[CHAPTER -PART 6] 15:40:45 – Nothing

myung-ji-154045-1

15:40:45

Nothing

written by Quinniechip

T-ara’s Jiyeon – Infinite’s L – EXO’s Sehun – SHINee’s Minho || and other minor cast || Romance Friendship School Life || Chapter

Poster here | Prev here

-oOo-

“Aku rasa aku mulai tertarik padanya.” Ucap Minho setelah ia menyerahkan ponselnya pada seseorang di sampingnya.

Tangan Jinki terus bergerak dan matanya terus membaca segala percakapan yanag tertulis disana. Saat sudah mencapai batas akhirnya, Jinki hanya bisa terdiam menatap sahabatnya dengan pandangan penuh tanya dan rasa tak percaya.

“Kau serius?”

Minho mengangguk yakin, “Ya, aku tidak bercanda.”

“Jangan gila, dia baru saja putus dari teman baikmu, dan kau ingin merebutnya?” Tanya Jinki dengan membelalakkan matanya.

Minho hanya diam tak menjawab dan mengerutkan dahinya bingung. Apa yang baru saja dikatakan oleh Jinki sama sekali bukan kenyataan yang sebenarnya, ya walaupun hanya sebagian.

“Aku tidak merebut, bukankah mereka baru saja putus, dan itu berarti aku bebas untuk mendekatinya.”

Jinki menggelengkan kepalanya tak percaya, matanya masih membelalak tak percaya. Ia tak mengira jika sahabatnya akan bertindak seperti ini, walau Jinki tak mengenal Sehun begitu dekat, tapi sedikit banyak ia mengetahuinya. Tahu bagaimana hubungan Minho dan Sehun yang sudah berjalan cukup lama, tahu bagaimana pedulinya Minho pada adik kelasnya yang satu itu, bahkan ia mengetahui seberapa hormatnya Sehun pada Minho.

Jinki tahu akan hal itu, bukan hanya karena mereka adalah teman satu klub yang sudah cukup lama bersama, tapi karena mereka telah saling dekat satu sama lain, bahkan Minho sudah menganggap Sehun sebagai adiknya sendiri, begitu juga sebaliknya.

Mungkin Sehun tidak tahu bahwa Minho sangat mempercayainya, bahkan ketika ia memasukkan Sehun ke dalam klub sepakbola tanpa melakukan seleksi terlebih dahulu. Minho rela berdebat lama dengan pelatihnya demi meyakinkan bahwa Sehun bukanlah pemain kacangan, bahkan ia hampir menyebutkan segala prestasi yang telah diraih Sehun dahulu, walau semuanya bukanlah sebuah kebohongan dan dapat dibuktikan bahwa pilihan Minho bukanlah sesuatu yang memalukan.

“Kau benar-benar sudah gila.”

Hanya sebaris kalimat itu yang dapat Jinki ucapkan untuk menggambarkan segala keheranannya pada Minho. Sampai saat ini ia masih tak bisa menebak sebenarnya apa yang Minho pikirkan hingga ia sampai hati melakukan hal semacam ini. Minho memang benar-benar sudah gila!

Sedangkan Minho terlihat tak peduli dengan segala yang dikatakan sahabatnya, ia justru terlihat asyik dengan dirinya sendiri dan pergi menjauh meninggalkan Jinki yang terus mengoceh dan mengeluarkan ekspresi tak percaya yang akan membuat Minho tertawa jika terus berada didekatnya.

“Ya! Mau kemana kau?”

“Pergi menemui bidadari surgaku!” Jawab Minho asal yang langsung dibalas dengan teriakan tak jelas dari Jinki yang sudah tertinggal jauh dibelakang.

-O-

Memang sudah menjadi hal yang biasa jika sepulang sekolah bangku taman dibawah pohon besar itu akan terisi oleh lima orang siswi yang duduk berhadapan dan mengobrol asyik, tak jarang jika teriakan kaget pada suatu topik pembicaraan akan menarik perhatian orang lain di sekitar mereka.

“Apakah secepat itu?” Tanya gadis dengan rambut pendek tiba-tiba.

Yang ditanya hanya menoleh, “Apa?”

“Secepat itukah kau berpindah hati?” Sela gadis dengan rambut kuncir kudanya.

“Ya Jiyeon-ah..”

“Bahkan sampai sekarang aku masih belum mengerti jelas masalah apa yang sebenarnya menimpa hubunganmu dan Sehun, hingga akhirnya bisa sampai seperti ini.”

Jiyeon hanya menatap sahabatnya satu per satu dengan tatapan sayu dan kaget yang menjadi satu. Apa yang dimaksud dengan empat orang didepannya tentang masalah berpindah hati? Oh bahkan ia masih bisa mengingat nama Sehun dengan jelas saat ini.

“Berpindah hati macam apa-”

“Lalu apa yang sedang terjadi antara kau dan Minho sunbae?”

Lagi-lagi pertanyaan dari sahabatnya hanya bisa membuatnya kemabli mengerutkan dahi. Pertanyaan tentang Minho yang baru saja dilontarkan untuknya sama sekali tak tahu harus ia jawab dengan apa.

“Apa yang sebenarnya kalian maksud?”

“Ya Tuhan, Jiyeon-ah..” Ucap Soojung geram, “Kau kira kami tak mengetahui tentang kedekatanmu dengan Minho sunbae?”

“Hari dimana kau menangis karena Sehun, dan Minho sunbae datang bagaikan seroang pahlawan yang siap membantu wanitanya.” Sahut Bomi.

Belum sempat Jiyeon membalas, Hayoung sudah menyelas lebih dulu, “Jangan katakan tentang salah paham, aku yakin jika yang ku ketahui tentang kau dan Minho sunbae adalah benar adanya.”

“Bagaimana jika yang kalian bicarakan sejauh ini memanglah sebuah kesalah pahaman..” Balas Jiyeon, “Aku dan Minho sunbae, sama sekali tak ada apapun diantara kami, hanya sebatas hubungan antara senior dan juniornya.”

Yooyoung hanya menggelengkan kepalanya, “Sapu tangan itu, mengajakmu makan ditempat favoritmu, huh bahkan anak umur lima tahun juga akan tahu jika ada sesuatu yang lebih diantara kalian.”

Jiyeon menghela nafasnya panjang, “Harus aku katakan apa lagi agar kalian mempercayai apa yang aku katakan.”

“Huh, pasti seperti ini, kalian asyik bertahan dengan spekulasi kalian masing-masing, sampai tidak percaya pada kenyataannya.”

Belum sempat Bomi kembali menjawab, kedatangan Minah sudah mengalihkan perhatian mereka terlebih dahulu.

“Bomi-ya, ayo, Jimin dan Myungsoo sudah menunggu sejak tadi.”

“Memangnya kalian mau kemana?” Tanya Jiyeon.

Mr. Gil memberi tugas yang membutuhkan observasi dan sialnya aku sudah ditarik oleh Myungsoo dan Jimin untuk menjadi kelompok mereka tanpa aku sempat mencari anggota kelompok lain.” Jawab Bomi panjang.

“Dan aku harus bergabung dengan mereka demi menemani Bomi yang sudah merengek karena tak mau sendiri bersama dua orang itu.” Sahut Minah.

Bomi mendengus pendek dan berdiri mendekati Minah, “Ya sudah aku harus pergi sekarang, bye..”

“Oh, dan kau Park Jiyeon juga kalian bertiga harus menceritakan apa yang kalian bicarakan setelah ini.” Ucap Bomi sebelum berbalik pergi meninggalkan tempat.

Keempat orang yang diajak bicara hanya mengangguk seraya menatap punggung Bomi yang berjalan menjauh hingga langkahnya bersama Minah tak terlihat lagi.

Kini fokus ketiganya kembali beralih pada Jiyeon, seseorang yang sebelumnya sedang mereka mintai penjelasan.

Jiyeon hanya membalas tatapannya jengah, “Terakhir kali aku katakan pada kalian jika diantara aku dan Minho sunbae tidak ada apa-apa, titik dan tidak bisa diinterupsi!”

“Lalu itu apa?” Tunjuk Hayoung pada seseorang yang berjalan mendekat dibelakang Jiyeon.

“Ini yang kau sebut tidak ada apa-apa diantara kalian?”

Dengan cepat Jiyeon menoleh keb belakang memastikan apa yang sebenarnya ditunjuk oleh Hayoung. Ia menemukan sosok yang baru saja atau lebih tepatnya sedang mereka bicarakan saat ini berdiri tepat dibelakangnya, tersenyum dan melambaikan tangannya pada Jiyeon.

“Hai..”

Jiyeon hanya bisa terdiam menatap Minho dari ujung rambut hingga ujung kaki, yang tak ia sangka akan muncul di belakangnya saat ini.

“Oh, hai..” Jawab Jiyeon terbata.

Minho hanya tersenyum kecil melihat Jiyeon yang kini menatapnya kaget, “Sudah siap? Hari semakin sore dan aku takut jika akan turun hujan setelah ini.”

“Oh..” Jiyeon hanya menjawab pendek masih dengan keadaan bingungnya.

Sekali lagi Minho hanya tersenyum kecil dengan tingkah Jiyeon yang menurutnya sangat menggemaskan, dan Jiyeon dengan cepat mengambil tasnya dan berdiri mendekat pada Minho.

“Kurasa aku harus pergi sekarang dan..” Jiyeon menggaruk belakang lehernya, “Sampai jumpa besok.”

Jiyeon melambaikan tangannya dan berbaalik berjalan berdampingan dengan Minho yang sebelumnya sudah menganggukkan kepalanya pada ketiga teman Jiyeon yang ditinggalkannya.

Sekali lagi Jiyeon menoleh dan kembali melambaikan tangannya pada Soojung, Yooyoung, dan Hayoung setelah berjalan cukup jauh meninggalkan mereka.

“Apa ini yang dia sebut tidak ada apa-apa diantara keduanya?”

Yooyoung hanya menganggukkan kepalanya, “Aku harap ini bukan sesuatu yang buruk..”

-O-

“Ini harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum kau mengerjakan yang bagian yang lain.”

“Tidak tidak, bagian yang ini adalah kesimpulan, jadi harus dikerjakan diakhir.”

“Sudahlah, percaya saja pada perintah awal yang diberikan.”

“Perintahnya saja tidak jelas, apa yang harus diikuti?”

Keempat siswa dengan seragam serupa yang sedang duduk melingkar terlihat tengah berdebat cukup lama dengan berlembar kertas yang berserahan di atas meja, mungkin sudah sekitar tiga puluh menit semejak mereka datang.

Perdebatan kecil mereka cukup menarik perhatian pengunjung yang lain. Bomi sebagai seseorang yang lebih dulu merasa bahwa perdebatan mereka mendapat banyak tatapan tajam dan pembicaraan kecil lain langsung berusaha menenangkan ketiga temannya yang lain dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.

Tapi memang dasar anak muda jaman sekarang, mereka sama sekali tak mempedulikan peringatan yang diberikan Minah, dan justru meneruskan perdebatan mereka tentang tugas yang sama sekali belum terselesaikan.

“Sudah, kita cari mudahnya saja, ikuti perintahnya dan selesai.” Ucap Bomi memutuskan.

“Selesai dan kita mendapat nilai jelek sempurna.” Balas Minah.

Myungsoo hanya bersandar pada punggung kursinya samabil bersedekap, “Hah, semakin kau pikirkan tugas ini akan semakin membuatmu bingung, jangan berpikir terlalu keras.”

Jimin hanya bisa menggelengkap kepalanya melihat perdebatana yang belum berhenti sejak tadi, “Jika seperti ini aku hanya bisa diam dan menunggu bagaimana-”

“-oh, bukankah itu Jiyeon?”

Ucapan Jimin yang terpotong membuat perdebatan ketiganya terhenti dan mengalihkan pandangan mereka kearah jari telunjuk Jimin menunjuk. Mereka masih sibuk menyipittkan mata memastikan bahwa apa yang dikatakan Jimin adalah benar.

“Ah sepertinya itu memang Jiyeon..”

“Tapi untuk apa dia disini?” Tanya Bomi.

Myungsoo mengerutkan dahinya, “Ini akhir pekan dan ini tempat umum, apa salahnya dia berada disini..”

“Sepertinya dia juga tidak sedang bersama Yooyoung, Soojung, maupun Hayoung.” Balas Bomi tak menghiraukan ucapan Myungsoo, “Itu juga bukan Hyeri.”

“Oh tunggu..” Sela Jimin, “Siapa lelaki itu?”

Pandangan mereka tertuju pada satu arah yang sama. Jiyeon dan lelaki disampingnya yang berjalan berdampngan mendekat kearah mereka.

“Bukankah itu Minho sunbae?”

“Siapa?” Tanya Jimin dan Bomi serempak.

Minah menggerakkan dagunya bermaksud untuk menunjuk dua orang ysng berjalan tak jauh dari tempat mereka duduk, “Itu Jiyeon dan Minho sunbae.”

“Oh kalian..”

Sapa Jiyeon ketika matanya melihat kearah sekelompok siswa yang berseragam sama dengannya tengah duduk melingkar. Yang disapa menoleh serempak kearah suara panggilan itu berasal dan langsung tersenyum pura-pura tidak tahu bahwa dua orang yang baru saja mereka bicarakan sedang berada di tempat yang sama dengan mereka.

“Jiyeon-ah, kau disini juga.” Sapa Bomi balik, “Annyeong sunbae..”

Minho yang disapa hanya membalas dengan tersenyum kecil tanpa mengucap apa-apa lagi. Sedangkan Jiyeon hanya menatap keempatnya secara bergantian.

“Kau tidak mengatakan jika kau akan mengerjakan tugas di tempat ramai seperti ini.” Ucap Jiyeon.

Bomi hanya membalasnya bingung, “Oh.. ah.. ya ini usul mendadak dari Minah.”

“Kau juga tak mengatakan jika kau akan kesini bersama..” Bomi tak melanjutkan ucapannya dan hanya menatap pada Minho seakan memberi isyarat.

Jiyeon mengikuti arah gerak bola mata Bomi yang tertuju pada Minho yang kini berdiri tepat disampingnya. Jiyeon sedikit bingung bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Bomi. Memang benar jika ia tak bercerita pada siapapun jika kemarin Minho mengajaknya untuk pergi, sekedar untuk menyegarkan pikiran dan menghabiskan waktu di akhir pekan. Lagipula Jiyeon juga tak menyangka jika ia akan bertemu dengan salah satu dari temannya sekarang.

“Eh hanya sekedar menghabiskan waktu akhir pekan.” Jawab Jiyeon tak yakin, “Lagipula aku tidak memiliki acara apapun, jadi apa salahnya?”

Bomi hanya mengangguk mengiyakan jawaban Jiyeon yang terlihat ragu.

“Sepertinya temanmu memiliki banyak tugas yang harus mereka selesaikan. Sebaiknya kita tidak mengganggu mereka lagi.”

Sahut Minho sambil menatap Jiyeon dan tersenyum singkat, “Kajja..”

Jiyeon hanya bisa mengikuti tarikan tangan Minho yang membawanya pergi. Ia berbalik sambil melambaikan tangannya dan berbisik sampai-bertemu-besok pada Bomi.

Sekali lagi Bomi hanya menganggukkan kepalanya dan membalas lambaian tangan Jiyeon.

“Sepertinya memang tak ada apa-apa diantara mereka..”

“Maksudmu?” Tanya Jimin bingung dengan apa yang diucapkan Bomi.

Bomi menatap pada Jimin, “Bukan keduanya, tapi hanya satu diantaranya.”

Dahi Minah dan Jimin berkerut bingung masih tak mengerti dengan apa yang Bomi maksud. Dan tanpa mereka tahu mata Myungsoo masih sibuk mengikuti gerak punggung Jiyeon yang berjalan menjauh dan menghilang termakan cahaya.

-O-

Sudah lewat beberapa hari setelah Sehun sudah tak bersama Jiyeon lagi, hari dimana Jiyeon memutuskannya dan putus juga segala kontak antara Sehun dan mentan kekasihnya itu. Tetapi sepertinya dampaknya masih sangat terasa, terutama pada Sehun yang berubah menjadi lebih pendiam dari biasanya.

Walaupun diamnya ini tak mempengaruhi banyak, tetapi tetap saja terasa tak nyaman bagi orang terdekatnya. Selain sering melamun, Sehun juga sering tidak fokus pada saat pelajaran maupun latihan sepakbola, dan teguran dari sang pelatih juga tak jarang ditunjukkan padanya.

Merasa pikirannya sedang tidak fokus, akhirnya Sehun memutuskan untuk duduk beristirahat dipinggir lapangan dan lebih memilih untuk melihat teman satu klub yang lainnya berlatih.

Tak biasanya Sehun seperti ini, sepakbola adalah kegemarannya, tetapi tidak untuk hari ini, bahkan untuk menginjak rumput lapangan saja sudah malas rasanya.

“Sehun-ah, kau disini?”

Panggilan seseorang untuk dirinya membuatnya menoleh. Melihat siapa yangmemanggilnya Sehun hanya membalas dengan anggukan kepala dan kembali mengarahkan pandangan pada tengah lapangan.

“Sekarang adalah jadwal untuk latihan, tentu saja aku disini.”

Lelaki yang mengajak bicara sebelumnya kini sibuk dengan baju ganti dan tas miliknya, “Tidak, aku kira yang bersama Jiyeon sunbae tadi adalah kau.”

Mendengar satu nama itu disebutkan, sontak membuat Sehun mengalihkan pandangannya pada seseorang disebelahnya, “Apa yang kau katakan?”

“Aku melihat Jiyeon sunbae bersama seseorang, dan kukira itu adalah dirimu.” Jawabnya ringan, “Sudah, aku ingin ganti baju sebelum pelatih kita memarahiku.”

Sehun masih terdiam dan terlihat berpikir dengan apa yang baru saja dikatakan oleh salah satu teman dalam klub sepakbolanya.

“Jiyeon.. bersama seorang lelaki? Siapa?”

-To be Continued-

Note :

Hallooooooh~

Nggak kelamaan banget kan ya hehe /muka innocent/

Oh iya yang mau baca side story 15:40:45 bisa klik!

Comment please yes! Sarannya juga boleh kok~

79 responses to “[CHAPTER -PART 6] 15:40:45 – Nothing

  1. ini uda keliatan kalo jiyeon direbutin 3 cowo, dan mereka bukan cowo biasa, mereka semua luar biasa ‘-‘ si pemain bola handal, senior kece, dan si pendatang baru, anak ‘bermasalah’ yang punya bakat main drum . duh, Jiyeon secantik apa sih ampe direbutin 3 makhluk macem gitu?!
    Direbutin TIGA cowo sekaligus!! Bukan dua, tapi tiga!!

    *abaikan komen ini, author*
    *readers lupa kalo lagi baca fanfiction, bukan biografi* *anything can happen*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s