[Ficlet] When I Come Back Home

When I Come Back Home

l y r i (@nisrinaal_) present

When I Come Back Home [Myung-Yeon version]

Inspired by Nu’est – Hello and Korean Drama I Hear Your Voice

Kim Myungsoo, Park Jiyeon

angst, romance

I just pretend to be okay.

.

.

Hari ini jam 9 pagi di Taman Hangang. Aku menunggumu.

Myungsoo tak hentinya mengulum senyum semenjak butiran salju turun ke bumi malam tadi. Perayaan romantis langsung terbayang dibenaknya, pun mimik konyol yang akan dibuat kekasihnya saat melihat mobil ferrari terparkir di depan rumahnya. Tidak sia-sia kan ia bersekolah selama lima tahun di Negeri Paman Sam? Jelas tidak!

Tapi yang utama adalah rasa rindu yang menggebu. Sudah tak sabar untuk memanjakan rindunya lantas mengubahnya menjadi kehangatan yang sudah lama tak dirasakan.

Tungkainya melangkah lamat-lamat seolah enggan. Sebenarnya gugup. Dan untuk yang ketiga kalinya, ia mengecek penampilan lewat kaca bangunan yang dilewatinya. Dan tada! Sebuah objek berhasil menarik atensinya. Hanya setangkai mawar merah memang, tapi bermakna bagi hidupnya.

Lima tahun lalu, Myungsoo bukan siapa-siapa. Sebutlah hanya seorang anak tukang jahit kecil-kecilan yang hidup serba susah. Dan itu jelas membuatnya kesulitan membeli barang mewah seperti bunga mawar. Maka dengan rasa malu, ia hanya mampu memberikan bunga mawar yang dibuat lewat kain bekas Ibunya. Tapi kekasihnya tidak pernah protes akan kesederhanaan yang ia tawarkan. Sungguh, Myungsoo merasa bersyukur memilikinya.

“Myung!” sapa seseorang, tepat saat Myungsoo melangkahkan kakinya keluar toko bunga. Seperti biasanya, ia akan mengulum senyum sebagai jawaban. “Mau ke mana?”

“Bertemu Jiyeon di Hangang,” jawabnya, lantas dengan bangga mengibaskan mawar di depan muka Woohyun. Dan Woohyun adalah saksi pertama akan kehebatannya menyerang masa bunga kain. “Aku duluan, ya. Kau tahu kan dia bagaimana.”

Sebagai sahabat, Woohyun mustinya senang melihat Myungsoo kembali bertemu orang yang ia cinta. Tapi semuanya sangat kontras. Ia lebih memilih memandang sendu punggung Myungsoo–yang makin tak terlihat–dibanding mengejarnya lantas mengucapkan selamat atau sekadar menggodanya.

“Harus sampai kapan, Myung…”

.

.

Sepanjang jalan, mulut Myungsoo tak hentinya mengoceh karena telat datang ke Taman Hangang. Akhir-akhir ini Jiyeon agak sensitif. Dia tak mau menunggu walaupun sepersekian sekon. Dan itulah yang membuat mereka selalu gagal melepas rindu. Sehingga rasa rindunya selalu sama seperti pertama menjejakkan kaki di Korea–mungkin makin menggebu.

Dengan senyum yang merekah, Myungsoo melangkah lamat-lamat ke tempat biasa–sebuah ayunan dengan pohon menjulang tinggi di belakangnya. Rencananya masih sama seperti dulu; memberikan kejutan. Tapi, setelah ayunan mulai terlihat, wajah Myungsoo berubah menjadi masam.

Hanya sekumpulan anak kecil yang asyik bermain di sana, tanpa eksistensi Jiyeon.

“Padahal hanya terlambat lima menit, dan kamu tidak mau menunggu?” gumam Myungsoo kecewa lantas mengambil ponselnya.

Kamu di mana? Apa aku terlampau lamban?

 

Myungsoo menggosok kedua tangannya, bukan karena cuaca yang terlampau dingin, tapi meminimalisir rasa gelisahnya. Tapi semua percuma. Yang dipermasalahkan memang bukan Jiyeon yang mengecapnya si lamban, tapi akan kehilangannya sosok yang tak pernah lelah menunggu. Menunggunya datang menjemput, membalas pesan, bahkan menunggu waktu yang tepat agar bisa bertemu dengannya–dulu, Myungsoo hanya bisa pulang enam bulan sampai satu tahun sekali. Bagaimana tidak orang-orang menyebutnya penyabar?

Myungsoo menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pemikiran buruk akan hilangnya sosok Jiyeon yang dulu. “Ah, ini kan hari minggu. Dia pasti sedang mengejar para pria idamannya, Infinite, ke acara musik.” Senyum manisnya kembali kala mengingat hobi Jiyeon seperti kebanyakan gadis lain.

Mungkin menunggu adalah hal yang terbaik. Hitung-hitung memainkan memori di tempat bersejarah baginya, yah, sekadar bernostalgia.

.

.

Ini sudah jam ke tiga Myungsoo menunggu, dan ia sudah menyerah akan memori-memori indah yang pernah dibuat. Makin lama bernostalgia, makin besar perasaan takutnya. Takut kalau memori indah itu tak akan pernah bisa mereka buat lagi. Ia menghela napas berat.

“Memangnya ada acara musik apa, sih?” gumamnya, lantas merogoh ponsel di saku jaket.

Dengan cepat, jari-jari Myungsoo mengetikkan nomor telepon Jiyeon. Tapi hasilnya sungguh mengecewakan. Bukan suara Jiyeon yang mengisi ponselnya.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.

Myungsoo meringis, mengepal ponselnya keras-keras–tidak peduli kalaupun ponselnya rusak. Amarahnya sudah tidak dapat ditahan. Tidak. Ia tidak marah pada Jiyeon, sungguh! Ia hanya marah pada dirinya sendiri.

Maafkan aku, ya. Aku janji, besok akan menjemputmu pulang les piano. Setelah itu, toko ice cream adalah tujuan kita! Mari bersenang-senang!

 

.

.

Dua jam sebelum kelas piano bubar, Myungsoo sudah hadir di depan sekolah–tempat les seni. Tak ingin mengulang kesalahan, pun tidak sabar melihat Jiyeon yang selalu senang jika ia menjemputnya; apalagi sembari menenteng buah tangan.

Myungsoo merogoh kantung celananya, memastikan bawa kotak merah muda itu tak tertinggal. Isinya sebuah cincin, yang awalnya akan digunakan untuk melamar Jiyeon saat menjemputnya di bandara. Tapi takdir berkata, kalau Jiyeon tak perlu repot-repot menjemput.

Jadi mungkin saja, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengulangnya.

.

Kening Myungsoo berkerut kala melihat orang-orang keluar dari sekolah sebelum bel berbunyi. Seingatnya, kelas berakhir setengah jam lagi. Awalnya ia berniat mengambil ponsel, tapi saat itu juga Hyomin, sahabat Jiyeon, melewatinya.

Tak mau repot-repot mengejar, Myungsoo menarik tasnya dari belakang. Hyomin mendengus lantas membalikkan badannya kasar. Niatnya untuk membalas pupus kala melihat Myungsoo, orang yang ia hindari selama ini, berdiri di depannya.

“Tidak bersama Jiyeon? Apa dia pergi lebih awal?”

Hyomin menghela napas kasar lantas memejamkan matanya. Tingkah Myungsoo sungguh kekanakan. Bahkan ia tidak sadar kalau pertanyaan itu sudah dilontarkan puluhan kali.

Maka dengan lemas Hyomin menjawab, “Iya, Jiyeon pergi duluan, Myung…”

“Sudah ku duga! Baiklah, aku duluan!”

“Dia pergi lebih dulu…”

.

.

Suara bel mengiringi Myungsoo memasuki ice cream shop langganannya. Tanpa melanjutkan langkahnya, ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, mencari sosok yang sedang menunggunya. Tapi hasilya nihil. Merasa tak mungkin, ia pergi megecek satu persatu meja.

Kamu di mana, sih? Apa kamu masih marah?

 

Rasa takut dan khawatir itu datang kembali menyelimuti Myungsoo. Takut-takut Jiyeon masih marah karena peristiwa kemarin. Tapi, tidak ada hal yang dapat dilakukan lagi. Rumah Jiyeon tak berpenghuni sejak kepulangannya ke Korea. Pada akhirnya, ia hanya bisa mengirimi pesan walau tanpa jawaban.

Myungsoo meraih kotak merah muda dalam saku celananya, lantas dipandangnya dalam-dalam. Ini adalah kali kedua ia mencoba, dengan hasil yang masih sama; gagal. Mau tak mau, ia harus menunda dan kembali mengulang. Sebenarnya itu bukan masalah besar, apalagi jika akhirnya Jiyeon menerima lamarannya.

Balas pesanku, Jiyeon!

 

“Myung?”

Myungsoo melirik seorang dengan suara familiar itu, tanpa mengubah posisinya–bersandar pada tembok di sampingnya. Lagi, ia tersenyum membalas sapaan Woohyun yang kini tengah duduk di hadapannya.

Setelah membalas sapa, hening mengambil alih suasana. Myungsoo lebih tertarik dengan kotaknya, sementara Woohyun enggan mengangkat topik pembicaraan. Ia lebih memilih bungkam sembari menatap Myungsoo sendu.

“Myung dengarkan aku–“

“Eh, hyung. Kau tahu Jiyeon pergi ke mana? Dia tidak pernah membalas pesanku.”

“Myung–“

“Dia juga tidak pernah menjawab teleponku.”

“Dengar!”

“Dan, hyung. Kenapa nomornya selalu tidak aktif, ya?”

Woohyun menghela napas panjang setelah menerima serangan dari Myungsoo. Myungsoo menatapnya serius, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Apapun jawabannya, Myungsoo akan percaya. Toh dia, saudara tirinya, selalu ada di samping Jiyeon selama ia pergi.

“Karena… dia tidak membawa ponsel ke surga, Myung.”

Dan saat itu pula, cairan bening keluar dari mata sipit Myungsoo. Yang makin lama makin deras.

“Hentikan semua aktingmu itu, Kim Myungsoo. Ku mohon…”

Bukannya mendengarkan, ia malah terus menangis sembari memandangi ponselnya juga kotak merah muda.

Aku sudah tahu semuanya, hyung.

Hanya saja… Aku ingin berpura-pura, kalau semuanya baik-baik saja.

.

.

Tabrakan beruntun tanggal 23 Oktober, yang menewaskan belasan korban, agaknya masih meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga juga masyarakat. Tak terkecuali bagi pemuda bernama Myungsoo, yang kala itu baru saja menginjakkan kakinya di Korea disertai rindu yang menggebu.

finish!

Wa.

Wa.

Wa.

Akhirnya bisa posting fanfiksi juga setelah sekian lama menghilang dari hsf((maafkan aku Kak Icaa)). Maaf banget jika feel-nya gak kerasa, makin lama jadi makin males ngeditnya. Padahal fanfiksi ini udah aku buat minggu-minggu lalu. Cuman ngeditnya itu looh.

Yap! Semua kalian suka storyline-ku ini. Bonus pict; Shiwoo ganteng.

myu

57 responses to “[Ficlet] When I Come Back Home

  1. huaaaa kerenn walau pun cerita nya sedih huuu sedih bangetrt baku kira jiyeon sengaja ninggalin myungsoo tau nya jiyeon meninggal ff nya kerenn aku sukaa lanjutt bikin ff yang romance myungyeon

  2. Suka tapi tapi…😥
    Kenapa sedih begini ceritanya? Myung belom bisa nerima kenyataan kalo Jiyeon udah meninggal ya? Huaa
    Woohyun sama Hyomin kenapoa malah kayaknya ngindar gitu? Kan lebih baik kalo Myung disadarin biar nggak berkelanjutan sedihnya. Hiks hiks hiks.

  3. awalnya ga bisa ditebak alur ceritanya, lama kelamaan semakin larut dengan isi cerita jadi paha. sendiri,,,
    keren ff mu chingu mampu menghipnotis wkwkwk
    ff mu selanjutanya ditunguu hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s