho juga berdarah campuran, vampir dan werewolf. Untuk melindungi Suzy dari bahaya yang mengancamnya, Minho membawa Suzy untuk tinggal bersamanya di Istana. Suzy harus meninggalkan kawanannya dan hidup di kelilingi para vampir yang mengincar nyawanya.

Bagaimana nasib Suzy selanjutnya?

Ikuti kisahnya di ‘The Half Blood’!

 

Malam berdarah

 

Beratus-ratus tahun yang lalu, Bumi ini mengalami perubahan besar. Bencana alam, Pemanasan global, dan juga perang nuklir menjadi penyebabnya. Keadaannya saat itu sangat hancur, beratus ribu umat manusia mati, hanya tinggal beberapa saja yang selamat. Mereka yang tinggal akhirnya bersatu, hidup dalam sebuah dunia yang tidak begitu luas, karna sebagian besar daratan sudah tenggelam.

Dari kejadian itu, nenek moyang para vampir dan werewolf merasa tidak perlu lagi menyembunyikan identitas mereka. Umat manusia tidak mampu lagi melawan, semua teknologi yang mereka ciptakan telah musnah. Meski pun begitu dunia itu amat damai, semua makhluk hidup berdampingan. Manusia, vampir, dan werewolf, rasku.

Kami terdiri dari satu kesatuan, namun hidup terpisah. Para werewolf hidup di sebuah daratan tropis yang di tumbuhi oleh banyak pohon dan tanaman hutan. Kami hidup berkoloni, yang terdiri dari beberapa kawanan yang dipimpin oleh seorang Alfa. Semua Alfa tergabung dalam sebuah dewan, yang mengatur dan menetapkan aturan bagi para werewolf. Dewan tersebut adalah kekuasaan tertinggi dari koloni kami.

Tapi di atas segalanya, Dewan tersebut bukanlah apa-apa dibandingkan Raja Vampir yang memerintah dunia ini. Ya, benar. Segala unsur di dunia ini di kendalikan oleh kerajaan Vampir. Dia adalah vampir darah murni. Umurnya sudah beribu-ribu tahun. Dan tidak seorang pun sanggup menentangnya.

“Aww, Refleks yang bagus Suze!”

“Thanks,” aku mendorong tubuh Woohyun yang tadi berniat menyerangku dari belakang. Cowok itu meringgis memegangi lengannya.

“Hei, Suzy, Hei dude,” Hoya muncul dengan tentengan beberapa buku. Sebuah kaca mata bertengger di atas hidungnya.

“Kau terlihat… seperti orang yang keracunan ilmu pengetahuan,” ucap Woohyun dengan raut wajah geli.

“Oh, thanks. Ku anggap itu pujian.” Hoya mengabaikan Woohyun dan memusatkan perhatian padaku. “Suze, kau ingat persentasi kita minggu depan? Aku sudah menyelesaikan power poinnya. Ini bahan yang perlu kau baca.” Hoya menyerahkan dua buah buku padaku.

“Thanks,” ucapku, memaksa senyum.

“Sama-sama. Sampai ketemu lagi.”

Woohyun menirukan gaya bicara Hoya. “Sama-sama. Sampai ketemu lagi,” ia mencibir. “Hey, apa tidak ada yang memberi tahunya kalau Werewolf itu tidak butuh otak? Kita tidak hidup seperti vampir atau manusia.”

Aku memutar bola mataku. “Berhentilah mengganggunya, Woo. Biarkan saja dia melakukan apa yang ingin dia lakukan.”

Langkahku berhenti di depan papan pengumuman dan melihat sebuah kertas yang menarik perhatian semua murid yang ikut berkumpul disana.

Pesta tahunan dewan werewolf!

__________________________________________________________________________

“Ayah…” aku menunjukkan wajahku yang paling memelas.

“Sudah ku bilang tidak nak,” kata Ayahku malas sambil meneruskan sarapannya.

Kakakku, Sung Gyu, hanya menunjukkan wajah simpatiknya. Dia tidak berbuat apa-apa untuk menolongku. Begitu juga ibuku, yang cuma diam saja mendengar keputusan ayahku yang sangat kejam terhadapku.

“Ayah tahu kalau pesta itu bertepatan dengan hari ulang tahunku!” seruku kesal. “Kenapa aku tidak boleh ikut? Semua werewolf akan berkumpul disana. Siapa tahu aku akan bertemu mate-ku?”

Mate atau pasangan jiwa, aku benar-benar mendambakannya. Kami para werewolf mempunyai cara alami untuk mendapatkannya. Saat kau berumur delapan belas tahun, werewolfmu akan menuntunmu untuk menemukan pasangan jiwamu. Orang-orang menyebutnya seperti jatuh cinta, namun Mate memiliki ikatan yang lebih kuat dari pada itu. Kau hanya memiliki satu Mate, dan itu untuk seumur hidup. Teman-temanku yang telah menemukan mate mereka, sering menggambarkannya padaku, betapa kuatnya perasaan itu. Kau akan sangat marah jika pasanganmu bersama orang lain, rasanya seperti terbakar di dalam, kau akan sangat posesif, lebih baik mati dari pada tidak bersamanya, dan duniamu akan terasa sangat damai dan indah hanya dengan berada di sampingnya saja.

Semua yang mereka gambarkan padaku benar-benar membuatku tidak sabar untuk menemukan Mate-ku, yang hanya akan terjadi saat usiaku sudah menginjak 18 tahun. Dan pesta yang diadakan oleh para dewan, dimana sebagian besar keturunan werewolf akan berkumpul, adalah kesempatan emas untuk menemukannya.

“Para vampir akan ikut pesta itu,” Sung Gyu membuka suaranya yang terdengar berat.

Ayahku mengangguk. “Akan ada tamu penting. Pangeran Minho dari kerajaan vampir.”

“Ayah…” panggilku memelas. Pesta itu akan benar-benar menakjubkan. Kenapa aku tidak diperbolehkan ikut? Kapan lagi aku bisa melihat Pangeran Minho yang sering di agung-agungkan oleh para manusia dan kalangan vampir? Mereka bilang pangeran itu sangat tampan, hingga alir liurmu akan menetes saat memandangnya.

“Tidak Suze,” ayahku kini kelihatan kesal. “Ini bukan perintah ayahmu, tapi seorang Alfa!”

“Tapi-“

“Ayah benar,” Sung Gyu ikut menyela. “Kau bisa menemukan Mate-mu di tempat lain. Tidak perlu datang ke pesta itu.”

“Tidak! Aku akan datang!” ucapku bersikeras. “Memangnya kenapa kalau aku ikut? Tidak ada larangan bagi kaum werewolf untuk ikut ke dalam pesta itu.”

“Kau tidak diizinkan untuk keluar dari kamarmu Suze! Ayah akan meminta orang untuk berjaga di depan kamarmu.”

“Ayah! Sebenarnya ada apa dengan kalian?!” aku berdiri dari mejaku, dengan emosi yang siap meledak.

Ibuku mengangkat kepalanya dan memandangku dengan kilat mata marah. “Suzy, Jaga sikapmu!”

Aku mendengus keras.

“Kau tidak di perbolehkan ikut ke pesta itu Suze! Tidak ada lagi bantahan!” ayahku bangkit, sedikit menggebrak meja, dan selanjutnya dia pergi meninggalkan rumah. Kakakku mengikutinya. Sebagai calon Alfa selanjutnya, dia sama kerasnya dengan ayahku.

“Masuk ke kamarmu!” perintah ibuku dengan suara keras.

“Aku tidak mau!” tolakku, tak kalah keras.

“Masuk atau aku akan memaksamu!”

Manik mata ibuku menghujam penuh hingga nyaliku ciut untuk membantah lagi. Segera saja aku menghentakkan kakiku, menaiki anak tangga menuju kamarku. Beberapa saat hening, lalu ku dengar suara derap kaki menaiki anak tangga. Tidak hanya satu, tapi tiga. Aku membuka pintu kamarku dan melihat teman-teman sekolahku, Woohyun, Sungyeol, dan Hoya berdiri di depan kamar.

“Kami menerima perintah Alfa untuk menjagamu malam ini.”

Aku membanting pintu kamarku keras.

Oh, Shit! Aku benci situasi ini.

________________________________________________________________________________

Aku yakin pesta itu akan sangat mengagumkan. Tidak biasanya Pangeran Minho turut berkunjung. Biasanya pesta itu hanya di wakili oleh orang-orang kepercayaan raja. Dan itu adalah kesempatanku untuk melihatnya, di malam ulang tahunku yang ke delapan belas, dan aku kemungkinan besar juga akan bertemu dengan Mate-ku.

Oh, begitu indahnya malam ini, seharusnya, dan sayang sekali jika di lewatkan begitu saja. Aku tidak bisa menahannya. Pesta itu terlalu menggiurkan. Aku akan menemukan cara untuk keluar dari kurungan ini.

Aku melirik kamar mandi, dimana ada jendela kecil yang diam-diam sering ku gunakan untuk kabur di malam hari. Ayahku tidak pernah tahu, begitu juga kakakku. Mereka tidak akan menyangka kalau aku melakukan ini. Resikonya sangat besar. Aku akan di hukum dan selamanya aku tidak akan bisa kabur lagi. Ayahku akan memastikan aku tidak bisa kabur menggunakan jendela itu lagi. Tapi siapa peduli? Yang ada di benakku sekarang hanyalah pesta itu. Aku harus kesana, harus!

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat aku selesai berpakaian dan menyelinap keluar melalui jendela. Aku menuruni dinding yang licin dengan hati-hati, berpegangan pada ranting pohon yang menjulur ke jendela, meluncur dengan hati-hati. Ini bukan pengalaman pertamaku kabur, jadi aku tidak kesulitan saat melakukannya.

Aku melompat turun, setelah memastikan jarak kakiku dengan tanah tidak begitu jauh. Aku mengedarkan pandang kesekeliling, lalu diam-diam keluar melalui pagar belakang rumah. Aku masih harus memanjat pagar dengan hati-hati dan tanpa suara agar tidak ketahuan.

Aku belum terlambat, aku meyakinkan diri. Pesta itu akan di adakan sampai pagi dan detik-detik menuju jam dua belas malam adalah saat yang paling ku tunggu. Karna saat itu beberapa werewolf muda akan berumur 18 tahun, termasuk aku.

Aku memilih berjalan menuju gedung tempat pesta itu dilangsungkan karna aku tidak punya kendaraan. Ayahku ternyata sudah mengantisipasi untuk tidak meninggalkan kendaraan apa pun di garasi rumah. Tapi tidak masalah. Tidakkah dia tahu kalau putrinya ini sangat keras kepala?

Lebih dari setengah jam aku berjalan menuju gedung itu dan kini aku melihat kembang api meluncur di udara pertanda jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Sial. Aku terlambat. Aku berlari menuju ruang pesta yang penuh hingar bingar. Sekarang sudah ada beberapa pasangan disana, beberapa orang menemukan Mate mereka, dan mereka terlihat sangat bahagia.

Aku menciumi aroma yang sangat nikmat melewati tenggorokanku saat aku masuk ke ruangan pesta. Mate! Wireworfku berseru senang di kepalaku. Dia ada disini, Mateku ada disini, aku hanya perlu mengikuti aromanya untuk menemukannya.

Lalu suasana pesta itu mendadak hening. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Begitu aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, aku melihat para vampir sedang menatapku dengan tatapan bingung mereka yang kemudian berganti dengan tatapan liar, dalam artian seperti hewan karnivora yang baru saja menemukan mangsa. Detik itu berlalu seperti angin, ketika tiba-tiba salah satu dari mereka menerkamku dari samping.

Aku dengan sigap menghindar dan bertabrakan dengan meja. Bisa ku dengar suara geraman itu. Suara gigi bertemu gigi, sangat menakutkan, apalagi ketika kau tahu bahwa benda itu adalah pisau pribadi vampir yang siap mencabik-cabik habis kulitmu.

“Suzy awas!” Sung Gyu menerjangku ke samping kanan tempat minuman terhidang. Rupanya ada seorang vampir lagi yang menyerangku. Suara pecahan kaca semakin membuat kesan mengerikan. Tapi lebih dari itu, wajah Sung Gyu memucat saat melihat ke lenganku. Aku mengikuti arah pandangnya dan melihat kulitku tergores pecahan kaca.

“Tidak…” ia menggeleng.

Saat itu juga keadaan menjadi tidak terkendali. Para vampir semakin menggila. Ku lihat ayahku berubah menjadi serigala di susul dengan kawanan yang lain. Suara pakaian tercabik dan suara geraman kini mengisi ruangan. Hanya sedetik hingga pertempuran itu pecah, dimana para vampir dan wereworf saling serang.

“Apa yang terjadi…” ucapku lirih, tidak mempercayai apa yang ku lihat ini.

“Ayo pergi dari sini Suze!” Sung Gyu membantuku berdiri.

Tapi aku tidak bisa. Tubuhku terlalu kaku untuk ku gerakkan. “Suzy! Cepat!” bentak Kakakku dengan suara geramannya.

Aku tidak menanyakan apa pun. Hanya mengikuti perintahnya. Dia menarikku keluar. Para vampir masih terus menyerang. Anehnya, serangan itu hanya tertuju padaku seakan aku ini adalah onggokan daging masak yang sedang di perebutkan. Sementara itu para wireworf bertindak seperti perisai yang melindungi hingga aku berada di luar.

Kakakku langsung merubah dirinya menjadi serigala ketika kami sudah berada di luar. Matanya memberi isyarat agar aku segera naik ke punggungnya. Aku segera melakukannya. Lalu ia berlari kencang, seperti angin. Seakan dia di kejar oleh sesuatu yang paling menakutkan, dan dia harus terus berlari jika ingin selamat.

___________________________________________________________________________________

“Aku tidak percaya kau mengabaikan perintahku!!” teriak ayahku menggelegar saat ia menemuiku di sebuah rumah di tengah hutan. Aku baru tahu kalau tempat ini ada. Sebelumnya aku belum pernah kesini.

“Kau tahu akibat dari ulahmu itu??!! Kawanan kita terluka!! Dan sekarang para vampir menyerang kita!!!”

“Aku tidak mengerti ayah,” aku menggeleng lemah. Tubuhku gemetar dan tidak berdaya. Ingatanku masih berputar sekitar kejadian di tempat pesta tadi.

“Suze… ada satu hal yang tidak kau ketahui tentang dirimu,” ucap Sung Gyu lemah. Mata sipitnya kelihatan sayu, dia bahkan tidak memandangku.

“Apa?” tanyaku dengan rasa penasaran tak tertahankan.

Terdengar suara ketukan dari luar. Ayahku membuka pintu dan mendapati Alfa Jack memasuki ruangan. “Pangeran sedang dalam perjalanan kesini,” ucapnya dengan suara berat.

“Maafkan aku Jack…” ucap ayahku lemah, tidak pernah aku melihat dia seperti itu sebelumnya.

Alfa Jack menggeleng keras. “Maaf saja tidak cukup untuk ulahmu kali ini. Beraninya kau membesarkan anak Nephilim!”

Nephilim.

Kata itu berdengung keras di telingaku. Nephilim. Aku ingat pelajaran sejarahku di sekolah. Nephilim adalah makhluk berdarah campuran malaikat. Mereka dibinasakan dan tidak diizinkan hidup karna darah mereka membuat para vampir menggila. Terutama vampir yang bukan keturunan murni. Mereka yang meminum darah Nephilim akan langsung berubah menjadi vampir level E, vampir yang tidak terkendali, yang menyerang siapa saja terutama manusia dan wereworf.

Dan aku adalah Nephilim. Nephilim.

“Kita harus membunuhnya! Sebelum Raja Vampir marah besar dan mengutuk kita, kita harus membunuhnya. Cepat singkirkan dia sebelum semuanya terlambat!”

Aku menatap ayahku. Air mataku menetes menandakan penyesalan dan rasa takut yang ku rasakan sekarang. Apa yang sudah aku lakukan? Ayah dan kakakku mencoba melindungiku. Tapi aku malah menempatkan mereka dalam bahaya.

“TIDAK!” teriak ayahku menggelegar. “Langkahi dulu mayatku Jack!”

Alfa Jack mengeram. “Baiklah jika itu yang kau inginkan!”

Lalu ia menyerang ayahku. Tenaganya sangat kuat hingga ia bisa menyudutkan ayahku ke tembok.

“Hentikan! Jangan lukai ayahku!” teriakku dengan suara gemetar.

Alfa Jack mengeram padaku. “Kau anak Nephilim. Beraninya kau berteriak padaku!”

“Jangan sentuh dia Jack. Ku mohon,” ayahku terdengar mengiba.

“Tidak,” aku menggeleng. Air mataku menggenang. “Jangan lakukan itu ayah.”

Kakakku bangkit. Dia menyingkirkan Alfa Jack dari ayahku dan menatapnya dengan tatapan penuh amarah. “Bukan kau yang menentukan. Pengadilan dewanlah yang menentukan.”

“Oh, kau pikir dewan akan membiarkan kalian membahayakan nyawa para werewolf hanya demi gadis ini?”

“Tidak ada salahnya mencoba.”

“Aku tidak akan membuang waktu. Biar aku saja yang membunuhnya!” Alfa Jack berbalik untuk memandangku. Aku mundur dan dia menyusul dengan menyudutkanku ke dinding.

“Jangan…” lirihku terbata sementara tangannya sudah berada di leherku, mengangkatku. Aku meronta karna kesulitan bernapas.

“LEPASKAN DIA!” teriak Sung Gyu, hendak membantuku, namun pria bertubuh besar yang berasal dari kawanan Alfa Jack menghalanginya. “Suzy! Tidak! Suzy!” Sung Gyu mencoba melawan, tapi ku rasa tenaganya sudah terkuras karna melindungiku dan membawaku kesini.

“Oppa…” ucapku di sisa-sisa tenaga dan linangan air mata yang menghalangi penglihatanku.

Pintu itu didobrak dari luar. Kawanan Vampir telah sampai. Alfa Jack semakin mengetatkan cekikannya di leherku, membuatku merasa aku akan mati sebentar lagi.

“Lepaskan dia…” sebuah suara semerdu lonceng memerintah.

Tubuh Alfa Jack menegang dan ia mengendorkan tangannya dari leherku. Aku jatuh terkulai melewati tembok yang menjadi tempatku bersandar. Kepalaku terasa sangat berat, leherku terasa sakit, dan napasku sangat sesak. Di tambah lagi dengan tangisan yang mendesak untuk di keluarkan. Aku tak tahu mana yang harus ku acuhkan lebih dulu. Rasa sakitku atau tangisanku.

Dan aroma itu mendekat. Bau wangi yang menenangkan jiwa, meredam rasa sakit dan tangisanku. Seperti heroin, aroma itu membuatku melayang ke dimensi lain yang lebih menyenangkan. Aroma itu semakin pekat saat seseorang menyentuh rambutku. Aku mengangkat wajahku dan mendapati sebuah ciptaan maha sempurna berada tepat di hadapanku.

Tidak hanya itu. Werewolfku berseru kesenangan. Mate. Mate.

MATE!

Ia menatapku dengan tatapan yang sama. Dia memujaku seperti aku memujanya. Ia membungkuk dan menghirup aromaku dalam-dalam. Memberikan ketenangan padaku, menghapus semua ketakutanku, membuatku melupakan siapa aku sebenarnya.

“Tenanglah… aku disini sekarang… aku akan melindungimu…”

Dengan begitu mataku terpejam. Aku tertidur dengan perasaan yang sangat nyaman.

TBC

Hai, readers ^^ Akhirnya aku memberanikan diri buat memposting cerita ini.

Ini pertama kalinya aku nulis fantasi, So i am not sure hasilnya bakalan bagus. Ada yang tertarik sama cerita inikah?

20 responses to “The Half Blood (1)

  1. Aaaaa kereen thor kayaknya seruuu yeay akhirnya ada ff minzy couple yg baruuu bergenre fantasy lg >.<
    Oh ia thor jd disini itu suzy jd nepilim manusia setengah malaikat atau werewolf setengah malaikat atau malaikat aja aku msh bingung soalnya thor hehehehe😀
    Ditunggu lanjutannya ya thoor hwaitiiiinggg ^-^)9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s