[Oneshoot] Phobia

req-63-phobia

Judul Fanfiction : Phobia

Nama Author  :@lolalmira

Main Cast : Suzy ‘Miss A’, L/Myungsoo ‘Infinite’

Additional Cast : Eunji ‘A-pink’, Suho ‘EXO’, Mr.Brown ‘OC’

Length : Chapter

Genre : Romance

Rating : +13

Credit : Yaumila @ HSG

***

Suzy berdiri terpaku di depan mading utama yang terletak dekat gerbang sekolah. Mata awasnya tak sengaja menangkap poster dengan warna-warna cerah yang hampir memenuhi setengah luas mading. Ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke halte dan membelokkan langkahnya mendekati mading itu. Poster raksasa itu berwarna dasar putih dengan desain bercak-bercak cat di sana sini. Poster raksasa itu memuat pengumuman tentang acara perayaan ulang tahun sekolah. Dengan lunglai ia melanjutkan langkah kakinya menuju halte bus.

***

“Jadi semua wajib ikut?” Tanya Suzy dengan mata terbelalak begitu mendengar bahwa semua murid dan guru wajib mengikuti acara perayaan ulang tahun sekolah mereka dari Eunji. Sontak napsu makannya menurun. Bibimbap yang ia dapatkan setelah mengantri selama hampir setengah jam kini tak lagi menggugah seleranya.

“Nde!! Wah, aku sungguh tak sabar menunggu tanggal 20 Oktober nanti.” Seru Eunji bersemangat. Binar di matanya terlihat jelas menunjukkan ia sangat bersemangat.

Sebaliknya, Suzy semakin merosot di tempat duduknya. Bahunya turun dan cemberut terlihat jelas di wajah pucatnya.

“Yya!! Suzy-a ppali habiskan makananmu! Setelah itu ayo kita mendaftar!” Seru Eunji lagi. Suzy melirik mangkuk Eunji yang sudah bersih. Dengan enggan ia menyodorkan mangkuk miliknya.

“Habiskan saja. Napsu makanku menghilang.” Kata Suzy lirih. Seakan menyadari nada Suzy yang mendadak berubah, Eunji mengalihkan fokusnya yang sedari tadi hanya tertuju pada layar ponselnya.

“Eh kau kenapa Suzy?” Tanya Eunji panik. Suzy hanya diam saja. Segala macam pikiran berkecamuk di kepalanya. Ia enggan memberi tahu Eunji alasan sebenarnya ia tidak mau mengikuti acara di 20 Oktober itu karena dirinya dan Eunji belum bersahabat sampai sedekat itu. Selama ini mereka hanya sebatas teman sebangku. Suzy sendiri yang sengaja membuat batas itu.

Light Run. Begitulah tajuk acara ulang tahun sekolah yang kemarin ia baca di mading. Menurut deskripsi yang ia baca, Light Run sendiri adalah kegiatan di mana para pesertanya berlari sejauh lima kilometer pada saat senja. Dan nanti setelah berlari, mereka akan dikumpulkan di satu lapangan. Di lapangan itu akan dihadirkan DJ yang memutar musik dan mereka diwajibkan menari mengikuti alunan musik. Saat itu para peserta akan disirami oleh semacam bubuk glow in the dark.

Kurang lebih seperti itu. Suzy sendiri membenci acara itu karena setiap peserta diwajibkan mengikuti lari sejauh lima kilometer.

Lari.

Satu hal yang paling Suzy benci karena mengingatkannya akan suatu kejadian yang sampai saat ini masih sering membuatnya terbangun tengah malam dengan peluh di sekujur tubuhnya dan napas terengah-engah.

“Suzy-a! Apa kau mendengar perkataanku tadi?” Suara cempreng Eunji menyadarkan Suzy dari lamunannya. Sambil tersenyum minta maaf Suzy menggeleng perlahan.

“Oh Dear. Aku bilang kalau DJ nya nanti ada DJ One, DJ Kamin, dan DJ X-Ray! Bayangkan X-Ray!!” Seru Eunji semangat sambil menyodorkan layar ponselnya yang memuat foto ketiga DJ yang sedang terkenal di kalangan anak muda zaman sekarang akan kepiawan mereka ber-DJ. Suzy meliriknya dengan mata kosong dan ekspresi tidak tertarik. Eunji hanya melengos keras.

“Majja! Aku yang lupa. Kau tak mengenal mereka.” Dengus Eunji sambil menarik kembali ponselnya dan tenggelam dalam dunianya. Eunji ini salah satu tipikal yeoja masa kini yang berubah autis begitu memegang gadget.

“AAAAA!” Jerit Eunji membuat Suzy nyaris tersedak yoghurt strawberi miliknya. “BAE SUZY! KIM MYUNGSOO SUNBAENIM ADALAH PENJAGA TICKETING HARI IN!!!” Seru Eunji heboh. Beda dengan sebelumnya. Kehebohan Eunji kali ini memberikan sedikit pengaruh pada Suzy saat nama Kim Myungsoo disebut. Kim Myungsoo adalah salah satu namja populer yang menjadi idola bagi hampir seluruh yeoja di Lighthouse High School. Pesonanya benar-benar mampu memikat siapapun. Termasuk Suzy yang terkenal tidak memperdulikan ‘drama’ sekolah menengah dan lebih fokus pada belajar.

“Kau harus menemaniku! Pokoknya harus! Kajja kita ke sekretariat OSIS!” Seru Eunji bersemangat sambil menarik pergelangan tangan Suzy.

Sesampainya di booth ticketing yang berada di tepi lapangan upacara, Eunji kembali bersorak saat melihat antrian tidak terlalu panjang mengingat bel masuk akan berbunyi dalam kurang dari lima menit. Suzy hanya mengikuti Eunji sambil sesekali melirik Guess putih di tangannya.

“Annyeonghaseyo sunbaenim!” Sapa Eunji ramah ke arah Myungsoo yang duduk di booth ticketing.

“Annyeonghaseyo. Apa kau ingin mendaftar untuk acara Light Run?” Tanya Myungsoo sambil tersenyum ramah.

“Nde. Aku ingin pesan dua tiket atas nama Jung Eunji dan Bae Suzy.” Kata Eunji. Suzy sontak menoleh dan menyikut tangan Eunji pelan.

“Hei aku belum bilang akan ikut.” Protes Suzy. Eunji hanya terkekeh pelan.

“Aku tahu. Kau bingung karena harga tiketnya kan? Tenang saja. Anggap saja ini hadiah karena aku baru saja jadian dengan Suho.” Kata Eunji ceria. Suzy menghela napas pelan. Jung Eunji yang baik hati dan pengertian. Eunji tahu bahwa sebagai anak yatim piatu yang menumpang tinggal dengan salah seorang bibi, Suzy tak akan mungkin mampu mengikuti kegiatan yang memerlukan biaya lebih seperti ini. Eunji juga tahu betul Suzy lebih senang menyimpan gaji kerja paruh waktunya untuk biaya kuliah nanti. Maka dari itu Eunji lebih sering membayari Suzy agar Suzy bisa mengikuti kegiatan ini itu, dengan alasan hadiah. Alasan hadiah yang lebih sering tidak masuk akal seperti alasan di atas. Suzy hanya mampu melemparkan senyum tulusnya sebagai rasa terimakasih saat Eunji mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar tiketnya.

“Ja, ini kupon untuk mengambil kaos khusus yang digunakan saat lomba.” Kata Myungsoo mengulurkan dua buah kupon berwarna merah ke Eunji.

Eunji kembali tersenyum semanis mungkin dan menggandeng tangan Suzy. Keduanya berjalan menuju ke arah kelas. Diam-diam Suzy merasa tak enak hati. Karena sejujurnya bukan biaya yang ia pikirkan, tapi traumanya karena lari. Wajahnya yang terlihat pucat semakin pucat seketika saat ia membayangkan bagaimana perutnya terasa dikocok saat ia berlari dibarengi dengan keringat dingin yang mengucur di seluruh tubuhnya.

***

Suzy mengelap cangkir di meja kasir dengan tidak bersemangat. Pandangannya kosong tertunduk ke arah cangkir putih di tangan kirinya. Pikirannya melayang entah kemana meskipun tangannya bergerak mengelap cangkir. Dari luar Suzy terlihat seperti berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Bahkan lagu yang memenuhi seluruh kedai kopi tempatnya bekerja tak meningkatkan moodnya sama sekali. Tanggal 20 yang akan tiba kurang dari seminggu lagi membuat moodnya menghilang entah kemana.

Suzy tersadar saat lonceng di atas pintu depan berdenting sekali, menandakan ada pelanggan yang baru datang. Ia buru-buru meletakkan cangkir yang ia pegang dan berdiri di balik meja kasir dengan senyum yang tak sampai ke matanya. Pelanggan yang baru datang itu sedang sibuk melepas jaketnya yang terlihat basah karena hujan dan berdiri di depan pemanas ruangan. Jantung Suzy sedikit berdegup lebih cepat saat ia merasa mengenali tampak belakang seorang namja yang sedang sibuk menghangatkan diri di depan pemanas ruangan.

Saat namja itu berbalik dengan senyum puas dan berjalan mendekat ke meja kasir, Suzy merasakan jantungnya berhenti berdegup dan waktu seolah melambat. Namja dengan rambutnya yang basah dan terlihat berantakan itu Kim Myungsoo.

“S-selamat datang di Quarterteren, ada yang bisa dibantu?” Suzy mengucapkan salam yang sudah dihapalnya di luar kepala dengan sedikit tergagap.

“Oh kau Bae Suzy!” Seru Myungsoo sambil tersenyum, memamerkan deretan geliginya yang putih seperi bintang iklan pasta gigi.

“A-anyeonghaseyo sunbaenim.” Kata Suzy sedikit keget dengan fakta bahwa Myungsoo mengenal dirinya.

“Kau bekerja di sini? Kenapa aku tidak tahu?” Tanya Myungsoo masih dengan nada ramahnya.

“Ini hari pertamaku di sini. Sebelumnya aku di cabang yang terletak di Cheongdam-dong.” Jawab Suzy pelan. Ia berdoa semoga pipi pucatnya tidak bersemu kemerahan.

“Ah geurae. Aku hampir lupa. Aku pesan dua hot chocolatte dan satu oreo cheesecake.” Myungsoo menyebutkan pesanannya. Suzy mengetiknya dengan cepat di komputer.

Setelah mengembalikan kembalian uang Myungsoo, Suzy bergegas membuatkan dua hot chocolatte. Sambil menuangkan hot chocolatte Suzy menyenandungkan sebait lagu. Entah bagaimana ia merasakan moodnya mendadak bagus.

“Ja, dua hot chocolatte dan oreo cheesecake.” Kata Suzy sambil menyerahkan nampan berisi pesanan Myungsoo. Myungsoo mengangguk sambil kembali tersenyum.

Myungsoo lalu mengangkat nampannya dan menuju ke lantai dua, membuat Suzy kecewa karena berati ia tidak mampu melihat wajah Myungsoo lebih lama.

Sekitar lima menit kemudian, setelah Suzy menyerahkan nampan bersi lima caramel machiatto ke arah seorang siswi sekolah, Mr.Brown, manager kedai tempat Suzy bekerja menghampiri Suzy dengan secangkir hot chocolatte.

“Igo, minuman dari kakak kelasmu. Ia takut kalau langsung menyerahkannya kau akan kumarahi. Sekarang nikmatilah.” Kata Mr.Brown dengan logat Korea nya yang masing janggal di dengar.

Suzy menerima cangkir itu kaget. Saat otaknya mencerna kalimat Mr.Brown sepenuhnya, senyum lebar muncul di wajah manisnya. Ia bisa merasakan pipinya memanas dan saat ia melihat siluetnya di kulkas ia bisa melihat pipi pucatnya berubah menjadi kemerahan. Suzy meminum hot chocolatte itu dengan senang.

Tanpa sadar dari balik tangga sepasang mata memperhatikan Suzy dengan senyum yang tak kalah lebar.

***

Suzy berada di ujung jalan yang sangat gelap. Ia bisa melihat ibunya disandera oleh dua preman yang tak henti-hentinya memukul ibunya. Suzy menyaksikan semuanya dengan tangisan. Ia ingin menolong ibunya namun ibunya menggeleng dan berkata tanpa suara menyuruhnya berlari. Suzy menangis dan tak mau berlari. Ia ingin menolong ibunya.

“Yya! Gadis kecil! Kalau kau lari aku akan menusuk ibumu dengan pisau ini tepat di jantungnya!” Seru salah seorang preman yang baru saja menampar ibunya.

“Katakan di mana file itu!” Seru preman lain sambil menempelkan pistol di kepala Nyonya Bae yang sudah babak belur. Nyonya Bae menggeleng dengan air mata yang tak henti keluar dari sudut-sudut matanya.

Kembali tamparan diberikan saat Nyonya Bae menggeleng untuk kesekian kalinya.

Lalu ponsel salah seorang dari mereka berdering. Ia mengangkat panggilan tersebut dan mengangguk lalu tersenyum licik.

“File tersebut ada di gadis kecil yang bersembunyi di balik tiang lampu itu.” Seru preman yang baru saja menerima telepon. Nyonya Bae menjerit.

Dan tamparan kembali mendarat di pipinya yang sudah membiru.

Suzy tak sanggup menahan dan menjerit. “EOMMA!!!!” Air mata mengalir di pipinya.

“SUZY-A! LARI NAK! LARI!!” Jerit Nyonya Bae. Suzy melihat preman itu berjalan mendekatinya. Ia kemudian berbalik dan berlari. Yang ada di pikirannya saat ini adalah, ia harus lari.

Ia berlari sekuat tenaga.

DOR!

Suara pistol membuat air mata Suzy kembali mengalir deras. Ia sudah menebak apa yang terjadi.

***

Suzy terbangun dengan peluh membanjiri seluruh tubuhnya. Napasnya terengah-engah seperti orang habis berlari. Perutnya terasa seperti dikocok, membuatnya ingin muntah. Mimpi buruk itu kembali terbayang. Kejadian di masa lalu yang membuatnya benci berlari.

Suzy melirik ke samping dan mendapati Eunji yang tertidur nyenyak sambil memungungi dirinya. Peluh yang mengucur membuatnya merasa kepanasan meskipun suhu di kamar sudah 15 derajat celcius. Malam ini Suzy menginap di rumah Eunji karena Eunji memaksa dengan dalih Eunji butuh Suzy untuk menemaninya ke salon. ‘Another weird reason’ batin Suzy saat Eunji mengajaknya saat itu.

Suzy mencoba berbaring. Selama beberapa hari sebelumnya ia kira ia sudah bebas dari mimpi itu karena ia sudah tak memimpikannya kembali. Namun ternyata mimpi itu kembali datang.

Tiba-tiba ia seperti melihat visualisasi Myungsoo yang sedang tertawa di langit-langit kamar Eunji.

Beberapa hari ini, semenjak hari Myungsoo memberinya hot chocolatte, Suzy jadi dekat dengan Myungsoo yang setiap sore datang ke kedai. Myungsoo sengaja menunggu sampai tiidak ada antrian dan baru memesan sambil mengajak Suzy mengobrol. Di hari Myungsoo datang dan mengobrol dengannya, Suzy merasakan moodnya membaik dan membuatnya tidur nyenyak. Namun sore tadi Myungsoo yang merupakan panitia acara Light Run tidak datang ke kedai karena sibuk melakukan persiapan acara.

Jantung Suzy berdegup dengan cepat membuatnya ingin berteriak. Dan sialnya Suzy tidak tahu itu karena Light Run atau…

Myungsoo.

***

Suzy dan Eunji sampai di Lighthouse High School yang merupakan start line pukul lima sore, tepat saat Kepala Sekolah Park sedang memberi pidato. Suzy lebih memilih mendekati standing map yang memuat denah jalur yang akan dilewati nanti.

Dari Lighthouse High School peserta akan berlari memutar gedung yang menurut Suzy sangat luas dan masuk ke bukit kecil di balik sekolah dan keluar lalu berlari menyusuri jalan kecil menuju pantai dan finish di lighthouse yang berada di pantai yang juga milik yayasan Lighthouse High School.

Baru melihat denahnya saja Suzy sudah merasakan mual dan ingin muntah. Ia buru-buru menghirup aromatherapy yang selalu berfungsi menenangkannya. Namun untuk kali ini sepertinya aromatherapy itu tidak bekerja dengan baik.

Suzy berjalan ke tempat yang lebih sepi dan jongkok sambil menenggelamkan kepalanya di lutut. Ia merasakan matanya panas. Tekanan seperti yang di masa lalu muncul membuat air matanya mengalir turun.

“Suzy?” Suara familiar membuat Suzy refleks mendongak. Sedikit terpana saat Suzy melihat sosok Myungsoo tersenyum ceria. Melihat Suzy tak merespon, Myungsoo ikut jongkok di hadapan Suzy. “Kenapa kau menangis di sini? Peserta harusnya berada di garis start sekarang.”

“Aku takut ketinggalan saat berlari.” Lirih Suzy. Entah kenapa setiap berhadapan dengan Myungsoo selalu ada yang membuatnya berkata jujur.

“Aigoo, tidak akan. Dua ribu orang tidak akan benar-benar berlari. Percaya padaku. Acara ini hanya namanya saja yang run. Aslinya hanya jalan sehat biasa. Yakinlah padaku.” Terang Myungsoo. Suzy mengangguk pelan dan berjalan ke arah garis start. Kocokan di perutnya terasa semakin jadi. Suzy benar-benar ingin menangis sekarang.

Time keeper mulai melakukan count down. Suzy memanjangkan lehernya dan tak melihat Eunji di manapun. Ia hanya pasrah berdiri bergabung ratusan orang lainnya yang berpakaian kaos hitam. Ia menunduk dan memperhatikan sepatu lari bermerek yang dipinjamkan Eunji.

Saat peluit ditiup, Suzy merasakan otaknya mendadak berhenti bekerja. Melihat orang-orang berjalan dengan kecepatan penuh, Suzy juga mengikutinya, meskipun itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat dan perutnya terasa terkocok hebat. Ia bisa merasakan pandangannya mulai mengabur saat tekanan yang selalu ia rasakan timbul.

Saat memutari gedung sekolah, Suzy masih berada di tengah-tengah peserta. Namun memasuki bukit dengan jalanan menanjak, Suzy mulai berjalan di belakang barisan. Jalanan menanjak yang sedikit curam membuatnya ingin menangis, apalagi ia sadar orang-orang di sekitarnya mulai meninggalkannya. Ia merasa langkah kakinya semakin berat dan napasnya semakin pendek. Tanjakan yang satu ini benar-benar membuat Suzy ingin menangis.

Saat mendongak, Suzy tak bisa melihat siapapun di sekitarnya. Setetes air mata mengalir dari sudut kiri matanya. Tekanan di masa lalu kembali membuat jantungnya berdegup cepat. Ia merasa jantungnya akan meledak sebentar lagi.

“Suzy!” Panggilan Myungsoo membuat Suzy berbalik. Sedikit perasaan senang terbit saat Suzy melihat Myungsoo mendekat ke arahnya. Myungsoo sendiri berjalan sambil mendorong sepeda. “Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Myungsoo sambil berjalan pelan-pelan.

“Aku ketinggalan rombongan.” Jawab Suzy pendek. Mengingat alasan mengapa ia berada di sini sekarang membuat jantungnya kembali berdegup kencang. “Sunbae sendiri sedang apa di sini?”

“Aku menemanimu.” Goda Myungsoo. Mau tak mau senyum tipis muncul di wajah pucat Suzy.

“Entah kenapa aku selalu ingin jujur kalau sedang berada di sampingmu Sunbae” Ungkap Suzy jujur. Myungsoo terkekeh pelan “Aku trauma lari. Semua aktivitas yang melibatkan lari membuatku ketakutan. Jantungku berdetak lebih cepat, perutku terasa terkocok, napasku menjadi pendek.”

Myungsoo tertegun sebentar mendengar cerita Suzy. Ia lalu mengeluarkan iPod berwarna merah dan headset putih. Mengulurkan yang sebelah kanan ke arah Suzy dan memakai yang sebelah kiri. “Kau tahu Suzy? Yang kau butuhkan sekarang adalah rileks. Aku yakin saat rileks sindrom itu akan menghilang perlahan.” Kata Myungsoo sambil tersenyum manis.

Suzy mengangguk sambil tersenyum dan memakai headset yang diulurkan Myungsoo tadi. Suara manis Adam Levine seketika memenuhi kepalanya.

“Suzy, ini sudah turunan. Kajja, naik ke boncenganku.” Seru Myungsoo semangat. Ia sudah duduk di atas sepeda putihnya. Suzy berdiri diam dan sedikit bingung.

“Err, kurasa disini tidak ada boncengan.” Kata Suzy pelan. Myungsoo mendecak gemas. “Kau berdiri. Apa kau tak tahu cara berboncengan seperti itu?” Suzy tersenyum malu. Ia lalu berdiri dengan di atas ban belakang Myungsoo. Tangannya memegang bahu Myungsoo malu-malu. Ia bisa merasakan perasaan takut yang ia rasakan menghilang dan digantikan dengan perasaan deg-degan yang menyenangkan. Ia bisa merasakan sesuatu berdesir cepat di dalam tubuhnya saat ia menyentuh Myungsoo.

“Ready? YIHAAAAA!” Sepeda yang ditumpangi keduanya melaju kencang di turunan yang sedikit curam tersebut. Refleks Suzy memeluk leher Myungsoo. Samar-samar Suzy bisa merasakan aroma vanilla, aroma khas Myungsoo. Tanpa Suzy ketahui Myungsoo tersenyum senang saat merasakan tangan Suzy refleks memeluk lehernya.

.

Sekitar setengah jam kemudian, Myungsoo dan Suzy sampai di pantai tempat garis finish berada. Langit sudah berubah menjadi oranye dan matahari hampir tenggelam. Keduanya berjalan beriringan menuju tempat para peserta lain sudah berkumpul dan sedang beristirahat sambil menikmati pemandangan sunset dan air kelapa.

Eunji yang sedang mengobrol dengan Suho berlari ke arah Suzy begitu Suzy sampai di garis finish. “Yya! Suzy-a! Kau membuatku sangat khawatir!!” Seru Eunji dengan mimik khawatir. Suzy hanya tersenyum meminta maaf. Ia belum menyadari sosok Myungsoo di samping Suzy.

“Gwenchana Eunji-ssi. Karena kau aku bisa dapat kesempatan menemani Suzy.” Kata Myungsoo sambil menepuk pundak Eunji dan berlalu. Eunji hanya melongo diperlakukan seperti itu. Panggilan Suho di detik selanjutnya menyadarkannya. “You owe me a lot.” Suzy hanya mengangguk dan tersenyum senang dengan wajah memerah memikirkan kemungkinan arti kalimat Myungsoo barusan.

Tak mau mengganggu Eunji dan Suho, Suzy melangkah sedikit lebih jauh ke arah bibir pantai. Membiarkan ombak membasahi kakinya. Ia berdiri diam dan memandang ke langit yang mulai menggelap. ‘Tuhan, terimakasih untuk hari ini.’ Batinnya.

“Suzy! Ppali! Musiknya sudah mulai!!!” Seru Eunji. Suzy mengangguk dan berlari menghampiri Eunji.

Begitu nada beat menghentak terdengar, Suzy mengikuti Eunji dan yang lainnya melompat-lompat mengikuti irama lagu. Suzy mengangkat tangannya ke atas dan sesekali ikut menyanyikan lirik lagu.

Mata awasnya melihat panitia di kiri kanan kerumunan dan di atas panggung menyiapkan pistol yang berisi bubuk warna. Suzy buru-buru menutup mata dan mulutnya.

DUARRR! DUARRR!

Tepat saat puluhan kembang api meletus di langit, para panitia menembakkan bubuk-bubuk berwarna itu. Sementara panitia yang berada di tengah kerumunan melemparkan kantong-kantong bubuk ke udara. Memastikan semua peserta mendapat bubuk berwarna itu. Suzy melihat tangannya yang terkena bubuk berwarna pink. Sedetik kemudian bubuk itu menempel di kulitnya dan bersinar. Kebanyakan peserta juga menyadari hal itu dan minta tambahan bubuk.

DUARRR! DUAARRR!

Kembang api kembali meletus dan bubuk kembali ditaburkan, membuat para peserta yang tadinya tidak terlihat karena sudah mulai gelap, terlihat bersinar karena bubuk yang menempel di tubuh dan kaus masing-masing.

“Suzy-a, kau senang malam ini?” Seru Myungsoo, berusaha mengalahkan dentuman musik dan jeritan senang peserta lain. Suzy kaget melihat Myungsoo yang bermandikan sinar berwarna biru. Ia mengangguk sambil menunjukkan wajahnya yang memancarkan cahaya kebiruan bercampur pink. Myungsoo ikut tersenyum senang.

Lagu berhenti sebentar saat para DJ menyapa dan menanyakan peserta tentang acara malam ini. Suzy juga berhenti dan mengatur napasnya.

“Suzy-a” Panggil Myungsoo. Suzy menoleh dan tertegun melihat kaus Myungsoo. Di kaus itu tertulis dengan bubuk pink terang,

‘WILL YOU BE MINE?’

Entah bagaimana Myungsoo bisa membuat tulisan seperti itu di kausnya. Suzy refleks menutup mulutnya karena kaget dan juga terharu. Dentuman musik mulai terdengar. Myungsoo mengulurkan tangannya ke arah Suzy. Sambil tersipu malu, Suzy menerima uluran tangan Myungsoo dan mengangguk perlahan.

DUARRR! DUARRR!

Kembang api kembali meletus di langit, melengkapi momen bahagia Suzy malam itu.

***

Suzy duduk di atas pasir pantai sambil menikmati fruit punch yang dibagikan bersama kue-kue kecil. Di sampingnya Myungsoo dengan tubuh bersinar berwana biru bercampur pink memainkan kunci C, G, dan A minor sambil bersenandung pelan. Setelah dua jam lebih menari mengikuti hentakan musik, kini para murid Lighthouse duduk di pantai sambil menikmati malam yang syukurnya penuh bintang.

“Sunbaenim, kenapa kau menyukaiku?” Tanya Suzy pelan. Sedari tadi pertanyaan itulah yang berkecamuk di kepalanya. Membuatnya penasaran setengah mati.

“Yya! Aku namjachingumu. Panggil aku Oppa.” Protes Myungsoo, seulas pout terbentuk di wajahnya. Suzy hanya terkekeh sambil meleletkan lidah. “Alasan aku menyukaimu adalah karena kau satu-satunya murid baru yang dulu tidak menggunakan make-up, tidak kecentilan, dan tidak pernah menggunakan rok sekolah yang dimodif menjadi dua puluh centimeter di atas lutut.”

Suzy melongo sebentar mendengar jawaban Myungsoo dan lalu tertawa terbahak-bahak. “Oppa, kau pikir hidupmu itu drama?” Seru Suzy sambil masih tertawa. Ia tak menyangka alasan Myungsoo akan seperti itu.

“Wae? Harusnya kau bilang aku romantis bukan mengejekku.” Protes Myungsoo lagi. Suzy kembali tertawa melihat pout di wajah Myungsoo. “ Kau sendiri kenapa menyukaiku?” Tanya Myungsoo.

Suzy menyesap fruit punch nya sebentar dan berdeham. “Simply. Karena kau adalah Prince Charming. Dan aku percaya bahwa jodohku adalah Prince Charming. Meskipun kau tidak berkuda putih.” Jawab Suzy.

“Yya, Miss Bae! Kau pikir kau tuan putri yang akan hidup bahagia selamanya dengan pangeran berkuda putih?” Ganti Myungsoo yang mengejek sekarang. Suzy yang pendiam dan tak pernah menjadi korban fashion itu ternyata hanya anak kecil yang memimpikan seorang pangeran berkuda putih.

“Apa kau tidak mau?” Tanya Suzy pelan. Ia meletakkan fruit punch nya. Mimiknya mendadak serius.

“Apa kau bercanda? Tentu saja aku akan menjadi Prince Charmingmu, selama kau menjadi gadis dalam dramaku.” Jawab Myungsoo lembut. Suzy tersenyum lebar dan menunduk tersipu.

“Kalau begitu kau harus menjemputku naik kuda putih besok.” Goda Suzy membuat Myungsoo menggeleng tegas.

“Andwae. Kau pikir Han Ahjussi yang galak itu mau mengurus kotoran kudanya nanti? No no no.” Tegas Myungsoo, membuat Suzy kembali tergelak.

THE END

18 responses to “[Oneshoot] Phobia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s