Pretend (Chapter 13 – END)

FF Pretend new

Tittle : Pretend

Author : brownpills

Main Cast:

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo
  • Krystal Jung
  • Bae Suzy
  • Choi Minho
  • Kai

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

RANDOM POV.

-PREV-

.

It’s not always happy ending,

But It’s happy in between

.

.

Aku ingin hidup lebih lama…

“Jiyeon, hajima…”

“Kau pasti bisa bertahan, jiyeon.”

“Yeon-a, mianhae. Eomma jeongmal mianhae.”

“Jiyeon kau kuat! Bangunlah! Kami menantikanmu!”

.

.

Dokter berkata umurku sudah tidak lama lagi. Kapanpun nyawaku bisa diambil. Begitu mendengarnya aku sudah tidak berharap apa-apa. Menunggu kematian… itu yang kulakukan.

 

Gadis dengan rambut kecokelatan itu menyentuh dadanya. Mencoba merasakan detak jantung lemahnya. Sambil menarik nafas, ia menelan obat yang dapat mengurangi rasa sakitnya.

Pahit menjalari kerongkongannya membuatnya sedikit meringis kecut. Ia kembali meneruskan aktivitasnya, membaca naskah scenario. Tidak, dia bukan lagi pemeran utama. Yang dilakukan hanyalah sekedar mengisi waktu luangnya.

Tanpa ia sadari, seorang pria mengawasinya dari jarak yang tak begitu jauh. Pria dengan jas seragam yang tak pernah dikancing itu mengatupkan rahang memperhatikan gadis yang duduk di salah satu kursi kantin sekolah.

 

Ckrik!

 

Bunyi kameranya terdengar saat ia mengarahkan lensa pada gadis itu. Pandangannya melihat hasil jempretannya. Seorang gadis membaca naskah dengan sisa matahari sore di dekat jendela, potretan yang apik.

“Myungsoo?”

Kepalanya menoleh dari kamera menuju gadis di sampingnya.

Krystal tersenyum manis, “Apa kau melihat Kai?”

Pria itu hanya menggelengkan kepala ringan.

“Aish, di mana makhluk itu berada?” gerutu Krystal mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.

Myungsoo menelengkan kepalanya seraya membungkukkan badan untuk menyamai tinggi badannya dengan Krystal, “Kau mencari Kai? Apa sesuatu telah terjadi?”

Tebakan Myungsoo berhasil membuat pipi Krystal bersemu merah. Gadis itu membulatkan mata seraya membuang muka, “Sesuatu apa!” bantahnya mengelus leher putihnya. “Kalian selalu bertanya ‘Apa sesuatu telah terjadi?’” lanjut Krystal berdesis pelan.

Bibir Myungsoo membentuk senyum renyah. Hanya sesaat hingga Krystal berkata kembali, “Eoh! Park Jiyeon!”

“Jiyeon masih di sekolah? Sore-sore begini?” tahan Krystal dengan arah pandangannya menuju Jiyeon, “Apa yang sedang dia lakukan?”

Hendak Krystal menghampiri Jiyeon, tetapi ia menyurutkan niatnya dan malah memandang Myungsoo dengan tatapan mengintogerasi.

Mwo?” tanya Myungsoo pura-pura kikuk.

Krystal menyipitkan matanya, “Kau tidak berniat untuk mendekatinya?”

Myungsoo berdehem sejenak mendengar pertanyaan Krystal yang sedikit memalukan dirinya. Wajahnya berusaha memasang ketenangan.

“Ckck, anak kaya memang memiliki gengsi yang tinggi,” ceplos Krystal.

Mulutnya bergeming tak menyahut. Lantas rangkaian kalimat terpatri di otaknya. Entah iblis apa yang merasukinya untuk berkata.

“Padahal ia sudah ada di depanku. Tetapi aku merasa tidak ada sosoknya dalam pandanganku.”

.

.

Jiyeon merasa ada yang memperhatikannya. Feeling-nya emang kuat. Benar saja begitu ia mengangkat kepalanya, ia menangkap seorang pria dan gadis tengah bercengkrama di pintu masuk kantin.

Mengenali siapa mereka berdua, Jiyeon segera merapikan scenario yang ia baca. Memeluknya dengan kedua tangan sembari berjalan mendekati Krystal dan Myungsoo.

“Kalian belum pulang?”

Rupanya pertanyaan Jiyeon menghentakkan Krystal dan Myungsoo. Keduanya tak sadar akan kehadiran Jiyeon.

“Ngng,” Krystal bergumam sebentar, “Aku sedang mencari Kai.”

“Kai? Sepertinya ia kena hukuman,” sahut Jiyeon, sebelumnya ia sempat memergoki Kai tengah marah-marah dengan ember lengkap kain pel di hadapannya.

MWO?!” mulut mungil Krystal terbuka lebar, “Dasar namja babo! Baiklah, aku akan menemuinya.”

Krystal melengos dalam sekejap. Meninggalkan Myungsoo dan Jiyeon dalam keheningan.

Myungsoo tak berkutik. Suasana canggung jelas terasa. Sedangkan Jiyeon melirik pria itu yang masih memilih diam seribu bahasa. Hingga Jiyeon memutuskan untuk membuka suara.

“Hampir malam, aku pulang dulu.”

“Jiyeon!”

Suaranya nyelonong keluar tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Tetapi itu membuat Jiyeon menghentikan langkah sejenak. Myunsoo menarik nafas pelan.

“Kau mau kuantar?”

.

.

Laju mobilnya melesat normal di jalan raya. Membelah sore yang menjelang malam. Sesekali pria itu mencuri pandang, namun ia tetap focus di balik kemudi.

“Myungsoo…”

Lembut suaranya menggelitik telinga Myungsoo, “Hm?”

“Kau—jahat—“

Matan Myungsoo melebar. Ia masih berusaha mengijak pedal gas mobil tanpa gemetar. Mulutnya tak berniat menyahut ucapan Jiyeon.

“— tapi, tidak semua kejahatanmu itu membawa keburukan. Ada kalanya kejahatanmu membawa kebaikan—“

Ledakan ledakan memenuhi kepala Myungsoo. Air liurnya sulit ditelan. Bahkan kedua tangannya yang menyentuh kemudi mobil mulai berkeringat dingin.

“—terimakasih untuk segalanya. Kau telah menemani hari-hari sepiku,” tutur Jiyeon dengan kedua sudut bibirnya yang tertarik.

Sungguh ini pertama kalinya bagi gadis itu tersenyum secara sempurna dengan ketulusan. Sayangnya Myungsoo fokus pada jalan raya di hadapannya. Ketika Myungsoo memanfaatkan kondisi jalan yang sepi untuk menoleh, ia mendapati Jiyeon sudah terlelap.

Gadis itu menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Kedua matanya terpejam begitu tenang. Wajah kerasnya tak terlukis lagi. Tersisa kelembutan yang enak dipandang.

Setengah perjalanan, Myungsoo memilih untuk memberhentikan mobilnya sejenak. Di pinggiran Sungai Han, ia melepaskan sabuk pengamannya. Hati-hati ia membenakan posisi tidur Jiyeon. Mengangkat kepala gadis itu pada jok mobil.

Sesaat waktu berhenti saat tak sengaja wajah Myungsoo dan Jiyeon begitu dekat. Nafas hangat Jiyeon bisa dirasakan olehnya. Detakan jantungnya melebihi batas normal. Dentuman berdebum di hatinya.

Sedikit saja Myungsoo menyentuhkan bibirnya pada bibir mungil Jiyeon. Merasakan sensasi kelembutan di sana. Hanya sebentar dan begitu pelan. Namun itu seperti waktu yang berhenti lama dan menyisakan mereka berdua.

Meski tak rela melepaskan ciumannya, Myungsoo tetaplah seorang pria yang menjaga kehormatan wanita. Ia berdehem pelan seraya segera melangkah keluar, membiarkan Jiyeon menikmati tidurnya di dalam mobil.

Sementara dirinya duduk di depan mobil, merasakan kehangatan mesin mobilnya seorang diri. Untuk malam ini tak ada bintang yang bertabur. Satu bulan bersinar terang, terpantul di aliran Sungai Han. Myungsoo selalu suka tempat ini, di sinilah ia bisa melepaskan kelelahannya.

 

Appaa…(sakit)”

 

Bola matanya yang sempat terpejam memaksa untuk terbuka lebar. Myungsoo segera menghampiri Jiyeon. Pria itu masuk ke dalam mobil. Wajahnya mengeras melihat Jiyeon antara sadar dan tidak, seperti mengigau.

Appaa…”

Semakin lama gerutuan gadis itu semakin menyakiti telinga Myungsoo.

“Jiyeon, gwenchana?”

Appa, akh, appaseo,” gadis itu menggeliat di jok mobil sembari memegangi dadanya. Meski udara dingin namun dengan jelas keringat membasahi dahi Jiyeon.

Myungsoo mengerti keadaan seperti ini. Secepat kilat ia mengemudikan mobilnya. Tidak peduli beberapa klakson mengumpatnya. Sesekali ia melirik Jiyeon yang masih merintih kesakitan.

Pria itu membenci keadaan seperti ini. Ia benci melihatnya kesakitan di hadapannya sendiri.

.

.

Langit mendung tertutupi gelapnya malam. Sepinya perumahan elit itu seperti kuburan seram. Salah seorang wanita baru saja memasuki salah satu bangunan rumah minimalis.

Wajahnya tampak kelelahan. Ia melempar tas kerjanya di sofa dan menyeret malas kakinya menuju dapur. Begitu membuka tudung saji, kedua matanya terkuak lebar.

Semangkuk sup ayam tersedia di tengah meja bundar itu. Dilihat dari aromanya sup ayam itu sudah tak sedap lagi. Dari kondisi warnanya mungkin di buat pada pagi hari. Wanita berparas dewasa itu lantas menghembuskan nafas melihat secarik kertas terselip di bawah mangkok itu.

 

‘Selamat makan, eomma.

 

Tidak. Ini bukan yang pertama kalinya. Berangkat pagi pulang larut malam, menjadi lahapannya. Memo singkat tulisan tangan putri tercintanya diam-diam menggores luka. Namun apa daya, ia tidak mungkin meninggalkan perusahaan warisan ayahnya. Wanita tua itu adalah anak tunggal.

Sebut saja Ibu Jiyeon, beliau menarik kursi sembari menyandarkan kepala pada tangannya yang menjadi tumpuan di meja.

“Eomma, mengapa ayah tidak akan pernah bangun lagi?”

Seperti sihir, suara Jiyeon melintas di indera pendengarannya. Membuatnya celingak celinguk di tengah ruang makan besar itu. Lantas ia sadar, bahkan ia sendiri kesepian.

“Ayah sakit? Aku tidak ingin pergi seperti ayah.”

Itu suara Jiyeon kecil. Saat itu umurnya terlalu muda melihat ayahnya terkena serangan jantung dan tertidur lelap. Ibu Jiyeon yakin Jiyeon sudah melupakan memori itu atau berusaha melupakannya.

Lagi, beliau menghela nafas lebih panjang. Dengan lesu ia mengangkat badannya dan berjalan menuju kamarnya. Baru setengah berjalan, ponselnya memecah keheningan.

Ketika itu indera pendengarannya seperti ditulikan. Wajahnya tanpa ekspresi. Tanpa basa basi, ia meloncat ke dalam mobilnya hingga deru mobil terdengar dengan asap yang mengepul. Sekujur tubuhnya bagai tersengat listrik.

.

.

Rasa pegal yang menjalari tungkai kakinya ia abaikan. Ibu seorang gadis itu menyusuri koridor rumah sakit dengan tergesa. Tiba di depan ruangan dengan tulisan ICU, ia berhenti di hadapan seorang pria muda.

Pria muda itu tak kalah kusutnya dengannya, ia hanya membungkukkan badan sembari mengarahkan mata pada ruangan dengan kedua pintu kaca tertutup rapat.

Berat rasanya melangkah mendekati pintu itu. Dingin ketika kulit telapak tangan menyentuh kaca pintu itu.

“Yeon-a, mianhae. Eomma jeongmal mianhae.”

Tak terasa setetes air mata luluh di pipinya.

—o0o—

Jiyeon’s PoV

 

‘Hahaha…’

 

Siapa?

 

‘Hahaha…’

 

Siapa?

 

Suara tawa lembut itu mengusik pendengaranku. Memaksa kedua mataku untuk terbuka. Sedikit demi sedikit cahaya menyesaki penglihatanku. Remang taka da suara. Rasanya antara ada dan tiada.

 

‘Hahaha…’

 

Lagi, aku mencoba mengikuti suara gadis itu. Dengan langkah gontai dan tubuh yang terasa begitu ringan. Seperti berjalan di atas awan. Tunggu dulu, apa ini surga?

 

‘Hahaha…’

 

Hingga aku berhenti saat aku mencoba menyipitkan mata. Tak jauh dariku sesosok gadis tengah berjongkok. Rambut lurusnya indah menutupi punggungnya. Postur tubuh itu aku sangat mengenalinya.

Merasa kehadiranku, gadis itu berdiri sembari membalikkan badan. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya berwarna abu-abu, pipinya merah semu, pandangannya kosong. Dengan menarik kedua ujung mulutnya ia mengulurkan tangan padaku.

Kedua alisku terangkat. Tak dapat kurasakan detak jantung yang berdetak cepat, tak dapat kurasakan nafasku yang berhembus. Hanya semilir angina yang datang entah darimana.

Kata orang jika kita akan meninggal, maka kita akan didatangi oleh orang yang terdekat.

Dan orang yang kini berdiri di hadapanku dengan wajah lusuhnya adalah Bae Suzy. Gadis yang ingin kutemui dan ingin meminta maaf padanya. Kini ada di depanku.

Jika aku menyambut uluran tangannya—

 

“Jiyeon, hajima…!!!”

 

Secepat kilat memancar, sosok Bae Suzy memudar dalam pandanganku. Bersamaan dengan ruangan yang cerah perlahan menjadi gelap. Tersisa diriku, ah tidak! Bahkan suara lantang itu mampu menghilangkan segenap tubuhku. Perlahan diriku tak bersisa di alam sana.

 

Aku ingin hidup lebih lama…

 

.

.

Myungsoo’s PoV

Terhitung empat belas hari ia terlelap di atas kasur. Dengan berbagai selang di hidungnya maupun alat pendeteksi jantung dan alat lainnya yang tidak begitu kukenal. Mengerikan.

Beberapa hari yang lalu, Jiyeon melaksanakan operasi pencangkokan jantung. Butuh waktu yang lama agar jantung itu dapat beradaptasi dengan organ tubuh Jiyeon. Tidak perlu ditanyakan siapa pendonor jantung itu, berhubung ia tidak mau memunculkan namanya. Jiyeon berhasil melakukan operasi sudah cukup bagiku.

Meski kemungkinan kecil Jiyeon sadar kembali, namun kami semua tidak kehilangan harapan.

Termasuk wanita tua yang tertidur di sofa sebelahku. Dia adalah Ibu Jiyeon, beliau sejenak melupakan perusahaannya.

Lagi, tidak bosan aku memandang wajah gadis di hadapanku. Ia terlihat begitu damai, seperti bayi yang baru dilahirkan.

Hal yang tidak kuinginkan terjadi. Mesin pendeteksi jantung di sisi ranjang Jiyeon berbunyi sangat cepat. Tidak terautur, semakin lambat, dengan garis-garis hijau yang menakutkan.

“Jiyeon…” suaraku tertahan hanya sebatas bisikan.

Bunyi pintu bergeser menghentakkanku. Krystal, Kai, dan Minho muncul dengan wajah kusam.

“Ada apa?” tanya Kai.

Ah! Mereka juga bergantian menemani Jiyeon di rumah sakit.

“Detak jantungnya…” ujar Krystal. “Kau pasti bisa bertahan, Jiyeon,” lanjut Krystal terengah.

“Akan kupanggilkan dokter,” tawar Minho segera bergegas pergi.

Sementara aku mulai berkeringat dingin. Ibu Jiyeon terbangun dan beliau segera menghampiri Jiyeon. Ia menyentuh lembut wajah Jiyeon dengan genangan air mata.

Garis-garis hijau itu semakin melemah bergerak. Sesaat aku melihat cairan bening menetes dari mata Jiyeon yang terpejam.

Nafasku terputus, urat nadiku terasa dihentikan.

“Jiyeon, hajima…!!!”

Suara serakku memecah segalanya. Bahkan sedunia mungkin dapat mendengarnya.

Krystal mencoba merangkul Ibu Jiyeon. Memberi ketegaran agar beliau dapat bertahan berdiri. Kai menatap kosong tubuh Jiyeon. Sedangkan aku, aku menggenggam telapak mungil Jiyeon.

Rasanya dingin…

Garis hijau yang hampir berbentuk lurus itu kini berdetak lagi. Mengejutkan masing-masing dari kami. Dapat kurasakan jemari Jiyeon bergerak dalam genggamanku.

“Jiyeon,” ucapku.

Setelah itu aku tidak dapat merasakan apapun. Yang kulihat Dokter Kim dan segerombolan anak buahnya datang untuk menyingkirkan kami dari Jiyeon. Mereka mengerubungi Jiyeon. Mencoba melakukan sesuatu untuk Jiyeon.

Saranghae, Jiyeon…” bisikku

.

.

 

Three years later…

 

“Kecurangan adalah bagian dari permainan. Ini adalah hasil yang penting, memenangkan semuanya. Orang-orang melihat kemenangan. Kemenangan seperti itu akan membawa penderitaan. Lebih baik jika melakukan kemenangan tanpa kecurangan.”

Wajah gadis itu sudah terlihat dewasa. Dengan dress sederhana di atas lutut. Dan dipadukan dengan cardigan lengan panjang, ia melemparkan senyuman kepada anak-anak kecil yang kini tengah memperhatikannya.

“Jadi, Bu Guru kita tidak boleh curang, bukan?” seorang anak kecil dengan pipi bulatnya bertanya.

Suara cempreng anak itu membuatnya tersenyum kecil, “Tidak boleh, Yieun,” sahutnya lembut.

Anak-anak itu mulai berbicara dengan temannya masing-masing. Berbagi tawa mereka ketika bel menggema di kelas. Masing-masing dari mereka berhamburan keluar kelas. Malaikat seperti mereka begitu menggemaskan.

Sedangkan gadis dewasa itu mulai merapikan bukunya. Memeluk dalam dekapannya sembari berjalan keluar.

Udara segar Seoul menyambutnya. Satu televise besar menarik perhatiannya. Berita tentang hiruk pikuk Kota Seoul terpampang jelas di televise yang menempel pada salah satu gedung pencakar langit. Berita itu beralih pada seorang pria yang kini terkenal.

Wajah pria itu menghiasi media cetak manapun. Karismanya menyebar luas. Dan gadis itu memakluminya dengan senyuman singkat.

“Jung Krystal!”

Merasa namanya dipanggil, Krystal menolehkan kepalanya. Di sanalah seorang pria berlari-lari kecil menghampirinya.

“Kau sudah selesai mengajar?” tanyanya.

Krystal mengangguk menjawab pertanyaan pria yang kini menjulang tinggi memaksa Krystal untuk lebih mendongakkan kepala.

Pria itu masih sama dengan kulit kecokelatannya. Kepalanya menoleh ke kanan ke kiri was was. Dan perhatiannya terhenti pada satu televise lebar yang tadi sempat diamati oleh Krystal.

“Uwah,” gumamnya, “Sialan. Sekarang dia lebih tenar dariku,” umpatnya.

Krystal mengikuti arah pandang Kai. Layar televise itu ternyata masih menampilkan wajah yang sama.

“Beginilah zaman sekarang, selebritis tampan sepertiku mudah disingkirkan oleh pewaris konglomerat.”

“Kai,” sikut Krystal.

“Masa bodoh! Aku tidak peduli,” ujar Kai beralih merangkul bahu Krystal, “Yang terpenting aku mudah melihat wajah cantik yeojachingu-ku.”

.

.

Di sisi lain, pada salah satu apartemen, seorang gadis duduk sendiri di sofa. Ia memperhatikan layar televise di depannya. Satu majalah terbuka di pahanya.

“Yeon-a, ibu pergi dulu ne?” kata seorang wanita tua mengecup sekilas kening gadis bernama Jiyeon yang tersenyum mengangguk.

“Istirahatlah yang cukup,” ujarnya berlalu dengan suara pintu tertutup.

Tiga tahun berlalu setelah Jiyeon menerima jantung yang baru. Siapa pendonornya? Jiyeon tidak ingin mengetahuinya. Dalam hati, ia berterimakasih dan sudah cukup hidup seperti ini.

Ya… Jiyeon mengorbankan karirnya. Ia berhenti di dunia hiburan. Ia tidak ingin merusak kesehatannya. Gadis itu lebih memilih untuk menyembunyikan dirinya. Dalam sebuah ruangan bersama ibunya. Ia lebih sering menghabiskan waktu di ruangan itu.

Menonton satu layar televise yang menampilkan wajah sesosok pria yang berarti untuknya.

‘Kenaikan saham KM Company begitu pesat setelah kedudukannya diserahkan kepada putranya sendiri bernama Kim Myungsoo. Pria muda itu—‘

Tingtong!

Tidak biasanya ada tamu di siang hari. Jiyeon menekan tombol off pada remote. Menyeret kakinya untuk membukakan pintu.

“Hallo, Jiyeon!”

Sapaan ringan dengan senyum sumringah menyambutnya. Padahal Jiyeon belum mempersilahkan pria itu masuk, tetapi dengan mudahnya pria itu melepaskan alas kaki dan menghempaskan diri di sofa tempat Jiyeon duduk sedari tadi.

“Kau tamu yang tidak sopan,” sindir Jiyeon.

Yang disindir mengabaikannya. Malah menyalakan televise yang masih saja menampilkan berita yang sama.

“Kau lihat! Betapa maskulinnya diriku~” ucapnya membesarkan diri mengetahui bahwa wajahnya sering muncul di layar manapun.

Jiyeon menyilangkan kedua tangannya dan menutupi layar televise.

“Aku heran mengapa semua orang kini memujimu—“ balas Jiyeon. “—orang sepertimu yang sukanya keluar masuk apartemen seorang gadis. Bagaimana jika wartawan mengetahui hal itu?”

YA! Aku kemari karena menemanimu! Tidak ada maksud lain!” bentaknya dengan wajah memerah.

Jiyeon memandang sinis Myungsoo, “Kurom. Banyak sekali aib yang kuketahui selama ini. Pasti akan menyenangkan jika—“

 

CHU~

 

Terasa cepat saat Myungsoo menarik lengan Jiyeon dan mengecup bibir merah muda gadis itu. Membuat gadis itu terjatuh dalam dekapan Myungsoo yang duduk di sofa.

Mata Jiyeon membulat dengan urat nadi yang memanas. Namun seiring berjalannya waktu Jiyeon memejamkan matanya. Lengan gadis itu melingkar pada leher Myungsoo.

Tangan Myungsoo menekan tengkuk Jiyeon. Kali ini pria itu menikmati rasa strawberry bibir Jiyeon.

“Jika kau berkata lagi, maka kau benar-benar dalam bahaya,” ujar Myungsoo dengan sorot mata dalam.

Lantas Jiyeon langsung melompat menjauhi Myungsoo. Ia memeluk tubuhnya sendiri.

“KIM MYUNGSOO BERANINYA KAU!!!”

Sederetan gigi Myungsoo tampak saat pria itu tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Jiyeon melempari pria itu dengan barang yang ada. Begitulah keduanya dan berujung pada canda tawa yang hangat.

—o0o—

Ayam berkokok di bukit itu. Bukit dengan banyak gundukan tanah dan nisan yang melengkapinya. Matahari baru separuh memunculkan tubuhnya.

Seorang pria berdiri di hadapan salah satu gundukan tanah yang besar. Ia meletakan sebucket bunga di atasnya. Memejamkan mata sembari mengucapkan kata doa.

“Minho!” panggil Krystal yang baru saja datang.

Minho tersenyum melihat Krystal melambaikan tangannya. Di belakang gadis itu, dua orang pria berjalan dengan seorang gadis. Krystal lebih dulu mendekati Minho.

“Lama tidak bertemu,” sapa Krystal.

Setelah itu giliran Myungsoo memeluk sekilas sobatnya itu. Myungsoo yang sukses dalam perusahaannya, Minho pula seperti itu. Berhasil dalam statusnya sebagai pewaris konglomerat.

“Choi Minho! Kau terkalahkan oleh Kim Myungsoo,” ujar Kai berlagak rapper.

“Mwoya?” acuh Minho.

“Kau tidak tau? Kau bernasib sama sepertiku, dikucilkan dari dunia entertain.”

“Jangan membawa-bawa namaku. Hanya ada kau yang seperti itu.”

“MWO?!” Kai membulatkan matanya.

“Sudahlah Kai, terima saja bahwa popularitasmu sedikit memudar,” sela Jiyeon.

Kai melirik sinis Jiyeon. Myungsoo dan Krystal sudah meringiskan giginya geli. Minho tersenyum dalam melihatnya. Lama tidak ada yang berbicara mengingat tanggal hari ini, tawa meledak di bukit itu. Menggema dalam pantulan langit.

 

‘Kau lihat Suzy? Kita sudah bahagia,’ batin Minho.

‘Sedih tanpamu, Bae Suzy. Tetapi setidaknya kami berhasil menyelamatkan Jiyeon,’ batin Krystal.

‘Ya! Suzy! Gadis pintar! Kau akan iri melihat kami,’ batin Kai.

‘Seperti permintaanmu, aku berhasil membahagiakan Jiyeon,’ batin Myungsoo.

 

Di sela-sela obrolan hangat mereka, Jiyeon menegadahkan kepalanya. Langit cerah menyirnakan penglihatannya. Dengan mata menyipit ia menatap langit yang terbentang di atasnya. Senyuman cantik terbentuk di wajahnya. Dan ia berkata dalam hati…

 

‘Aku menyanyangimu, Sooji-ya…’

 

-Hari ini adalah hari kematian Suzy-

-END-

Adakah yang masih setia menanti datangnya Pretend T_T? Hara jahat kah sebegini lama yaa T_T Pukul Hara jika kalian mau T_T? Adakah yang masih  penaran dengan hubungan anak anak orkay??? Begitulah ending Pretend. Buat kalian semua Hara nggak tau gimana caranya nyampein makasih. Tetapi kalian benar benar reader terbaiiikkkk. Sayang kalian semua :* Sebagai gantinya Hara menghadihkan Movie Version dari FF ini. *cuuss upload MV nya*. Paipaaaiii~

63 responses to “Pretend (Chapter 13 – END)

  1. Wah aq suka bgt ffx,sampe’ bingung mau nulis apa,yg jelas hwaiting buat authorx aq suka bahasax…and selalu ku tunggu ff myungyeon lainx

  2. Sukses deh buat author yg bikin ff ini happy ending,,
    myungyeon brsatu, kaistal juga bersatu,, klo minho,, hehe sama aku ajj yya minho oppa,, aku akan brusaha untuk bisa seperti suzy,, haha ngarep bggt deh,,
    Gomawo author udh iziinin aku baca ff ini,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s