[Chapter – Part 11] Love is not A Crime

LINAC

Part Sebelumnya:

PROLOG [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10]

Poster by: kimleehye19

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Lee Donghae, Shindong SJ, Jung So Min, Hwang Chansung, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

PG – 17

Happy reading, mian for typos

Soo Hee memeluk Jiyeon erat-erat. Dia juga meneteskan airmata karena merasa bersalah pada Jiyeon. “Jongmal mianhae. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkanmu dari hukuman ini. Semua sudah diatur dalam undang-undang, aku tidak bisa mengubahnya. Aku harap kau mau memaafkanku. Aku sungguh menyesal membiarkanmu mengantar kepergianku kembali ke Selatan pada malam itu.”

Jiyeon tersentuh dengan kata-kata Soo Hee. Dia pun menitikkan airmata. Di belakang Soo Hee ada seorang yeoja paruh baya yang melihat keduanya dengan tatapan haru. Tentu saja yeoja itu adalah Park Soo Jin, ibu kandung Jiyeon. Soo Jin menyembunyikan kesedihannya melihat putri kandungnya menderita di depan matanya. Baru kali ini dia berhadapan langsung, melihat putrinya dari jarak dekat. Soo Jin ingin sekali mengungkapkan pada Jiyeon bahwa dia adalah putri kandungnya yang dikira sudah meninggal 20 tahun yang lalu.

Jiyeon melihat Soo Jin yang kelihatan menahan airmatanya. Dia masih belum tahu kalau yeoja itu adalah Soo Jin, ibu kandungnya. Karena harus segera masuk ke dalam sel, Jiyeon melepas pegangan tangan Soo Hee dan berkata,”Aku tidak menyesal melakukannya. Mungkin ini adalah yang terbaik untukku. Jangan bersedih. Aku akan baik-baik saja di sini.” Hati Jiyeon benar-benar kuat. Dia tetap menahan airmatanya agar tidka keluar lebih banyak. Hal itu ia lakukan karena tidka ingin terlihat lemah di depan Soo Hee dan eommanya. Jiyeon bersiap memasuki selnya namun tiba-tiba Soo Jin memanggilnya. Jiyeon dan Soo Hee pun menoleh ke arahnya.

“Bolehkah aku memelukmu? Kau telah menyelamatkan putriku Soo Hee. Aku ingin berterimakasih padamu.” Berat bagi Soo Jin mengatakan hal itu karena ia harus bersandiwara sebaik mungkin agar tidak ada yang tahu kalau yeoja yang membunuh Jenderal Hwang adalah Jiyeon. Soo Jin juga berat mengatakan kata-kata yang tidak seharusnya dikatakan seorang eomma kepada putrinya. Seharusnya dia mengatakan hal-hal yang dapat menguatkan Jiyeon, bukan mengatakan kata-kata itu yang kesannya dia tidak menganggap Jiyeon sebagai putrinya.

Jiyeon mengangguk pelan. Soo Jin pun mendekati Jiyeon lalu memeluknya. Di dalam pelukan Soo Jin, entah kenapa Jiyeon malah mengeluarkan airmatanya. Ia merasakan kehangatan dalam pelukan Soo Jin. Soo Hee yang melihatnya juga heran. Kenapa Gongju malah menangis di pelukan eommanya.

“Maaf nyonya, kami harus membawanya ke dalam sel,” kata seorang petugas sipir yang mendampingi Jiyeon saat bertemu dengan Soo Jin dan Soo Hee.

Mereka bertiga berpisah. Tanpa sadar, Soo Jin masih mengeluarkan airmatanya. Soo Hee tidak curiga melihat eommanya begitu larut dalam perasaannya saat bertemu dengan Jiyeon.

Hari ini Jiyeon sudah resmi menjadi tahanan pemerintah Korea Selatan. Hari penahannya bertepatan dengan hari keberangkatan Myungsoo ke USA untuk menjelaskan duduk perkara mengenai senjata pemusnah massal atau nuklir. Beberapa negara maju, terutama sekutu yang paling setia pada USA, menduga bahwa Korea Utara sedang menyiapkan senjata pemusnah massal atau nuklir untuk menghancurkan Korea Selatan, mengingat diantara kedua negara itu baru saja terjadi baku tembak yang sangat sengit, yang menewaskan puluhan prajurit dan dua orang jenderal.

AS dan sekutunya terus mendesak dan mengultimatum Korea Utara untuk mengadakan pertemuan multilateral membahas senjata nuklir. Pemerintah Korut geram atas sikap AS yang tidak konsisten. Mereka adalah sekutu setia Korea Utara. Tetapi sekarang mereka malah memojokkan Korut karena diduga mengembangkan nuklir. Apalagi sekarang ini beberapa negara lain juga ikut mendukung sikap AS terhadap Korut. Jadi, mau tidak mau, Korut harus mengyetujui diadakannya pertemuan multilateral untuk membahas nuklir.

Presiden Kim tidak bodoh. Ia mengirim Myungsoo untuk menghadiri pertemuan itu. Myungsoo adalah satu-satunya orang yang paling tahu tentang pengembangan nuklir di Korea Utara.

Di dalam ruangannya, Presiden Kim berbicara dengan Myungsoo. Sangat serius.

“Aku percaya padamu, anakku. Mereka boleh saja menduga kita telah mengembangkan nuklir untuk menghancurkan Selatan. Keunde, kau harus bisa meyakinkan mereka kalau negara kita tidak melakukan hal-hal yang dituduhkan kepada kita.”

Myungsoo mengangguk pelan. Ia sudah dapat mencerna kata-kata Appanya. “Tapi kita harus punya rencana B, abeoji…”

Presiden Kim tampak berpikir. Ada benarnya juga pendapat Myungsoo. Mereka harus punya rencana B. Hasil keputusan musyawarah di PBB tidak dapat diprediksi. Maka dari itu, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan, mereka harus menyusun rencana B. “Apa pendapatmu tentang rencana B?” tanya Presiden Kim kepada putera tunggalnya itu. Keduanya nampak serius membahas situasi politik luar negeri, terutama hubungan negaranya dnegan Korsel. Korut menganggap Korsel hanya pembohong. Mereka sering melanggar perjanjian meski Korut sudah berupaya berdamai dengan negara Halyu itu.

Myungsoo berpikir sejenak. Dahinya berkerut. Kedua matanya menyipit. Tak berapa lama kemudian dia menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar. “Aku punya rencana B. Mungkin ini akan terkesan sadis dan tidak berperikemanusiaan. Tapi ada alasan khusus aku merencanakannya.”

“Mwonde?” tanya Presiden Kim yang segera menegakkan punggungnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Myungsoo dengan kedua tangan dilipat dan diletakkan di atas meja kerja di depannya.

“Nuklir,” jawab Myungsoo singkat.

“Mwo?” Presiden Kim terlonjak kaget. “Andwae!”

“Abeoji. Hanya itu yang bisa kita lakukan.”

“Rupanya sekarang kau mengikuti aliranku, Myungsoo-a.”

“Apa maksud abeoji?”

“Dulu kau yang selalu mengingatkanku untuk tidak melukai orang lain meskipun kita dalam keadaan darurat dalam perang. Tapi sekarang kau malah berpikiran lain.”

Myungsoo diam. Benar kata appanya. Tapi kalau rencana B bukan seperti itu, lalu apa yang harus mereka rencanakan? “Keurom, apa yang harus kita lakukan, abeoji? Apakah kita akan diam saja saat negara-negara di dunia memusuhi kita? memangnya apa yang telah kita lakukan sehingga mendapat citra buruk di dunia Internasional?”

“Inilah yang namanya politik. Tidak peduli kau tua atau muda, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, hanya sifat licik yang harus kau miliki. Mereka tidak akan menghiraukan hal-hal yang menurut mereka sepele. Sebagian negara di dunia berpihak kepada kita, tetapi sebagian besar memusuhi kita.” Presiden Kim menyandarkan punggungnya lagi. “Aku punya rencana B. Mungkin ini kedengaran konyol. Tetapi setidaknya ideku tidak sekejam punyamu. Idemu tadi bisa dijadikan rencana C. Yaitu rencana yang akan kita lakukan karena keadaan yang sangat mendesak.”

“Nanti malam aku berangkat, abeoji.”

“Apa kau sudah siap segalanya? Mental? Materi?”

Myungsoo mengangguk pelan. Tatapan matanya dingin.

“Aku akan memberitahukan padamu tentang rencana esok hari. Pulanglah, istirahat sejenak di rumah agar eomma-mu tidak terlalu khawatir.”

“Ne, abeoji.” Myungsoo berdiri lalu membungkukkan diri. Dia berbalik menuju pintu ruang kerja presiden.

Jiyeon berada di sebuah padang pasir yang luas sekali hingga jarak pandangnya tak dapat dijelaskan dengan kata-kata karena yang ada hanyalah butiran pasir dan debu yang tertiup angin. Di tangan kanannya, sebuah pedang indah dan runcing telah tergenggam dengan kuat seakan tidak akan dilepaskan. Ia bingung. Kenapa tiba-tiba dia ada di tempat itu? Jiyeon menoleh ke segala arah. Tidak ada siapa-siapa. Ia pun melihat pada dirinya sendiri yang tengah memakai kostum bela dirinya. ‘Kenapa aku memakai pakaian ini?’ batin Jiyeon.

Suara bergemuruh tertangkap jelas oleh indera pendengaran Jiyeon. Ia mengerutkan dahi, bertanya-tanya suara apakah gerangan? Semakin lama semakin jelas. Suara itu seperti suara ribuan pasukan yang hendak berperang. Jiyeon tetap memandang ke arah depan. Lama kelamaan muncullah banyak orang yang berlari dan berkuda di depannya. Mereka seakan mau menyerangnya saat itu juga. ‘Kenapa mereka berkuda? Apakah ini jaman Joseon?’ batinnya.

Ribuan pasukan pejalan kaki dan berkuda sudah berdiri, berjajar rapi di depannya namun Jiyeon belum melihat siapa pemimpin mereka. ‘Waegurae?’

Prok prok prok!

Suara seekor kuda yang datang dari arah belakang pasukan itu terdengar samar-samar di telinga Jiyeon. Ternyata suara kuda sang pemimpin pasukan itu. Jiyeon masih memperhatikan mereka. Ia masih bingung. Apa yang telah terjadi? Bukankah ia sedang dipenjara? Lalu kenapa bisa sampai di tempat ini? Siapa mereka? Itulah pertanyaan yang muncul dari kepala Jiyeon. Sang pemimpin pasukan melepaskan helmnya. Kini nampak jelaslah siapa pemimpin pasukan itu.

Kedua bola mata Jiyeon membelalak. Mulutnya terbuka lalu ditutup oleh telapak tangan kirinya. Dalam keadaan terkejut, dia menggumamkan kata ‘Oppa’.

“Myungsoo oppa?” lirihnya.

“Mana pasukanmu Park Jiyeon? apakah kau tidak takut melihat kami datang untuk menghabisi dirimu dan seluruh orang-orang Korea Selatan?” teriak Myungsoo dari kejauhan namun tetap dapat didengar oleh Jiyeon.

Airmata Jiyeon meleleh. Myungsoo mendekat dan mengeluarkan pedangnya. Dengan masih menaiki kudanya, Myungsoo mengayunkan pedangnya ke arah Jiyeon. Untung saja Jiyeon dapat menghindar. “Oppa… Oppa…”

Jiyeon membulatkan kedua matanya. Ia melihat sekelilingnya. Penjara? Sekarang dia ada di penjara? Bukan di padang pasir? Nafasnya tersengal-sengal, Jiyeon memejamkan mata. Ternyata tadi hanya mimpi. Perang itu hanya sebuah mimpi. ‘Tapi kenapa mimpi itu datang lagi?” batin Jiyeon. “Syukurlah…” ucapnya lirih.

Malam ini Gongju mendekam di dalam selnya. Setelah bermimpi sesuatau yang snagat tidak ia harapkan, Jiyeon tidak ingin tidur lagi. Ia takut kalau mimpi itu datang lagi. sudah dua kali mimpi itu menghampirinya waktu tidur. Mimpi yang sama menghampiri tidurnya di hari yang berbeda.

Di dalam sebuah rumah yang kelihatannya sederhana, beberapa orang berkumpul untuk membahas sesuatu. Mereka sedang merencanakan beberapa rencana terkait penangkapan Jiyeon dan hukuman yang akan diberikan kepadanya.

Seorang yeoja berwajah dingin sedingin es musim dingin, memasuki ruangan yang cukup gelap dan beberapa orang sudah menunggunya di dalam ruangan tertutup itu. Mereka menyambut kedat ngan yeoja yang bernama Haeri. Haeri tersenyum evil. “Aku kira kalian tidak akan datang…”

“Tch! Meskipun kau tidak meminta kami untuk berkumpul di sini, kami tetap mempunyai rencana untuk menurunkan perdana menteri dan membujuk presiden untuk memilih perdana menteri yang baru. Kandidat mereka adalah Park Soo Hee.”

“Johae. Aku salut pada kalian. Kalian masih setia kepadaku hingga putriku nanti menjadi perdana menteri. Aku senang kalian berkeinginan seperti itu.” Haeri menyunggingkan senyum licik yang biasa ia pamerkan pada orang-orangnya. “Im Siwa!” panggil Haeri.

Namja yang merasa namanya dipanggil oleh sang isteri presiden segera mendekat. “Ye, Nyonya.”

“Aku ingin kau mengumumkan bahwa Gongju yang ditahan di sel sekarang adalah Park Jiyeon, putri dari Park Soo Jin.”

Semua yang hadir dalam pertemuan itu tercengang mendengar kata-kata Haeri. Haeri sendiri malah tersenyum senang. Yeoja itu seringkali menyunggingkan senyumnya karena merasa segala sesuatu yang ia rencanakan berhasil dengan gemilang.

“Park Jiyeon?” tanya seorang gubernur.

“Ne, dia adalah Park Jiyeon. Aku sendiri telah memastikannya.”

Flashback

Siwan mendapat perintah dari Haeri untuk memastikan bahwa Gongju adalah Park Jiyeon. Dia datang ke rumah sakit dengan alasan bahwa Haeri memerintahkan dia untuk menjenguk Gongju dan melaporkan kondisi yeoja itu pada Presiden. Benar-benar diluar rencana.

Di depan kamar perawatan Jiyeon terdapat dua orang penjaga bersenjata lengkap yang mengawasi dan menjaga keamanan di sana. Siwan menunjukkan surat utusan dari Haeri. Awalnya para penjaga itu ragu. Tentu saja, karena mereka tidak mengenal Haeri. Yang mereka kenal bukanlah Haeri namun Park Soo Jin selaku isteri Presiden Park.

Siwan ingin menghajar dua pengawal itu namun niatnya dia urungkan karena di sana ada banyak orang yang berlalu lalang. Dengan adanya dua pengawal bersenjata lengkap saja sudah menarik perhatian apalagi jika dia melakukan perkelahian di sana.

“Aku hanya akan masuk sebentar. Apakah di dalam ada pengawal?” tanya Siwan yang berusaha rileks.

“Anhi. Hanya kami yang menjaganya. Kau boleh masuk tetapi tidak lebih dari satu menit.”

“Gurae. Tolong buka pintunya.” Siwan menatap dua pengawal itu tajam.

Cekleeekk…

Pintu terbuka. Siwan masuk ke dalam kamar perawatan Jiyeon. dari depan pintu ia dapat melihat sosok yeoja yang lemah tak berdaya sedang terbaring dengan mata tertutup. Siwan segera mendekati Jiyeon.

“Yeppo. Aku tidak pernah menyangka kau akan secantik ini,” gumam Siwan.

Ia maju satu langkah hingga tepat berada di samping ranjang Jiyeon. tak berapa lama kemudian, Siwan membuka kancing baju Jiyeon bagian atas satu per satu. Haeri menyuruhnya untuk melihat tanda bekas tusukan di dada kiri Jiyeon, tepatnya di bawah tulang selangka.

Siwan mengerutkan kening. Benar. Ada tanda bekas tusukan. Itu artinya Gongju adalah Jiyeon, batinnya. Ia menutup kembali kancing baju Jiyeon. Ditatapnya wajah cantik yang pucat pasi itu lalu ia berbalik menuju pintu masuk.

Flashback end.

Setelah mendengar cerita dari Siwan, semua peserta musyawarah percaya kalau Gongju adalah Jiyeon. Mereka yang sekarang sedang mengadakan musyawarah ilegal itu adalah sekumpulan orang yang tidak senang dengan pemerintahan di bawah kekuasaan Perdana Menteri yang sekarang, PM Changmin. Mereka hendak mengadakan pemberontakan dalam gerakan bawah tanah, yakni gerakan sembunyi-sembunyi yang tidak dapat diketahui oleh siapapun termasuk sang Presiden maupun {erdana menteri sendiri. Dalam kumpulan itu juga terdapat beberapa jenderal berpangkat tinggi, menteri, dan gubernur. Pengikut Haeri merupakan orang-orang yang berbahaya.

“Kami percaya pada apa yang telah kau jeaskan. Keurom, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya sang gubernur.

“Pastikan kalau Park Jiyeon menerima hukuman mati. Provokasi rakyat agar meereka mendesak pemerintah dan aparat kepolisian untuk segera mengeksekusi Park Jiyeon. tidak usah ada pengadilan. Toh, dia sudah terbukti bersalah karena telah membunuh jenderal Hwang,” kata Haeri dengan tatapan dingin.

“Benar. Dia harus segera dihukum mati sebelum semua orang tahu kalau yeoja itu adalah putri Presiden Park yang seharusnya mendapat pengakuan dari rakyat sebagai putri kandung Presiden.”

Malam ini, Soo Jin tidak dapat memejamkan mata untuk sekedar beristirahat. Pikirannya terus tertuju pada Jiyeon yang kini mendekam di penjara. Yeoja itu tidaklah pantas berada di sana. Penjara bukanlah tempatnya. Karena merasa bosan di dalam kamarnya, Soo Jin keluar kamar. Ia mondar mandir di depan layar televisi. Kedua tangannya tidak berhenti beradu sangking cemasnya.

“Eomma, waegurae?”

Suara Soo Hee mengagetkannya. Sebelum menoleh ke arah Soo Hee, ia berusaha menghilangkan kecamasannya dan berpura-pura tidak kenapa-kenapa. “Eopsoseo…” Soo Jin berjalan mendekati Soo Hee yang berdiri di belakangnya dengan jarak kira-kira 5 meter. “Kau belum tidur?” tanya Soo Jin.

Soo Hee menggeleng. “Eomma, apa aku boleh jatuh cinta?”

“Tentu saja boleh. Setiap orang berhak mencintai dan dicintai. Kau juga termasuk. Kau berhak mencintai dan juga dicintai. Waeyo? Nuguya?”

Soo Hee tersipu malu. Rona wajahnya memerah. “Eomma, aku jatuh cinta pada Kim Myungsoo, putera dari Presiden Korea Utara. Apakah itu boleh?”

Soo Jin terdiam. Dia masih bingung apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan Soo Hee. Mengingat hubungan Korsel dan Korut memanas akhir-akhir ini, mana mungkin Soo Hee boleh menjalin kasih dengan putera presiden Korut? Soo Jin menarik nafas dalam-dalam. “Apa kau sangat mencintainya?”

Soo Hee mengangguk mantab. “Sebenarnya sudah lama aku mencintai Kim Myungsoo, eomma. Sejak kami masih kecil dan kita sering datang berkunjung ke Utara. Mulai saat itulah aku menyukainya. Sekarang aku lebih menyukainya. Bahkan aku ingin memilikinya. Eomma, hanya kau yang tahu perasaanku padanya. Bahkan aku belum bicara dengannya. Mungkin dia tahu kalau aku menyukainya, tetapi aku rasa dia berpura-pura tidak mengetahuinya.”

Soo Jin tersenyum mendengar pengakuan Soo Hee. “Eomma akan membantumu memiliki namja itu. Kau harus bersabar dan tetap berusaha, ne…”

Soo Hee tersenyum amat senang. “Jinjja? Nomu nomu nomu saranghaeyo eomma…” Soo Hee memeluk Soo Jin dengan perasaan berbunga-bunga. Dia yakin bahwa suatu saat dirinya dan Myungsoo akan bersatu.

Keesokan harinya, masih dengan kondisi yang sama, Jiyeon merenungi nasibnya. Kenapa Tuhan memberikan takdir yang sangat rumit padanya? Apakah takdir orang lain juga serumit takdirnya?

Jiyeon pov.

Sudah berapa hari aku di sini? sudah berapa hari aku mengirim surat kepada Jaejoong oppa? Apa surat itu benar-benar sampai ke tangan oppa?

Ya Tuhan, aku ikhlas menjalani takdirmu yang rumit ini. aku ikhlas menerima kemarahanmu jika kau marah padaku. Aku ikhlas menjalani hukuman ini. dari lahir, aku sudah ditakdirkan bernasib buruk dan pembawa sial. Tujuan hidupku hanyalah ingin mencari jati diri dan bertemu dengan keluargaku. Tapi… kenapa dengan cara seperti ini?

Aku sangat merindukan Myungsoo oppa, Jaejoong oppa, Jung Soo Min ahjumma, Shindong ahjussi, Kyung Ho saem. Aku ingin melihat mereka semua. Aku ingin memastikan bahwa mereka baik-baik saja. Aku akan menjalani sisa hidupku seperti ini, tapi tolong jangan kau buat orang-orang yang aku sayangi menderita. Belum cukupkah penderitaan kami selama bertahun-tahun? Meskipun aku harus mati di tanah kelahiranku sendiri, setidaknya biarkan aku bertemu dengan appa dan eommaku, Tuhan… setelah itu kau bisa mencabut nyawaku. Aku akan senang sekali mati di tempat ini, di mana aku dilahirkan. Dua kesempatan aku berada di tanah ini. Pertama, saat aku dilahirkan. Kedua, saat ajal menjemputku.

Airmataku tak akan pernah berhenti. Bukannya aku meratapi nasibku yang buruk ini. Aku hanya mencurahkan semua yang ada dalam pikiran dan hatiku sebelum aku melepas nyawaku. Aku sudah tidak dapat membedakan bagaimana rasa sedih dan bagaimana rasa bahagia. Meskipun perasaan bahagia dari setiap orang itu berbeda-beda, setidaknya aku pernah merasakan bahagia dalam hidupku. Permintaan terakhirku padaMu adalah… aku ingin bertemu kedua orangtuaku. Tolong kabulkan Tuhan…

Jiyeon pov end.

Jiyeon sudah tidak dapat lagi berkata-kata. Tangisnya terlalu dalam. Airmata yang tumpah dari kedua matanya terlalu banyak hingga membasahi baju yang ia kenakan dan menembus kain itu hingga membasahi bekas lukanya. Jiyeon memejamkan kedua matanya rapat-rapat dan meremas baju di dadanya, menahan sakit yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin hidupnya sudah tidak lama lagi.

“Aku pasti dihukum mati…” lirih Jiyeon dalam tangisnya.

Di berbagai media cetak dan elektronik, tuntutan rakyat agar Jiyeon dihukum mati menjadi headline masing-masing media. 90% surat kabar di Korea Selatan menampilkan gambar Jiyeon yang bertuliskan ‘Tersangka Pembunuhan Jenderal Hwang dan Pemicu Perang Semenanjung Korea.’

Myungsoo yang baru kembali dari AS, melihat berita Internasional tentang Korea Utara dan Korea Selatan. Ia membaca setiap kata yang ada dalam berita itu. Kedua manik matanya menangkap foto seseorang. Ia yakin kalau orang yang ada dalam berita itu adalah orang yang pernah dikenalnya. Meski mata orang itu ditutup, ia masih ingat bentuk wajah seperti itu. Tapi siapa?

Myungsoo pov

Aku berjalan pelan di dalam taman. Sudah berminggu-minggu aku tidak melihat Gongju. Aku sangat penasaran apa yang sedang terjadi pada yeojachinguku?

Aaah, molla. Beban pikiranku terlalu berat. Mana yang harus aku utamakan? Negara-negar di dunia yang tergabung dalam PBB kemarin menolak pengakuanku. Mereka pasti segera menyusun rencana untuk menyerang Korut. Aku tidak ingin negaraku hancur. Harus ada hal yang aku lakukan untuk mempertahankan negaraku. Ya, rencana B yang dikemukakan oleh appa harus aku lakukan.

Tetapi… bagaimana caranya? Apakah aku bisa melakukannya? Hatiku sangat menolak rencana itu. Aku berada diantara dua pilihan yang sulit aku tentukan. Aku tidak mungkin mengorbankan negaraku demi apapun. Tetapi aku juga tidak akan mengorbankan hati orang yang kucintai. Lalu mana yang harus aku pilih?

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Suara seorang namja berhasil mengagetkanku. Aku menoleh ke arahnya. Jaejoong hyung?

Ia merangkul bahuku. Raut wajahnya tidak seperti biasa. “Bagaiman? Apa hasilnya memuaskan?” tanyanya.

Aku tahu apa yang ia tanyakan. Ini pasti tentang nuklir itu. “Kalau bisa, aku akan memerintahkan orang-orangku menyiapkan nuklir ke Selatan.”

“Sabarlah. Semua ada waktunya. Jangan gegabah.” Jaejoong hyung berusaha menenangkanku.

“Hyung, sudah lama aku tidak melihat Gongju. Apa kau tahu diaman dia berada?”

“Igeo, dia sedang berada di Jepang. Kau tahu kan kalau pedangnya adalah warisan dari seorang pendekar samurai di Jepang… minggu ini dia ke sana untuk memperingati hari kematian pemilik pedang itu.”

“Lalu kenapa dia tidak menghubungiku?”

“Kau seperti tidak kenal Gongju saja. Dia pasti tidak ingin membujatmu khawatir. Kau kan banyak masalah, banyak pikiran. Dia tidak ingin menjadi beban pikiranmu. Maka dari itu, dia hanya berpesan padaku dan memintaku menjagamu selama dia pergi.”

Aku tersenyum tipis. Gongju memang terlalu perhatian padaku. “Gurae, aku tidak sabar bertemu dengannya. Jika dia memintamu untuk menjagaku, apa kau akan menjagaku?”

Pletaakk!!

Jaejoong hyung memukul kepalaku. “Yaak, apa-apaan ini? ini namanya kriminalitas. Kau memukul putera presidenmu.” Aku mengusap bagian kepalaku yang dipukul oleh Jaejoong hyung. Ia hanya tersenyum memandangku aneh.

Myungsoo pov end.

Jaejoong pov

Mianhae Myungsoo-a, jongmal mianhaeyo. Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Aku sendiri masih syok mendengar kabar dari Gongju. Jika kau mengetahuinya, aku pasti akan merasa sangat bersalah pada Gongju. Tolong doakan dia, doakan keselamatan dan kebahagiaannya karena tidak akan ada yang tahu apakah kita akan bertemu dengan Gongju lagi atau tidak.

“Hyung, kau kenapa? Apa kau sakit?” tanya Myungsoo yang melihat ekspresi wajahku yang mungkin berubah 180 derajat dari yang tadi.

“Gwanchanayo…”

“Ah, baguslah. Kau tidak boleh sakit. Kalau kau sakit, siapa yang akan menjagaku? Kan pengawalku sedang tidak ada…”

Namja ini selalu bisa menggelitik hatiku. Aku senang Myungsoo dan Gongju berkencan. Setidaknya, mereka bisa saling menjaga. Aku harus segera melaksanakan renca yang telah aku susun bersama Soo Min ahjumma dan Shindong ahjussi. Meski tanpa Kyung Ho saem, aku yakin rencanaku pasti akan berjalan sebagaimana mestinya. Ya, harus berhasil. Aku tidak ingin dongsaengku kenapa-kenapa. Mereka akan menerima balasannya kalau berani menyentuh dongsaengku. Aku tidak peduli kalau mereka orang Selatan. Bagiku, siapapun bisa menjadi musuh.

“Yaak, apa kau melamun lagi? apakah orang yang semakin tua akan lebih sering melamun?” tanya Myungsoo polos karena melihatku yang terlalu sering melamun hingga aku tidak sadar kalau di sampingku ada Myungsoo.

“Siapa yang bilang begitu? Mungkin jika kau semakin tua, kau akan kehilangan ingatanmu alias pikun. Tetapi hal itu tidak berlaku padaku. Cukup dengan terlalu sering malamun saja, aku tidak perlu menjadi pikun.”

Myungsoo tertawa terbahak-bahak. Sungguh, namja ini ingin aku smackdown saja. Bagaimana mungkin dia tertawa selebar itu saat yeojachingunya sedang ditahan di Selatan. Aiissh, Kim Myungsoo aneh.

Pagi-pagi sekali, Haeri meninggalkan rumah menuju ke suatu tempat ditemani oleh Im Siwan. Di dalam mobil mewah yang membawanya ke tempat tujuan, Haeri berbincang-bincang dengan Siwan mengenai masalah Jiyeon.

“Nyonya, daripada harus disingkirkan, lebih baik aku nikahi saja yeoja itu.”

“Andwaeyo.”

“Wae? Jika dia menjadi istriku, kita akan lebih mudah mengaturnya dan mempengaruhinya.”

“Jaga bicaramu, Im Siwan.”

Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Di penjara, dimana Jiyeon sedang bersiap untuk dibawa menghadap Soo Jin.

Haeri dan Siwan masuk ke dalam penjara dengan langkah tergesa-gesa. Mereka kaget melihat Jiyeon yang dibalut dengan pakaian serba putih.

“Apakah dia akan dieksekusi sekarang juga?” tanya Haeri.

“Dia akan menjalani pemeriksaan di rumah sakit, Nyonya,” kata seorang petugas yang terpaksa berbohong.

“Gurae, aku ingin bicara empat mata dengan yeoja ini.”

Semua orang yang ada di sekitar Haeri dan Jiyeon menyingkir menuruti perintah Haeri. Kini tinggal Haeri dan Jiyeon yang ada dalam ruangan itu.

“Entah apa aku senang atau tidak saat melihat wajahmu. Aku senang kau kembali.”

“Jinjjayo?” tanya Jiyeon singkat.

“Gurae, Park Jiyeon. Kau tidak kalah cantik dengan putriku Soo Hee. Tapi perlu kau ingat. Kau tidak akan pernah bisa seperti Soo Hee. Ibaratnya Soo Hee adalah langit, sedangkan kau bumi. Anhi, hmmm… bukan bumi, tapi kerak bumi.” Haeri menatap Jiyeon setajam silet. Jiyeon balas menatapnya tajam. “Bagaimana rasanya membunuh manusia, eoh?”

Jiyeon tersenyum tipis. “Seharusnya saya yang bertanya kepada Anda, Nyonya. Bagaimana rasanya menusuk bayi yang tidak berdosa?”

Deg!

Haeri tampak snagat terkejut mendengar pertanyaan balasan dari Jiyeon. “Oh rupanya kau juga licik, nona Park.”

“Anhi, aku hanya lebih cerdas dibandingkan dengan Anda, Nyonya. Jika tidak ada hal yang penting, aku mohon nyonya segera keluar atau aku yang keluar.”

“Kau mengancamku?”

“Terserah.” Jiyeon tidak ingin menatap Haeri. Ia mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk.

Haeri keluar ruangan dengan perasaan dongkol. Baru kali ini ada orang yang berani bicara tidak sopan padanya. Ia pun mengepalkan jari-jari tangannya.

Park Soo Jin telah menyiapkan berbagai macam makanan hasil masakannya sendiri. Setelah subuh tadi, ia telah memerintahkan seseorang untuk membawa Jiyeon ke hadapannya. Dia ingin sekali Jiyeon makan makanan hasil masakannya.

“Aku telah memasak banyak makanan. Semoga Jiyeon menyukainya. Meski belum pernah makan masakanku, aku yakin dia akan menyukainya.” Soo Jin menyiapkan dua kursi di belakang meja makan berbentuk persegi dengan sisi yang sama panjang. meja itu tidak terlalu besar. Ia juga menata dua kursi itu berhadapan. Satu untuk dirinya sendiri, yang satunya lagi untuk Jiyeon.

Makanan sudah terhidang semua di atas meja. Segala sesuatu sudah disiapkan oleh Soo Jin untuk putri kandungnya, Park Jiyeon.

Beberapa menit berlalu. Jiyeon belum juga muncul di kediaman presiden. Soo Jin cemas. Ia takut kalau Haeri akan mengetahui rencananya itu. Hari ini dia bebas melakukan apapun karena Haeri sedang tidak ada di rumah. Entah apa yang sedang dilakukan yeoja bersifat buruk itu. Soo Jin tidak ingin mengetahuinya.

Tap tap tap!

Soo Jin mendengar suara sepatu atau sandal milik seseorang yang datang mendekat. Dia nampak gugup.

“Eomma, ige mwoya? Eomma memasaknya untukku?” tanya Soo Hee yang berdiri mematung di dekat meja makan.

Soo Jin tercengang. Kenapa Soo Hee yang datang? “N, ne.”

“Waah, tumben sekali eomma memasak. Aku suka sekali dengan masakan eomma.” Soo Hee mengambil sepasang sumpit di sebelah kanan mangkuk kosongnya. Ia mengambil beberapa macam makanan dan menaruhnya di atas mangkuk yang dipegang oleh tangan kirinya.

“Hmmm, mashiketa…” Soo Hee tersenyum senang memakan hasil masakan Soo Jin.

Sedangkan Soo Jin, dia terlihat sangat cemas. Bagaimana kalau Jiyeon datang dan Soo Hee masih di sini?

“Eomma, aku ingin membicarakan tentang Gongju.”

“Gongju?”

“Ne, yeoja yang menyelamatkanku. Eomma ingat kan?”

Soo Jin mengangguk. “Waeyo?”

“Sekarang aku tahu semuanya tentang Gongju. Ternyata dulu dia dibuang oleh kedua orangtuanya lalu ada sepasang suami isteri yang menemukannya dan menjadikannya anak angkat mereka. Nah, ibu angkat Gongju adalah adik Jung Kyung Ho. Bukankah Jung Kyung Ho adalah mantan jenderal berpangkat tinggi di Selatan, eomma?”

Soo Jin tercengang mendengar penjelasan dari Soo Hee. Bagaimana Soo Hee tahu tentang Gongju? Dia juga kaget setelah mengetahui kalau ibu angkat Jiyeon adalah adik dari Jung Kyung Ho. Jadi, Jiyeon benar-benar putri kandungnya.

Tiba-tiba seorang pelayan masuk dan memberitahu pada Soo Jin kalau Jiyeon sudah tiba dan sedang bersiap masuk ke ruangan dimana Soo Jin menyiapkan makanan untuknya.

Soo Jin terlonjak kaget. Ini gawat. Bagaimana kalau Soo Hee bertemu dengan Jiyeon di tempat itu? Apa yang harus dia katakan pada Soo Hee kalau dia meminta Gongju dibawa ke tempat itu.

Gongju memasuki ruangan dengan langkah terseyok-seyok. Kali ini dia tidka mengenakan baju rumah sakit seperti saat pertama kali dimasukkan ke dalam sel tahanan. Jiyeon mengenakan pakaian serba putih. Kemeja dan celana putih polos. Kedua tangannya dihias dengan borgol.

Soo Jin dan Soo Hee terkejut melihat kedatangan Jiyeon. Sebenarnya Jiyeon juga kaget melihat Soo Hee ada di sana. Jiyeon yang sudah menduga kalau eommanya bernama Park Soo Jin adalah yeoja yang ada di depan Soo Hee, yeoja yang sama saat pertama kali dia menginjakkan kaki di penjara.

“Eomma, kenapa Gongju ada di sini? bukankah seharusnya dia ada di penjara?”

Soo Jin bingung mencari alasan. “Eoh, chagi, igeo… igeo… ah, eomma hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada Gongju karena dia telah menyelamatkanmu. Kan tidak mungkin kalau eomma mendatanginya di penjara.”

“Eoh, gurae…” Soo Hee manggut-manggut membenarkan tindakan Soo Jin.

“Chagiya, bisakah kau keluar dulu? Aku ingin bicara empat mata dengan Gongju.”

“Waeyo? Apa aku tidak boleh mendengar percakapan kalian?” tanya Soo Hee curiga.

“Anhi. Bukan begitu.”

“Apa eomma memasak makanan ini untuknya?”

“Chagiya…”

“Gurae, aku akan keluar.” Soo Hee melangkah keluar ruangan.

Setelah Soo Hee kelaur dari ruangan itu, Soo Jin meminta Jiyeon duduk di tempat duduk. “Mianhae, Soo Hee yang memakan makanan itu. Kau tidak usah khawatir. Makanannya masih banyak. Aku akan mengambilkan mangkuk yang baru.”

“Tidak usah, Anda tidak usah mengambil yang baru. Aku akan memakan sisa makanan Soo Hee.” Jiyeon menahan airmatanya agar tidak jatuh saat itu juga. Dia menyuapkan makanan sisa Soo Hee tadi ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya.

“Apakah rasanya enak?” tanya Soo Jin yang berusha senyum di depan Jiyeon.

Jiyeon menitikkan airmatanya. Dia mengangguk pelan. “Ne, rasanya sangat enak. Aku belumm pernah makan makanan seenak ini.”

Soo Jin yang melihat Jiyeon menangis pun ikut menumpahkan airmatanya. “Mianhae, jongmal mianhae Jiyeon-a…”

Jiyeon terdiam. Ia masih menahan tangisnya meskipun airmata sudah membasahi wajah cantiknya itu. “Anda tidak perlu minta maaf.”

“Aku sangat merindukanmu, Jiyeon-a. Hidupku selama dua puluh tahun tidak tenang dan selalu memikirkanmu. Aku juga tidak tahu apakah putri kandungku masih hidup. Aku sangat bersyukur kau masih bisa selamat dari tusukan Haeri saat itu.”

“Apa kau benar-benar eommaku? Apa aku tidak sedang bermimpi?” Jiyeon bertanya dengan terbata-bata.

Soo Jin menatap lekat putri kandungnya itu. “Anhiya. Kau adalah putriku. Kau lahir dari rahimku. Meski aku hanya bisa melahirkanmu, aku bersyukur kau masih bertahan.”

“Eomma, aku bertahan hidup hanya untuk bertemu denganmu dan juga appa. Tujuan hidupku hanya untuk mencari jati diriku sendiri. Aku ingin berkumpul dengan kalian seperti keluarga yang lain.” Jiyeon dan Soo Jin berpelukan. Jiyeon menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan eomma yang bertahun-tahun sangat ia rindukan.

Tbc

Akhirnya part ini selesai juga. Aku senang rasanya lega bangeeet… Di part ini banyak hal-hal yang bikin hati terasa pilu dan ada juga yang bikin naik darah. Pasti Haeri nih yang bikin naik darah.

Okee deh aku tunggu komennya. Comment juseyo.. aku sudah berusaha menyelesaikan part ini. jadi tolong hargai usahaku ne…

Jongmal gomawoyo

58 responses to “[Chapter – Part 11] Love is not A Crime

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s