[CHAPTER 1] A Thousand Years (Wei)

a thousand years astriadhima

a special fanfiction by

astriadhima

A Thousand Years

Romance, Angst // Chapter // PG

this fiction casted by :

Park Jiyeon as Wei Jiyi

Kim Myungsoo as El

Suzy as Suzy

Naeun as Naeun

Disc! Cats isn’t belong to me. I just borrow them for my story.

Prolog

Pertemuan pertama antara El dan Jiyi hingga keduanya mulai mengenal satu sama lain.

1st Chapter

“Jangan khawatir, kami punya banyak minyak rusa dirumah. Tanganmu akan halus setelah ini.” —El.

Sungai Hwang Ho, 1948

                Saat itu masih pagi ketika keluarga Ezra tiba di tepi sungai Kuning. Mentari masih malu-malu menuju peraduannya sementara embun masih menggelayut diantara dedaunan. Cukup pagi untuk si kecil El bangun. Ia meringkuk dibawah siku Madame Ezra, ibunya. Kereta keledainya berhenti tepat di tepi sungai kuning, didepan seorang wanita dengan baju katun lusuh. Di belakang wanita itu, seorang gadis kecil menengok malu-malu ketika Ezra beserta istrinya turun dari kereta. Wanita tadi membungkuk sambil menggosokkan kedua tangannya. Kedua mata serta mulutnya tak mampu berkata apa-apa. Ezra yang memulai pembicaraan mengoper kata ‘Halo’ pada wanita itu. Wanita itu tak menjawab, matanya mulai berkaca-kaca. Merasa bingung Madame Ezra menatap suaminya seraya menarik ujung bajunya. “Kami tidak tahu harus memulai dari mana, tetapi boleh kami melihat putrimu?” Ezra memulai. Pecahlah tangis wanita itu, tangannya menarik gadis kecil yang sedari tadi bersembunyi di balik tubuhnya. Dengan malu-malu dan takut, karena Ezra dan istrinya berwajah asing, gadis itu menatap Ezra dengan matanya yang besar. Gadis itu cepat-cepat menundukkan kepalanya, meremas kedua tangannya karena ketakutan. Setidaknya kebanyakan dari orang-orang China selalu merasa aneh dan takut saat berjumpa dengan orang asing. Meskipun mereka menerima dengan damai dan terbuka, tetapi rasa takut tetap ada saat mereka menemui seseorang yang berparas berbeda dengan kebanyakan. Gadis itu semakin heran memandangi wajah Ezra yang belum pernah ia jumpai. Alisnya yang tebal, mata bulat serta hidung tinggi sedikit membuatnya merasa di negeri asing. Sebelum pikiran gadis itu semakin jauh, Ezra memegang tangannya. “Kau cantik anakku. Kami akan merawatmu dengan baik.” Untuk sesaat saat Ezra mengatakan kata-kata itu pada si gadis kecil, mereka saing pandang. Kedalam pandangan yang tak saling dimengerti satu sama lain. “Ah, siapa namamu?” Ezra kemudian bertanya. Si gadis kecil yang merasa bingung menatap wanita yang ada dibelakangnya, wanita itu sudah berhenti terisak, gadis itu menggeleng. “Dia belum punya nama hingga seseorang membelinya.” Jawab wanita itu. “Surga menamaimu Wei Jiyi, nak.” Kemudian Ezra menjawab.

Mendengar nama dalam bahasa China sedikit aneh ditelinga gadis itu. Bukan karena nama yang diberikan, tetapi darimana asal kata-kata itu dibunyikan. Bagaimanapun juga cara bicara Ezra masih aneh, penuh dengan logat Negara asing. Saat mengatakan kata Wei, laki-laki itu menekan huruf W nya dengan mantap yang makin terdengar aneh ditelinga gadis itu. Ezra tersenyum lalu melepas genggamannya dari gadis itu. “Sebenarnya kami tak terlalu paham dengan penamaan bangsa China, yang jelas nama itu akan kami pakai jika kami mempunyai anak perempuan. Kami tahu jika ‘Wei’ berarti leluhur yang mulia. Kami selalu menghargai leluhur.” Tutur Ezra dengan arah matanya yang mengarah pada wanita dibelakang si gadis. Si gadis yang masih bingung untuk berkata hanya memandangi para orang tua yang berkomunikasi melalui pandangan mata. Pandangan Ezra serta wanita disampingnya yang lembut namun keras serta pandangan ibunya yang lugu dan pasrah. Itu semua menjadi membingungkan dimata Jiyi kecil. “Jiyi?” akhirnya gadis itu berbicara. Sontak ketiga orang tua menatapnya. Madame Ezra yang terlihat keras dan garang tersenyum, yang hampir tersamarkan dengan lemak dipipinya yang cukup tebal. “Iya, Jiyi. Kau ingin dipanggil Jiyi?” tanya Madame Ezra kemudian. Meski belum terbiasa Jiyi mengangguk menyetujui nama itu untuknya. Ezra beralih menuju peti dibalik kereta. Mengeluarkan puluhan karung beras dari dalamnya. Setelah menyusun karung-karung itu didepan si wanita, Ezra menghitungnya. “tepat 20, bibi.” Si wanita kembali menggosok tangannya dengan khawatir, tangisnya kemudian pecah lagi. Ia berlari dan berlutut kepada Ezra dan istrinya. “Terima kasih…. Terima kasih…. Kami tidak akan kelaparan.” Seru wanita itu. “Bangunlah bibi. Dalam agama kami tak ada orang yang bersujud kepada orang lain. Mereka sama-sama diciptakan Tuhan. Tidak ada yang lebih tinggi derajatnya daripada Tuhan.” Kata Ezra sambil membantu wanita itu berdiri. Kedua matanya mulai sembab yang ia gunakan untuk memandang Ezra dan istrinya bergantian. Ia tak kuasa berbicara hingga ia berkata lirih dengan terbata “Tolong jaga dia tuan. Sekarang ia milik anda. Jiyi anda.”

Tepat saat itu keledai meringkik karena seseorang turun dari kereta. El dengan sedikit linglung menatap ketiga orang dewasa dengan malas. Setelah melihat seorang gadis berdiri tepat dihadapan Ayahnya ia berlari kearah tubuh ibunya. Memeluknya dengan takut. “Ah, iya. Saya akan memperkenalkan kepada anda orang dibalik alasan kami membeli anak anda. Dia El anak kedua kami.” Kata Madame Ezra memperkenalkan. Meski ia menggunakan kata anda yang ditujukan kepada si wanita sebenarnya ia lebih memperkenalkannya kepada Jiyi yang akan menjdai pelayannya kelak. Wanita itu hanya memandangi El dengan kagum, betapa manis anak asing ini, begitu mirip dengan kedua orang tuanya pula. Jiyi yang menatap aneh kearah El kemudian tersipu. Ia membuang muka merasa wajah El sedikit aneh untuknya. Sama dengan kedua orang tuanya, El juga beralis tebal serta berhidung tinggi. “Dia cantik, Ayah.”

 

 

Jiyi duduk tepat disebelah El saat di kereta. Sesuai rencana awal, setelah menjemput Jiyi mereka akan kembali ke Beijing untuk mengambil beberapa permadani. Ezra adalah seorang pedagang yang sangat dikagumi di Kaifeng. Hampir semua saudagar dari daerahnya serta luar negri kenal baik dengannya. Ia menjual karpet-karpet yang kebanyakan ditenun di India. Serta barang-barang antik yang ia dapat dari koleganya Wang, seseorang dari bangsanya tetapi telah memakai nama China. Semua yang asing di Kaifeng mendapat nama Chinanya. Termasuk Ezra yang mendapat nama Chao untuk keluarganya. Tetapi nama itu hanya sebatas nama keluarga, ia tetap memakai nama Ezra bin Israel sebagai namanya. Agar ia tak lupa pada asal bangsanya, itu kata istrinya. Istrinya sendiri bernama Naomi, yang juga mendapat nama China, tetapi ia lebih suka dipanggil Madame Ezra agar ia dikenal sebagai istri Ezra. Istri pedagang yang kaya raya itu.

Ezra serta beberapa kelompok lainnya bukan berasal dari China. Mereka warga asing yang puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun menetap di China. Beberapa generasi mereka turunkan dan berkembang di China. Mereka beragama Yahudi, yang terkadang dianggap aneh oleh warga setempat. Meskipun begitu mereka tetap diterima baik oleh warga China selama mereka tak membuat ulah. Dan benar saja antara bangsa Ezra serta warga China dapat berpadu tanpa melihat perbedaan darah diantara mereka. Mereka nyaman untuk melakukan ajaran agamanya begitu pula warga China yang menerima segala adat yang mereka lakukan tanpa ada sedikitpun gangguan. Hampir tidak ada beda diantara mereka kecuali paras dan fisik saja.

El yang sengaja mencuri pandang kearah Jiyi kepergok beberapa kali. Saat mereka tak sengaja satu pandang, Jiyi mengalah dan membuang muka. Menatap kearah luar kereta yang mulai melewati tanah pertanian. Pohon jagung mulai menguning dalam petaknya. Beberapa hari lagi siap panen. Selain pikiran itu hanya wajah El yang terukir dalam benaknya. Tetapi ia sangat malu dan takut untuk memandang bocah yang ada disampingnya itu. “Sebentar lagi kita akan tiba di Beijing. Kita akan mampir ke rumah seorang tabib.” Kedua bocah itu mendengar Ezra berbicara tanpa meninggalkan kemudinya. “Tabib? Tidak ada yang sakit, Ayah.” Teriak El. Lelaki itu menghempaskan tubuhnya kearah kursi kayu dengan mantap, hingga menimbulkan bunyi gedebuk yang mungkin membuat punggungnya ngilu. Tetapi lelaki itu tak merespon apa-apa, mungkin menahan sakit saat Jiyi menatapnya. “Tabib tak selamanya mengobati orang sakit anakku. Ada kalanya tabib juga menjalankan tradisi.” Jelas Madame Ezra. El kembali tertidur hingga mereka tiba ke sebuah tempat yang Ezra janjikan.

Ruangan itu penuh dengan akar-akar wangi serta cairan-cairan berbau herbal. El yang sempat menyentuh dedaunan lembek diatas meja hampir muntah jijik saat membaui tangannya kemudian. Mereka berjalan menuju sebuah ruangan lapang yang ditengahnya seorang kakek yang ia rasa berasal dari bangsanya menumbuk beberapa daun. Jiyi serta El mengikuti kedua orang tua menuju kakek itu. Sebelum mereka menginjak karpet mereka melepas sepatunya. El sempat melihat sepatu kain Jiyi yang lusuh. Ia bersumpah dalam hatinya jika ia akan mengganti sepatu itu setelah mereka menginjakkan kaki dirumah. Ezra serta istrinya mengucapkan salam lalu tersenyum. Untuk beberapa menit mereka bercerita panjang lebar mengenai kaumnya. Merasakan keminoritasan ditengah masyarakat China. El bisa mendengar wajah ibunya mantap saat mengatakan mereka harus tetap menjalankan tradisi kaumnya. El sudah hafal dengan ekspresi seperti itu. Ia kenal baik ibunya yang selalu berpegang teguh pada agamanya. Sedikit terlilit pikir El. Tapi itulah ibunya.

Setelah Madame Ezra menceritakan soal Jiyi, kakek itu mengalihkan pandangannya pada Jiyi. El bisa melihat gadis itu sedikit berjingkat saat secara tiba-tiba kakek itu menatapnya tajam. El bisa mengerti perasaan itu. Perasaan dimana ia berbeda diantara semua orang. El kenyang dengan rasa seperti itu. Dulu waktu ia bersekolah di sekolah rakyat sebagaimana anak China seusianya. “Mendekatlah anakku.” Seru Ezra kemudian. Ia membantu Jiyi mendekat kearah kakek. “Tidak apa-apa.” Kata Ezra kemudian saat menyadari tubuh gadis kecil itu menegang. “Perlihatkan bahumu, Nak.” Pinta Kakek itu. Tentu saja Jiyi merasa kaget. Ia menatap kerah Ezra, Madame Ezra serta El bergantian. Apa ia harus menanggalkan bajunya?

“Hanya bahumu saja, Nak. Tabib akan memberimu tanda. Secuil tradisi keluarga kami” Ucap Madame Ezra meyakinkan Jiyi. Setalah mendengarnya Jiyi melonggarkan kerah bajunya, ditatapnya El terlebih dahulu. Sebelum sempat ia mengatakan tutup matamu, lelaki itu sudah membuang muka. “Akan sakit sebentar, tetapi akan mendingan saat aku menempelkan dedaunan ini di lukamu.” Kata kakek itu. Ia mengambil beberapa lempeng tipis logam dari sebuah kotak panjang. Jiyi merasakan tubuhnya bergetar. Ia tak tahu apa yang akan dilakukan tabib itu padanya. Saat ia memandang Ezra serta istrinya, kedua orang itu hanya menatapnya dengan simpatik. Tanpa berkata apa-apa. “Kami terbiasa untuk menandai budak kami dengan tinta yang menyatu dengan tubuhnya. Menandakan pada siapa ia bertuan. Tanda ini tak akan hilang bahkan jika kau telah tumbuh dewasa. Kaum kami sering mengambil budak untuk pelayan anak-anaknya. Tetapi percayalah nak, mereka akan baik padamu.” Jelas si kakek. Setelah ia berkata panjang lebar mengenai tradisi asing yang tak pernah didengar Jiyi, kakek itu menusukkan logam itu ke bahunya. Ia bisa merasakan logam yang panas itu merobek arinya. Ia mengerang kesakitan. Madame Ezra secara cekatan memegang tangannya. Tangan si kakek meliuk membentuk huruf-huruf China. Setelah ia selesai, ia menempelkan dedauan yang terasa dingin di kulit Jiyi. Tetapi berapa lapispun dedaunan yang ia tempel di lukanya, itu tetaplah luka yang sangat menyakitkan. Ia ingin menjerit namun hanya keluar air mata dari pelupuknya, tanpa ada raut menyesal telah dibeli oleh keluarga Ezra.

Dalam perjalanan menuju toko, El terus bertanya mengenai tato yang diukir di bahu Jiyi. Karena El tidak bisa melihat proses pentatoan Jiyi, ia bertanya pada ibunya mengenai tulisan apa serta maksud dari tradisi itu. Merasa belum puas ia bertanya pada Jiyi yang ada disampinya, bagaimana rasanya? Apa sakit? Orang itu menulis apa? Kenapa kau menurut saja? Ketimbang menjawab semua pertanyaan El, Jiyi lebih memilih diam. Merasakan kulitnya yang mulai terbiasa dengan luka itu.

Toko dengan beranda penuh dengan karpet-karpet membuat mata Jiyi hijau seketika. Ia tengah menatap karpet beludru hijau dengan sulaman benang emas ditepinya. Ia ingin menyentuh karpet itu tetapi urung karena salah satu pelayan toko mengawasinya dengan tidak nyaman. El yang mulai bosan berjalan mondar-mandir diantara tumpukan karpet-karpet, menunggu orang tuanya bernegosiasi. Berulang kali ia melewati Jiyi yang terpaku melihat puluhan karpet yang berjajar rapi. Berulang kali pula gadis itu mengacuhkannya. El seorang anak laki-laki yang tak bisa diam, setelah akhirnya Jiyi bertemu pandang dengannya, ia menunjukkan jarinya yang kecil menyimbolkan bahwa ia ingin Jiyi mengikutinya. Jiyi tahu pada siapa ia akan bertuan, lalu ia mengikuti El yang berlari diantara tumpukan karpet. Mereka tertawa bersama, kejar-kejaran diantara karpet-karpet mahal yang ditenun di India. El terengah saat mengejar Jiyi, ia berhenti didepan sebuah karpet merah lalu bersandar disampinya. Jiyi yang langsung berhenti kemudian mendekati El dan duduk disampingnya. “Kau tahu, Ayah dan ibuku selalu maniak uang. Mereka bekerja siang malam untuk uang. Aku tak tahu seberapa banyak uang yang Ayah timbun dalam gudangnya. Yang jelas cukup untuk menghidupiku bahkan cucu-cucuku nanti.” Kata El dengan tertawa. Jiyi bisa melihat gigi geraham lelaki itu yang tanggal satu. Menimbulkan kesan lucu diantara wajahnya yang aneh dan tampan. El seperti balita menepuk-nepuk karpet dengan bangga. “Kau tahu harga karpet ini?” tanya El kemudian. Jiyi menggeleng dengan mantap. “Aku sendiri tidak tahu. Tapi Ayahku bilang harga sebuah karpet bisa kita gunakan untuk keliling dunia bolak-balik.” Jelasnya. Jiyi sontak tersenyum. Ia melipat tangannya, merasakan tangannya yang kasar dan kotor. Melihat hal itu, El meraih tangannya. Membersihkan dengan kedua tangannya sendiri. “Jangan khawatir, kami punya banyak minyak rusa dirumah. Tanganmu akan halus setelah ini.”

 

 

Negosiasi mengenai karpet telah usai. Setelah makan disebuah restoran China mereka pulang dengan perut kekenyangan. Jiyi yang belum tahu kemana mereka akan pulang bertanya kepada tuannya untuk pertama kali. “Wahai Nyonya, kemana kita hendak pulang? Apakah jauh dari Sungai Kuning?”. Ezra beserta istrinya saling pandang. Mereka mengerti bagaimana perasaan Jiyi. Saat harus pergi jauh untuk pertama kali. “Kita akan sangat jauh dengan Sungai Kuning Anakku. Di Kaifeng, Propinsi Honan.” Jawab Madame Ezra. Setelah beberapa waktu berlalu dengan kesunyian, Jiyi bisa merasakan pundaknya menghangat. El yang sudah tertidur semenjak naik ke kereta, tak sengaja merebahkan kepalanya di bahu Jiyi. Agak aneh menerima perlakuan seperti ini, namun Jiyi sadar ia seorang budak belian, pada El lah ia harus bertuan. Apa saja yang diminta tuannya pasti ia lakukan. Dengan sedikit ragu gadi itu mengangkat tangannya. Menepuk bahu El agar lelaki itu tetap terlelap dalam mimpinya.

 

 

Esoknya mereka tiba dirumah. Disebuah bangunan China yang terasa sedikit aneh untuk Jiyi. Secara umum rumah itu sama dengan rumah China lainnya tetapi saat ia masuk ada perabotan yang berbeda yang tak akan ia temui di rumah China lainnya. Ada banyak batu-batu serta lukisan tergantung didinding. Dengan lukisan kata-kata yang menjadi pusat di ruang tamu itu. Tulisan-tulisan aneh yang sangat tak ia mengerti. Saat keluarga itu masuk ia disambut dengan dua orang yang hampir seumuran dengan Ezra. Sepertinya mereka berpasangan. Setelah tuannya tiba, si laki-laki mengambil alih barang bawaannya sedangkan si wanita heboh untuk memijat kaki majikannya bergantian. Si wanita China itu kemudian menatap Jiyi dengan ramah. “Tuan, diakah pelayan untuk Tuan Muda?” tanya wanita itu pada Ezra sambil memijat kakinya. Ezra mengangguk. Ia memijit kepalanya yang mulai terasa agak pusing.”Ajari ia merawat anakku, Chu Ma.” Kata Ezra.

Sambil terus memijat, wanita bernama Chu Ma itu tetap menatap Jiyi. Sebetulnya tatapannya ramah, ia berwajah China yang lembut. Tetapi ia tak kunjung berkata yang semakin membuat Jiyi bingung. El yang secara tiba-tiba muncul lalu bersandar di kursi di sebelah Ayahnya. Berpura-pura pusing dan memijat pelipisnya. “Dewa! Apa tulang-tulangmu lelah, Nak? Aku akan memijatmu setelah ini.” Teriak Chu Ma heboh. Kemudian ia tersadar akan Jiyi, ia menyuruh gadis itu untuk memijat kaki El. Tanpa membantah Jiyi langsung duduk dan membuka sepatu El. Lalu memijat kaki tuannya itu dengan kedua tangannya yang kasar.

 

Malamnya setelah semua orang makan, Jiyi menghampiri Chu Ma yang sedang mencuci piring. Ia mengambil sebuah mangkok dan menggosoknya dengan sabut. “Bibi, aku merasa senang disini. Mereka ramah dan baik padaku. Tetapi kenapa mereka selalu berkata yang aneh-aneh?” Jiyi bertanya pada Chu Ma tanpa menatapnya. Sekilas Chu Ma mengusap keringatnya. “Merasa nyaman itu yang terpenting anakku. Semua orang disini baik. Mereka hanya berkata apa yang ada di bangsa dan agamanya. Sebuah kepercayaan yang tak ada pada bangsa kita.” Jelas Chu Ma. Wanita itu mengambil mangkok-mangkok yang telah ia cuci lalu menyimpannya ke dalam kotak-kotak. “Aku mendengar mereka bergumam beberapa kali mengenai Pasah. Apa itu Pasah, bibi?” tanya Jiyi, ia mengelap tanganya dengan sebuah kain. Merasakan kedua telapaknya yang masih terasa kasar dan kering. Chu Ma melihatnya, ia memegang kedua tangan gadis itu. “Pasah adalah hari besar mereka. Hari raya sebagai peringatan akan terbebasnya kaum mereka dari bangsa Mesir. Setiap tahun mereka memperingatinya. Setelah ini aku akan mengoles tanganmu dengan minyak rusa.” Jelas Chu Ma.

Jiyi terbangun dengan tulang-tulangnya sedikit ngilu. Lebih dari setengah hari ia harus menopang El yang tidur dalam bahunya. Tetapi tak mengapa, Jiyi mulai terbiasa dengan ini. Ia menepuk bahunya, menyadari jika tangannya mulai sedikit lembut. Kemarin sebelum ia tidur Chu Ma mengolesi dengan minyak yang sedikit tajam baunya. Ia pernah dengan El menyebut nama minyak itu, yang jelas ia senang telapak tangannya kini mulai indah untuk dipandang. Seseorang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk, setelah mengetahui jika itu Chu Ma, Jiyi merasa tak khawatir. Wanita paruh baya itu mengantar senampan sarapan yang mengepul. “Bibi, apa budak diperlakukan seperti ini di rumah asing?” tanya Jiyi akhirnya. Chu Ma yang sedikit terkejut akan pertanyaan Jiyi menaruh nampannya dan duduk di samping Jiyi. “Setidaknya kau perlu terbiasa dengan rumah ini. Sebentar lagi aku harus mengajarimu memberi sarapan El. Anak itu sangat manja.” Chu Ma menjelaskan. Ditengah kata-katanya yang tegas, kedua irisnya mengambang ke seluruh ruangan. Ia mengamati ruangan yang dulu miliknya. “Keluarga ini terbiasa untuk membeli budak untuk melayani anak-anaknya. Dulu aku juga tinggal disini bahkan tidur di kamar ini. Aku melayani Ezra hingga ia tumbuh dewasa.” Jelas Chu Ma dengan mantap. Dari sudut Jiyi ia bisa melihat sudut mata Chu Ma berkaca-kaca, teringat masa lalunya yang indah. “Mereka baik pada semua orang. Meskipun mereka berwajah asing dan terlihat garang.”

Jiyi teringat akan tato di bahunya yang mulai tak terasa lagi. Ia menggosoknya dan terkejut karena luka dari sayatan itu tak menimbulkan goresan pada bahunya. “Bibi, apa mereka juga memberikanmu besi panas dan tinta di bahumu?” tanya Jiyi agak takut. Chu Ma menelan ludah. Ia mulai menjawab dengan tenang. “Ya. Aku mendapat nama Ezra di bahuku saat berumur tujuh tahun, saat aku secantik dirimu. Awalnya aku merasa sakit, tapi tak apalah itu tradisi mereka. Meski mereka tak pernah membuat tulisan-tulisan di tubuh, setidaknya mereka punya kebiasaan untuk menandai para pelayannya. Selain itu mereka tak pernah menyakiti para budak.” Mendengar penjelasan Chu Ma yang sangat santai membuat Jiyi semakin lega. Ia masih tak cukup yakin apakah orang asing itu benar-benar bersikap baik pada semua orang, terlebih pada seorang budak. “Apa mereka tak punya tradisi untuk mencelakai kaum kita. Maksudku, senetralnya mereka dengan kaum kita, mereka tetap kaum asing yang bahkan tabiatnya bisa lebih keras dengan kita.” Jiyi melipat tangannya. Ia berniat untuk mengambil mangkok dan mencicipi bubur yang dihantarkan Chu Ma, tetapi gadis itu lebih memilih diam dan menunggu Chu Ma pergi. “Tidak pernah ada pendeskriminasian agama. Mereka tenang menjalankan agama mereka tanpa perlu mengusik kaum kita. Kau tak perlu khawatir tentang itu.” Jelas Chu Ma lagi. Ia tertawa saat mendengar gemericik yang bersumber dari perut Jiyi. Ia sadar jika gadis itu sungkan terhadapnya untuk makan, meski ia rasa itu tak perlu. Tanpa berkata apa-apa Chu Ma keluar dari kamar Jiyi.

Setelah berganti baju dan menyikat rambutnya, Jiyi menuju dapur untuk mendapat pelajaran pertama dari Chu Ma. Wanita itu berjanji akan mengajarkan padanya bagaimana untuk menyiapkan sarapan El. Mula-mula Chu Ma mengajarkan bagaimana ia menyendok bubur dari tungku tanpa menumpahkannya. Lalu mengisi teko-teko dengan teh panas. Tak lupa ia mengisi mangkuk-mangkuk dengan manisan. Jiyi bergegas menuju kamar El dengan sarapan. Saat sampai didepan pintu kamar Jiyi sedikit gugup. Belum pernah sekalipun ia masuk kedalam kamar seorang lelaki, bahkan belum tahu apakah lelaki itu sudah bangun dari tidurnya. Jiyi berusaha keras mengesampingkan perasaannya itu, ia hanya perlu mengantar sarapan, sesuai yang diajarkan Chu Ma. Setelah membuka pintu dan meletakkan nampan, mula-mula Jiyi menyibak kelambu agar sinar matahari pagi bisa masuk lewat celah jendela. Dari ranjang timbul suara gemerisik yang rasanya suara tubuh El yang terbangun. Ia masih terbungkus selimut. Ujung baju tidurnya tersingkap diantara selimut yang membuat Jiyi sedikit tertawa.

Jiyi tak tahu harus berbuat apa. Ia berjalan mondar-mandir didepan ranjang El tanpa membangunkannya. Ia terlalu khawatir kalau lelaki itu marah saat Jiyi membangunkannya. Apalagi Chu Ma bilang ia lelaki yang manja. Mungkin ia bisa marah dan mengadu pada ibunya. Jiyi tak mau diusir secepat itu. Ranjang berderit lagi dan El terbangun dengan cepat. Jiyi tersentak saat melihat wajah El yang bingung. Ia memandang Jiyi untuk sementara. Gadis itu menundukkan wajah, berusaha keras untuk menahan ketakutannya yang berjolak. “Kapan-kapan bangunkan aku saja. Aku menunggumu menepuk bahuku, tetapi kau tak melakukannyaa. Bagaimana aku bisa bangun.” Erang El. Jiyi mengawasi kedua tangan pemuda itu meraih nampan. Awalnya ia menyendok lalu memakan bubur. Membesut sudut bibirnya yang ternodai bubur. Untuk sementara Jiyi menikmati saat-saat ini. Begitu tampan lelaki itu bahkan saat ia belum mencuci badannya dan berganti pakaian. “Besok ada perayaan Pasah. Mungkin kau belum pernah membayangkannya. Setidaknya besok akan ada pesta besar dan kami akan melakukan beberapa kegiatan yang hanya kami lakukan di hari itu. Kami akan memakan daun-daun pahit yang tak kami makan di hari-hari biasa. Sebenarnya, selain bertemu dengan saudaraku yang lain aku merasa hari itu sama dengan hari-hari biasanya.” Jelas El. Ia mengambil sebuah manisan dan mengunyahnya, ia menatap Jiyi dengan mata bulatnya. Menunggu gadis itu merespon. “Aku mendengar upacara itu dari Chu Ma.” Balas Jiyi kemudian. “Selamat makan.” Jiyi keluar dari kamar El dengan kikuk.

 

 

 

 

Tok! Tok! Tok! Author datang…😀

Setelah berkutat dengan kata-kata serta judul-judul yang gak jelas, akhirnya ff chap 1 kepublish juga. Jujur baru kali ini aku blank saat bikin judul ff. Biasanya aku tuh paling gampang nentuin judul. Ya gak bagus-bagus amat tapi cepet gitu kalo disuruh mikir judul. Tapi kali ini?? Sebener-benernya aku belom ada judul dan belom sreg sama judul ini. Sekali lagi karena aku blank mau kasih judul apa. Awalnya pengen aku kasih judul Wei aja, tapi rada aneh gitu soalnya disini nama yang banyak digunakan itu Jiyi bukan Wei. Alasan aku milih judul A Thaousand Years, udah mainstream ya, karena pada dasarnya keseteiaannya Jiyi itu bakalan kuat banget bahkan sampai seribu tahun. Tapi aku masih ada feel sama judul ini. beneran deh. Mungkin aja nanti kalo aku nemuin jdul yang pas bakalan aku rubah judulnya.

 

Sesuai dengan keinginan readers supaya make nama asli mereka maka aku realisasikan. Aku mikir juga sih, kalo make nama orang lain itu bakalan susah dapat feelnya ke si artis. Berasa baca OC dan novel biasa. Well, aku setuju banget. Pada dasarnya ini emang fanfiction, jadi kalo aku make nama orang lain serasa aku minjem ketenaran mereka aja dibalik kedok fanfiction. Heft~ Aku masih make nama Jiyi ketimbang Jiyeon, dan El ketimbang Myungsoo. Alasannya karena nama mereka Korea banget. Agak aneh aja kalo baca nama korea sedangkan udah jelas ceritanya bersetting China. Kalo untuk Naeun sama Suzy aku biarin, toh masih cocok juga. Selain itu mereka juga cuma pelengkap haha~ #sarkastis.

Selain itu aku juga mau mewanti-wanti soal konten kepercayaan yang ada didalamnya. Saya mengarang beberapa tradisi. Namun hari Raya Pasah memang ada dan itu tertulis di novel asli. Saya juga tidak tahu menahu tentang agama Yahudi, jadi tolong dengan sangat untuk tidak mem-bash saya karena ini. Saya juga tidak ada niat untuk memojokkan serta mengganggu pihak tertentu. Tolong mengerti.🙂

Akhirnya, semoga readers cukup terpancing sama Chap 1 ini dan menunggu chapter-chapter selanjutnya. Kalo banyak yang dukung, aku kan semangat juga buat nulis. Nyawa aku ada ditangan kalian guys. Cieelah. Aku berusaha membangun suasana sejadul mungkin, meski aku sendiri juga belom terlalu puas sama Chap ini. Semoga aja sih readers suka dan di chap selanjutnya bakalan lebih greget dan ngefeel. Impian aku untuk membuat readers menangis dan selalu teringat dengan ff ini akan aku usahakan untuk terwujud.

Untuk kalian semua yang menunggu,

aku mempersembahkan ini spesial untuk kalian :D~~

82 responses to “[CHAPTER 1] A Thousand Years (Wei)

  1. Pingback: [CHAPTER 5] A Thousand Years | High School Fanfiction·

  2. jadi pengen tau sikap myungsoo besar nanti, apa masih manja dan bawel? hahaha
    agak khawatir juga nanti jiyeon mau ngejodohin myungsoo sama suzy yang sesuai dibilang prolog.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s