[ONESHOOT] AGAPE

a

© Poster by blacksphinx @ Poster Channel

Tittle: Agape | Author: farvidkar | Genre: Romance, School life, Fantasy | Cast: L Kim, Bae Suzy, Furukawa Yuki | Other cast: Dasom, Luhan| Rating: PG-17

A/N: Cerita yang sederhana. Ada special cast yaitu Furukawa Yuki yang baru-baru ini mencuri hatiku. FF yang aku buat kali ini agak manis dari cerita-cerita sebelumnya. Namun ada banyak kejutan yang akan muncul. Hope you like readers. FF ini telah dipublis pada blog pribadi saya.

October, 2012 – South Korea

Musim dingin. Gadis berambut panjang itu dengan gigih terus berdiri di depan gerbang sekolah menunggu seseorang yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Sudah dua jam gadis itu meringkuk di balik jaket tipisnya. Ada sebuah benda tipis yang terus dilindungi olehnya. Hari yang mulai gelap tidak menyurutkan semangat gadis itu. Hingga tak lama seorang pria bermata tajam terlihat. Pria dengan rahang tegas itu baru saja menyelesaikan ekskul photographinya.

“L-sii bisa kita bicara? Sebentar saja, aku tidak akan menyita waktumu” Bae Suzy mendekati pria bernama L. Bibir gadis itu nampak kering, tangannya pun dingin. L menyadari hal itu, tentu.

“Tidak” satu kata itu sudah biasa didengar Suzy. Pengabaian yang biasa didapatinya.

“Kalau begitu kumohon terimalah surat ini” Suzy menyerahkan sebuah surat yang berisi isi hatinya. Sudah lama ia menyiapkan surat itu untuk pria yang selama ini tak pernah melihat ke arahnya sekalipun.

“Tidak” entah keberapa kalinya berujung seperti ini.

….

Bae Suzy berjalan gontai seperti mayat hidup di malam hari. Penolakan yang kesekian kalinya ditelan begitu saja. Namun jangan khawatirkan gadis ini, karena semangat hidupnya pasti akan tumbuh ketika matahari ikut menampakkan sinarnya keesokan harinya. Tak sendirian, gadis itu berjalan diikuti seorang pria dengan wajah yang cukup tampan. Dalam diam pria itu mengikuti Suzy dari pulang sekolah. Tidak menimbulkan suara sama sekali, hanya terus mengikuti gadis lebih tepatnya mengawasi gadis itu.

“Berhenti mengikutiku Yuki-chan” kalimat itu membuat langkah Yuki terhenti. Suzy melemparkan death glare kearah pria berdarah Jepang itu.

“Aku hanya memastikan bahwa kau tidak akan bunuh diri karena pria satu huruf itu” Yuki hanya memasang wajah tak bersalah yang dapat membuat semua gadis tak berkedip selama beberapa detik, kecuali Suzy mungkin.

“Yak! Aku tidak mempan dengan tampang bodohmu itu” mulut tajam Suzy sudah menjadi santapan setiap hari bagi Yuki. Mereka memang sangat dekat, bahkan sampai ada yang mengira mereka adalah pasangan kekasih.

“Jadi, apa kau kira puluhan gadis-gadis lebih bodoh karena mengidolakan pria bertampang bodoh ini?” tunjuk Furukawa kearah puluhan gadis-gadis seumuran mereka yang setia mengidolakan Yuki. Pria itu terkenal sebagai seorang model majalah. Postur tubuh dan garis wajahnya yang unik membuat pria itu memiliki daya tariknya sendiri.

….

Desember, 2013 – South Korea

Gadis-gadis di Anyang High School berteriak histeris saat membaca papan pengumuman, begitu pula dengan Bae Suzy. Dengan mata yang berbinar-binar ia berlari-lari menaiki tangga menuju ruang kelas 2-A. Disana sudah banyak gadis-gadis yang berdesakkan ingin menemui para selebriti sekolah. Dari balik kaca terlihat Yuki yang kewalahan melayani para gadis yang ingin mengajaknya sebagai pasangan nanti malam. Tetapi bukan Yuki yang ingin ditemui Suzy. Dibangku paling belakang, terlihat pria dingin bermarga Kim. Otak cerdas dengan IQ yang bisa dibilang luar biasa tak heran banyak gadis yang mengincarnya. Namun satu kekurangan pria itu, tak pernah ia terlihat dekat dengan seorang wanita.

“Suzy-ah, kau ingin mengajak L sebagai pasanganmu bukan?” seorang gadis bernama Dasom menghampiri Suzy. Gadis itu adalah salah satu murid dari kelas yang sama dengan L maupun Yuki. Ia adalah sumber informasi bagi Suzy. Dasom adalah satu-satunya teman yang bisa diandalkan bagi Suzy.

“Hhmm, ne. memangnya ada apa Dasom-ah?” mata Suzy masih tak lepas menatap L yang sibuk membaca sebuah komik.

“Lebih baik urungkan saja niatmu. Saat ini mood L sedang tidak baik. Coba kau lihat gadis-gadis yang berdiri mematung disitu, mereka baru saja mendapat tatapan tajam L” jelas gadis manis itu. Tak ada yang dapat menyurutkan semangat Suzy. Dengan langkah panjang, ia menerobos segerombolan makhluk berjenis kelamin wanita yang mengantri menemui L. Hingga dirinya berhasil berada di hadapan L. Tak ada respon dari kedatangan Suzy.

“Ekhem, aa.. anu.. hhmm.. apa kau mau men..” belum sempat Suzy menyelesaikan kalimatnya, L memberikan tatapan tajam sama seperti yang diberikannya pada gadis-gadis sebelumnya. Tak ada reaksi dari Suzy. Lima detik mata mereka bertemu, degupan jantung Suzy kini lebih baik dari sebelumnya. Hingga tak lama setan yang mendiami tubuhnya kembali bangun. Teriakan histeris membuat seisi ruang kelas memfokuskan perhatiannya kearah gadis aneh itu.

“KYAAAAA! KAU TAMPAN SEKALI L KIM!!!!” mata L semakin tajam saat dirinya menjadi pusat perhatian. Apalagi saat gadis bermarga Bae itu menciptakan kegaduhan dikelasnya. Dan tak lama Dasom datang dan menarik sahabatnya yang sedikit memalukan untuk meninggal ruang kelas ini. L terus menatap gadis aneh itu yang perlahan menciptakan jarak antara mereka. Mata Suzy yang masih terus bertatapan dengan L, bibir gadis itu yang masih saja tertarik ke atas.

“L KIM! APA KAU MAU MENJADI PASANGANKU NANTI MALAM??” itulah keributan terakhir yang di tangkap oleh indra pendengaran L. Hingga Suzy benar-benar menghilang, L menghela nafasnya panjang, Namun ada suatu hal yang salah pada dirinya. Sudut bibir pria itu terangkat.

….

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring tepat menembus gendang telinga Suzy. Untuk hari ini terpaksa Suzy harus menunggu Yuki menyelesaikan ekskul basketnya. Tidak ada siswa lagi yang berada di sekitaran gedung sekolah. Suzy yang paling benci dengan yang namanya olahraga, tidak akan menginjakkan kakinya ke dalam gedung di belakang sekolah, dimana Yuki sedang latihan saat ini. Gadis itu memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian mengelilingi gedung sekolah. Tanpa bosan ia berjalan perlahan melewati pintu demi pintu, menyanyikan beberapa lagu yang terdengar dari headset yang terpasang di telinganya. Tanpa disadari, seorang pria yang dikenal dingin itu mengikuti Suzy dari belakang. Ia selalu memegang kamera digitalnya kemanapun ia berada. Suzy terus saja berjalan lurus tanpa mengetahui apapun hingga kilatan blitz menyadarkannya. Gadis itu menatap ke belakang, memperlihatkan wajah kaku L.

“Oh! L Kim. Mengapa kau disini?” baru kali ini Suzy melihat tingkah L yang gelagapan. Namun dengan cepat dapat diatasi.

“Bukan urusanmu” L langsung berjalan melewati Suzy yang masih menatapnya dengan pandangan heran. Dan tak berapa lama, L menghentikan langkah kakinya.

“Ya” entah apa yang dikatakan pria itu. Kini dipikiran Suzy, pria yang dikaguminya lebih aneh dari dirinya sendiri.

“Apa maksudmu L-ssi? Kau tahu sendiri kalau aku sedikit bodoh” pengakuan gamlang keluar begitu saja dari mulut Suzy. L kemudian membalikkan badannya dan berjalan mendekat ke arah Suzy. Hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Kali ini benar-benar di luar perkiraan Suzy. Bola mata gadis itu rasanya akan keluar. Tersadar dari lamunannya, ia menjauhkan wajahnya dari dada bidang L. Pria itu hanya mengangkat sebelah sudut bibirnya saat melihat reaksi Suzy.

“Hhm.. apa… yang.. k..” kegugupan Suzy bertambah parah saat L setengah membungkuk kearahnya, sehingga mensejajarkan wajah mereka.

“Ya. Aku akan menjadi pasanganmu nanti malam. Jam tujuh, aku tunggu di depan rumahmu”

….

Malam ini kamar Suzy berubah menjadi butik kecil. Semua koleksi bajunya bertebaran di mana-mana. Suzy ingin berdandan habis-habisan, berusaha mengolesi lipstick hingga terlihat seperti badut, bahkan bedak tebal yang dipakainya sehingga menyamai pucatnya hantu. Gadis lain mungkin akan dibantu ibu mereka, namun berbeda dengan Suzy yang harus berusaha sendiri karena ibunya telah meninggal dunia saat melahirkannya. Ayah Suzy yang bekerja sebagai dokter bedah jantung tidak selalu berada di rumah. Suzy sudah terbiasa dengan kehidupan sunyi seperti ini. Tepat jam tujuh, bunyi klakson mobil terdengar. Suzy bergegas keluar rumah menghampiri L.

“Mian, membuatmu menunggu” sapa Suzy tergesa-gesa. Bahkan ia belum mengenakan sepatunya. L memperhatikan gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Suzy mengenakan mini dress berwarna soft putih. Dengan kain yang halus tanpa lengan sehingga memperlihatkan bahunya. Rambutnya yang panjang dan lurus tergerai begitu saja. Kemudian reflex ibu jari L menyentuh bibir merah Suzy.

“Apa kau membiarkanku berpasangan dengan sadako.” Entah apa maksud pria itu. Apakah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan. Tidak ada intonasi yang tepat dari mulut L.

“Cepat hapus lipstikmu bodoh, atau kau ingin aku yang menghapusnya” otak lamban Suzy tidak dapat mencerna kalimat demi kalimat yang dilontarkan L. Pria yang mengenakan tuxedo hitam itu tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Dengan gerakan sigap ia menarik lengan Suzy kemudian mengecup bibir gadis itu dalam diam. Mata gadis itu membelalak lebar. Tidak melakukan apa-apa, hanya menempelkan dalam hitungan detik. Tersadar dari apa yang mereka lakukan, Suzy perlahan mendorong dada bidang L untuk menjauh. Namun apa yang pria itu lakukan, ia memperdalam ciuman mereka, dengan hati-hati tentunya. Dengan tangan kanan yang masih tetap menahan lengan Suzy agar tidak memberontak. Semakin dalam ciuman mereka di bawah cahaya bulan, membuat burung-burung gagak tak berani berterbangan mendekati kedua orang itu. Tubuh Suzy bergerak gelisah, tangan kiri gadis itu yang masih bebas kini memukul-mukul bahu L dengan keras, hingga L membiarkan gadis itu lolos.

“Ada apa?!” Tanya L setengah membentak. Antara egois atau apalah akibat kesenangannya terganggu.

“Kau tidak membiarkanku bernafas bodoh!” balas Suzy dengan wajah yang sulit di terjemahkan. L menatap mata gadis itu teduh.

“Mian”

….

Pesta mewah yang diselenggarakan sekolah dipenuhi dengan siswa siswi yang bertranformasi. Pesta malam ini tentu juga dihadiri oleh guru-guru mengingat ini adalah pesta ulang tahun emas Anyang High School. L masuk bersama Suzy, mereka berdua berjalan canggung memasuki gedung yang disulap menjadi berkilau. Semua mata memandang mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. L berjalan kearah sudut ruangan, mengambil segelas wine diikuti Suzy yang juga ikut mengambil segelas wine.

“Kau minum ini” kata L menyodorkan segelas jus jeruk, Suzy menerimanya dengan berat hati saat L menukar gelas wine yang ada di tangan gadis itu dengan jus jeruk. Yuki datang menghampiri mereka berdua, lebih tepatnya datang menghampiri Suzy.

“Pada akhirnya kau datang bersama L-ssi. Apa dia melakukan sesuatu yang macam-macam? Kau harus melaporkannya padaku, oke?” goda Yuki sembari mengacak-acak rambut Suzy. Menunjukkan kemesraannya dengan gadis yang baru saja berciuman dengan L. Pria bermarga Kim itu berdehem pelan, seolah olah memberitahu keberadaannya.

“Ah.. benar. Aku lupa bahwa malam ini Suzy adalah pasanganmu L-ssi. Ngomong-ngomong bagaimana ceritanya kau bisa datang bersama Suzy? Apa kau mulai menyukai gadis ini?” pertanyaan yang dilontarkan Yuki membuat jantung Suzy berdetak tak karuan. Ia ingin tahu apakah benar L menyukai dirinya, terlebih lagi mereka barusan berciuman.

“Tentu saja tidak. Tidak mungkin aku menyukai gadis bodoh seperti dia. Lagipula aku kasian melihat dia terus mengemis dihadapanku. Ku kira, sudah dua tahun kau menyukai, benar Suzy-ssi?” tidak seperti yang diharapkan. Mata gadis itu memanas, butiran kecil mengalir dari sudut matanya. Tanpa pikir panjang gadis itu menyiram tuxedo L dengan jus jeruk yang digenggamnya sedari tadi.

“Jadi kau hanya mempermainkanku?! Kau keterlaluan L!” Yuki langsung menghantam wajah tampan L itu dengan satu buah pukulan keras. Suzy berlari meninggalkan ruang itu dengan kesunyian.

“Jika kau tidak serius lebih baik jauhi Suzy”

….

November, 2014 – Okinawa, Japan

Setelah hari itu, tidak ada lagi hari-hari special bagi L. Terasa hampa baginya. Suzy juga telah menjauhinya. Jika berpapasanpun gadis itu akan acuh bahkan seolah-olah tidak merasakan keberadaan L. Begitupula yang terjadi kedepannya hingga setahun ini. Kesibukan di bandar udara Haneda tampak seperti biasa. Para wisatawan asing memenuhi pintu kedatangan. Pria bermarga Kim dengan setelan baju musim dingin berwarna hitam nampak sangat mengundang perhatian orang-orang disekitarnya. Siapa yang tak kenal keluarga Kim pemilik Gramber Corporation. Perusahaan otomotif asal Korea Selatan ini sudah mendapat pengakuan dunia dengan polling dari berbagai survey terpercaya. Ribuan cabang perusahaan tersebar di dunia, membuat nama perusahaan keluarga Kim ini sangat terkenal beberapa tahun ini. Bahkan keluarga Kim sudah seperti selebriti yang mengalahkan para pekerja hiburan di search engine. Foto-foto anak pertama keluarga Kim sangat mudah kalian dapati, mengingat wajahnya yang tampan. Namun banyak rumor tak sedap setahun lalu akibat foto perkelahian L Kim dengan seorang model yang menjadi hot topic.

L Kim berjalan lurus melewati puluhan pasang mata yang menatapnya penuh minat. Pria berwajah dingin itu tidak mempedulikan sekelilingnya. Dengan kondisi pikirannya masih beku mengingat besok adalah hari terakhirnya di sekolah. Pikirannya kalut akibat seorang gadis yang berhasil menerobos masuk ke dalam hatinya selama bertahun-tahun. Namun sayangnya L Kim tidak bisa mengambil keputusan secepat rivalnya.

“Excause me, are you L Kim right?” seorang pria berwajah manis menyapa L Kim. Pria itu membawa sebuah koper, sepertinya dia juga menaiki pesawat yang sama dengan L.

“Hhmm. Looks like I know this sounds. Xi Luhan?” Pria berdarah china itu perlahan melepas kacamata hitamnya yang sedari tadi bertengger manis dihidungnya. Senyum manis atau lebih tepat cengiran ringan ditunjukkan pada L.

“Hahaha, I know you won’t forget the most handsome man in junior high school” Terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Luhan yang awalnya terlihat cool, kini tampak seperti anak kecil yang bertemu dengan teman mainnya.

“Jangan dekat-dekat denganku Xi Luhan. Kau membuatku mual” L yang bertemu dengan teman lamanya kini menunjukkan perubahan walaupun hanya sedikit. Tidak ada senyum yang ditunjukkannya, namun setidaknya ada ekspresi yang ditunjukkannya.

….

Future Resort, Okinawa

Bangunan yang terletak di pinggir bibir pantai ini nampak sangat indah dan kental dengan suasana Jepang. Bunyi ombak yang terdengar dari kejauhan mengundang perhatian L, namun sayangnya siang ini ia ada janji akan mengunjungi rumah Xi Luhan. Melihat jarum jam menunjukkan pukul dua belas siang, L langsung bergegas mengambil jaketnya dan berjalan meninggalkan kamarnya. Resort ini benar-benar sepi, padahal fasilitas dan tempatnya sangatlah strategis. Bahkan interiornya sangat mengundang mata. Namun selama ia berjalan, tak ada seorangpun yang berpapasan dengannya. Di lobby sudah ada Luhan yang melambai-lambaikan tangannya ke arah L yang melamun.

“L Kim!!” teriakan Luhan membangunkan L dari lamunannya. Selama perjalanan menuju rumah Luhan, tak ada sepatah katapun yang dikeluarkan L. Dalam pikirannya, pantai Okinawa sangatlah terkenal. Bahkan di internet terpampang jelas bahwa hampir semua penginapan di Okinawa akan penuh dalam bulan liburan seperti ini, namun kenyataan yang dihadapinya berbeda.

“Luhan-ah, kenapa di okinawa sepi sekali?” Tanya L pada Luhan yang sedang mengemudi. Luhan hanya menatap heran kearah pria yang duduk di sampingnya.

“Hanya perasaanmu saja L”.

….

Keluarga Luhan merupakan teman orangtua L. Sama-sama seorang pengusaha. Keluarga Luhan sudah menganggap L sebagai anak mereka, mengingat dulu anak itu selalu datang mencari Luhan untuk bermain game atau apapun yang dianggapnya menarik. Hari ini L sampai lupa waktu, hari sudah sangat gelap dan sudah saatnya kembali ke penginapannya.

“Tuan Xi, nyonya Xi saya rasa sudah saatnya untuk kembali ke peginapan” kata L menghampiri orangtua Luhan. Wajah ibu Luhan nampak sedih.

“Nak L lebih baik menginap disini” ajak nyonya Xi, namun L menggeleng ringan.

“Malam ini juga saya harus kembali ke Seoul” jelas L. Nyonya Xi hanya mengelus puncak kepala L khas keibuan.

“Nak L sudah dewasa. Padahal saat di junior high school kau masih bertingkah seperti anak SD. Pasti kau sudah memiliki kekasih” L hanya menunjukkan senyum, yang dipaksakan. Sementara Luhan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sangat hafal dengan sifat sahabatnya itu. L memiliki sifat dingin. Sangat pemalu terhadap lawan jenis. Bahkan akan sangat kaku saat ia bertemu dengan orang yang dicintainya. Dan fakta yang terpenting, ia akan berpura-pura dingin untuk menutupi kekakuannya sehingga dapat menyamarkan isi hatinya. L Kim tipikal pria dengan gengsi tinggi yang tak akan mengakui kesalahannya, itulah sisi buruknya. Namun bagaimanapun juga, ia pria yang penyayang dan tulus.

“Eomma, L sangat payah dalam hal percintaan. Kau akan menyinggung perasaannya” goda Luhan sehingga membuat wajah L kusut.

“Sudah-sudah kau berhenti menggoda nak L. Lebih baik sekarang kalian harus bergegas” kata tuan Xi. L mengangguk diikuti Luhan.

….

Di resort, L sama sekali tidak beristirahat. Padahal masih ada beberapa jam yang bisa dimanfaatkannya. Suara ombak seolah-olah menggodanya. Lantas hanya dengan mengenakan kaus putih tipis dengan celana jeans ia keluar berjalan ke arah pantai. Dingin sekali malam ini, namun cahaya bulan dapat menghangatkan tubuh pria itu. Dari kejauhan terlihat jelas bentang laut yang tak terjangkau. L duduk di atas pasir putih, melemparkan pandangannya kearah ombak yang pasang surut. Tak sampai lima menit tiba-tiba sepasang kakek nenek berjalan beriringan. Sangat romantic dari apa yang mereka lakukan, namun dari lubuk hati L terpancar kecemburuan. Sang pria tua itu memapah sang istri yang terlihat lemah. Mereka berjalan lamban termakan usia. Hingga mereka duduk di atas pasir, tak jauh dari L berada. Laut biru yang terbentang luas dan seorang pemuda menjadi saksi ikatan cinta sepasang suami istri yang telah menjalin cinta lebih dari setengah abad. Pahit manis yang dialami mereka merupakan kisah cinta yang tak akan terlupakan. Kesetiaan sang pria terlihat jelas dari sorot matanya yang teduh saat menatap sang wanita. Tak ada penyesalan dari pria berdarah jepang itu saat meminang sang mempelai. L mengenali wajah kedua orang itu, tidak terasa asing baginya.

“Suzy-chan, apa kau kecewa?” bisik pria bernama lengkap Furukawa Yuki tepat di telinga istrinya. Tanpa berkedip, Suzy berusaha menangkap maksud sang suami. Sementara pria muda bernama L itu hanya melongo menatap kearah kedua orang yang dikenalnya itu. ‘Apakah ini mimpi?’ gumam L.

“Apakah aku pantas kecewa? Kurasa selama ini kau selalu gagal membuatku kecewa” suara wanita tua itu nampak lemah. Dilihat dari wajahnya yang pucat dapat diketahui bahwa sudah berapa banyak obat yang dihabiskannya untuk bertahan hidup, itulah yang L coba mengerti.

“Kukira kau kecewa karena aku membuat pemasukan resort menurun?” L tertegun mencoba menerjemahkan maksud Yuki. ‘Resort? Apakah resort ini maksudnya?’ gumam L. Saat pria bermarga Kim itu menatap wajah Suzy dalam, tak banyak perubahan. Hanya rambutnya yang memutih termakan usia itu terjalin lurus. Permukaan kulitnya yang mulai keriput bahkan tak mengurangi kecantikan alami Bae Suzy. Suara ombak malam dengan cahaya rembulan mengundang perhatian Suzy hingga membuat wanita tua itu tersenyum hangat. ‘Kau masih sama seperti dulu’ gumam L.

“Seharusnya kau berkata kalau aku kecewa karena tidak ada yang akan mengurus kita berdua suatu hari nanti” kata wanita itu. L mulai mengerti seperti apa kondisi pernikahan mereka. ‘Mungkinkah mereka tidak memiliki anak?

“Apa kau ingin kita mengadopsi seorang anak?” Tanya sang suami. Yuki mendekatkan tubuhnya meminimalisir dinginnya angina malam. Hati L mencelos, ia mengerti seperti apa kesetiaan yang diberikan Yuki. ‘Mungkinkah aku bisa seperti dia? Mungkinkah aku bisa melebihi dia?’

“Apakah belum terlambat? Sejujurnya aku berharap kita mendapatkan seorang anak yang bisa merawatmu jika aku pergi duluan. Kau sendiri tahu kondisi kesehatanku tidak memungkinkan untuk bertahan hidup lebih lama lagi dan ..” belum sempat Suzy menyelesaikan kalimatnya, namun air matanya menetes terlebih dahulu. L tak dapat berkata apa-apa lagi.

“Jangan pernah berpikir aku akan membiarkanmu pergi tanpa menikmati hidup yang kau dambakan Furukawa Suzy. Lebih baik aku yang menderita dari pada membiarkanmu terus berpura-pura tersenyum hingga akhir hidupmu. Aku sudah sangat bahagia menikahimu. Bahkan aku tidak menyesal menikahimu saat aku tahu kau mengidap penyakit sedari kita kenal dulu. Aku ingin melihat kau hidup kembali tanpa penyesalan” jelas Yuki setengah berbisik namun masih dapat di tangkap oleh indra pendengaran L Kim. Entah bahagia atau sedih yang saat ini L rasakan. Isi otaknya kalut, tidak tau harus bagaimana. Apakah ini mimpi atau masa depan yang akan terjadi?.

“Anak muda, bisakah kau potretkan aku dan istriku?” L tersadar. Ini kenyataan? Itulah yang dipikirkannya saat Yuki Furukawa menyodorkan sebuah kamera digital kepadanya. Sementara Suzy melemparkan senyum kepada L yang hanya bisa menelan ludah. Ia menerima kamera digital itu kemudian mengambil tempat yang tepat untuk membidik keduanya.

“Bersiap, satu, dua, tiga” tepat dihitungan ketiga, dari ujung lensa terlihat cuplikan-cuplikan kehidupan gadis yang dicintai L. Bagaikan roda waktu yang terus berputar ke masa depan. Hari dimana gadis itu berusaha dilahirkan. Mulai merangkak oleh bantuan sang ayah. Hari dimana gadis itu mengenakan seragam untuk pertama kalinya, membuat L tersenyum sendiri. Hingga memasuki masa SMA, ia melihat siluet dirinya yang selalu diperhatikan oleh Suzy, begitupun sebaliknya ia melihat dirinya yang selalu diam-diam memotret Suzy. Lalu potongan kisah gadis itu disaat hari ulang tahun sekolah, L merasa bersalah saat melihat gadis itu mengis karena dirinya. Semakin lama semakin menyesakkan hati. Melihat gadis itu ternyata diam-diam menahan sakit di dadanya, meminum obat yang rutin dibawanya. L tersadar, kalau dirinya masih kurang mengenal sosok Suzy. Dan cuplikan singkat hari kelulusan, dimana gadis itu dilamar Yuki Furukawa. Apakah hal itu akan benar-benar terjadi?. Roda berputar semakin cepat, hingga kembali ke hari ini, saat L selesai memotret sepasang suami istri itu jantung sang wanita berhenti berdetak.

“Tidak!!!” L melempar kamera digital itu ke atas pasir. Kemudian menatap kearah sepasang suami istri yang sedari tadi berdiri dengan senyum mengembang, namun hanya ada Suzy di depannya. Lantas L mendekati wanita tua dengan garis kulit yang mengkeriput termakan usia. L memeluk wanita tua itu erat, rasa hangat yang masih sama saat terakhir kali L mendekap tubuh Suzy.

“Maafkan aku..” gumam L ditengah pelukannya, namun tiba-tiba tubuh Suzy menghilang seperti angin. L menatap sekeliling, tak ada apa-apa selain dirinya. Diapun terduduk di atas pasir putih. Tak lama ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya.

“L-ssi, apa kau mencintai Bae Suzy?” suara Yuki terdengar dari balik punggung L. Dengan tubuh yang tidak seoptimal masa mudanya, pria jepang itu masih dapat dikatakan sehat. L tidak menjawab pertanyaan itu.

“Entah apa isi hatimu, aku tidak peduli. Aku hanya ingin kau mendampingi Suzy saat aku tak ada di dunia ini, karena aku percaya padamu. Namun jika kau tidak bersedia untuk mendampinginya maka kehidupanku dan Suzy akan tetap seperti saat ini, itu semua tergantung pilihanmu” perbedaan umur yang jauh di antara mereka berdua saat ini, namun masih terlihat jelas semangat Yuki saat berdampingan dengan L seperti saat muda dulu. Setelah mengakhiri kalimatnya, Yukipun ikut menghilang seperti Suzy sebelumnya. L masih terdiam di tempat, hingga bibir ombak yang pasang menyentuh kakinya L-pun menghela nafas panjang dan menatap resort tempat menginapnya yang ternyata terlihat ramai walaupun waktu menunjukkan tengah malam.

….

November, 2014 – Seoul, South Korea

Saat ini adalah hari yang ditunggu-tunggu. Hari terakhir mengenakan seragam sekolah, hari terakhir menyandang status sebagai siswa, dan hari terakhir gadis itu akan benar-benar melepaskan L. Di lapangan upacara siswa-siswi berkumpul siap melepas rindu satu sama lain. Suzy mengeluarkan iphonenya kemudian melakukan beberapa selca bersama Dasom. Nampak kesedihan di mata mereka berdua. Dari kejauhan, L memperhatikan seorang gadis beramut panjang itu. L mengganti lensa kameranya, kemudian mengabadikan beberapa momen dari kejauhan. Hanya ada satu objek yang diabadikannya selama ini.

“Jangan hanya membuang-buang waktu dengan mengumpulkan foto gadis itu” suara Yuki menghancurkan konsentrasi L. Kali ini pria itu tertangkap basah.

“Aku berencana akan menikahi Suzy setelah lulus” kata Yuki serius. Nampak sekali dari wajah L yang tak senang. Pria bermarga Kim itu kembali memikirkan kejadian tadi malam saat di Okinawa. ‘Apakah akan menjadi kenyataan? Ataukah aku perlu membuat perubahan?’

“Jangan khawatir. Kau tahu sendiri aku seorang model, jadi setidaknya aku sudah mampu menghidupi gadis itu dengan penghasilanku selama ini” jelas pria jangkung itu. L tidak menanggapi perkataan Yuki. Kini dia memfokuskan dirinya dengan semua hipotesis yang berhasil dikumpulkan. Otaknya berpikir rumit, hingga semua kekuatannya terkumpul sempurna. Mata elang pria itu kembali seperti semula.

“Terima kasih telah memberikanku harapan, Yuki-ssi” L bergegas meninggalkan Yuki yang hanya bisa menatap punggung L hingga menghilang dari kejauhan. Ia sudah mempersiapkan semuanya dengan sempurna.

“Mungkin ini adalah pilihan yang terbaik”

….

Suzy dan Dasom sibuk mengambil gambar bersama dengan guru-guru yang ada. Mereka menghabiskan waktu dengan gembira berdua. Mengingat Dasom adalah teman dari SD, maka mereka benar-benar dekat dan saling memahami. Tiba-tiba suara histeris para gadis di lapangan menarik perhatian kedua gadis itu. L yang berlarian kea rah Suzy menjadi pusat perhatian para gadis yang memang selalu mengidolakan L. Suzy menatap L heran, antara senang dan bimbang.

“Ada ap..” belum sempat Suzy menyelesaikan pertanyaannya, L langsung menarik paksa gadis itu. Lebih tepatnya menculik gadis itu. Suara histeris membeludak, begitu pula para guru. L membawa gadis itu memasuki gedung sekolah, melewati koridor sekolah yang panjang dengan langkah panjangnya. Suzy seperti terseret-seret akibat kakinya yang pendek hingga tak lama akibat keseimbangannya yang payah, iapun tersungkur di lantai.

“Payah sekali” ucap L dan tanpa menunggu lama ia menggendong Suzy ala bridal kemudian melanjutkan langkahnya kearah gudang yang tak pernah dipakai lagi. Mereka memasuki ruangan gelap itu masih dengan posisi yang membuat siapa saja ingin mengumbar senyum. L kemudian menurunkan gadis itu dan langsung menyalakan lampu. Suzy tak bisa membendung airmatanya. Benar-benar di luar perkiraan. Ia bahkan tidak menyadari semuanya sama sekali.

“Aku ingin melompat dari lantai tujuh” ucap Suzy. Sedangkan L hanya mencoba menahan tawanya. Sudah lama ia mengumpulkan semua foto ini. Bahkan ia sempat putus asa karena kejadian tahun lalu.

“Kau tahu, aku duluan menyukaimu sebelum kau mulai menyukaiku” jelas L sembari menatap foto dimana pertama kali ia melihat Suzy. Semua gerak gerik gadis itu diabadikannya dalam diam. Suzy yang bodoh hanya dapat menangis lebih tepatnya terharu.

“Dan apa kau bermaksud ingin menjadikanku sebagai pacarmu?” Tanya Suzy dengan tampang bodohnya itu. L hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Kalau begitu aku tidak perlu menjawabnya bukan?” L mengangguk tanda mengiyakan. Kecupan singkat mendarat di bibir Suzy kemudian bergantian dengan pelukan hangat yang diberikan L.

“Kenapa hanya begitu?” Tanya Suzy melepaskan pelukan L. Gadis itu menuntut ciuman yang lebih dari sekian lama tak pernah berbicara dengan L.

“Apa kau ingin kehabisan nafas seperti tahun lalu?”

The End

 

 

 

 

*Bagaimana teman-teman? Apakah terhibur? Saya ngetik dalam sehari. Di semester ini ada mata kuliah ‘Menggambar Rekayasa’ yang selalu mengejar date line, jadi menguras hati dan pikiran (hati: gak ada waktu untuk pacaran, pikiran: gak ada waktu mikirin Yuki Furukawa eh)

 

 

 

Lagi baik hati nih, jadi aku akan menyempilkan Skuel:

“Headline news kali ini datang dari berita duka model tampan yang lagi naik daun. Sekian lama berkarya diindusri hiburan, model tampan asal Jepan Yuki Furukawa dikabarkan meninggal dunia. Tak ada penyebab pasti, namun dari kabar yang kami peroleh model yang baru sama lulus dari bangku SMA itu mendonorkan jantungnya kepada seseorang yang dikenalnya. Yuki Furukawa yang ternyata yatim piatu telah memperoleh penghasilan yang luar biasa. Selama ini di usia muda ia mengelola sebuah resort terkenal di Okinawa Jepang dan sisa penghasilan lainnya ia sumbangkan ke panti asuhan di Tokyo. Sekian headline news dari saya”

….

37 responses to “[ONESHOOT] AGAPE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s