[Oneshot] Lucky Draw

lucky draw pict

 

slee12 story

Kim Myungsoo – Park Jiyeon

One lucky draw made her day! 

 

“Perhatian!” laki-laki dengan perangai layaknya anggota senat ternama negeri itu berdiri di depan podium kelas sambil menepuk-nepuk tangannya menarik seisi kelas yang tengah berkutat dengan diri mereka masing-masing atau berceloteh tentang apa yang mereka kerjakan selama satu bulan tanpa ada kelas dan tugas yang bertumpuk.

“Sesuai permintaan beberapa orang, partner lab untuk semester ini akan diundi,” tuturan formalnya tak hilang meski terdengar seruan tak menyenangkan dari sebagian isi kelas. “Ini sesuai voting, yang lebih banyak yang menang.”

“Ssst… kalau kau cukup beruntung mungkin kau dan dia akan menjadi partner,” Rae Na yang duduk disamping Jiyeon berbisik pelan di dekat gadis yang tengah sibuk menggeluti bacaannya sedari tadi, sama sekali tak menggubris apa yang tengah berlangsung di sekitar.

“Huh? Apa?”

Rae Na mendengus, melarikan pandangannya ke deretan meja di samping mereka. Jiyeon menoleh, degup jantungnya serta merta melompat. Sorot mata laki-laki itu menangkap sudut matanya yang tengah mencuri lihat, Jiyeon mengerjap canggung lantas mengalih kembali pada Rae Na. Teman di sampingnya tersebut hanya menunjukkan cengiran lebar, kini ganti Myungsoo yang menatap Jiyeon –dimana gadis itu berpura-pura bertingkah biasa- menyembunyikan semburat pada kedua pipinya yang terlihat jelas dari jarak sedekat Rae Na.

“Berhentilah tersenyum,” ucap Jiyeon ditengah gertakan rahangnya. Rae Na mengacuhkan tuturan Jiyeon, gadis itu memajukkan tubuhnya lantas tersenyum makin lebar sambil lalu melambai pelan.

“Hai Myung, bagaiaman liburanmu?”

Jiyeon mengangkat buku yang sedang ia tekuri, berusaha menutupi wajahnya yang semakin merah dan deru napasnya yang tak beraturan normal.

Myungsoo menoleh, membalas singkat senyum Rae Na, “Biasa saja. Kau?”

“Aku pergi ke Jeonju, mengunjungi pamanku,” balas Rae Na. Di bawah meja kaki Jiyeon sibuk menginjak kaki Rae Na, memberi isyarat agar gadis itu berhenti bertingkah seakan akrab dengan Myungsoo.

“Han Rae Na, kau dan Lee Sungyeol,” suara lantang dari depan podium kelas membuat perhatian Rae Na segera bertukar. Ia sama sekali tak tahu menahu apa yang beberapa menit lalu bergulir lalu tiba-tiba ia harus berakhir dengan manusia bermental siswa taman kanak-kanak itu. Rae Na mendengus pelan. Jiyeon tahu temannya itu sedang mengumpat dalam diam karena ia harus menghabiskan satu semester menjadi partner Sungyeol setiap praktikum.

Jiyeon menurunkan buku dihadapnnya, hati-hati sudut matanya melirik ke arah samping. Tatapan Myungsoo telah berpindah kembali ke depan kelas. Ia meletakkan kembali buku ke atas meja, pelan-pelan menenangkan laju jantungnya yang bertalu lebih cepat barusan.

“Park Jiyeon, giliranmu,” panggil Sunggyu –laki-laki itu masih berlagak seperti pemimpin rapat di depan kelas.

Jiyeon berdiri, pelan-pelan beranjak ke podium di depan kelas. Sebuah setoples yang dipenui kertas-kertas panjang yang dilipat asal menjadi tuju perhatiannya. Sunggyu berdiri di samping setoples itu menunjukknya memberi isyarat agar Jiyeon mengambil satu dari kertas-keratas di dalam setoples.

Kata-kata Rae Na barusana semacam membuatnya berharap. Namun rasanya tidak mungkin. Ada 44 anak di kelas selain dirinya itu berarti kesempatan dirinya dan Kim Myungsoo menjadi lab partner untuk semester ini adalah 1:44, sangat tidak mungkin rasanya.

Jiyeon menarik satu kertas dari bagian tengah setoples lalu mengulurkan kertas tersebut pada Sunggyu. Laki-laki itu mengambi kertas dari tangan Jiyeon dan segera membuka lipatan kertas.

“Park Jiyeon dan Kim Myungsoo,” ujar Sunggyu mengumumkan.

Jiyeon mengerjap diam di tempatnya. Ia merasa baru saja di guyur air sejuk. Ia mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan Sunggyu. Ia dan Myungsoo? Jiyeon berbalik mencari-cari sosok Rae Na. Senyum lebar gadis itu dan acungan jempolnya membuat Jiyeon yakin, barusan telinganya baik-baik saja dan apa yang baru saja ia dengar tidak salah.

Jiyeon berjalan menjauh dari podium kelas. Mencoba menahan diri untuk tidak melirik ke sisi lain kelas dimana Myungsoo duduk. Hatinya mencelos, bagaimana mungkin ia bisa berakhir menjadi partner praktikum Myungsoo? Aneh, ia merasa kerongkongannya kering seketika, ruangan kelas pun rasanya semakin hangat, atau ini hanya perasaannya saja.

Rae Na menyambut Jiyeon kembali duduk dengan wajah sumringah seperti baru saja memenangkan lotre. Berbanding terbalik dengan wajah Jiyeon yang tiba-tiba menjadi tanpa warna dan kehilangan orientasi diri.

“Selamat, kau beruntung,” Rae Na menyikut pelan sisi lengan Jiyeon. Gadis itu tidak bergeming. Masih berusaha mengatur diri dari kilasan kejadian yang terlalu cepat berlalu. “Ji? Kau baik-baik saja?” Rae Na melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jiyeon. Temannya itu tidak mengerjap, masih menatap nanar ke depan.

“Baiklah, semua orang sudah mendapat partner praktikum. Tidak ada protes dan permohonan untuk bertukar partner. Salah seorang perwakulan silahkan mengambil modul praktikum untuk semester ini,” Sunggyu membagikan modul yang ia bawa. Rae Na berbicara non verbal dengan Sungyeol, menatap garang laki-laki itu, memerintahkan untuk mengambil modul praktikum untuk mereka berdua.

“Hai partner,” Jiyeon menoleh, tahu suara milik siapa yang menyapa dan menyodorkan kertas modul padanya.

“Hai,” Jiyeon menoleh, berusaha terdengar biasa. Namun ia mendapati cicitan pelan yang keluar begitu menangkap wajah Myungsoo yang tersenyum padanya.

Apa yang harus ia lakukan? Apa bisa ia melewati satu semester ini dengan normal tanpa tiba-tiba kehilangan orientasi begitu lengkungan manis itu tergores apik pada paras Myungsoo? Oh tidak, bisa-bisa nilai praktikumnya untuk semester ini kacau balau. Ia tidak mungkin bisa melakukan praktikum dengan tenang sementara berada dengan jarak terlalu dekat dengan Myungsoo atau dengan pandangan laki-laki itu tertuju pada dirinya –atau lebih tepatnya apa yang tengah ia lakukan.

Ia menerima modul yang Myungsoo sodorkan, “Terimakasih,” ucapnya lirik. Dentuman keras jantung memenuhi gendang telinganya, volume udara yang ditangkapnya menurun drastis. Sorot mata Myungsoo yang menatap lurus padanya membuat sekujur tubuh Jiyeon seperti jeli.

Ia tahu jelas tanpa menoleh, Rae Na di sampingnya tengah menahan cengiran puasnya.

“Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik,” Myungsoo mengulurkan tangannya. Jiyeon menatap tangan itu sesaat, lantas menahan diri untuk tidak menggubris deru aneh yang menyergap begitu ia menyentuh kulit Myungsoo. Aneh, asing, tapi tidak buruk.

Bagaimana ini? Apa ia bisa mendengar lompatan jantungku? Apa ia melihat semburat merah di pipiku? Oh tidak, jangan sampai ia merasakan tanganku yang kehilangan rasa karena menyambut uluran tangannya, batin Jiyeon dalam diam.

“Ya, tentu saja,” jawab Jiyeon setelah ia kembali menarik paksa kesadarannya yang sesaat lalu mengawang entah kemana lalu segera menarik tangannya dari genggaman Myungsoo, memutus sengatan kecil yang terasa mengalir di sekujur tubuhnya.

Mungkin Jiyeon harus mulai terbiasa dengan segala sensasi aneh yang meletup-letup tiap kali Myungsoo tersenyum dan berdekatan dengannya. Asing, namun sama sekali tidak ingin diakhiri.

**

Keberuntungan kadang muncul dengan caranya sendiri. Dengan seenaknya. Bahkan ketika rasanya lebih banyak ketidak mungkinan yang mengudara. Kadang bahkan orang mengibaratkan keberuntungan seperti menunggu bintang jatuh yang mana kesempatan benar-benar terjadi sangat jarang dan tidak bisa diterka.

Namun siapa sangka keberuntungan dengan senang hati menunjukkan wujudnya dan membantu seorang gadis yang tengah menganggumi pria yang selalu menyita perhatiannya?

_FIN_

ff hasil permak file lama. maaf ya belum bisa nepatin janji ngepost lanjutan lost inside you-nya.

masih berusaha beradapatasi dengan jadwal baru kuliah yang lumayan membuat remuk karena terlalu larut.

sebenarnya udah hampir selesai tapi aku kurang sreg sama hasil akhirnya jadi aku rombak lagi. nanti selesai UTS insyallah aku garap sampe kelas ya. MAAAAAAFFFFFF banget.

semoga ff ini menjadi permintaan maaf yang menghibur.

Sincerely

-Lia-

 

30 responses to “[Oneshot] Lucky Draw

  1. Yohoo~ Jiyeon dapet lotreee! Rejeki nomplok!
    Wah kalo ini dilanjutin alias dibikin sequel boleh! Mau malahan! Hehe. Soalnya Myung di sini belom keliatan karena semuanya pov Jiyeon.

  2. Wahhh , dikira story nya panjang ,, ternyta short .. Ditunggu dehh crita” yg lebih freshh dari authorrrr .. Saya suka sekali sama ff yg berbau skolahhh .. Keren soalnya … Jjjjjjjjaaaannnnnnggggg authorr

  3. pukpuk authornya yg lg bnyak tugas *ikut pukpuk diri sendiri juga* /hehnak/
    btw itu jeli, keinget ‘kamu…. kamu seperty jeliiiii~~~’ *apaan* btw maapkan aku lg gaje .___. ini kereeeennnnn!!! aku suka alurnya enak(?) trus kata2 dan pembawaannya(?) jg enak~~~ sweet jga kkkkk jd keinget masa smp/apa/
    daebakk ^^ and keep writing~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s