Missing You

missing_you

Missing You

Written byChang Nidhyun

 

Kisah ini berawal dari aku yang merindukanmu…

Aku yang tak mampu merengkuh hatimu…

Aku yang tak mampu menggenggam tanganmu…

Aku yang tak mampu untuk mengatakan bahwa…aku mencintaimu… –Kim Myungsoo

 

***

 

Pagi itu Myungsoo mendapatkan pesan dari orang yang sama. Dengan reaksi yang sama, Myungsoo kembalimenaruh ponselnya tanpa minat. Ia juga tidak bermaksud untuk membalas satupun pesan masuk yang bertumpuk di e-mail-nya. Layaknya sampah, mungkin Myungsoo harus membuangnya. Ya. mungkin dia harus.

Myungsoo mengambil sepotong roti di mejanya. Pagi itu dia ditemani musik lembut dari HOT. Bukan penyanyi favoritnya memang, tapi dia selalu masuk ke dalam lagu-lagu lembutnya. Membuatnya merasa ada dalam atmosfer yang berbeda,meskipun ada satu ketidak nyamanan yang menjuntai bebas menggerayanginya. Apalagi jika bukan karena gadis itu? Gadis yang memperkenalkannya pada artis seperti HOT, Shinhwa, SES, Fly To The Sky, dan baru-baru ini gadis itu menghebohkan soal DBSK dan Kim Jaejoong-nya. Entah siapa, Myungsoo tidak tahu. Ia hanya tahu gadis itu masih selalu sama. Gadis yang selalu merecoki ponselnya dengan berbagai pesan masuk, gadis yang selalu merekomendasikan banyak lagu.

Myungsoo menggigit dan mengunyah rotinya perlahan. Sekelebat pesan yang dikirimkan gadis itu melintas begitu saja di kepalanya.

“Kau marah padaku? Aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sakit hati. Sungguh Myungsoo-a, aku benar-benar minta maaf padamu…”

Tidak ada jawaban. Myungsoo tidak menemukan jawabannya. Memangnya apa yang harus dia jawab? Mengatakan bahwa dia tidak marah dan merasa baik-baik saja setelah gadis itu berkata dengan keras bahwa…impiannya selama ini adalah sia-sia?

Myungsoo mendengus kasar. Ingatan itu membuat mood-nya selalu turun dan turun. Myungsoo kembali mengangkat rotinya, kembali menggigitnya dan mengunyahnya perlahan. Ia dapat merasakan rasa coklat menyentuh lidahnya, selai coklat kacang. Rasa favorit gadis itu. Dan gadis itu juga yang merekomendasikannya pada Myungsoo.

Ya. selalu gadis itu.

Otak Myungsoo kembali terlempar pada kejadian sebulan lalu. ia memang mengalami cedera yang cukup parah, ia salah satu atlet lari. Dan gadis itu, adalah salah satu gadis yang selalu memberikan dukungannya untuk Myungsoo. Selalu. Dan Myungsoo tidak pernah main-main untuk soal itu, karena kenyataannya, gadis itulah yang menyeka airmatanya ketika ia terjatuh, gadis itulah yang berteriak “SEMANGAT!” saat Myungsoo hampir menyerah danmundur dari impiannya.

Tapi setelah cedera itu, Myungsoo kehilangan sorot penyemangat dari cahaya wajah gadis itu. Myungsoo tersenyum kecut, ia ingat bagaimana gadis itu berceloteh tentang…impian yang lain. Hey, apa dia pikir mimpi adalah barang murah yang bisa dipermainkan? Begitu? Sungguh konyol. Dia benar-benar konyol. Gadis itu, Bae Suzy.

Myungsoo mengambil gelas berisi air putih di depannya, mengangkatnya dan meneguknya perlahan. Dan ingatan Myungsoo terlempar pada pesannya hari ini. Pesan yang baru saja ia baca di laptop barunya. Ucapkan terimakasih juga pada gadis itu, karena gadis itu juga turun menyumbang tabungannya setahun lalu demi laptop itu. Untukku yang berkunjung di Seoul ini, dan dia yang tengah meniti mimpinya di Daegu untuk berlari menggenggam Seoul. Lihat! Bahkan dia juga seorang pemimpi!

“Kau tahu, dokter bilang kau tidak mungkin meneruskan statusmu sebagai atlet. Aku tahu ini berat Kim Myungsoo, tapi percayalah, kau bisa menggapai mimpimu yang lain. Semisal menjadi dokter? Kau punya nilai tinggi Kim Myungsoo!
Ah, iya! Temui aku di stasiun Seoul hari ini. Aku berkunjung menemui pamanku, kau datang kemari, oke? Aku menunggumu.”

Myungsoo mendesah panjang. Perlukah Myungsoo lari kesana dan bersikap seolah-olah mereka tidak pernah memiliki masalah sebelumnya? oh, manis sekali. Lakukan sesuka hatimu Bae Suzy. Kali ini aku tidak akan bergantung padamu, cecar Myungsoo dalam hati.

Myungsoo pun bangun dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar rumahnya. Ia perlu melakukan terapi lagi hari ini.

 

***

 

“Suzy…sakit?” Myungsoo tergagap saat menanggapi suara di sebrang telepon sana. Tangan pria itu mendadak dingin. Ia merasa kepalanya terbentur benda keras hingga ia kehilangan cara berpikir yang jernih, seperti seharusnya, seperti biasanya…

“Kau pasti bercanda. Iya, kan?” kata Myungsoo lagi saat mendengar kata ‘kecelakaan’ berlari ke telinganya. Percayalah. Gadis itu bahkan masih mengirimkan pesannya hari ini. Dan bagaimana bisa gadis itu kecelakaan? Tidak mungkin. Suzy tidak seceroboh itu dan Myungsoo mengenalnya dengan baik.

Tapi harapan hanyalah sebuah harapan. Myungsoo kehilangan tenaganya saat mendnegar informasi lebih lanjut mengenai sahabatnya yang menyatakan perasaan padanya 2 tahun lalu itu. Tidak. Myungsoo tidak pernah menganggap gadis itu kelewat spesial, ia merasa ia sudah memiliki seseorang yang spesial, dan itu bukan Bae Suzy.

Sesak. Myungsoo merasa dadanya dijepit tiba-tiba. Bahkan, ia pikir ia akan kehilangan napasnya karena rasa sakit yang mendentum hebat did alam dadanya.

“Tidak mungkin Suzy,” desis pria itu dengan nada putus asa. Tentu saja tidak mungkin. Gadis itu tidak mungkin kecelakaan, tidak mungkin koma, tidak mungkin di operasi…

Kyunghee University Hospital. Tempat itu tiba-tiba mengejar telinganya. Dan tanpa pikir panjang, Myungsoo berlari dari kotak telepon berwarna merah itu. Ia baru saja menelepon Suzy karena orangtuanya yang menanyakan keberadaan Suzy. Myungsoo tidak tahu, tentu saja. Bagaimana mungkin dia tahu jika jelas-jelas ia mengabaikan gadis itu? Gadis lugu Daegu yang hanya tahu bagaimana berteriak “Semangat!” dan memperkenalkan Myungsoo pada bintang-bintang yang selalu menginspirasinya untuk menaruh setiap perasaan di tiap kata yang berlari di baris kertas. Puisi. Gadisitu penggila puisi.

 

***

 

Myungsoo sampai di depan ruang operasi. Gelap. Disana terlalu gelap, namun tak melebihi gelapnya hati Myungsoo. Bahkan ia tidak menggubris kesunyian yang melingkupi tempat itu. Juga hatinya, hatinya kelewat gelap saat ini.

“Dia ingin bertemu denganmu. Apa susahnya untuk menemui sahabatmu sendiri, Kim Myungsoo?” ia ingat saat salah satu teman kampusnya bertanya soal Suzy yang ia keluhkan. Myungsoo menarik kedua sudut bibirnya masam, tolol. Myungsoo memang tolol.

Apa susahnya untuk bertemu gadis itu dan berkata bahwa ia ingin melanjutkan mimpinya? Suzy juga tak punya hak untuk menghalanginya, kan? Kenapa ia perlu takut berhadapan dengan gadis itu? Gadis yang dengan suka rela menjadi ‘peri’ dalam tahun-tahunnya selama ini.

Myungsoo menggenggam erat secarik kertas yang dititipkan seseorang yang menolong Suzy, seseornag yang menelponnya tadi. Gadis mungil yang ia sendiri siapa namanya…Lee. ia hanya ingat nama depan gadis itu, Lee.

Myungsoo membuka kertas itu perlahan. Entah sejak kapan airmatanya sudah menganak sungai di pipinya, membuat mentalnya jatuh dan terkoyak dengan mudah. Ia merasa bersalah pada gadis itu. Sangat. Ia merasa sangat bersalah.

“I’m Missing You”

 

***

 

7 years later

 

Myungsoo membuka matanya perlahan, menikmati paginya seperti biasa. Dibangunkan cahaya matahari yang menerobos secara paksa ke arah retina matanya, disusul teriakan alarm yang kadang ingin ia banting ke luar rumahnya.

Dan itu hanya keinginannya. Nyatanya, pagi ini Myungsoo bangund engan normal. Mematikan alrm-nya dengan normal. Dan menatap sekilas senyum matahari dengan normal. Tanpa ekspresi, namun hatinya terwarnai oleh senyum matahari itu.

Myungsoo pun menyingkap selimutnya. Dengan sedikit tersaruk, ia berjalan menuju kamar mandi. Memulai aktivitas paginya. Hanya saja, pagi ini dia tidak bekerja. Ia sengaja mengambil cuti untuk awal musim semi ini.

Bukan. Ini bukan soal menikmati mekarnya bunga-bunga di halaman rumahnya, bukan pula soal menikmati hangatnya udara yang akan memeluknya. Tapi ini karena tanggal penting yang tertera dikalender dan jatuh pada hari ini.

 

***

 

Myungsoo mengambil secarik kertas yang ia siapkan sejak seminggu lalu. seperti anak SMA, Myungsoo akan melakukan hal-hal kpnyol semacam ini. Tapi Myungsoo tidak peduli, dirinya yang konyol dan dia tidak mengganggu orang lain karena kekonyolannya.

Setelah menemukannya, Myungsoo pun berjalan keluar. Hari ini ia berniat menaiki sepedanya. Seperti dulu, saat sebelum ia mengubah statusnya menjadi penghuni Seoul, saat dia masih anak laki-laki berseragam SMP yang menikmati pagi Daegu-nya. Dengan sepeda, tentu saja. Mengejar waktua gar dia tidak berakhir dengan hukuman guru piket.

Myungsoo tersenyum kecil. Ia selalu merindukan hal-hal semacam itu.

Myungsoo mengayuh pelan sepedanya. Sedikit melirik ke arah bangunan yang berjajar rapi di sisi kanannya. Ia mencari sebuah kedai kopi disana. Cappichino, ia diperkenalkan pada manisnya cappuchino 10 tahun lalu. tepat saat ia menolak kopi dan seseornag memaksanya untuk menegnal kopi.

Dan setelah menemukannya, Myungsoo pun turun. Pagi musim semi, dengan secangkir cappuchino ditemani hangatnya sentuhan matahari pagi ini, juga secarik memori yang berputar di kepalanya. Myungsoo tahu hari itu tidak sempurna, tapi ia selalu suka bagaimana cara hatinya menceritakan kisah ini.

 

***

 

Setelah 15 menit duduk di kedai kopi, Myungsoo melanjutkan perjalanannya. Bukan kemana-mana, dia hanya berhenti di depan toko coklat. Coklat manis dengan bentuk boneka. Agak konyol memang, pesanannya ini selalu dipertanyakan sang chef, tapi ia tidak peduli. Myungsoo pembeli, Myungsoo membayar, dan Myungsoo berhak mendapat apa yang ia inginkan. Sesimpel iti.

“Saya sudah menuliskan namanya disana,” Myungsoo membawa coklat itu dengan suara sang chef yang berputar di telinganya. Ia kembali menarik sudut bibirnya. Chef itu sudah tahu apa yang harus dilakukan pada kue coklatnya.

 

***

 

“Anda datang cukup pagi Tuan Kim,” sapa seorang pria berkepala 3 saat Myungsoo memasuki sebuah pintu.

Myungsoo mengedikkan bahunya sambil tersenyum, “Aku tergiur dengan pagi yang hangat ini,” sahutnya masih dengan senyum yang sama.

“Anda tidak bekerja dokter Kim?” tanga pria itu lagi sambil melirik bawaan Myungsoo. Ada sebuah buku, juga sebuah kotak yang entah berisi apa. tapi pria itu akan tahu anti.

Sambil berlalu dari hadapan pria itu, Myungsoo menjawab, “Aku cuti untuk hari ini. Kau tahu, ini tanggal pentingku.”

Pria itu mengangguk tanpa Myungsoo lihat. Myungsoo terlalu bersemangat untuk mendatangi tempat yang ia tuju. Dengan barang bawaannya, tentu saja.

Myungsoo berjalan sambil bersiul kecil. Ia teringat lagu Fly To The Sky, Missing You. Sebenarnya ia lebih suka lagu HOT atau Shinhwa. Tapi entah mengapa, ia rasa tidak ada lagu sedalam lagu milik FTTS. Myungsoo naik ke lantai dua dan memasuki sebuah ruangan. Ia sudah kenal baik ruangan itu. Dan tentunya, tidak terlalu sulit untuk menemukan sebuah rak yang dicarinya. Ada banyak rak dan berbagai loker disana. Tapi Myungsoo hanya mencari satu.

Dan…itu, Myungsoo menemukannya.

“Hai Suzy!” Myungsoo memamerkan senyum cerahnya pada loker yang terletak paling bawah itu. Myungsoo pun berjongkok dan menatap setiap carik kertas yang sengaja ditaruhnya disana, ia selalu melakukannya dan menggantinya seminggu sekali.

“Hei, hari ini aku datang lebih cepat. Keren bukan?” Myungsoo cengengesan sendiri saat menemukan sebuah guci kecil terletak di dalam loker itu.

Myungsoo pun berjongkok dan mengeluarkan sebuah buku yang dibelinya kemarin sore saat ia melewati toko buku di Insadong.

“Buku terbaru Lee Ye Jin,” Myungsoo mulai pamer, “Kau pasti akan suka. Akan aku ceritakan.” Myungsoo pun mulai bercerita panjang mengenai isi novel milik penulis bernama Lee Ye Jin itu. Entah berapa lama ia melakukan itu, ia juga tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikannya dengan keadaan seperti itu.

Dan setelah setengah jam bercerita panjang, Myungsoo mulai mengeluarkan kuenya. Kue coklat berbentuk boneka yang tadi diambilnya. Myungsoo sudah duduk sambil meluruskan kakinya di lantai.

“Lihat, aku bawa apa!” Myungsoo tersenyum lebar sambil mendekatkan kue itu ke loker di hadapannya, “1 April! Kau ingat? Ini hari pertama kita bertemu! Ini hari persahabatan kita!” Myungsoo terkekeh geli. Dan perlahan, ia menghela napas panjang, “Dulu kau yang selalu melakukan ini. Ck, aku jadi terpaksa mengingat tanggal ini juga.” Kata Myungsoo dengan nada sendu.

Ia pun mulai mengeluarkan secarik kertas yang ia siapkan seminggu lalu. kemudian, ia menaruhnya di dekat guji itu. Tidak, ia bukan hanya menaruhnya, tapi juga menempelkannya. Myungsoo tidak pernah tahu, ia selalu menangis tiap kali menaruh kertas-kertas itu disana. Ia juga tidak pernah tahu, bagaimana sakitnya ia dengan segala macam perasaan yang tak terjemah oleh ludah dan otaknya.

Dan Myungsoo mengangguk pelan saat membaca ulang kalimat yang ditulisnya di carik kertas itu.

“I’m Missing You, Bae Suzy.”

 

&The End&

30102014 0807PM

13 responses to “Missing You

  1. entah kenapa aku ngebayangin suzy jadi jiyeon :’3 maaf ya eonni T^T
    penyesalan selalu datang terakhir myungsoo nyuekin suzy seharian dan berakhir dengan kabar buruk yang dia terima dari seseorang/? kalo suzy kecelakaan, yakali aku jadi kepengen coklatnya yg dikasih kesuzy /efek laper wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s