[Chapter – Part 7] LOST IN BALI

LOST IN BALI 2Poster by kimleehye19 (me) @nicefanfiction.wp.com

Part sebelumnya:

[1] [2] [3] [4] [5] [6]

Author: Kim Lee Hye

Main Cast:
Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Luhan EXO, Ryu Hwayoung
Other Cast:
Park Chorong, Lay EXO, Im Siwan, Lee Jieun
Genre:
Romance, Friendship
Rating:
G

Check it out!

Seharusnya hari ini aku libur. Tapi karena banyak yang tidak masuk, aku tidak jadi libur. Sepertinya aku akan pulang malam. Sesangi…

“Oppa!” panggil Hwayoung yang sedang berjalan ke arahku.

“Wae?” tanyaku. Aku agak malas berurusan dengan yeoja ini. Lay adalah temanku saat kuliah di Australia dulu, dan Hwayoung adalah yeojachingu Lay. Jadi aku juga harus bersikap baik pada yeoja ini.

“Oppa, bagaimana kalau nanti malam kita pesta kecil-kecilan? Kita masak barbeque. Aku akan membeli semua yang kita butuhkan nanti.”

“Ah, mian. Aku tidak bisa. Sebentar lagi aku harus berangkat kerja. Mungkin aku pulang larut malam karena aku harus melakukan pekerjaan dua orang temanku. Jadi, hari ini aku sangat sibuk.”

Sepertinya Hwayoung sangat kecewa. Hal itu terlihat dari ekspresi wajahnya. Mau bagaimana lagi, aku sudah jujur padanya. Semoga ia tidak sakit hati karena aku tidak ingin menyakiti siapapun, baik yeoja maupun namja.

Aku pamit pada Hwayoung karena harus bersiap pergi kerja. Setelah keluar dari pusat pembuatan souvenir itu, aku naik taksi menuju villa. Tidak ada waktu. Aku hanya perlu ganti baju dan membawa perlengkapanku seperti biasa, kamera digital, power bank, ID card, note book, dan buku pedoman Tourism.

Sesampainya di villa, aku berlari secepat mungkin. Villa milik Xi ahjussi ini begitu luas. Berlari untuk segera sampai di kamarku benar-benar menguras tenaga. Sepi? Bukannya Jiyeon ada di villa? Kakinya kan cedera, jadi dia akan kesulitan pergi kemana-mana, tapi kenapa sekarang dia tidak ada di villa? Ah, mungkin yeoja itu jalan-jalan di sekitar villa untuk mengobati stresnya atau dia merasa kesepian di villa sendirian, jadi dia keluar sebentar untuk mencari hiburan.

Omo! Tidak ada waktu lagi. Aku harus bergegas. Ku masukkan semua barnag yang aku perlukan ke dalam tas ransel warna hitam milikku. Tas ranselku ini adalah pemberian Hwayoung saat aku ulang tahun beberapa bulan yang lalu. Bagus juga. Dia tahu seleraku, mungkin Lay yang memberitahukannya.

Semua barang sudah aku masukkan ke dalam tas. Pakaianku sudah rapi dengan kemeja santai warna cream, celana hitam dan jaket seragam warna hitam. Aku suka pakaian yang simple seperti ini. mudah untuku bergerak, tidak terlalu ribet. Karena sudah rapi dan semua sudah ku siapkan, aku segera meluncur ke pantai Sanur, menemui klien kami.

Jiyeon berjalan menyusuri jalanan yang ramai. Ia tidak tahu harus pergi kemana. Yeoja itu seperti orang yang kehilangan segalanya. Ya, tidak salah, itu memang benar karena Jiyeon tidak memiliki siapapun di Bali dan juga tidak memiliki apapun. Ia tidak membawa apapun. Dompetnya tertinggal di villa dan ponsel pemberian Luhan tertinggal di sofa depan tv di villa. Perutnya keroncongan karena tadi pagi ia hanya sarapan roti tawar dan susu. Tak ada orang yang ia kenal. Jiyeon hanya berjalan mengikuti kemana kakinya membawanya pergi. Di saat seperti ini, dia sangat merindukan orang-orang yang ia sayangi, terutama Chorong. Jiyeon berhenti di sebuah pura dekat pantai Sanur. Ia memutuskan untuk beristirahat di sana. Nasibnya besok bagaimana? Hal itu sama sekali tidak terpikirkan olehnya. Bahkan nasibnya hingga nanti malam pun, Jiyeon belum tahu. Ia benar-benar menderita.

Luhan baru pulang dari kegiatannya mengantar para wisatawan berkeliling di tempat-tempat wisata di Bali. Ia merasa sangat lelah, badannya terasa berat seperti ditindih buldozer.

“Oppa, kau sudah pulang?” tanya Hwayoung yang baru saja membuat Kimchi.

“Eoh, kenapa sepi sekali? Yang lain mana?” tanya Luhan. Ia menoleh kanan-kiri berharap menemukan Myungsoo atau Jiyeon. biasanya jam 8 malam, Myungsoo sudah pasang body di depan tv dan Jiyeon sudah beradu mulut dengan Myungsoo. Tapi kali ini keduanya tidak ada.

“Myungsoo oppa sedang ada kerjaan. Mungkin dia akan lembur sampai larut malam. Orangtuamu sedang menginap di rumah teman appamu, oppa.”

“Kalau Jiyeon?” Luhan dengan polosnya bertanya perihal Jiyeon kepada Hwayoung. Hwayoung sedikit gugup menjawab,”Mollaseoyo, oppa. Ketika aku sampai di villa, dia sudah tidak ada.”

“Mwo?” Luhan merebahkan diri di atas sofa depan tv yang biasa digunakan Myungsoo untuk beristirahat dan bersantai ria. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu di bawah tubuhnya. Ya, sebuah ponsel tergeletak ditindih tubuh Luhan. Ia mengambil ponsel itu. Bukankah ini ponsel Jiyeon yang aku berikan? tanyanya dalam hati.

“Hwayoung-a, apa kau tahu kemana Jiyeon pergi?” tanya Luhan yang tidak jadi istirahat karena mengkhawatirkan Jiyeon yang saat itu tidak ada di villa padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.

“Anhiyo, oppa. Dia tidak bilang mau pergi kemana.” Hwayoung masih melanjutkan membuat kimchi di ruang makan, bukan di dapur.

Jam 10 malam, Jiyeon dan Myungsoo belum pulang. Luhan yang sudah rapi dengan piyamanya dan bersantai di depan tv, tetap menunggu Myungsoo dan Jiyeon. ia berpikir apakah Jiyeon menyusul Myungsoo di tempat kerjanya? Atau mereka berdua jalan-jalan?

Cekleek…

Suara pintu terbuka. Luhan langsung beranjak dari sofa empuknya. Ia sedikit berlari menyambut siapa yang datang. Senyum sumringah menghias wajah tampannya saat Myungsoo muncul dengan tampang kusut seperti bajun yang belum disetrika.

“Yaak, Myungsoo-a, kau lembur?”

“Eoh. Badanku capek sekali. Seharusnya hari ini aku libur tapi malah lembur. Teman-temanku benar-benar tega padaku. Hyung, tumben kau sudah memakai piyama. Apa kau sudah ingin tidur?”

“Anhi. Oh ya, mana Jiyeon? dia bersamamu, kan?” tanya Luhan memeriksa sekelilingnya, berharap menemukan Jiyeon yang pulang bersama Myungsoo.

“Jiyeon? aku tidak bersamanya. Kan tadi aku sudah bilang kalau aku lembur. Kenapa kau tanyakan Jiyeon padaku?” tanya Myungsoo balik.

“Jiyeon tidak ada di sini.” Luhan mengerutkan keningnya. “Dimana dia?”

“Mwo? Jiyeon belum pulang? Memangnya dia pergi kemana?”

“Molla,” jawab Luhan singkat.

“Tadi siang saat aku pulang untuk bersiap kerja, aku tidak menemukan Jiyeon. villa sepi sekali. Tak ada orang.” Myungsoo duduk bersandar di samping Luhan, di depan tv. TV masih menyala namun keduanya tidak memiliki hasrat untuk nonton tv.

“Apa dia nyasar lagi?” tanya Luhan menebak.

Myungsoo tampak berpikir. Mungkin ada benarnya juga Jiyeon nyasar. “Gurae, aku yang akan mencari Jiyeon. kau tunggu di sini saja hyung. Jika dia pulang duluan, kabari aku.” Myungsoo mengambil jaketnya dan memakainya lagi lalu mengambil motor di garasi dan meluncur menyusuri jalan, menerjang dinginnya malam itu.

Myungsoo mengendarai motornya pelan-pelan, dia akan menyisir jalan sekitar villa dan agak jauh beberapa kilometer. Hampir satu jam Myungsoo mencari Jiyeon namun hasilnya masih nihil. B=dia tidak putus asa. Myungsoo tetap mencari Jiyeon meskipun badannya terasa sanbgat lelah, kedua matanya menahan kantuk dan kepalanya sedikit pusing. Ia sama sekali belum istirahat dari siang tadi.

Jiyeon merasa sudah cukup lelah duduk di pura. Ia ingin melanjutkan perjalanannya, namun sesaat dia berpikir, perjalanan kemana? Dia bahkan tidak punya tujuan. Jiyeon tidak ingin kembali ke villa karena Hwayoung telah mengusirnya. Meskipun villa itu bukan milik Hwayoung, ia tetap tidak ingin kembali ke sana karena tidak ingin menjadi beban orang-orang di sana, terutama Luhan dan Myungsoo.

“Aku harus pergi kemana? Haruskah aku terus berjalan mengelilingi Bali?” Jiyeon bicara sendiri. Akhirnya dia berjalan menyusuri jalan yang semakin sepu karena saat itu sudah masuk dentang 11 lebih. Jiyeon menangis, dalam hati ia menjerit merasakan sakit hatinya dibuang begitu saja. Ia merasa tidak berguna sama sekali. Jiyeon merasa seperti sampah yang mengganggu kehidupan semua orang.

Di depan sebuah toko yang sudah tutup, Jiyeon menghentikan langkahnya dan duduk bersandar pada dinding toko yang kokoh. Tak lama kemudian dia tertidur di teras toko. Tubuhnya menggigil menahan dinginnya angin malam.

Myungsoo sudah tak sanggup lagi berada di luar rumah. Tubuhnya juga lemah. Apalagi malam ini dia belum makan. Myungsoo memutuskan untuk beristirahat di pinggir jalan yang banyak toko di kanan-kirinya.

“Jiyeon-a, neo eodiseo?” lirih Myungsoo. Ia menoleh kanan-kiri dan ke belakang namun tidak menemukan seorang yeoja pun yang berjalan melewati jalan itu. Hanya ada beberapa namja dan dirinya yang berada di jalanan sepi itu. Myungsoo melajukan motornya sangat pelan, bahkan suara motornya nyaris tidak terdengar.

Saat melihat berkeliling ke sekitar pertokoan, kedua matanya terpaku melihat seorang yeoja tidur bersandar pada dinding toko. Myungsoo mengenali pakaian yeoja itu. Ia pun menghampiri yeoja yang sedang tidur di teras toko. Myungsoo membelalakkan kedua matanya dan membuka mulutnya hingga membentuk huruf ‘O’. Jiyeon, Park Jiyeon? myungsoo mendekati yeoja itu. Benar, Park Jiyeon. kenapa dia ada di sini? Kenapa dia tidak pulang ke villa? Apa segitu parahnya dia lupa jalan kembali ke villa?

“Jiyeon-a, kau mendengarku?”

Tidak ada jawaban. Myungsoo memutuskan untuk menggendong Jiyeon namun saat dia hendak mengangkat tunuh yeoja itu, kedua manik mata milik Jiyeon terbuka. Myungsoo tersenyum melihatnya.

“K, Kim Myungsoo?” lirih Jiyeon.

Myungsoo tersenyum.

“Kau benar Kim Myungsoo?” tanya Jiyeon untk meyakinkan kalau dirinya tidak bermimpi.

Myungsoo mengangguk. “Eoh. Ini aku.”

Jiyeon langsung memeluk Myungsoo. Namja itu malah tersentak kaget melihat perlakuan Jiyeon padanya. Mereka berdua seperti sudah lama tidak bertemu.

“Jiyeon-a, waegurae?”

“Jebal, jangan bawa aku pulang ke villa. Aku tidak mau.” Jiyeon menangis di dalam pelukan Myungsoo.

Myungsoo sendiri bertanya-tanya, apa yang terjadi pada Jiyeon? kenapa dia tidak mau kembali ke villa?

“Waeyo?”

Jiyeon tidak menjawab. Dia melepas pelukannya. “Apa kau akan membawaku kembali ke sana?” tanya Jiyeon dengan sorot mata memelas.

Myungsoo memakaikan jaketnya pada Jiyeon agar yeoja itu tidak kedinginan. Hatinya ngilu sekali melihat Jiyeon menggigil kedinginan. Ia bingung harus membawa Jiyeon kemana lagi kalau bukan ke villa milik Luhan?

“Kenapa kau tidak menjawabku?” tanya Jiyeon lagi.

“Keunde, aku harus membawamu kemana? Luhan hyung sangat mengkhawatirkanmu.”

Jiyeon melepaskan tangan Myungsoo yang memegang tangannya setelah memakaikan jaket padanya. “Jika itu yang akan kau lakukan, pergilah. Aku tidak mau. Biar saja aku tidur di jalanan daripada tidur di sana.”

“Yaak, Park Jiyeon, neo michyeoseo?” Myungsoo sedikit menaikkan volum suaranya hingga membuat Jiyeon sedikit kaget. “Jiyeon-a, Luhan hyung sangat mengkhawatirkanmu. Dia ingin kau segera kembali ke villa.”

“Shireo! Sampai kapanpun aku tidak akan kembali ke sana. Pulanglah. Aku lebih memilih di sini.”

“Kau benar-benar keras kepala. Apa kau tidak kasihan pada Luhan hyung? Saat pulang dari kerja tadi, dia tidak melihat kita berdua. Namun setelah aku pulang, dia merasa lega karena dia mengira kau bersamaku. Tapi kenyataannya berbeda karena aku pulang kerja, bukan pulang jalan-jalan denganmu. Kenapa kau seperti ini? kau tidak tahu terima kasih.”

Tubuh Jiyeon bergetar menahan tangis. Kedua bola matanya sudah banjir airmata sedari tadi. Jiyeon terduduk lemas. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Ia tidak mau membuat Luhan khawatir namun ia juga tidak ingin menyusahkan orang-orang di sana. “Pulanglah, biarkan aku di sini.” Jiyeon berkata dengan suara parau dan menahan tangis yang sedari tadi ditahannya. Kepalanya tertunduk, jadi Myungsoo tidak melihat ia menangis.

Myungsoo kesal pada Jiyeon yang dianggap sebagai orang pengecut dan tidak tahu berterimakasih. Ia hendak meninggalkan Jiyeon meski sebenarnya ia tidak tega melakukannya. “Gurae, jika itu yang kau inginkan. Aku akan meninggalkanmu di sini.” Myungsoo beranjak pergi. Sebenarnya ia hanya asal bicara agar Jiyeon terpancing dan mau diajak pulang ke villa. Namun perkiraannya salah. Myungsoo sudah nangkring di atas motornya dan siap meluncur namun Jiyeon tetap ak memanggilnya atau berlari ke arahnya.

Jiyeon merasa sangat sedih. Seandainya Myungsoo tidak datang, itu akan lebih baik baginya. Kepalanya terasa pusing. Makin lama makin berat, matanya berkunang-kunang. Kulit wajahnya pucat pasi. Akhirnya Jiyeon jatuh pingsan.

Myungsoo sudah bersiap meninggalkan lokasi itu. Dia ingin melihat Jiyeon terakhir kalinya namun ia tidak menemukan sosok Jiyeon. Myungsoo turun dari motornya. Betapa terkejutnya Myungsoo melihat Jiyeon jatuh pingsan di tempatnya terduduk tadi. Rupanya ia tidka bisa meliaht Jiyeon dari arah motornya karena terhalang tanaman bunga di pot yang ditata indah oleh pemilik toko itu.

“Jiyeon-a, ireona. Ireona palli…” Myungsoo meraih tubuh Jiyeon dan meletakkan kepala yeoja itu di atas pangkuannya. Tubuh Jiyeon sedikit demam. Akhirnya tanpa berlam-lama di sana, Myungsoo membawa Jiyeon ke rumah sakit.

Jiyeon segera mendapat pertolongan dari tim medis. Berdasarkan keterangan dari dokter yang menangani Jiyeon, kondisi Jiyeon baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia hanya mengalami depresi dan kelelahan. Kondisi fisiknya sangat lemah, jadi untuk saat ini Jiyeon harus dirawat di rumah sakit.
Myungsoo sedikit lega karena tidak ada hal serius yang mengkhawatirkan dari keadaan Jiyeon. Yeoja itu masih menutup kedua matanya dan wajahnya tampak sangat lelah. Myungsoo duduk di bangku di samping ranjang yang digunakan Jiyeon untuk beristirahat. Myungsoo memperhatikan Jiyeon yang sedang tidur pulas. Ia tidak ingin mengganggu istirahat yeoja itu.
Myungsoo pov.
Jiyeon sedang beristirahat di atas ranjang yang disediakan oleh rumah sakit. Ia tampak sangat lelah. Aku tidak tega melihatnya seperti itu. Jika dibandingkan dengan Jiyeon saat terbang ke Indonesia, keadaannya sangat jauh berbeda. Saat ini Jiyeon tidak punya siapa-siapa di Bali. Ia juga tidak punya apa-apa. Kenapa nasibnya seburuk ini?
Aku masih memandangi wajah Jiyeon. Hmmm ternyata yeoja ini cantik juga. Wajah polos tanpa make up pun masih terlihat cantik. Sangat disayangkan kalau nasibnya sesial ini.
Hoooaamm… Aku ngantuk sekali.
Myungsoo pov end.

Myungsoo tidur di atas bangkunya. Kepalanya digeletakkan di di atas ranjang Jiyeon. Keduanya.tidur bersebelahan.
Keesokan harinya, Luhan semakin khawatir pada Myungsoo dan Jiyeon. Apalagi semalam Myungsoo tidak pulang. Ia juga tidak memberi kabar pada Luhan.
Kriiing… Ponsel Luhan berdering. Dilihatnya layar ponsel touchscreen miliknya. Nama Myungsoo sedang memanggil. Tut…
“Yoboseo…”
“Hyung, mian. Semalam aku ada urusan penting dan lupa tidak mengabarimu.” Suara Myungsoo terdengar jelas di sambungan telepon.
“Neo ediseo?” tanya Luhan.
“Aku di… Di bandara, hyung. Ada tugas menjemput turis dari Kanada.” Myungsoo terpaksa berbohong pada Luhan karena ia teringat kata-kata Jiyeon yang tidak ingin kembali ke villa. Myungsoo belum tahu alasan Jiyron menolak tinggal di villa milik Luhan. Namun dia yakin kalau Jiyeon pasti punya alasan yang kuat yang mungkin tidak bisa dikatakan kepadanya. Ia lebih memilih percaya pada Jiyeon daripada curiga pada yeoja itu.

“Cosimi,” ucap Luhan dengan nada lesu karena ia berharap Myungsoo akan memberikan kabar tentang Jiyeon. “Cepatlah pulang kalau sudah selesai. Aku berangkat kerja dulu.”

“Eoh, hyung. Cosimi.”

Tut. Sambungan telepon terputus.

Luhan kecewa. Belum ada kabar tentang Jiyeon. Ia masih khawatir pada Jiyeon, mengingat yeoja itu pernah hampir hilang di Bali dan sekarang tidak ada sanak saudara di dekatnya.”Semoga dia baik-baik saja.”

Jiyeon sudah siuman. Ia bingung kenapa saat ini dia sedang di rumah sakit? Apa yang terjadi?

“Jiyeon-a, kau sudah bangun? Tidurmu pulas sekali semalam.” Myungsoo meletakkan beberapa mangkuk yang berisi makanan di atas meja dekat ranjang. Ia mendapatkan makanan itu dari perawat yang baru saja menyuplai makanan untuk para pasien. “Ini makananmu. Makanlah selagi hangat. Jika kau tidak mau memakannya, perawat akan menghukummu. Kasihan mereka yang sudah memasaknya untukmu.”

Jiyeon hanya terdiam melihat Myungsoo yang sibuk membuka plastik yang membungkus mangkuk-mangkuk di tangan Myungsoo. jiyeon heran kenapa Myungsoo mau menolongnya? Bukankah Myungsoo tidak menyukai dirinya? “Kenapa kau mau menolongku?”

“Mwoya? Aku tidak menolongmu. Jangan terlalu percaya diri. Cepat makanlah. Aku harus melihatmu makan.” Myungsoo menyerahkan makanan yang harus dihabiskan oleh Jiyeon yang sudah merubah posisinya, duduk menyilangkan kedua kakinya. Jiyeon mengernyitkan kening. “Wae?” tanya Myungsoo yang melihat ekspresi Jiyeon.

“Apa ini makanan untukku?” tanya Jiyeon untuk meyakinkan bahwa bubur dan buah yang tersaji di depannya memang benar untuk ia makan.

“Yaak, apa maksudmu? Apa kau pikir makanan itu untukku? Palliwa, makanlah. Setelah itu aku akan pergi. Masih ada tugas yang harus aku selesaikan.”

“Silahkan pergi. Aku akan menghabiskannya.” Jiyeon kembali merebahkan diri.

“Yaak, Park Jiyeon. Cepat habiskan.”

“Nanti saja.”

“Jigeum.”

“Shireo!”

Myungsoo geregetan atas sikap Jiyeon. Ia mengambil bubur yang ada di hadapan Jiyeon lalu menyendokkan sedikit dan menyuapkannya pada Jiyeon. Akhirnya Jiyeon pun mau membuka mulutnya dan menerima suapan bubur dari Myungsoo.

“Sudahlah, kau pergi saja. Aku akan menghabiskannya untukmu.” Jiyeon mengambil alih mangkuknya dan menyuapkannya pada dirinya sendiri.

Myungsoo tersenyum puas melihat Jiyeon yang sudah berubah pikiran.

“Baguslah. Aku akan pergi sebentar. Dua jam lagi kau boleh keluar dari rumah sakit. Di saat itu, aku akan menjemputmu karena pekerjaanku mungkin akan selesai jam segitu.”

“Gomawo,” ucap Jiyeon singkat. Ia melanjutkan sarapannya.

Myungsoo pergi dengan perasaan lega.

2 jam kemudian.

Myungsoo datang ke rumah sakit untuk menjemput Jiyeon keluar dari rumah sakit. Di dalam kamar, Jiyeon juga sudah bersiap-siap.Tak memerlukan banyak waktu untuk bersiap-siap karena Jiyeon sama sekali tidak membawa barang-barnag seperti pasien lainnya. Hartanya adalah baju yang melekat di tubuhnya.

Cekleeek…

Pintu terbuka. Myungsoo muuncul dengan senyum yang mengembang di wajah tampan bak pangeran negeri dongeng.

“Kau sudah siap?” tanya Myungsoo yang berdiri mematung di depan pintu.

“Ne. Kajja!”

Myungsoo berbalik lalu melangkah menyusuri koridor rumah sakit lantai dua, disusul Jiyeon yang beralan di belakangnya. Keadaan Jiyeon sudah membaik. Wajah cantiknya sudah berseri-seri, tak lagi pucat meski dia masih menyimpan rahasia hubungannya dengan Hwayoung yang tak seperti dulu lagi. Myungsoo berjalan lebih dulu, sesekali melihat ke arah Jiyeon untuk memastikan bahwa yeoja itu baik-baik saja. Keluar dari halaman rumah sakit, Myungsoo masih berjalan kaki. Dia tidak menyetop taksi atau angkutan lainnya. Entah langkahnya akan berhenti dimana, Jiyeon hanya mengikuti di belakangnya dan berpikiran positif bahwa Myungsoo tidak akan membawanya kembali ke vila milik Luhan.

Setelah menempuh jarak 500 meter dengan berjalan kaki, akhirnya Jiyeon tahu kemana arah tujuan Myungsoo. Namja itu berbelok ke hotel yang terletak tidak jauh dari rumah sakit. Kenapa dia membawaku ke hotel? tanya Jiyeon dalam hati. Ia tak mau berburuk sangka pada Myungsoo karena namja itu sudah banyak menolongnya. Myungsoo memasuki hotel dengan diikuti Jiyeon yang masih memilih berjalan di belakangnya. Kemudian namja itu berhenti di depan meja resepsionis untuk check in satu hari satu malam. Tak berapa lama kemudian room boy menuntun mereka berdua menuju kamar yang dipesan Myungsoo. Myungsoo masih belum menjelaskan kepada Jiyeon tentang alasannya membawa yeoja itu ke hotel. Jiyeon juga tidak ingin berpikiran yang macam-macam pada Myungsoo.

“Park Jiyeon, ini akan menjadi kamarmu untuk sehari sampai besok. Eotte?”

Jiyeon terkejut mendengar penjelasan Myungsoo. Apa-apaan ini… “Kamarku?”

“Eoh. Kau bilang tidak ingin kembali ke vila. Jadi dalam waktu sehari semalam, kau bisa tinggal di sini dulu.”

“K, kenapa di sini?” tanya Jiyeon tidak mengerti.

Myungsoo menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Pandangannya beralih pada jendela yang terletak di sudut ruangan. “Tinggallah di sini untuk sehari semalam. Besok, sepulang kerja, aku akan mencarikan tempat kos untukmu. Sebenarnya aku sudah memesankan satu kamar kos pada temanku, tapi katanya belum ada kepastian bahwa ada kamar kosong. Jadi, untuk antisipasinya, aku akan mencaarikan tempat kos lain untukmu.” Myungsoo tersenyum.

Jiyeon membalasnya dengan tersenyum juga. Ia senang melihat senyum dari seorang Myungsoo. Namja yang keliahtannya dingin itu ternyata tidak sedingin penampilannya. “Kenapa kau mencarikan tempat kos untukku?”

“Yaak, apa tidak ada kata tanya lain selain ‘kenapa’, eoh? Dari kemarin yang kau tanyakan diawali dari kata ‘kenapa’. Aku tidak akan menjawab. Turuti saja kata-kataku. Aku tidak akan mencelakakanmu.” Myungsoo melotot ke arah Jiyeon.

Jiyeon mengerutkan kening. Kenapa namja ini menjadi lebih sensitif? batinnya. Jiyeon pun hanya mengangguk.

“Ah, Jiyeon-a, aku tahu kalau kau pasti punya alasan tersendiri untuk tidak mau tinggal di vila lagi. Keunde, apa kau membenci Luhan hyung?”

“Anhi,” jawab Jiyeon singkat diiringi gelengan kepalanya. Jiyeon duduk di tepi ranjang king size di belakangnya.

“Keurom, apa kau benci padaku?”

“Anhi,” jawab Jiyeon singkat lagi.

Myungsoo agak kesal karena jawaban dari Jiyeon hanya berupa satu kata ‘anhi’. “Kau benci pada orangtua Luhan hyung?” Jiyeon menggelengkan kepalanya. “Mmmm… pada Lay?” Lagi-lagi Jiyeon menggelengkan kepala. Kening Myungsoo berkerut. “Pada Hwayoung?” Jiyeon menggeleng lagi. “Keurom, tidak ada yang kau benci?”

“Eopseo. Tidak ada yang aku benci. Wae? Apa kau sedang menebak-nebak alasanku menolak tinggal di vila?” tanya Jiyeon balik.

“Sedikit. Hehe…” Myungsoo mendekati Jiyeon yang masih duduk di tepi ranjang. “Gurae, aku akan pulang ke vila. Luhan hyung pasti sudah seperti appaku yang menanti anaknya yang tak kunjung pulang. Bawalah ini.” Myungsoo menyerahkan kartu kreditnya pada Jiyeon.

“Untuk apa?”

“Jangan berpikir yang macam-macam dulu. Terima saja lalu aku akan menjelaskannya padamu.”

Jiyeon menerima kartu kredit milik Myungsoo dengan penuh penasaran.

“Aku tahu kau tidak punya apa-apa di sini. Jadi, gunakan saja kertu kreditku. Tenang saja, uangnya tidak akan habis meski kau membeli rumah sekalipun. Kalau kau tidak mau menerimanya secara cuma-cuma, kau bisa mengembalikan uang yang kau gunakan itu lain waktu kalau kau sudah punya uang. Ah, igeo. Pakailah ponselku dulu. Kau punya membawa ponsel, kan?”

“Punya.”

“Mana?” tanya Myungsoo.

“Luhan oppa pernah membelikan ponsel untukku tapi tertinggal di vila.”

Myungsoo memutar bola matanya malas. “Itu namanya kau tidak punya karena sekarang kau tidak pegang hp. Ara?”

Jiyeon mempoutkan bibirnya.

“Pakai saja ponselku. Pulsaku juga masih banyak, jadi jangan khawatir kalau kau akan kekurangan pulsa.”

“Kalau aku memakai ponselmu, kau pakai apa?”

Myungsoo ikut duduk di tepi ranjang. “Aku masih punya ponsel lagi di kamarku. Seminggu lalu aku membelinya di sini. Sudah semakin siang. Aku pergi dulu. Kasihan Luhan hyung menungguku lama. Jaga dirimu baik-baik. jangan sungkan-sungkan menerima bantuan dariku.” Myungsoo bangkit dari duduknya lalu mendekati pintu kamar hotel.

“Chakkaman!” seru Jiyeon yang berhasil membuat Myungsoo berhenti dan menoleh.

“Wae?”

“Tolong sampaikan permintaan maafku pada Luhan oppa dan Lay oppa. Aku telah membuat Luhan oppa mengkhawatirkanku dan aku telah kabur begitu saja saat Lay oppa mengajakku jalan-jalan.”

“Eoh. Araseo.” Myungsoo menutup pintu kamar hotel itu. Dia berjalan dengan pelan, memikirkan kata-kata Jiyeon tadi. Apa maksudnya kalau dia kabur begitu saja saat diajak Lay jalan-jalan? Kapan mereka jalan-jalan? Myungsoo menggelengkan kepalanya, tidak mau memikirkan hal itu lagi. Kini dia bergegas pulang ke vila karena Luhan sudah menunggunya di sana.

Tbc.

Eotteyo chingudeul? semoga tidak mengeceawakan, ne…

Aku tunggu komennya🙂

39 responses to “[Chapter – Part 7] LOST IN BALI

  1. eh udah dipublish y part 7nya,mian authornim q tdi slh kmn di part 6 hehehe. kpn ffnya dlnjut?????ceritanya makin sru thor,klo bsa part slanjtnya cpt dipublish.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s