[CHAPTERED] THE HEIR’S SECRETARY (5th)

the heirs secretary3

arin yessy present

The Heir’s Secretary (5th chapter)

recent chapter? click HERE

starring : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Kim Woobin | lenght : multichapter | genre : romance, hurt/comfort | rated : PG-15

Happy Reading~~~~

Kutumpukan kedua sikuku di atas meja kerjaku dengan pikiran melayang-elayang entah dimana. sementara tumpukan berkas-berkas kerjasama dengan anak perusahaan KJS industrials belum selesai kubaca seluruhnya dan hanya teronggok di depan mataku. Minatku untuk mempelajari proposalnya sudah hilang sejak semalam. Ah tepatnya ketika dengan seenaknya ayahku mengatakan kepada semua orang bahwa aku akan bertunangan dengan puteri tuan Bae dari Maeda Corp. Tak bisakah ia mendiskusikannya terlebih dahulu denganku? Walaupun sudah pasti aku akan menolaknya, tapi setidaknya kenapa ia tak memberitahukanku terlebih dahulu? Damn! Aku benar-benar kesal sekarang.

Berkali-kali aku membanting gagang telepon di saat nomor yang hendak kuhubungi tak juga menyahut dari seberang. Aku sudah mencoba bertanya lewat sekretaris Jung dan ia mengatakan bahwa ayah sedang ada urusan bisnis keluar kota tepatnya di Jeju. Memangnya apa yang ia lakukan di Jeju di tengah musim gugur seperti ini selain untuk bertemu dengan presdir Bae.

Sungguh aku muak dengannya. Kupikir dengan bersedia memimpin perusahaanya, ia akan lebih menghormatiku sebagai puteranya dan memberiku kebebasan lebih dalam menentukan sikap. Ternyata aku terlalu bodoh karena terlalu mudah percaya pada ayahku sendiri, tak heran kenapa ibu meninggalkannya. Ia adalah pembohong besar.

“Trrrrttttt….” getaran ponsel dari balik tuxedoku sedikit banyak mengalihkan pikiranku dari rasa kesal yang meletup-letup.

“Hmm.. Waeyo?”

“Kau di suruh ayahmu datang ke Jeju sekarang juga” suara perempuan menyahut dari seberang. Suzy.. Pasti ayah sengaja memintanya meneleponku. Apa-apaan ini? Benar-benar kekanak-kanakan. Aku bahkan tak pernah bertegur sapa dengan gadis itu kendati kami sama-sama kuliah di New York dan pernah sesekali bertemu secara tak sengaja di depan Princenton karena tiap hari aku melewati kampusnya. Lagipula tentu saja aku dapat mengenali sosoknya dengan mudah. Wajah asianya terlihat sangat menonjol di antara penduduk new york kebanyakan. Namun sungguh aku baru saja tahu bahwa namanya bae suzy. Dan sekarang aku harus bertunangan dengannya. Aku bahkan ragu apakah ia dapat mengingatku.

“Kau masih di sana?”

“Eoh.. Aku tak janji bisa datang”

“Oh ayolah, aku benar-benar muak,. Cepatlah ke sini dan akhiri saja permainan ini” sungguh melegakan mengetahui bahwa tak hanya aku yang muak dengan rencana pertunangan ini.

“Baiklah aku akan di sana sebelum makan malam”

Aku menutup panggilan dengan perasaan kacau balau. Ingin rasanya aku membenturkan kepalaku sekeras-kerasnya dari balik tembok dan berharap bahwa aku akan bangun dalam keadaan hilang ingatan. Well, mungkin aku akan baik-baik saja selama aku stress dengan pekerjaan dan besarnya tanggung jawab yang dapat kuemban. Toh seperti biasanya aku akan dapat menyelesaikan semua permasalahan di perusahaan dengan kepala dingin. Tapiii jika aku harus menikah dengan gadis yang tak kuinginkan, entahlah aku benar-benar akan sangat tertekan. Bagaimana bisa aku hidup bersama wanita yang tak kucintai? Aku tak pernah berencana memiliki banyak perempuan dalam hidupku, karena yah.. Aku sudah terlalu sibuk mengurusi perusahaan, memangnya apa aku sempat mengurus wanita lain? Aku hanya menginginkan seorang wanita yang kucintai dan akan hidup bersamaku selamanya. Hanya sebuah keinginan simple yang tak akan di turuti oleh ayahku.

“Presdir.. Silahkan tehnya..”

Aku mendongakkan wajahku dan mendapati jiyeon yang telah berdiri tepat di depan mejaku sambil meletakkan secangkir teh hijau. Suatu hal yang selalu ia lakukan di pagi hari sebagai seorang sekretaris.

“Permisi”

“Tunggu..!”

“Ne?”

“Apakah kau akhir-akhir ini sengaja menjauhiku jiyeon-ssi?” aku menegakkan tubuhku dan berdiri di belakangnya. Nampak sekali ia sengaja menyembunyikan ekspresinya dari balik tubuhnya yang semampai.

“Aniya presdir.. Mungkin hanya perasaan anda saja”

“Oh ya? Kenapa kau tak berbalik dan menatap mataku?”

Lama sekali sebelum ia membalikkan tubuhnya. Seulas senyum kecil tersungging dari kedua sudut bibirnya ketika aku menatap lekat-lekat sosoknya.

“Saya sudah menatap presdir sekarang bukan?” sebuah tawa kecil nan nyaring terdengar darinya. Walaupun aku tahu persis ia tak sedang benar-benar tertawa sekarang.

“Kau belum menjawabku soal pertanyaanku kemarin malam”

Ekspresi tegang jelas sekali kentara dari raut wajahnya. Bibirnya yang indah dalam balutan lipstik merah itu bungkam, tak berani bersuara. Ia hanya menatap sayu ke arahku, sesuatu yang sangat sulit kuartikan. Sedangkan kalung berlian dengan inisal namanya dan namaku masih terpasang indah pada leher jenjangnya. Memang ia tak akan dapat melihat inisial yang ditanam di dalam liontinnya itu dengan mata telanjang, ia memerlukan mikroskop untuk itu. Dan semuanya memang sudah kurencanakan dengan baik karena aku memang memiliki maksud lain untuknya. Karena… Aku menyukainya, dan kurasa hatiku mulai bergetar ketika ia berada sedekat ini denganku.

“Presdir.. Ma–“

“Grepp”

Terlalu menyakitkan untuk mendengarkan jawabannya hingga yang ada dalam pikiranku sekarang adalah memeluk tubuhnya secara tiba-tiba. Dapat kurasakan tubuhnya menegang namun begitu ia tak menolak perlakuanku, tak dapat lebih tepatnya. Aku memeluknya sangat erat seakan tak ingin dunia mengambilnya dari rengkuhanku.

Ternyata seperti ini rasanya. Memeluk wanita yang kau cintai. Seakan wangi tubuhnya yang memabukkan dapat sejenak membuatmu lupa akan segala permasalahan yang membelitmu. Dan jiyeon masih saja membeku, ia tak bereaksi seperti yang kuduga sebelumnya. Sebuah desahan kecil keluar dari bibirnya menerpa tengkukku dan rasanya hangat menggelitiki permukaan epidermis kulitku, aku benar-benar menyukainya.

“Presdir, apa yang anda lakukan?”

“Ah.. Maafkan aku..” aku tersentak dan melepaskan rengkuhanku pada tubuhnya. Kilatan matanya menatap aneh ke arahku. Dan biarlah ia berpikir yang bukan-bukan tentang hal yang baru saja kulakukan. Karena sesungguhnya pun aku tak tahu setan apa yang baru saja mengambil alih roh dari ragaku tadi hingga aku melakukan hal yang tak seharusnya kulakukan.

“Ne, tidak apa-apa.. Permisi” ia menunduk ke arahku dan berjalan cepat hingga menghilang dari balik pintu.

Tubuhku rasanya lemas sekali hingga aku harus menopang tanganku di atas meja kerja. Pikiranku kacau balau, nafasku memburu, dan jujur saja ada banyak kegelisahan yang kurasakan saat ini.
Apapun yang terjadi aku harus menemui ayah dan membatalkan rencana gilanya.

 


 

Aku menatap tajam ke arah dua orang laki-laki paruh baya yang duduk berdampingan di hadapanku itu. Mereka tampak akrab satu sama lain dan membicarakan banyak hal termasuk soal rencana pertunanganku. Sementara sekilas ketika manik mataku menatap ke arah puteri tuan bae yang duduk di sampingku, ia masih setia berkutat dengan makanan yang ada di hadapannya tanpa sedikitpun tertarik untuk menyimak.

“Pranggg!!” kuletakkan dengan kasar alat makan yang kugunakan, sebuah pisau makan dan garpu menghasilkan bunyi berdenting yang cukup menyita perhatian seluruh pengunjung restoran ketika berbenturan dengan piring berbahan dasar keramik.

“Apa yang kau lakukan kim myungsoo?” ayah nampak berang dengan tindakan sarkatisku. Tapi siapa peduli dengannya saat ini. Aku bisa saja benar-benar berhenti menjadi presiden direktur di perusahaanya, toh aku pasti akan mendapatkan pekerjaan manapun yang kuinginkan dengan berbekal ijazah sekolah magister Columbia univeristy ku.

“Saya sudah muak dengan rencana kalian tuan-tuan.. Saya tegaskan lagi, bahwa saya tidak menginginkan pertunangan ini. Saya tidak bisa menikahi wanita yang tidak saya cintai bahkan saya yakin suzy pun berpikiran sama halnya dengan saya. Jadi tolong hentikan semua ini”

Presdir bae menatapku tak suka. Biarlah ia tak menyukai ucapanku, atau sekalian saja akan kupersilahkan jika ia membenciku. Karena hal itu merupakan pertanda bagus agar aku tak perlu menikahi puterinya.

“Jaga bicaramu kim myungsoo!” Ayah berdiri dari atas kursinya dengan menghentakkan sekali tongkat hitamnya di permukaan lantai marmer restoran.

“Kenapa aku harus menjaga bicaraku? Memangnya aku budak yang tidak boleh menyatakan pendapatku sendiri?”

Sebuah smirk terlukis dari kedua sudut bibirku. Kuyakin sekarang ayah benar-benar merasa malu dibuatnya. Dan aku hanya harus mempertegas argumenku bahwa keputusan aneh yang dibuatnya ini salah. Aku adalah kim myungsoo yang sudah dewasa, umurku bahkan akan menginjak dua puluh tujuh tahun tak kurang dari tiga bulan lagi. Bagaimana bisa seorang ayah mengatur puteranya yang sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap dan mengambil keputusan?

“Maaf tuan-tuan, saya benar-benar tak bisa meneruskan rencana pertunangan ini”

Dengan kasar aku memundurkan kursi yang kududuki hingga menimbulkan suara berdecit yang sangat tak enak untuk di dengar. Langkah kakiku tegap dan mantap meninggalkan tempat itu tanpa berniat untuk berbalik atau mengucapkan salam. Bagiku, tak ada lagi yang perlu di bahas atau diteruskan. Jikalau ayah akan memberiku hukuman, aku akan menerima apapun itu asalkan ia tak boleh lagi merenggut kebebasanku untuk yang kedua kalinya.

“Gomawoyo..”

“Tidak masalah.. Karena memang kita tidak mengingkan rencana pertunangan ini bukan?”

Gadis itu mengangguk pelan dan menghampiriku yang tengah duduk seorang diri di meja bar. Diambilnya ponsel yang sedari tadi berdering dari balik handbagnya tanpa memiliki niatan untuk menjawab panggilan yang tertera di permukaan layar touchscreennya.

“Dari ayahmu?”

“Eoh..” ia tersenyum sekilas dan memasukkan kembali handphonenya. Tangannya mengisyaratkan kepada salah seorang pegawai bar untuk menghampirinya.

“Berikan aku Tequilla sunrise.. Kau?”

“Aku sedang mencoba untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi alkohol” ia mengangguk mengerti

“Sekaleng soda untuk temanku” ujarnya dengan suara cukup keras dan diikuti oleh anggukan sopan si bartender perempuan.

Suasana klub malam yang terletak tak jauh dari hotel terlihat belum terlalu ramai dikarenakan waktu belum benar-benar larut sekarang. Hanya ada beberapa orang yang berdansa diiringi suara berdentam-dentam khas musik disko yang dibawakan oleh disc jokey di tempat ini. Sementara kerlap kerlip cahaya lampunya sedikit membuat mataku silau.

“Kau tak pernah datang ke klub malam sebelumnya?”

“Aku hanya tidak pernah datang ke klub malam yang umum seperti ini” yah, andaikan aku datang ke klub malam untuk berpesta dengan teman-teman kuliahku di new york silam, kami akan menyewa sebuah private room di dalam sebuah klub malam terkenal di dekat Brooklyn.

“Ngomong-ngomong, Kau sudah memiliki kekasih myungsoo-ssi?” aku tertegun dengan pertanyaannya. Jujur kukatakan bahwa ia adalah gadis yang sangat lugas dan blak-blakan. Ia hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya secara mentah-mentah tanpa perlu memikirkan perasaan orang lain. Andai saja aku bisa melakukan hal seperti itu.
Kurasa kedua orang tuaku terlalu mengekangku sejak kecil dengan sederet aturan yang sebetulnya tak aku mengerti kenapa aku harus mengikutinya. Termasuk dengan menjaga perasaan orang lain. Ughhh aku benar-benar benci sekarang. Andai saja aku dapat menjadi laki-laki yang lebih lugas dan jujur akan perasaanku sendiri, mungkinkah aku dapat membuat jiyeon jatuh le dalam pelukanku?

“Myungsoo-ssi, kau sudah memiliki kekasih?” gadis itu menelengkan kepalanya. Tampaknya ia tak suka ketika harus mengulang pertanyaan yang sama karena aku mengabaikan yang pertama tadi.

“Ani.. Aku hanya memiliki wanita yang kucintai..”

“Apakah maksudnya cinta bertepuk sebelah tangan?”

“Bukan.. Ia hanya tak tahu bahwa cintaku padanya begitu besar.. Salahku juga karena aku tidak memberitahunya dengan cukup jelas.”

“Kenapa kau tak memberitahunya yang sejujurnya?”

“Entahlah.. Kurasa aku belum memiliki keberanian” aku menghela nafas panjang dan memilih membuka tutup kaleng sodaku dan mulai meneguk sedikit isinya. Rasa soda bercampur aroma citrus dan mint yang ringan membasahi kerongkonganku yang kering. Terbersit sedikit kelegaan ketika aku dapat menyatakan penolakanku di depan ayah dan presdir Bae. Kuharap laki-laki tua itu tak mencoba menjodohkanku lagi dengan wanita lain.

“Jangan katakan itu karena ia adalah salah satu wanita yang ada di sekelilingmu, eoh? Apakah ia sekretarismu?”

“Uhukkkk!!!” hampir saja aku memuntahkan kembali soda yang telah masuk ke dalam lambungku. Aish jinjja, kenapa gadis ini bisa menebaknya dengan sangat baik? Dan kini sikapku yang kikuk membuat semuanya terlihat semakin jelas, seakan aku mengiyakan ucapannya secara tak langsung.

“Wae? Benar kan tebakanku??” sebuah tawa nyaring terdengar di udara, namun membuatku bungkam sejuta bahasa. Bagaimanapun suzy adalah puteri tunggal tuan Bae. Tak menutup kemungkinan ia bisa saja secara tak sengaja menceritakan semuanya pada ayahnya. Lalu kita semua tahu bagaimana dekatnya hubungan ayahku dan ayahnya suzy. Dan well,, endingnya akan mudah di tebak. Ayahku akan menyingkirkan jiyeon atau bahkan ia akan memisahkanku darinya.

“Aku pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya” ucapnya lagi.

“Benarkah?” kali ini aku sangat tertarik dengan kemana arah pembicaraan suzy akan berujung. Jika itu mengenai jiyeon, aku akan menjadi pendengar yang baik.

“Hmm.. Kami satu kelas ketika kelas tiga SMA sepertinya..”

“Lalu?”

“Yah.. Kulihat dia sangat pendiam dan tak pandai bergaul.. Aku sedikit kasihan padanya yang sering di bully oleh teman-teman kami hanya karena desas desus yang menyebar bahwa ia pernah di rawat di rumah sakit jiwa”

“MMWwOOO???!!”

“Jangan berteriak di depan kupingku! Aishh”

Tak kuhiraukan teriakan manjanya. Namun mataku menerawang ke depan, ke arah deretan botol-botol bir yang terpajang indah di dalam rak-rak kayu yang menempel pada beberapa bagian dinding bar. Tapi pikiranku tak benar-benar fokus ke sana. Kata-kata yang diucapkan suzy seakan telah terpatri dalam otakku.
Bagaimana jiyeon yang kukenal bisa masuk rumah sakit jiwa? Tidak mungkin. Ataukah hal ini hanyalah desas desus belaka? Apa sebaiknya aku mencari tahunya sendiri?

 


 

Pagi-pagi sekali aku sudah tiba di lobby kantor sementara para pegawai lainnya belum berdatangan. Sengaja kulakukan agar aku dapat bertemu jiyeon ketika ia tiba di kantor nantinya. Kurasa aku harus mengklarifikasi beberapa hal dengannya.
Kuhembuskan pelan nafasku sambil menatap lekat-lekat ujung sepatu hitamku yang mengkilap. Rupanya sikapku kemarin belum cukup buruk untuk membuat ayahku menurunku posisiku di perusahaan ini. Aku masih lah seorang kim myungsoo yang menjadi pesuruh dibalik embel-embel jabatan mewah bernama presiden direktur. Memakai tuxedo rapi dengan dasi halus dan mengerjakan sejumlah proyek, higga tanpa kusadari kantung mata di area kedua kelopakku semakin menghitam dari hari ke hari.

“Blamm” terdengar seperti suara pintu mobil di tutup dari luar lobby. Kutajamkan penglihatanku ke arah pintu masuk, dan sesuai yang kuharapkan, jiyeon masuk dengan langkah anggun sambil membawa setumpuk berkas di tangan kirinya sementara tangan kanannya sibuk menggeser-geser jari jemarinya pada layar handphone pink milikknya.

Rasa kagumku pada sosoknya semakin memuncak. Gadis itu cantik. Maksudku benar-benar sangat cantik dan aku suka sekali pembawaannya yang tenang namun tak terkesan di buat-buat. Kurasa aku memang menyukainya, entahlah mungkin juga mencintainya. Apakah terlalu dini mengatakan bahwa aku mencintainya? Sedangkan kami baru bekerja bersama tak kurang dari tiga bulan. Akupun tak tahu jawabannya. Bahkan ketika aku dengan sengaja membeli dan mengukir inisial nama kami pada liontin kalung berlian kala itu, sejujurnya aku tak tahu kenapa aku ingin melakukan hal bodoh itu. Hanya saja ada sesuatu dalam hatiku yang memintaku untuk melakukannya. Dan sekarang, Perasaan itu seakan meronta-ronta ingin keluar. Seperti ribuan kupu-kupu yang tertahan di dalam rongga dadaku yang sesak dan siap untuk beterbangan ke udara.

“Presdir.. Selamat pagi..” ia menunduk hormat ke arahku dan saat itu lah tatapan kami bertemu. Sebuah senyum hangat terlukis dari wajahnya nan indah ketika ia menarik kedua sudut bibir merahnya.

“Apakah ada hal penting hingga presdir berangkat sepagi ini?” kami tengah berdiri menunggu lift bersama ketika ia menanyakan pertanyaan itu.

“Ya, aku harus kembali memeriksa kontrak kerja dengan beberapa anak perusahaan” ia mengangguk pelan. Dan kami tak lagi saling bicara hingga masuk ke dalam lift. Suasana awkward menyelimuti kami berdua di saat tak ada salah satupun yang memulai perbincangan. Ingin rasanya aku mengatakan perasaan yang bergejolak dalam hatiku ini, alasan mengapa jamtungku berdegup lebih cepat ketika ia berada sedekat ini denganku. Tapi… Entahlah,

“Hmm…. Selamat untuk pertunangan anda presdir.. Saya turut berbahagia mendengarnya”

“Sebenarnya rencana pertunangan itu telah dibatalkan..”

“Ne???” ia menatapku tak percaya

“Tapi.. Bukankah komisaris sangat dekat dengan presiden bae?”

“Lebih tepatnya aku yang membatalkannya”

“Waeyo?” aku menatap heran ke arahnya. Apakah ia sedang penasaran denganku? Tapi aku lebih berharap bahwa ia akan senang mendengar berita ‘baik’ ini.

“Ah.. Mianhaeyo,, presdir tidak perlu memberitahu saya”

“Gwenchana, aku akan memberitahumu.”

“Baiklah.. Saya akan mendengarnya dengan seksama”

Aku menggigit bibir bawahku berusaha meredam kegelisahan dan gejolak emosi dalam jiwaku. Sementara ia masih menatapku dengan tatapan datar namun sesekali mengangkat sebelah alisnya, heran karena aku belum mengucapkan sepatah katapun padanya.

“Hemmm.. Aku sudah mencintai wanita.. Dannn,, erhhmmm.. Dia sedang berdiri di sampingku sekarang”

Aku tahu ia terkejut dengan penuturan yang baru saja kulontarkan. Namun ia masih ingin mengelak dan ekspresi ketidakpercayaan cenderung mengisi sebagian besar raut wajah cantiknya. Tapi bukan kim myungsoo namanya jika aku akan menyerah semudah ini.

Jadi kuhentikan sementara laju lift dan memastikannya tetap tertutup untuk beberapa waktu ke depan. Kudekatkan tubuhku ke arahnya, semakin dekat memangkas jarak diantara kami hingga tal ada satu inchipun yang tersisa sekarang. Tubuh rampingnya terpojok diantara dinding lift dan tubuhku. Bahkan aku dapat mencium wangi aroma mawar dan campuran citrus dalam parfum yang ia kenakan. Berkali-kali ia mendesah sambil sesekali menahan nafas ketika kuraih pinggang rampingnya dan melingkarkan lengan kananku disana, hingga refleks ia menjatuhkan lembaran-lembaran dokumen dan berkas yang sebelumnya ia bawa.

“Presdir.. Apa yang anda lakukan??”

“Chuuu~~~” kukecup pelan permukaan bibirnya dan menyapukan bibirku dengan perlahan di sekitarnya. Perlakuanku membuatnya sedikit bergidik gelisah sambil berulang kali menjauhkan kembali jarak diantara kami. Namun sama sekali tak membuatku bergeming, karena justru penolakannya akan berbuah ciuman yang semakin hangat dan dalam untuknya.

“Press—dirrr–hhh…sss… Stoppp it”

Aku menghentikan sebentar kegiatanku dan menatap kedua manik mata cokelatnya yang menunjukkan sebuah permohonan kepadaku. Namun sia-sia karena aku tak ingin menghentikannya sekarang.

Entahlah sudah berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk mengeksplor setiap milimeter bibir manis dalam balutan lipstick merah ini. Mungkin area sekitar bibirku ini mulai ikut memerah bersamaan dengan semakin dalamnya lumatan yang kuberikan.

Berkali-kali kudengar ia mendesah ketika kuturunkan kecupanku pada leher jenjangnya, hingga bahkan tak kusadari bahwa kini kancing kemeja teratasnya telah dalam keadaan terbuka.

Namun ia memberiku sebuah gerakan tiba-tiba.
“Grepp” ia memelukku erat dan menenggelamkan tubuhnya di atas dada bidangku.

“Presdir tolong jangan seperti ini,, jangan membuatku berada di posisi yang sulit” nada suaranya bergetar seakan tengah menahan emosi yang ingin membuncah keluar.
Kubingkai wajahnya dengan kedua telapak tanganku dan mendapati kedua kelopak matanya telah berkaca-kaca dengan tatapan menyiratkan sesuatu. Antara kesedihan dan….. Rasa bersalah?

“Mianhae jiyeon.. Mian.. Apakah aku menyakitimu?”

Ia menggeleng lemah, kini dengan air mata yang telah menetes dari sudut-sudut matanya.

“Lalu kenapa kau menangis?”

Ia menatap tajam ke arahku di sela tangisan dalam diam-nya.

“Jangan seperti ini presdir,, sampai kapanpun saya tidak akan bisa menjadi kekasih anda”

“Apakah karena ayahku? Apakah karena rencana pertunanganku sebelumnya? Jika memang itu alasannya, aku akan membereskan semuanya asalkan kau tetap di sisiku park jiyeon” kali ini aku menggenggam erat kedua telapak tangannya, seakan aku tak ingin melepaskannya untuk siapapun dengan alasan apapun. Apakah gadis ini sedang meragukanku sekarang? Karena sungguh sebenarnya aku tak pernah sejujur ini sebelumnya. Terlebih mengenai perasaanku kepada wanita yang kucintai, aku tidak akan mempermainkannya.

“Karena semua ini membuat saya bersalah pada laki-laki yang saya cintai…” ia menghela nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya

“Kenapa presdir tidak bertanya kepada saya? Apakah saya memiliki kekasih atau tidak? Kenapa presdir menganggap saya ini adalah seseorang yang dapat dimiliki dengan sangat mudah? Kenapa???? Apakah saya tampak seperti gadis murahan di mata anda?”

Tubuhku melemas. Bahkan tanpa sadar aku melepaskan tautan tangan kami dan menyandarkan tubuhku pada dinding lift.

Pernyataan lugas yang keluar dari bibirnya seakan menohok jantungku, seperti seseorang tengah menancapkan pisau tajam di sana.

Bodohnya aku. Apa yang dikatakannya tak bisa dibilang salah sepenuhnya. Aku tak pernah meminta persetujuan untuk apapun. Kendati ia tak setuju atau menolak, aku akan tetap memaksakan kehendakku. Laki-laki macam apa aku ini? Bagaimana bisa aku menjadi egois seperti ini.

Dan apakah jiyeon baru saja mengatakan bahwa aku membuatnya bersalah pada laki-laki yang ia cintai?

Semua fakta ini membuat kepalaku pening.

Kuamati ia yang telah merapikan penampilannya kemudian berjongkok untuk memunguti satu persatu lembaran dokumen yang tercecer di lantai dan menyusunnya kembali. Ada sebuah kilatan yang tak tergambarkan ketika ia menatapku sebelum menunduk dan keluar dari lift.

Hatiku mencelos. Seakan seseorang mengambil seluruh perasaanku tanpa sisa, hingga rasanya semuanya hambar. Aku tak dapat merasakan apa-apa. Ada sesuatu yang hilang dari jiwaku ketika melihatnya keluar dari pintu lift hingga nampaknya ia pun enggan menengok kembali ke belakang, ke arahku.

Mianhae jiyeon-ah…

Aku telah menyakiti wanita yang kucintai.. Bukankah kata orang bijak mencintai tak harus memiliki?

Maafkan aku pula telah menempatkanmu di posisi yang sulit

Namun satu hal yang pasti, aku mencintaimu…. Tolong tetaplah berada di sampingku.

TBC

 

i’m back~~ secara pribadi arin mau mengucapkan rasa terimakasih yang amat besar buat readers yg ngikutin ff ini..^^ visit juga http://fanfictionsindo.wordpress.com yah~~ lg butuh banyak readers baik seperti kalian🙂 dan yang mau baca sekuelnya Vampire Girl (Underworld Queen) visit aja di tempat yang sama http://fanfictionsindo.wordpress.com
Karena akhir minggu ini akan dipublish last chapternya (part 6-end)

oke deh, nggak usah lama-lama.. mau comment? boleh bangetttt… like aja? boleh boleh.. cuma baca doank tapi nggak comment? aku ra po po

31 responses to “[CHAPTERED] THE HEIR’S SECRETARY (5th)

  1. woooaaahhh Anyeoooong arin yaa…aaahhh aku ketngglan 1 part nih…soalnya udah lm gak ngunjungin wp HSF kesayangan ini…ommo ternyata myungsoo bener2 cinta sm jiyeon…huuwaaa seneng nya…tapi knpa jiyeon bilang kayak gitu ya…jd patah hati deh myung nya…u_u….ayo myung perjuangin cinta mu.dapatkan jiyeon….figthiiiiinggggg….aaahhh aku next dulu yah arin yaa…mmmmhhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s