[Chapter] Secret – Park Jiyeon

nyimasRDA - secret 2

teaser

nyimasRDA present

Secret – Jiyeon Side

Cast:

Park Jiyeon “T-ARA”

Lee Jonghyun “CNBLUE”

Kim Myungsoo “Infinite”

Lee Chaerin “2NE1”

Genre: Romance, friendship

Rating: G

Length: Chapter

Harusnya rahasia ini terus tersimpan, harusnya aku tidak pernah mengatakan apapun padanya. – Park Jiyeon

-oOo-

 

Apa kalian mempunyai rahasia? Rahasia yang sungguh memalukan, rahasia yang ingin sekali kalian tutupi bahkan sampai dewa kematian menghampiri kalian? Aku punya. Aku punya sebuah rahasia yang sungguh ingin aku kubur hidup-hidup dan tak ingin aku ceritakan pada siapapun, termasuk Mommy.

Sebelumnya, biar aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Jiyeon, Park Jiyeon, salah satu siswi berprestasi di SMU terkemuka di Seoul, anak tunggal dari seorang wanita terhebat bernama Park Bom, anak tiri dari Ahjussi paling tampan Lee Dong Wook dan sahabat kecil dari pria bermata sendu Kim Myungsoo. Ah ya, aku lupa, aku juga adik tiri yang paling dibenci oleh Lee Jonghyun.

Aku punya banyak sekali rahasia. Rahasia yang mungkin hanya aku, Tuhan dan Myungsoo saja yang tahu. Aku pernah mengerjai mantan kekasih Mommy karena aku melihatnya berkencan dengan wanita lain. Aku pernah mencuri kunci mobil Mommy dan mengendarainya diam-diam sampai aku menabrak sebuah toko. Aku pernah mengunci Myungsoo di dalam toilet sekolah karena ia terus saja mengomeliku lantaran aku yang bersikap asal-asalan dan masih banyak lagi. Aku juga memiliki rahasia bersar. Rahasia terbesarku adalah aku jatuh cinta, jatuh cinta pada seseorang yang tak seharusnya aku cintai. Dan karena itu pula, disinilah aku, duduk disebuah kedai kopi bersama remaja lain, memandangi pria yang aku kagumi, bahkan aku cintai sedang asyik bercerita dengan seorang gadis.

“Jangan terus menatapnya, Jiyeon-ah.”ujar Myungsoo pelan namun bisa tertangkap oleh telingaku

Dengan terpaksa aku mengalihkan perhatianku dari sosok pria yang duduk tak jauh dari kursiku juga Myungsoo, menatap sengit sepasang mata berwarna coklat milik laki-laki yang selalu menemaniku sejak sekolah dasar dulu.

“Kau akan semakin menyukainya jika kau terus menatapnya begitu.”

Lanjut laki-laki itu lagi setelah menyesap coklat hangat yang kini hanya tinggal setengah dari cangkir milikku. Aku menghela nafas pelan. Yah, aku tahu, aku sungguh tahu apa yang dikatakan sahabatku itu benar. Aku akan semakin mencintainya jika terus memandangnya seperti ini.

“Hei, rasanya aku baru melihat wanita itu. Apa dia berganti pasangan lagi?”

Aku mendelik sekali lagi, memberikan tatapan paling menyeramkan yang aku bisa saat mendengar perkataan Myungsoo. Ah, benar juga. Aku pun baru melihat gadis itu hari ini.

“Jiyeon-ah, kenapa tidak menjawab, eoh? Apa kau tidak mendengarkan perkataanku? Atau kau terlalu memperhatikan saudara tirimu itu sampai-sampai tidak menyadari siapa yang duduk disampingnya?”

Dan yah, inilah rahasia terbesarku, rahasia yang hanya diketahui oleh Myungsoo seorang, rahasia yang sungguh ingin aku kubur bersama dengan tubuhku sendiri, rahasia yang bisa saja merenggut senyum bahagia dari wajah Mommy. Aku menyukai, ah tidak, mungkin aku mencintai Lee Jonghyun, saudara tiriku, anak kandung dari Paman Dong Wook, pria yang selalu memakiku tiap kali bertemu.

Biar ku ceritakan, awal permulaan kenapa aku bisa sampai mencintainya. Aku ingat dengan jelas bagaimana pertama kali aku bertemu dengannya. Tiga tahun lalu – usiaku baru menginjak lima belas tahun saat itu –, saat aku dan Mommy berencana untuk bertemu dengan keluarga Paman Dong Wook untuk saling mengenal lebih jauh. Malam itu aku mengenakan dress selutut dengan warna coklat pastel motif bunga-bunga lengkap dengan bandana kuping kelinci bertengger manis di kepalaku – jangan tanya kenapa aku memakai bandana konyol itu. Aku berlari-lari kecil di taman sebuah restoran tempat Mommy dan Paman Dong Wook berjanji untuk bertemu, namun, saat aku sedang asyik berlari, aku tidak sengaja menabrak seorang laki-laki – yang saat itu aku fikir berusia dua tahun dariku.

“Hei, kau tidak apa-apa?”tanya pria yang aku tabrak tadi.

“Apa kau fikir aku akan baik-baik saja setelah menabrak…”

Tatapan kami bertemu dan suaraku hilang, aku tidak tahu kemana perginya suara itu, tapi yang jelas aku tak berani lagi bicara banyak setelah melihat wajah malaikat es yang berdiri dihadapanku. Kulitnya putih, sangat putih. Hidungnya mancung ditambah bola matanya yang berwarna coklat gelap, memberi kesan misterius pada dirinya.

“Maaf aku menabrakmu. Seharusnya aku tidak berlarian tadi.”ujarku kemudian, menunduk dalam karena rasa malu untuk menatap wajahnya.

“Ya tidak masalah, aku yang seharusnya meminta maaf lantaran menutupi jalanmu.”senyum laki-laki itu tidak pernah lepas dari wajahnya.

“Jiyeon, sedang apa kau disini? Mommy mencarimu sejak tadi.”tanya Mommy dari balik tubuh pria dihadapanku.

“Jonghyun, bukankah Ayah suruh kau menunggu di dalam?”seru suara lain dari belakang tubuhku.

Aku menatap dua orang dewasa yang berdiri dihadapan kami, keduanya tersenyum canggung, malu-malu ditambah tatapan penuh cinta yang terpancar jelas dari dua pasang bola mata itu dan menit berikutnya aku sudah duduk manis bersama Mommy, Paman Dong Wook juga pria yang menjadi cinta pertamaku, Lee Jonghyun.

Ceritaku klise, bukan? Aku jatuh cinta pada saudara tiriku yang seharusnya aku hormati dan aku segani. Harusnya aku menyayanginya sebagai kakak, tanpa adanya perasaan lebih pada sosok dingin Lee Jonghyun. Semula aku sangat senang lantaran memiliki seorang saudara, mengingat aku adalah anak satu-satunya di keluarga. Namun dua tahun belakangan ini semuanya berubah, saat Jonghyun Oppa mengenalkan aku pada Kim Hyuna, kekasihnya.

Aku terbakar cemburu tiap kali Jonghyun Oppa datang ke rumah bersama si mata besar itu dan itu membuat diriku selalu melakukan hal-hal bodoh untuk mengerjai kekasih dari saudaraku. Aku pernah menaruh tanah yang sudah ku larutkan dengan air di sepatu milik Hyuna. Awalnya Jonghyun Oppa tidak tahu dengan apa yang aku lakukan, sampai suatu malam ia memergokiku memasukkan obat pencuci perut pada Bora – kekasih Oppa yang lain.

“Apa yang kau lakukan?”tanya Jonghyun Oppa dingin, matanya yang teduh menatap tajam kearah tangan kananku yang bersiap memasukan bubuk pencuci perut.

“O-oppa…”

“Aku tanya, apa yang kau lakukan Park Jiyeon?!”pekik Jonghyun Oppa kuat, ia bahkan membuat urat-urat disekitar lehernya terlihat.

“A-aku..”

“Kau berniat mengerjai kekasihku?!”

Teriak Jonghyun Oppa lagi, membuat tubuhku bergetar.

Air mata mulai menggenangi pelupuk mataku, sementara Jonghyun Oppa terus menatapku dengan semburat emosi yang sangat kentara dari sorot matanya. Aku terdiam, menunduk, menahan tangis yang sudah hampir meledak. Ini kali pertama ada seseorang yang meneriakiku, dan orang itu adalah Lee Jonghyun, laki-laki yang menjadi cinta pertamaku.

“Maaf..”ujarku lirih lalu berlari meninggalkan Jonghyun Oppa, sebelum aku melangkahkan kakiku, aku sempat melihat wajah Bora, wajah yang berhias senyum mengejek yang tentu saja membuatku jengah.

Aku berlari menyusuri jalan, melewati gang-gang yang menjadi penghubung rumah satu dengan rumah lainnya sampai akhirnya aku berhenti di depan sebuah rumah dengan cat coklat tua berbahan kayu pada pintunya. Toktok, aku mengetuk pintu itu dengan keras, tak memikirkan sedikitpun rasa kesal yang bisa saja dirasakan oleh pemilik rumah tersebut.

“Tidak perlu mengge….”suara Myungsoo terhenti, laki-laki itu justru menatapku dengan tatapan bingung lantaran penampilanku yang sungguh tak karuan.

Bagaimana tidak, aku hanya keluar dengan pakaian rumah yang terlihat tipis. Bahkan aku juga masih mengenakan sendal rumah bermotif babi yang dibelikan Jonghyun Oppa saat hari ulang tahunku tahun lalu.

“Ya Tuhan Park Jiyeon! Apa yang kau lakukan? Kenapa keluar rumah dengan pakaian tipis begini?”

Suara Myungsoo terdengar sangat khawatir, laki-laki ini kemudian memeluk pundakku dan membimbing langkah kakiku untuk memasuki rumah sederhana milik keluarganya. Kim Myungsoo, pria tampan dengan mata teduh itu lebih senang memanggilku dengan marga Park, dibanding marga ayah tiriku.

“Kau tunggu disini, aku akan siapkan teh hangat juga beberapa mantel tebal untuk menghangatkanmu.”

Tanganku terulur menahan Myungsoo menjauh. Saat itu aku tidak ingin teh hangat atau mantel tebal. Yang aku inginkan hanyalah pelukkan, pelukkan menenangkan dari sahabatku, Kim Myungsoo.

-oOo-

“Jiyeon, kau dengar aku?”

Myungsoo mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku, berusaha mengembalikan kesadaranku yang terbang jauh.

“Tentu aku mendengarmu, bodoh.”jawabku sekenanya meski tak sepenuhnya benar. Memangnya siapa yang mau mendengar celotehan bodoh dari namja berisik seperti Myungsoo? Cih, aku sendiri bahkan bingung dengan diriku sendiri yang masih tahan berteman dengannya.

“Jadi, sampai kapan kita akan menunggu disini? Memata-matai saudara tirimu itu?”tanya Myungsoo lagi.

“Diamlah.”jawabku yang mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaannya.

“Hei! Aku sudah bosan duduk disini hanya dengan dua gelas coklat hangat. Bahkan saudara tirimu itu sudah pergi dengan kekasihnya.”

Aku menajamkan penglihatanku, benar saja, Oppa sudah pergi bersama kekasih barunya itu dan aku kehilangan jejaknya. Oh, ini adalah hari buruk untukku dan kupastikan ini semua karena aku mengajak Myungsoo! Seharusnya aku tidak pernah mengizinkan laki-laki cerewet itu untuk mengikuti langkahku. Aku memang bodoh.

“Hey, Park Jiyeon! Kau mau kemana?!”

Pekik Myungsoo yang kini sudah ku tinggal jauh dibelakang.

-oOo-

Aku melangkahkan kakiku memasuki kediaman keluarga paman Dong Wook, kediaman yang sudah aku tinggali beberapa tahun ini kemudian menghempaskan tubuhku di atas kursi yang ditempatkan di ruang keluarga.

“Hhhh.”aku membuang nafasku malas kemudian memejam mataku.

“Kau masuklah dulu, aku beli minuman sebentar.”

Sesaat aku mendengar suara Jonghyun Oppa dari arah pintu utama. Aku berlari-lari kecil demi mencapai depan pintu kemudian membukanya, memamerkan senyum paling menawan yang aku punya. Senyum yang hanya aku berikan pada Jonghyun Oppa. Namun senyumanku memudar saat kedua bola mataku menatap lurus sosok yang berdiri dihadapanku.

Matanya yang seperti tatapan elang dibingkai eyeliner membuat matanya semakin tegas. Bibirnya yang disapu oleh lipstick berwarna pink muda serta surai keemasan bertahta sempurna di atas kepalanya. Dan, ia memiliki tahi lalat yang menghias bawah bibirnya. Cantik. Hanya itu kata yang ada dikepalaku saat ini dan catat, gadis ini sungguh berbeda dengan gadis yang aku lihat di kedai tadi – gadis tadi mengenakan rok pendek juga baju tanpa lengan yang hampir mengekspose seluruh tubuhnya, sungguh berbeda dengan gadis dihadapanku ini. Ia sungguh berkelas, sungguh cantik dan terkesan elegan meski agak sedikit serampangan. Bukan, aku bukan asal menilai penampilannya, hanya saja, wanita mana yang mengenakan celana panjang kebesaran juga kaus oblong jika sedang berkencan? Meski begitu, aku akui ia sangat cantik.

“Hai, aku fikir di rumah ini tidak ada orang, makanya aku tidak mengetuk pintu. Maaf.”ujarnya canggung, aku melirik sekilas kearah tangan kanannya yang teulur untuk meraih gagang pintu yang sudah kutarik masuk ke dalam lebih dulu.

Otakku kembali bekerja secara normal setelah memandangnya dengan cukup lama. Aku tersenyum kikuk kemudian melangkah mundur, mempersilahkan si mata elang untuk masuk lebih dalam rumahku, rumah paman Dong Wook.

“Silahkan masuk.”ujarku pelan masih terus menatapnya.

Gadis itu kembali tersenyum, membungkukkan tubuhnya sedikit kemudian melangkahkan kaki jenjangnya masuk. Aku terus memperhatikannya, memandang dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya. Tubuhnya yang sempurna dibalut oleh pakaian casual – seperi yang aku katakan tadi – yang berwarna hitam dan putih serta sepatu kets dengan warna senada. Dia ini malaikat atau bagaimana? Hanya dengan mengenakan pakaian seadanya begini, tapi kenapa aku tidak menemukan cela pada dirinya?

“Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”tanyaku pelan.

Bodoh! Aku merutuki diriku sendiri lantaran sebuah kalimat bodoh itu meluncur dengan manis dari bibirku. Tapi, aku sungguh pernah merasa melihatnya. Dan detik berikutnya aku ingat, ia adalah gadis paling terkenal di sekolahku.

“Aku rasa ya, karena aku juga tidak asing dengan wajahmu.”jawab gadis yang kuingat bernama Chaerin itu. “Aku Lee Chaerin.”

Benarkan? Aku sungguh tahu siapa namanya dan bagaimana dirinya. Chaerin adalah gadis paling populer di sekolahku. Di usianya yang muda, ia sudah menciptakan beberapa lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi terkenal – sekolahku merupakan sekolah seni terkenal di Seoul. Chaerin adalah siswi pindahan dari Jepang, Putri dari seorang Profesor kenamaan di negeri sakura itu.

“Park Jiyeon.”aku mengulurkan tanganku dan menyambut jemari panjang milik Chaerin. Dapat ku lihat kening Chaerin berkerut, mungkin ia bingung kenapa seorang gadis bermarga Park ada di kediaman keluarga Lee.

“Maaf, apa kau… kekasih Jonghyun-ssi?”tanya gadis dihadapanku ini ragu namun tanpa basa-basi.

“Bukan.. bukan. Aku adiknya.”kulihat wajah Chaerin semakin bingung. “Adik tirinya.”kataku kemudian.

-oOo-

Aku membolak-balikan majalah yang sedari tadi aku pegang tanpa berniat membacanya. Sesekali mataku mencuri pandang kearah sepasang pria dan wanita yang kini tengah sibuk dengan sebuah gitar, buku, juga laptop yang mereka biarkan terbuka. Mataku menatap lurus senyuman yang Oppa berikan untuk Chaerin dan itu membuat jantungku kembali berdetak cepat. Nafasku seolah tercekat ketika melihat tangan Oppa ku mengelus puncak kepala Chaerin sayang. Tak terasa air mata kini sudah mengalir deras dikedua pipiku. Aku segera menutup majalah yang sejak tadi ku genggam kemudian melangkahkan kaki ke kamar, menangis sejadi-jadinya.

“Kau dimana, bodoh?”tanya ku saat telah mendengar suara seseorang dari ujung telephone.

“Aku di rumah, wae?”

“Temui aku di taman sekarang.”setelah mengatakan itu aku langsung menutup telephone genggamku, melemparnya dengan sembarang dan kusambar jaket tebal untuk melindungi tubuhku, bagaimanapun aku tidak mau menjadi bodoh untuk kedua kalinya.

Sesaat aku sebelum meninggalkan kediaman keluarga Lee aku sempat melihat Jonghyun Oppa tengah tertawa bersama Chaerin, tawa yang begitu segar, tawa yang tak pernah ia tunjukkan padaku.

Aku melangkahkan kakiku lebar-lebar, ingin segera sampai pada sebuah taman yang kutuju. Saat beberapa langkah lagi aku akan sampai, iris mataku menatap si bodoh Myungsoo tengah menungguku dibawah rumah jamur, tempatku dan dirinya biasa bermain.

“Hei, kenapa memanggilku saat udara dingin begi..”ocehan Myungsoo terhenti saat aku sudah berdiri dihadapannya. “Park Jiyeon, ada apa denganmu?”tanya Myungsoo kemudian.

“Oppa, dia membawa kekasih barunya ke rumah.”

“Bukankah itu sesuatu yang biasa? Aku fikir kau sudah terlatih untuk melihat semua itu.”

“Kali ini berbeda..”

“Wae? Apa yang berbeda? Apa Jonghyun Hyung membawa seorang Ahjumma?”

“Bodoh!”aku menjitak kepala sahabatku ini kemudian menyandarkan kepalaku pada pundaknya.

“Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang Hyung bawa?”

“Chaerin, yeoja baru disekolah kita.”

“Mwo?!”teriak Myungsoo terkejut, ia langsung saja berdiri tanpa memikirkan kepalaku yang sedang bersandar tadi. “Ayo kita kembali ke rumahmu!”

“Untuk apa?”

“Tentu untuk melihat Chaerin! Aku sungguh ingin bertemu dengannya.”

Aku mendesis sebal melihat bagaimana reaksi sahabatku ini. Apa Myungsoo juga menyukai Chaerin? Kenapa semua pria seolah menyukai dirinya.

“Pergi saja sendiri!”bentakku lalu berjalan meninggalkan Myungsoo.

“Hei hei hei, kau mau kemana, eoh?”

“Pulang. Bukankah kau bilang ingin bertemu Chaerin.”

“Aku hanya bercanda. Aku tahu kau terluka saat ini, bagaimanapun kau tidak mungkin bisa bersaing dengan yeoja sempurna seperti Chaerin.”

Mendengar sahabatku memuji wanita lain dan seolah merendahkanku lantas membuatku memberikan tatapan paling mematikan yang aku punya, namun sialnya, Myungsoo hanya membalas tatapan mataku dengan cengiran tak berdosa miliknya.

“Kau ini! Sebenarnya yang sahabatmu itu aku atau wanita itu sih?”

“Tentu kau, tapi aku tidak boleh berbohong, kan?”

“Sudahlah, aku malas bicara denganmu.”

“Hahaha kau marah? Baiklah, sebagai permintaan maaf, aku akan membelikanmu eskrim, bagaimana?”

“Tidak, aku tidak ingin makan eskrim.”

Hah! Myungsoo fikir ia bisa merayuku hanya dengan eskrim? Bodoh.

“Sungguh? Bagaimana jika aku belikan sekotak eskrim?”

Aku mendelik kesal kearah Myungsoo.

“Penawaran terakhir, aku akan membelikanmu dua kotak eskrim, jika tidak..”

“Baiklah ayo!”

Sayang, Myungsoo selalu berhasil membujukku hanya dengan eskrim. Kau memang bodoh, Park Jiyeon!

-oOo-

Sudah satu bulan sejak kedatangan Chaerin pertama kali dan selama satu bulan itu pula Chaerin selalu datang ke rumah. Awalnya aku fikir itu hal yang biasa, mungkin ia belum memiliki banyak teman lantaran ia baru saja pindah. Akupun cukup senang karena Chaerin adalah gadis yang baik, ia sangat ramah juga lucu. Ia sering mengajariku memasak dan masakan Chaerin sungguh lezat. Akupun merasakan sesuatu yang aneh pada diriku. Biasanya jika ada kekasih Oppa yang datang, aku pasti akan memutar otakku, mencari cara untuk mengerjai mereka. Namun kini berbeda, aku seolah dapat menerima kehadiran Chaerin. Mungkin ini karena Chaerin bukan kekasih Oppa? Atau mungkin kedekatan mereka hanya karena Oppa meminta Chaerin membuatkan lagu untuknya? Tapi semua pemikiranku itu kandas.

Sore itu hujan turun dengan lebat dan sejak satu jam lalu Chaerin sudah berdiam diri di rumah keluarga Lee. Aku terus tersenyum mendengar celoteh gadis yang sungguh gila akan kebersihan ini sambil sesekali menyantap kue kering yang Chaerin bawa sebagai hadiah yang ia bawa dari Jepang. Yah, seminggu ini Chaerin memang tidak datang mengunjungi Oppa dan saat ku tanya, Oppa hanya mengatakan kalau gadis itu sedang berada di Jepang selama tiga hari untuk keperluan keluarganya.

“Apa Jonghyun-ssi masih lama?”tanya Chaerin sekali lagi.

“Aku rasa sebentar lagi pulang, wae? Kau merindukan Oppa?”

Aku dapat melihat semburat kemerahan di kedua pipi Chaerin dan itu sungguh membuatku sakit. Aku kembali merutuki diriku yang dengan bodohnya mengatakan hal yang tak perlu aku katakan. Bagaiamana jika Chaerin menjawab ia sangat merindukan Oppa? Bodoh!

“Anni, aku hanya ingin segera menyerahkan lagu miliknya.”

Aku menganggukkan kepalaku, berusaha mengusir rasa canggung yang tiba-tiba datang.

“Oppa, kau sudah datang? Chaerin sejak tadi menunggunggumu.”ujarku ketika melihat sosok Jonghyun Oppa dengan tubuh basah kuyup diterpa hujan.

“Astaga! Kenapa kau basah begitu? Kau harus cepat ganti pakaianmu, kau bisa sakit.”

Aku menatap bingung reaksi Chaerin saat melihat tubuh Oppa yang basah kuyup. Harusnya aku yang berkata begitu! Harusnya aku yang lebih memperhatikan Oppa, bukan gadis yang baru Oppa temui satu bulan lalu.

“Jiyeon menghubungiku, ia bilang kau ada disini, jadi aku segera pulang. Aku tidak mau kau menunggu.”jawab Oppa tanpa mengindahkan perkataanku sebelumnya.

“Kau tidak perlu begitu. Bukankah aku bilang kalau aku akan menunggu? Jika kau sakit bagaimana?”

“Aku terlalu merindukanmu sampai tidak memikirkan kesehatanku CL-ah..”

Aku merasakan tubuhku kaku, mendengar Oppa merindukan Chaerin membuat hatiku sungguh sakit. Tak ku sadari tanganku mengepal melihat Oppa menatap Chaerin dengan sayang sementara Chaerin sendiri menunduk malu. Oh Tuhan, kenapa tidak Kau ambil saja nyawaku. Kenapa kau justru membiarkan aku menyaksikan pemandangan yang menyakitkan ini. Sebenarnya apa dosaku sampai Kau tega seperti ini. Dan apa itu? CL? Oppa memanggil Chaerin dengan sebutan CL? Chaerin Love?

“Biar aku buatkan teh mint untukmu. Kau segeralah mengganti pakaian.”

Chaerin langsung melangkah pergi, menuju dapur dan meninggalkan aku dan Jonghyun Oppa yang kini menatapku dingin.

“Aku akan menyiapkan Oppa air hangat, sebaiknya Oppa membilas tubuh Oppa.”ujarku kemudian meninggalkan Oppa.

“CL-ah, kau tunggu aku di studio ya, aku akan segera menemuimu.”ujar Oppa sebelum ia membersihkan diri.

-oOo-

Sekali lagi aku berbuat bodoh dengan menggenggam sebuah majalah yang baru Mommy beli beberapa hari lalu, berusaha mencuri lihat kearah studio Oppa yang tak tertutup rapat.

“Kenapa tidak memberi kabar kalau sudah kembali? Aku bisa menjemputmu.”ujar Oppa saat ia sudah berdiri dihadapan Chaerin.

Chaerin hanya tersenyum, senyum yang sungguh manis dan membuatku sangat iri.

“Aku tidak ingin merepotkanmu, Jonghyun-ssi.”

“Aku tidak mungkin kerepotan jika hanya menjemputmu.”

“Barang bawaanku banyak.”

“Aku bahkan bisa mengangkatmu bersama dengan koper-koper besarmu itu.”

Aku melihat Chaerin tertawa mendengar candaan Oppa, oh, sungguh pemandangan yang indah! Keduanya seolah sedang mabuk asmara dan dilanda rindu berat, bahkan mereka seperti pasangan yang sempurna. Aku memberanikan diri untuk melangkah mendekat, berpura-pura sedang menuju dapur untuk dapat menangkap percakapan mereka dengan lebih jelas.

“Aku merindukanmu.”suara berat Oppa terdengar jelas dari jarak beberapa meter ini dan sekali lagi kulihat Chaerin menunjukkan wajah malu-malunya.

“Jangan berbohong. Aku tahu kau merindukan lagumu, kan?”

“Haha, kau tahu saja. Bagaimana? Sudah selesai?”tanya Jonghyun Oppa lagi.

“Hmm, igeo, lagu ini khusus aku ciptakan untukmu.”

“Akan ku dengarkan nanti.”ujar Oppa setelah menerima sekeping CD yang Chaerin ambil dari dalam tasnya. “Jadi, bagaimana urusanmu? Sudah bertemu dengannya?”

Chaerin mengerutkan keningnya.

“Kekasihmu, siapa namanya? Jingyo?”tanya Oppa yang seolah mengerti tatapan bingung Chaerin.

“Jiyong dan dia bukan kekasihku, setidaknya bukan kekasihku lagi.”

“Ah, jadi bagaimana? Apa semua sudah selesai?”

“Ya, setidaknya aku sudah meninggalkan jejak tanganku disebelah pipinya dan melempar minuman di wajah selingkuhannya.”

Aku melihat wajah Chaerin yang biasa dihiasi senyuman kini menampilkan sisi lemahnya. Bahkan ada sebulir air mata yang mengaliri pipinya. Jonghyun Oppa melangkah maju, kemudian meraih wajah Chaerin, mengusap airmatanya dan mengecup kening Chaerin.

“Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Tidak akan ada lagi Kwon Jiyong yang selalu memukulimu dan menduakan cintamu dengan sahabatmu sendiri.”

Ah, kini aku tahu kenapa Chaerin dan apa permasalahannya.

“Eoh, aku tau. Gomawo Jonghyun-ssi.”

“Aku tidak bercanda dengan ucapanku sebelumnya, CL-ah.”ujar Oppa dengan tangan masih menangkup sempurna pada wajah Chaerin. “Aku bisa menggantikan dirinya jika kau berkenan. Setidaknya izinkan aku untuk mengobati lukamu.”

Apa ini?! Apa Oppa sudah mengungkapkan perasaan pada Chaerin sebelumnya? Apa ini ungkapan perasaan yang lain?

“Aku tidak akan membiarkanmu menangis. Aku akan selalu menjagamu, CL-ah.”ujar Oppa kembali mengusap air mata Chaerin.

Aku menahan isak tangisku agar tak terdengar saat kedua mataku melihat Oppa semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Chaerin dan detik berikutnya kedua bibir mereka bertemu. Oppa menutup kedua matanya, melumat pelan bibir mungil Chaerin sementara gadis itu terus mengeluarkan air mata sampai akhirnya aku dapat melihat Chaerin membalas kecupan Jonghyun Oppa dan itu pemandangan terakhir yang aku lihat karena kini aku telah berdiri ditengah hujan, menutupi air mataku dengan air hujan yang langit tumpahkan pada diriku.

-oOo-

Aku duduk sendiri, menatap langit mendung tak berhias bintang barang satupun. Dinginnya udara malam menusuk-nusuk pelan kulitku sementara pakaian yang ku pakai masih lembab terkena air hujan. Aku melirik sekilas kearah arloji yang melingkar manis di tangan kiriku kemudian memejamkan mata. Sudah pukul sebelas malam dan aku masih bertahan dalam kesendirian. Aku sungguh enggan untuk kembali melangkah ke rumah. Aku sungguh tak sanggup jika harus melihat wajah Oppa atau bahkan wajah Chaerin yang kemungkinan masih berada disana.

Sayup-sayup aku mendengar suara langkah seseorang. Bulu kudukku seketika berdiri. Tidak, aku tidak takut jika itu orang jahat, aku hanya takut jika itu adalah sesosok makhluk lain karena dari yang ku dengar, taman ini dipenuhi makhluk-makhluk tak kasat mata yang biasa bermain jika malam sudah tiba. Aku mengeratkan kedua tanganku, melingkarkannya sampai memeluk lenganku sendiri kemudian berusaha melangkah menjauh.

Langkah itu terdengar cepat, seolah ia sedang tergesa-gesa dan menit berikutnya aku merasakan ada sebuah tangan yang menarikku, memaksaku untuk memutar. Aku terperangah melihat siapa yang menarikku. Matanya yang sendu serta bibirnya yang sedikit biru ditambah kulit putih pucatnya membuatku terkesiap. Aku menelan ludahku, mungkinkah ini hanya khayalan? Hanya sebuah fatamorgana lantaran aku terlalu kecewa dan terlalu memikirkannya?

“Lee Jiyeon! Kemana saja kau?!”bentak laki-laki dihadapanku, nafasnya tersengal-sengal sementara aku hanya menatapnya takjub.

“Mommy dan Ayah menunggumu. Kau ingin aku dimarahi?”kesalnya lagi.

Perlahan air mataku mengalir, membasahi pipiku yang sudah membeku. Aku tak menyangka ia mencariku, aku tak menyangka ia rela berlarian tanpa mengenakan pakaian hangat hanya untuk menemukanku.

“Oppa…”lirihku pelan.

“Ada apa? Kenapa kau menangis, eoh?”

“Anniya, gwaenchanha. Aku baik-baik saja.”

“Ceritakan padaku, apa yang membuatmu menangis, eoh? Apa Myungsoo membuatmu bersedih?”

Aku mengerutkan keningku, bagaimana bisa ia menyebut nama Myungsoo pada saat seperti ini? Dan kenapa Oppa berfikir aku bersedih karena si bodoh itu?

“Aku tidak suka jika terlalu dekat dengannya Jiyeon-a.”

Aku semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan Oppa, kenapa ia tidak suka melihatku berdekatan dengan Myungsoo?

“Tapi, kenapa?”

“Aku hanya tidak suka melihat kau berdekatan dengan pria lain.”

“Apa Oppa sadar dengan apa yang Oppa katakan? Kenapa Oppa mengatakan hal itu? Myungsoo sahabatku, tentu aku tidak mungkin tidak dekat dengannya.”

“Begitukah? Apa hanya teman? Apa mungkin teman dapat membuatmu bersedih begini?”

Apa maksud Oppa? Bersedih? Kenapa aku harus bersedih karenanya?

“Jangan lagi dekat-dekat dengannya.”pinta Oppa akhirnya.

“Wae? Kenapa Oppa memintaku untuk menjauhinya? Dan kenapa Oppa berfikir kalau aku menangis karena Myungsoo?”

“Aku hanya tidak suka.”

“Lalu bagaimana jika kau bilang kalau aku juga tidak suka Oppa berdekatan dengan Chaerin. Demi Tuhan, kau tidak tahu apapun mengenai diriku dan Myungsoo. Dan asal Oppa tahu, bukan Myungsoo yang selalu menangis, tau kau..”

Ku lihat wajah Jonghyun Oppa menegang, mungkin ia terlalu terkejut dengan apa yang aku katakan, tapi sungguh, aku sudah tidak sanggup jika terus seperti ini. Rasanya terlalu egois jika aku terus merahasiakan perasaanku, aku merasa diriku sangat jahat karena bertahan dengan kebohongan dan membiarkan hatiku menderita.

“Jiyeon-a..”

“Aku mencintaimu, Oppa. Mencintaimu bukan sebagai adik yang manis, tetapi sebagai wanita yang menatap pria. Apa kau tidak tahu? Apa kau tidak pernah merasakan perasaanku? Aku sakit setiap kali melihatmu membawa wanita-wanita yang berdeba ke rumah. Aku bahkan ingin mati saat melihatmu mengecup Chaerin dengan sayang. Sekarang terserah, aku sudah tak ingin peduli padaku, aku sudah lelah dengan perasaan yang sungguh menyiksa ini. Aku menyerah Oppa, aku sungguh menyerah, semoga kau bahagia bersama Chaerin.”

Setelah mengatakan itu aku pergi, pergi meninggalkan kenangan pahit menahan perasaan dan meninggalkan pria yang kucintai dengan seluruh jiwa. Selamat tinggal Lee Jonghyun..

END

haloooo semuanya! maaf aku telat banget ngepost part ini. kemarin-kemarin aku ada sedikit urusan dan mulai masuk kuliah, jadi tugas aku mulai menumpuk, belum lagi urusan pribadiku yang gak bisa aku tinggalin, jadi aku minta maaf ya! semoga kalian bisa menerima part ini. harap komennya ya, kalau komen tembus 100 aku akan update secepat mungkin! hehe, terimakasih semuanya! dan selamat hari blogger nasional! maaf telaaat

47 responses to “[Chapter] Secret – Park Jiyeon

  1. Aigoo jiyeon eoniie kasian bggt sih,, gpp eoniie lupakan saja jonghyun oppa,, kan msh ada myungsoo oppa,,,
    Nextt,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s