[CHAPTER – PART 2] 3 Days With Idol

Suzy Miss A & L Infinite (2)

© POSTER CHANNEL by: funluobell

Title : 3 Days With Idol | Author : dindareginaa | Main Cast : Bae Sooji, Kim Myungsoo | Other Cast : Find by yourself! | Length : Threeshots | Genre : Comedy – Romance | Rating : Teen

Already posted in here with different pairing.

Sooji menyipitkan matanya begitu kilatan lampu blitz menyerbunya. Oh, ternyata  para staff 3 Days With Idol sudah bersiap ditempatnya.

“Sudah siap?”

Sooji sontak menoleh pada Myungsoo yang kini berada tepat disampingnya. Lelaki itu kini memakai tank top berwarna hitam dengan jacket baseball berwarna merah marun dan juga dipadupadankan dengan topi berwarna senada dengan jacket miliknya. Kenapa Kim Myungsoo tampan sekali? Oh, lihat! Jantung Sooji kembali berdebar tak karuan!

Eoh,” gumam Sooji akhirnya, menjawab pertanyaan Myungsoo.

“Ayo,” Myungsoo menggenggam lembut tangan Sooji lalu berjalan beriringan ke tengah lapangan.

“Untuk apa kita disini?”

“Tentu saja bermain baseball,” jawab Myungsoo tanpa menoleh kearah Sooji.

“Tapi aku tidak bisa…”

“Aku yang akan mengajarimu,” potong Myungsoo seraya mengambil alat pemukul yang diberikan oleh salah seorang staff padanya. “Kemarilah,” suruhnya.

Sooji mengangguk lalu segera berjalan mendekati Myungsoo. Gadis cantik itu tersentak begitu Myungsoo memegang tangannya.

“Pegang pemukulnya seperti ini…”

Sooji hanya bisa menahan nafasnya saat merasa punggungnya bersentuhan dengan dada bidang Myungsoo. Baru kali ini ia berada sedekat ini dengan lawan jenis. Dan baru kali ini juga Sooji merasa gugup hanya karena sentuhan sederhana mereka.

“Sekarang pukul bolanya,” suruh Myungsoo.

Mata indah Sooji membesar begitu menyadari sebuah bola kini menuju kearahnya. Dengan cepat Sooji segera memukul bola tersebut. namun, karena pemukul yang cukup berat membuat Sooji tak bisa memukul bola dengan jauh. Lihat, bola itu bahkan terbang tak lebih dai lima langkah dari posisi Sooji.

Melihat itu, Myungsoo tak bisa menahan tawanya. Ia sontak tertawa terbahak-bahak seraya memegangi perutnya. “Ya! Pukulan seperti apa itu? Kau tak tahu bahwa siaran ini akan ditayangkan secara nasional? Berusahalah sedikit.”

“Bukankah aku sudah bilang aku tak bisa bermain baseball?” gerutu Sooji seraya mempoutkan bibirnya.

“HAHAHA.”

Sooji tertegun. Lelaki itu tertawa. Tawa yang sangat manis. Sooji tersenyum lirih. Entah untuk yang ke berapa kali Sooji enyadari bahwa jantungnya bergetar hebat.

Sooji mengusap peluhnya dengan punggung tangannya. Mereka – lebih tepatnya Myungsoo, karena Sooji sendiri tak merasa bermain baseball, ia bahkan tak berhasil memukul satu bola pun – sudah selesai bermain baseball beberapa menit yang lalu. Bermain baseball memang melelahkan. Sooji saja kelelahan, bagaimana dengan lelaki itu? Omong-omong, kemana Myungsoo?

“Ini.”

Sooji mengangkat kepalanya, menoleh pada Myungsoo. Lelaki itu kini beranjak duduk tepat disamping Sooji.

“Ambillah,” Myungsoo menyodorkan sebotol air mineral pada Sooji.

“Terima kasih,” gumam Sooji lalu mulai meminum minumannya.

Myungsoo tersenyum simpul lalu merentangkan kedua tangannya kemudian menarik nafas panjang. “Sudah lama aku tidak seperti ini.”

“Sudah lama?” tanya Sooji bingung.

Myungsoo mengangguk kecil. “Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku merasa sedamai ini. Kau tahu, hidup sebagai idola membuatku jarang menghabiskan waktu untuk beristirahat meski sebentar.”

Sooji hanya diam, tak berniat membalas ataupun memotong ucapan Myungsoo. Ia tak ingin menganggu Myungsoo dengan pertanyaan-pertanyaan konyolnya.

“Bagaimana denganmu?” tanya Myungsoo.

“A… apa?”

“Kalau kau diberi kesempatan, apa kau ingin menjadi idola sepertiku?”

Gadis itu terdiam sejenak, menyimak pertanyaan Myungsoo dengan seksama. “Tidak juga. Aku menyukai kehidupanku sekarang. Bebas tanpa ada orang banyak yang akan mengikutiku. Walaupun sebenarnya aku cukup bagus menjadi idola. Kau tahu, suaraku bahkan lebih bagus dari Miley Cyrus,” sombongnya.

Myungsoo terkekeh kecil. “Aku senang berkencan denganmu,” lontarnya tiba-tiba.

Sooji dapat merasakan wajahnya memanas akibat ucapan sederhana Myungsoo. Jantungnya bahkan berdegup kencang lagi.

“Sifatmu tidak berubah mski kau brkencan dengan orang sepertiku. Kau tahu, saat kau menjadi aku, akan sulit bagimu menemukan orang yang tulus atau tidak.”

Diam-diam, Sooji merasa senang. Bukankah itu artinya ia berbeda dngan orang-orang yang dikenal Myungsoo sebelumnya?

“Myungsoo-ssi, Sooji-ssi, sudah saatnya untuk pengambilan gambar,” ujar salah seorang staff menghampiri dua insan itu.

Kajja.”

Myungsoo baru saja meletakkan tasnya ketika Son Naeun – salah satu member sekaligus visual girl group APink – membuka pintu kamarnya. Untung saja Myungsoo sudah terlebih dahulu mengganti bajunya. Kalau tidak, kalian bisa menebak sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sekedar pemberitahuan saja, dorm Infinite dan A-Pink memang berdekatan. Jadi tak heran jika Naeun bisa bolak-balik sepuluh kali dalam sehari ke dorm Infinite hanya untuk memastikan bahwa Myungsoo masih hidup. Bisa ditebak bukan bahwa Naeun menyukai Myungsoo? Namun, Myungsoo yang memang tak suka gadis manja seperti Naeun tentu saja menolaknya langsung.

“Ada apa lagi, Son Naeun? Kenapa kau suka sekali mondar-mandir di dorm-ku?” tanyanya tak suka.

Naeun sontak menekuk wajahnya mendengar pertanyaan Myungsoo. Ia berjalan menghampiri lelaki itu. “Bagaimana kencanmu? Sepertinya menyenangkan.”

“Biasa saja,” jawabnya acuh. Myungsoo lalu merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya dan mulai memejamkan mata.

“Kau menikmatinya? Aku sudah melihat acara kencan kalian tadi. Kau menyukai gadis itu?”

Mendengar pertanyaan Naeun, Myungsoo sontak membuka matanya dan duduk di ranjang. Dilihatnya gadis itu sudah duduk disampingnya.

“Menyukainya? Tidak. Tentu saja tidak,” jawab Myungsoo langsung. Myungsoo sendiri tak yakin dengan jawabannya.

“Jangan bohong. Kau tidak tahu aku sudah lama memperhatikanmu? Baru kali ini aku melihatmu memperhatikan gadis seperti itu.”

“Seperti apa?”

“Entahlah. Caramu menatapnya sungguh berbeda dengan caramu memperhatikan teman wanitamu termasuk aku. Matamu tak mau berkedip sedikitpun.”

“Jangan konyol, Son Naeun. Sekarang pergilah aku butuh istirahat. Sebentar lagi aku harus segera bersiap untuk pemotretan,” Myungsoo mendorong pelan tubuh Naeun mengarah ke pintu lalu menguncinya. Namun, bukannya kembali tidur, Myungsoo masih diam mematung. Apa benar dia menyukai gadis itu?

Ini hari kedua Sooji dan Myungsoo berkencan. Walau sudah terbiasa, tetap saja membuat Sooji gugup tak karuan. Ayolah! Ini Kim Myungsoo! Idola dari jutaan gadis! Sooji sendiri tak tahu kenapa ia selalu merasa gugup berada di dekat Myungsoo.

Hari ini Sooji dan Myungsoo berencana untuk menghabiskan waktu mereka di Lotte World.  Awalnya Myungsoo yang memang tak suka keramaian menolak hal itu mentah-mentah. Ia tak mau menarik perhatian orang banyak. Namun, Sooji yang keras kepala akhirnya berhasil membujuk sang idola.

Baru saja mereka masuk ke pintu gerbang kemerdekaan – baca: pintu gerbang Lotte World – mereka sudah diikuti oleh setengah dari pengunjung tempat itu.

“Ternyata kau itu terkenal sekali ya,” ejek Sooji.

Myungsoo mendengus kesal lalu menaikkan kaca matanya yang sedikit longgar. “Cepatlah. Kau ingin bermain apa sekarang?”

Sooji terdiam, mencoba berpikir. Ia mengusap-ngusap pelan dagunya, seolah hal itu akan membantunya berpikir. “Bagaimana kalau itu?” tanyanya. Tangannya kini menunjuk ke arah permainan yang menjulang tinggi ke atas langit.

Myungsoo menelan salivanya. Permainan apa saja, apapun itu, asal jangan Roaler Coaster, Myungsoo akan dengan senang hati memainkannya. Tapi ini… Ya Tuhan! Myungsoo benar-benar tak tahan dengan ketinggian.

“Tidak bisa yang lain?” Myungsoo menatap Sooji dengan setengah merayu.

Sooji menggeleng. “Kenapa?” tanyanya. Kemudian gadis itu tersenyum menggoda. “Kau takut ketinggian!”

Myungsoo tahu itu bukan bentuk pertanyaan. Namun, ia lebih memutuskan untuk mengikuti mau Sooji. Hanya kali ini saja. Ia juga tak mau terlihat pengecut di depan kamera-kamera yang kini sedang merekam mereka. Myungsoo menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya perlahan. “Tidak. Aku tidak takut. Ayo!”

Sooji hanya tersenyum simpul melihat Myungsoo kini sudah berjalan terlebih dahulu ke wahana besar tersebut. Sepertinya mereka akan menikmati kencan ini.

Myungsoo dan Sooji kini sudah duduk di Roller Coaster. Mereka lalu memakai sabuk agar menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Sooji tersenyum senang, sedang Myungsoo yang duduk disebelahnya kini memejamkan kedua matanya rapat-rapat seraya berdoa dalam hati. Berharap agar mereka dapat mendarat dengan selamat.

Sooji tak bisa menahan senyumnya melihat tingkah konyol Myungsoo. Ayolah! Keponakan Sooji yang baru berumur 9 tahun bahkan ketagihan dengan permainan uji nyali ini. Dan Myungsoo? Lelaki yang kelihatannya sangat jantan ini malah takut dengan ketinggian? Yang benar saja!

“Buka matamu.”

Myungsoo tersentak begitu merasakan Sooji menggenggam tangannya. Hangat. Itu yang ia rasakan saat ini.

“Dan cobalah teriak sekuat yang kau bisa. Kau akan segera menikmati permainan ini,” lanjutnya lagi.

Myungsoo diam. Ia menatap Sooji tajam. Tak lama benda itu kini bergerak. Lama-lama bergerak pelan hingga akhirnya bergerak dengan kecepatan tinggi. Awalnya, Myungsoo tak tahu apa yang harus ia lakukan. Namun, begitu melihat Sooji berteriak dengan sangat kencang, lelaki tampan itu akhirnya ikut berteriak. Ternyata Sooji benar, permainan ini tidaklah semenakutkan yang ia bayangkan selama ini.

Melihat Myungsoo, Sooji hanya tersenyum simpul.

“Bagaimana? Bukankah menyenangkan?”

“Biasa saja,” jawab Myungsoo acuh. Sebenarnya, ia hanya malu mengingat betapa konyolnya ia dihadapan Sooji. Bukankah harusnya Myungsoo yang menenangkan Sooji? Tapi, kenapa malah Sooji yang menghiburnya tadi? Bodoh!

“Sekarang apa lagi?” gumam Sooji pelan. Mata lentiknya kini tertuju pada mesin boneka – atau yang disebut dengan Ufo Catcher. Kau tahu, kau harus memasukkan koin kedalam mesinnya lalu menggerakkan capitnya untuk mendapatkan boneka lucu kesukaanmu. “Lucu sekali!” seru Sooji begitu melihat boneka babi berwarna merah muda didalam mesin tersebut.

“Kau menyukainya?” tanya Myungsoo, membuat Sooji mengangguk. “Kalau begitu, aku akan mengambilkannya untukmu.”

“Kau bisa?” tanya Sooji ragu. “Ini bukan hal yang mudah. Tidak usah memaksakan dirimu.”

“Aku bisa!” yakin Myungsoo. Ia lalu mengeluarkan sekeping uang logam dari sakunya. Myungsoo kemudian menekan tombol dan dengan perlahan ia mengarahkan penjepit tersebut kearah boneka babi yang diinginkan Sooji. Myungsoo terkesan berhati-hati sekali. Ia bahkan menahan nafasnya beberapa detik begitu si boneka babi menuju ke lubang. Myungsoo kini dapat merasakan peluhnya bercucuran.

Myungsoo mendengus kesal ketika boneka tersebut jatuh. Padahal, ia hampir saja berhasil mendapatkan boneka untuk Sooji. Namun, usahanya malah gagal.

“Sudahlah. Tidak usah memaksakan dirimu,” ujar Sooji tak tega. Ia tahu Myungsoo sudah berusaha, tapi ia juga tahu bahwa memainkan Ufo Catcher bukanlah hal yang mudah.

“Aku tidak akan berhenti sebelum berhasil,” ujar Myungsoo mantap. Ia kini mengeluarkan – lagi – uang koinnya dan kembali memainkan benda terkutuk itu.

Sooji akhirnya memutuskan untuk mengalah dan membiarkan Myungsoo untuk menyelesaikan misinya – mendapatkan si babi merah muda. Sesekali ia tertawa melihat raut wajah Myungsoo yang kesal dan juga sumpah serapahnya begitu ia gagal mendapatkan si babi merah muda. Tapi, sebenarnya, kalaupun Myungsoo tidak berhasil, itu tak jadi masalah buat Sooji. Ia tetap senang dengan kenyataan Myungsoo mau berjuang demi dirinya.

Sooji menatap kagum boneka babi yang kini ada digenggamannya. Ya, Myungsoo berhasil mendapatkan boneka lucu itu setelah lebih dari setengah jam.

“Bukankah sudah ku bilang aku pasti bisa mendapatkan boneka itu untukmu?” ujar Myungsoo sombong.

Sooji sontak mendesis mendengar pernyataan Myungsoo. “Tapi kau menghabiskan puluhan koin untuk boneka babi ini! Kau bahkan menukar uangmu untuk mendapatkan koin lebih.”

Ya! Setidaknya aku sudah berhasil!” Myungsoo mempoutkan bibirnya, membuat Sooji gemas. Andai saja mereka tidak disorot kamera saat ini, mungkin Sooji akan segera mencubit kedua pipi Myungsoo.

 Ya Tuhan! Apa yang sedang kau pikirkan, Bae Sooji! Kau pasti sudah gila. Sooji menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap dengan begitu, pikiran liarnya akan segera enyah.

“Apa yang kau lakukan?”

 Sooji tersentak kaget. Ia sontak menggeleng. Pandangannya kembali tertuju  pada boneka babi miliknya. “Sebaiknya kunamakan apa dia?” gumam Sooji. “Bagaimana kalau Myungsoo?”

Mendengar ocehan gadis itu, Myungsoo langsung melotot kearahnya. Namun, belum sempat Myungsoo berkomentar, Sooji sudah terlebih dahulu kabur. Sooji bahkan masih sempat menjulurkan lidahnya sebelum pergi meninggalkan Myungsoo.

Myungsoo mendengus kesal. “Ya! Tunggu aku!”

TO BE CONTINUED

47 responses to “[CHAPTER – PART 2] 3 Days With Idol

  1. Kkkk.. sweet bgt sih.. bikin meleleh bacanya..
    Bikin iri aja couple ini..

    Benih2 cinta mulai tumbuh nih.. kkkk..
    Myungsoo gigih bgt dpetin boneka babinya buat Sooji.. Part yg bikin kocak adalah pas Sooji mau namain bonekanya dengan nama Myungsoo..
    Wkwkkwk.. kayaknya mereka ber2 lupa kalo gerak geriknya diawasi sm kamera..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s